Senin, 19 Syawal 1447 / 06 April 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Pentagon akan Persenjatai Puluhan Ribu Pasukan Baru di Suriah, Ini Perinciannya

18 Apr 2018 07:24:29
Pentagon akan Persenjatai Puluhan Ribu Pasukan Baru di Suriah, Ini Perinciannya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Pentagon berusaha mempersenjatai 65.000 anggota “sebagai pasukan binaan AS” di Suriah, termasuk kelompok bersenjata PYD, sesuai dengan proposal anggaran tahun fiskal 2019-nya.

Dalam proposal yang diajukan ke Kongres AS untuk disetujui pada bulan Februari, Pentagon meminta $ 300 juta untuk mempersenjatai dan melengkapi mitranya di Suriah dalam perang Suriah.

$ 250 juta lainnya juga diminta untuk membangun “keamanan perbatasan” di Suriah.

Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

Laporan lengkap 2019 Overseas Contingency Operations (OCO) meminta Counter-IS Train and Equip Fund (CTEF) – yang diperoleh oleh Anadolu Agency pada hari Senin (16/4/2018) menunjukkan kesediaan pemerintah AS untuk mempersenjatai dan melengkapi 30.000 pasukan dalam melakukan misi tempur yang sedang berlangsung di Lembah Sungai Eufrat Tengah, dan 35.000 “Pasukan Keamanan Internal” di daerah-daerah yang dibebaskan di seluruh negeri.

“Untuk mencapai tujuan militer AS, generasi kekuatan mitra di Suriah akan terdiri dari kekuatan lokal yang demografis representatif, tepat diperiksa, dilatih, dan dilengkapi untuk memastikan lingkungan yang aman dan mampu bertempur,” katanya dalam proposal anggaran.

Menurut proposal itu, Pentagon berencana untuk mengalokasikan $ 162.6 juta dari $ 300 juta untuk senjata, peralatan, dan kendaraan, $ 8 juta untuk dukungan kehidupan dasar yang menyediakan kebutuhan dasar kemanusiaan, $ 28 juta untuk biaya transportasi dan persiapan, dan $ 101,5 juta untuk dukungan operasional.

Pentagon Bantah Pernyataan Trump Tarik Pasukan Amerika dari Suriah

Di antara senjata yang sedang direncanakan untuk dikirim termasuk 25.000 senapan otomatis AK-47, 1.500 senapan mesin ringan, 500 senapan mesin berat, 400 peluncur roket RPG-7, 95 senapan sniper, 20 mortir 60mm, dan 60 mortir 120mm.

Bersama dengan total biaya $ 47 juta, Pentagon juga meminta tambahan $ 24 juta untuk amunisi senjata-senjata ini.

AS telah mendukung PYD, yang merupakan cabang Suriah dari organisasi teror PKK yang telah melancarkan operasi teror lebih dari 30 tahun terhadap negara Turki yang telah mengakibatkan puluhan ribu kematian.

Dukungan Amerika untuk kelompok teror tersebut telah lama mengusik Ankara karena Washington memandang SDF yang dipimpin PYD sebagai “mitra terpercaya” dalam pertempurannya dan terus memberikan senjata dan peralatan walaupun ditentang kuat oleh Turki.

Kategori : Internasional

Tags : AS Konflik Suriah PYD

Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

18 Apr 2018 07:12:22
Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi sedang mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang pengiriman pasukan darat ke Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional yang lebih luas, kata menteri luar negeri kerajaan itu.

Dalam komentarnya pada hari Selasa (17/4/2018), Adel al-Jubeir mengatakan tawaran penyebaran pasukan itu “bukanlah hal baru,” menambahkan bahwa Riyadh sebelumnya telah mengusulkan gagasan itu kepada mantan Presiden AS Barack Obama.

“Kami sedang berdiskusi dengan AS, dan telah melakukan pembicaraan tentang pengiriman pasukan ke Suriah sejak awal krisis Suriah,” kata al-Jubeir kepada wartawan di Riyadh selama konferensi pers bersama Antonio Guterres, kepala PBB.

