Berita Terkini

Sinyal Kekalahan Jokowi Di Balik Pembakaran Bendera Tauhid

Oleh: AB LATIF, Direktur Indo Politic Wacth

Hari santri yang diperingati secara nasional telah tercorong dengan aksi su’ul adab oleh sebagian oknum Banser. Santri yang terkenal dengan sifat wara’, alim, dan sholih mendadak terkesan urakan dan bahkan nyaris seperti preman jalanan.  Bagaimana tidak, kalimat tauhid yang menjadi inti ajaran islam atau bahkan sepertiga dari Al-Qur’an mereka bakar dengan bangganya di akhir apel peringatan hari santri. Otomatis hal ini mengundang respon yang luar biasa dari kalangan kaum muslimin.

Sungguh ini adalah pelecehan yang luar biasa bagi islam dan umatnya. Karena hal ini dilakukan tidak dikamar ataupun di dalam rumah yang tertutup, tapi di tempat umum yang terbuka dan bahkan diiringi lagu dan nyanyian dengan perasaan penuh bangga dan bahkan menggunakan seragam dan atribut resminya. Dan anehnya, bukannya minta maaf atas tindakan lancang anggotanya yang melecehkan kalimat tauhid, pimpinan Banser justru berkoar mengumbar sejuta dalil untuk membenarkan perilaku anggotanya. Dengan alasan bendera tauhid itu milik HTI, dan membakarnya dalam rangka memuliakan kalimat tauhid tersebut serta berbagai alibi dilontarkan sebagai pembenaran. Walau semua bukti sudah mengarah pada penistaan agama, ternyata sampai hari ini pun mereka belum minta maaf dan menyesali.

Buah dari kasus ini adalah munculnya aksi bela bendera tauhid dimana-mana. Sejak hari pertama pembakaran hingga saat ini aksi semakin membesar dan meluas bahkan tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara juga mengecam keras aksi pembakaran bendera Rasulullah SAW itu. Lebih-lebih pasca dinyatakannya pelaku pembakaran bendera Rasulullah atau kalimat tauhid di garut tidak bersalah oleh Polda Jawa Barat. (republika.co.id )

Bau konspirasi begitu menyengat, ada upaya mengkriminalisasikan bendera tauhid yang mereka identikkan dengan HTI. Padahal sudah jelas apa yang disampaikan oleh MUI, bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI. Bahkan MUI pun mereka kecam dengan fitnah membuat kegaduhan. Sungguh ini hal yang tak dapat dinalar. Sungguh aneh jika Banser yang berulah, tapi justru yang sibuk adalah Menko Polhukam, Kapolda, Kapolri, Gubernur yang bahkan terkesan melindungi. Justru inilah yang membuat pertanyaan besar ada apa di balik  semua itu?

Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan kasus Ahok akan terulang kembali. Sebenarnya pemerintah harus berkaca dari kasus Ahok dahulu apalagi ini menjelang Pilpres, tentu sangat berpengaruh sekali. Lihatlah Ahok, walaupun dengan dukungan dana yang begitu besar, pengusaha-pengusaha kelas kakap atau bahkan ada Sembilan Naga di belakangnya namun tetap tak mampu bertahan.

Kegaduhan Nasional yang dipicu pembakaran bendera tauhid yang disinyalir bendera HTI ini akan berimplikasi pada kontelasi politik dalam negeri. Reaksi umat yang semakin hari semakin kuat adalah bukti ketidakpercayaan publik pada sikap penguasa. Dan jika hal ini dibiarkan dan tidak segera diselesaikan dengan sebuah keputusan yang memuaskan, tidak menutup kemungkinan aksi bela bendera tauhid semakin meluas dan berubah menjadi gerakan nasional. Dan bahkan menjadi searah dengan gerakan ganti presiden. Inilah sinyal kecil dari kegagalan Jokowi di tahun 2019 jika tidak segera disikapi.

