Jum'at, 11 Ramadhan 1447 / 27 Februari 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Penulis: Deddy Purwanto

Ribuan Pasukan Zionis Serbu Desa Palestina setelah Seorang Warga Yahudi Tewas Ditembak

10 Jan 2018 06:54:11
Ribuan Pasukan Zionis Serbu Desa Palestina setelah Seorang Warga Yahudi Tewas Ditembak

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ribuan tentara zionis melakukan penyerangan di desa-desa Palestina di dekat Nablus di Tepi Barat yang diduduki, menyusul kematian seorang pemukim illegal Israel yang ditembak di daerah tersebut.

Insiden penembakan tersebut terjadi pada hari Selasa (9/1/2018) di jalan utama di dekat pos penjagaan ilegal Israel di Havat Gilad, di mana pemukim berusia 35 tahun tersebut tinggal.

Dia kemudian meninggal karena luka-lukanya di sebuah rumah sakit di dekat Tel Aviv, media Israel melaporkan.

Harry Fawcett dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Yerusalem, mengatakan bahwa tentara Israel telah menggerebek desa-desa Palestina di Tell dan Sarra di Nablus utara.

Warga Pemukim Yahudi Serbu Sekolah Palestina di Tepi Barat, Serang Guru dan Siswa

Bentrokan dilaporkan terjadi di Sarra, Fawcett melaporkan, dan pemukim illegal Israel terlihat melemparkan batu ke arah mobil-mobil Palestina.

Tentara penjajah Israel mengatakan di Twitter bahwa tentara sedang menyisir daerah Nablus untuk mencari penembak yang dicurigai tersebut.

Didirikan pada tahun 2002, pos penjagaan Havat Gilad dianggap ilegal menurut hukum Israel dan internasional.

Permukiman illegal yahudi Israel melanggar Konvensi Jenewa Keempat, yang menyatakan bahwa kekuasaan pendudukan tidak dapat memindahkan penduduknya ke wilayah yang didudukinya.

Kategori : Tak Berkategori

Tags : Gaza palestina Pemukim Yahudi tepi barat yerusalem

Begini Lobi Politik Wakil Presiden AS Saat Kunjungannya ke Timteng Nanti

09 Jan 2018 10:54:32
Begini Lobi Politik Wakil Presiden AS Saat Kunjungannya ke Timteng Nanti

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden AS Mike Pence akan mengunjungi Israel sebagai bagian dari tur Timur Tengah yang direncanakan pada bulan lalu setelah Presiden Donald Trump mengakui secara sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Tur Timur Tengah yang tertunda akan berlangsung dari tanggal 20 sampai 23 Januari dan Pence akan mengunjungi Mesir dan Yordania untuk memperbaiki hubungan setelah keputusan kontroversial mengenai Yerusalem.

Dia akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Raja Yordania Abdullah dan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan, Middle East Eye melaporkan, Senin (8/1/2018).

Liga Arab Kembali Serukan pada Dunia untuk Bela Yerusalem

Pence, pendukung kuat keputusan Trump atas Yerusalem, juga akan mengunjungi Tembok Barat kota tersebut dan memberikan pidato di parlemen Israel, katanya.

Keputusan Trump tentang Yerusalem dan pengumuman pada bulan Desember bahwa AS akan memulai proses pemindahan kedutaannya dari Tel Aviv menyebabkan kekacauan dan demonstrasi di wilayah tersebut dan di dunia.

“Dengan arahan Presiden Trump, wakil presiden sedang melakukan perjalanan ke Timur Tengah demi menegaskan kembali komitmen kami bekerja sama dengan sekutu AS di kawasan tersebut untuk mengalahkan radikalisme yang mengancam generasi masa depan,” kata Alyssa Farah, juru bicara Pence.

Dia berencana untuk berdiskusi dengan ketiga pemimpin tersebut dengan mengangkat isu “cara untuk bekerja sama memerangi terorisme dan memperbaiki keamanan nasional kita,” tambahnya.

