Berita Terkini

Puting Beliung Rancaekek, 16 Orang Luka, Ratusan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat (Humas) BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, angin Puting Beliung yang melanda Rancaekek Kabupaten Bandung pada Jum’at (11/1/2019) menyebabkan puluhan rumah warga rusak berat dan ringan serta beberapa orang mengalami luka-luka.

“Dampak sementara puting beliung Rancaekek, Bandung, 1 orang luka berat, 15 orang luka ringan, 15 rumah rusak berat dan 71 rumah rusak ringan,” katanya dalam akun Twiter resmi miliknya Sabtu (12/1/2019).

Menurut Sutopo, jumlah kerusakan akibat Puting Beliung tersebut akan terus bertambah. “Lebih dari 300 rumah rusak (belum diklarifikasi),” ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan ringan akan terjadi di Bandung dari siang hingga malam hari dan kembali berawan pada dini hari.

Suhu berkisar antara 20-30 derajat celcius dengan kelembaban 60-90 persen dengan potensi angin kencang dan kilat/petir saat terjadi hujan di siang hingga malam hari.

Kelompok Turki-Amerika Kritik Pernyataan Provokatif Pejabat AS

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sebuah kelompok Turki-Amerika mengkritik pernyataan “ofensif” yang dibuat oleh para pejabat AS setelah keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik 2.000 tentara dari Suriah.

Koalisi Turki Amerika (The Turkish Coalition of America-TCA) mengatakan “setiap ekspresi permusuhan anti-Kurdi oleh pemerintah Turki atau rakyat Turki adalah provokatif dan kurang informasi.”

Dikatakan tidak semua orang Kurdi Suriah mendukung YPG yang terkait dengan PKK, “Itulah sebabnya Turki dengan tegas menentang keputusan AS yang sesat untuk mendukung, melatih, dan mempersenjatai pasukan YPG sejak awal.

“Turki khawatir bahwa YPG dan lengan politiknya, PYD, terlibat dalam pembersihan etnis kelompok-kelompok politik dan etnis saingan di Suriah sambil memanfaatkan ancaman IS, seperti yang didokumentasikan oleh Amnesty International,” tambahnya dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu (9/1/2019).

Pejabat senior dan anggota parlemen AS telah meminta Trump untuk tidak meninggalkan YPG saat ia menarik diri dari Suriah. Penasihat Keamanan Nasional John Bolton yang mengkondisikan keluarnya jaminan dari Turki untuk tidak menyerang kelompok itu – membuat marah Ankara.

Baca juga:

Dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pekan lalu bahwa Washington khawatir bahwa Turki akan “membantai orang Kurdi.”

YPG adalah cabang Suriah dari PKK, sebuah kelompok yang ditetapkan sebagai teroris oleh AS dan Turki.

Dukungan AS untuk kelompok tersebut telah lama membuat marah Ankara, dan telah meningkatkan ketegangan bilateral.

“TCA menyambut upaya berhati-hati dari kedua belah pihak untuk mengoordinasikan perencanaan militer dalam perang melawan IS,” kata koalisi.

“Washington harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menanggapi kekhawatiran keamanan nasional sekutu NATO-nya yang masuk akal dan jelas. Ankara harus mempertimbangkan bagaimana sistem politik AS berfungsi. Kerja sama di Suriah berdasarkan kepentingan keamanan bersama dapat memainkan peran yang konstruktif dan definitif dalam menghilangkan sisa-sisa IS dan dalam memperkuat hubungan vital AS-Turki,” tambahnya.

Bantai 4 Penjaja Seks Jalanan, Polisi AS Ini Mengaku Tidak Bersalah

TEXAS (Jurnalislam.com) – Seorang agen Patroli Perbatasan AS di Texas telah mengaku dirinya tidak bersalah atas pembunuhan besar-besaran dan dakwaan lain dalam pembunuhan bulan September terhadap empat wanita yang menurut jaksa penuntut adalah penjaja seks.

Juan David Ortiz, seorang veteran 10 tahun dari Patroli Bea Cukai dan Perbatasan AS (US Customs and Border Patrol), mengajukan permohonan pada hari Kamis (10/1/2019) di hadapan seorang hakim di kota perbatasan Laredo. Dia dituduh membunuh Melissa Ramirez, Claudine Luera, Guiselda Alicia Cantu dan Janelle Ortiz.