“Kami [sebelumnya] membuat proposal kepada pemerintahan Obama bahwa jika AS mengirim pasukan … maka Arab Saudi akan mempertimbangkan bersama dengan negara lain mengirimkan pasukan sebagai bagian dari kontingen ini.”

Suruh AS Kembali ke Suriah, Trump ke Salman: Saudi Harus Bayar dulu Biaya Militer AS ke Suriah

Kerajaan mengumumkan kesiapannya untuk menurunkan pasukan darat pada tahun 2016 untuk melawan kelompok Islamic State (IS) di Suriah.

Walaupun angkatan udara Saudi ikut serta dalam serangan udara untuk mengalahkan IS sejak awal tahun 2014, kerajaan Teluk tersebut berhenti menurunkan pasukan darat mereka sepenuhnya.

Berita itu muncul sehari setelah Wall Street Journal melaporkan Presiden AS Donald Trump sedang berupaya merakit kekuatan Arab yang akan mencakup Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menggantikan kehadiran militer AS di Suriah.

Pasukan, yang diharapkan oleh Penasihat Keamanan Nasional Trump yang baru, John Bolton, juga mencakup Mesir, akan bertanggung jawab untuk menstabilkan bagian timur laut Suriah, menurut laporan itu.

Patty Culhane dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC, mencatat bahwa pertahanan AS “akan sangat berhati-hati” menghadapi rencana Saudi.

“Ada kekhawatiran besar di antara kepemimpinan di dalam militer [AS] tentang kemampuan pasukan Saudi – lihat saja perang di Yaman dimana AS telah membantu mereka bertarung dengan intelijen dan pengisian bahan bakar,” kata Culhane.

“Terjadi bencana kemanusiaan, sejumlah sekolah dan rumah sakit diserang, menimbulkan keprihatinan besar di kalangan aktivis hak asasi manusia.”

Pentagon Anggarkan Dana $ 850 Juta Untuk Milisi PYD Tahun 2019 (info grafik)

Pertanyaan kunci lainnya adalah apa yang akan terjadi pada pasukan AS di Suriah dan apakah mereka diharapkan untuk tetap sebagai bagian dari misi yang diperluas, tambah Culhane.

“Belum sepenuhnya jelas bahwa Trump akan baik-baik saja dengan itu,” tambahnya.

AS memiliki sekitar 2.000 tentara yang ditempatkan di dalam wilayah Suriah, menurut Pentagon.

Kategori : Internasional

Tags : arab saudi AS Konflik Suriah

Tim Penyelidik Senjata Kimia Internasional Tiba di Douma

18 Apr 2018 07:03:41
Tim Penyelidik Senjata Kimia Internasional Tiba di Douma

DOUMA (Jurnalislam.com) – Inspektur senjata kimia telah memasuki kota Suriah Douma untuk menyelidiki dugaan serangan gas beracun, menurut kantor berita SANA yang dikelola rezim.

Delegasi dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) memasuki kota Douma yang terletak dekat ibu kota, Damaskus, bersama dengan menteri kesehatan Suriah pada hari Selasa (17/4/2018), sumber yang dekat dengan rezim mengatakan kepada kantor berita Jerman, DPA.

“Apa yang kami pahami adalah mereka akan memeriksa dan menyelidiki lokasi serangan senjata kimia itu,” kata Zeina Khodr dari Al Jazeera, melaporkan dari Beirut di negara tetangga Libanon.

“Mereka akan mengambil sampel dan berbicara dengan saksi, dokter dan orang-orang yang ada di sana,” tambahnya.

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

Serangan gas beracun yang dilaporkan pada Douma pada 7 April direspon dengan serangan rudal bersama oleh Amerika Serikat, Perancis dan Inggris terhadap instalasi militer Suriah.

Serangan koalisi hari Sabtu itu diluncurkan sebelum tim pencari fakta dari OPCW dapat memasuki Douma dan memulai kerja lapangannya.