Israel Tawarkan $ 50 Juta Bagi Negara yang Dukung Pengakuan Trump atas Yerusalem

Status Yerusalem, yang merupakan rumah bagi situs suci Muslim, Yahudi dan Kristen, adalah salah satu hambatan terberat dalam kesepakatan damai antara Israel dan Palestina, yang sangat marah atas tindakan Trump dan menolak untuk bertemu dengan Pence.

Masyarakat internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas kota ini.

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibukota abadi, sementara penduduk Palestina menginginkan ibu kota negara merdeka berada di sektor timur kota, yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dan dicaplok dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui secara internasional.

Pence menunda kunjungan yang direncanakan ke Mesir dan Israel bulan lalu untuk tinggal di Washington demi memberikan suara kongres mengenai rencana perbaikan pajak Trump.

Pejabat Palestina membatalkan pertemuan mereka dengan Pence di Tepi Barat setelah keputusan Presiden Donald Trump pekan lalu untuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem dari Tel Aviv.

“Tidak akan ada pertemuan dengan wakil presiden Amerika di Palestina,” kata penasihat hukum Abbas Majdi al-Khaldi pada hari Sabtu. “Amerika Serikat telah melewati semua garis merah dengan keputusannya atas Yerusalem.”

Paus Fransiskus Dukung Erdogan dan Puji Resolusi PBB atas Yerusalem

Gedung Putih memperingatkan bahwa membatalkan pertemuan di Tepi Barat akan menjadi “kontraproduktif,” namun Abbas berada di bawah tekanan domestik yang berat untuk menghindari Pence setelah pengumuman Trump.

Pejabat Palestina juga telah menekan para pemimpin gereja setempat untuk menolak kunjungan Pence dan mengikuti contoh dari Gereja Koptik Mesir yang pausnya menolak untuk bertemu dengan wakil presiden AS karena keputusan tersebut.

Kategori : Internasional

Tags : AS mesir palestina tepi barat yerusalem Yordania

Rekor Terbaru Bencana Alam AS 2017, Kerugian Capai $ 306 Miliar dan Ratusan Tewas

09 Jan 2018 07:57:17
Rekor Terbaru Bencana Alam AS 2017, Kerugian Capai $ 306 Miliar dan Ratusan Tewas

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Bencana iklim utama di Amerika Serikat memecahkan rekor sebelumnya pada 2017 dengan menelan biaya $ 306 miliar dan membunuh ratusan orang.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA) mengatakan pada hari Senin (8/1/2018) bahwa peristiwa iklim yang merusak terjadi pada tahun terpanas ketiga yang tercatat untuk AS, Aljazeera melaporkan.

Sedikitnya 362 orang tewas dalam bencana iklim yang mencakup tiga badai besar: Harvey, Maria, dan Irma, kata NOAA.

Trump Deklarasikan Bencana Kebakaran Besar Selang Beberapa Hari Resmikan Ibukota Israel

“Selama tahun 2017, AS mengalami tahun yang bersejarah dalam hal bencana akibat cuaca dan iklim,” kata badan cuaca tersebut.

“Kerusakan kumulatif dari 16 peristiwa di AS pada 2017 adalah $ 306,2 miliar, yang memecahkan rekor tahunan AS sebelumnya sebesar $ 214,8 miliar pada tahun 2005.”

Kerugian akibat Badai Harvey yang menerjang Texas melebihi $ 125 miliar. Harvey menempati urutan kedua setelah Badai Katrina, yang menelan biaya $ 160 miliar serta merupakan badai paling mahal dalam 38 tahun yang catatannya telah disimpan.

Sementara itu, Hurricanes Maria dan Irma masing-masing mengakibatkan kerusakan masing-masing sebesar $ 90 miliar dan $ 50 miliar.

