Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

11 April 2018
Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Rusia secara sistematis menyangkal serangan-serangan senjata kimia yang dilaporkan dilakukan oleh rezim Syiah Bashar al-Assad terhadap warga sipilnya, mengklaim bahwa gambar-gambar yang menunjukkan penduduk Suriah diracuni dibuat oleh negara-negara Barat, lansir Anadolu Agency Selasa (10/4/2018).

Rusia juga memblokir pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas pelanggaran hak asasi manusia di Suriah.

Sejak awal perang di Suriah, pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad dilaporkan telah melakukan 215 serangan kimia.

Hanya tiga serangan yang diketahui Internasional dimana jumlah korban tewas tinggi sehingga menarik perhatian dunia.

Namun gambar warga sipil Suriah yang terkena dampak serangan kimia tidak cukup meyakinkan bagi pihak berwenang Rusia, yang bersikeras selalu membantah bahwa gambar-gambar tersebut adalah foto palsu yang dibuat oleh beberapa negara Barat.

Waspadai akan Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Korban tewas terbesar adalah ketika rezim Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur pada 21 Agustus 2013.

Sedikitnya 1.400 warga sipil tewas. Selain itu, sejumlah besar warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terkena dampak serangan kimia tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pernyataan pertamanya tentang insiden itu setelah inspektur PBB menyelesaikan pemeriksaan mereka di Suriah.

“Saya yakin bahwa [serangan kimia] tidak lebih adalah provokasi oleh mereka yang ingin menyeret negara lain ke dalam konflik Suriah, dan yang ingin memenangkan dukungan dari anggota kuat arena internasional, terutama Amerika Serikat,” Putin mengatakan pada 31 Agustus 2013.

Setelah serangan kimia 2013 di Suriah, AS diperkirakan akan melakukan intervensi terhadap Suriah. Namun, Rusia menghindari intervensi Amerika – yang tampaknya melanggar “garis merah” AS sebelumnya – setelah rezim mengatakan akan menghancurkan stok senjata kimia mereka. Kesepakatan dicapai pada 15 September 2013.

Senjata-senjata itu dihancurkan karena Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) ikut bermain. Organisasi mengumumkan proses penghancuran berakhir pada 19 Agustus 2014.

Namun, organisasi hanya menghancurkan stok senjata yang diungkap oleh rezim. Serangan di Idlib, Aleppo dan Eastern Ghouta adalah bukti bahwa rezim berhasil menyembunyikan beberapa senjata kimianya.

Inilah Infografik 162 Serangan Senjata Kimia Rezim Assad di Suriah

Sedikitnya 100 warga sipil tewas dalam serangan senjata kimia oleh rezim di Khan Sheikhoun Idlib pada 4 April 2017.

Beberapa warga Khan Sheikhoun sedang tidur selama serangan yang terjadi di pagi hari tersebut.

Pihak oposisi melaporkan jet tempur Suriah melintas, dan mengira bahwa itu adalah serangan udara biasa. Tetapi ketika pemboman itu tidak mengakibatkan pendarahan atau bekas luka, segera dipahami bahwa itu adalah serangan kimia.

Namun, pihak berwenang Rusia mengklaim bahwa mereka menargetkan “depot amunisi”, bukan warga sipil.

Juru Bicara Departemen Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov juga menegaskan bahwa serangan itu menargetkan depot amunisi di timur Khan Sheikhoun, mengklaim bahwa gudang tersebut digunakan untuk memproduksi dan menyimpan bom yang mengandung gas beracun.

Rekaman udara yang diperoleh oleh Anadolu Agency sehari setelah serangan mengungkapkan bahwa gudang yang ditargetkan adalah lumbung gandum yang tidak terpakai.

Tiga hari setelah dugaan serangan kimia, AS membalas dengan serangan udara di lapangan udara Shayrat, yang menurut Rusia hanya alasan AS untuk campur tangan di Suriah.

Mekanisme Investigasi Bersama (Joint Investigative Mechanism-JIM) antara Organisasi untuk Pelarangan Senjata (OPCW) dengan PBB pada 27 Oktober 2017 menyimpulkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas pembantaian Khan Sheikhoun dan mempresentasikan laporan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Dalam proses penyidikan serangan dan laporan JIM, pihak berwenang Rusia membuat pernyataan mengkritik metode dan hasil temuan penelitian.

Pada 21 Oktober 2016, JIM menahan rezim Syiah Assad yang bertanggung jawab atas tiga serangan lagi selama investigasi Khan Sheikhoun.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia melontarkan kemarahan setelah JIM memutuskan bahwa rezim telah menggunakan senjata kimia di desa Talamenes, Idlib, pada 21 April 2014, di desa Sarmin pada 16 Maret 2015, dan di Marea, Aleppo, pada 21 Agustus 2016. Nebenzia menyebut mereka “penyelidikan fiktif” dan “tuduhan tanpa dasar.”

Cegah PBB Selidiki Serangan Bom Kimia di Suriah, AS Salahkan Rusia

Rusia memveto keputusan untuk memperpanjang penyelidikan JIM pada 18 November 2017. Ini adalah veto ke-10 yang diambil Rusia demi rezim sejak perang saudara dimulai. Nebenzia menjelaskan hak veto itu dengan mengatakan JIM telah “mempermalukan dirinya sendiri” karena melontarkan tuduhan tak berdasar.

Belum ada sanksi yang dijatuhkan terhadap rezim tersebut sejak keputusan JIM, yang menetapkan bahwa rezim bertanggung jawab atas serangan terhadap Khan Sheikhoun dan tiga serangan kimia lainnya; bahkan orang-orang rezim Suriah yang bertanggung jawab atas pembantaian dianggap tidak cukup banyak untuk dibawa ke hadapan Pengadilan Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Karena Suriah bukan anggota ICC, Dewan Keamanan PBB harus merujuk rezim ke ICC. Namun, Rusia juga mencegah proses ini.

Serangan terakhir rezim dengan senjata kimia menewaskan 78 warga sipil di distrik Douma di Ghouta Timur. Rusia mengatakan serangan itu hanyalah alasan untuk menyabotase evakuasi sejak 22 Maret berdasarkan perjanjian yang diperantarai oleh Rusia, antara rezim Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata, Jaishul Islam di Douma.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Kementerian Luar Negeri Rusia malah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa berita itu “palsu”.

“Informasi palsu sedang ditanam tentang dugaan penggunaan klorin dan agen beracun lainnya oleh pasukan Suriah,” kata kementerian itu.

Ketika ditanya apakah rezim menggunakan senjata kimia di Suriah dalam sebuah wawancara dengan penyiar NBC bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pemerintah Suriah telah lama menghancurkan semua senjata kimia yang dimilikinya.

Putin berkata: ‚ÄúSemua ini adalah hasil dari elemen radikal, aksi teroris. Mereka melakukan kejahatan ini untuk menyalahkan Assad. Kami menyadari rencana para pemberontak untuk menunjukkan bahwa tentara Suriah menggunakan senjata kimia. Mereka telah mencoba melakukan ini di masa lalu.”

Presiden Rusia juga menuduh pasukan oposisi bersenjata di Suriah menggunakan tuduhan bahwa rezim menggunakan senjata kimia “sebagai alasan untuk perjuangan mereka melawan Assad.”