Terkepung Pasukan Assad, Puluhan Pengungsi di Perbatasan Israel Diusir Serdadu Zionis

Terkepung Pasukan Assad, Puluhan Pengungsi di Perbatasan Israel Diusir Serdadu Zionis

SURIAH (Jurnalislam.com) – Puluhan warga Suriah yang terlantar ditolak oleh unit-unit militer Israel pada hari Selasa (17/7/2018) ketika mereka berusaha mendekati pagar perbatasan di sepanjang Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Insiden pada hari Selasa tersebut terjadi di Quneitra, di mana rezim Syiah Suriah berusaha mendorong sisa-sisa pejuang oposisi.

Para pengungsi Suriah berhenti sekitar 200 meter dari pagar, sebelum seorang tentara Israel mengatakan kepada mereka untuk pergi.

“Anda berada di perbatasan Negara Israel. Kembalilah, kami tidak ingin menyakitimu,” serdadu itu berteriak dalam bahasa Arab melalui pengeras suara di kerumunan, disiarkan langsung tayangan TV Reuters.

Pasukan Assad dan Milisi Syiah Dukungan Iran Menuju Wilayah Israel

Kerumunan, termasuk wanita dan anak-anak, kemudian berjalan kembali dengan perlahan menuju perkemahan IDP. Beberapa berhenti di tengah jalan dan melambai-lambaikan kain putih ke arah perbatasan Israel.

Kelompok ini termasuk di antara puluhan ribu warga Suriah yang telah tiba di dekat perbatasan selama sebulan terakhir setelah pertempuran baru di sepanjang provinsi selatan Deraa dan Quneitra meletus di negara itu.

“Kembalilah sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Jika Anda ingin kami membantu Anda, kembalilah,” kata perwira tentara Israel itu kepada kerumunan, “Segeralah bergerak.”

Reporter Al Jazeera Stefanie Dekker melaporkan dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki, bahwa ratusan atau lebih warga Suriah yang berkumpul di sepanjang perbatasan pada hari Selasa tidak punya tempat lain untuk pergi.

Konvoi 15 Bus Bawa Pejuang Anti Rezim Assad Tinggalkan Daraa

Dan meskipun Israel dan Yordania menyediakan beberapa tenda untuk beberapa pengungsi, ada kekhawatiran tentang situasi kehidupan mereka.

“Apa yang kami pahami adalah mereka telah kembali ke tenda-tenda di kamp sementara di mana mereka berada,” kata Dekker, menambahkan bahwa orang yang dipindahkan harus menghadapi peningkatan suhu serta masalah sanitasi dan air.

“Ada kekhawatiran lain bahwa orang-orang hidup di bawah kendali oposisian bertahun-tahun [yang] merupakan langkah-langkah repercussion oleh rezim Suriah,” kata Dekker.

“Ada aktivis di daerah-daerah ini, wartawan, keluarga yang takut pada apa akan yang terjadi terhadap mereka ketika rezim mengambil alih desa-desa tempat mereka tinggal.”

PBB memperkirakan bahwa 160.000 warga Suriah telah mengungsi karena kerusuhan baru-baru ini, sebagian besar dipicu oleh rezim Suriah dan sekutu-sekutunya dari Rusia untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oposisi di selatan.

Israel telah memberikan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi di kamp-kamp dekat dengan garis pemisahan Israel-Suriah 1974 pada Golan tetapi mengatakan mereka tidak akan diizinkan untuk menyeberang ke wilayah yang dikuasai Israel.

Seorang saksi di sisi perbatasan Suriah mengatakan bahwa orang-orang mencari perlindungan dimanapun mereka bisa ketika serangan semakin dekat ke lokasi mereka.

Lama Fakih, wakil direktur divisi Timur Tengah dan Afrika Utara di Human Rights Watch, mengatakan kepada Al Jazeera baik rezim Israel dan Yordania memiliki kewajiban untuk tidak mendorong kembali pengungsi yang melarikan diri dan pencari suaka.

Dalam 6 Bulan Rezim Syiah Assad dan Rusia Bunuh 1.793 Warga Sipil Suriah

“Puluhan ribu orang yang mengungsi melarikan diri dari pemboman yang semakin meluas. Mereka telah meninggalkan banyak beban di pundak mereka,” kata Fakih.

“Mereka tinggal di daerah-daerah dengan cuaca panas yang hebat tanpa tempat perlindungan yang memadai, tanpa bantuan kemanusiaan yang memadai dan terlepas dari kondisi kemanusiaan yang ekstrim dan ketidakamanan di daerah itu, baik rezim Israel dan Yordania telah bersikeras tidak mengizinkan para pencari suaka ini untuk mencoba mencari perlindungan atau melintasi perbatasan,” tambahnya.

Bagikan
Close X