Berita Terkini

Infografik – Kondisi Pengungsi Suriah di Lebanon

ARSAL (Jurnalislam.com) – Sekitar 60.000 warga Suriah sangat kesulitan untuk bertahan hidup di sebuah kamp pengungsi di Lebanon timur saat mereka menderita karena kurangnya bantuan kemanusiaan dan kondisi musim dingin yang sulit.

Kondisi musim dingin yang keras melumpuhkan kehidupan warga Suriah karena bantuan tidak dapat mencapai kota perbatasan Lebanon, Arsal, sejak mereka menjadi pengungsi setelah melarikan diri dari perang internal di negara mereka.

Populasi wilayah pegunungan, dekat perbatasan Suriah itu, adalah sekitar 40.000 sebelum perang saudara pecah di Suriah pada 2011, Walikota Arsal Basil al-Hajiri mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (11/1/2019).

Sambil menyatakan bahwa ada arus migrasi yang kuat ke daerah itu, al-Hajiri menambahkan bahwa jumlahnya pernah mencapai 120.000.

Wilayah itu sudah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mereka sendiri apalagi untuk menampung sejumlah besar pengungsi, kata al-Hajiri, menambahkan bahwa untuk alasan itu orang-orang mulai pergi dan sekarang sekitar 60.000 warga Suriah yang masih tertinggal di sana.

Dia mencatat bahwa warga Suriah tinggal di 126 kamp tenda yang didirikan di dalam dan di luar kota, dan mencoba untuk melanjutkan kehidupan mereka dengan bantuan kemanusiaan yang disediakan oleh PBB dan organisasi amal internasional.

Namun, ia mencatat, tidak ada cukup bantuan kemanusiaan baru-baru ini.

Al-Hajiri mengatakan mereka menemukan beberapa adegan yang menghancurkan ketika mengunjungi kamp-kamp setelah badai Norma menghantam warga Suriah di kamp-kamp.

“Kami melihat air yang bocor di dalam tenda […] Para pengungsi Suriah di kamp-kamp tenda bahkan tidak memiliki sarana untuk makanan dan pemanasan, yang merupakan kebutuhan dasar kehidupan,” katanya.

Dia mendesak seluruh dunia untuk membantu Suriah, mencatat bahwa Lebanon bukan satu-satunya negara yang memiliki tanggung jawab untuk merawat mereka.

“Kehidupan bahkan menjadi lebih sulit di musim dingin. Tenda yang digunakan di kamp selama 7 tahun tidak lagi berguna.

“Orang-orang kelelahan, putus asa, bahkan ada yang menginginkan kematian,” kata al-Hajiri.

LUBNAN-ARSAL

Dia menyoroti bahwa mereka membutuhkan lebih banyak dukungan daripada ketika krisis meletus di Suriah pada 2011, dan mengatakan bahwa ada penurunan dalam kegiatan yang dilakukan oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (The United Nations High Commissioner for Refugees-UNHCR).

Sejak awal krisis Suriah, al-Hajiri mengatakan bahwa Turki telah memimpin dalam hal bantuan kemanusiaan.

Dia menambahkan bahwa meskipun Turki memberikan kontribusi serius kepada organisasi bantuan, banyak pihak masih tidak menunjukkan sensitivitas padahal bantuan masih sangat dibutuhkan.

Dia juga meminta negara-negara Arab untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Suriah, yang harus meninggalkan rumah mereka dan melarikan diri.

Baca juga:

Al-Hajiri mengatakan tenda-tenda di kamp-kamp tidak cocok untuk kondisi musim dingin dan mereka tidak dapat menemukan bahan bakar untuk kompor pemanas, sehingga lebih sulit untuk menahan dingin yang ekstrem.

Tahun lalu, delapan warga Suriah kehilangan nyawa saat terjadi kebakaran ketika mereka mencoba menghangatkan diri dengan menggunakan kompor pemanas atau pemanas listrik.

Pada akhir 2017, UNHCR mengumumkan jumlah pengungsi Suriah di Lebanon adalah 997.000.

Para pejabat Libanon telah menyerukan kepada para pengungsi Suriah untuk secara sukarela kembali ke negara mereka sejak tahun lalu. Pihak berwenang mengatakan bahwa para pengungsi menghabiskan sumber daya yang langka di negara itu dan komunitas internasional juga gagal membantu para pengungsi.

