PALU (Jurnalislam.com) – Taklim Jurnalistik Group (TJG), menggalang donasi untuk korban gempa dan tsunami di Donggala, Sigi, dan Palu.
Donasi yang terkumpul dari galang dana bersama saat Kopdar di Taman Salatiga, Jawa Tengah dan juga via grup Whatsapp (Sosial Media) tersebut diamanahkan melalui SAR (search and rescue) Hidayatullah pada Ahad,(04/11/2018).
Bantuan untuk korban diterima dan disalurkan oleh Relawan SAR Hidayatullah, Muhammad Suardy di Posko Ponpes Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah.
Penyerahan donasi kepada korban musibah Gempa-Tsunami Sulteng
Ia mengatakan, atas nama relawan dari SAR Hidayatullah mengucapkan terimakasih atas bantuannya kepada Taklim Jurnalistik Group.
“Mudah-mudahan yang diberikan insyaAllah berkah di sisi Allah SWT, insyaAllah terus bersinambungan untuk para korban di Palu,” ujarnya.
TJG yang di komandoi oleh Andre Rahmatullah bertekad, untuk tetap membantu musibah baik di Lombok dan Sulteng dengan mengumpulkan donasi dari para anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Ini merupakan langkah kita bahwasanya komunitas yang berbasis kepenulisan ini tidak hanya berkarya namun juga ada jiwa kepedulian sosial kepada saudara kita,” tegas Bang AR, sapaan akrabnya.
Adapun penyaluran sembako ini, lanjut Bang AR, kami salurkan berupa sabun mandi, makanan ringan, sabun cuci dan kebutuhan lain-lain. “Semoga bantuan sederhana ini setidaknya bisa membantu mereka,” ucap pria yang juga Manager Markom LAZNAS BMH Perwakilan Kepulauan Riau ini.
JURNALISLAM.COM – Bulan Shafar adalah bulan kedua dari dua belas bulan dalam tahun hijriah. Shafar secara bahasa artinya kosong atau nol. Dinamakan Shafar karena kota Mekkah (seolah) kosong dari penghuninya jika orang-orang bersafar mendatanginya. Dikatakan pula dalam Lisanul Arab Ibnu Mundzir dinamakan Shafar karena dahulu suatu kabilah diperangi dan ditinggalkan tanpa memiliki barang apapun (dijarah).
Dalam sejarah Islam, bulan shafar menempatkan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga kejayaan dan keruntuhunnya.
Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah binti Khuwailid
Menurut beberapa sumber Rasulullah ﷺ menikahi Khadijah RHA pada bulan Shafar. Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syeikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri Rasulullah muda menikahi Khadijah atas prakarsa Nafisah binti Munabbih. Mahar yang diberikan Rasulullah ﷺ berupa unta 20 ekor dengan jarak usia lebih tua khadijah 15 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah ﷺ memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuannya adalah Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah ﷺ tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.
Terdapat perbedaan pendapat mengenai bulan pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah, sebagian ada yang menyebut bulan Rabiul Awwal.
Peristiwa Perang Al Abwa
Illustrasi Perang Al Abwa
Dalam Zaadul Maad Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun ke 12 Hijrah. Perang Al Abwa disebut pula dengan Perang Waddaan. Pembawa panji perang saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika itu panji yang dibawa berwarna putih. Kepemimpinan kota Madinah sementara waktu diserahkan kepada Saad bin Ubadah. Perang ini Dilakukan khusus untuk menyergap kafilah Quraisy namun tidak membuahkan hasil.
Pada peristiwa ini Nabi ﷺ berpesan kepada Makhsyi bin Amr adh-Dhamari, yang merupakan pemimpin Bani Dhamrah kala itu, untuk tidak saling berperang dan tidak membantu lawan. Perjanjian dibuat tertulis. Itu berlangsung selama lima belas malam.