Ada alasan kuat mengapa kasus ini menjadi sinyal kegagalan Jokowi? Kita semua tahu semakin kuat reaksi ditengah-tengah umat akan semakin membahayakan posisi Jokowi. Lihatlah bagaimana kasus yang menimpa Ahok dulu. Walaupun faktanya berbeda tapi masih ada kemiripan. Artinya, jika Jokowi terlihat di belakang mereka tentu akan semakin kuat kebencian umat. Tapi walaupun Jokowi tidak memperlihatkan diri atau bahkan berdiam diri, maka akan menimbulkan kesan melindungi. Karena sebenarnya umat sudah tahu siapa orang-orang yang berada dibelakang pembakaran bendera tauhid ini.

Sinyal kegagalan ini walaupun kecil, tapi sangat kuat. Gelombang aksi yang hampir setiap hari bahkan di setiap daerah diseluruh Indonesia suatu saat akan memuncak. Lebih-lebih sebentar lagi jutaan umat Islam akan berkumpul untuk melakukan aksi reuni 212 di bulan Desember mendatang. Sinyal kegagalan inipun diperkuat oleh hasil Pilkada Serentak tahun 2018. PDIP adalah partai pengusung utama Jokowi. Namun di Pulau Jawa saja, partai berlambang banteng ini hanya meraih kemenangan di Jawa Tengah. Dari banyak calon yang diusung oleh PDIP di tahun 2018 secara umum dapat dikalahkan. Artinya secara umum PDIP sudah sangat lemah. Dan jika partai pengusungnya sudah tidak kuat lagi, maka peluang Jokowi akan lebih lemah.

Demikian juga PKB sebagai Partai koalisi yang notabene adalah kaum Nahdhiyin, suaranya kini telah terpecah. Banyak dari kalangan NU bahkan dari tokoh-tokohnya, lebih-lebih dzurriyahnya atau keturunan pendirinya sudah berseberangan dengan pimpinan pusat dan bahkan tidak mengakui kepemimpinan PBNU saat ini. Dengan adanya kasus pembakaran bendera tauhid ini merekapun tidak sepaham. Artinya suara dukungan untuk Jokowi dari partai koalisi inipun akan berkurang dratis.

Sinyal lebih kuat lagi adalah kegagalan Jokowi dalam memimpin negeri ini. Karena umat sebenarnya sudah jenuh dengan arogansi penguasa yang telah banyak mengkriminalisasi ulama, mempersekusi para aktivis Islam, mahasiswa, membubarkan ormas Islam, serta mengkriminalisasi ajaran Islam. Belum lagi masalah hutang negara yang semakin menumpuk, anjloknya nilai rupiah terhadap dollar, penjualan asset negara, kemiskinan, pengangguran, dll.

Inilah beberapa sinyal kekalahan Jokowi dalam pilpres 2019 nanti. Apakah hal ini akan menjadi sebuah kenyataan pahit ? sungguh ini akan tergantung dengan strategi politik yang akan diambil. Apakah kebijakan politiknya akan menyentuh perasaan umat atau malah menambah kebencian umat?

FUI Cirebon Tuntut Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Dihukum Berat

CIREBON (Jurnalislam.com) – Forum Umat Islam (FUI) Cirebon Raya menyatakan mengutuk keras pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser. FUI mendesak aparat untuk menindaktegas dan menghukum para pelakunya.

“Meminta kepada aparat keamanan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi yagn seberat-beratnya kepada oknum banser yang telah melakukan perbuatan keji tersebut,” kata Ketua FUI Vidiawan dalam Aksi Bela Tauhid di Alun-alun Cirebon siang ini, Sabtu (27/10/2018).

FUI juga mendesak GP Ansor dan oknum banser untuk meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan tersebut.

Baca juga: 

“Kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi, sehingga menimbulkan suasana yang tidak kondusif yang berdampak pada rusaknya persatuan umat dan bangsa,” pungkasnya.

Ratusan massa umat Islam mengikuti Aksi Bela Tauhid di alun-alun Cirebon. Dengan membawa bendera tauhid, massa juga membentangkan spanduk berisi kecaman kepada para pelaku pembakaran bendera.

Seperti diketahui, sejumlah oknum Banser membakar bendera tauhid dalam acara peringatan Hari Santri Nasional di alun-alun Balubur, Limbangan, Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018).