Mutiara Hati: Bagaimanapun Juga, Dunia Itu Tidak Kekal

JURNALISLAM.COM – Hidup di zaman revolusi industri 4.0 memang dituntut untuk tetap bekerja dan berfikir agar tidak tersisih yang berakhir ditelan bumi. Manusia seolah tidak dapat lepas dari persaingan perebutan dunia bak gunung emas Freeport yang disukai oleh berbagai pihak seantero bumi.

Memang, diakui jika manusia tidak berusaha menggapai kesuksesan dunia, mungkin makhluk sosial ini akan kesulitan mengarungi samudera luas kehidupan bahkan berujung pada keputus-asaan. Ada yang stress, menjadi pelaku kejahatan, bahkan ada yang menjadi orang gila.

Kendati demikian, sobat milenial agaknya harus mendengar nasihat atau mutiara hati Imam Ibnu Qoyyim  al-Jauziyyah dalam bukunya Fawaidul Fawaid terkait kata “Dunia” ini. Jauh dari abad Gadget seperti sekarang ia sudah menulis “Bagaimanapun juga dunia itu tidak kekal”.

Dalam bukunya bagian Mutiara Hati, ia mengatakan dunia bagaikan Pekerja Seks Komersial yang tidak bisa dimiliki selamanya oleh seorang laki-laki. Ia membujuk setiap laki-laki hanya agar mereka bersikap baik kepadanya.

Maka itu, sobat jangan mau membandingkan dunia dengan akhirat yang tentunya tidak sebanding. Karena, dunia itu tidak kekal, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal.

Perjalanan mencari dunia tak ubahnya perjalanan di hutan belantara yang penuh dengan binatang buas. Berenang mencari dunia bagaikan berenang di sungai yang penuh dengan buaya.

Kesenangan duniawi adalah kesedihan yang sesungguhnya. Kok bisa? Karena kebahagiaan duniawi mendatangkan kepedihan, dan kesenangannya mendatangkan kesedihan.

Manusia yang selalu mengejar dunia ibarat seekor burung yang mengejar biji-bijian dengan instingnya, dan hanya mata akallah yang menyadari adanya jebakan, sementara hawa nafsu tidak dapat melihatnya.

“Pandangan ridha menutupi segala keburukan. Pandangan benci mengungkap segala kebusukan,” ucap salah seorang penya’ir.

Syahwat duniawi senantiasa terlihat indah dalam pandangan manusia. Namun orang-orang yang beriman kepada hal-hal ghaib akan menundukkan pandangannya terhadap keinginan duniawi, sedangkan orang-orang yang memperturutkan syahwatnya terjerumus ke dalam lembah penyesalan.

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Al-Baqarah: 5)

Itu untuk golongan pertama, sedang yang kedua, Allah berfirman:  “’Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!’” (QS. Al-Mursalaat: 46)

Tatkala orang-orang mendapatkan taufik mengetahui kadar kehidupan dunia yang begitu singkat, maka mereka pun memberangus hawa nafsunya demi kehidupan abadi di akhirat kelak. Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, samar-samar mereka mulai melihat tempat yang dituju.

Hal ini membuat jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Setiap kali kehidupan terasa pahit bagi mereka, seketika itu pula kehidupan terasa manis bila mereka teringat akan hari yang disebutkan dalam firman Allah.

“Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Al-Anbiyaa’: 103)

Begitulah sobat muda, mengejar dunia dan seluruh isinya memang baik, namun tetap seimbang dengan memikirkan tempat kembali, yakni akhirat.

Dalam syair diungkapkan:

Dan kafilah yang bertolak ketika malam menurunkan tirainya menutup jalan mendaki nan gelap gulita

Tekad mereka sama sekali tak berorientasi duniawi sehingga perjalanan mereka benar-benar karena kebulatan hati

Bintang syira (mizan) dan bintang kejora memperlihatkan kepada mereka arah yang dapat mereka ikuti

Ketika tekad telah tertancap di medan kesunggujan mereka benamkan tombak kedermawanan di dada orang dermawan.

Puting Beliung Menerjang Rancaekek Kabupaten Bandung, Puluhan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Angin puting beliung menerjang wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019). Menurut penuturan warga, puting beliung disertai hujan deras terjadi dari pukul 15.00 – 15.30 WIB. 