Tragedi Ar Raji’
Pada bulan Shafar di tahun ke 4 Hijriyah, beberapa orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di tengah kaumnya ada beberapa orang Muslim. Mereka meminta gara dikirim beberapa orang yang sanggup mengajarkan Islam kepada mereka. Rasulullah ﷺ pun mengutus sepuluh orang dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan.
Setibanya di ar-Raji’, pangkalan air milik Bani Hudzail, para utusan yang memang sejak awal berniat menipu kaum Muslim itu bekerja sama dengan perkampungan Bani Lahyan. Seratus pemanah dari Bani Lahyan mengejar sepuluh utusan Rasulullahﷺ tersebut. Menyadari bahwa bahaya mengintai para utusan Rasulullah ﷺ tersebut, mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki tempat yang lebih tinggi.
Para pemanah yang mengepung mereka berkata, “Kami berjanji dan bersumpah tak akan membunuh seorang pun di antara kalian asal kalian turun.”
Rombongan itu menolak tawaran yang mereka anggap hanya jebakan tersebut. Mereka bertempur dengan gagah berani hingga gugur dan menyisakan Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinnah. Akhirnya Khubaib dan Zaid di bawa ke Makkah dan di jual kepada penduduk Makkah, padahal keduanya banyak menghabisi para pembesar Quraisy di perang Badar.
Illustrasi: Tragedi ar-raji pangkalan air
Khubaib dimasukkan ke dalam penjara setelah di beli oleh Hujair bin Abu Ilhab, namun kemudian orang-orang Quraisy sepakat untuk membunuh Khubaib. Untuk membunuh Khubaib, orang Quraisy sepakat untuk menyalibnya di luar tanah suci Makkah. Sebelum di salib, Khubaib meminta kesempatan untuk mendirikan salat dua rakaat saja, dan dikabulkan. Selesai salat, Khubaib berkata dengan nyaring, “Ya Allah, hitunglah bilangan mereka, binasakanlah mereka semua dan jangan Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.”
Setelah orang-orang Quraisy membunuh dan menyalib jasad Khubaib, mereka menunjuk beberapa orang untuk menjaga jasad Khubaib supaya tidak diambil oleh kaum Muslim. Tetapi atas ijin Allah, Amr bin Umayyah mampu mengakali para penjaga dan mengambil jasad Khubaib untuk dikuburkan. Sedangkan Zaid bin Datsinnah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh, karena Zaid telah membunuh ayahnya di perang Badar.
Sementara itu, orang-orang Quraisy mengutus beberapa orang untuk memotong sebagian tubuh Ashim bin Tsabit untuk memastikan kematiannya, karena Ashim membunuh banyak pembesar Quraisy di perang Badar. Karena sebelumnya Ashim pernah bersumpah kepada Allah untuk tidak bersentuhan dengan orang-orang Musyrik dan tidak membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang Musyrik, Allah ﷻ mengutus sekumpulan lebah yang melindungi jasad Ashim sehingga utusan orang Quraisy tersebut sama sekali tak bias mnyentuh jasad Ashim. Ketika Umar bin Khattab mendengar hal ini, dia berkata, “Allah menjaga hamba yang Mukmin setelah meninggal dunia, sebagaimana Dia menjaganya sewaktu masih hidup.”
CILEGON (Jurnalislam.com) – Aksi Bela Tauhid masih terus berlanjut, seperti yang berlangsung di kota Baja, Cilegon, Banten hari ini, Ahad (4/11/2018).
Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Bela Tauhid Cilegon, berunjuk rasa dengan longmarch dari Masjid Agung Cilegon sampai Landmark Kota Cilegon.
“Tujuan kami mengadakan Aksi Bela Tauhid ini untuk mengenalkan bendera Al-Liwa dan Ar-Rayya (bendera aksara tauhid) yang menjadi kebanggaan Rasulullah kepada masyarakat Cilegon,” kata Humas aksi, Iim Suwandi kepada Jurnalislam.com disela-sela aksi.