Sempat Ada Penolakan, Aksi Bela Tauhid di Cirebon Berjalan Tertib

CIREBON (Jurnalislam.com) – Aksi unjukrasa mengecam pembakaran bendera tauhid belum berhenti. Hari ini, Sabtu (27/10/2018) ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Nahi Munkar (ALMANAR) mengadakan Aksi Bela Tauhid di Alun-alun Kota Cirebon.

“Ya, sempat ada penolakan dari IPNU, tapi tadi ada beberapa kesepakatan dengan polisi yang tadinya kita akan melakukan longmarch ditiadakan dan kita hanya berkonsentrasi di alun-alun kejaksan,” kata Koordinator ALMANAR, Abu Usamah kepada Jurnalislam.com di sela-sela aksi.

Longmarch yang semula menjadi salah satu agenda aksi ditiadakan untuk menghormati PCNU Cirebon Raya yang telah membatalkan aksi tandingan. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Koordinator Almanar, Abu Usamah. Foto: Damus/Jurniscom

“Ini kita lakukan karena dari pihak NU juga sudah kooperatif, dengan melarang diadakannya aksi tandingan di tempat yang sama” jelas Abu Usamah.

Dalam aksinya, massa membawa bendera berwarna hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid. Bukan hanya orang dewasa, tampak juga anak-anak dan pelajar ikut aksi bela kalimat tauhid ini.

“Aksi hari ini adalah sebagai bentuk aksi membela kalimat tauhid yang dilecehkan dan dibakar oleh sekelompok ormas,” ujar Koordinator Aksi lainnya, Abu Noval.

Ia kembali menegaskan bahwa bendera yang dibakar oleh oknum Banser itu bukan bendera HTI melainkan bendera umat Islam.

“Itu bendera tauhid bukan bendera HTI yang dibakar oknum ormas. Jadi kami merasa marah ketika kalimat tauhid dilecehkan,” katanya.

Ditolak Umat Islam, Acara Majelis Lucu Indonesia di Semarang Batal

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Acara Rispo “Dewa Komedi Indonesia” yang sedianya akan digelar oleh Majelis Lucu Indonesia pada tanggal 4 November 2018 di Hotel Quest Semarang akhirnya dibatalkan pihak Hotel setelah mendapat  penolakan dari ormas Islam Semarang.

Kanit intel Polrestabe Semarang, AKP Slamet Purnomo melalui pesan WhatsApp kepada Forum Islam Ummat Semarang (FUIS) menyampaikan bahwa acara komedi yang akan digelar tersebut batal setelah mendapat penolakan dari ormas.

“Tolong sampaikan ke rekan FUIS untuk giat di Hotel Quest batal setelah kita sampaikan mau ada penolakan dari Ormas Islam,” bunyi pesan singkat yang diterima oleh FUIS, Sabtu (27/10/2018)

Terpisah, Humas FUIS Ustadz Danang Setyadi membenarkan hal tersebut. “Hotelnya sudah saya telepon dan acara majelis lucu yang rencana tangal 4 November memang sudah dibatalkan oleh pihak hotel quest,” ucapnya kepada Jurnalislam.com.

Sayangnya, lanjut Ustadz Danang, pihak hotel tidak memberikan alasan kenapa acara tersebut dibatalkan. FUIS sendiri menolak acara tersebut digelar di Semarang karena dalam menyajikan lawakan membawa-bawaAgama untuk bahan bercadaan.

“Ya dari kami memprotes karena mereka membawa agama sebagai bahan lawakan, ya itu kan penghinaan,” jelasnya.

Seperti pesan yang disampaikan FUIS sebelumnya yang juga beredar di Youtube, FUIS akan mendatangi Hotel Quest jika acara tetap dijalankan.

Ini Hasil Pertemuan JK dengan Para Pimpinan Ormas Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengumpulkan para tokoh dan pimpinan ormas Islam untuk meredam aksi massa yang Jumat siang melayangkan protes di sejumlah daerah di tanah air terkait pembakaran bendera tauhid yang terjadi di Garut pada saat Hari Santri Nasional (HSN).

Dalam pertemuan tersebut diputuskan beberapa poin yang diyakini dapat membuat persatuan dan kesatuan umat akan kembali bersatu kembali.

Pernyataan bersama:

1. Para pimpinan ormas mengingatkan bahwa bangsa indonesia dalam mengatasi berbagai masalah bangsa, selalu diselesaikan dengan musyawarah dan saling pengertian, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan kearifan dan nilai luhur bangsa.