“Dari jam 3 sampai setengah 4,” kata Fajar (32) warga Desa Rancabatok, Kecamatan Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung kepada Jurniscom, Jumat (11/1/2019).

Menurutnya, ada tiga desa yang diterjang puting beliung di Kecamatan Rancaekek Wetan, diantaranya Perumahan Rancaekek Permai, Desa Rancakendal, dan Desa Ciherang. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Akan tetapi sejumlah bangunan rusak parah.

“Iya yang paling parah itu di Perumahan Rancaekek Permai sama di Rancakendal,” ujar Fajar.

Fajar mengungkapkan suasana mencekam saat kejadian. Ia melihat pohon tumbang dan menimpa tiang listrik yang mengakibatkan aliran listrik mati.

“Tidak ada yang azan (ashar-red) karena listrik mati, soalnya tiang listriknya ketimpa pohon,” ungkapnya.

 

 

Semakin Otoriter

Penulis: M Rizal Fadillah (Ketua MAUNG Institute)

JURNISCOM – Perintah Presiden kepada Kapolri untuk menindak mereka yang mendeligitimasi KPU dinilai berlebihan dan menunjukkan sikap emosional. Semestinya jangan bersikap “over protective”. KPU disorot hal yang biasa, itupun karena ada sebab. Publik tak akan mengkritisi jika sesuatunya wajar dan tidak ada yang membuatnya ragu. Setiap langkah tentu dibaca, dianalisis, dan dimungkinkan adanya input untuk perbaikan.

Dugaan pasangan Jokowi Ma’ruf “diselamatkan” oleh KPU mestinya dinetralisisasi. Umumkan saja dengan lantang bahwa “Saya Jokowi sebagai kandidat siap untuk menyampaikan visi misi sendiri dan siap pula untuk berdebat tanpa diberitahu daftar pertanyaan terlebih dahulu”. Nah selesai. Tak akan ada kecurigaan apa apa lagi. Tapi dengan gaya “sradak sruduk” seperti ini, apalagi dengan perintah kepada polisi agar menindak pendelegitimasian KPU, maka muncul dugaan lebih kuat adanya “kerjasama” Jokowi dengan KPU. Disamping makin kental dugaan KPU dan Polisi menjadi alat kepanjangan tangan dari kepentingan pemenangan Jokowi.

Perlu dicermati bahasa “mendelegitimasi KPU” Apa makna dan bukti yang bisa dijadikan acuan ? Fakta yang ada adalah bahwa semua elemen masyarakat menginginkan adanya lembaga KPU yang kuat, mandiri, dan berwibawa. Mengharap menjadi penyelenggara pemilu yang baik sehingga pemilu dapat berlangsung jujur dan adil.
Mengkritisi tidak sama dengan mendelegitimasi. Bila disamakan maka yang terjadi adalah tafsir sepihak. Dengan asumsi telah terjadi “delegitimasi” maka kritik pasti akan dibungkam. Inilah sikap otoriter yang kita haramkan

Pembungkaman dengan memakai alat penegak hukum sama saja dengan merendahkan hukum itu sendiri. Hukum dijadikan subordinat dari kemauan politik. Model demikian bukanlah ciri Negara Hukum (Rechtstaat) tapi wujud dari Negara Kekuasaan (Machtstaat) dan hal ini jelas bertentangan dan menyimpang dari asas yang dianut oleh Konstitusi Negara.

Sikap otoriter hakekatnya menutupi kelemahan diri. Dampak dari jiwa yang penuh dengan ketakutan. Takut kesalahan dibully, takut gagal melewati fase debat, takut mitra tak menunjang, ujungnya ya itu takut kalah dalam pertandingan. Sangat takut kekuasaan jatuh. Petahana memiliki beban psikologis yang lebih berat. otoritarianisme adalah musuh abadi rakyat. Semakin otoriter semakin terbuka dan tergalang perlawanan rakyat yang lebih kuat. Cepat atau lambat.