Masing-masing ditembak di kepala dan dibiarkan di sepanjang jalan daerah pedesaan Laredo. Satu meninggal karena trauma benda tumpul setelah ditembak.

Ortiz ditangkap setelah seorang wanita kelima melarikan diri dan bertemu seorang polisi negara bagian, menurut pihak berwenang.

Baca juga: 

Jaksa Distrik Webb Isidro Alaniz mengatakan dia akan mengupayakan hukuman mati jika Ortiz dihukum karena pembunuhan berencana.

“Dia menganggap mereka sebagai sampah bumi, dan dia ingin bergerak maju dan membersihkan jalan dari orang-orang seperti ini,” kata Alaniz bulan lalu.

Alaniz berpendapat bahwa Ortiz mengatakan kepada penyelidik bahwa dia “melakukan pelayanan” dengan membunuh para perempuan itu dan bahwa dia menganggap penegakan hukum tidak cukup untuk mengekang prostitusi.

Joel Perez, pengacara Ortiz, mengatakan kliennya “seperti orang lainnya yang dituduh melakukan kejahatan, masih dianggap tidak bersalah”.

Sebelum ditangkapan, Alaniz berkata, Ortiz “melakukan kegiatan sehari-hari seperti semua orang di sini. Dia tampak normal dilihat dari sisi manapun”.

“Pada malam hari, dia menjadi orang lain, memburu komunitas orang-orang ini di jalanan San Bernardo dan dengan sewenang-wenang memutuskan siapa yang akan dia bunuh selanjutnya.”

Yanira Resendez, seorang juru bicara kantor Kejaksaan Distrik Kabupaten Webb, mengatakan ibu dari salah satu wanita yang mati itu berteriak pada Ortiz dalam bahasa Spanyol ketika ia dibawa keluar dari ruang sidang dengan diborgol. “Sialan kau, brengsek,” teriaknya.

Myanmar Tolak Pengajuan Banding 2 Wartawan Reuters Terkait Pembantaian di Rohingya

YANGON (Jurnalislam.com) – Pengadilan Myanmar pada hari Jumat (11/1/2019) menolak permohonan banding dua wartawan Reuters, yang dipenjara karena menyelidiki pembantaian  Muslim Rohingya oleh tentara Myanmar di negara bagian Rakhine barat.

Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28, dijatuhi hukuman tujuh tahun bulan September lalu di bawah undang-undang era kolonial karena dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi ketika mereka menyelidiki pembunuhan 10 pria Rohingya di Rakhine.

Pengacara para jurnalis telah mengajukan banding atas hukuman mereka ke Pengadilan Tinggi di Yangon pada bulan November.

Namun Hakim Aung Naing menolak banding tersebut pada hari Jumat, mengatakan hukuman penjara yang diberikan kepada wartawan tersebut adalah “hukuman yang sesuai”.

Stephen J. Adler, pemimpin redaksi Reuters, menyebut penolakan pengadilan tersebut sebagai “satu lagi ketidakadilan” terhadap kedua wartawan itu.

“Pelaporan bukanlah kejahatan, dan ketika Myanmar membenarkan kesalahan yang mengerikan ini, pers di Myanmar tidak bebas,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pengacara pembela Than Zaw Aung mengatakan para jurnalis masih dapat mengajukan banding ke Mahkamah Agung di ibukota politik Nay Pyi Taw dalam waktu dua bulan.

AS menyuarakan kekecewaan mendalam tentang keputusan itu, dengan mengatakan “putusan itu menimbulkan keraguan tidak hanya pada kebebasan berekspresi di Burma, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Burma terhadap aturan hukum.

“Kami akan terus mengadvokasi pembebasan yang adil bagi para jurnalis pemberani ini di semua tingkatan,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino dalam sebuah pernyataan. Burma adalah nama pilihan pemerintah AS untuk Myanmar.

Baca juga:

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat akan serangan sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh oleh pasukan pemerintah  Myanmar, menurut Ontario International Development Agency (OIDA).

Dalam sebuah laporan baru-baru ini, Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Tertahankan (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience), OIDA menaikkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962 (± 881) dibandingkan laporan Doctor Without Borders sebanyak 9.400.

