Israel Hancurkan Puluhan Bangunan Pengungsi Palestina di Tanah Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) –  Penjajah Israel pada hari Rabu (21/11/2018) menghancurkan puluhan bangunan Palestina di kamp pengungsi Shuafat di Yerusalem Timur yang dijajah.

Menurut seorang koresponden Anadolu Agency yang bermarkas di daerah tersebut, dewan kota Israel di Yerusalem memerintahkan pembongkaran 20 toko di kamp dengan dalih bahwa bangunan tersebut dibangun tanpa izin.

Pada hari Selasa, pemerintah Israel dilaporkan memberi tahu pemilik toko bahwa properti mereka akan dihancurkan.

Organisasi Pembebasan Palestina (The Palestine Liberation Organization-PLO) untuk urusan pengungsi mengutuk penghancuran tersebut, menuduh kotamadya Yerusalem “mengobarkan perang” terhadap kamp dan penduduknya.

Kepala departemen Ahmad Abu Holi melaporkan bahwa pemerintah kota mencoba mengubah karakter kamp untuk mengakhiri kehadiran Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (the UN’s Relief and Works Agency-UNRWA) dan layanan yang diberikannya.

“Pemerintah kota berusaha untuk membawa Shuafat di bawah yurisdiksi kota, sehingga Shuafat akan tunduk pada hukum kota dan tidak lagi berada di bawah pengawasan UNRWA,” katanya.

Kamp pengungsi Shuafat adalah rumah bagi sekitar 21.000 warga Palestina di tanah Palestina yang membawa kartu identitas Israel ke Yerusalem.

Baca juga: 

Bulan lalu, pemerintah kota Israel  mengumumkan rencana untuk mengusir UNRWA dari Yerusalem Timur yang dijajah Yahudi.

Kotamadya menuduh badan pengungsi tersebut beroperasi secara ilegal dan mempromosikan “hasutan” terhadap Israel.

Didirikan pada tahun 1949, UNRWA memberikan bantuan penting bagi para pengungsi Palestina di Jalur Gaza yang diblokade, Tepi Barat yang dijajah Israel, Yordania, Libanon dan Suriah.

AS Butuh Minyak Saudi, CIA: MBS yang Perintahkan Bunuh Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS terus mendukung Arab Saudi karena minyak, Iran dan terorisme, namun, seorang ahli kebijakan luar negeri berpendapat bahwa alasan ini menjadi semakin tidak dapat dipertahankan.

Mark Hannah dari the Eurasia Group Foundation (EGF) menanggapi dukungan Presiden AS Donald Trump untuk Arab Saudi, meskipun laporan CIA disimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya mengatakan bahwa dia meninggalkan konsulat dalam keadaan hidup, beberapa pekan kemudian pemerintah Saudi mengakui dia terbunuh di sana.

Baca juga:

Trump mempertahankan dalam sebuah pernyataan bahwa AS membutuhkan Arab Saudi karena minyaknya, karena kesediaannya untuk melawan Iran dan kemampuannya untuk melawan terorisme di wilayah tersebut.

Namun, Hannah menulis bahwa “tidak ada satupun alasan tersebut yang masuk akal.”

Menurut Hannah, dukungan AS untuk Arab Saudi telah menyebabkan perang di Yaman yang merupakan “salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam hidup kita,” tulisnya dalam artikel opini untuk NBC News.

Ketika konflik memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang di Yaman, atau setengah dari jumlah penduduk, berada dalam risiko kelaparan, menurut PBB.

“Arab Saudi, telah lama menjadi mitra AS yang bermasalah, dan menjadi berulah, dan dukungan penuh Washington untuknya semakin tidak dapat dipertahankan,” tulis Hannah, Selasa.

Hannah, seorang peneliti di EGF, mengatakan bahwa AS telah melampaui Arab Saudi sebagai produsen minyak bumi terkemuka di dunia, dan bahwa Saudi perlu mengekspor minyak mereka lebih banyak dari kebutuhan AS untuk mengimpor dari mereka.

Dia berpendapat gagasan bahwa Iran siap untuk mendominasi Timur Tengah dan bahwa Saudi adalah benteng melawan terorisme adalah gagasan yang salah.

Faktanya, Hannah mengatakan gagasan bahwa Saudi dapat membantu dalam perang melawan terorisme “tampaknya benar-benar bodoh,” mencatat bahwa 15 dari 19 pembajak yang terlibat dalam serangan 11 September 2001 berasal dari Arab Saudi.

