Terkepung Pasukan Assad, Puluhan Pengungsi di Perbatasan Israel Diusir Serdadu Zionis

SURIAH (Jurnalislam.com) – Puluhan warga Suriah yang terlantar ditolak oleh unit-unit militer Israel pada hari Selasa (17/7/2018) ketika mereka berusaha mendekati pagar perbatasan di sepanjang Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Insiden pada hari Selasa tersebut terjadi di Quneitra, di mana rezim Syiah Suriah berusaha mendorong sisa-sisa pejuang oposisi.

Para pengungsi Suriah berhenti sekitar 200 meter dari pagar, sebelum seorang tentara Israel mengatakan kepada mereka untuk pergi.

“Anda berada di perbatasan Negara Israel. Kembalilah, kami tidak ingin menyakitimu,” serdadu itu berteriak dalam bahasa Arab melalui pengeras suara di kerumunan, disiarkan langsung tayangan TV Reuters.

Pasukan Assad dan Milisi Syiah Dukungan Iran Menuju Wilayah Israel

Kerumunan, termasuk wanita dan anak-anak, kemudian berjalan kembali dengan perlahan menuju perkemahan IDP. Beberapa berhenti di tengah jalan dan melambai-lambaikan kain putih ke arah perbatasan Israel.

Kelompok ini termasuk di antara puluhan ribu warga Suriah yang telah tiba di dekat perbatasan selama sebulan terakhir setelah pertempuran baru di sepanjang provinsi selatan Deraa dan Quneitra meletus di negara itu.

“Kembalilah sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Jika Anda ingin kami membantu Anda, kembalilah,” kata perwira tentara Israel itu kepada kerumunan, “Segeralah bergerak.”

Reporter Al Jazeera Stefanie Dekker melaporkan dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki, bahwa ratusan atau lebih warga Suriah yang berkumpul di sepanjang perbatasan pada hari Selasa tidak punya tempat lain untuk pergi.

Konvoi 15 Bus Bawa Pejuang Anti Rezim Assad Tinggalkan Daraa

Dan meskipun Israel dan Yordania menyediakan beberapa tenda untuk beberapa pengungsi, ada kekhawatiran tentang situasi kehidupan mereka.

“Apa yang kami pahami adalah mereka telah kembali ke tenda-tenda di kamp sementara di mana mereka berada,” kata Dekker, menambahkan bahwa orang yang dipindahkan harus menghadapi peningkatan suhu serta masalah sanitasi dan air.

“Ada kekhawatiran lain bahwa orang-orang hidup di bawah kendali oposisian bertahun-tahun [yang] merupakan langkah-langkah repercussion oleh rezim Suriah,” kata Dekker.

“Ada aktivis di daerah-daerah ini, wartawan, keluarga yang takut pada apa akan yang terjadi terhadap mereka ketika rezim mengambil alih desa-desa tempat mereka tinggal.”

PBB memperkirakan bahwa 160.000 warga Suriah telah mengungsi karena kerusuhan baru-baru ini, sebagian besar dipicu oleh rezim Suriah dan sekutu-sekutunya dari Rusia untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oposisi di selatan.

Israel telah memberikan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi di kamp-kamp dekat dengan garis pemisahan Israel-Suriah 1974 pada Golan tetapi mengatakan mereka tidak akan diizinkan untuk menyeberang ke wilayah yang dikuasai Israel.

Seorang saksi di sisi perbatasan Suriah mengatakan bahwa orang-orang mencari perlindungan dimanapun mereka bisa ketika serangan semakin dekat ke lokasi mereka.

Lama Fakih, wakil direktur divisi Timur Tengah dan Afrika Utara di Human Rights Watch, mengatakan kepada Al Jazeera baik rezim Israel dan Yordania memiliki kewajiban untuk tidak mendorong kembali pengungsi yang melarikan diri dan pencari suaka.

Dalam 6 Bulan Rezim Syiah Assad dan Rusia Bunuh 1.793 Warga Sipil Suriah

“Puluhan ribu orang yang mengungsi melarikan diri dari pemboman yang semakin meluas. Mereka telah meninggalkan banyak beban di pundak mereka,” kata Fakih.

