Ratusan Laskar Ansharusyariah Jateng Siap Kawal Ustaz Abdul Somad di Semarang

SOLO (Jurnalislam.com) – Komandan Hisbah Laskar Jamah Ansharusy Syariah Jawa Tengah, Ustaz Mursidi menegaskan, pihaknya siap mengawal tabligh akbar Ustaz Abdul Somad di Semarang. Jamaah Ansharusy Syariah akan menurunkan ratusan anggotanya untuk mengawal berjalannya Tabligh Akbar yang akan digelar di Lapangan Pedurungan Kidul Semarang pada Senin (30/7/2018) malam.

“Untuk menjaga ukhuwah, merapatkan barisan dan menjaga persatuan dan kesatuan umat,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (29/7/2018).

Baca juga: Polisi Dukung dan Siap Amankan Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad di Semarang

Keikutsertaan Jamaah Ansharusy Syariah juga sebagai wujud akhlak seorang muslim untuk memuliakan ulama. “Ini juga sebagai bentuk kita menjaga urwah dan kehormatan para ulama,” kata dia.

Ustaz Mursidi berpesan, umat Islam harus menjaga spirit persatuan dibawah komando para ulama. “Meneruskan arahan aksi bela Islam 212 tentang jihadul kalimah bersama umat,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, tabligh akbar Ustaz Abdul Somad di Semarang sempat mendapat penolakan dari ormas yang menamakan diri Patriot Garuda Nusantara (PGN). Penolakan tersebut akhirnya dicabut setelah sejumlah elemen umat Islam dan PGN melakukan audiensi di Polrestabes Semarang pada Rabu (25/7/2018).

Setelah Membombardir Daraa, Inilah Skenario Rezim Assad

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Pihak oposisi Suriah memperingatkan bahwa evakuasi paksa oleh pasukan rezim Syiah Assad di provinsi Daraa barat daya negara itu bertujuan untuk mengubah struktur demografi daerah tersebut.

“Rezim Assad, yang didukung oleh Iran, memulai evakuasi paksa di Daraa. Skenario yang sama terjadi di Ghouta Timur dan Homs sebelumnya,” Abdurrahman Mustafa, ketua Koalisi Nasional untuk Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah (the National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces), mengatakan pada konferensi pers di hari Jumat (27/7/2018), lansir Anadolu Agency.

“Sebagai akibat dari kebijakan migrasi paksa ini, sekarang ada kepadatan penduduk yang besar di Idlib,” katanya.

Setelah Daraa Kini Nawa Dibombardir Rezim Syiah Assad

Mustafa mengatakan bahwa sejak AS meninggalkan daerah padahal merupakan negara penjamin, “daerah itu ditinggalkan sendiri menunggu nasibnya.”

Pemimpin oposisi mengatakan kehadiran Turki di Idlib sebagai negara penjamin adalah “satu-satunya solusi” untuk masalah ini.

“Turki sudah berada di tanah Suriah untuk menjamin keamanan,” katanya.

“Sejak revolusi, Turki telah mengambil sikap mendukung rakyat Suriah dan memenuhi tanggung jawabnya sejalan dengan perjanjian internasional,” katanya. “Jika Turki mempertahankan kehadiran di Idlib sebagai negara penjamin, apa yang terjadi di Daraa dan wilayah lain tidak akan terulang lagi.”

Mustafa mengatakan oposisi Suriah percaya pada solusi politik atas konflik di Suriah.

“Rakyat Suriah pada akhirnya akan menang meskipun rezim mendapatkan keuntungan di lapangan,” katanya. “Rakyat Suriah akan melanjutkan perjuangan sampai tuntutan mereka terpenuhi.”

Pemimpin oposisi mengatakan keseimbangan militer di Suriah telah sangat bergeser sejak tahun 2014 hingga 2018. “Namun demikian, tidak berarti rezim telah menang. Rezim memperluas lahannya berkat dukungan Iran dan Rusia, “katanya.

Pemimpin oposisi mengatakan daerah-daerah yang telah dibersihkan dari kelompok PYD/PKK berangsur sangat membaik.

Assad Langgar Gencatan Senjata di Daraa, 11 Faksi Oposisi Bentuk Koalisi Tentara Selatan

“Kami telah mengunjungi area Euphrates Shield dan Afrin dan melihat berapa banyak kondisi telah membaik di bawah kendali Turki,” katanya.