Berjalan Miring

Penulis : M Rizal Fadillah

JURNISCOM – Seolah hebat Bawaslu melakukan pemeriksaan kepada Gubernur Anies Baswedan atas “pelanggaran” mengacungkan dua jari sebagai simbol dukungan pada pasangan Prabowo Sandi. Demikian gagah dan patriotik mengadili pelanggar hukum. Betapa berfungsinya pengawasan pemilu seolah bakal terjamin pemilu yang adil dan jujur. Para pengawas pemilu diisi oleh sumberdaya manusia yang mumpuni, bersih, disiplin, konsisten, ya hebat lah. Sekelas Anies Baswedan saja tuh bisa kami adili…!

Di sisi lain ketika Luhut Binsar sang Menteri mengajak peserta konferensi IMF bersama-sama mengacungkan satu jari sebagai dukungan kepada pasangan Jokowi Ma’ruf, Bawaslu tak ada reaksi. Jangankan mengadili ditegur pun tidak. Begitu juga ketika di berbagai daerah secara terang-terangan Kepala Daerah baik Gubernur ataupun Bupati mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi Ma’ruf. Dibolehkan Mendagri. Bawaslu adem adem juga. Tak ada reaksi. Maklum mungkin yang didukung Bapak Presiden, jadi boleh dan biarkan saja. Itu kan aspirasi.

Setelah KPU yang dikritisi habis karena melakukan “operasi penyelamatan” untuk pasangan Jokowi Ma’ruf, kini giliran Bawaslu (dan Panwaslu) yang menunjukkan sikap pemihakkan kepada pasangan momor satu ini. Jika penyelenggara dan pengawas sudah terkooptasi dan berjalan miring begini, lalu pemilu apa yang bisa diharapkan rakyat. Bersih, jujur, adil ? Meski peristiwa Anies kasuistis tapi pembiaran kepala-kepala daerah lain melakukan hal yang sama, secara demontratif lagi, maka hal ini lebih dari sekedar kasuistis. Telah menjadi pola dan modus. Modus ketidakadilan.

Dalam kontek pengawasan Bawaslu dan Panwaslu mesti melakukan evaluasi dan standarisasi pengawasan. Jika hendak melaksanakan tugas dan fungsi dengan konsisten, maka tentu dituntut untuk melakukannya dengan “tanpa pandang bulu”. Pelanggaran banyak terjadi dimana-mana mulai dari pemasangan atribut kampanye, kampanye di tempat yang tidak diperbolehkan, hingga keikut sertaan pejabat publik berkampanye tanpa mengindahkan aturan. Tidak boleh tebang pilih.

Memang disadari kita belum sempurna. Ada kekurangan jumlah dan mungkin profesionalisme dalam pola pengawasan. Hanya saja jangan menunjukkan sikap tendensius dan mencolok mata dalam mempraktekkan ketidakadilan. Penanganan “kasus” Anies Baswedan terbaca begitu sarat dengan nuansa kepentingan politik kebencian dan ketidakadilan. Jika pengawas berjalan miring, maka akan muncul pertanyaan “Siapa yang mengawasi pengawas..?”

Tentu Allah lah yang Maha Adil dan Maha Melihat. Mereka yang berjalan miring di dunia akan dimiringkan diakherat. Artinya bukan tidak berakibat. Namun tidak semua akibat dirasakan di akherat tapi juga akan dibuktikan di dunia ini. Karenanya sangat tegas ayat-Nya “Wamakaruu wamakarallah, wallahu khoirul maakiriin” (Qs 3:54). Rencana Allah yang akan terbukti. Penjahat pasti dihukum dan mereka yang sabar dan berbuat baik berhak mendapat pahala.
Kemenangan dalam waktu dekat.

Ungkap Penindasan di Cina, Ulama Uighur Kunjungi Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Indonesia mendapat kunjungan sejumlah Ulama dan Aktivis Muslim Uighur (Turkistan Timur) pekan ini.

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Turki, Seyit Tumturk, menjelaskan kedatangannya di Indonesia dalam acara ‘Kesaksian Muslim Uighur’ di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Kamis (9/1/2019) malam.

Selain ke AQL dan mengunjungi korban gempa di Pandeglang, Tumturk yang saat ini tinggal di Turki, serta Cililova, dan lainnya, akan menyampaikan kesaksian (testimoni) terkait penindasan dan siksaan yang dialami Muslim Uighur di tahanan Kamp Konsentrasi Cina.

Testimoni itu rencananya akan disampaikan melalui audiensi, di antaranya ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhammadiyah, DPR RI, dan juga dijadwalkan menyapa warga Bandung serta bersilaturahim dengan tokoh-tokoh Islam di Kota Paris Van Java itu.

