Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Rezim Syiah Assad telah meluncurkan serangan di barat daya Suriah, sebuah zona yang berada di bawah gencatan senjata Rusia-Amerika. Meskipun pasukan Iran yang bersekutu dilaporkan setuju untuk mundur dari zona penyangga di dekat perbatasan Yordania dan Israel tersebut, ancaman ekspansi Iran masih tetap tinggi.

Tentara rezim Suriah telah meluncurkan operasi serangan terhadap timur laut Deraa, provinsi paling tenggara di Suriah yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan dan Yordania. Serangan udara rezim membombardir kota-kota Al Harak dan Busra al Harir yang dipegang oposisi, padahal kedua kota tersebut dalam batas-batas zona gencatan senjata.

Rezim dilaporkan telah mengunakan “senjata-senjata menengah dan acak” termasuk bom barel. Suhail al-Hassan, komandan the Tiger Forces, dilaporkan hadir di provinsi ini, mengindikasikan keterlibatan Rusia. Masih harus dilihat apakah kekuatan udara Rusia dan pasukan darat yang didukung Iran akan berpartisipasi dalam serangan dan, jika tidak, bagaimana rezim akan berjalan tanpa keterlibatan mereka, lansir Long War Journal, Ahad (24/6/2018).

Rezim Syiah Suriah Mulai Serang Posisi HTS di Idlib, 16 Warga Tewas

Secara teori, Rusia harus mencegah eskalasi di daerah ini. Pasukan Rusia secara eksklusif bertanggung jawab untuk memantau dan menegakkan zona gencatan senjata di barat daya Suriah, yang dinegosiasikan oleh AS, Rusia, dan Yordania pada musim panas lalu. Pada bulan Juli 2017, Rusia mengerahkan empat batalyon polisi militer untuk memantau sepasang zona aman di Suriah, termasuk zona Deraa.

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Iran dilaporkan telah setuju untuk mundur dari zona perbatasan barat daya. Pasukan Iran dan milisi Syiah Hizbullah Libanon setuju untuk mundur 40 km dari Dataran Tinggi Golan dan perbatasan Yordania, menurut Pengawasan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observancy for Human Rights-SOHR), sebuah organisasi pemantau.

Bahkan jika pasukan Iran menghormati perjanjian penarikan, kehadiran awal mereka di zona itu mencerminkan buruknya keinginan dan kemampuan Rusia untuk menahan Iran. Menurut media Turki Anadolu Agency, Pasukan Pengawal Garda Revolusi Syiah Iran, Syiah Hizbullah Lebanon, dan milisi Syiah Internasional lainnya (Brigade Zainebiyoun dan Brigade Fatemiyoun), sebenarnya beroperasi di Deraa pada hari Selasa. Media Kuwait Al Rai juga melaporkan bahwa pasukan khusus Hizbullah dikerahkan ke Deraa untuk membantu dalam serangan itu.

Milisi Syiah Hizbullah dan Iran Tetap Berada di Suriah Sampai Terbebas dari Jihadis

Namun Syiah Hizbullah belum mengkonfirmasi keterlibatannya. Selain itu, video yang menunjukkan Brigade Fatemiyoun berada di Deraa selama beberapa hari terakhir ternyata adalah video lama.

Sumber-sumber oposisi juga melaporkan jet Rusia membom posisi mereka di Busra al Harir pada hari ini (24/6/2018). SOHR juga mengulangi laporan ini, menambahkan bahwa Rusia menjatuhkan sedikitnya 25 bom di beberapa kota di Deraa.

Runtuhnya gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia meningkatkan risiko infiltrasi Iran di dekat perbatasan Israel dan Yordania. Satu milisi yang dikontrol IRGC sudah mengisyaratkan niatnya untuk merebut kembali Golan dari Israel tahun lalu.

“Jika pemerintah Suriah membuat permintaan, kami siap untuk berpartisipasi dalam pembebasan Golan dengan sekutu kami,” kata juru bicara dari Harakat al Nujaba.

Selain dekat dengan wilayah jajahan Israel, kehadiran Iran mungkin dimaksudkan untuk mempengaruhi AS. Iran dilaporkan menolak menarik pasukannya di barat daya sampai AS mengevakuasi pangkalannya di Tanf, di perbatasan Suriah-Irak. Area Tanf telah menjadi ajang uji coba bagi pasukan yang didukung Iran untuk melihat sejauh mana mereka dapat mendorong AS. Tahun lalu, serangan udara AS menargetkan milisi yang dikendalikan IRGC Kata’ib Sayyid al Shuhada karena terlalu dekat dengan pasukan AS di Tanf.

Menhan AS: Kami akan Lanjutkan Pertempuran di Suriah Meski Tanpa Donald Trump

AS belum mengisyaratkan bahwa mereka akan mengganggu ekspansi Iran di perbatasan. AS telah memperingatkan Rusia dan rezim Assad bahwa pelanggaran akan menghasilkan “dampak serius.” Namun, AS belum menentukan dampak tersebut atau mengisyaratkan rencana sebuah serangan untuk mengganggu ekspansi Iran di perbatasan.

Israel bekerja sama dengan Rusia untuk mengurangi risiko keamanan, pendekatan yang berpotensi berisiko. Pada hari Senin (25/6/2018), penasihat keamanan nasional zionis melakukan perjalanan ke Moskow untuk membahas keberadaan pasukan Iran di Suriah, yang mungkin telah menghasilkan zona penyangga sejauh 40 km. Tetapi mengingat kelalaian baru-baru ini (atau ketidaktahuan yang disengaja) dalam mencegah ekspansi Iran di zona ini dan penyelarasan yang lebih luas dengan Iran selama perang, Moskow tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan dilema keamanan Israel.

Oposisi arus utama di wilayah ini terkoordinasi dan memiliki dukungan eksternal. Dalam menghadapi serangan rezim Syiah Nushairiyah Assad, ruang operasi oposisi utama di bawah payung Front Selatan bergabung awal pekan ini untuk berkoordinasi lebih efektif dalam serangan melawan rezim Assad.

Bagikan