Orasi diatas mobil komando. Foto: Jumi/Jurnis
Lebih dari itu, Bang Iim, sapaannya meminta aparat penegak hukum berlaku adil dan tegas kepada pelaku pembakaran bendera tauhid.
“Namun tetap selain mengenalkan bendera Al-Liwa dan Ar-Rayya kepada masyarakat, kami pun meminta kepada aparat agar oknum pembakar bendera tauhid diproses secara hukum, agar kelak tidak lagi terjadi penghinaan terhadap bendera kebanggaan Rasulullah,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang orator muda menegaskan, bendera yang telah dipertegas oleh tim kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini bukanlah bendera HTI, melainkan tauhid.
“Jika masih ada yang mengatakan bendera yang dibakar oleh oknum banser adalah bendera HTI, berarti dia buta sejarah,” ungkapnya.
SUKOHARJO (Jurnalislam. com) – Ketua Lajnah Tafidziyah Majelis Mijahidin Indonesia (MMI) Pusat, Irfan S Awwas mengatakan, saat ini Indonesia tengah dilanda “sakit mental”. Sebab, banyak ormas-ormas yang dinilainya mengalami Islamophobia.
“Saat ini banyak sekali ormas-ormas yang takut kepada Islam atau Islamphobia (ketakutan akan nilai Islam), dan anehnya mereka ini dari ormas Islam sendiri.”
“Apa salahnya Islam, Islam dengan kyai dan ulamanya serta santrinya adalah pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini,” katanya sesaat memberikan materi pada Kajian Akbar Reuni Alumni 411 di Masjid Baitul Makmur Solo Baru, Sukoharjo, Ahad (4/11/2018).
Untuk itu, kata dia, sudah selayaknya umat Islam bukan menjadi seperti daun kering akan tetapi jadilah seperti magnet. “Sudah kuat menarik yang lain,” pesannya.
Sebagaimana diketahui, tablig Akbar yang dihadiri ratusan peserta ini untuk memperingati momen 411 atau aksi unjuk rasa 4 November 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu.
KAIRO (Jurnalislam.com) – Organisasi Kerjasama Islam-OKI (The Organization of Islamic Cooperation-OIC) mengecam keputusan Presiden Brasil terpilih Jair Bolsonaro untuk merelokasi kedutaan negaranya untuk Israel dari Tel Aviv ke kota Yerusalem (Al Quds) yang diduduki dan menyebutnya sebagai “tindakan ilegal”.
“Deklarasi itu adalah pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan semua resolusi PBB yang relevan,” kata OKI dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (3/11/2018), lansir Anadolu Agency.
Lembaga Muslim itu meminta Brasil menerima posisi yang mendukung peluang untuk berdamai di bawah solusi dua negara.
Pada hari Jumat, Liga Arab meminta Bolsonaro mencabut keputusannya untuk merelokasi kedutaan Brasil di Israel ke Yerusalem.
Bolsonaro pada hari Kamis mengumumkan niatnya untuk merelokasi kedutaan negaranya dari Tel Aviv ke Yerusalem setelah dia secara resmi menduduki posisi kepresidenan.
Presiden AS Donald Trump memicu kecaman dunia Desember lalu setelah mengumumkan rencana untuk memindahkan kedutaan Israel ke Yerusalem dan mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel.
Sejak itu, kepemimpinan Palestina di Ramallah telah menolak peran mediasi apa pun oleh AS dalam proses perdamaian Timur Tengah yang hampir mati.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah, dimana Palestina berjuang untuk Yerusalem Timur – yang diduduki oleh Israel sejak 1967 – pada akhirnya berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.
ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Lembaga pendidikan, jalan dan pasar dibuka kembali pada hari Sabtu (3/11/2018) di seluruh negeri setelah pemerintah mencapai kesepakatan dengan kelompok agama tadi malam, kata seorang pejabat.