Kebakaran hutan yang mematikan di sembilan negara bagian barat AS menyebabkan kerusakan sebesar $ 18 miliar – tiga kali lipat dari rekor sebelumnya, kata agensi tersebut.

Bencana iklim mahal lainnya termasuk badai, kekeringan, dan banjir yang parah.

Hindari Kebakaran Besar, Ribuan Warga Zionis Kabur Tinggalkan Rumahnya

Para ilmuwan dari Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA mengatakan 2017 adalah tahun terpanas ketiga di Amerika Serikat dalam 123 tahun sejak data tersebut dicatat.

Data ini mencatat lima tahun terpanas bagi Amerika Serikat yang terjadi sejak 2006.

NOAA tidak menghubungkan perubahan iklim akibat ulah manusia dengan bencana besar yang terjadi tahun lalu. Namun, banyak ilmuwan berpendapat pembakaran gas rumah kaca oleh manusia telah memainkan peran penting dalam meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana iklim.

Sebuah laporan baru-baru ini – The Economic Case for Climate Action in the United States – mencatat bahwa jumlah kejadian cuaca ekstrem telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir dengan 21 kejadian di tahun 1980an, 38 di tahun 90-an, dan 92 kejadian antara tahun 2006-2016 – meningkat lebih dari dua kali lipat.

“Kerugian ekonomi akibat kejadian cuaca ekstrem meningkat dengan cepat,” kata studi tersebut.

“Terlepas dari meningkatnya kerugian dan biaya ekonomi pada kehidupan, kesehatan, rumah, bisnis, dan mata pencaharian, Amerika Serikat terus masih sangat mengandalkan bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi – yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.”

Kategori : Internasional

Tags : AS bencana

Serangan Roket Hantam Konvoi Militer Turki di Idlib

09 Jan 2018 06:54:48
Serangan Roket Hantam Konvoi Militer Turki di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Serangan roket menargetkan konvoi militer Turki di provinsi Idlib, Suriah barat laut, menurut sebuah sumber militer pada hari Senin (81/2018).

Roket tersebut mendarat hanya 20-30 meter dari konvoi di distrik Darat Izzah, kata sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan untuk berbicara dengan media.

Tidak ada korban luka yang dilaporkan dalam serangan itu. Kendaraan militer dalam konvoi tersebut juga dikatakan tidak rusak, sumber tersebut menambahkan, lansir World Bulletin.

Militer Turki Masuk ke Dalam Idlib Tanpa Koordinasi, Ini Kata Erdogan

Langkah-langkah keamanan ditingkatkan di wilayah tersebut setelah serangan tersebut terjadi.

Pada 12 Oktober 2017, militer Turki mulai menyeberang ke wilayah tersebut untuk menetapkan titik pengamatan demi memantau gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib, yang didirikan setelah perundingan Astana.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Idlib, yang terletak di perbatasan Turki, menghadapi serangan udara hebat dari rezim Syiah Assad setelah sebuah perang global yang kejam pecah sejak tahun 2011.

Setelah Maret 2015, Idlib tidak lagi berada di bawah kendali rezim Assad melainkan didominasi oleh faksi-faksi jihad dan organisasi bersenjata anti-rezim.

Kategori : Internasional

Tags : Idlib Konflik Suriah turki

Dalam 11 Hari Rezim Assad dan Rusia Bantai 126 Warga Sipil Ghouta Timur

09 Jan 2018 06:47:13
Dalam 11 Hari Rezim Assad dan Rusia Bantai 126 Warga Sipil Ghouta Timur

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 23 orang tewas dalam serangan udara rezim Syiah Assad dan agresor Rusia kemarin Senin (8/1/2018) di pinggiran ibukota negara itu, Damaskus.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa angka tersebut mencakup enam anak dan empat wanita yang tewas dalam serangan Senin di distrik Ghinka yang dikuasai oposisi.

Monitor tersebut, yang mengumpulkan informasinya dari jaringan sumber di Suriah, menambahkan sejak 29 Desember, total 126 orang tewas dalam serangan udara di wilayah yang terblokade tersebut, termasuk 29 anak dan 28 wanita.

