Berita Terkini

Respon Pembakaran Bendera, Pemuda Fosikom Buat Grafiti Tauhid

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ada beragam cara umat Islam dalam mengekspresikan kekecewaannya atas pembakaraan bendera tauhid. Dari mulai aksi pawai dengan bendera tauhid, memasang baliho kalimat tauhid, hingga melukis grafiti kalimat tauhid seperti yang dilakukan beberapa pemuda dari Forum Silaturahmi dan Komunikasi Antar Masjid (Fosikom) Cemani, Sukoharko, Jawa Tengah.

Mereka membuat grafiti lafaz tauhid berukuran 3×2 meter di samping tembok Masjid Mutaqin Cemani pada Selasa (30/10/2018).

“Karena reaksi kita dari kasus kejadian bendera tauhid yang dibakar oleh banser, awalnya kita memang suka gambar dan banyak juga pesanan dari TK, sekolah ataupun rumah makan, tapi untuk kaligrafi baru kali ini,” kata Erdin Widi penggagas munculnya grafiti tauhid tersebut kepada Jurnalislam.com, Rabu (1/11/2018).

Proses pembuatan grafiti tauhid. Foto: Arie/Jurnis

Erdin mengaku tidak menemui kesulitan yang berarti dalam mengerjakan grafity tauhid tersebut. Hanya menghabiskan waktu 3 jam, grafiti kalimat tauhid dengan warna latar hitam itu selesai dikerjakan.

“Kalo catnya cepat kering paling bada isak dikerjakan sekitar jam 10 malam sudah selesai,” ungkapnya.

Baca juga :

Ia berharap, apa yang dilakukannya tersebut dsapat membuat masyarakat paham bahwa bendera tauhid adalah panji Rasululloh yang menjadi kebanggaan seluruh kaum muslimin dan tidak diidentikan dengan ormas atau golongan tertentu.

“Semoga ini bisa mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa ini adalah kalimat tauhid adalah kalimat kebanggaan umat islam dan milik umat Islam dan bukan milik organisasi tertentu,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengaku siap dan gratis apabila ada yang ingin mengunakan jasanya untuk membuat grafiti tauhid seperti apa yang dikerjakaan di masjid mutaqin tersebut.

“Mungkin bisa, Bantu untuk beli bahan saja, karena mungkin ini termasuk cara kami untuk syi’ar,” tandasnya.

Taliban Kirim 5 Mantan Tahanan Guantanamo ke Perundingan Damai di Qatar

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Imarah Islam Afghanistan (Taliban) telah menunjuk lima mantan komandan yang menghabiskan lebih dari satu dekade sebagai tahanan di Teluk Guantanamo sebagai anggota kantor politiknya di Qatar, di mana pembicaraan tentatif untuk mengakhiri konflik Afghanistan sedang berlangsung.

Lima komandan tersebut, Mohammad Fazl, Mohammed Nabi, Khairullah Khairkhwa, Abdul Haq Wasiq dan Noorullah Noori, ditahan selama 12 tahun di pusat penahanan AS sebelum dibebaskan pada tahun 2012 sebagai bagian dari pertukaran tahanan sebagai imbalan bagi tentara AS Berg Bergdahl.

Mereka menetap di Qatar setelah pembebasan mereka tetapi sampai sekarang belum terlibat langsung dalam kegiatan politik, juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid mengatakan pada hari Rabu (31/10/2018), lansir Aljazeera.

Pengumuman itu muncul di tengah-tengah kegiatan diplomatik yang dipimpin AS untuk meyakinkan kelompok bersenjata terbesar Afghanistan tersebut guna mengakhiri perang selama 17 tahun.

Kantor Taliban dibuka di Doha, ibukota Qatar, pada tahun 2013 atas permintaan AS untuk memfasilitasi pembicaraan.

Awal bulan ini, para pejabat Taliban bertemu dengan utusan khusus AS yang baru-baru ini ditunjuk, Zalmay Khalilzad di Doha, setelah bertemu Alice Wells, wakil sekretaris asisten utama untuk Asia Selatan dan Tengah, di sana awal tahun ini.

Seorang pejabat Taliban di Qatar mengatakan bahwa walaupun para mantan komandan, yang dekat dengan almarhum Mullah Mohammad Omar pendiri gerakan Taliban, belum terhubung dengan kantor politik sebelumnya, kantor sebelumnya selalu meminta pendapat dan saran mereka.