Lebih dari 34.000 Rohingya terkena tembakan senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah warga Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, mutilasi, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu bisa dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Dua Tentara India Termasuk Seorang Perwira Tewas Dihantam Bom di Kashmir

SRINAGAR (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan di Jammu dan Kashmir menewaskan dua tentara India, termasuk seorang perwira utama, dan melukai dua lainnya pada hari Jumat (12/1/2019).

“Seorang perwira dan seorang prajurit tewas dan dua tentara lainnya terluka akibat ledakan IED [Improved Explosive Device] pada Garis Kontrol di sektor Nowshera di distrik Rajouri,” kata juru bicara Pertahanan Letnan Kolonel Devender Anand kepada media.

Garis Kontrol (The Line of Control-LoC) adalah perbatasan de facto yang membagi lembah Kashmir yang disengketakan antara Pakistan dan India.

Dalam insiden terpisah, kata Anand, seorang tentara penjaga pintu tewas akibat tembakan yang diduga dilakukan penembak jitu dari seberang perbatasan di sektor Sunderbani di distrik yang sama.

Jammu dan Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, sebagian dikuasai oleh India dan Pakistan namun diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dijajah oleh Cina.

Baca juga: 

Sejak mereka dipartisi pada tahun 1947, kedua negara telah berperang tiga kali – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – dua dari perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan juga sesekali terlibat pertempuran sejak 1984. Gencatan senjata diberlakukan pada tahun 2003.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan pemerintahan India untuk kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan telah tewas dalam konflik di kawasan itu sejak 1989.

Pasukan Zionis Tembak Wanita Palestina Dikepala Saat Aksi Protes di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan Israel telah menembak dan membunuh seorang wanita Palestina ketika ribuan orang unjuk rasa di sepanjang pagar pembatas Jalur Gaza, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Juru bicara kementerian kesehatan, Ashraf al-Qedra, mengatakan Amal al-Taramsi yang berusia 43 tahun ditembak di kepala pada hari Jumat (11/1/2019) di sebuah lokasi protes di timur Kota Gaza.

Al-Taramsi adalah wanita ketiga yang gugur dalam protes yang dimulai pada bulan Maret, dimana sedikitnya 241 warga Palestina telah terbunuh.

Sedikitnya 25 warga Palestina lainnya terluka oleh tembakan pasukan penjajah Israel pada hari Jumat, termasuk dua anggota media dan satu paramedis, menurut al-Qedra.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan sekitar 13.000 warga Palestina telah ambil bagian dalam demonstrasi.

“Para perusuh membakar ban dan melemparkan balok-balok, alat peledak dan granat ke arah pasukan (Israel) dan di pagar keamanan Jalur Gaza,” kata seorang jurubicara militer zionis.

Tentara penjajah kemudian menyerang dua posisi milik kelompok Palestina Hamas, yang memerintah Gaza, katanya. Satu sumber keamanan Hamas mengatakan tidak ada yang terluka.

Seorang wartawan AFP mengatakan beberapa ribu pengunjuk rasa berkumpul di timur Kota Gaza, dan terjadi bentrokan yang lebih kuat daripada dalam beberapa pekan terakhir.

Para pengunjuk rasa mencoba menghancurkan pagar kawat berduri di dekat perbatasan dan pasukan penjajah Israel merespons dengan melepaskan tembakan dan gas air mata.

Baca juga:

Palestina telah melakukan protes massal pekanan selama berbulan-bulan sebagai bagian dari aksi Great March of Return.

Para demonstran menyerukan pencabutan blokade Israel-Mesir yang diberlakukan di Gaza selama lebih dari satu dekade dan menyerukan hak untuk kembali ke rumah leluhur mereka di Israel, sebagaimana diatur dalam Resolusi PBB 194.

Sebagian besar warga Palestina yang terbunuh selama demonstrasi ditembak dalam bentrokan pekanan, tetapi yang lain terkena tembakan tank Israel atau serangan udara.

Dua tentara Israel telah terbunuh dalam periode yang sama, satu oleh penembak jitu Palestina dan lainnya selama operasi pasukan khusus yang gagal di Gaza.

Para mediator Mesir berada di Gaza pekan ini untuk bertemu dengan para pejabat dari Hamas dan faksi-faksi lain untuk menopang gencatan senjata yang mulai berlaku setelah pertukaran yang intens antara Hamas dan Israel pada November yang membawa mereka ke ambang perang.