Sebelumnya pada hari Selasa, misi tersebut telah dipertanyakan.

Selama pertemuan darurat pada hari Senin di markas OPCW di Den Haag, para diplomat Barat menuduh pemerintah Suriah dan sekutu Rusianya memblokir tim, yang tiba di Damaskus, Sabtu.

Rusia membantah klaim tersebut, mengatakan wilayah Douma masih perlu dibersihkan dan mengatakan inspektur pengawas akan masuk pada hari Rabu.

Namun, Prancis dan AS tampaknya mempertanyakan tujuan dari misi semacam itu, memperingatkan bahwa bukti yang memberatkan kemungkinan telah dihapus.

“Sangat mungkin bukti dan elemen-elemen penting hilang dari lokasi, yang sepenuhnya dikendalikan oleh tentara Rusia dan Suriah,” kata kementerian luar negeri Prancis.

Ken Ward, Duta Besar AS untuk OPCW, mengklaim pada hari Senin bahwa Rusia telah mengunjungi situs itu dan “mungkin telah merusaknya.”

Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

Pasukan Suriah dan Rusia menguasai Douma pada hari Sabtu ketika kelompok oposisi anti Assad mundur dari kota, beberapa jam setelah berakhirnya serangan negara-negara Barat.

Reporter Al Jazeera Khodr mengatakan bahkan jika OPCW menemukan bahwa serangan senjata kimia terjadi, tidak akan ada serangan hukuman baru.

“Pada akhirnya, kami tidak mengharapkan adanya pembalasan karena AS dan sekutunya sudah melakukan serangan balasan,” katanya.

“Mereka tidak menunggu temuan OPCW, dan mereka menegaskan bahwa mereka akan menyerang lagi jika serangan senjata kimia lainnya terjadi.”

Kategori : Internasional

Tags : douma Konflik Suriah senjata kimia

MUI Akan Lakukan Standarisasi Dai

18 Apr 2018 06:59:24
MUI Akan Lakukan Standarisasi Dai

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melakukan standarisasi terhadap para juru dakwah (dai). Dalam pelaksanaannya, MUI akan bekerjasama dengan beberapa pihak termasuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Agama.

“Kita akan bikin standarisasi dai-dai yang direkomendasikan oleh MUI. Dan dai yang di media-media juga akan ada standarisasi. Maka kita kerjasama dengan KPI dengan Kementerian Agama,” kata Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis di Jakarta, Selasa (17/04/2018) dilansir Kiblat.net

Menurutnya, standarisasi ini bertingkat pada dai internasional, nasional, provinsi, sampai pada kabupaten/kota. Cholil menjelaskan standar dai internasional bukan hanya dai yang mampu pergi ke luar negeri.

“Dai tersebut harus tahu gerakan-gerakan Islam internasional, bagaimana isu-isu keagamaan internasional, isu perjuangan internasional, harus paham. Kalau gak paham, mereka gak bisa direkomendasikan menjadi dai internasional,” paparnya.

Cholil menjelaskan, MUI akan melatih para trainer sebelum melaksanakan pelatihan dan uji kompetensi dai.

“Tentu akan dilakukan oleh MUI secara benjenjang. Karena MUI adalah lembaga besar tempat bernaungnya seluruh organisasi Islam,” tambah Cholil dalam pesan singkat kepada Jurnalislam.com, Rabu (18/4/2018).

Ia juga membantah jika standarisasi ini untuk melarang orang-orang yang ingin berdakwah. Menurutnya, meskipun ada standarisasi, pilihan dai yang diundang untuk ceramah tetap di tangan umat Islam.

“Kami gak melarang. Misalnya acara nasional tapi ngundangnya dari yang kelas kampung, kami gak masalah. Kami hanya memberikan rekomendasi pilihannya kepada umat,” terangnya.

Selain itu, Cholil juga mengatakan bahwa standarisasi ini berbeda dengan sertifikasi dai. Jika sertifikasi, kata dia, lebih condong kepada apakah dai ini boleh berdakwah atau tidak.