“Mereka tinggal di daerah-daerah dengan cuaca panas yang hebat tanpa tempat perlindungan yang memadai, tanpa bantuan kemanusiaan yang memadai dan terlepas dari kondisi kemanusiaan yang ekstrim dan ketidakamanan di daerah itu, baik rezim Israel dan Yordania telah bersikeras tidak mengizinkan para pencari suaka ini untuk mencoba mencari perlindungan atau melintasi perbatasan,” tambahnya.

4 Penjahat Perang Bangladesh Dihukum Mati

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Pengadilan Bangladesh pada hari Selasa (17/7/2018) menjatuhkan hukuman mati kepada empat orang karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang tahun 1971, yang menandai pemisahan negara itu dari Pakistan.

“… Mereka dihukum dan dijatuhi hukuman mati dan mereka akan digantung di leher sampai mereka mati,” kata Hakim Shahinur Islam, ketua dari tiga anggota tribunal, kantor berita yang dikelola negara Bangladesh Sangbad Sangstha (BSS) melaporkan, lansir World Bulletin.

Selama 9 Bulan Hampir 100 Orang Tewas oleh Aparat di Bangladesh

Para narapidana, Akmal Ali Talukder, 79, Abdun Nur Talukder, 66, Anis Miah, 80, dan Abdul Mosabbir Miah, 67 melakukan genosida, pembunuhan, penculikan dan penyiksaan dari 7 Mei -24 November 1971 di desa Panchgaon dan Paschimbhag di distrik Moulvipazar, Pengadilan Kejahatan Internasional (the International Crime Tribunal ICT) mengatakan.

Hanya Talukder yang hadir di persidangan.

Bangladesh Larang Saluran TV Zakir Naik setelah Serangan di Kafe Dhaka

Pengadilan memerintahkan pihak berwenang untuk menangkap narapidana yang melarikan diri.

ICT adalah pengadilan kejahatan perang domestik di Bangladesh yang dibentuk pada tahun 2009 untuk menyelidiki dan mengadili para tersangka atas kejahatan perang pada tahun 1971 yang diduga dilakukan oleh militer Pakistan dan kolaborator lokal mereka di Bangladesh.

Pengungsi Muslim Rohingya Bersedia Kembali ke Myanmar Jika…

ROHINGYA (Jurnalislam.com) – Pengungsi Muslim Rohingya Myanmar mengatakan kepada utusan PBB bahwa mereka bersedia untuk kembali ke Myanmar jika keselamatan dan kewarganegaraan mereka dipastikan, menurut pernyataan PBB Selasa (17/7/2018).

Pernyataan itu muncul menyusul untuk kunjungan resmi pertama utusan PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener ke kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh dari 14-16 Juli, tempat lebih dari 750.000 pengungsi tinggal.

“Di Cox’s Bazar, dia mengunjungi kamp-kamp pengungsi yang luas dan mendengar dari orang-orang tentang kekejaman tak terbayangkan yang dilakukan di Negara Bagian Rakhine,” kata pernyataan itu.

Wartawan Reuters yang Ditangkap Saat Selidiki Pembantaian di Rohingya, Diadili Hari ini

“Terlepas dari pelanggaran berat hak asasi manusia ini, mereka menyatakan harapan mereka untuk kembali ke rumah jika keamanan dapat dijamin dan kewarganegaraan dapat disediakan,” tambahnya.

Selama diskusi tentang kunjungan tersebut, Burgener juga menggarisbawahi pentingnya akuntabilitas atas kejahatan yang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

Sejak 25 Agustus 2017, sekitar 750.000 Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh setelah pasukan Myanmar memulai tindakan brutal terhadap kaum Muslim minoritas, menurut Amnesty International.

Petinggi PBB: Muslim Rohingya Tidak Mungkin Kembali ke Myanmar, Ini Alasannya

Sedikitnya 9.400 orang Rohingya tewas di Negara Bagian Rakhine Myanmar dari 25 Agustus hingga 24 September 2017, menurut Doctors Without Borders.

Dalam laporan yang diterbitkan Desember lalu, kelompok kemanusiaan global mengatakan tewasnya 71,7 persen, atau 6.700 Rohingya, disebabkan oleh kekerasan. Mereka termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat terhadap serangan sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Pemerintah Myanmar Hilangkan Bukti Kejahatannya dengan Ratakan 55 Desa Rohingya

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, mutilasi – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan serta pembakaran yang dilakukan oleh tentara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Tanggapi Serangan Layang-layang Hamas, PM Zionis Siapkan Skenario Militer

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (17/7/2018) mengatakan bahwa Israel siap untuk “skenario apa pun” di Jalur Gaza yang diblokade, dalam pernyataan resmi, lansir Anadolu Agency.