Ada juga “hubungan jangka panjang dan erat antara al-Qaeda dan komponen agama pemerintah Saudi,” menurut pengacara utama dalam kasus serangan itu, katanya.

Kongres dapat memutuskan untuk mengakhiri dukungan militer AS untuk Arab Saudi, dan kemudian mengajukan pertanyaan mengenai pendekatan Washington atas Timur Tengah, menurut Hannah.

“Sudah lama lewat waktunya untuk mulai memikirkan kembali kebijakan luar negeri kami di Timur Tengah, yang berpusat di sekitar dukungan yang tidak perlu dan tidak dapat dipertahankan untuk salah satu otokrasi paling represif di dunia,” tulisnya.

Demi AS dan Israel, Trump Tetap Bela Arab Saudi Meski MBS Bunuh Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (20/11/2018) bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman mungkin telah mengetahui tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, tetapi dia bermaksud untuk “tetap menjadi mitra setia” dengan kerajaan.

“Agen-agen intelijen kami terus menilai semua informasi, tetapi sangat mungkin bahwa Putra Mahkota memiliki pengetahuan tentang peristiwa tragis ini – mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak!” Kata Trump dalam sebuah pernyataan Gedung Putih.

Pernyataan itu muncul setelah sebuah laporan di mana CIA menyimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa Muhammad bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Presiden juga mengatakan kontrak yang ditandatangani dengan Arab Saudi senilai sekitar $ 450 miliar telah menciptakan ribuan lapangan pekerjaan, dan “telah bekerja erat” dengan AS untuk menstabilkan harga minyak.

Dari investasi $ 450 miliar, Arab Saudi berjanji untuk membeli senjata senilai $ 110 miliar, namun, beberapa analis pertahanan hanya menetapkan $ 14,5 miliar dalam penjualan tercatat, menurut New York Times.

“Amerika Serikat bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi untuk memastikan kepentingan negara AS, Israel dan semua mitra lain di kawasan itu,” kata Trump.

Baca juga:

“Saya mengerti ada anggota Kongres yang karena alasan politik atau lainnya, ingin pergi ke arah yang berbeda – dan mereka bebas untuk melakukannya,” tambah Trump. “Saya akan mempertimbangkan ide apa pun yang disajikan kepada saya, tetapi hanya jika mereka konsisten dengan keamanan dan keselamatan mutlak Amerika.”

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya mengatakan dia meninggalkan konsulat dalam keadaan hidup, pemerintah Saudi mengakui beberapa pekan kemudian bahwa dia terbunuh di sana.

 

Lebih dari 900 Anak Palestina Ditangkap Pasukan Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan Israel telah menahan lebih dari 900 anak-anak Palestina sejak awal tahun ini, menurut sebuah LSM lokal pada hari Selasa (20/11/2018).

“Sebanyak 270 anak masih ditahan di penjara Israel,” the Palestinian Prisoners Society mengatakan dalam sebuah pernyataan, yang dirilis pada kesempatan Hari Anak Internasional.

LSM itu mengatakan anak-anak biasanya diambil di rumah mereka di tengah malam.

“Mereka dipukuli dan diancam untuk memaksa mereka menandatangani surat pengakuan,” katanya.

Pada hari Senin, Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (the Defense for Children International-Palestine/DCI-P) mengatakan pasukan penjajah Israel telah menewaskan sedikitnya 52 anak-anak Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak awal tahun ini.

Baca juga: 

Dalam sebuah pernyataan, DCI-P yang bermarkas di Jenewa itu mengatakan 48 dari kematian terjadi di Jalur Gaza yang diblokade sementara sisanya terjadi di Tepi Barat yang dijajah Israel.

LSM itu juga melaporkan militer zionis menggunakan kekerasan berlebihan – termasuk peluru tajam – terhadap anak-anak.

Menurut the Palestinian Prisoners Society, diperkirakan 350 anak di bawah umur Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel.

Bom Hantam Perayaan Maulid Nabi di Afghanistan, 50 Orang Lebih Terbunuh

KABUL (Jurnalislam.com) – Puluhan orang tewas dalam ledakan bom martir yang menargetkan sejumlah besar tokoh agama di ibukota Afghanistan, Kabul, menurut para pejabat.

Wahid Majroh, juru bicara kementerian kesehatan, mengatakan ledakan hari Selasa (20/11/2018) menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 70 orang lainnya.