Kategori : Nasional

Tags : cholil nafis mui standarisasi dai

Fahri Sebut Petahana Tak Penuhi Janjinya Bisa Kena Delik Kebohongan Publik

17 Apr 2018 13:17:54
Fahri Sebut Petahana Tak Penuhi Janjinya Bisa Kena Delik Kebohongan Publik

SOLO (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali menggelar ‘Netizen #NongkrongbarengFahri’ di Wedangan Omah Kayu Solo, Ahad (15/4/2018). Acara ini juga dihadiri politisi Partai Gerindra Fadli Zon.

Dalam helatan ini, Fahri membahas ihwal masalah kebangsaan seperti pilkada 2019, presidential treshold hingga politik Islam di Indonesia. Tentang pilkada 2019 misalnya, Fahri menyoroti kandidat nanti, khususnya petahana (incumbent) harus bisa merealisasikan janjinya dulu.

“Lebih baik untuk harus segera menjawab pertanyaan rakyat, incumbent itu me jawab pertanyaan seperti ini, “dulu anda janji begini apa yang sudah direalisasikan,” katanya di Solo, Ahad (15/4/2018).

Jangan sampai, kata Fahri, calon pemimpin malah merealisasikan apa yang dulu tidak dijanjikan.

“Karena janji itu sumpah juga kan artinya, dan dalam UUD tentang delik kebohongan publik, politisi yang berjanji dan tak memenuhi janjinya itu bisa kena delik kebohongan publik,” pungkasnya.

Kategori : Nasional

Tags : 2019 dpr fahri hamzah petahana pilkada Politik presiden

Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

17 Apr 2018 08:55:23
Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

LONDON (Jurnalislam.com) – Intervensi militer Inggris ke Suriah jelas adalah “demi kepentingan nasional kami untuk mencegah penggunaan lebih lanjut senjata kimia di Suriah,” Perdana Menteri Theresa May mengatakan pada hari Senin (16/4/2018), Anadolu Agency melaporkan.

May mengatakan, Inggris “yakin dalam penilaian kami sendiri bahwa rezim Suriah sangat mungkin bertanggung jawab atas serangan ini dan bahwa pola perilaku yang terus menerus berarti bahwa sangat mungkin untuk terus menggunakan senjata kimia.”

Pernyataannya muncul ketika dia memberi penjelasan kepada anggota parlemen di House of Commons tentang serangan udara akhir pekan yang dilakukan bersama dengan AS dan Prancis, yang menargetkan fasilitas senjata kimia rezim Assad.

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

Perdana Menteri Theresa May

“Karena kami tidak dapat mengizinkan penggunaan senjata kimia berubah menjadi hal yang normal – baik di dalam Suriah, di jalan-jalan AS atau di tempat lain,” kata May.

“Bayangan penderitaan ini benar-benar menghantui.

“Keluarga yang tidak bersalah – mencari perlindungan di bunker bawah tanah – ditemukan mati dengan busa di mulut mereka, luka bakar di mata mereka dan tubuh mereka dikelilingi oleh bau seperti klorin.

“Anak-anak terengah-engah karena zat kimia mencekik paru-paru mereka.

“Fakta bahwa kekejaman seperti itu dapat terjadi di dunia kita saat ini adalah noda hitam pada kemanusiaan kita.”

Dapat digarisbawahi bahwa “sejumlah besar informasi – termasuk intelijen – mengindikasikan rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan terbaru ini.”

Dia berkata: “Akun sumber terbuka menyatakan bahwa bom barel digunakan untuk mengirim bahan kimia. Bom Barel biasanya dikirimkan dengan helikopter. Berbagai laporan sumber terbuka dan intelijen menunjukkan bahwa helikopter reaktor beroperasi di atas Douma pada malam 7 April, sesaat sebelum laporan serangan kimia muncul di media sosial. Dan pejabat militer Suriah mengoordinasi apa yang tampaknya menjadi penggunaan senjata klorin.”