Dia mengatakan bahwa Turki telah membawa perdamaian dan stabilitas ke wilayah-wilayah ini.

“Layanan kesehatan dan pendidikan telah disediakan,” katanya. “Turki telah membawa ketertiban dan perdamaian publik.”

Dia mengatakan bahwa Bulan Sabit Merah Turki dan Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD) juga bekerja di daerah tersebut. “Rezim Suriah dan sekutu tidak nyaman dengan kehadiran Turki di sini, tetapi mereka tidak akan pernah mencapai tujuan mereka,” katanya.

Pemimpin oposisi Suriah mengatakan AS dan negara-negara anggota PBB telah meninggalkan Suriah sendirian, tidak seperti Turki.

“Turki adalah satu-satunya negara yang berdiri bersama oposisi Suriah,” katanya.

Mustafa mengatakan operasi militer Turki Euphrates Shield dan Olive Branch telah menghadirkan keamanan di sepanjang perbatasan Turki dan menciptakan zona aman bagi warga sipil Suriah.

“Apa yang terjadi di sana didasarkan pada kepentingan bersama,” katanya. “Turki mendukung kami untuk mempertahankan integritas teritorial Suriah dan kami berkoordinasi dengan Turki.”

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

Dia mengatakan oposisi Suriah telah membentuk tujuh majelis lokal di Afrin.

“Kami, semoga, akan melakukan hal yang sama di Manbij,” katanya. “Jika kesepakatan antara AS dan Turki diberlakukan, oposisi Suriah akan bertindak bersama dengan Turki. Kami akan mendukung langkah-langkah yang diambil untuk membangun majelis lokal di kawasan itu, seperti Afrin,” katanya.

Milisi Dukungan Amerika ‘SDF’ Sepakat Bekerja Sama dengan Rezim Syiah Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Aliansi Kurdi dan Arab yang didukung AS mengatakan mereka telah setuju untuk bekerja dengan rezim Nushairiyah Suriah Bashar al-Assad menuju “Suriah yang demokratis dan terdesentralisasi” setelah pembicaraan awal di Damaskus.

Sebuah delegasi the Syrian Democratic Council (SDC) – sayap politik dari Pasukan Demokrasi Suriah (the Syrian Democratic Forces-SDF) – tiba di ibukota Suriah awal pekan ini, dalam kunjungan resmi pertama mereka di sana atas undangan rezim pemerintah.

Dalam upaya untuk memperkuat otonomi mereka di negara yang dilanda perang itu, SDC mengatakan pada hari Sabtu (28/7/2018) bahwa mereka akan membentuk komite dan memetakan “peta jalan-roadmap” dalam koordinasi dengan rezim Syiah Assad.

Tidak ada konfirmasi segera oleh Damaskus, dan periode negosiasi diperkirakan akan panjang.

Amerika Latih SDF Untuk Bantu Milisi YPG Kuasai Sisa-sisa Wilayah IS

Pernyataan SDC itu muncul setelah Assad, yang didukung secara militer oleh Rusia, mengancam akan merebut kembali daerah utara dan timur Suriah yang dikendalikan oleh aliansi – sebuah perkembangan yang dikatakan SDF hanya akan menyebabkan lebih banyak kehancuran dan kesulitan bagi warga Suriah.

SDF dibentuk pada tahun 2015 untuk mempertahankan wilayah Suriah timur laut. Menggunakan senjata Amerika, ia berhasil menguasai 25-30 persen Suriah, termasuk wilayah-wilayah yang kaya akan cadangan minyak dan gas.

Sayap politik mereka telah lama mendesak agar Suriah dibagi menurut garis federal dan terdiri dari daerah-daerah otonom di berbagai daerah.

Tentara Rezim Assad Kepung Deir al Zour Ancam Pasukan SDF Dukungan AS

Pada bulan Januari, SDF kehilangan kota Afrin ke tangan oposisi yang didukung Turki. Meskipun Washington melakukan intervensi guna mencegah pasukan Turki merebut kota Manbij lebih lanjut, SDF tetap tidak yakin tentang dukungan AS karena pernyataan yang bertentangan atas rencana militernya di negara itu.

