Mutiara Hati: Bagaimanapun Juga, Dunia Itu Tidak Kekal

Mutiara Hati: Bagaimanapun Juga, Dunia Itu Tidak Kekal

JURNALISLAM.COM – Hidup di zaman revolusi industri 4.0 memang dituntut untuk tetap bekerja dan berfikir agar tidak tersisih yang berakhir ditelan bumi. Manusia seolah tidak dapat lepas dari persaingan perebutan dunia bak gunung emas Freeport yang disukai oleh berbagai pihak seantero bumi.

Memang, diakui jika manusia tidak berusaha menggapai kesuksesan dunia, mungkin makhluk sosial ini akan kesulitan mengarungi samudera luas kehidupan bahkan berujung pada keputus-asaan. Ada yang stress, menjadi pelaku kejahatan, bahkan ada yang menjadi orang gila.

Kendati demikian, sobat milenial agaknya harus mendengar nasihat atau mutiara hati Imam Ibnu Qoyyim  al-Jauziyyah dalam bukunya Fawaidul Fawaid terkait kata “Dunia” ini. Jauh dari abad Gadget seperti sekarang ia sudah menulis “Bagaimanapun juga dunia itu tidak kekal”.

Dalam bukunya bagian Mutiara Hati, ia mengatakan dunia bagaikan Pekerja Seks Komersial yang tidak bisa dimiliki selamanya oleh seorang laki-laki. Ia membujuk setiap laki-laki hanya agar mereka bersikap baik kepadanya.

Maka itu, sobat jangan mau membandingkan dunia dengan akhirat yang tentunya tidak sebanding. Karena, dunia itu tidak kekal, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal.

Perjalanan mencari dunia tak ubahnya perjalanan di hutan belantara yang penuh dengan binatang buas. Berenang mencari dunia bagaikan berenang di sungai yang penuh dengan buaya.

Kesenangan duniawi adalah kesedihan yang sesungguhnya. Kok bisa? Karena kebahagiaan duniawi mendatangkan kepedihan, dan kesenangannya mendatangkan kesedihan.

Manusia yang selalu mengejar dunia ibarat seekor burung yang mengejar biji-bijian dengan instingnya, dan hanya mata akallah yang menyadari adanya jebakan, sementara hawa nafsu tidak dapat melihatnya.

“Pandangan ridha menutupi segala keburukan. Pandangan benci mengungkap segala kebusukan,” ucap salah seorang penya’ir.

Syahwat duniawi senantiasa terlihat indah dalam pandangan manusia. Namun orang-orang yang beriman kepada hal-hal ghaib akan menundukkan pandangannya terhadap keinginan duniawi, sedangkan orang-orang yang memperturutkan syahwatnya terjerumus ke dalam lembah penyesalan.

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Al-Baqarah: 5)

Itu untuk golongan pertama, sedang yang kedua, Allah berfirman:  “’Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!’” (QS. Al-Mursalaat: 46)

Tatkala orang-orang mendapatkan taufik mengetahui kadar kehidupan dunia yang begitu singkat, maka mereka pun memberangus hawa nafsunya demi kehidupan abadi di akhirat kelak. Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, samar-samar mereka mulai melihat tempat yang dituju.

Hal ini membuat jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Setiap kali kehidupan terasa pahit bagi mereka, seketika itu pula kehidupan terasa manis bila mereka teringat akan hari yang disebutkan dalam firman Allah.

“Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Al-Anbiyaa’: 103)

Begitulah sobat muda, mengejar dunia dan seluruh isinya memang baik, namun tetap seimbang dengan memikirkan tempat kembali, yakni akhirat.

Dalam syair diungkapkan:

Dan kafilah yang bertolak ketika malam menurunkan tirainya menutup jalan mendaki nan gelap gulita

Tekad mereka sama sekali tak berorientasi duniawi sehingga perjalanan mereka benar-benar karena kebulatan hati

Bintang syira (mizan) dan bintang kejora memperlihatkan kepada mereka arah yang dapat mereka ikuti

Ketika tekad telah tertancap di medan kesunggujan mereka benamkan tombak kedermawanan di dada orang dermawan.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.