Peserta mengatakan mereka membahas upaya yang dipimpin Kairo untuk mendamaikan Hamas dengan saingannya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan mengurangi ketegangan perbatasan.

Infografik – Kondisi Pengungsi Suriah di Lebanon

ARSAL (Jurnalislam.com) – Sekitar 60.000 warga Suriah sangat kesulitan untuk bertahan hidup di sebuah kamp pengungsi di Lebanon timur saat mereka menderita karena kurangnya bantuan kemanusiaan dan kondisi musim dingin yang sulit.

Kondisi musim dingin yang keras melumpuhkan kehidupan warga Suriah karena bantuan tidak dapat mencapai kota perbatasan Lebanon, Arsal, sejak mereka menjadi pengungsi setelah melarikan diri dari perang internal di negara mereka.

Populasi wilayah pegunungan, dekat perbatasan Suriah itu, adalah sekitar 40.000 sebelum perang saudara pecah di Suriah pada 2011, Walikota Arsal Basil al-Hajiri mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (11/1/2019).

Sambil menyatakan bahwa ada arus migrasi yang kuat ke daerah itu, al-Hajiri menambahkan bahwa jumlahnya pernah mencapai 120.000.

Wilayah itu sudah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mereka sendiri apalagi untuk menampung sejumlah besar pengungsi, kata al-Hajiri, menambahkan bahwa untuk alasan itu orang-orang mulai pergi dan sekarang sekitar 60.000 warga Suriah yang masih tertinggal di sana.

Dia mencatat bahwa warga Suriah tinggal di 126 kamp tenda yang didirikan di dalam dan di luar kota, dan mencoba untuk melanjutkan kehidupan mereka dengan bantuan kemanusiaan yang disediakan oleh PBB dan organisasi amal internasional.

Namun, ia mencatat, tidak ada cukup bantuan kemanusiaan baru-baru ini.

Al-Hajiri mengatakan mereka menemukan beberapa adegan yang menghancurkan ketika mengunjungi kamp-kamp setelah badai Norma menghantam warga Suriah di kamp-kamp.

“Kami melihat air yang bocor di dalam tenda […] Para pengungsi Suriah di kamp-kamp tenda bahkan tidak memiliki sarana untuk makanan dan pemanasan, yang merupakan kebutuhan dasar kehidupan,” katanya.

Dia mendesak seluruh dunia untuk membantu Suriah, mencatat bahwa Lebanon bukan satu-satunya negara yang memiliki tanggung jawab untuk merawat mereka.

“Kehidupan bahkan menjadi lebih sulit di musim dingin. Tenda yang digunakan di kamp selama 7 tahun tidak lagi berguna.

“Orang-orang kelelahan, putus asa, bahkan ada yang menginginkan kematian,” kata al-Hajiri.

LUBNAN-ARSAL

Dia menyoroti bahwa mereka membutuhkan lebih banyak dukungan daripada ketika krisis meletus di Suriah pada 2011, dan mengatakan bahwa ada penurunan dalam kegiatan yang dilakukan oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (The United Nations High Commissioner for Refugees-UNHCR).

Sejak awal krisis Suriah, al-Hajiri mengatakan bahwa Turki telah memimpin dalam hal bantuan kemanusiaan.

Dia menambahkan bahwa meskipun Turki memberikan kontribusi serius kepada organisasi bantuan, banyak pihak masih tidak menunjukkan sensitivitas padahal bantuan masih sangat dibutuhkan.

Dia juga meminta negara-negara Arab untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Suriah, yang harus meninggalkan rumah mereka dan melarikan diri.

Baca juga:

Al-Hajiri mengatakan tenda-tenda di kamp-kamp tidak cocok untuk kondisi musim dingin dan mereka tidak dapat menemukan bahan bakar untuk kompor pemanas, sehingga lebih sulit untuk menahan dingin yang ekstrem.

Tahun lalu, delapan warga Suriah kehilangan nyawa saat terjadi kebakaran ketika mereka mencoba menghangatkan diri dengan menggunakan kompor pemanas atau pemanas listrik.

Pada akhir 2017, UNHCR mengumumkan jumlah pengungsi Suriah di Lebanon adalah 997.000.