Riad Darar, wakil ketua SDC, berbicara kepada Al Jazeera tentang alasan di balik keputusan mereka untuk terlibat dalam dialog dengan rezim pemerintah Suriah.

Darar, yang berasal dari Deir Az Zor, mengatakan SDC sedang berupaya untuk mendirikan negara baru dan sistem baru melalui negosiasi dengan rezim pemerintah.

Hamas dan Fatah Tolak Rencana AS di Palestina

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Kelompok-kelompok Palestina di Istanbul, termasuk Hamas dan Fatah, mengecam pendudukan Israel dan menolak rencana yang didukung AS untuk wilayah tersebut, yang digambarkan oleh Presiden Donald Trump sebagai “kesepakatan abad ini (a deal of the century).”

Dalam deklarasi bersama, kelompok-kelompok itu mengatakan bahwa kesepakatan yang dipaksakan AS mengabaikan hak-hak Palestina. Mereka juga menyerukan “persatuan nasional” melawan pendudukan dan rencana Israel yang didukung AS.

Israel Jengkel Palestina Terpilih Sebagai Ketua dari Blok G77

Pemerintah AS telah secara samar-samar merujuk pada rencana masa lalu backchannel yang diduga ditujukan untuk mencapai penyelesaian akhir dari konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama beberapa dasawarsa tersebut demi “Kesepakatan Abad Ini.”

Bulan lalu, penasihat senior Trump, Jared Kushner, mengatakan rincian kesepakatan yang diusulkan akan segera diumumkan.

Kushner baru-baru ini mengunjungi wilayah Timur Tengah bersama dengan utusan perdamaian AS Jason Greenblatt di mana mereka mengadakan pembicaraan di Mesir, Arab Saudi, Yordania, Qatar dan Israel dengan maksud untuk mempromosikan “Kesepakatan Abad Ini .”

Seorang Pemukim Yahudi Tewas dan 2 Lainnya Terluka oleh Serangan Pisau Palestina

Namun kepemimpinan Palestina menolak mediasi AS sejak Desember lalu, ketika Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah, dengan Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang dijajah oleh Israel sejak 1967 – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.

Imran Khan Mantan Atlit Kriket, Calon PM ke-19 Pakistan

KARACHI (Jurnalislam.com) – Imran Khan, mantan pahlawan olahraga kriket, siap menjadi perdana menteri Pakistan ke-19 dengan janji-janji reformasi besar-besaran dan perjuangan melawan korupsi.

Partai pusat kelompol-kanannya, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) telah muncul sebagai partai tunggal terbesar dalam pemilihan hari Rabu, lansir Anadolu Agency Jumat (27/7/2018).

Lahir pada tahun 1952 di kota Lahore di timur laut, Khan, memenangkan satu-satunya Piala Dunia kriket untuk Pakistan pada tahun 1992, sesuatu yang sering dia ulang dalam kampanye pemilihannya.

Sebagai seorang pembicara berapi-api dengan naluri otoriter, Khan yang karismatik telah dilihat sebagai penyelamat oleh orang biasa dalam perannya sebagai seorang pemain kriket, filantropis dan politikus.

Gelombang dukungan ini baginya cukup baru. Hingga satu dekade yang lalu, dia bahkan tidak dianggap di antara 20 politisi terbaik di negara itu.

Khan dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah-atas di Zaman Park, Lahore dan merupakan salah satu dari sedikit politisi Pakistan yang memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan di samping karir kriketnya yang cemerlang.

Ketika ia memulai kriket utama pada usia 16 tahun, ia masih seorang mahasiswa dari Aitchison College yang bergengsi, almamater bagi beberapa birokrat dan politisi papan atas.

Pada usia 18 tahun, ia dikirim ke the Royal Grammar School High Wycombe, Inggris dan kemudian ke the Oxford University untuk mempelajari ilmu politik, filsafat, dan ekonomi.

Selama tinggal di Inggris, ia mulai bermain kriket wilayah, selain mewakili Pakistan dalam kriket internasional.

Dia membintangi lima Piala Dunia; 1975, 1979, 1983, 1987 dan 1992.

Khan menjadi salah satu bowlers tercepat pada tahun 1976 dan membantu timnya memenangkan sejumlah pertandingan.