Penunjukan itu dilakukan pada waktu yang “sangat sensitif” dan akan membantu memperkuat tim politik Taliban, kata pejabat kelompok itu kepada AFP.

Baca juga: 

Beberapa pengamat melihat langkah itu sebagai pertanda baik bagi upaya baru untuk membawa perdamaian di Afghanistan, yang telah dilanda perang sejak 2001.

“Taliban menunjukkan beberapa gerakan positif terhadap pembicaraan damai,” kata analis politik Atta Noori.

“Tim lama selalu gagal menyampaikan karena mereka tidak diberi otoritas yang cukup.”

Namun seorang diplomat Barat di Kabul tidak terlalu menyatakan optimisme. “Sepertinya mereka sedang mempersiapkan sesuatu, yang tidak saya ketahui,” katanya.

Penunjukan itu menyusul pembebasan tokoh senior Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, oleh Pakistan pekan lalu.

Kantor Taliban ditutup tak lama setelah dibuka pada 2013 ketika ditekan perihal bendera yang berkibar di luar kantor – bendera sama yang dikibarkan selama Taliban memerintah di Afghanistan.

Presiden Afganistan pada saat itu, Hamid Karzai, kemudian menghentikan upaya perdamaian, mengatakan kantor itu menampilkan diri sebagai kedutaan tidak resmi untuk pemerintah di pengasingan.

Bendera diturunkan dan kantor telah kosong tanpa pengumuman resmi tentang kemungkinan pembukaan kembali.

Pembicaraan dengan Taliban terjadi di tempat lain di Doha.

Serangan Udara Koalisi Arab Hantam Kamp Pelatihan Syiah Houthi, 150 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 150 pemberontak Syiah Houthi tewas dan ratusan lainnya terluka oleh serangan udara yang diluncurkan oleh koalisi Arab di kamp pelatihan milisi di distrik Marawha di Hodeidah.

Giant Brigades, pusat media militer Yaman mengutip sumber lapangan yang mengatakan bahwa pesawat koalisi meluncurkan beberapa serangan udara berat di kamp pelatihan milisi Houthi, dan bahwa militan Syiah yang didukung Iran tersebut memberlakukan penjagaan ketat di sekitar kamp dan mencegah kelompok manapun mendekat, lansir Al Arabiya, Rabu (31/10/2018).

Kendaraan Houthi terlihat mengangkut orang-orang  yang tewas dan terluka di luar kota setelah serangan.

Baca juga:

Rumah sakit di Hodeidah dipenuhi dengan mayat ratusan orang-orang bersenjata Houthi yang tewas dan terluka, dan pengawas keamanan Houthi diarahkan untuk berhenti menerima pasien lain, dan rumah sakit ditugaskan untuk menerima mayat milisi mereka yang tewas dan terluka akibat serangan.

Turki Turunkan Jumlah Pelanggaran Gencatan Senjata di Idlib 4 Kali Lipat

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Rusia pada hari Rabu (31/10/2018) memuji upaya Turki untuk pelaksanaan perjanjian atas Idlib Suriah, dengan melihat penurunan dalam pelanggaran gencatan senjata.

“Kami melihat hasil dari upaya yang dilakukan oleh Turki untuk menerapkan perjanjian pada Idlib. Jumlah pelanggaran gencatan senjata menurun hampir 4 kali, dari 773 pada September menjadi 197 pada Oktober,” kata Igor Konashenkov, jurubicara Kementerian Pertahanan Rusia, pada suatu briefing, lansir Anadolu Agency.

Baca juga: 

Upaya ini penting untuk normalisasi lebih lanjut di negara itu, kata Konashenkov.

Dia mencatat penarikan pejuang oposisi dan persenjataan berat di wilayah itu terus berlanjut.

Kunjungi PP Muhammadiyah, Rombongan PBNU Disambut “Nasi Arab”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Rabu (31/10/2018) mengunjungi Kantor PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya No. 62, Jakpus.

Dalam rombongan yang lebih dari sepuluh orang pengurus PBNU, juga nampak Ketua Banser Yaqut Cholil Qoumas, dan Sekjend PBNU Helmi Faisal.

