Berita Terkini

Milenial dan Pecandu Alquran Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ratusan pelajar dan mahasiswa mendatangi acara Pelatihan Alquran dan kajian akbar di Masjid Agung Ciawi Kabupaten Tasikmalaya, Ahad, (13/1/2019).

Agenda bulanan yang digagas oleh Generasi Madani Tasikmalaya (GMT) mengundang dai muda asli daerah Tasikmalaya, ustaz Arif Arrafi’i (Pimpinan Pondok Pesantren Al Fathonah) dan Cecep Helmi (Alumni Universitas Islam Madinah) sebagai Narasumber.

Ketua GMT, Faris Abdurahman  mengatakan, minat ratusan kaula muda atau yang kini disebut milenial terhadap nilai-nilai Islam terbilang tinggi. ia juga yakin, seusai acara dan pelatihan Alquran ini, milenials Tasik dapat menerapkan syariat dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga ada tindak lanjut, menjadikan tilawah dan hafalan qur’an sebagai amalan sehari-hari,” terangnya.

pemuda dan pemudi Tasik asik menjalani pelatihan Alquran

Tak hanya itu, Pelatihan Alquran yang dibingkai dengan tema “Menjadi Pecandu Al-Qur’an” membuka sesi muraja’ah (menyetor hafalan) bagi para peserta yang hadir dalam kajian ini, serta membuat database yang dikumpulkan dalam grup WhatsApp sebagai tindak lanjut acara ini.

Sementara itu, sebagai bentuk keprihatinan terhadap degradasi moral anak muda, GMT sebagai komunitas dakwah yang memiliki 100 kader ini, berupaya untuk tetap membuat program-program inspiratif agar bisa masuk dan di terima oleh kalangan milenial Tasik.

“Anggota kami memiliki kesatuan visi untuk berperan dan berkontribusi di tempat kami dilahirkan, kami ingin ikut andil dalam membina generasi yang lebih baik.” pungkasnya.

Mantan Tahanan Kamp Penyiksaan Cina Kabarkan Kondisi Muslim Uighur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gulbakhar Cililova, mantan tahanan Kamp Konsentrasi (Kamp Penyiksaan) mengaku mendapat amanah dari masyarakat Uighur, khususnya yang ditahan di Kamp Penyiksaan rezim komunis Cina, untuk menyampaikan penindasan yang dialami Muslim Uighur kepada Dunia.

“Mereka (masyarakat Uighur) mengatakan kepada saya bahwa kita di sini tidak bisa bagaimana keluar. ‘Ketika kamu keluar, saya amanahkan kamu agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi’,” ujar Gulbakhar menirukan ucapan teman-temannya saat di tahanan dalam acara diskusi dan konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dalam diskusi dan konferensi pers yang diinisiasi lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) itu, Gulbakhar juga menceritakan penderitaan yang dialami oleh Muslim Uighur.

“Pernah suatu hari saya dibawa ke rumah sakit di kamp tersebut, dan saya melihat seseorang dibawa dari penjara. Para sipir mengatakan tahanan itu akan dibebaskan, namun sejatinya mereka ternyata dihukum mati,” ujar ibu dari tiga anak ini seperti dilansir INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU.

Gulbakhar menceritakan ketika ada warga, seorang ibu, yang ditahan, pingsan, dan ada tahanan lain ingin menolong, maka tahanan yang mau menolong itu langsung disiksa.

Dia juga bercerita, ada seorang wanita yang melahirkan di dalam kamp. Ketika baru melahirkan di ruangan tempat Muslim Uighur ditahan, pihak rezim Cina langsung merebut bayi yang baru dilahirkan itu. Mereka tidak membiarkan wanita tersebut menyusui bayinya.

“Saya baru diinterogasi ketika sudah masuk bulan ketiga di tahanan. Saya diperiksa selama 24 jam tanpa diberi makan dan minum. Bahkan saya diancam ditahan selama 10 tahun. Di kamp tersebut, sudah ada Muslim yang ditahan selama 30 tahun lebih,” paparnya.