Sepanjang karir kriketnya, Khan mendapatkan reputasi sebagai playboy setelah terlibat affairs dengan beberapa wanita Inggris, India, dan Pakistan.

Tetapi setelah pensiun dari kriket pada tahun 1992, ia mengganti gaya hidupnya untuk filantropi dan politik.

Khan memulai perjalanan untuk mengumpulkan sumbangan guna mendirikan rumah sakit kanker pertama di negara bagian itu – yang diberi nama seperti ibunya Shoukat Khanum yang meninggal karena kanker di Lahore. Misi tersebut berhasil membuatnya mendapatkan cinta dan rasa hormat yang besar di antara orang-orang Pakistan.

Ia mendirikan PTI pada tahun 1996 dengan janji-janji ‘Naya Pakistan (Pakistan Baru)’, di mana politik dinasti tidak memiliki peran.

Pakistan: Lagi Konvoi Kampanye Pemilu Dihantam Bom, Kandidat Partai Tewas

PTI tidak dapat memenangkan satu kursi pun kali pertama pada tahun 1997. Pada pemilu 2002, ia hanya dapat memenangkan satu kursi dari kampung halamannya, Mianwali – sebuah distrik terpencil di provinsi Punjab. Partainya memboikot pemilu 2008, yang diselenggarakan oleh penguasa militer saat itu Jenderal Pervez Musharraf.

Karir politik Khan mengambil langkah besar yang sebenarnya pada tahun 2011 dengan rapat umum besar-besaran di Lahore yang mengejutkan para komentator politik dan membunyikan lonceng peringatan bagi Sharif, yang telah memerintah provinsi paling padat, Punjab, selama tiga dekade terakhir.

Dalam pemilihan 2013, Khan tampaknya memiliki daya tarik yang mengesankan bagi kaum muda, yang merupakan 60 persen dari total penduduk negara itu.

Dia cukup menyulitkan dua partai politik utama, Liga Muslim Pakistan-Nawaz (Pakistan Muslim League-Nawaz/PML-N) dan Partai Rakyat Pakistan (Pakistan People’s Part- PPP), yang telah bergantian memerintah negara itu.

Partainya tidak hanya berubah menjadi partai terbesar kedua tetapi juga berhasil membentuk pemerintahan di provinsi barat laut Khyber Pakhtunkhawa (KP).

Hasil pemilihan hari Rabu menunjukkan PTI akan dengan nyaman membentuk pemerintah di pusat dan KP, dan leher-di-leher dengan saingan rival PML-N di Punjab.

Khan menikah tiga kali, dua berakhir dengan perceraian.

Dia pertama kali menikahi Jemima Goldsmith dari keluarga Goldsmith, miliarder Inggris pada 1995, yang melahirkan dua putra; Sulaiman Isa Khan dan Qasim Khan. Mereka bercerai pada 2004.

Sebelas tahun kemudian ia menikahi seorang penyiar berita lokal Reham Khan yang hanya bisa bertahan sepuluh bulan.

Khan condong ke arah Sufisme dalam beberapa tahun terakhir, dengan sering berkunjung ke kuil dan penyembuh iman untuk mencari berkah bagi perjalanan politiknya.

Ini membuatnya menikahi penyembuh iman, Bushra Manika, yang biasa dikenal sebagai Pinky Peerni, pada tahun 2018.

Saingannya kadang-kadang menyamakan Khan dengan Donald Trump karena seringnya kritik terhadap media bebas dan kebijakan u-turns.

Mantan ikon kriket ini akan memimpin pemerintah ketika negaranya terguncang akibat polarisasi internal dan eksternal.

Di front internal, partai-partai besar menentangnya karena kata-katanya yang kasar dan pernyataan-pernyataan terhadap saingannya. Demikian juga secara eksternal, Islamabad tidak menikmati hubungan baik dengan tetangga dan sekutunya, termasuk India, Afghanistan, dan Amerika Serikat.

Tetapi para pendukungnya melihat seorang mesias (juru selamat) di dalam dirinya, yang akan menyetir negara itu dari situasi yang memanas dengan tekad dan niat baik.