Seyit Tumturk dan Gulbakhar Cililova dijadwalkan pula menjadi narasumber dalam acara diskusi publik bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’ di Jakarta pekan ini. Akan hadir sebagai pembicara para tokoh serta aktivis HAM internasional dan Indonesia.

Di samping itu, mereka akan diterima media nasional dan asing di Jakarta serta organisasi Jurnalis Islam.

Sementara, pekan ini pula, rombongan Ulama Uighur/Turkistan Timur disertai aktivis lainnya mengunjungi Indonesia. Para Ulama dan aktivis Muslim Uighur yang akan melakukan serangkaian silaturahim itu adalah:

1. Dr Ataullah Shahyar (Presiden Persatuan Ulama Turkistan Timur/Uighur, Dosen Universitas Marmara, Istanbul, Turki).
2. Dr Abdussalam Alim (Ketua Persatuan Ulama Turkistan Timur/Uighur di Australia)
3. Syaikh Sirajudden Azizi (Wakil Presiden Persatuan Ulama Turkistan Timur/Uighur dan President Uyghur Research Foundation).
4. Abdulahad Ucat (Sekjen Persatuan Ulama Turkistan Timur/Uighur).
5. Hidayet Oguzhan (President of East Turkistan Maarif Association, Ketua Persatuan LSM Turkistan Timur).

Selain melakukan kunjungan ke sejumlah tokoh, ormas/lembaga-lembaga Islam di Indonesia dan DPR RI, rombongan Ulama dan aktivis Uighur ini juga akan bersilaturahim dengan organisasi Jurnalis Islam. (MUS/INA)

Meski Ditindas Cina, Muslim Uighur Bantu Korban Tsunami Selat Sunda 50.000 USD

Di tengah penjajahan dan penindasan rezim komunis Cina, 35 juta warga Muslim Uighur yang juga tersebar di berbagai negara seperti Turki, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, Afghanistan, dan lainnya, terpanggil untuk membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah tsunami Selat Sunda di Indonesia.

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Indonesia mendapat kunjungan sejumlah Ulama dan Aktivis Muslim Uighur (Turkistan Timur) pekan ini.

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Turki, Seyit Tumturk, menjelaskan kedatangannya di Indonesia dalam acara ‘Kesaksian Muslim Uighur’ di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Kamis (9/1/2019) malam.

Bersama Gulbakhar Cililova–seorang ibu berusia 54 tahun yang pernah mengalami siksaan dalam tahanan Kamp Konsentrasi rezim komunis Cina selama kurang lebih setahun.

Tumturk mengungkapkan pentingnya kunjungan pihaknya ke Indonesia karena sangat terharu dan ingin mengucapkan terima kasih atas serangkaian ‘Aksi Bela Muslim Uighur’ yang dilakukan oleh umat Islam di negeri ini.

“Kami sangat bersyukur, alhamdulillah, umat Islam di Indonesia begitu antusiasnya sebagai sesama saudara Muslim untuk memprotes kezaliman dan penindasan yang kami alami. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih,” ucapnya dalam bahasa Turki yang diterjemahkan ke Indonesia di hadapan jamaah tadabbur AQL Islamic Center pimpinan Ustadz Bachtiar Nasir di Tebet, Jakarta, Kamis (10/1/2019) malam.

Pada kesempatan itu, Seyit Tumturk, sebagaimana dilansir INA News Agency (INA)–sindikasi berita bentukan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)–Kamis (10/1/2019), juga menyampaikan amanah dari 35 juta warga Muslim Uighur yang saat ini menyebar di berbagai negara seperti Turki, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, Jerman, Prancis, Finlandia, Australia, dan lainnya. Amanah itu berupa bantuan untuk para korban tsunami Selat Sunda sebesar $50.000 (lebih dari Rp 700 juta).

“Saya atas nama warga Muslim Uighur menyampaikan amanah bantuan untuk para korban tsunami di Indonesia,” ungkap Tumturk, yang secara simbolis diterima oleh Ustadz Bachtiar Nasir mewakili lembaga bantuan kemanusiaan Indonesia yang akan mendistribusikannya untuk korban tsunami Selat Sunda.