Al Jazeera tidak dapat memverifikasi sendiri angka-angka tersebut secara independen.

Satu-satunya pusat medis di lingkungan perumahan Madira di Ghouta Timur “hancur total”, seorang koresponden Al Jazeera melaporkan. Dia mengatakan beberapa pekerja bantuan juga terluka dalam serangan tersebut.

Pengepungan Rezim Assad di Timur Ghouta Bunuh 527 Bayi

Bagi pemerintah rezim Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia, kedekatan Ghouta Timur ke ibukota menjadikannya sebagai target utama.

Wilayah tersebut berada di bawah kendali kelompok-kelompok anti-Assad yang setia pada Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), sebuah brigade bersenjata yang didukung AS dan Turki yang terdiri dari pembelot tentara Suriah dan warga sipil biasa.

Sejak 2013, rezim Nushairiyah telah mempertahankan pengepungan yang mencekik di wilayah tersebut dalam upaya melemahkan kelompok oposisi dan terus mencengkeramnya meskipun ada kesepakatan de-eskalasi.

Kesepakatan tersebut – yang dicapai tahun lalu oleh Turki, Rusia dan Iran – dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran di sana dan untuk memungkinkan pasokan kemanusiaan ke daerah kantong tersebut.

Kawasan tersebut merupakan salah satu benteng oposisi terakhir di negara ini dan merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang. Pengepungan empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang besar, dengan kekurangan makanan dan obat-obatan.

Ghouta Timur Diblokade Rezim Syiah Assad, 1.000 Anak Lebih Terancam Kematian

Hamish de Bretton-Gordon, seorang penasihat koalisi badan amal medis yang beroperasi di Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera dari kota Salisbury di Inggris bahwa lebih dari 120 anak-anak membutuhkan perawatan medis mendesak di Ghouta Timur, mencatat bahwa sepuluh hari terakhir “jumlah serangannya sangat mengerikan.”

Serangan pemerintah di distrik tersebut sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan diyakini merupakan bagian dari strategi pemerintah Suriah untuk merebut kembali wilayah yang dipegang oposisi.

Sebelumnya pada hari Senin, tentara rezim Suriah merebut kembali sebuah lokasi militer di pinggiran kota Damaskus dari pasukan oposisi, menurut Observatorium Suriah.

Pasukan rezim “membuka jalan” pada hari Ahad ke markas Kendaraan Militer di kota Harasta di Ghouta Timur, membebaskan sekitar 200 tentara rezim yang terperangkap di dalam kompleks tersebut, kata pemantau yang berbasis di Inggris.

PBB: 400.000 Warga Ghouta Timur akan Hadapi Malapetaka Mengerikan

Pasukan pemerintah telah dikepung oleh pejuang oposisi dari faksi Ahrar al-Sham dan Korps al-Rahman sejak serangan pada 31 Desember, di mana pasukan anti-assad memperluas kendali mereka atas lokasi tersebut.

Sekitar 160 pasukan rezim Suriah dan oposisi tewas dalam pertempuran di pangkalan tersebut sejak 31 Desember.

Pasukan oposisi menyerbu situs tersebut pada bulan November 2017 untuk mencegah serangan udara pemerintah di daerah kantong oposisi di Ghouta Timur.

Di tempat lain di Suriah, sedikitnya 43 orang, termasuk 27 warga sipil, tewas dalam serangan bom mobil pada hari Ahad di kota barat laut Idlib, menurut SOHR.

Sedikitnya 14 dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak dan tujuh adalah wanita, kata monitor tersebut.

Ledakan tersebut, yang sejauh ini belum ada klaim tanggung jawab, menyerang markas militer kelompok bersenjata Ajnad al-Kavkaz, SOHR melaporkan.

Ia menambahkan tidak jelas apakah serangan tersebut secara khusus menargetkan basis para pejuang Suriah.