Dua Seniman Itali Lukis Ahed Tamimi sebagai Ikon Perlawanan Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Dua seniman Italia mulai melukiskan sosok Ahed al-Tamimi, seorang gadis Palestina berusia 17 tahun yang telah menghabiskan beberapa bulan terakhir di penjara Israel. Mereka melukis di tembok pemisah yang berdiri di Tepi Barat yang diduduki.

Kedua seniman, yang tidak mau menyebutkan nama mereka dan belum membuat pernyataan kepada pers, ingin mengekspresikan dukungan mereka pada al-Tamimi dengan melukis potret kehidupan yang lebih besar dari remaja yang ditahan tersebut, yang telah menjadi simbol perlawanan Palestina.

Heboh, Ahed Tamimi Dilecehkan Secara Seksual saat Diinterogasi

Aktivis Palestina Ahmed al-Arabi mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (27/7/2019) bahwa para seniman berharap untuk menghormati ikon perlawanan berusia 17 tahun – dan warga Palestina – melalui karya seni mereka.

Menurut al-Arabi, mural berukuran 30 meter persegi itu kemungkinan akan memakan waktu beberapa hari untuk diselesaikan.

“Mereka sedang mempersiapkan mural untuk mengantisipasi harapan akan pembebasan al-Tamimi,” katanya.

Awal tahun ini, al-Tamimi dihukum delapan bulan di balik terali besi karena “menyerang” tentara Israel.

Begini kabar Terkini Ahed Tamimi, Remaja Palestina yang Menampar Tentara Israel

Tetapi ayah remaja itu, Basem al-Tamimi, telah menyuarakan harapan bahwa putrinya dapat dibebaskan pada hari Ahad pekan depan.

Namun pemerintah penjajah Israel belum mengumumkan tanggal resmi pembebasannya.

Pada tahun 2017, Kotamadya Basaksehir di Istanbul memberikan al-Tamimi Penghargaan Keberanian Hanzala yang prestisius karena berani melawan tentara Israel yang baru saja menangkap saudara laki-lakinya.

Selama kunjungannya ke Turki, al-Tamimi juga berkesempatan untuk bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Menurut laporan Palestina, sekitar 6.500 warga Palestina – termasuk sekitar 350 anak di bawah umur – saat ini mendekam di penjara Israel.

Seluruh Dunia Alami Gerhana Bulan Terlama Abad 21, Gerhana Bulan Darah

JURNALISLAM.COM – Di seluruh dunia, para pengamat bintang menatap langit pada Jumat (27/7/2018) malam atau Sabtu dini hari (28/7/2018) untuk melihat sekilas gerhana bulan terlama abad ke-21, yang mengubah bulan menjadi merah darah.

Gerhana bulan terjadi ketika Bumi terletak di antara matahari dan bulan. Ini berarti cahaya matahari terhalang oleh Bumi, dan bulan bergerak melewati bayangan bumi.

Munculnya kemiringan permukaan bulan – gambar bulan tidak menghilang sepenuhnya selama gerhana – adalah karena sinar matahari menembus atmosfer bumi saat bulan jatuh ke bayangan planet kita.

Tidak diperlukan filter khusus untuk melindungi mata Anda, karena menonton gerhana bulan berbeda dari menonton gerhana matahari, dan membuat gerhana bulan benar-benar aman untuk dilihat dengan mata telanjang.

Gerhana “bulan purnama (bulan penuh-blood moon)” terlihat dari Eropa, Rusia, Afrika, Timur Tengah, serta sebagian besar Asia dan Australia meskipun awan menghalangi bulan di beberapa tempat, sebagaimana dilaporkan Aljazeera.

Pada zaman kuno, fenomena ini dianggap pertanda buruk, tetapi sekarang dipahami bahwa itu hanya karena hamburan cahaya oleh udara di atmosfer kita.

Penyebaran cahaya adalah sesuatu yang terjadi setiap hari.

Cahaya biru tersebar paling efektif, dan ini menjelaskan mengapa langit berwarna biru.

Sedangkan cahaya merah tersebar paling sedikit, itulah sebabnya matahari terbenam menjadi merah.

Ketika matahari, Bumi dan bulan semuanya berbaris, sinar matahari menyinari tepi Bumi.

Ketika sinar matahari melewati atmosfer kita, mereka berbelok (dibiaskan), dan terfokus pada bulan.

