Apakah Arab Saudi akan Gelar Persidangan yang Adil dalam Kasus Khashoggi?

Apakah Arab Saudi akan Gelar Persidangan yang Adil dalam Kasus Khashoggi?

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Ketika jaksa agung Arab Saudi bertemu dengan jaksa penuntut umum Istanbul pada hari Senin (29/10/2018), itu adalah kerja sama langka dalam penyelidikan atas pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

Hampir tiga pekan sejak kedua pihak sepakat untuk melakukan penyelidikan bersama dan hampir sebulan sejak Khashoggi terbunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Ankara dan Riyadh tampaknya mengejar strategi terpisah dengan tujuan yang tampaknya berbeda.

Saudi juga telah meluncurkan penyelidikan internal mereka sendiri, menangkap 18 orang, tetapi menolak permintaan Turki untuk mengekstradisi mereka.

Sedangkan Turki telah meneteskan bukti dari penyelidikannya ke media lokal dan internasional, menimbun tekanan pada Saudi untuk memberikan jawaban. Pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu meminta kerajaan untuk mengungkapkan “seluruh kebenaran” tentang pembunuhan itu.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan bahwa Riyadh “bertekad untuk mengungkap setiap pertanyaan” dalam penyelidikannya.

“Kami ingin memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab dihukum,” katanya kepada Fox News pada 21 Oktober.

“Kami bertekad untuk mengetahui semua fakta dan kami bertekad untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini.”

Para pemimpin politik di Amerika Serikat dan Eropa, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional, telah mendesak Saudi untuk melakukan penyelidikan yang menyeluruh, transparan, tepat waktu dan memberikan pertanggungjawaban atas pembunuhan tersebut.

Tetapi ahli hukum dan hak asasi manusia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jika Riyadh ingin menyelidiki dan akhirnya mengadili para tersangka di Arab Saudi, hanya akan ada sedikit kesempatan untuk proses yang adil dan transparan.

Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman
Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman

“Pada dasarnya tidak ada pemisahan kekuasaan di Arab Saudi,” kata Noha Aboueldahab, dosen tamu di Brookings Institution di Doha. “Sistem peradilan tidak independen dan sebagai akibatnya, Anda memiliki persidangan yang tidak adil dan tidak transparan.”

“Arab Saudi mungkin akan menggunakan keamanan nasional sebagai alasan untuk mencegah pencatatan persidangan ini,” Aboueldahab, seorang ahli penuntutan para pemimpin politik di dunia Arab, menambahkan.

Praktik-praktik ini umum di Arab Saudi, kata Aboueldahab, mengutip laporan PBB baru-baru ini.

Laporan Juni menyatakan bahwa Arab Saudi menggunakan undang-undang anti-teror untuk menyiksa tersangka dan bahwa mereka yang berada di penjara dilarang berbicara dengan pengacara.

Antoine Madelin, direktur advokasi internasional di Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (the International Federation for Human Rights-FIDH), setuju dengan pandangan Aboueldahab bahwa kemungkinan pengadilan yang adil di kerajaan itu kecil.

Baca juga:

“Arab Saudi telah membuktikan dirinya sebagai sebuah negara di mana tidak ada independensi peradilan dan [memiliki] rekam jejak pelanggaran hak asasi manusia, terutama ketika pengadilan ini menyangkut otoritas Arab Saudi,” Madelin mengatakan kepada Al Jazeera.

“Apa pun yang terkait dengan kejahatan ini tidak akan independen atau demokratis,” ia berpendapat.

Tersangka yang dihukum karena pembunuhan, pemerkosaan, terorisme, dan perdagangan obat terlarang menghadapi hukuman mati di bawah hukum pidana Arab Saudi.

Tahun lalu, sedikitnya 146 eksekusi terjadi di kerajaan itu, Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan.

Menurut Sultan Barakat, direktur pusat untuk studi konflik dan kemanusiaan di Institut Doha di Qatar, jika para tersangka dieksekusi, kebenaran pembunuhan Khashoggi dan yang memerintahkan pembunuhan mungkin akan menjadi lebih sulit untuk diungkap.