“Protes telah dibatalkan setelah pemerintah menerima tuntutan kami dan menandatangani perjanjian dengan kami” Peer Muhammad Afzal Qadri, Patron Kepala Tehreek-e-Labbaik Pakistan mengatakan kepada wartawan, lansir Anadolu Agency.
Kelompok-kelompok agama sepakat untuk membatalkan protes menyusul jaminan pemerintah untuk menempatkan larangan perjalanan pada Aasia Bibi dan tidak keberatan untuk meninjau petisi terhadap putusan di pengadilan atas.
Pada hari Rabu, Mahkamah Agung membebaskan Aasia Bibi, seorang wanita Kristen, yang telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan distrik pada November 2010 karena penodaan terhadap Nabi Muhammad Saw.
Para pemrotes yang marah, terutama kelompok Sunni, Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), memblokir jalan-jalan di ibukota Islamabad, dan kota-kota lain, termasuk Lahore, Karachi, Faisalabad, Multan, Peshawar, Quetta, Gujranwala, Gujrat, dan Sialkot, menangguhkan kegiatan komersial dan bisnis serta melumpuhkan lalu lintas.
Pemerintah juga menutup semua lembaga pendidikan di seluruh negeri karena pemblokiran jalan dan protes keras.
Media sosial melaporkan insiden kekerasan intermiten, termasuk pembakaran kendaraan dan pelemparan pasukan keamanan dengan batu di beberapa kota, namun, tidak ada konfirmasi atas kekerasan tersebut. Saluran berita tidak meliput aksi protes sesuai perintah pemerintah dalam upaya untuk mendinginkan ketegangan yang memuncak.
Namun, perjanjian yang ditandatangani oleh menteri pemerintah dan pemimpin TLP menekankan bahwa pemerintah telah meyakinkan kelompok agama akan membebaskan semua orang yang ditangkap oleh lembaga penegak hukum selama aksi protes di berbagai bagian negara.
Bibi menetap di lokasi yang dirahasiakan untuk keselamatannya.
Saudara laki-lakinya, James Masih, mengatakan kepada harian lokal Inggris, Dawn, bahwa adiknya tidak punya pilihan lain selain meninggalkan negara itu segera. Prancis dan Spanyol telah menawarkan suaka kepada Bibi dan keluarganya.
Mencapai 3 persen dari total 210 juta penduduk, orang Kristen adalah salah satu dari dua minoritas terbesar di Pakistan Muslim.
Di Pakistan, penghujatan terhadap Islam atau Nabi Muhammad Saw adalah tindak kriminal yang dapat dijatuhi hukuman mati. Walaupun negara tidak pernah mengeksekusi siapa pun di bawah hukum, pihak tertuduh telah memicu protes massa dan kekerasan.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menjamu Ustadz Abdul Somad (UAS) di kediamannya Jalan Margasatwa Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (3/11/2018).
Din mengaku prihatin atas beberapa kejadian yang dialami dai kondang itu. Ia memaparkan, UAS kerap difitnah dengan sebutan anti-Pancasila hanya karena para pengawalnya menggunakan atribut lafadz tauhid yang diidentikkan dengan kelompok Hizbut Tahrir yang mendukung khilafah. Atas tuduhan itu, UAS juga kerap menjadi korban persekusi, agenda ceramahnya di beberapa kota pun terpaksa dibatalkan.
“Terkait dengan apa yang dialami Ustadz Abdul Somad yang mengalami penghadangan, persekusi, atau penghalangan dakwah, saya selaku pemangku amanat di Ormas Islam, khususnya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, sangat prihatin sekali. Secara khusus kami meminta hal semacam itu tidak terjadi lagi. Ada satu fitnah yang sangat mudah sekali terjadi kepada seseorang,” papar Din saat menjamu UAS, Sabtu (3/11/2018).