“Kami berada di tengah-tengah pertempuran dan saya dapat memberi tahu Anda bahwa tentara [Israel] siap untuk skenario apa pun,” kata Netanyahu mengatakan selama inspeksi militer dengan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman.

Ditanya apakah ketegangan yang sedang berlangsung di sepanjang pagar perbatasan Gaza-Israel mungkin diselesaikan secara non-militer, ia menambahkan: “Saya percaya kita mengambil langkah yang tepat.”

Sementara itu, harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pejabat Mesir telah meminta Hamas untuk menghentikan aktivis warga Palestina di Gaza yang menerbangkan layang-layang dan balon pembakar ke wilayah pertanian Israel.

Militer Israel Hadapi Layang-layang Hamas dengan Pesawat Tempur

Menurut surat kabar itu, Hamas menanggapi permintaan Mesir dengan mengatakan bahwa mereka “sudah menyampaikan ketidakmampuannya untuk mengakhiri tindakan tersebut.”

Dalam beberapa pekan terakhir, aktivis di Gaza telah menerbangkan layang-layang dan balon pembakar ke wilayah Israel sebagai bagian dari demonstrasi yang sedang berlangsung di sepanjang pagar keamanan.

Sejak demonstrasi pertama kali dimulai pada 30 Maret, lebih dari 130 demonstran Palestina telah terbunuh – dan ribuan lainnya terluka – oleh tembakan brutal pasukan penjajah Israel.

Baca kuga: Serangan Layang-layang Warga Gaza pada Lahan Pertanian, Rugikan Israel Us$ 2, 5 Juta

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 11 tahun Israel di Jalur Gaza, yang telah memusnahkan ekonomi daerah terkepung itu dan mencabut komoditas pokok bagi sekitar dua juta penduduknya.

Pasukan Assad dan Milisi Syiah Dukungan Iran Menuju Wilayah Israel

SURIAH (Jurnalislam.com) – Setelah menguasai sebagian besar perbatasan Suriah dengan Yordania, rezim Assad kini bergerak ke barat menuju wilayah Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel, menurut seorang koresponden Anadolu Agency di kota Daraa di Suriah selatan, Senin (16/7/2018).

Sebagian besar Quneitra, kota terbesar di dataran tinggi Golan yang dikuasai Suriah, saat ini dipegang oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata anti-rezim Syiah Assad.

Setelah memegang kendali atas bagian barat provinsi Daraa, pasukan rezim dan milisi Syiah Internasional yang didukung oleh Iran mulai maju di Quneitra, yang terletak di luar wilayah wilayah Golan yang diduduki Israel.

Ahad malam, pertempuran sengit dilaporkan antara kedua belah pihak di daerah antara kota Daraa, Al-Harra dan kota Quneitra, Mashara.

Assad Langgar Gencatan Senjata di Daraa, 11 Faksi Oposisi Bentuk Koalisi Tentara Selatan

Pada 20 Juni, rezim Assad dan sekutu-sekutunya melancarkan serangan besar-besaran yang ditujukan untuk membangun kembali kendali atas Suriah selatan, termasuk Daraa.

Pada tanggal 6 Juli, para pejabat Rusia dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata menyetujui gencatan senjata permanen di Suriah selatan.

Berdasarkan perjanjian itu, siapa pun yang ingin meninggalkan Daraa akan diberi jalan keluar yang aman ke bagian utara negara itu.

Konvoi 15 Bus Bawa Pejuang Anti Rezim Assad Tinggalkan Daraa

Sejak itu, rezim dan sekutu-sekutunya telah menguasai sekitar 85 persen perbatasan Suriah-Yordania.

Pada hari Ahad, konvoi pertama dari 15 bus yang membawa 700 pengungsi – termasuk warga sipil dan pejuang oposisi – berangkat dari Daraa ke provinsi utara Idlib di Suriah.

Setelah pembicaraan damai yang diadakan tahun lalu di Astana, Daraa dan Quneitra ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” di mana tindakan agresi dilarang, namun rezim Assad melanggar.

19 Anak Ghouta Timur Terima Sertifikat Hafal Al Quran

AL-BAB (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 19 anak Suriah yang dievakuasi dari Ghouta Timur menerima sertifikat pada hari Ahad karena menghafal Al-Qur’an.