“Tidak ada kelompok lain yang bisa melakukan serangan ini,” tambahnya.

Perdana menteri juga menunjukkan bahwa laporan tentang serangan senjata kimia terbaru di Douma “konsisten dengan serangan rezim sebelumnya. Ini termasuk serangan pada 21 Agustus 2013 di mana lebih dari 800 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam serangan kimia yang juga terjadi di Ghouta.”

“Berdasarkan pola perilaku terus-menerus oleh rezim dan analisis kumulatif insiden khusus, kami menilai sangat mungkin bahwa rezim Suriah terus menggunakan senjata kimia sedikitnya empat kali sejak serangan di Khan Sheikhoun. Dan kami menilai bahwa mereka akan terus melakukannya,” katanya.

Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

May mengatakan pemerintah harus bertindak segera dan berhak bertindak tanpa berkonsultasi dengan parlemen.

“Kita tidak bisa kembali ke dunia di mana penggunaan senjata kimia dianggap normal,” tambahnya.

Sementara itu, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn, mengkritik May karena tidak mencari persetujuan parlemen sebelum bergabung dengan serangan udara terhadap rezim Assad.

“Pernyataan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa perdana menteri bertanggung jawab kepada parlemen ini, bukan untuk keinginan presiden AS,” kata Corbyn.

“Kami jelas membutuhkan Undang-undang Kekuatan Perang di negara ini untuk mengubah konvensi yang kini rusak menjadi kewajiban hukum,” katanya, menambahkan: “Tindakan itu secara hukum dipertanyakan.”

Kategori : Internasional

Tags : douma inggris Konflik Suriah senjata kimia

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

17 Apr 2018 08:25:21
OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

LONDON (Jurnalislam.com) – Lebih dari 390 laporan penggunaan senjata kimia di Suriah telah dicatat oleh Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) sejak 2014, kata utusan Inggris untuk OPCW, Senin (16/4/2018).

“Rezim Suriah memiliki sejarah mengerikan atas penggunaan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” kata Peter Wilson, menambahkan bahwa penggunaan senjata kimia “telah menjadi senjata perang yang terlalu biasa dalam perang di Suriah,” lansir Anadolu Agency.

Pernyataan itu muncul selama Rapat Dewan Eksekutif OPCW setelah serangan udara gabungan pada akhir pekan oleh AS, Inggris, dan Perancis terhadap fasilitas senjata kimia rezim Assad di Suriah.

Pengawas Senjata Kimia Dunia Terjunkan Tim Pencari Fakta ke Douma

Serangan dilakukan menyusul rezim Assad yang diduga melakukan serangan kimia di Douma, Suriah yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.

Wilson mengatakan bahwa Inggris telah mendapat kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kekejaman itu.

“Sejumlah besar informasi, termasuk intelijen, menunjukkan rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan terbaru ini,” katanya.

“Akun sumber terbuka menuduh bom barel digunakan untuk mengirim bahan kimia, dan helikopter rezim terlihat di atas Douma pada malam 7 April,” tambahnya.

Wilson mengatakan “intelijen yang dapat diandalkan menunjukkan bahwa pejabat militer Suriah mengoordinasi apa yang tampaknya menjadi penggunaan klorin di Douma pada 7 April.”

“Tidak ada kelompok lain yang bisa melakukan serangan ini.”

Dia menggarisbawahi bahwa dunia telah melihat “gambar mengerikan laki-laki, perempuan dan anak-anak tergeletak mati dengan busa di mulut mereka” dan “tangan pertama akun LSM dan pekerja bantuan menemui luka bakar rinci di mata, mati lemas dan perubahan warna kulit, dengan bau seperti klorin yang mengelilingi korban.”

Gedung Putih: Amerika Semakin Yakin Rezim Suriah Gunakan Senjata Kimia

“Organisasi Kesehatan Dunia (The World Health Organization-WHO) telah melaporkan bahwa 500 pasien, yang dilihat oleh mitranya di Suriah, memiliki gejala yang konsisten dengan paparan senjata kimia,” tambahnya.