Selain dibiaskan (berbelok), cahaya juga tersebar, terutama cahaya biru dan hijau, hanya menyisakan cahaya merah dan oranye.

Inilah kenapa bulan bercahaya merah yang aneh saat menghilang ke dalam bayangan Bumi.

Bagi umat Islam, gerhana bulan merupakan fenomena alam yang tidak seperti biasanya, maka Allah Ta’ala mensyariatkan atas kita melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam untuk melaksanakan shalat gerhana. Pada gerhana matahari biasanya disebut dengan shalat kusuf, sedangkan pada gerhana bulan dengan shalat khusuf. Namun terkadang kedua nama tersebut memiliki arti yang sama. Artinya kusuf bisa digunakan untuk gerhana matahari dan bulan, begitu juga khusuf.

Shalat Gerhana: Hukum, Waktu dan Tata Caranya

Jet Tempur Koalisi Arab Gempur Hodeidah, Setelah Drone Syiah Houthi Serang Abu Dhabi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pesawat milik koalisi militer Saudi-Emirat yang memerangi pemberontak Syiah Houthi Yaman telah meluncurkan serangan udara di Hodeidah, sebuah kota yang menjadi pelabuhan penting strategis yang merupakan titik masuk utama bagi sebagian besar bantuan pangan negara yang dilanda perang itu.

TV al-Masirah yang dikelola Houthi mengatakan dalam serangkaian tweet pada hari Jumat (27/7/2018) bahwa serangan udara koalisi telah menargetkan stasiun radio di dalam kota Laut Merah dan dermaga penangkapan ikan. Tidak ada laporan segera tentang korban.

Kembalinya operasi militer pada Hodeidah terjadi sehari setelah pemberontak Syiah Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak di salah satu bandara utama Uni Emirat Arab (UEA).

Kapal Tanker Saudi Diserang Pemberontak Syiah Houthi di Laut Merah

Menurut saluran televisi al-Masirah, drone Sammad-3 meluncurkan tiga serangan di bandara internasional Abu Dhabi.

Bandara Abu Dhabi tweeted pada hari Kamis bahwa terjadi insiden yang melibatkan kendaraan pasokan tetapi menambahkan bahwa operasi tidak terpengaruh.

Tidak jelas apakah berita itu terkait dengan serangan pesawat tak berawak yang dilaporkan.

Sumber militer Houthi mengatakan pesawat tanpa awak itu terbang sejauh 1.500 km sebelum mencapai bandara Abu Dhabi.

Jenderal Abdullah al-Jafri, seorang juru bicara Houthis, mengatakan serangan pesawat tak berawak menunjukkan bahwa mereka mampu meluncurkan serangan terhadap infrastruktur sipil penting koalisi militer pimpinan Saudi-Emirat.

“Serangan kami di bandara Abu Dhabi menunjukkan pasukan kami bukanlah macan kertas seperti klaim musuh kami,” kata Jafri kepada al-Masirah TV di telepon.

Seorang pejabat UEA yang tidak disebutkan identitasnya mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa serangan itu tidak terjadi.

Berbicara kepada Al Jazeera, ahli pertahanan Andreas Krieg mengatakan sulit untuk menetapkan apa yang mungkin terjadi karena kedua pihak “memiliki catatan panjang sering tidak mengatakan yang sebenarnya.”

“Jika Anda melihat melalui media sosial dan jika Anda melihat bukti yang ada di luar sana, apa pun yang telah disediakan oleh Houthi adalah palsu – ini adalah gambar photoshopped yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan di Abu Dhabi,” kata Krieg, Jumat.

“Sama halnya dengan Uni Emirat Arab yang belum cukup memberikan bukti bahwa [serangan] itu tidak terjadi atau memberikan penjelasan secara logis dan dapat dipercaya yang menjelaskan gangguan penerbangan kemarin,” tambahnya, mencatat bahwa UEA terkenal karena “sangat tertutup tentang apa yang terjadi di negara mereka” dan karena “kontrol media sosial di dalam negeri mereka yang cukup baik.”

Namun Krieg mencatat bahwa jarak yang jauh dan ukuran drone itu menimbulkan pertanyaan tentang apakah klaim pemberontak itu valid.

“Jarak antara pusat kendali potensial dari Houthis di Yaman ke Abu Dhabi adalah sekitar 1.300-1.500 km tergantung dari mana Anda mengukur,” katanya.