Gulbakhar sendiri sebenarnya berasal dari negara Kazakhstan. Lalu, mengapa dia sampai bisa ditahan di Kamp Penyiksaan Cina? Ceritanya dalam dua dekade terakhir, dia berbisnis di perbatasan Cina-Kazakhstan. Namun pada Mei 2017, rezim Cina menangkapnya di Kota Urumqi, Cina. Ia dituduh mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu Yuan (sekitar 3.500 dolar USD) dari Cina dan Turki.

Setelah ditangkap, dia ditempatkan di kamp, disiksa dan terpisah dengan anak-anaknya. Gulbakhar mengaku, di dalam kamp dia kerap dipukuli. Ketika pertama kali masuk Kamp Penyiksaan, Gulbakhar memiliki berat 76 kg. Tetapi dalam sebulan berat badannya menyusut sampai 20 kilo lebih.

“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslimin,” terangnya.

Gulbakhar akhirnya dapat keluar (bebas) dari tahanan Kamp Penyiksaan itu setelah adanya upaya lobi yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah Kazakhstan dan keluarganya.

“Saya dibebaskan dari Kamp Konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di Kamp Konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata Saya,” ungkapnya. “Tangisan rakyat Uighur masih terngiang di telinga saya,” kata Gulbakhar seperti dikutip Republika.co.id, Jumat (11/1).

Selain Gulbakhar, diskusi ini juga menghadirkan Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur, Anggota DPR, Almuzzammil Yusuf, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur (Uighur), Seyit Tümtürk, Tim Komunikasi & Advokasi Amnesty International Indonesia, Haeril Ilham, dan moderator, Ketua Umum JITU, Pizaro.

Muhammad Jundii (INA)

Muslim Uighur Apresiasi Solidaritas Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Seyit Tümtürk, berterimakasih kepada seluruh masyarakat Indonésia, Ormas Islam, lembaga-lembaga dan media atas solidaritasnya kepada Muslim Uighur. Dia, mewakili 35 juta warga Muslim Uighur, menyampaikan salam keselamatan kepada Indonésia.

Dalam diskusi dan konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’ yang diinisiasi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Seyit Tümtürk menjelaskan bahwa sudah sejak lama Turkistan Timur ditindas oleh rezim komunis Cina. Atas alasan itu, Tümtürk dan beberapa perwakilan masyarakat Uighur datang ke Indonesia.

“Dalam hitungan PBB, angka masyarakat Uighur yang ditahan dalam Kamp Konsentrasi Cina sebanyak lebih satu juta orang. Akan tetapi, menurut data yang kami kumpulkan ada sekitar 3 sampai 5 juta orang. Mereka mendapat siksaan lebih dari yang dilakukan oleh Nazi,” ujar Tümtürk dalam bahasa Turki, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dia menjelaskan Kamp Penyiksaan terhadap Muslim Uighur disebut oleh rezim komunis Cina sebagai proyek “Persaudaraan Keluarga”, padahal sejatinya itu adalah sebuah kamp genosida terhadap muslim Uighur. Muslim Uighur yang ditahan di sana pun karena dituduh sebagai teroris, radikalis.

“Amat kita sayangkan, 3 hingga 5 juta Muslim Uighur disiksa, tapi dunia buta dan tuli terhadap apa yang terjadi di sana. Dan atas semua penindasan itu, alhamdulillah masyarakat Muslim Indonesia turun ke jalan menyuarakan pembebasan Muslim Uighur,” ujarnya yang dikutip INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU, Sabtu (12/1).

Sikap Muslim Indonesia itulah yang menyebabkan perwakilan Uighur datang ke Indonesia. Umat Islam Indonesia menyuarakan kebebasan Uighur.

“Setelah aksi itu dilakukan, efeknya kedutaan Cina langsung mempersilakan ormas Islam untuk datang ke Xinjiang, melihat kondisi Muslim Uighur, supaya kabar penindasan itu terkesan tidak benar” ujarnya.