2. Para pimpinan ormas islam yang hadir menyesalkan terjadinya pembakaran bendera di Kec. Limbangan, Kab. Garut dan sepakat untuk menjaga suasana kedamaian, serta berupaya meredam situasi agar tidak terus berkembang ke arah yg tdk diinginkan.

Baca juga: 

3. Dalam upaya menyelesaikan dan mengakhiri masalah ini, oknum yang membakar dan membawa bendera telah menyampaikan permohonan maaf. Pimpinan GP Ansor serta Nahdlatul Ulama menyesalkan peristiwa tersebut, dan telah memberikan sanksi atas perbuatan yang melampaui prosedur yang telah ditetapkan dan berharap tdk terulang kembali

4. Menyerukan kepada seluruh rakyat indonesia untuk bergandengan tangan, menolak segala bentuk upaya adu domba dan pecah belah. Mengajak seluruh masyarakat untuk menahan diri agar tidak lagi memperbesar masalah. Khususnya kepada segenap umat islam marilah kita bersama-sama mengedepankan dakwah islam yg bil hikmah wal mauidzatii hasanah.

5. Apabila terdapat pelanggaran hukum di dalam peristiwa ini, diserahkan kepada polri utk menyelesaikan berdasarkan hukum yang berlaku.

Erdogan: Keterangan Saudi atas Terbunuhnya Khashoggi adalah Jawaban Kekanak-kanakan

TURKI (Jurnalislam.com) – Turki telah meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi atas pembunuhan Jamal Khashoggi, menuntut Riyadh mengungkapkan siapa yang memberi perintah untuk membunuh wartawan tersebut di konsulat kerajaan di Istanbul.

“Jika Anda bertekad untuk mengangkat kafan misteri ini, maka ini adalah titik kunci dari kerja sama kami,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidato pada hari Jumat (26/10/2018) di ibukota Turki, Ankara.

Di depan anggota provinsi dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party), presiden mengatakan pemerintah Turki telah mengumpulkan lebih banyak bukti, yang akan dipublikasikan “ketika saatnya tiba”.

Dia menambahkan bahwa dia menduga pembunuh Khashoggi berada di antara 18 pria yang ditangkap oleh Arab Saudi sehubungan dengan kasus ini, dan meminta otoritas kerajaan untuk mengidentifikasi “agen lokal” yang mereka katakan membuang jasad wartawan itu.

“Ke-18 orang ini tahu siapa yang membunuh Khashoggi. Tidak ada penjelasan lain untuk ini. Karena pelaku ada di antara mereka. Jika pelaku tidak ada di antara mereka, lalu siapakah sang kolaborator lokal?” Erdogan bertanya.

“Anda harus mengumumkannya,” tambahnya.

Erdogan menyebut berbagai penjelasan kerajaan atas penghilangan dan kematian Khashoggi sebagai “pernyataan kekanak-kanakan yang tidak sesuai dengan kenegarawanan atau keseriusan sebuah negara”.

Dia juga mengatakan jaksa penuntut umum Saudi akan tiba di Istanbul pada hari Ahad dan bertemu dengan para penyelidik Turki.

Khashoggi, 59 tahun, kolumnis Washington Post dan kritikus putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) lenyap setelah memasuki konsulat Saudi di kota Turki pada 2 Oktober.

Setelah lebih dari dua pekan penyangkalan, kerajaan akhirnya mengkonfirmasi kematian Khashoggi pada 20 Oktober, mengklaim bahwa dia mati dalam perkelahian.

Dalam pidato besar pertamanya pada kasus awal pekan ini, Erdogan menyebut Khashoggi “korban pembunuhan sadis” dan menyerukan penyelidikan internasional independen atas insiden tersebut. Dia juga menggunakan kata-kata penghormatan untuk Raja Salman Saudi, tetapi tidak merujuk nama MBS secara langsung.

Menurut Mehmet Celik, seorang wartawan dari surat kabar berbahasa Inggris pro-pemerintah Daily Sabah, Erdogan tampak mengeraskan nadanya dengan pernyataan terbarunya.