Dalam kunjungannya, Said Agil Siradj bersama sepuluh orang pengurus PBNU disambut oleh Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dan beberapa Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, Anwar Abbas, Syafiq Mughni, Yunahar Ilyas, Agus Taufiqurrahman, Agung Danarto, Sekretaris Umum Abdul Mu’ti, Bendahara Umum Suyatno dan Komandan KOKAM Masyhuri.

Pertemuan silaturahmi PBNU ke Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah ini merupakan kelanjutan dari kunjungan PP Muhammadiyah ke Gedung PBNU, Jum’at (24/3).

Sebagai tuan rumah yang baik, PP Muhammadiyah menyambut ‘saudara tua’ dengan istimewa. Delegasi PBNU disuguhkan hidangan nasi kebuli dan liwet.

“Nasi Arab,” gurau Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

“Nasi Arab yang dinusantarakan,” jawab Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menanggapi Ketua Umum PBNU Sa’id Aqil Siradj.

Tubuh Khashoggi Dibuang Setelah Dipotong-potong di Gedung Konsulat Arab

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Tubuh wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, dibuang setelah dipotong-potong, kata Kepala Kantor Kejaksaan Umum Istanbul, Rabu (31/10/2018).

“Dengan cara direncanakan korban Jamal Khashoggi dicekik sampai mati saat ia memasuki gedung Konsulat Kerajaan Turki-Saudi pada 2 Oktober 2018 guna mengurus prosedur untuk pernikahannya. Ia tewas, setelah dipotong-potong tubuhnya lalu dibuang – sekali lagi ini – sejalan dengan rencana,” kata kantor kejaksaan dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan itu menegaslan bahwa pemerintah Turki dan Saudi telah mencapai kesepakatan bersama untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, mengungkapkan semua rincian dan membawa para pelaku dan komplotan ke pengadilan.

Sebagai bagian dari perjanjian, Jaksa Agung Saudi Saud al-Mujeb bersama dengan delegasi datang ke Turki pada 28 Oktober 2018 dan melakukan kunjungan kerja ke Kantor Kepala Penuntut Umum Istanbul pada 29 Oktober.

Selama pertemuan, jaksa Turki menyampaikan kepada pejabat Saudi yang berkunjung bahwa Khashoggi tewas di Turki dan pengadilan negara memiliki hak untuk menempatkan tersangka diadili sesuai dengan peraturan hukum Turki dan prinsip umum hukum universal, kata pernyataan itu.

Para jaksa juga mengulangi ekstradisi para tersangka yang dilaporkan telah ditangkap di Arab Saudi, tambahnya.

Dalam pertemuan yang sama, jaksa Turki juga bertanya secara tertulis tentang keberadaan Khashoggi dan “kolaborator lokal” dalam pembunuhan itu, serta “apakah mereka memiliki temuan dalam konteks penyelidikan mereka hingga tahap perencanaan pembunuhan”, kata pernyataan itu.

Pernyataan itu mencatat bahwa delegasi Saudi kembali mengunjungi Kantor Penuntut Istanbul pada 30 Oktober 2018, dan pertanyaan yang sama diajukan.

“Jaksa Saudi mengatakan, ‘Jawaban akan diberikan pada hari yang sama [30 Oktober]’,” kata kantor kejaksaan.

Namun dalam menanggapi pertanyaan tersebut Kantor Kejaksaan Saudi mengirim jawaban tertulis ke Kantor Kejaksaan Istanbul pada 31 Oktober, tanpa memberikan informasi tentang “kolaborator lokal” dalam pembunuhan Khashoggi, kata pernyataan itu.

Baca juga:

Awal bulan ini, kantor berita pers mengutip seorang pejabat Saudi yang mengatakan bahwa mayat Khashoggi telah diberikan kepada “kolaborator lokal” untuk diurus, tetapi tidak ada pejabat Saudi yang memberitahukan keberadaan mayat itu dalam catatan.

Dalam surat itu, jaksa penuntut umum Istanbul dan delegasi Turki juga diundang ke Arab Saudi, bersama dengan bukti yang mereka peroleh, sebagai bagian dari penyelidikan, tambahnya.

Menurut kantor kejaksaan Turki, surat Saudi mengatakan bahwa badan Khasoggi dapat ditemukan setelah tim investigasi gabungan bekerja di Arab Saudi dan juga dapat dipastikan jika pembunuhan itu direncanakan.