Tümtürk mengungkapkan, dua tahun lalu, Cina juga mengingkari penindasan yang dilakukanya. Namun, tiga bulan terakhir ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Parlemen Eropa melakukan penelitian. Dari angkasa terungkap fakta yang membenarkan adanya Kamp Penyiksaan itu.

Setelah parlemen Eropa dan PBB mendesak Cina untuk mengakui hal itu, Cina mengatakan benar adanya kamp tersebut, tapi (Cina) tidak mengakui penindasan tersebut.

“Setelah dikeluarkan angka satu juta Muslim Uighur ditahan, Cina tetap berusaha mengelak. Setelah seperti Gulbakhar yang baru keluar dan mengalami penindasan, kita bawa ke hadapan media, rezim Cina tetap saja mengelak. Cina berdalih Kamp Penyiksaan itu adalah kamp konsentrasi dan pelatihan kerja untuk warga,” jelasnya.

Reporter : Muhammad Jundii (INA)

Mengerikan, Begini Kondisi Muslim Uighur Dalam Penjara Cina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – 22 Mei tahun 2017 lalu adalah momen paling mencekam bagi Gulbakhar Cililova (55). Ibu tiga anak ini tiba-tiba ditangkap oleh tentara komunis Cina dan mendapatkan siksaan yang tak mampu ia gambarkan. Wanita berkulit kuning langsat khas Asia Timur ini sebenarnya warga negara Kazakhstan, namun memiliki darah Turkistan Timur atau Uighur.

Cililova mengisahkan pengalaman pahitnya itu dalam acara yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bertema “Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur” di sebuah kafe di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/01/2019).

Ia menceritakan, selama 13 bulan berada penjara Cina, dirinya diperlakukan tidak manusiawi.

“Saya ditempatkan di ruangan sempit yang seluruh aktivitas sehari-hari digabung dengan tempat buang air besar,” kenangnya.

Setiap harinya, di penjara yang ia sebut kamp penyiksaan itu, Cililova bersama tahanan lainnya dikumpulkan dan diperintahkan menghadap ke dinding ruangan. Mereka tidak boleh bergerak sedikit pun tanpa makan dan minum. Ruangan itu dilengkapi dengan kamera CCTV. Kabarnya, CCTV tersebut tersambung langsung ke ruangan Xi Jinping, Presiden Cina.

“Kalau ada satu orang yang bergerak saja sedikit kepalanya karena pegal mungkin, maka kami semua kena siksa karena kita dituduh sedang melakukan ibadah,” ungkapnya.

Para tahanan di penjara itu tangan dan kakinya diborgol dengan diberi pemberat 5kg dan hidup dalam keadaan lapar dan dahaga.

“Ketika ada yang mengeluh, langsung disiksa,” katanya.

“Pernah suatu hari ada wanita tua pingsan. Satu orang ingin menolong, maka langsung disiksa,” lanjutnya.

Kisah yang dituturkan Cililova hanyalah salah satu bukti kekejaman pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Dia berharap kisahnya ini dapat membuka mata dunia untuk membantu perjuangan Muslim Uighur dan menekan pemerintah Cina untuk menghentikan segala bentuk penindasan kepada mereka.

Puting Beliung Rancaekek, 16 Orang Luka, Ratusan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat (Humas) BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, angin Puting Beliung yang melanda Rancaekek Kabupaten Bandung pada Jum’at (11/1/2019) menyebabkan puluhan rumah warga rusak berat dan ringan serta beberapa orang mengalami luka-luka.

“Dampak sementara puting beliung Rancaekek, Bandung, 1 orang luka berat, 15 orang luka ringan, 15 rumah rusak berat dan 71 rumah rusak ringan,” katanya dalam akun Twiter resmi miliknya Sabtu (12/1/2019).

Menurut Sutopo, jumlah kerusakan akibat Puting Beliung tersebut akan terus bertambah. “Lebih dari 300 rumah rusak (belum diklarifikasi),” ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan ringan akan terjadi di Bandung dari siang hingga malam hari dan kembali berawan pada dini hari.