“Saya pikir [nada] dan bahasa yang digunakannya signifikan dalam pidato hari ini; dia pasti mengecam lebih keras,” kata Celik kepada Al Jazeera.

“Dia mengatakan penjelasan yang dibuat sejauh ini oleh Arab Saudi adalah ‘kekanak-kanakan’ dan dia menuntut jawaban yang lebih konkrit dan konsisten,” tambah Celik.

Sinan Ciddi, direktur eksekutif di Institute of Turkish Studies di Georgetown University, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Erdogan berusaha untuk tidak hanya meningkatkan sikap Turki yang tidak hanya vis-a-vis (oposisi) Arab Saudi, tetapi juga menutup kembali hubungan Ankara yang memburuk dengan sekutu internasionalnya itu.

“Dia menunjukkan kepada para mitra bahwa mungkin ada masalah di Turki, tetapi sedikitnya Turki bukan Arab Saudi.”

Baca juga: 

Ciddi mengatakan Erdogan telah mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati dibandingkan dengan bagaimana dia menangani isu-isu kebijakan luar negeri lainnya di masa lalu.

“Menjelang pemilihan presiden Turki, Erdogan mengambil sikap yang sangat agresif terhadap Eropa – dan itu menjadi bumerang baginya,” kata Ciddi, mengacu pada hubungan tegang Turki dengan negara-negara besar Eropa.

“Kali ini dia lebih berhati-hati.

“Misalnya, dia telah mengatakan bahwa orang Turki memiliki lebih banyak bukti, tetapi belum membeberkan bukti yang sebenarnya di luar sana. Itu benar-benar akan mengganggu orang-orang Saudi, jadi dia belum melakukannya.”

Sebagai hasil dari penanganan Erdogan, Ciddi mencatat, Turki tampaknya bangkit lebih kuat setelah krisis dan dinilai lebih serius di tingkat internasional.

“Ini benar-benar hadiah yang mendarat di pangkuannya.”

Pidato Erdogan terjadi sehari setelah beberapa kali kewaspadaan diadakan di seluruh dunia untuk memperingati wartawan yang terbunuh.

Anggota the Jamal Khashoggi Friends Association berkumpul di luar konsulat Saudi di Istanbul dan mengatakan mereka akan melakukan apa saja untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan itu.

“Pada kesempatan ini, dan dari tempat ini di mana semangat Jamal telah hilang, kami dengan jelas menyatakan bahwa kami tidak akan menerima kompromi dalam kasus pembunuhannya, dan bahwa kami tidak akan berdiam diri pada setiap upaya untuk menghindari kejahatan dari pertanggungjawaban dan hukuman,” kata kelompok itu.

Pasukan Israel Bunuh 5 Warga Palestina dalam Aksi Great March of Return

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Selama lebih dari enam bulan, warga Palestina di Jalur Gaza telah melakukan protes di sepanjang pagar dengan Israel menuntut hak mereka untuk kembali ke rumah dan tanah keluarga mereka sejak diusir dari 70 tahun yang lalu oleh penjajah zionis.

The Great March of Return memuncak pada 15 Mei untuk menandai apa yang disebut Palestina sebagai Nakba, atau Bencana – sebuah referensi untuk penghilangan paksa 750.000 warga Palestina dari rumah dan desa mereka guna terbentuknya negara Israel pada tahun 1948.

Demonstrasi massa hari Jumat terus berlanjut sejak itu.

Sejak protes dimulai pada 30 Maret, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 210 warga Palestina di daerah kantong yang terkepung dan melukai lebih dari 18.000 orang, menurut pejabat kesehatan di Gaza, kansir Aljazeera, Jumat (26/10/2018).

Jumat, 26 Oktober

Pasukan penjajah Israel telah menembakkan peluru tajam dan peluru karet berlapis baja ke arah warga Palestina yang memprotes di sepanjang pagar Israel, menewaskan sedikitnya lima dari mereka dan melukai 170 lainnya, menurut para pejabat medis.

Informasi korban tewas dan cedera dinyatakan oleh Ashraf al-Qifra, juru bicara kementerian kesehatan di Gaza.