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengungkapkan, pada masa order baru, tudingan anti-Pancasila kepada umat Islam juga pernah terjadi dan saat ini tudingan tersebut terulang namun dalam bentuk lain.
“Dituduh anti-Pancasila karena mengembangkan khilafah dan lain sebagainya. Sementara, khilafah itu kan ajaran Islam. Tidak bisa kita menafikkannya. Itu ada pemahaman sendiri,” katanya.
Din memastikan, penjelasan khilafah yang disampaikan oleh UAS itu sudah benar, karena dilandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Oleh sebab itu, sambung Din, menuduh UAS anti-Pancasila hanya karena ia berbicara soal khilafah adalah sebuah nalar yang keliru.
“Ini kekeliruan nalar. Dan saya sudah mengikuti apa yang disampaikan Ustadz Abdul Somad, beliau menjelaskan khilafah dari Al-Qur’an, beliau ahli hadits, beliau menjelaskan dari pandangan Islam,” tandasnya.
Din memandang, umat Islam seharusnya bersyukur atas kehadiran da’i berkualitas seperti UAS yang mencerdaskan masyarakat dengan pemahaman Islam yang lurus dan tulus.
“Maka, tolong jangan selalu dilihat secara politis,” tuturnya.
SIGI (Jurnalislam.com) – Gempa yang menimpa Sigi sebulan lalu masih menyisakan luka bagi keluarga Mulyono (55). Warga Kelurahan Petobo, Kecamatan Biromaru ini merupakan salah satu korban yang berhasil menyelamatkan diri dari gulungan lumpur akibat likuifaksi.
Ditemui di pengungsian, Mulyono menceritakan kisah pilu mengenai anggota keluarganya yang hilang tertimbun lumpur.
“Kita semua ada lima belas orang, tapi yang selamat hanya empat. Sebelas lagi tertimbun dan sudah sulit untuk dievakuasi,” jelas Mulyono kepada INA News Agency, Sabtu (3/11/2018) di kelurahan Petobo, Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah.
Mulyono bersama keluarganya yang selamat. FOTO: Hilman/INA
Sulit untuk membayangkan apa yang dialami Mulyono. Namun, takdir memaksanya tegar menghadapi kenyataan bahwa saudara ipar, menantu, dan cucunya yang masih berusia tiga tahun menjadi korban dari peristiwa alam yang begitu mencengangkan itu. Meski demikian, ia mengaku telah ikhlas.
Selain luka hati akibat kehilangan orang-orang yang dikasihi, efek gempa yang dahsyat membuat membuat Mulyono kehilangan mata pencahariannya sementara waktu karena patah kaki.
Begitu juga dengan anaknya, Estin (28). Dia harus terbaring lemas karena mengalami patah di bagian tubuh yang sama. Bukan hanya itu, Estin mesti mengukuhkan kesabarannya karena kehilangan suami dan anak bungsunya, Zahira Az-Zahra (3).
Saat ini Mulyono dan keluarga hanya berharap kepada pemerintah agar memberi perhatian lebih kepada korban. Terlebih, dalam beberapa hari terakhir bantuan mulai berkurang.
“Bantuan mulai berkurang. Sehingga kami kadang harus menunggu datangnya air dalam tiga atau empat hari,” ungkapnya.
NAGAN RAYA (Jurnalislam.com) – Di hari yang berkah, Jumat (2/11/2018) dua remaja asal Nias, Sumatera Utara (Sumut) mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Nangroe Aceh Darussalam. Dua warga tersebut masing-masing bernama Marcel (18), yang saat ini berubah namanya menjadi Muhammad Usman, dan John (16), yang kini bernama Muhammad Ali.
Proses pensyahadatan dua remaja itu dibimbing langsung Pimpinan Dayah Istiqamatul Khairat, Tgk M Alwi Alwaliya, dan ikut disaksikan Danpos Kuala Pesisir, Amrizal serta anggota MPU Nagan Raya, plus tokoh masyarakat setempat.