Para pejabat Libanon telah menyerukan kepada para pengungsi Suriah untuk secara sukarela kembali ke negara mereka sejak tahun lalu. Pihak berwenang mengatakan bahwa para pengungsi menghabiskan sumber daya yang langka di negara itu dan komunitas internasional juga gagal membantu para pengungsi.

Mutiara Hati: Bagaimanapun Juga, Dunia Itu Tidak Kekal

JURNALISLAM.COM – Hidup di zaman revolusi industri 4.0 memang dituntut untuk tetap bekerja dan berfikir agar tidak tersisih yang berakhir ditelan bumi. Manusia seolah tidak dapat lepas dari persaingan perebutan dunia bak gunung emas Freeport yang disukai oleh berbagai pihak seantero bumi.

Memang, diakui jika manusia tidak berusaha menggapai kesuksesan dunia, mungkin makhluk sosial ini akan kesulitan mengarungi samudera luas kehidupan bahkan berujung pada keputus-asaan. Ada yang stress, menjadi pelaku kejahatan, bahkan ada yang menjadi orang gila.

Kendati demikian, sobat milenial agaknya harus mendengar nasihat atau mutiara hati Imam Ibnu Qoyyim  al-Jauziyyah dalam bukunya Fawaidul Fawaid terkait kata “Dunia” ini. Jauh dari abad Gadget seperti sekarang ia sudah menulis “Bagaimanapun juga dunia itu tidak kekal”.

Dalam bukunya bagian Mutiara Hati, ia mengatakan dunia bagaikan Pekerja Seks Komersial yang tidak bisa dimiliki selamanya oleh seorang laki-laki. Ia membujuk setiap laki-laki hanya agar mereka bersikap baik kepadanya.

Maka itu, sobat jangan mau membandingkan dunia dengan akhirat yang tentunya tidak sebanding. Karena, dunia itu tidak kekal, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal.

Perjalanan mencari dunia tak ubahnya perjalanan di hutan belantara yang penuh dengan binatang buas. Berenang mencari dunia bagaikan berenang di sungai yang penuh dengan buaya.

Kesenangan duniawi adalah kesedihan yang sesungguhnya. Kok bisa? Karena kebahagiaan duniawi mendatangkan kepedihan, dan kesenangannya mendatangkan kesedihan.

Manusia yang selalu mengejar dunia ibarat seekor burung yang mengejar biji-bijian dengan instingnya, dan hanya mata akallah yang menyadari adanya jebakan, sementara hawa nafsu tidak dapat melihatnya.

“Pandangan ridha menutupi segala keburukan. Pandangan benci mengungkap segala kebusukan,” ucap salah seorang penya’ir.

Syahwat duniawi senantiasa terlihat indah dalam pandangan manusia. Namun orang-orang yang beriman kepada hal-hal ghaib akan menundukkan pandangannya terhadap keinginan duniawi, sedangkan orang-orang yang memperturutkan syahwatnya terjerumus ke dalam lembah penyesalan.

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Al-Baqarah: 5)

Itu untuk golongan pertama, sedang yang kedua, Allah berfirman:  “’Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!’” (QS. Al-Mursalaat: 46)

Tatkala orang-orang mendapatkan taufik mengetahui kadar kehidupan dunia yang begitu singkat, maka mereka pun memberangus hawa nafsunya demi kehidupan abadi di akhirat kelak. Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, samar-samar mereka mulai melihat tempat yang dituju.

Hal ini membuat jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Setiap kali kehidupan terasa pahit bagi mereka, seketika itu pula kehidupan terasa manis bila mereka teringat akan hari yang disebutkan dalam firman Allah.

“Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Al-Anbiyaa’: 103)

Begitulah sobat muda, mengejar dunia dan seluruh isinya memang baik, namun tetap seimbang dengan memikirkan tempat kembali, yakni akhirat.

Dalam syair diungkapkan:

Dan kafilah yang bertolak ketika malam menurunkan tirainya menutup jalan mendaki nan gelap gulita

Tekad mereka sama sekali tak berorientasi duniawi sehingga perjalanan mereka benar-benar karena kebulatan hati

Bintang syira (mizan) dan bintang kejora memperlihatkan kepada mereka arah yang dapat mereka ikuti

Ketika tekad telah tertancap di medan kesunggujan mereka benamkan tombak kedermawanan di dada orang dermawan.