“Sammad-3 adalah drone yang cukup besar … sehingga jika kendaraan besar sebesar itu cukup dalam menembus wilayah udara sebuah negara dan kemudian berpikir bahwa sistem pertahanan udara negara tersebut tidak akan mengeluarkan peringatan dan mencegatnya sebelum benar-benar mencapai infrastruktur penting seperti Bandara Abu Dhabi tampaknya sangat tidak mungkin.”

Hodeidah telah berada di bawah kendali Houthis sejak 2014, bersama dengan pelabuhan pantai barat lainnya dan sebagian besar Yaman utara.

Puluhan Pasukan Syiah Houthi dan Hizbullah Lebanon Tewas dalam Pertempuran di Saada

Pelabuhan kota itu bertanggung jawab untuk mengirimkan 70 persen impor Yaman – sebagian besar bantuan kemanusiaan, makanan dan bahan bakar – sebelum 2015. Namun, Saudi mengatakan bahwa Houthi, yang dilaporkan menghasilkan $ 30 juta hingga $ 40 juta per bulan dalam pendapatan dari pelabuhan, menggunakannya untuk menyelundupkan senjata dari Iran.

Perang di Yaman, negara terpuruk di kawasan itu, dimulai pada tahun 2014 setelah pemberontak Houthi yang berhaluan Iran menguasai ibukota, Sanaa, dan mulai mendorong ke selatan menuju kota terbesar ketiga negara itu, Aden.

Prihatin dengan munculnya pemberontak Houthi, Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab meluncurkan serangan militer pada tahun 2015 dalam bentuk operasi serangan udara besar-besaran untuk menginstal ulang pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sejak itu, lebih dari 10.000 orang telah tewas dan sedikitnya 40.000 orang terluka, sebagian besar akibat serangan udara yang dipimpin Saudi.

Sebagai pembalasan, Houthi telah meluncurkan lusinan rudal di kerajaan itu. Pihak berwenang Saudi mengatakan selama tiga tahun terakhir 90 rudal balistik ditembakkan oleh para pemberontak Syiah.

Beberapa putaran perundingan perdamaian yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa semuanya gagal mencapai terobosan.

Pasukan Israel Serang Jamaah Hendak Shalat di Al Aqsha dengan Granat Listrik

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel telah membuka kembali gerbang kompleks Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur setelah menutupnya selama beberapa jam, mencegah siapapun masuk ke salah satu situs tersuci umat Islam tersebut.

Sebelumnya pada hari Jumat (27/7/2018), tentara zionis menyerbu kompleks itu, menembakkan gas air mata dan granat listrik ke arah jamaah Muslim yang berkumpul untuk sholat.

“Sedikitnya 50 polisi mengacak-ngacak Masjid Al-Qibali, menyerang jamaah dan menangkap 20 orang lainnya,” kata Firas al-Dibs, seorang juru bicara al-Waqf, Otoritas Warisan Agama Yerusalem, dalam sebuah pernyataan.

Menurut badan yang dikuasai Yordania tersebut, total 15 warga Palestina terluka, termasuk tiga penjaga masjid, akibat bentrokan.

Al-Dibs mengatakan, pasukan Israel menyegel Masjid Al-Aqsha dengan rantai besi dan mencegah jamaah Palestina untuk masuk.

Penutupan itu berakibat konfrontasi dengan para jamaah, kantor berita Palestina Wafa melaporkan.

Ribuan Pemukim Ilegal Zionis Yahudi Serbu Masjid Al Aqsha

Andrew Simmons dari Al Jazeera, melaporkan dari pintu masuk kompleks Masjid al-Aqsha, mengatakan “pasukan Israel mengepung seluruh pengunjung dengan barikade selama lima jam.”

Dia menambahkan bahwa “suasana sangat tegang” di dalam kompleks itu.

“Telah terjadi ‘serangan’, seperti yang dijelaskan oleh penjaga kompleks masjid, yang mengatakan itu adalah invasi pasukan Israel.

“Namun, pasukan Israel malah menuduh beberapa orang melemparkan batu dan kembang api (petasan) dan dijadikan alasan oleh mereka untuk memanggil bala bantuan dan begitu banyak pasukan keamanan melepaskan tembakan dengan granat suara dan juga gas air mata di beberapa titik,” tambah Simmons.