Mereka telah dipindahkan ke kota utara Suriah Al-Bab, dibebaskan dari kelompok IS tahun lalu dalam Operasi Euphrat Turki.

Anak-anak berusia 8-15 tahun telah menyelesaikan pendidikan mereka tetapi tidak dapat memperoleh sertifikat karena upaya evakuasi di distrik yang terkepung.

Upacara untuk memberikan sertifikat itu diadakan di Masjid Usama Bin Abu Zaid di pusat kota.

“Sebelum kami meninggalkan Ghouta Timur, ada 35 anak yang telah menyelesaikan pendidikan mereka. 19 dari mereka harus bermigrasi bersama kami ke al-Bab. Anak-anak ini menyelesaikan pendidikan mereka di bawah serangan dan blokade di Ghouta Timur,” Abu Muaffak, direktur Divinity Institut di Ghouta Timur, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, distrik ini tetap dikepung oleh rezim Assad selama lima tahun terakhir.

Pada 14 April, rezim Syiah Suriah dengan paksa merebut Ghouta Timur, daerah pinggiran Damaskus yang dulu dikuasai oposisi, menggusur 140.000 orang dari rumah mereka, menurut PBB.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik kejam yang dimulai pada awal 2011 ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad membantai warganya yang berunjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terdug.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang telah tewas dalam konflik hingga saat ini.

17 Tahun Perang Gak Kelar-kelar, AS Akan Negosiasi Lansung dengan Taliban

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat akhirnya lelah meladeni Taliban, dan akan bergabung dalam negosiasi langsung dengan Taliban dalam upaya mengakhiri perang 17 tahun di Afghanistan, kata seorang komandan senior AS.

Di tengah spekulasi yang berkembang tentang kemungkinan pembicaraan perdamaian, Jenderal John Nicholson mengeluarkan komentar pada hari Senin (16/7/2018) menyusul peningkatan upaya diplomatik untuk mengupayakan perundingan menyusul adegan yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu pejuang Taliban yang tidak bersenjata yang berbaur dengan pasukan militer Afghanistan di jalan-jalan Kabul dan kota-kota lain selama gencatan senjata kejutan bulan lalu.

Tidak Mampu Hadapi Taliban, AS Desak NATO Kirim Lebih Banyak Lagi Pasukannya

Nicholson, yang memimpin misi Resolute Support yang dipimpin NATO, mengatakan AS mengakui mereka memiliki peran kunci untuk dimainkan.

“Sekretaris negara kami, Tuan [Mike] Pompeo, telah mengatakan bahwa kami, Amerika Serikat, siap untuk berbicara dengan Taliban dan mendiskusikan peran pasukan internasional,” katanya.

“Kami berharap mereka menyadari ini dan ini akan membantu menggerakkan proses perdamaian ke depan.”

Al Jazeera menghubungi Taliban di Afghanistan tetapi tidak ada komentar segera.

Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

Sohail Shahin, seorang juru bicara untuk kantor politik Taliban di Qatar, mengatakan dia masih menunggu konfirmasi komentar Nicholson tetapi menyambut tanda-tanda pendekatan baru.

“Ini yang kami inginkan dan kami sedang menunggu – untuk duduk dengan AS secara langsung dan membahas penarikan pasukan asing dari Afghanistan,” kata Shahin.

Dia mengatakan sebagai langkah pertama dia berharap untuk melihat pemimpin Taliban dikeluarkan dari daftar hitam PBB agar dapat melakukan perjalanan.

Shahin juga mengatakan masalah pasukan internasional di Afghanistan akan menjadi masalah besar dan Taliban akan bersedia untuk mendiskusikan masalah Amerika.

Serangan Udara AS pada Taliban Meningkat, 4.360 Pemboman, Namun…

Para pejabat AS mengatakan Presiden Donald Trump telah menunjukkan ketidaksabaran melihat kurangnya kemajuan di Afghanistan, di mana Taliban menguasai sebagian besar negara itu meskipun operasi serangan udara yang lebih agresif diumumkan tahun lalu.

Taliban (Imarah Islam Afghanistan) menolak pembicaraan dengan pemerintah Presiden Ashraf Ghani, yang dianggapnya tidak sah, dan malah bersikeras bahwa mereka hanya akan berbicara dengan Amerika Serikat.