Dia menambahkan bahwa jumlah korban tewas bisa meningkat karena banyak dari mereka yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Najib Danish, juru bicara kementerian dalam negeri, mengatakan “seorang pembom martir meledakkan bahan peledaknya” di dalam aula besar tempat ratusan ulama dan cendekiawan berkumpul untuk menandai hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

“Saya mendengar ledakan itu, saya hanya berhasil membawa sepupu saya yang terluka parah keluar dari sana,” kata Ahmad Fahim sambil terbaring di ranjang rumah sakit. “Tapi ketika saya sampai di sini, saya baru sadar kalau saya juga terluka.”

Pakar studi agama Mohammad Hanif mengatakan ayat-ayat Al-Qur’an sedang dibacakan ketika terjadi ledakan yang memekakkan telinga diikuti “kekacauan” di dalam aula yang penuh sesak.

“Lebih dari 60 atau 70 orang menjadi martir,” kata Hanif, 31, kepada kantor berita AFP di luar fasilitas trauma yang dikelola oleh LSM Darurat Italia. Dia lolos tanpa cedera.

“Mereka menderita luka bakar, semua orang di aula berteriak minta tolong.”

Baca juga:

Seorang pengelola gedung Uranus Wedding Palace, yang juga kadang menjadi tempat pertemuan acara politik dan agama, mengatakan kepada AFP bahwa seorang pembom martir meledakkan dirinya di tengah-tengah pertemuan para ulama.

“Ada banyak korban – saya sendiri telah menghitung 30 korban,” tambahnya, dengan kondisi anonimitas.

Pejabat di Rumah Sakit Darurat Kabul mengatakan 30 ambulan bergegas ke lokasi ledakan dan lebih dari 40 orang luka parah.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengecam keras serangan itu dan menyatakan hari Rabu sebagai hari berkabung nasional, juru bicaranya, Haroon Chakhansuri, menulis di Twitter.

Presiden menyatakan hari Rabu, 21 November, sebagai hari berkabung nasional setelah serangan menghebohkan itu. Bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang di seluruh Afghanistan dan misi diplomatik Afghanistan di luar negeri.

Tidak ada klaim tanggung jawab segera. Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengutuk serangan itu dalam pesan WhatsApp.

Arab Saudi Diterjang Banjir Bandang 35 Orang Tewas

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 35 orang tewas akibat banjir bandang di Arab Saudi dalam sebulan terakhir, menurut Otoritas Pertahanan Sipil (Civil Defense Authority) kerajaan pada hari Selasa (20/11/2018), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengatakan kota Mekah melaporkan jumlah korban jiwa tertinggi, di mana 11 orang tewas akibat cuaca buruk.

Baca juga: 18 Orang Tewas dan 915 Terjebak akibat Hujan Lebat dan Banjir di Arab Saudi

Sebanyak 4.038 orang telah dievakuasi karena banjir, tambahnya dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi SPA.

Menurut pernyataan itu, sekitar 2.517 orang telah diselamatkan, sementara 2.536 lainnya telah ditampung di tempat perlindungan.

Hingga Kini Turki Telah Bantu 1.3 Juta Muslim Rohingya

TURKI (Jurnalislam.com) – Yayasan Bantuan Kemanusiaan yang berbasis di Istanbul (IHH) sejauh ini telah menolong 1,3 juta Muslim Rohingya sejak krisis di negara bagian Rakhine Myanmar mulai berlangsung pada 25 Agustus 2017.

Menurut sebuah pernyataan oleh IHH, mereka telah menyediakan makanan, air, tempat tinggal, barang-barang perawatan pribadi dan pakaian serta fasilitas kesehatan dan rehabilitasi untuk keluarga Rohingya di Bangladesh, Myanmar, dan India sejak tahun 1996.

Lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak, dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke negara tetangga Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut pada bulan Agustus 2017, menurut Amnesty International.

Baca juga:

 

IHH membangun 7,432 unit rumah bambu yang dilengkapi dengan panel surya dan bermaksud untuk membangun 13.000 lagi, katanya.

Unit-unit perumahan yang mereka bangun dipajang sebagai model oleh Organisasi Migrasi Internasional PBB (the International Migration Organization-IMO) kepada organisasi non-pemerintah lainnya yang bekerja untuk bantuan kemanusiaan di daerah itu, tambahnya.