Baca juga: 

Empat dari lima orang yang meninggal dunia diidentifikasi sebagai Ayesh Sha’th, 23, Saeed Abu Lebdeh, 22, Nassar Abu Taym, 23 dan Mohammad Abdul-Nabi, 27, kantor berita Palestina Wafa melaporkan.

Beberapa dari mereka yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk perawatan, sementara yang lain mendapat bantuan medis di klinik lapangan di sepanjang perbatasan.

Jumat, 19 Oktober

Sedikitnya 130 orang Palestina terluka, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan

Tentara Israel telah melukai sedikitnya 130 warga Palestina termasuk 25 anak-anak, menurut juru bicara kementerian kesehatan Palestina, Ashraf al-Qidra.

Pejabat itu mengatakan para pemrotes telah ditargetkan dengan peluru tajam oleh pasukan zionis dan bahwa belum ada korban jiwa Palestina sejauh ini selama protes hari Jumat.

Itu adalah hari Jumat ke-30 berturut-turut dimana para warga Palestina berkumpul di zona penyangga Gaza-Israel untuk memprotes penjajahan Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Haedar Nashir: Jangan Sampai Pembawa Bendera Diproses, Pelaku Pembakaran Tidak Diproses

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, hadiri pertemuan dengan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla beserta seluruh Pimpinan Ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia di kediaman Wapres, Jumat (26/10) malam. Pertemuan tersebut membahas terkait insiden pembakaran bendera di Garut.

Pertemuan tersebut dinilai Haedar menjadi forum yang tepat untuk mempertegas sikap Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menyampaikan sikapnya atas insiden tersebut.

Menurut Haedar,  ada tiga point pandangan dan sikap yang disampaikan oleh Haedar mewakili Muhammadiyah dalam forum silaturahim ini.

Pertama, kenyataan dan fakta yang tidak terbantah bahwa telah terjadi pembakaran bendera bertuliskan lafadz Laa Ilaaha Illa Allah di Limbangan Garut yang menimbulkan reaksi keras dan  luas di masyarakat karena menyangkut hal sensitif dalam diri umat Islam yang harus diredam dan dicari penyelesaian yang sebaik-baiknya.

Selanjutnya yang kedua Haedar menegaskan,  jika HTI dan organisasi lain yang dilarang oleh pengadilan sesuai UU Ormas yang berlaku telah memperoleh ketetapan hukum maka perlu kepastian institusi siapa yang harus melaksanakan eksekusi, termasuk terhadap simbol atau atribut organisasinya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Baca juga: 

“Tidak dibenarkan ada ormas atau institusi non negara atau di luar aparat penegak hukum yg melakukan eksekusi, apalagi dengan caranya sendiri yg menimbulkan reaksi di ruang publik”, tegas Haedar lansir Muhammadiyah.or.id.

Ketiga menurut Haedar, bahwa Muhammadiyah tetap meminta agar kasus pembakaran bendera tersebut diselesaikan secara hukum yang adil, objektif, dan seksama.

“Jadi nantinya jangan sampai terjadi misalnya pembawa bendera yag diproses hukum, sementara pelaku pembakaran tidak diproses secara hukum”, tambahnya.

Oleh karena itu, dalam menghadapi masalah ini,  Haedar berharap,  semua pihak harus berjiwa besar dan tidak mengembangkan pikiran dan sikap yang apologi dalam menghadapi dan menyelesaikan kasus pembakaran bendera tersebut. Namun masyarakat khususnya umat Islam juga harus tenang dan dewasa dalam menghadapi masalah ini demi kemaslahatan semua.

Haedar juga menuturkan, yang dinyatakan Muhammadiyah maupun Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan penyesalan dan keprihatinan atas pembakaran bendera tersebut mengandung pesan agar dihormatinya kalimat Laa Ilaaha Illah yang bagi umat Islam memang hal yang sensitif.

“Selebihnya agar umat Islam tenang dan tidak berlebihan dalam mereaksi kejadian yang tidak menyenangkan itu. Sebab reaksi umat sudah sedemikian keras dan luas,” pungkas Haedar.Hadir dalam pertemuan tersebut Mensesneg Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim, Panglima TNI dan Kapolri. Serta hadir pula tokoh Islam Din Syamsuddin, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, Nazaruddin Umar serta Ketua-ketua Ormas Islam lainnya.