Sementara provinsi Idlib yang dikuasai oleh faksi-faksi jihad Suriah telah mengalami peningkatan petempuran dalam beberapa pekan terakhir karena rezim Assad mengintensifkan upayanya untuk menguasai wilayah tersebut.

Kategori : Internasional

Tags : Ghouta Timur Konflik Suriah

Pasukan Zionis Tahan 3.000 Lebih Warga Palestina

08 Jan 2018 08:38:54
Pasukan Zionis Tahan 3.000 Lebih Warga Palestina

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel menahan 3.617 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada 2017, menurut militer zionis, lansir Anadolu Agency Ahad (7/1/2018).

Dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad, tentara itu mengatakan bahwa penangkapan tersebut lebih tinggi dari tahun 2016, ketika pasukan Israel menahan 3.313 warga di kedua wilayah tersebut.

Militer mengatakan 20 orang Israel tewas dalam 99 serangan atau usaha serangan di Tepi Barat tahun lalu, naik dari 17 orang yang tewas tahun sebelumnya.

Hamas Terus Hajar Israel dengan Roket Walaupun Dibalas dengan Serangan Udara

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa 35 roket telah diluncurkan dari Gaza ke Israel pada 2017, 30 di antaranya diluncurkan setelah Presiden AS Donald Trump secara nyeleneh mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bulan lalu.

Meskipun terjadi serangan roket, tentara itu mengatakan bahwa perbatasan Israel dan Gaza tetap kondusif sehubungan dengan upaya Hamas, yang mengatur Jalur Gaza, “untuk mencegah eskalasi.”

Data tersebut menunjukkan bahwa tentara penjajah Israel melakukan 59 serangan di Gaza pada tahun 2017 yang diduga sebagai balasan atas tembakan roket para pejuang Palestina.

Kategori : Internasional

Tags : Gaza palestina tepi barat yerusalem

Liga Arab Kembali Serukan pada Dunia untuk Bela Yerusalem

08 Jan 2018 08:31:04
Liga Arab Kembali Serukan pada Dunia untuk Bela Yerusalem

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Para menteri luar negeri Arab menyerukan pengakuan internasional atas sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, yang bertujuan untuk membatalkan keputusan kontroversial AS mengenai status kota suci tersebut.

Ayman Safadi, menteri luar negeri Yordania, menjadi tuan rumah sebuah komite pejabat dari Mesir, Maroko, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Palestina di Amman pada hari Sabtu (6/1/2018) untuk membahas tanggapan Liga Arab terhadap keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bulan lalu.

Komite tersebut – yang dibentuk pada pertemuan darurat Liga Arab di Kairo pada 9 Desember, hanya beberapa hari setelah pernyataan Trump – berharap dapat membalikkan keputusan dan “untuk menegaskan bahwa pernyataan Trump tersebut tidak memiliki efek hukum,” Safadi mengatakan kepada wartawan di KTT tersebut.

Paus Fransiskus Dukung Erdogan dan Puji Resolusi PBB atas Yerusalem

“Kami [Liga Arab] akan menghadapi keputusan tersebut dengan meminta sebuah resolusi [PBB], sebuah keputusan internasional, untuk mengakui sebuah negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya sesuai perbatasan tahun 1967,” katanya.

“Kami memiliki permintaan khusus, yang terpenting adalah pengakuan atas negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya sesuai dengan perbatasan 4 Juni 1967.”

Berdasarkan diskusi tersebut, para menteri akan membuat rekomendasi lebih lanjut untuk pertemuan penuh Liga Arab, yang akan diadakan pada akhir bulan ini, Safadi menambahkan.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Ramallah, mengatakan KTT tersebut mengungkapkan bahwa para pemimpin Arab merasa harus menerapkan lebih banyak tekanan pada masyarakat internasional mengenai masalah negara Palestina masa depan.