Tenda juga telah didistribusikan kepada 16.365 keluarga sementara tikar jerami telah diberikan kepada 12.540 keluarga yang tinggal di kamp-kamp baik di Myanmar dan Bangladesh, kata pernyataan itu.

Menlu Turki Bahas Kasus Khashoggi dengan Sekjen PBB di New York

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, bertemu di balik pintu tertutup hari Selasa (20/11/2018) untuk membahas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Keduanya bertemu setelah Cavusoglu berbicara di Forum Global Aliansi Peradaban ke-8 (the 8th Global Forum of the Alliance of Civilizations), yang diadakan di markas besar PBB di New York.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mencatat bahwa selain membahas pembunuhan Khashoggi, Cavusoglu dan Guterres juga berbicara tentang perang di Yaman dan Suriah, serta Siprus.

Dujarric menambahkan bahwa PBB belum menerima permintaan resmi untuk penyelidikan internasional ke dalam kasus Khashoggi.

Baca juga:

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya Pemerintah Arab mengatakan dia telah meninggalkan konsulat dalam keadaan masih hidup, pemerintah Saudi akhirnya mengakui beberapa pekan kemudian bahwa dia terbunuh di sana.

Investigasi atas insiden itu menunjukkan regu pembunuh khusus datang ke konsulat, menyisir Hutan Belgrad Istanbul dan mencoba untuk menutupi bukti di gedung konsulat.

52 Anak-anak Palestina Dibunuh oleh Pasukan Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel telah menewaskan sedikitnya 52 anak-anak Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak 1 Januari, Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (Defense for Children International-Palestine-DCI-P) mengatakan pada hari Senin (19/11/2018).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada kesempatan Hari Anak Internasional (20 November), LSM cabang Palestina yang bermarkas di Jenewa tersebut mengatakan 48 dari kematian itu terjadi di Jalur Gaza yang diblokade sementara sisanya terjadi di Tepi Barat yang dijajah Israel.

LSM itu terus melaporkan militer zionis menggunakan kekerasan berlebihan – termasuk peluru tajam – terhadap anak-anak.

Baca juga:

Tahun ini, di antara anak-anak yang terbunuh sejauh ini oleh pasukan zionis, 18 ditembak di kepala, sementara 21 lainnya ditembak di dada, leher atau perut, menurut DCI-P.

LSM tersebut juga mencatat bahwa lebih dari 2.070 anak-anak Palestina telah terbunuh – baik oleh pasukan Israel, polisi atau para pemukim Yahudi – sejak tahun 2000.

Menurut Perkumpulan Tahanan Palestina (the Palestinian Prisoners Society), diperkirakan 350 anak di bawah umur Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel.

Begini Pembicaraan Taliban dengan AS di Qatar

QATAR (Jurnalislam.com) – Para pejabat Imarah Islam Afghanistan (Taliban) telah mengadakan pembicaraan tiga hari dengan perwakilan khusus Amerika Serikat untuk Afghanistan di Qatar, Zalmay Khalilzad, guna memperbarui proses perdamaian di negara yang dilanda perang itu, kata seorang pejabat kelompok pejuang bersenjata itu.

Pembicaraan, yang berakhir pada hari Ahad, dikonfirmasi oleh orang lain yang dekat dengan Taliban, yang berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk membahas negosiasi.

Taliban mengatakan proses dialognya dengan Washington bertujuan untuk mengamankan jadwal penarikan semua pasukan AS dan NATO dari Afghanistan untuk membuka jalan bagi dialog antar-Afghanistan.

Pekan lalu, lima anggota delegasi Taliban telah menghadiri pembicaraan di Moskow untuk pertama kalinya pada konferensi internasional demi membahas upaya perdamaian Afghanistan.

“Fase kedua (diskusi) harus diadakan di antara warga Afghanistan (sendiri) tentang bagaimana mewujudkan perdamaian dan membentuk pemerintahan di Afghanistan,” Sohail Shaheen, seorang juru bicara Taliban yang berbasis di Qatar, mengatakan kepada wartawan di Moskow pekan lalu.

Taliban melaporkan bahwa dalam pertemuan dengan Khalilzad, mereka juga menginginkan pembebasan tahanan dan penghapusan larangan perjalanan internasional pada pemimpin senior Taliban.

Dalam pernyataan panjang yang dikeluarkan awal bulan ini, Taliban menuntut pencabutan sanksi terhadap pemimpin kelompok, pembebasan tahanan dan pengakuan kantor mereka di Qatar.