 

Seniman Idlib Lukis Grafiti Jamal Khashoggi sebagai Bentuk Solidaritas

IDLIB (Jurnalislam.com) – Seorang seniman grafiti di Idlib Suriah melukis dinding bangunan yang rusak akibat serangan udara untuk menunjukkan solidaritas dengan jurnalis Saudi yang terbunuh Jamal Khashoggi dan wartawan lain yang memiliki nasib yang sama.

Selama dua tahun terakhir, Aziz Asmar, seorang penduduk berusia 35 tahun dari distrik Binnish Idlib, juga telah melukis gambar konflik Suriah, Palestina, dan masalah-masalah lain yang sudah berlangsung bertahun-tahun di kawasan regional dan internasional.

Mural terbaru Asmar menggambarkan kematian Khashoggi, yang terakhir terlihat memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Sejak itu, pihak berwenang Saudi mengakui bahwa wartawan itu tewas di dalam gedung konsulat.

Asmar juga melukis mural yang menggambarkan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad.

Dalam satu lukisan, Asmar menggambarkan al-Assad menunjuk kepada Mohamad bin Salman, putra mahkota putra mahkota Arab Saudi, dan berkata, “Murid saya yang baik.”

Asmar mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa lukisan-lukisan itu adalah caranya menunjukkan solidaritas dengan Khashoggi dan banyak jurnalis yang terbunuh oleh rezim Assad.

“Saya tidak ingin melihat tokoh-tokoh oposisi atau wartawan memiliki nasib seperti Khashoggi – kematian di tangan rezim tirani,” katanya.

Seniman itu mendesak rezim semacam itu untuk terlibat dalam dialog daripada hanya membunuh mereka yang memiliki pendapat berbeda.

Baca juga:

Sebagai kolumnis untuk Washington Post, Khashoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober ketika dia memasuki konsulat Saudi di Istanbul.

Setelah 2 pekan menyangkal mengetahui keberadaannya, para pejabat Saudi beberapa hari lalu akhirnya mengakui bahwa wartawan itu telah tewas di dalam konsulat.

Di tengah kecaman media internasional yang sedang berlangsung, para pemimpin dunia telah meminta pemerintah Saudi untuk “memperjelas” keadaan kematian jurnalis

Sinead O’Connor Masuk Islam Ganti Nama Menjadi ‘Davitt Shuhada’

IRLANDIA (Jurnalislam.com) – Penyanyi Irlandia Sinead O’Connor mengumumkan dia telah masuk Islam dan mengatakan dia telah mengubah namanya menjadi ‘Davitt Shuhada’.

Wanita berusia 51 tahun itu memposting selfies dirinya mengenakan jilbab di Twitter dalam beberapa hari terakhir, serta video ia mengumandangkan Azan, atau panggilan untuk berdoa.

Dia tweeted pada 19 Oktober: “Ini adalah untuk mengumumkan bahwa saya bangga telah menjadi seorang Muslim. Ini adalah kesimpulan alami dari perjalanan para teolog yang cerdas. Semua penelaahan tulisan suci mengarah ke Islam. Yang membuat semua kitab suci lainnya menjadi berlebihan.”

O’Connor, yang sekarang berganti nama Davitt, mencapai sukses luas pada tahun 1990 dengan cover-nya ‘Nothing Compares 2 U’, sebuah lagu yang ditulis oleh mendiang Prince.

Baca juga:

Kontroversi pernah mengikuti kariernya. Penyanyi itu merobek gambar Paus Yohanes Paulus II selama penampilan Saturday Night Live pada tahun 1992 sebagai protes terhadap Gereja Katolik.

Pada akhir 1990-an, ia ditahbiskan sebagai imam oleh Gereja Ortodoks Katolik dan Apostolik Irlandia, yang merupakan kelompok Katolik independen yang tidak bersekutu dengan gereja Katolik arus utama.

Dia mengumumkan diri sebagai seorang lesbian selama wawancara pada tahun 2000, yang kemudian ditarik kembali.

Berasal dari Irlandia, penyanyi ini telah menjadi pendukung kuat dari Irlandia yang bersatu, di mana Inggris akan melepaskan kendali atas Irlandia Utara.