“Orang-orang diberitahu untuk meninggalkan lokasi tetapi banyak yang menolak, sehingga situasi berubah dan empat gerbang ditutup untuk mencegah orang masuk atau keluar.”

Kerusuhan itu bertepatan dengan peringatan pertama protes Al-Aqsha pada Juli 2017 ketika puluhan ribu warga Palestina berdoa di luar kompleks selama hampir dua pekan, memprotes detektor logam baru yang dipasang oleh pemerintah Israel.

Al-Aqsha adalah salah satu masalah paling rumit dalam konflik Israel-Palestina.

Al-Aqsha adalah nama masjid berkubah perak di dalam kompleks berukuran 35-acre yang disebut sebagai al-Haram al-Sharif, atau Tempat Suci Mulia (the Noble Sanctuary), oleh umat Islam, dan diklaim sebagai Temple Mount oleh orang Yahudi.

Bagi kaum Muslim, the Noble Sanctuary adalah lokasi bangunan ketiga tersuci bagi Islam di dunia, Masjid Al-Aqsha, dan Kubah Batu (the Dome of the Rock), struktur abad ketujuh yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad Saw naik ke Sidrathul Munthaha.

Orang-orang Yahudi percaya bahwa kompleks itu adalah tempat kuil-kuil Alkitab Yahudi (the Biblical Jewish temples) pernah berdiri, tetapi hukum Yahudi dan Rabbi Yahudi Israel melarang orang Yahudi memasuki kompleks itu dan berdoa di sana, karena dianggap terlalu suci untuk diinjak/dimasuki.

Astaghfirullah, Tembok Al Buraq Masjid Al Aqsha Runtuh

Tembok Barat (Western Wall) di kompleks itu, yang dikenal sebagai Tembok Ratapan (the Wailing Wall) bagi orang Yahudi, diyakini sebagai sisa terakhir dari Kuil Kedua, sementara kaum Muslim menyebutnya sebagai Dinding al-Buraq dan percaya bahwa di sinilah Nabi mengikat al-Buraq, makhluk yang Rasulullah gunakan untuk naik ke Sidrathul Munthaha dan berbicara kepada Allah Swt.

Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967. Israel kemudian mencaplok kota tersebut pada tahun 1980, mengklaimnya sebagai ibukota negara Yahudi yang mereka proklamirkan sendiri. Langkah Israel tersebut tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Pada akhir tahun 2000, kunjungan ke Al-Aqsha oleh politisi kontroversial Israel Ariel Sharon memicu gerakan perlawanan rakyat Palestina selama bertahun-tahun melawan penjajahan Israel di mana ribuan warga Palestina kehilangan nyawa mereka.

KH Zaitun Rasmin : Ulama Harus Lebih Berperan untuk Kemaslahatan Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, KH Zaitun Rasmin mengatakan, Ijtima Ulama di Jakarta sangat penting dilakukan. Menurutnya, pertemuan itu sebagai wadah konsolidasi, silaturahim, dan musyawarah para ulama untuk membicarakan kemaslahatan umat kedepan.

“Ini sangat penting sebagai sebuah wadah konsolidasi, silaturahim, dan musyawarah untuk membicarakan kemaslahatan umat kedepan,” kata Wakil Sekjen MUI Pusat ini kepada Jurnalislam.com, usai pembukaan Ijtima Ulama di Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakbar, Jumat (27/7/2018) malam.

“Bukan ulama di pusat saja tapi juga daerah,” sambungnya.

Baca juga: Ini Pesan Perjuangan Habib Rizieq di Pembukaan Ijtima Ulama

Ustaz Zaitun yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini berharap, para ulama memperjelas perannya dalam bidang dakwah, ekonomi juga politik.

“Ulama diharapkan lebih berperan, mungkin ikut bermusyawarah berdiskusi dengan pimpinan partai. Bahkan bisa juga terpilih menjadi pelaku politik,” ujarnya.

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) menggelar Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional di Hotel Menara Peninsula Jakarta, 27-28 Juli 2018. Ratusan ulama dari seluruh Indonesia dikabarkan akan pertemuan akbar yang berlangsung dua hari itu.

Reporter : Gio