Menunjuk ke beberapa bukti yang diketahui oleh dewan OPCW, Wilson mengatakan: “OPCW telah mencatat lebih dari 390 laporan penggunaan senjata kimia di Suriah sejak misi pencarian fakta didirikan pada 2014.”

Dia mengatakan: “Mekanisme Investigasi Bersama OPCW-PBB telah menemukan Suriah bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia termasuk klorin dan sarin pada empat kesempatan antara 2014-2017.

“Suriah belum memberikan laporan lengkap tentang program senjata kimianya kepada OPCW. Direktur Jenderal melaporkan bulan lalu bahwa Suriah tidak memberikan bukti yang kredibel untuk menjelaskan 22 masalah serius. Ini termasuk jumlah senjata kimia yang dimiliki Suriah, jenis senjata, dan amunisi yang digunakan untuk pengiriman.

“Berdasarkan pola perilaku yang gigih, dan analisis kumulatif insiden khusus, kami menilai bahwa rezim Suriah sangat mungkin masih menggunakan senjata kimia sejak serangan terhadap Khan Sheikhoun setahun yang lalu,” Wilson menambahkan.

Utusan Inggris itu juga menunjukkan bahwa “Rusia telah memveto enam resolusi terkait senjata kimia sejak awal 2017, termasuk veto pekan lalu atas rancangan resolusi yang akan membentuk penyelidikan independen terhadap serangan terhadap Douma.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Wilson juga mengecam klaim Rusia bahwa serangan terhadap Douma direkayasa atau dipalsukan dan bahkan bahwa Inggris berada di balik serangan itu. “Itu menggelikan,” katanya.

“Dewan ini mendengar klaim palsu serupa dari Rusia dan dari Suriah tahun lalu. Mereka mempertanyakan kredibilitas bukti serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun. ”

“Aktivitas Rusia telah membuat tindakan lanjutan yang disponsori oleh PBB tidak dapat ditunda,” katanya.

Wilson menekankan bahwa “penggunaan senjata kimia Suriah, yang telah memperparah penderitaan manusia di Suriah, adalah kejahatan serius yang menjadi perhatian internasional.”

“Ini adalah pelanggaran larangan hukum internasional tentang penggunaan senjata kimia dan merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.

Wilson mengatakan menyerang fasilitas senjata kimia rezim Suriah “akan secara signifikan menurunkan kemampuan rezim Suriah untuk meneliti, mengembangkan dan menyebarkan senjata kimia.”

Dia menambahkan: “Kurangnya pertanggungjawaban atas serangan sarin di Khan Sheikhoun hanya meyakinkan rezim Suriah bahwa komunitas internasional tidak serius dalam komitmennya untuk menegakkan norma terhadap penggunaan senjata kimia, dan meminta pertanggungjawaban para pelaku.”

“Ini memalukan.”

“Kegagalan bertindak untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku hanya akan mempertaruhkan lebih banyak penggunaan senjata kimia, di Suriah dan sekitarnya,” kata Wilson.

Kategori : Internasional

Tags : Konflik Suriah senjata kimia

Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin

17 Apr 2018 08:02:57
Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin

IDLIB (Jurnalislam.com) – Warga dari distrik Ghouta Timur Suriah, yang masih dikepung oleh rezim Syiah Assad dan sekutu-sekutunya, terus melarikan diri ke bagian Suriah utara yang dikuasai faksi-faksi jhad dan oposisi moderat dengan harapan menemukan keamanan.

Sejak proses evakuasi dimulai, lebih dari 56.000 orang telah meninggalkan pinggiran Damaskus yang terkepung.

Pengungsi awalnya dikirim ke kamp-kamp di Idlib, di pedesaan barat Aleppo, dan di distrik Al-Bab, yang terletak di dalam area bekas operasi Operation Euphrates Shield Turki.

Karena arus pengungsi baru-baru ini, kapasitas kamp-kamp ini sekarang penuh.

