Sinyal Kekalahan Jokowi Di Balik Pembakaran Bendera Tauhid

Sinyal Kekalahan Jokowi Di Balik Pembakaran Bendera Tauhid

Oleh: AB LATIF, Direktur Indo Politic Wacth

Hari santri yang diperingati secara nasional telah tercorong dengan aksi su’ul adab oleh sebagian oknum Banser. Santri yang terkenal dengan sifat wara’, alim, dan sholih mendadak terkesan urakan dan bahkan nyaris seperti preman jalanan.  Bagaimana tidak, kalimat tauhid yang menjadi inti ajaran islam atau bahkan sepertiga dari Al-Qur’an mereka bakar dengan bangganya di akhir apel peringatan hari santri. Otomatis hal ini mengundang respon yang luar biasa dari kalangan kaum muslimin.

Sungguh ini adalah pelecehan yang luar biasa bagi islam dan umatnya. Karena hal ini dilakukan tidak dikamar ataupun di dalam rumah yang tertutup, tapi di tempat umum yang terbuka dan bahkan diiringi lagu dan nyanyian dengan perasaan penuh bangga dan bahkan menggunakan seragam dan atribut resminya. Dan anehnya, bukannya minta maaf atas tindakan lancang anggotanya yang melecehkan kalimat tauhid, pimpinan Banser justru berkoar mengumbar sejuta dalil untuk membenarkan perilaku anggotanya. Dengan alasan bendera tauhid itu milik HTI, dan membakarnya dalam rangka memuliakan kalimat tauhid tersebut serta berbagai alibi dilontarkan sebagai pembenaran. Walau semua bukti sudah mengarah pada penistaan agama, ternyata sampai hari ini pun mereka belum minta maaf dan menyesali.

Buah dari kasus ini adalah munculnya aksi bela bendera tauhid dimana-mana. Sejak hari pertama pembakaran hingga saat ini aksi semakin membesar dan meluas bahkan tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara juga mengecam keras aksi pembakaran bendera Rasulullah SAW itu. Lebih-lebih pasca dinyatakannya pelaku pembakaran bendera Rasulullah atau kalimat tauhid di garut tidak bersalah oleh Polda Jawa Barat. (republika.co.id )

Bau konspirasi begitu menyengat, ada upaya mengkriminalisasikan bendera tauhid yang mereka identikkan dengan HTI. Padahal sudah jelas apa yang disampaikan oleh MUI, bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI. Bahkan MUI pun mereka kecam dengan fitnah membuat kegaduhan. Sungguh ini hal yang tak dapat dinalar. Sungguh aneh jika Banser yang berulah, tapi justru yang sibuk adalah Menko Polhukam, Kapolda, Kapolri, Gubernur yang bahkan terkesan melindungi. Justru inilah yang membuat pertanyaan besar ada apa di balik  semua itu?

Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan kasus Ahok akan terulang kembali. Sebenarnya pemerintah harus berkaca dari kasus Ahok dahulu apalagi ini menjelang Pilpres, tentu sangat berpengaruh sekali. Lihatlah Ahok, walaupun dengan dukungan dana yang begitu besar, pengusaha-pengusaha kelas kakap atau bahkan ada Sembilan Naga di belakangnya namun tetap tak mampu bertahan.

Kegaduhan Nasional yang dipicu pembakaran bendera tauhid yang disinyalir bendera HTI ini akan berimplikasi pada kontelasi politik dalam negeri. Reaksi umat yang semakin hari semakin kuat adalah bukti ketidakpercayaan publik pada sikap penguasa. Dan jika hal ini dibiarkan dan tidak segera diselesaikan dengan sebuah keputusan yang memuaskan, tidak menutup kemungkinan aksi bela bendera tauhid semakin meluas dan berubah menjadi gerakan nasional. Dan bahkan menjadi searah dengan gerakan ganti presiden. Inilah sinyal kecil dari kegagalan Jokowi di tahun 2019 jika tidak segera disikapi.

Ada alasan kuat mengapa kasus ini menjadi sinyal kegagalan Jokowi? Kita semua tahu semakin kuat reaksi ditengah-tengah umat akan semakin membahayakan posisi Jokowi. Lihatlah bagaimana kasus yang menimpa Ahok dulu. Walaupun faktanya berbeda tapi masih ada kemiripan. Artinya, jika Jokowi terlihat di belakang mereka tentu akan semakin kuat kebencian umat. Tapi walaupun Jokowi tidak memperlihatkan diri atau bahkan berdiam diri, maka akan menimbulkan kesan melindungi. Karena sebenarnya umat sudah tahu siapa orang-orang yang berada dibelakang pembakaran bendera tauhid ini.

Sinyal kegagalan ini walaupun kecil, tapi sangat kuat. Gelombang aksi yang hampir setiap hari bahkan di setiap daerah diseluruh Indonesia suatu saat akan memuncak. Lebih-lebih sebentar lagi jutaan umat Islam akan berkumpul untuk melakukan aksi reuni 212 di bulan Desember mendatang. Sinyal kegagalan inipun diperkuat oleh hasil Pilkada Serentak tahun 2018. PDIP adalah partai pengusung utama Jokowi. Namun di Pulau Jawa saja, partai berlambang banteng ini hanya meraih kemenangan di Jawa Tengah. Dari banyak calon yang diusung oleh PDIP di tahun 2018 secara umum dapat dikalahkan. Artinya secara umum PDIP sudah sangat lemah. Dan jika partai pengusungnya sudah tidak kuat lagi, maka peluang Jokowi akan lebih lemah.

Demikian juga PKB sebagai Partai koalisi yang notabene adalah kaum Nahdhiyin, suaranya kini telah terpecah. Banyak dari kalangan NU bahkan dari tokoh-tokohnya, lebih-lebih dzurriyahnya atau keturunan pendirinya sudah berseberangan dengan pimpinan pusat dan bahkan tidak mengakui kepemimpinan PBNU saat ini. Dengan adanya kasus pembakaran bendera tauhid ini merekapun tidak sepaham. Artinya suara dukungan untuk Jokowi dari partai koalisi inipun akan berkurang dratis.

Sinyal lebih kuat lagi adalah kegagalan Jokowi dalam memimpin negeri ini. Karena umat sebenarnya sudah jenuh dengan arogansi penguasa yang telah banyak mengkriminalisasi ulama, mempersekusi para aktivis Islam, mahasiswa, membubarkan ormas Islam, serta mengkriminalisasi ajaran Islam. Belum lagi masalah hutang negara yang semakin menumpuk, anjloknya nilai rupiah terhadap dollar, penjualan asset negara, kemiskinan, pengangguran, dll.

Inilah beberapa sinyal kekalahan Jokowi dalam pilpres 2019 nanti. Apakah hal ini akan menjadi sebuah kenyataan pahit ? sungguh ini akan tergantung dengan strategi politik yang akan diambil. Apakah kebijakan politiknya akan menyentuh perasaan umat atau malah menambah kebencian umat?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.