“Saya pikir jika mereka diadili, kita bisa melihat semuanya, [termasuk] eksekusi para pelaku, jadi kita tidak akan pernah tahu persis apa yang terjadi,” kata Barakat. “Itu tidak baik untuk siapa pun, itu akan menutupi ceritanya.”

Tapi Aboueldahab mengatakan kemungkinan 18 tersangka yang diadili dan dieksekusi sangat tipis karena kasus itu sedang diikuti di seluruh dunia.

“Arab Saudi telah dikritik karena menggunakan hukuman mati, seperti halnya negara-negara lain di kawasan itu, jadi mungkin tidak akan membantu Arab Saudi jika memberi mereka hukuman mati,” katanya.

Para pejabat Turki menuduh 15 anggota “regu pembunuh” Saudi terbang ke Istanbul untuk membunuh Khashoggi, seorang kritikus dari Pangeran Mahkota Saudi yang kuat, Mohammad bin Salman.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan tim itu melakukan pengintaian di utara Istanbul dan mematikan kamera keamanan konsulat.

Walaupun tidak lagi menuduh bangsawan Saudi melakukan pembunuhan “kejam”, Erdogan mengatakan pemerintah Turki telah mengumpulkan lebih banyak bukti, yang akan dipublikasikan “ketika saatnya tiba”.

Sementara itu, al-Jubeir, menteri luar negeri Saudi, pekan lalu mengkritik kecaman global yang mengelilingi pembunuhan Khashoggi sebagai “histeris” dan mengatakan penyelidikan akan “mengambil waktu” dan fakta harus ditentukan saat pertanyaan terus bermunculan.

Aboueldahab mengatakan Saudi bisa memperpanjang penyelidikan mereka, menyeret prosesnya sambil berharap perhatian dunia akan bergeser jauh dari pembunuhan.

“Ya, penyelidikan membutuhkan waktu. Tetapi tekanan dari masyarakat internasional sangat penting dan tekanan itu perlu dipertahankan,” dia mengatakan.

Madelin mengatakan bahwa tekanan internasional teebukti sangat efektif, mendorong Riyadh mengubah narasinya seputar keadaan pembunuhan Khashoggi.

“Apa yang telah terjadi selama berpekan-pekan telah menjadi rantai peristiwa mengejutkan yang benar-benar di luar kendali pemerintah Arab Saudi.

“Secara bertahap mendorong pemerintah Saudi ke posisi untuk mengakui sebagian dari tanggung jawabnya, jadi dalam konteks ini, saya percaya satu-satunya cara untuk mengetahui lebih banyak tentang siapa yang bertanggung jawab adalah dengan menekan mereka.”

Madelin juga menyatakan keprihatinan bahwa Saudi dapat memutuskan untuk mengadakan persidangan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah menegakkan keadilan, tanpa benar-benar menahan orang-orang yang bertanggung jawab di belakang pembunuhan.

“Saya tidak berpikir Arab Saudi akan mengadakan persidangan ini secara independen, jika ada yang ingin untuk mengungkap fakta bahwa pihak berwenang sebenarnya bertanggung jawab,” katanya.

“Saya khawatir kita akan menemukan persidangan tiruan, sesuatu untuk menyenangkan komunitas internasional.” Aboueldahab sependapat, menambahkan bahwa “ada ribuan Jamal Khashoggis, tidak hanya di Arab Saudi, tetapi di negara-negara lain di kawasan ini juga.”

Masalahnya adalah, jika ada perhatian yang tulus [di kalangan penguasa Arab Saudi] tentang nasib Jamal Khashoggi, saya pikir Anda akan melihat pengadilan tambahan digelar untuk semua warga Saudi lainnya yang telah ditahan dan disiksa dan akhirnya dibunuh. “

Bagikan

5 thoughts on “Apakah Arab Saudi akan Gelar Persidangan yang Adil dalam Kasus Khashoggi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.