Suhu berkisar antara 20-30 derajat celcius dengan kelembaban 60-90 persen dengan potensi angin kencang dan kilat/petir saat terjadi hujan di siang hingga malam hari.

Kelompok Turki-Amerika Kritik Pernyataan Provokatif Pejabat AS

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sebuah kelompok Turki-Amerika mengkritik pernyataan “ofensif” yang dibuat oleh para pejabat AS setelah keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik 2.000 tentara dari Suriah.

Koalisi Turki Amerika (The Turkish Coalition of America-TCA) mengatakan “setiap ekspresi permusuhan anti-Kurdi oleh pemerintah Turki atau rakyat Turki adalah provokatif dan kurang informasi.”

Dikatakan tidak semua orang Kurdi Suriah mendukung YPG yang terkait dengan PKK, “Itulah sebabnya Turki dengan tegas menentang keputusan AS yang sesat untuk mendukung, melatih, dan mempersenjatai pasukan YPG sejak awal.

“Turki khawatir bahwa YPG dan lengan politiknya, PYD, terlibat dalam pembersihan etnis kelompok-kelompok politik dan etnis saingan di Suriah sambil memanfaatkan ancaman IS, seperti yang didokumentasikan oleh Amnesty International,” tambahnya dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu (9/1/2019).

Pejabat senior dan anggota parlemen AS telah meminta Trump untuk tidak meninggalkan YPG saat ia menarik diri dari Suriah. Penasihat Keamanan Nasional John Bolton yang mengkondisikan keluarnya jaminan dari Turki untuk tidak menyerang kelompok itu – membuat marah Ankara.

Baca juga:

Dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pekan lalu bahwa Washington khawatir bahwa Turki akan “membantai orang Kurdi.”

YPG adalah cabang Suriah dari PKK, sebuah kelompok yang ditetapkan sebagai teroris oleh AS dan Turki.

Dukungan AS untuk kelompok tersebut telah lama membuat marah Ankara, dan telah meningkatkan ketegangan bilateral.

“TCA menyambut upaya berhati-hati dari kedua belah pihak untuk mengoordinasikan perencanaan militer dalam perang melawan IS,” kata koalisi.

“Washington harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menanggapi kekhawatiran keamanan nasional sekutu NATO-nya yang masuk akal dan jelas. Ankara harus mempertimbangkan bagaimana sistem politik AS berfungsi. Kerja sama di Suriah berdasarkan kepentingan keamanan bersama dapat memainkan peran yang konstruktif dan definitif dalam menghilangkan sisa-sisa IS dan dalam memperkuat hubungan vital AS-Turki,” tambahnya.

Bantai 4 Penjaja Seks Jalanan, Polisi AS Ini Mengaku Tidak Bersalah

TEXAS (Jurnalislam.com) – Seorang agen Patroli Perbatasan AS di Texas telah mengaku dirinya tidak bersalah atas pembunuhan besar-besaran dan dakwaan lain dalam pembunuhan bulan September terhadap empat wanita yang menurut jaksa penuntut adalah penjaja seks.

Juan David Ortiz, seorang veteran 10 tahun dari Patroli Bea Cukai dan Perbatasan AS (US Customs and Border Patrol), mengajukan permohonan pada hari Kamis (10/1/2019) di hadapan seorang hakim di kota perbatasan Laredo. Dia dituduh membunuh Melissa Ramirez, Claudine Luera, Guiselda Alicia Cantu dan Janelle Ortiz.

Masing-masing ditembak di kepala dan dibiarkan di sepanjang jalan daerah pedesaan Laredo. Satu meninggal karena trauma benda tumpul setelah ditembak.

Ortiz ditangkap setelah seorang wanita kelima melarikan diri dan bertemu seorang polisi negara bagian, menurut pihak berwenang.

Baca juga: 

Jaksa Distrik Webb Isidro Alaniz mengatakan dia akan mengupayakan hukuman mati jika Ortiz dihukum karena pembunuhan berencana.

“Dia menganggap mereka sebagai sampah bumi, dan dia ingin bergerak maju dan membersihkan jalan dari orang-orang seperti ini,” kata Alaniz bulan lalu.

