Demiliterisasi Gaza Atas Nama Investasi

Demiliterisasi Gaza Atas Nama Investasi

Oleh: Herliana Tri, M.S.P

Derita rakyat Gaza belumlah usai. Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu, namun tak merubah fakta genosida dan kekerasan masih terus terjadi. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 749 orang tewas, lebih dari 2.000 lainnya terluka sejak kesepakatan diberlakukan.

Anehnya, ketidakadilan yang terus dipertontonkan tak merubah Amerika Serikat yang menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza. Antaranews.com ( 7/4/2026).

Fakta keterlibatan Amerika Serikat dalam pendudukan Israel atas Palestina termasuk Gaza menjelaskan secara terang benderang akan adanya keberpihakan yang nyata. Adanya dua puluh satu poin proposal Donald Trump untuk Gaza sesungguhnya merupakan pola untuk melumpuhkan perlawanan terhadap Israel.

Point pentingnya adalah demiliterisasi, deradikalisasi, sekulerisasi politik dan jeratan bantuan ekonomi. Hal yang dilakukan oleh Donald Trump dengan apa yang sebut sebagai perdamaian. Inti proposal ini adalah melumpuhkan perlawanan yang dilakukan oleh pejuang Palestina dengan imbalan politik berupa sebuah negara lemah sekuler yang dikendalikan oleh Barat.

Artinya demiliterisasi merupakan upaya untuk melumpuhkan kekuatan perlawanan Palestina secara militer (fisik). Hal itu tampak dari poin 13 proposal Trump: yakni berupa Hamas dan faksi-faksi lainnya sepakat untuk tidak berperan dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dalam bentuk apa pun.

Semua infrastruktur militer, teror dan ofensif, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, akan dihancurkan dan tidak akan dibangun kembali.

Inilah langkah proses demiliterisasi Gaza. Point yang sangat jelas akan menghancurkan kekuatan perlawanan. Sebaliknya, hal yang sama tidak dituntut kepada entitas penjajah Yahudi yang justru pelaku genosida. Adilkah? tentu tidak.

Pendudukan justru leluasa duduk berdampingan dalam BoP, sedangkan Gaza sebagai obyek sasaran tembak untuk dihancurkan sesuai proyek investasi yang digembar gemborkan Trump dalam bentuk Visi “Trump Riviera”. Rencana tersebut melibatkan pembangunan kembali Gaza menjadi kawasan pesisir yang modern sebagai pusat bisnis dan resor, dan sering disebut dalam diskusi sebagai “Trump Riviera”.

Kepada Siapa Mengadu

Sungguh berat sekali kehidupan rakyat Gaza. Meski penjajahan terlihat nyata, namun keadilan tak kunjung berpihak. Justru menjadi bagian paling menyedihkan adalah pengkhianatan para pemimpin Muslim yang ditekan Netanyahu untuk memaksa Hamas tunduk. Merekalah penyebab Gaza ditelantarkan. Mereka bahkan berebut bertemu Trump untuk sekadar mendapatkan legitimasi.

Negara-negara seperti Turki, Qatar, Yordania, Pakistan, Saudi Arabia dan Indonesia kini bekerja keras memaksa mujahidin meletakkan senjata demi menjaga keamanan Israel sang penjajah, bukan menjaga umat Islam. Bahkan sebagian dari mereka akan mengirim pasukan ke Gaza, bukan untuk melindungi rakyat Palestina, melainkan melindungi tentara Zionis dari rakyat Gaza sendiri.

Sudah saatnya, penduduk dunia ini sadar kepada siapa berpihak dan memberikan dukungan. Karena pada saat ketidakadilan yang dipertontonkan, HAM hanyalah kata tanpa makna. Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan hanya indah diatas kertas tanpa bukti nyata.

Bagikan