“Mereka menyerukan sebuah pertemuan darurat dalam beberapa pekan ke depan untuk membahas masalah ini dan untuk mencoba menyelesaikannya dengan lebih mendesak untuk memastikan bahwa, sekali lagi, ini sangat penting dalam agenda – tidak hanya untuk pemerintah Arab , tapi juga untuk masyarakat internasional,” katanya.

Israel Tawarkan $ 50 Juta Bagi Negara yang Dukung Pengakuan Trump atas Yerusalem

KTT tersebut diadakan saat sebuah laporan yang diterbitkan oleh New York Times pada hari Sabtu menegaskan bahwa saat pemerintah Mesir secara terbuka mengecam langkah Trump di Yerusalem, seorang perwira intelijen negara meminta pembawa acara TV berpengaruh di negara tersebut untuk meyakinkan pemirsa mereka untuk menerimanya.

Laporan tersebut didasarkan pada rekaman audio yang diperoleh Times, di mana Ashraf al-Kholi, petugas intelijen, dapat didengar memberi tahu pembawa acara bahwa Mesir, seperti “saudara laki-laki Arab lainnya, mencela masalah ini,” namun “setelah itu ia mengatakan, bahwa hal ini akan menjadi kenyataan.”

Laporan tersebut telah menimbulkan pertanyaan tentang tingkat konsensus di antara negara-negara Arab mengenai masalah Yerusalem, yang menggarisbawahi betapa rumitnya isu Yerusalem di wilayah ini, kata Jamjoom.

“Anda menyaksikan kecaman publik oleh negara-negara Arab mengenai keputusan Trump, namun di sisi lain, terutama di kalangan warga biasa, mereka mengatakan bahwa para pemimpin Arab tidak cukup berbuat untuk berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudara Palestina mereka pada saat mereka benar-benar membutuhkannya,” kata koresponden kami.

Keputusan Trump atas Yerusalem telah menimbulkan kecaman yang meluas dari banyak pemimpin di Timur Tengah, dan juga dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations General Assembly-UNGA).

Pada tanggal 21 Desember, 128 anggota UNGA memilih resolusi yang menolak keputusan Trump. Sembilan negara – termasuk Amerika Serikat – menolak resolusi tersebut, dan 35 abstain.

Status Yerusalem, rumah bagi tempat suci umat Islam, Yahudi dan Kristen, adalah salah satu isu utama dalam konflik Israel-Palestina. Setelah menduduki bagian timur kota dalam Perang 1967, Israel mencaplok wilayah tersebut dan memproklamirkannya sebagai “ibukota abadi dan tak terbagi.”

Warga Palestina, bagaimanapun, Yerusalem Timur adalah ibu kota negara mereka.

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds liga arab palestina tepi barat yerusalem

2.000 Lebih Milisi Syiah Afghanistan Tewas dalam Perang di Suriah

08 Jan 2018 06:46:50
2.000 Lebih Milisi Syiah Afghanistan Tewas dalam Perang di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Seorang komandan milisi Syiah Afghanistan yang didukung Iran mengatakan pada hari Ahad (7/1/2018) bahwa sampai saat ini lebih dari 2.000 warga Afghanistan telah terbunuh dalam pertempuran di Suriah.

“Lebih dari 2.000 pejuang Afghanistan yang dikirim oleh Iran ke konflik Suriah terbunuh, sementara 8.000 lainnya terluka,” Zahr Mujahid, seorang komandan Syiah Divisi Fatemiyoun, yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Syiah Iran, mengatakan kepada media Besic yang berbasis di Iran, Anadolu Agency melaporkan.

Zahr sebelumnya mengatakan kepada Kantor Berita Iran, Tasnim: “Diskriminasi terhadap pejuang Afghanistan di Iran telah mencapai titik tertentu hingga beberapa orang membedakan antara tentara Iran dan Afghanistan yang menjadi martir dalam pertempuran.”