Kantor kejaksaan Turki mengatakan bahwa mereka tidak dapat mencapai hasil nyata dari pembicaraan ini meskipun ada niat baik dari kantor untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan itu.

Kantor Penuntut Umum Istanbul berbagi informasi berikut:

1- Korban Jamal Khashoggi dicekik sampai mati – dengan cara yang direncanakan – segera setelah ia memasuki gedung Konsulat Saudi pada 2 Oktober 2018 untuk prosedur pernikahan.

2 – Tubuh Khashoggi dibuang setelah dipotong-potong dengan cara terencana.

Penyelidikan berlanjut setelah seorang kerabat Khashoggi memanggil pihak berwenang yang kompeten karena dia tidak meninggalkan konsulat untuk waktu yang cukup lama, tambah pernyataan itu.

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya Arab Saudi mengatakan dia meninggalkan konsulat dalam keadaan masih hidup, namun beberapa pekan kemudian akhirnya mengakui dia telah dibunuh di sana.

Komunitas internasional menolak untuk menerima klaim Saudi bahwa insiden itu bukan pembunuhan terencana.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menekankan bahwa semua rincian kasus harus diungkapkan, termasuk yang memberikan instruksi untuk “pembunuhan terencana tersebut.”

Mahkamah Agung Pakistan Bebaskan Wanita Kristen dari Kasus Penistaan Agama

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Mahkamah Agung Pakistan telah membebaskan seorang wanita Kristen yang dihukum karena penodaan agama, hingga memicu protes oleh kelompok-kelompok sayap kanan yang telah menuntut eksekusinya selama bertahun-tahun.

Aasia Bibi dibebaskan dari semua tuduhan penodaan agama dan pihak berwenang diperintahkan untuk membebaskannya setelah vonis sembilan tahun hukuman mati, Hakim Agung Saqib Nisar mengumumkan di ibukota, Islamabad, pada hari Rabu (31/10/2018).

“Banding ini diperbolehkan. Keputusan Pengadilan Tinggi (the High Court), serta Pengadilan Trial (the Trial Court), dibatalkan. Akibatnya, keputusan hukuman mati yang diberikan kepada pemohon disisihkan dan dia dibebaskan dari tuduhan,” Nisar memberi tahu ruang sidang yang penuh sesak.

Pada Rabu malam, Perdana Menteri Imran Khan mengeluarkan peringatan bahwa setiap jalan yang di-blokade akan mendapat tanggapan, sambil meminta warga Pakistan untuk menghormati putusan itu.

“Mereka menghasut Anda untuk keuntungan politik mereka sendiri, Anda tidak boleh terjebak oleh mereka demi negara, mereka tidak melakukan pelayanan terhadap Islam,” kata Khan dalam siaran televisi.

“Kami akan melindungi properti dan kehidupan orang-orang, kami tidak akan mengijinkan sabotase apapun, kami tidak akan mengizinkan lalu lintas dihentikan,” tambahnya.

Bibi, 53, penduduk asli dari desa Pakistan tengah Ithan Wali, dituntut oleh dua wanita Muslim karena telah menghina Nabi Muhammad dan Al-Quran dalam sebuah argumen yang dipicu oleh penolakan mereka untuk minum air dari wadah yang sama dengannya pada 2009.

Dia divonis dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan pada bulan November 2010, dengan Pengadilan Tinggi Lahore menegaskan hukumannya empat tahun kemudian.

Namun kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pengacara Bibi berpendapat bahwa ada banyak masalah pengadilan yang tidak adil dalam kasusnya, yang menjadi simbol keprihatinan semacam itu dalam banyak kasus di bawah undang-undang penodaan agama Pakistan yang ketat.

Baca juga: 

Penghujatan terhadap Islam dan Nabi-nya adalah subjek yang sensitif di Pakistan, di mana kejahatan semacam itu dapat membawa pelakunya mendapat hukuman mati.

Tuduhan penistaan ​​agama yang semakin banyak, telah mengakibatkan pembunuhan massal dan pembunuhan di luar hukum.

Sedikitnya 74 orang tewas dalam kekerasan yang terkait dengan tuduhan penistaan ​​agama sejak 1990, menurut penghitungan Al Jazeera. Mereka yang tewas termasuk seorang gubernur provinsi dan menteri federal yang membela Bibi ketika dia dituduh pertama kali pada tahun 2009.