Alaniz berpendapat bahwa Ortiz mengatakan kepada penyelidik bahwa dia “melakukan pelayanan” dengan membunuh para perempuan itu dan bahwa dia menganggap penegakan hukum tidak cukup untuk mengekang prostitusi.

Joel Perez, pengacara Ortiz, mengatakan kliennya “seperti orang lainnya yang dituduh melakukan kejahatan, masih dianggap tidak bersalah”.

Sebelum ditangkapan, Alaniz berkata, Ortiz “melakukan kegiatan sehari-hari seperti semua orang di sini. Dia tampak normal dilihat dari sisi manapun”.

“Pada malam hari, dia menjadi orang lain, memburu komunitas orang-orang ini di jalanan San Bernardo dan dengan sewenang-wenang memutuskan siapa yang akan dia bunuh selanjutnya.”

Yanira Resendez, seorang juru bicara kantor Kejaksaan Distrik Kabupaten Webb, mengatakan ibu dari salah satu wanita yang mati itu berteriak pada Ortiz dalam bahasa Spanyol ketika ia dibawa keluar dari ruang sidang dengan diborgol. “Sialan kau, brengsek,” teriaknya.

Myanmar Tolak Pengajuan Banding 2 Wartawan Reuters Terkait Pembantaian di Rohingya

YANGON (Jurnalislam.com) – Pengadilan Myanmar pada hari Jumat (11/1/2019) menolak permohonan banding dua wartawan Reuters, yang dipenjara karena menyelidiki pembantaian  Muslim Rohingya oleh tentara Myanmar di negara bagian Rakhine barat.

Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28, dijatuhi hukuman tujuh tahun bulan September lalu di bawah undang-undang era kolonial karena dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi ketika mereka menyelidiki pembunuhan 10 pria Rohingya di Rakhine.

Pengacara para jurnalis telah mengajukan banding atas hukuman mereka ke Pengadilan Tinggi di Yangon pada bulan November.

Namun Hakim Aung Naing menolak banding tersebut pada hari Jumat, mengatakan hukuman penjara yang diberikan kepada wartawan tersebut adalah “hukuman yang sesuai”.

Stephen J. Adler, pemimpin redaksi Reuters, menyebut penolakan pengadilan tersebut sebagai “satu lagi ketidakadilan” terhadap kedua wartawan itu.

“Pelaporan bukanlah kejahatan, dan ketika Myanmar membenarkan kesalahan yang mengerikan ini, pers di Myanmar tidak bebas,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pengacara pembela Than Zaw Aung mengatakan para jurnalis masih dapat mengajukan banding ke Mahkamah Agung di ibukota politik Nay Pyi Taw dalam waktu dua bulan.

AS menyuarakan kekecewaan mendalam tentang keputusan itu, dengan mengatakan “putusan itu menimbulkan keraguan tidak hanya pada kebebasan berekspresi di Burma, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Burma terhadap aturan hukum.

“Kami akan terus mengadvokasi pembebasan yang adil bagi para jurnalis pemberani ini di semua tingkatan,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino dalam sebuah pernyataan. Burma adalah nama pilihan pemerintah AS untuk Myanmar.

Baca juga:

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat akan serangan sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh oleh pasukan pemerintah  Myanmar, menurut Ontario International Development Agency (OIDA).

Dalam sebuah laporan baru-baru ini, Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Tertahankan (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience), OIDA menaikkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962 (± 881) dibandingkan laporan Doctor Without Borders sebanyak 9.400.

Lebih dari 34.000 Rohingya terkena tembakan senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah warga Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, mutilasi, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu bisa dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Dua Tentara India Termasuk Seorang Perwira Tewas Dihantam Bom di Kashmir

SRINAGAR (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan di Jammu dan Kashmir menewaskan dua tentara India, termasuk seorang perwira utama, dan melukai dua lainnya pada hari Jumat (12/1/2019).