Atas permintaan AS, sebuah kantor Taliban didirikan di Doha pada tahun 2013 untuk memfasilitasi perundingan damai tetapi ditutup tidak lama setelah karena mengibarkan bendera yang sama selama pemerintahan Taliban di Afghanistan di luar gedung.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai kemudian menghentikan upaya perdamaian, mengatakan kantor di Doha menampilkan diri sebagai kedutaan tidak resmi untuk pemerintah di pengasingan.

Baca juga: 

Bendera itu telah diturunkan dan kantor telah kosong tanpa pengumuman resmi tentang kemungkinan pembukaan kembali. Pembicaraan dengan Taliban terjadi di tempat lain di Doha.

Orang lain yang dekat dengan pembicaraan, yang juga berbicara dengan syarat anonimitas karena sensitivitas pembicaraan, mengatakan Khalilzad ingin mencapai penyelesaian dalam waktu enam bulan, skala waktu yang menurut Taliban terlalu pendek.

Khalilzad juga mengusulkan gencatan senjata, yang ditolak Taliban, kata orang itu, menambahkan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai pembebasan tahanan, membuka kantor kelompok atau mencabut larangan perjalanan bagi para pemimpinnya.

Dilaporkan bahwa Khairullah Khairkhwa, mantan gubernur Taliban untuk wilayah Herat, dan Mohammed Fazel, mantan kepala militer Taliban, menghadiri pembicaraan marathon itu.

Khairkhwa dan Fazel termasuk di antara lima anggota senior Taliban yang dibebaskan dari penjara AS di Teluk Guantanamo pada 2014 sebagai ganti tentara AS, Bowe Bergdahl, yang ditangkap oleh Taliban setelah meninggalkan markasnya di Afghanistan pada 2009.

Presiden AS Donald Trump mengecam keras pertukaran tahanan tahun 2014 tersebut dan dalam sebuah pidato Agustus lalu berjanji untuk mengirim pasukan tambahan dan melipatgandakan upaya untuk mengalahkan Taliban.

Namun strategi itu tidak banyak berpengaruh di lapangan, karena Taliban menjaga tempo serangan.

Administrasi Trump sekarang tampaknya fokus pada pencapaian penyelesaian politik dengan Taliban, dimulai dengan diadakannya pembicaraan langsung. Taliban telah lama menolak tuntutan AS untuk bernegosiasi dengan pemerintah yang didukung Barat di Kabul, yang mereka anggap sebagai rezim boneka.

Orang ketiga yang mengetahui diskusi itu mengatakan Taliban menekan penundaan pemilihan presiden tahun depan dan pembentukan pemerintah sementara di bawah kepemimpinan yang netral.

Abdul Sattar Sirat, seorang etnis Tajik dan ulama Islam, disarankan sebagai kandidat untuk memimpin pemerintahan sementara.

Sementara itu Pakistan telah membebaskan sejumlah tahanan tingkat tinggi Taliban, termasuk pendiri gerakan itu, Mullah Abdul Ghani Baradar. Pembebasan itu secara luas dilihat sebagai langkah yang diarahkan AS yang bertujuan mendorong Taliban berpartisipasi dalam pembicaraan.

Khalilzad telah mengunjungi wilayah itu dalam beberapa hari terakhir, dan dilaporkan bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada hari Ahad. Dia diharapkan untuk menekan Ghani agar memperbaiki tim negosiasinya sendiri, yang bisa menjadi sulit mengingat perpecahan yang mendalam di dalam pemerintahan.

The Wall Street Journal, mengutip seseorang yang akrab dengan pertemuan itu, mengatakan Khalilzad bertemu dengan para pejabat Taliban di Doha untuk kedua kalinya dalam empat bulan. Para pejabat AS tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar karena Departemen Luar Negeri telah menolak untuk mengomentari pembicaraan yang dilaporkan dengan Taliban.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengucapkan terima kasih kepada Qatar saat berbicara sebelum pertemuan di Washington pada hari Selasa dan mengatakan: “Kami mengakui Qatar sebagai teman lama dan mitra militer untuk perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah serta pendukung misi NATO di Afghanistan, dan di sini saya harus mencatat bahwa pengiriman material Qatar yang sangat sukses dari Hongaria untuk misi NATO di Afghanistan adalah bukti jangkauan global Anda.”