“Maasyaa Allah…, Muslim Uighur, meski jutaan di antara mereka ditindas Cina dan mengalami siksaan di tahanan Kamp Konsentrasi Cina, tapi masih ingat dengan saudara-saudaranya di Indonesia yang juga tengah mendapatkan musibah tsunami,” kata seorang jamaah, terharu.

Sementara Gulbakhar Cililova–seorang ibu–yang pernah menjadi tahanan di Kamp Konsentrasi Cina, berkesempatan memberikan kesaksian terkait penyiksaan yang dia alami selama kurang lebih setahun. Ibu berusia 54 tahun ini bebas setelah setelah pemerintah Tajikistan, negaranya–berhasil membantu membebaskannya dari Kamp Konsentrasi Cina itu.

Rencananya, Seyit Tumturk dan rombongan juga akan mengunjungi para korban tsunami di Pandeglang, Banten.

Selain itu, dalam kunjungan kurang lebih sepekan di Indonesia, Tumturk yang saat ini tinggal di Turki, serta Cililova, dan lainnya, akan menyampaikan kesaksian (testimoni) terkait penindasan dan siksaan yang dialami Muslim Uighur di tahanan Kamp Konsentrasi Cina.

Mungkinkah Salah Keluar dari Liverpool Ketika Striker Israel Bergabung

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Liverpool akan mendatangkan striker Red Bull Salzburg, Mones Dabour, berkebangsaan Israel, dan laporan menyatakan bahwa bintang tim Mesir Mohamed Salah kemungkinan akan berhenti jika hal ini terjadi.

Banyak pakar olahraga Mesir dan internasional percaya pihak Liverpool tidak memperhitungkan kemungkinan akan kehilangan Salah padahal sikap Salah terhadap para pemain Israel telah jelas ditunjukkan pada banyak kesempatan sebelumnya.

Walaupun laporan itu belum dikonfirmasi, mereka telah menghidupkan kembali perdebatan tentang hubungan antara politik dan olahraga dalam hubungan Mesir-Israel. Menurut wartawan olahraga Sam McGuire, Liverpool membutuhkan cadangan untuk striker Brasil Roberto Firmino, lansir Al Arabiya News Channel Kamis (10/1/2019).

The Reds, melalui karya Jürgen Klopp dan Michael Edwards, telah membentuk sebuah skuad yang mampu menyaingi Manchester City untuk gelar Liga Premier,” tulisnya.

“Tapi ada kekosongan dalam barisan penyerang mereka karena para pemimpin saat ini tidak memiliki cadangan yang ideal untuk pemain Brasil No.9 mereka. Dan meskipun dia tidak cedera, dia tidak bisa bermain di setiap pertandingan.”

McGuire menambahkan bahwa meskipun Liverpool masih memiliki “alternatif lain” seperti Dominic Solanke, Daniel Sturridge, dan Divock Origi, tidak ada yang bisa menggantikan Firmino. Sambil mengakui bahwa Dabour tidak akan menjadi “pengganti” bagi Firmino, McGuire menekankan bahwa ia berada pada level yang sama dalam hal keterampilan. McGuire mencatat bahwa menurut banyak sumber, kepala pengintai Liverpool Barry Hunter melakukan perjalanan ke Austria beberapa kali untuk menonton Dabour bermain.

Tidak jelas dari mana asalnya rumor bahwa Salah akan pergi jika Dabour bergabung. Tapi tampak bahwa pihak Israel yang memicu seluruh perdebatan pertama kalinya. Hagay Hacohen dari Jerusalem Post mengutip media Israel yang mengatakan “super-bintang Mesir Mohamed Salah diduga mengancam untuk meninggalkan klub sepak bola Liga Premier Liverpool jika pemain sepak bola Arab-Israel Moanes Dabour bergabung dengan tim.” Namun Hochan tidak menyebutkan sumbernya.

Baca juga:

The Times of Israel juga memuat berita tentang masalah ini. Adam Rasgon berpendapat bahwa Salah tidak terpengaruh dengan politik sehubungan dengan permainannya di Israel ketika ia bermain untuk Basel FC Swiss. “Klub mengatakan kepada saya jika saya tidak pergi, saya akan ditangguhkan dan akan ada banyak masalah. Jadi saya pergi dan bersyukur kepada Tuhan saya mencetak gol,’ katanya dalam sebuah wawancara tahun 2014.” Namun Rasgon mencatat bahwa Mesir-lah yang mulai berspekulasi tentang reaksi Salah.

