Responsive image

Diplomasi Turki Cegah Pembantaian Rezim Assad terhadap Warga Sipil Idlib

Diplomasi Turki Cegah Pembantaian Rezim Assad terhadap Warga Sipil Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sekitar empat juta warga sipil berlindung di provinsi Idlib Suriah atas  upaya Turki yang telah menjaga dari kemungkinan pembantaian rezim Syiah Bashar Assad dan sekutunya dan mencegah risiko migrasi besar-besaran, Anadolu Agency melaporkan, Senin (15/10/2018).

Terletak di Suriah barat laut, Idlib telah menjadi salah satu wilayah yang dilanda gelombang kekerasan terbesar selama perang Suriah. Oleh karena itu, provinsi Idlib dijadikan sebagai zona de-eskalasi setelah pertemuan Astana oleh Turki, Rusia dan Iran pada 4-5 Mei 2017.

Pada saat yang sama, Idlib menjadi “benteng kuat” di tengah perang, yang terdiri dari berbagai oposisi militer dan faksi-faksi jihad, Idlib menerima sejumlah besar pengungsi dari berbagai wilayah di Suriah.

Disebabkan Serangan brutal rezim Nushairiyah Assad dan sekutu-sekutunya, hal tersebut membuat warga sipil melarikan diri dari berbagai bagian wilayah Suriah ke Idlib, meningkatkan populasi provinsi itu menjadi hampir empat juta.

Selain itu, oposisi militer juga dipaksa untuk mengevakuasi pejuang dan warganya dari berbagai titik wilayah yang rezim kuasai baru-baru ini baik melalui blockade dan serangan udara dikumpulkan di Idlib.

Baca juga: Erdogan: Turki Tetap Berada di Idlib untuk Bantu Selamatkan Warga

Idlib – di mana faksi-faksi jihad seperti Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan Huraseddin juga memiliki kehadiran bersama dengan oposisi anti Assad – telah berubah menjadi target baru rezim dan sekutu saat ini.

Sementara pasukan rezim secara intens mengerahkan elemen militer ke Idlib – mengelilinginya dari tiga arah – Pemerintah rezim Assad dan pejabat Rusia telah membuat pernyataan yang mengancam terhadap kawasan itu.

Rezim Assad dan Rusia meluncurkan serangan udara di Idlib pada 4 September. Puluhan ribu warga sipil mulai bermigrasi ke wilayah dekat perbatasan Turki atau titik-titik pengamatan tentara Turki di negara itu.

Ketika PBB meningkatkan peringatannya terhadap kemungkinan pembantaian besar pada warga sipil, gelombang migrasi dan krisis kemanusiaan di Idlib, Turki mempercepat lalu lintas diplomasi.

Pejabat Turki mengadakan pertemuan dengan delegasi Rusia dan Iran, penjamin gencatan senjata Suriah dalam kerangka perjanjian Astana.

Baca juga: Berikut Situasi Terakhir di Idlib, Benteng Terakhir Mujahidin Suriah

Setelah usulan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selama KTT trilateral yang diadakan di Teheran pada 7 September, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan gencatan senjata di Idlib dalam pertemuan yang diadakan di Sochi pada 17 September.

Mengikuti Perjanjian Sochi, yang merupakan fase baru dimulai di Idlib – rezim Assad dan Rusia mengakhiri serangan udara dan ancaman mereka.

Sekitar 80.000 warga sipil yang meninggalkan rumah mereka saat serangan telah kembali ke Idlib. Warga sipil, didorong oleh kehadiran tentara Turki di titik-titik pengamatan, mulai memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat serangan.

Meskipun kondisi sulit, para keluarga mulai mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah. Mulai terbangun kepercayaan dalam lingkungan, menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi kota.

Bagikan

One thought on “Diplomasi Turki Cegah Pembantaian Rezim Assad terhadap Warga Sipil Idlib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X