“Seorang perwira dan seorang prajurit tewas dan dua tentara lainnya terluka akibat ledakan IED [Improved Explosive Device] pada Garis Kontrol di sektor Nowshera di distrik Rajouri,” kata juru bicara Pertahanan Letnan Kolonel Devender Anand kepada media.

Garis Kontrol (The Line of Control-LoC) adalah perbatasan de facto yang membagi lembah Kashmir yang disengketakan antara Pakistan dan India.

Dalam insiden terpisah, kata Anand, seorang tentara penjaga pintu tewas akibat tembakan yang diduga dilakukan penembak jitu dari seberang perbatasan di sektor Sunderbani di distrik yang sama.

Jammu dan Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, sebagian dikuasai oleh India dan Pakistan namun diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dijajah oleh Cina.

Baca juga: 

Sejak mereka dipartisi pada tahun 1947, kedua negara telah berperang tiga kali – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – dua dari perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan juga sesekali terlibat pertempuran sejak 1984. Gencatan senjata diberlakukan pada tahun 2003.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan pemerintahan India untuk kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan telah tewas dalam konflik di kawasan itu sejak 1989.

Pasukan Zionis Tembak Wanita Palestina Dikepala Saat Aksi Protes di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan Israel telah menembak dan membunuh seorang wanita Palestina ketika ribuan orang unjuk rasa di sepanjang pagar pembatas Jalur Gaza, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Juru bicara kementerian kesehatan, Ashraf al-Qedra, mengatakan Amal al-Taramsi yang berusia 43 tahun ditembak di kepala pada hari Jumat (11/1/2019) di sebuah lokasi protes di timur Kota Gaza.

Al-Taramsi adalah wanita ketiga yang gugur dalam protes yang dimulai pada bulan Maret, dimana sedikitnya 241 warga Palestina telah terbunuh.

Sedikitnya 25 warga Palestina lainnya terluka oleh tembakan pasukan penjajah Israel pada hari Jumat, termasuk dua anggota media dan satu paramedis, menurut al-Qedra.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan sekitar 13.000 warga Palestina telah ambil bagian dalam demonstrasi.

“Para perusuh membakar ban dan melemparkan balok-balok, alat peledak dan granat ke arah pasukan (Israel) dan di pagar keamanan Jalur Gaza,” kata seorang jurubicara militer zionis.

Tentara penjajah kemudian menyerang dua posisi milik kelompok Palestina Hamas, yang memerintah Gaza, katanya. Satu sumber keamanan Hamas mengatakan tidak ada yang terluka.

Seorang wartawan AFP mengatakan beberapa ribu pengunjuk rasa berkumpul di timur Kota Gaza, dan terjadi bentrokan yang lebih kuat daripada dalam beberapa pekan terakhir.

Para pengunjuk rasa mencoba menghancurkan pagar kawat berduri di dekat perbatasan dan pasukan penjajah Israel merespons dengan melepaskan tembakan dan gas air mata.

Baca juga:

Palestina telah melakukan protes massal pekanan selama berbulan-bulan sebagai bagian dari aksi Great March of Return.

Para demonstran menyerukan pencabutan blokade Israel-Mesir yang diberlakukan di Gaza selama lebih dari satu dekade dan menyerukan hak untuk kembali ke rumah leluhur mereka di Israel, sebagaimana diatur dalam Resolusi PBB 194.

Sebagian besar warga Palestina yang terbunuh selama demonstrasi ditembak dalam bentrokan pekanan, tetapi yang lain terkena tembakan tank Israel atau serangan udara.

Dua tentara Israel telah terbunuh dalam periode yang sama, satu oleh penembak jitu Palestina dan lainnya selama operasi pasukan khusus yang gagal di Gaza.

Para mediator Mesir berada di Gaza pekan ini untuk bertemu dengan para pejabat dari Hamas dan faksi-faksi lain untuk menopang gencatan senjata yang mulai berlaku setelah pertukaran yang intens antara Hamas dan Israel pada November yang membawa mereka ke ambang perang.

Peserta mengatakan mereka membahas upaya yang dipimpin Kairo untuk mendamaikan Hamas dengan saingannya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan mengurangi ketegangan perbatasan.