15 Tahun Perang Melawan Taliban Lalu Kalah, Ini Laporan Kerugian Amerika Serikat

Pompeo mengatakan walaupun proses perdamaian secara keseluruhan harus dipimpin Afghanistan, Washington akan siap untuk bergabung dengan pembicaraan – bergeser dari sikap mereka sebelumnya yang menetapkan hanya pemerintahan Ghani yang memiliki legitimasi untuk berbicara dengan Taliban.

Dia juga mengatakan AS bersedia untuk membahas posisi pasukan internasional di Afghanistan, yang menurut Taliban Pasukan AS harus meninggalkan negara itu sebagai syarat untuk negosiasi.

Taliban Tegaskan sebagai Wakil Rakyat Afghanistan yang Sah pada Forum Internasional

Para pejabat senior AS, termasuk Pompeo dan Alice Wells, diplomat penting Departemen Luar Negeri AS untuk Afghanistan, mengunjungi Kabul dalam beberapa pekan terakhir untuk mencoba memuluskan jalan bagi pembicaraan.

Banyak rintangan masih ada sebelum konflik yang telah menewaskan sejumlah warga sipil tahun ini bisa berakhir. Sebanyak 1.692 warga sipil tewas pada paruh pertama tahun 2018.

Unjuk Rasa Meluas di Irak, Demonstran Bakar Kantor dan Foto Pemimpin Syiah Iran

BASRA (Jurnalislam.com) – Protes telah menyebar ke lebih banyak kota Irak setelah sepekan demonstrasi penuh kekerasan di kota Basra yang kaya minyak di mana sedikitnya tujuh orang tewas, lusinan orang terluka, dan ratusan lainnya ditangkap, kata polisi dan aktivis.

Protes hari Senin (16/7/2018) berlangsung di provinsi timur Diyala dan kota selatan Nasiriyah, menurut kantor berita AFP.

Kerusuhan pertama meletus di Basra pada 8 Juli ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan, menewaskan satu orang. Para pengunjuk rasa menuduh pemerintah gagal menyediakan layanan dasar, termasuk listrik.

“Kami adalah penduduk Basra, bukan penyusup. Kami hanya menyampaikan tuntutan kami, yaitu air bersih, listrik, layanan dasar dan pekerjaan. Aksi protes kami yang damai dibalas dengan peluru,” kata seorang demonstran kepada Al Jazeera.

Saat kerusuhan terus berlangsung di beberapa kota di Irak selatan, video yang dibagikan di media sosial menunjukkan beberapa demonstran membakar kantor-kantor partai politik yang memiliki hubungan dengan Iran, terutama mereka yang berasal dari milisi Badr, partai Dawa dan Gerakan Kebijaksanaan Nasional.

Presiden Perancis Serukan Pembubaran Pasukan Syiah Irak, Al Maliki Berang

Foto-foto dari hari Ahad menunjukkan pembakaran poster bertuliskan gambar mantan Pemimpin Tertinggi Syiah Iran Ruhollah Khomeini di jalan utama di provinsi Basra.

“Jalan-jalan Basra terus memprotes praktek-praktek Iran, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sekarang, terutama setelah air kita menjadi garam setelah drainase dibuang oleh Iran di Sungai Shatt al-Arab,” Abu Ahmad al-Mansoori, para pengunjuk rasa di Basra, mengatakan kepada Al Arabiya Inggris.

Milisi Ekstremis Syiah Irak Kuasai Kota Kuno Hatra

Pusat minyak Basra yang hancur dan bagian lain dari jantung selatan Irak telah lama diabaikan, terutama oleh pemerintah yang dipimpin Syiah yang datang setelah mantan presiden Saddam Hussein. Protes serupa telah terjadi di masa lalu.

Dalam sebuah langkah langka, para pengunjuk rasa menyerbu bandara internasional di Najaf, kota Syiah, selama akhir pekan hingga menghentikan sementara lalu lintas udara.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, sebagai tanggapan, mengumumkan bahwa pemerintah sementara akan mengeluarkan dana untuk layanan air, listrik dan kesehatan di Basra, yang pernah dijuluki “Venesia Timur Tengah” untuk jaringan salurannya.

Putra Mahkota Raja Arab Temui Pimpinan Syiah Irak, Muqtada al-Sadr

Putin Kepada Trump: Lupakan Perang Dingin, Mari Bekerja Sama

FINLANDIA (Jurnalislam.com) – Presiden Vladimir Putin dan mitranya dari AS Donald Trump telah berkomitmen untuk meningkatkan hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia, dengan Putin mengatakan tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan ketegangan di antara negara adidaya tersebut.