Reaksi Mesir terutama dimulai di media sosial, di mana para penggemar Salah berspekulasi apakah ia akan pergi atau malah mendesaknya untuk pergi. Media Mesir kemungkinan besar mengambil cerita dari sana. Menurut akun Twitter resmi Arab Israel (@IsraelArabic), Salah didesak untuk keluar dari Liverpool jika Moenes bergabung, dengan referensi yang jelas kepada orang Mesir.

“Kami menyesal melihat orang-orang mendorong Mohamed Salah untuk meninggalkan Liverpool jika pemain Israel Moenes Dabour bergabung dengan tim. Mereka mencampuradukkan politik dengan olahraga. Kami berharap kalau memang Dabour bergabung dengan Liverpool, kedua pemain luar biasa itu akan bekerja sama untuk kepentingan tim terbaik,” tulis tweet itu.

Menanggapi meningkatnya minat pada masalah ini, mantan pelatih tim nasional sepak bola Mesir Mahmoud Fayez berpendapat Salah tidak akan meninggalkan Liverpool jika Moenes ikut.

“Sebelum ini menjadi tren, Mohamed Salah adalah pemain profesional dan tidak tertarik apakah Liverpool membawa pemain Israel atau tidak,” tulisnya di akun Twitter-nya (@mahmoudelfayez). “Meskipun ini tidak relevan, Moenes Dabour adalah seorang Muslim Arab-Israel dari Nazereth dan hanya Tuhan yang tahu penderitaan yang ia alami dan alasan mengapa ia memilih paspor Israel. Biarkan Salah sendirian dan biarkan dia fokus bermain.”

Mohamed Salah
Mohamed Salah

Media Palestina, di sisi lain, membenarkan dan benar-benar memuji dugaan penolakan Salah untuk bermain bersama Moenes.

“Mohamed Salah bukan pemain sepak bola Mesir pertama yang menolak normalisasi dengan Israel,” tulis wartawan Palestina Lina Khattab, merujuk pada pemain terkemuka Mohamed Abu Trieka yang pada 2008 melepas bajunya untuk menunjukkan satu baju lagi yang dikenakannya yang bertuliskan “Dalam solidaritas dengan Gaza. ”

Menurut Khattab, “Mohamed Salah mengancam akan meninggalkan Liverpool jika pemain Israel Moenes Dabour bergabung dengan tim, tidak peduli dengan konsekuensinya.” Bagi Khattab, Salah mengembalikan harapan kepada warga Palestina yang menyambut reaksinya.

“Palestina bangga dengan Salah yang melakukan itu di tengah normalisasi publik di seluruh dunia Arab di berbagai bidang,” tulisnya. Khattab mengutip aktivis Palestina Loai al-Katib, yang juga seorang Arab-Israel, yang mengatakan bahwa Salah adalah panutan. “Kami bangga dengan Salah dan semua pemain kami harus menolak untuk bermain di tim Israel,” katanya.

Sementara itu, jurnalis Alaa Omar berpendapat bahwa ancaman Salah untuk meninggalkan Liverpool, jika nyata, mungkin dibenarkan karena Dabour bagaimanapun mewakili negara yang menduduki wilayah Arab dan melakukan pelanggaran terhadap orang Arab.

“Tapi bagaimana dengan imigran Arab di Eropa yang lebih suka bermain untuk tim Eropa daripada tim nasional asal mereka?” “Faktanya, banyak negara dimana mereka bernaung yang mendiskriminasi orang Arab.”

Omar menambahkan bahwa jika ancaman itu nyata dan Liverpool memutuskan untuk tidak membawa Dabour untuk menjaga Salah, penggemar Liverpool akan menyalahkan Salah dan popularitasnya akan terpengaruh. Dia juga berpendapat bahwa orang-orang Palestina tidak diharapkan memuji Salah seperti yang diyakini banyak orang. “Mereka benar-benar akan melihat Shalat sebagai penghalang di jalan rekan senegaranya. Paspor Israel atau tidak, Moenes adalah Palestina dan akan terus dianggap demikian oleh Palestina.”