Pada hari Rabu, para hakim mengatakan bahwa mereka setuju bahwa Bibi belum diadili secara adil, dengan memperhatikan kontradiksi “mencolok dan kejam” dalam bukti penuntutan, dan memerintahkan pembebasannya segera.

Hakim Asif Khosa, menulis dalam putusan penuh, dikeluarkan tak lama setelah pengumuman Rabu, mengatakan kebenaran belum sepenuhnya terungkap selama persidangan.

“[Ada] kesan jelas bahwa semua yang terkait dalam kasus dengan memberikan bukti dan melakukan penyelidikan tidak menyuarakan kebenaran atau sedikitnya tidak membeberkan seluruh kebenaran,” tulisnya.

“Aasia akhirnya mendapatkan keadilan,” kata pengacara Bibi, Saif-ul-Malook, kepada Al Jazeera sesaat setelah putusan diumumkan.

Amnesty International memuji keputusan hari Rabu tersebut sebagai “vonis tengara”.

“Selama delapan tahun terakhir, kehidupan Aasia Bibi merana karena limbo. Meskipun memprotes bahwa dirinya tidak bersalah, dan meskipun kurangnya bukti atas kesalahannya, kasus ini digunakan untuk membangkitkan massa yang marah, membenarkan pembunuhan dua pejabat senior, dan mengintimidasi negara Pakistan menjadi kapitulasi,” kata kelompok hak asasi manusia.

“Keadilan akhirnya berhasil. Pesan itu harus dikeluarkan bahwa undang-undang penodaan agama tidak akan lagi digunakan untuk menganiaya minoritas paling rentan di negara itu,” kata wakil direktur Asia Selatan Amnesty, Omar Waraich.

Masih ada kira-kira 40 orang lainnya di barisan hukuman mati atau menjalani hukuman seumur hidup untuk penodaan agama di Pakistan, menurut Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (the US Commission on International Religious Freedom-USCIRF).

Setelah pengumuman itu, protes meletus di berbagai kota setelah seruan Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), sebuah kelompok politik dan agama sayap kanan yang dipimpin oleh pemimpin Muslim fanatik Khadim Hussain Rizvi yang telah lama meminta Bibi untuk dieksekusi.

Pemimpin TLP, termasuk Rizvi, berkumpul di luar gedung-gedung pemerintah di kota Lahore di timur, sementara kelompok-kelompok pengunjuk rasa yang lebih kecil memblokir jalan di kota selatan Karachi, ibukota Islamabad dan berbagai kota di provinsi Punjab.

Setelah putusan, TLP menyerukan kematian para hakim yang membatalkan hukuman Bibi, serta pengusiran pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan.

“[Para hakim] yang telah memerintahkan pembebasan Aasia adalah terkutuk, semuanya bertanggung jawab untuk dibunuh di bawah perintah agama,” kata Afzal Qadri, seorang pemimpin TLP, dalam aksi protes Lahore.

Para pengacara bagi pelapor dalam kasus tersebut, imam Muhammad Salim, mengatakan mereka akan memutuskan apakah akan mengajukan petisi peninjauan setelah membaca putusan secara rinci.

TLP dan para pengikutnya sering menuduh kelompok-kelompok HAM yang mendukung orang-orang yang dituduh melakukan penistaan agama, dan menuduh pengadilan bekerja di bawah pengaruh asing.

“Kami telah memperkirakan keputusan ini, karena para hakim terikat dalam perbudakan,” kata Tahira Shaheen, salah satu pengacara Salim, dengan penuh kemarahan.

“Ini adalah perbudakan Barat, dan kami belum pernah terbebas (dari perbudakan ini).”

Massa Honorer K2: ‘Pemerintah Gak Bisa Diharapkan Lagi’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ribuan massa honorer K2 (kategori dua) yang menggelar aksi unjuk rasa sejak Selasa (30/10/2018) di depan Istana Negara, Jakarta akhirnya membubarkan diri sore ini tepat pukul 16.00 WIB, Rabu (31/10/2018). Sebelumnya mereka nekat bermalam tanpa alas tidur di depan kantor Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Keputusan itu diambil setelah Ketum Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih dan timnya tidak berhasil menemui Presiden Jokowi.

“Kita sangat kecewa. Sangat! Tapi semangat kita semua jangan sampai luntur,” ujar Titi di atas mobil komando dilansir Jawapos.com, Rabu (31/10/2018).