Berbicara kepada Anadolu Agency di kamp Abrar Idlib, Abu Mohamed mengatakan rezim Assad telah mengizinkan warga Ghouta Timur untuk meninggalkan distrik dengan syarat mereka meninggalkan semua barang-barang pribadi mereka di tempatnya.

Konvoi Ke-22 dari Ghouta Timur Tiba di Al-Bab

“Kami tidak memiliki bantal atau selimut; kami tidak punya apa-apa,” keluhnya, menambahkan bahwa LSM bantuan belum mencapai banyak kamp sementara.

Warga Ghouta Timur lainnya, Abu Ahmed, mengatakan dia dan teman-temannya – meskipun menghadapi situasi kemanusiaan yang sulit – merasa jauh lebih aman di Idlib.

“Harga di sini tidak buruk, walaupun kami tidak punya uang. Dibandingkan disana tidak ada kehidupan di Ghouta Timur; disini kami memiliki roti jelai untuk dimakan,” katanya.

Abu Rashid, seorang penduduk distrik lain, mengatakan bahwa dia dan keluarganya mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

“Kami tidak meminta banyak, hanya lingkungan yang layak huni. Kami membutuhkan listrik,” katanya kepada Anadolu Agency.

Turki Dirikan Tempat Penampungan Pengungsi Ghouta Timur di Idlib

Mohamed Tikko, yang mengawasi salah satu kamp sementara di Idlib, mengatakan penduduk Ghouta Timur diberi prioritas dalam hal akomodasi, dengan banyak yang ditempatkan di masjid, rumah dan sekolah setempat.

“Sumber daya sangat terbatas,” katanya. “Beberapa LSM menawarkan untuk membayar sewa keluarga pengungsi selama dua bulan.”

“Tetapi orang-orang ini telah meninggalkan semua barang-barang mereka di belakang – status keuangan mereka sangat buruk,” tambahnya. “Apa yang akan mereka lakukan setelah dua bulan?”

Kategori : Internasional

Tags : douma Ghouta Timur Idlib Konflik Suriah

Rusia Tidak akan Tunda Reaksi dari Aksi Amerika

17 Apr 2018 07:43:38
Rusia Tidak akan Tunda Reaksi dari Aksi Amerika

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan Moskow tidak akan menunda tanggapannya terhadap sanksi baru AS, menurut kantor berita negara Rusia, RIA.

Komentar Ryabkov pada hari Senin (16/4/2018) muncul sebagai tanggapan terhadap pernyataan yang dibuat oleh Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, yang mengatakan pada hari Ahad bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi ekonomi baru pada Rusia karena dukungan mereka terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Ryabkov mengatakan bahwa majelis rendah parlemen Rusia sedang mempertimbangkan undang-undang yang akan memberi Kremlin kekuatan untuk membatasi impor AS, RIA melaporkan, lansir Aljazeera.

Wakil menteri luar negeri juga mengatakan politisi Rusia membahas “penyalahgunaan” AS terhadap status dolar sebagai mata uang internasional, RIA mengutip pernyataan Ryabkov.

Pasukan rezim Nushairiyah Suriah dilaporkan menggunakan senjata kimia pada Douma yang dikuasai oposisi pada 7 April – sebuah laporan yang dibantah Assad.

AS, Prancis dan Inggris menanggapi serangan yang dicurigai tersebut dengan meluncurkan rudal pada hari Sabtu yang menurut mereka menargetkan fasilitas produksi senjata kimia Suriah. Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam serangan yang dipimpin AS sebagai “tindakan agresi” yang hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan di Suriah.

Inilah 3 Tujuan Pokok Pasukan Amerika di Suriah Sebelum Pulang ke AS

Haley mengatakan kepada media AS bahwa sanksi atas Rusia bisa terjadi secepatnya hari Senin.

“Anda akan melihat bahwa sanksi bagi Rusia akan turun,” kata Haley.

AS telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas aneksasi Crimea dan perannya dalam konflik Ukraina, serta dugaan ikut campur dalam pemilihan presiden 2016.