Puting Beliung Menerjang Rancaekek Kabupaten Bandung, Puluhan Rumah Rusak

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Angin puting beliung menerjang wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (11/1/2019). Menurut penuturan warga, puting beliung disertai hujan deras terjadi dari pukul 15.00 – 15.30 WIB. 

“Dari jam 3 sampai setengah 4,” kata Fajar (32) warga Desa Rancabatok, Kecamatan Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung kepada Jurniscom, Jumat (11/1/2019).

Menurutnya, ada tiga desa yang diterjang puting beliung di Kecamatan Rancaekek Wetan, diantaranya Perumahan Rancaekek Permai, Desa Rancakendal, dan Desa Ciherang. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Akan tetapi sejumlah bangunan rusak parah.

“Iya yang paling parah itu di Perumahan Rancaekek Permai sama di Rancakendal,” ujar Fajar.

Fajar mengungkapkan suasana mencekam saat kejadian. Ia melihat pohon tumbang dan menimpa tiang listrik yang mengakibatkan aliran listrik mati.

“Tidak ada yang azan (ashar-red) karena listrik mati, soalnya tiang listriknya ketimpa pohon,” ungkapnya.

 

 

Semakin Otoriter

Penulis: M Rizal Fadillah (Ketua MAUNG Institute)

JURNISCOM – Perintah Presiden kepada Kapolri untuk menindak mereka yang mendeligitimasi KPU dinilai berlebihan dan menunjukkan sikap emosional. Semestinya jangan bersikap “over protective”. KPU disorot hal yang biasa, itupun karena ada sebab. Publik tak akan mengkritisi jika sesuatunya wajar dan tidak ada yang membuatnya ragu. Setiap langkah tentu dibaca, dianalisis, dan dimungkinkan adanya input untuk perbaikan.

Dugaan pasangan Jokowi Ma’ruf “diselamatkan” oleh KPU mestinya dinetralisisasi. Umumkan saja dengan lantang bahwa “Saya Jokowi sebagai kandidat siap untuk menyampaikan visi misi sendiri dan siap pula untuk berdebat tanpa diberitahu daftar pertanyaan terlebih dahulu”. Nah selesai. Tak akan ada kecurigaan apa apa lagi. Tapi dengan gaya “sradak sruduk” seperti ini, apalagi dengan perintah kepada polisi agar menindak pendelegitimasian KPU, maka muncul dugaan lebih kuat adanya “kerjasama” Jokowi dengan KPU. Disamping makin kental dugaan KPU dan Polisi menjadi alat kepanjangan tangan dari kepentingan pemenangan Jokowi.

Perlu dicermati bahasa “mendelegitimasi KPU” Apa makna dan bukti yang bisa dijadikan acuan ? Fakta yang ada adalah bahwa semua elemen masyarakat menginginkan adanya lembaga KPU yang kuat, mandiri, dan berwibawa. Mengharap menjadi penyelenggara pemilu yang baik sehingga pemilu dapat berlangsung jujur dan adil.
Mengkritisi tidak sama dengan mendelegitimasi. Bila disamakan maka yang terjadi adalah tafsir sepihak. Dengan asumsi telah terjadi “delegitimasi” maka kritik pasti akan dibungkam. Inilah sikap otoriter yang kita haramkan

Pembungkaman dengan memakai alat penegak hukum sama saja dengan merendahkan hukum itu sendiri. Hukum dijadikan subordinat dari kemauan politik. Model demikian bukanlah ciri Negara Hukum (Rechtstaat) tapi wujud dari Negara Kekuasaan (Machtstaat) dan hal ini jelas bertentangan dan menyimpang dari asas yang dianut oleh Konstitusi Negara.

Sikap otoriter hakekatnya menutupi kelemahan diri. Dampak dari jiwa yang penuh dengan ketakutan. Takut kesalahan dibully, takut gagal melewati fase debat, takut mitra tak menunjang, ujungnya ya itu takut kalah dalam pertandingan. Sangat takut kekuasaan jatuh. Petahana memiliki beban psikologis yang lebih berat. otoritarianisme adalah musuh abadi rakyat. Semakin otoriter semakin terbuka dan tergalang perlawanan rakyat yang lebih kuat. Cepat atau lambat.