Dari pantauan di lapangan, begitu aksi itu perlahan bubar tampak wajah-wajah letih, kecewa, dan sedih. Beberapa di antaranya tidak tahu harus menjawab apa jika nanti ditanya rekan-rekannya setiba di daerah.

“Aduh mau bilang apa ya. Ini saja kami ke Jakarta kumpulin uangnya susah banget. Kecewa banget ini,” kata Eka Mujianto, korwil FHK2I Yogyakarta.

Dia tadinya optimistis Jokowi akan menerima perwakilan honorer K2. Ternyata aksi untuk menarik simpati presiden itu belum juga membuahkan hasil. Demikian juga Sumarni Azis, korwil FHK2I Sulawesi Selatan.

“Kayaknya kami harus mengambil sikap politik. Pemerintah enggak bisa diharapkan lagi,” tandasnya.

“Buat apa masuk kalau hasilnya sama dengan kemarin. Kami maunya bertemu presiden bukan lainnya. Nyatanya presiden menolak menerima kami,” kata Titi.

Penolakan ini membuat honorer K2 kecewa berat. Mereka pun memilih menentukan sikap. Pertama, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kedua, menyatakan sikap terkait posisi politik honorer K2.

“Kami akan memihak kepada capres yang membela honorer K2. Dengan tidak adanya rasa simpati presiden kepada K2 menunjukkan Pak Jokowi tidak membela honorer K2,” tegasnya.

Dia pun meminta seluruh honorer K2 tetap solid. Perjuangan akan terus dilakukan dan tidak akan pernah berhenti. “Jangan menyerah, masih banyak jalan yang bisa ditempuh. FHK2I harus kompak dan semangat. Sampaikan ini kepada teman-teman di daerah,” tandasnya.

ECR Gelar Pengobatan Gratis untuk Korban Gempa di Balaroa

PALU (jurnalislam.com)- Emergency and Crisis  Response (ECR) menggelar aksi pengobatan gratis kepada warga terdampak Likuifaksi di Di yayasan panti asuhan Ar Rahman sungai Manonda Balaroa, Palu pada selasa, (30/10/2018).

Selain pengobatan gratis, tim medis ECR rencananya juga melakukan aksi khitan massal di tempat tersebut.

Relawan ECR Muhammad Hamdan Dwi Nur Arif menjelaskan, dalam aksi sosial kali ini, tim medis ECR menurunkan 1 dokter, 1 fisioterapis dan 3 perawat.

“Dalam aksi kali ini ada 250 yatim dari 11 panti asuhan, puluhan lansia dan disabilitas di Palu. Mereka banyak yang mengeluh sakit perut, pusing dan pegal-pegal,” katanya kepada Jurnalislam.com selasa, (30/10/2018).

“Kedepan, kita juga akan melakukan khitan masal kepada anak-anak yang ada di tempat tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, pimpinan panti asuhan ar rahman ustaz Irwan mengapresiasi aksi sosial dari ECR, menurutnya paska bencana gempa, tsunami dan likuifaksi Palu, belum ada layanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah tersebut.

“Pasca bencana sampai detik ini pihak panti belum pernah mendapatkan pelayanan cek kesehatan, dan kita berharap kbisa melanjutkan kerjasama lagi kedepannya,” ungkapnya.

Erdogan Temui Khabib Nurmagomedov di Bandara Istanbul

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan juara Seni Bela Diri Campuran (Mixed Martial Arts-MMA) Khabib Nurmagomedov pada hari Senin (29/10/2018) saat pembukaan Bandara Istanbul.

Nurmagomedov, dari Republik Dagestan Kaukasus di utara Rusia, adalah seorang petarung MMA profesional. Dia juga orang Rusia pertama dan Muslim pertama yang memenangkan kejuaraan UFC.

Erdogan secara resmi membuka Bandara Istanbul, “pusat baru dunia”, pada peringatan ke-95 tahun berdirinya Republik Turki.

Nurmagomedov, seorang Rusia berusia 30 tahun, mempertahankan mahkota kelas ringan UFC-nya dengan kemenangan empat putaran (ronde) atas warga Irlandia, McGregor, di Las Vegas, meningkatkan rekor kemenangan tak terkalahkannya menjadi 27-0 dalam karir profesionalnya dan 11-0 dalam pertarungan UFC.