Ini bukan pertama kalinya interaksi Salah dengan para pemain Israel diperdebatkan. Pada 2013, ketika Salah bermain untuk Basel FC ia menghindari bagian jabat tangan dalam pertandingan melawan Maccabi Tel Aviv dengan mengganti sepatu di sisi lapangan, namun klubnya mengatakan itu kebetulan. Pada leg kedua di Israel, ia memilih adu kepalan tangan (fist bump) daripada jabat tangan, yang lagi-lagi menjadi topik yang menarik perhatian media. Salah kemudian dicemooh oleh penggemar Maccabi di pertandingan berikutnya.

Tahun lalu, mantan menteri pertahanan Avigdor Liberman dengan bercanda menulis di akun Twitter-nya bahwa ia akan merekrut Salah ke tentara Israel menyusul kemenangan Liverpool 5-2 atas Roma: “Saya akan memanggil kepala staf segera guna mengatakan kepadanya untuk mempekerjakan Mohamed Salah ke tentara Israel.”

Drone Syiah Houthi Targetkan Militer Yaman, 4 Tewas dan 10 Terluka

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya empat personel militer Yaman tewas pada hari Kamis (10/1/2019) – dan 10 lainnya cedera – dalam serangan pesawat tak berawak yang menargetkan parade militer di provinsi Lahij selatan, menurut sumber-sumber pemerintah.

Kepala Intelejen Militer Mohamed Tamah dan Fadl Hassan, komandan zona militer keempat tentara, termasuk di antara mereka yang terluka dalam serangan, yang terjadi di Lahij Anad Airbase itu, sumber militer setempat, yang berbicara kepada Anadolu Agency tanpa menyebut nama, mengatakan.

Kepala Staf Angkatan Darat Yaman Abdullah al-Nakhei, bersama wakilnya, serta Gubernur Lahij Ahmad at-Turki juga “sedikit terluka” dalam serangan Kamis, kata sumber itu.

Juru bicara kelompok pemberontak Syiah Houthi, yang telah menguasai ibukota Sanaa sejak 2014, kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Baca juga:

Airbase Al-Anad Lahij saat ini dijaga oleh pasukan Yaman yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA).

Sejak 2015, Arab Saudi dan beberapa sekutu Arabnya – termasuk UEA – telah melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Houthi, yang telah menguasai sebagian besar Yaman satu tahun sebelumnya.

Trump Tutup Kegiatan Pemerintahan Amerika

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sekitar 800.000 pekerja federal di seluruh AS menghadapi pilihan yang sulit ketika Partai Demokrat dan Presiden Donald Trump (dari Partai Republik) bertentangan karena pendanaan untuk tembok perbatasan yang telah lama dijanjikan.

Presiden telah meminta anggota parlemen untuk memberinya $ 5,7 miliar guna membayar pembangunan tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko yang awalnya ia bersumpah untuk memiliki dana Meksiko.

Tetapi Demokrat, yang sekarang mengendalikan Dewan Perwakilan Rakyat, menolak proposal Trump, dengan alasan tembok itu mahal dan tidak memadai untuk mengamankan perbatasan selatan. Walaupun Demokrat menguasai majelis House of Representatives atau DPR Amerika Serikat namun Republik menguasai Senat AS. DPR harus melalui Senat untuk meloloskan undang-undang apa pun, lansir Anadolu Agency Kamis (10/1/2019)

Trump telah berusaha meyakinkan warga Amerika, melaui pidato yang disiarkan televisi dari mejanya di Oval Office untuk meyakinkan bahwa tembok tersebut sangat penting bagi keamanan nasional AS.

Baca juga:

Kedua belah pihak tidak ada yang mundur, dan Trump bekerja dengan dukungan dari Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell untuk menghalangi dibukanya kembali undang-undang pemerintah yang tidak termasuk pendanaan untuk tembok pemisah.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penutupan kegiatan pemerintahan (government shutdown) pada Sabtu, 22 Desember 2018 setelah proses pembicaraan antara Trump dan pemimpin Senat dari Partai Demokrat tidak mencapai kata sepakat soal pembiayaan tembok perbatasan dengan Meksiko.

Penutupan pemerintah AS kali ini berdampak sebagian (the partial government shutdown) karena sejumlah departemen telah mendapat alokasi dana dalam anggaran pendapatan dan belanja negara 2019.