Dilansir dari Serambinews, Ketua Pemuda Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Bahagia, mengatakan, kedua remaja tersebut selama ini berprofesi sebagai pemburu babi. Mereka merupakan kakak beradik yang sudah 5 bulan berdomisili di desa tersebut, sehingga dalam pergaulan dengan para pemuda di daerah itu, akhirnya keduanya memutuskan untuk memeluk Agama Islam.
“Saya siap menjadi orang tua Muhammad Usman dan Muhammad Ali untuk membimbingnya dalam mempelajari ilmu agama dan tata cara beribadah sesuai dengan ajaran Islam,” kata Tgk M Alwi Alwaliya, Pimpinan Dayah Istiqamatul Khairat.
Sementara Muhammad Usman mengatakan, sebelumnya mereka memeluk Agama Kristen bersama adiknya Muhammad Ali, termasuk keluarga mereka di Nias. Sebelum masuk Islam ia dan adiknya mengaku telah meminta izin kepada ayah mereka di Nias dan keinginannya untuk masuk Islam diizinkan oleh ayahnya.
JAKARTA -– Indonesia Halal Watch (IHW) menilai isu produk halal dan industri halal harus menjadi kebijakan negara. Tujuannya, agar produk-produk dan industri halal menjadi tiang penyangga ekonomi nasional.
Pemerintah, menurut IHW, harus menjadi pemimpin di sektor ini, yang selama ini sektor swasta justru lebih dominan dan agresif. “Untuk menggerakkan potensi ekonomi berbasis produk dan industri halal, harus ada kebijakan yang mengintegrasikan industri keuangan syariah dengan industri halal,” ujar Direktur Eksekutif IHW, Ikhsan Abdullah, Selasa (30/10).
Langkah kedua, jelas Ikhsan, sektor ini harus menjadi relasi yang sinergis dan menguntungkan. Setidaknya, relasi yang harus dibangun menjadi model peran bagi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasis produk dan industri halal.
Ia menjelaskan Indonesia telah memiliki pengalaman membangun relasi ini, ketika MUI bersama akademisi bersinergi membangun LPPOM MUI. Hasilnya pun, kata Ikhsan, dapat dinikmati oleh semua masyarakat.
Kemudian, perbankan syariah nasional harus dapat berfungsi dan mendedikasikan pembiayaan bagi sektor industri UMKM dan pelaku usaha serta industri halal. Ikhsan mengatakan entitas ini dapat tumbuh dan berkembang mengisi pasar domestik yang dapat didorong menjadi produk potensial ekspor.
“Instrumen pembiayaan perbankan syariah juga harus diperbaiki agar tidak hanya ada tapi harus berkontribusi bagi mendorong dan menggerakkan ekonomi umat,” jelas Ikhsan.
Secara ekonomi, ekspor produk halal bisa menambah 5,1 miliar-11 miliar dolar AS per tahun secara global. Ini belum termasuk tambahan lapangan pekerjaan dari 170 ribu hingga 333 ribu pekerjaan dan substitusi impor hingga 500 juta dolar AS.
Fokus yang dijalankan pada industri ini yaitu dengan memaksimalkan sektor makanan dan pariwisata. Selain itu, industri halal pun bisa merambah makanan, farmasi, kosmetik, pariwisata, media, fashion, dan keuangan syariah.
Indonesia masih menjadi pasar dan konsumen terbesar. Dalam pangsa pasar ekonomi halal global 2017 yang jumlahnya 2,1 triliun dolar AS, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara konsumen ekonomi halal, yakni sekitar 10 persen.
Indonesia menjadi incaran industri halal baik dari makanan, kosmetik, maupun pasar turis. Jepang, Australia, Thailand, Selandia Baru, Cina, Korea, Singapura, hingga banyak negara Eropa, ingin merebut pangsa pasar wisata Muslim yang diperkirakan mencapai 320 miliar dolar AS pada 2024 mendatang.