Administrasi Presiden AS Donald Trump terperosok dalam kontroversi seputar penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap dugaan campur tangan Rusia dan kemungkinan kolusi antara kampanye Trump dan Kremlin.

Pada hari Jumat, keluar pernyataan di pengadilan bahwa pengacara lama Trump Michael Cohen telah berada di bawah investigasi kriminal selama berbulan-bulan.

Mantan Direktur FBI James Comey, yang dipecat oleh Trump, juga membandingkan pemimpin AS itu dengan seorang bos mafia dan mengatakan dia “tidak layak secara moral” menjadi presiden hingga memicu kontroversi.

Kategori : Internasional

Tags : AS Rusia senjata kimia

Peduli HAM, Pemuda Swedia Ini Berjalan Kaki ke Palestina

16 Apr 2018 23:23:22
Peduli HAM, Pemuda Swedia Ini Berjalan Kaki ke Palestina

DUZCE (Jurnalislam.com) – Seorang aktivis HAM asal Swedia, Benjamin Ladra (25) yang melakukan aksi jalan kaki dari Swedia ke Palestina tiba di barat laut provinsi Duzce, Turki, pada Ahad (14/4/2018. Perjalanan yang akan menempuh jarak sejauh 5.000 km itu ia lakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina.

Ladraa telah melintasi Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria, hingga mencapai Istanbul pekan lalu. Ladraa bertekad untuk melewati Suriah dan Lebanon demi sampai ke Palestina.

“Jika saya tidak bisa masuk ke Palestina, saya akan mencoba memberi tahu media,” kata dia dilansir dari Anadolu Agency.

Ladraa mengatakan bahwa dia sangat tersentuh saat berkunjung ke Palestina selama tiga minggu pada April tahun lalu, sehingga dia memutuskan untuk “memberi tahu dunia mengenai situasi di Palestina”.

“Saya terkejut dengan apa yang saya lihat di sana. Di sepanjang jalan, tentara membawa senapan mesin M-60. Saya ingin melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina,” ungkap Ladraa.

“Masalah Palestina bukanlah masalah agama. Masalah utamanya adalah hak asasi manusia. Bukan hanya warga Gaza, tetapi semua orang Palestina berada di bawah tekanan dan mereka semua menderita. Itulah mengapa saya berusaha menarik perhatian dunia terhadap penderitaan warga Palestina,” tambah dia.

Selama melakukan perjalanan hampir delapan bulan, Ladraa berusaha memberitahukan pada orang-orang soal pendudukan Palestina dan mengilhami lebih banyak orang untuk berkampanye demi perubahan. Ladraa memulai perjalanan 5.000 km dari Gothenburg, Swedia, pada 8 Agustus tahun lalu.

Dia menerbitkan foto-foto perjalanannya di akun Facebook dan Instagram pribadinya dengan tanda pagar #WalkToPalestine.

Ladraa diperkirakan akan tiba di Ankara pekan depan, dan akan menyelesaikan perjalanannya pada Juni atau Juli.

Kategori : Internasional

Tags : benjamin ladraa jalan kaki swedia-palestina WalkToPalestine

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Waspada di Balik Citra Saleh: Ketika Topeng Kebaikan Menyembunyikan Kejahatan

Waspada di Balik Citra Saleh: Ketika Topeng Kebaikan Menyembunyikan Kejahatan

4 Apr 2026 16:38:10
Mudik Tahunan: Macet dan Kecelakaan yang Tak Pernah Tuntas

Mudik Tahunan: Macet dan Kecelakaan yang Tak Pernah Tuntas

4 Apr 2026 16:36:12
Krisis Energi Global dan Rapuhnya Kedaulatan Energi Nasional

Krisis Energi Global dan Rapuhnya Kedaulatan Energi Nasional

18 Mar 2026 21:49:48
Menyoal Perwali Santunan Kematian Bagi Rakyat Miskin

Menyoal Perwali Santunan Kematian Bagi Rakyat Miskin

17 Mar 2026 05:02:12

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED