Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

26 April 2018
Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengumumkan pembukaan serangan musim semi 2018 pada hari Rabu (25/4/2018), bernama “operasi Jihad Al Khandaq” seperti nama pertempuran di Madinah pada tahun 627 Masehi di mana pasukan Nabi Muhammad Saw secara signifikan dengan sedikit pasukan dan dikepung oleh pasukan kafir Quraisy dan Yahudi namun memperoleh kemenangan.

Pasukan AS di Afghanistan adalah target utama operasi, sementara pemerintah boneka dan pasukan militer Afghanistan bentukan AS adalah target sekunder, menurut pernyataan Taliban, lansir Long War Journal, Rabu.

Dua serangan musim semi sebelumnya diberi nama sama dengan dua amir pertama Taliban: Mullah Omar, pendiri Taliban dan pemimpin pertama, dan penggantinya, Mullah Mansour, yaitu Operation Omari dan Operation Mansouri. Mullah Omar meninggal dunia di rumah sakit Pakistan pada 2013, sementara Mullah Mansour syahid dalam serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan pada 2016.

“Perencanaan dan strategi operasi Jihad Al Khandaq diatur oleh para ahli dan kader ahli dari Komisi Militer Imarah Islam yang didasarkan pada taktik gerilya, ofensif, infiltrasi dan berbagai taktik baru dan rumit lainnya dalam melawan strategi perang musuh yang baru,”kata Taliban dalam pernyataannya.

Faksi Jihad Uighur Gelar Operasi Militer Bersama Taliban

Sirajuddin Haqqani memimpin Komisi Militer Taliban, dan Mullah Mohammad Yaqoub – putra Mullah Omar – bertugas sebagai pemimpin senior sebelum diangkat bersama dengan Sirajuddin sebagai salah satu dari dua deputi Mullah Haibatullah Akhundzada. Sirajuddin dianggap sebagai ahli taktik dan ahli strategi yang terampil, dan telah membimbing mujahidin Taliban untuk merebut kendali atau secara aktif memperjuangkan sedikitnya 58 persen dari 407 distrik di Afghanistan, merupakan pencapaian wilayah terbesar yang berhasil dikuasai atau dipengaruhi sejak perang dimulai pada tahun 2001, menurut data yang dikumpulkan oleh the Long War Journal FDD.

Operasi Al Khandaq Jihadi “terutama berfokus menghancurkan, membunuh, dan menangkap para pasukan penjajah Amerika dan pendukung mereka.”

“Target utamanya adalah penjajah Amerika dan agen intelijen mereka,” lanjut pernyataan Taliban. “Pendukung internal mereka akan ditangani sebagai target sekunder sementara plot jahat dari para pengacau yang ada saat ini dan di masa depan akan dihancurkan sejak awal.”

Taliban menegaskan bahwa mereka akan berhati-hati untuk mencegah jatuhnya korban sipil dan memperingatkan warga Afghanistan untuk tetap “berada pada jarak yang cukup aman dari semua pangkalan dan konvoi musuh sehingga mereka tidak akan dirugikan selama operasi ini.”

Serangan Udara AS pada Taliban Meningkat, 4.360 Pemboman, Namun…

Pengumuman tahunan Taliban tentang serangan musim seminya dipandang sebagai tema serangan, operasi militer dan politik Taliban sering kali dekat dengan tujuan yang diumumkan. Pada 2017, Taliban mengatakan bahwa Operasi Mansouri akan fokus pada pasukan asing serta pasukan keamanan Afghanistan. Selain itu, Taliban juga mengatakan akan fokus pada pemerintahan di “area yang telah dibersihkan dari musuh.” Selama serangan 2017, Taliban terus meningkatkan ukuran wilayah kekuasannya, dan menekankan tata kelola di area yang mereka kendalikan.

Pada tahun 2016, Taliban berjanji bahwa Operasi Omari akan “menggunakan serangan skala besar terhadap posisi musuh di seluruh negeri” dan meluncurkan “serangan mencari-syahid dan taktis terhadap benteng musuh.” Hasilnya, Taliban berhasil menekan enam ibukota provinsi, menyerbu beberapa kabupaten yang dikuasai musuh, dan meluncurkan serangan yang sukses di pangkalan militer utama selama serangan tahun 2016.

Serangan Taliban tahun 2018 mungkin akan menjadi yang paling penting dalam perang. Administrasi Trump telah mengerahkan beberapa ribu pasukan tambahan ke Afghanistan untuk menghentikan kemenangan Taliban baru-baru ini terus meningkat pesat. Pejabat AS dan NATO percaya bahwa tekanan militer dapat memaksa Taliban ke meja perundingan. Namun, Strategi ini gagal di bawah pemerintahan Obama, yang menurunkan lebih dari 120.000 tentara Amerika di negara itu.