Kedua pemimpin bertemu di ibukota Finlandia, Helsinki, pada hari Senin (16/7/2018) untuk berbicara tentang “segalanya mulai dari perdagangan hingga militer serta rudal ke China,” lansir Aljazeera.

“Tidak ada alasan obyektif untuk pertentangan [antara Rusia dan AS]. Perang Dingin adalah sesuatu dari masa lalu, situasi di dunia telah berubah drastis,” kata Putin.

Trump dan Putin akan Bahas Suriah pada Pertemuan Puncak di Finlandia

Sebelumnya, Trump menyalahkan masa lalu “kebodohan dan ketidakpedulian” negaranya sendiri untuk hubungan kedua negara yang bermusuhan.

Pada konferensi pers setelah KTT, Trump memuji dialog mereka yang terjadi secara langsung, terbuka dan sangat produktif dan menekankan perlunya diplomasi berkelanjutan.

“Dialog yang produktif tidak hanya bagus untuk Amerika Serikat dan Rusia, tetapi juga bagus untuk dunia,” katanya.

“Hubungan kami tidak pernah lebih buruk dari sekarang, namun itu berubah sekitar empat jam yang lalu … menolak terlibat tidak akan mencapai apa pun.”

Ahli Senjata: Rusia Matikan Sistem Pertahanan Udara di Suriah saat AS Lancarkan Serangan Rudal

Putin mengatakan kedua negara akan perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan seperti terorisme, kejahatan internasional, ekonomi dan lingkungan, sambil menunjuk pada kontraterorisme dan cybersecurity yang sudah mereka lakukan.

“Sebagai kekuatan nuklir besar, kami memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga keamanan internasional,” katanya.

Putin mengatakan AS dan Rusia dapat berkolaborasi untuk “membangun perdamaian dan rekonsiliasi” di Suriah, dan Trump menambahkan dengan bekerja sama untuk mengakhiri konflik, AS dan Rusia dapat “menyelamatkan ratusan ribu jiwa.”

Kedua pemimpin juga berkomitmen untuk mengamankan perbatasan Israel dengan Suriah sesuai dengan Perjanjian Penyelamatan 1974 antara Israel dan Suriah.

Dituntut Juri Agung AS: 12 Intelijen Rusia Diduga Meretas Pemilu Amerika 2016

Selama konferensi, Putin mengulangi penolakannya atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016. “Negara Rusia tidak pernah ikut campur dan tidak akan ikut campur dalam urusan internal AS,” katanya.

Putin menambahkan Rusia akan siap menganalisis temuan apa pun bersama dengan AS.

Trump mengkritik penyelidikan AS yang sedang berlangsung atas tuduhan tersebut sebagai “bencana”. “Jika mereka punya [bukti], itu sudah lama sekali,” katanya.

Banyak kritikus AS menyerukan pembatalan KTT setelah muncul informasi baru seputar dugaan ikut campur Rusia dalam pemilihan.

Pekan lalu, otoritas AS menuntut 12 perwira intelijen militer Rusia untuk dugaan gangguan dalam pemilihan presiden 2016.

“Saya sendiri adalah seorang perwira intelijen dan tahu bagaimana berkas-berkas ini disatukan,” kata Putin.

Wartawan Reuters yang Ditangkap Saat Selidiki Pembantaian di Rohingya, Diadili Hari ini

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Dua wartawan Reuters yang ditangkap di Myanmar tahun lalu akan diadili pada hari ini, Senin (16/7/2018) setelah lebih dari enam bulan ditahan sejak sidang pra-peradilan.

Pasangan wartawan itu ditangkap ketika sedang menyelidiki pembunuhan di Rohingya, mereka dijebak dengan undangan makan malam oleh petugas polisi, tetapi malah ditangkap ketika mereka tiba di tempat.

Bongkar Rahasia Pembantaian Muslim Rohingya, Wartawan Reuters Ini Hadapi Pengadilan Myanmar

Koresponden Aljazeera di Bangkok mengatakan, mereka telah dituduh melanggar aturan resmi Myanmar dan bisa menghadapi hukuman 14 tahun penjara.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan, bahwa awak media telah banyak menjadi korban dari tindakan keras aparat Myanmar ketika meliput pembantaian di Rohingya.