Hizbullah Lebanon Latih Syiah Afghanistan Fatemiyoun untuk Lindungi Kuil di Damaskus

Divisi Fatemiyoun, yang didirikan oleh warga Afghanistan yang beremigrasi ke Iran, pertama kali dikirim ke Suriah pada tahun 2013, dua tahun setelah serangan berdarah rezim Syiah Nushairiyah Assad terhadap aksi damai di tahun 2011.

Garda Revolusi Syiah Iran, yang mendukung rezim Syiah Bashar al-Assad, menggunakan tentara Syiah Fatemiyoun di garis depan.

Pasukan milisi Syiah Iran bersama dengan Divisi Fatemiyoun dan Zeynebiyyoun membentuk unsur-unsur utama yang dikirim Teheran ke Suriah yang dilanda perang untuk membantu rezim Syiah Suriah, semuanya berperang di bawah bendera Garda Revolusi Iran.

Iran adalah rumah bagi sekitar 3 juta warga Afghanistan, banyak di antaranya melarikan diri dari penganiayaan dan konflik bersenjata di negara asal mereka, yang berbatasan dengan Iran.

Kategori : Internasional

Tags : afghanistan iran Konflik Suriah

Pembantaian Warga Sipil di Ghouta Timur oleh Rezim Assad Terus Berlanjut

08 Jan 2018 06:31:08
Pembantaian Warga Sipil di Ghouta Timur oleh Rezim Assad Terus Berlanjut

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 17 warga sipil terbunuh dalam pemboman udara yang dilakukan oleh pasukan rezim Suriah di Ghouta Timur, menurut Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR).

Serangkaian serangan pada hari Sabtu (6/1/2018) tersebut menewaskan 12 orang di daerah Hammuriyeh, tiga di kota Arbin dan dua di Medyara, kata monitor yang berbasis di Inggris itu.

Menurut Pertahanan Sipil Suriah, empat anak kecil dan dua perempuan termasuk di antara mereka yang terbunuh dalam serangan di Hammuriyeh.

Korban tewas akibat serangan Sabtu diperkirakan akan meningkat, dengan sedikitnya 25 orang lainnya terluka, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis, kata SOHR.

Jet Tempur Rusia Kembali Bunuhi Warga Sipil di Ghouta Timur, 23 Tewas

Pertahanan Sipil Suriah melaporkan bahwa lebih dari 40 orang terluka dalam serangan di Hammuriyeh saja.

Serangan rezim Syiah Assad terhadap Ghouta Timur, yang terletak di pinggiran ibukota Suriah, Damaskus, sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan diyakini merupakan bagian dari strategi Assad untuk merebut kembali posisi yang dipegang kelompok oposisi.

Sedikitnya 23 warga sipil terbunuh oleh serangan udara rezim di daerah yang dikuasai oposisi di distrik tersebut pada 3 Januari. Jumlah korban di wilayah tersebut telah mencapai 96 – termasuk 40 perempuan dan anak-anak – sejak 29 Desember, menurut SOHR.

Al Jazeera, tidak bisa secara independen memverifikasi angka-angka tersebut.

Hamish de Bretton-Gordon, seorang penasihat koalisi badan amal medis yang beroperasi di Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera, Ahad (7/1/2018), dari kota Salisbury di Inggris bahwa lebih dari 120 anak-anak membutuhkan perawatan medis yang mendesak di wilayah tersebut.

“10 hari terakhir ini mengerikan dalam hal jumlah serangan, terutama selama masa Natal dan Tahun Baru,” katanya.

“Kami telah melihat lebih dari 10 rumah sakit diserang dan dikeluarkan dari komisi di provinsi Ghouta Timur dan Idlib, [dan] apa yang benar-benar kami butuhkan di Suriah adalah gencatan senjata sehingga anak-anak yang luka parah dapat dirawat.”

Rezim Syiah Assad Kembali Gunakan Gas Klorin di Ghouta Timur

Ghouta Timur adalah satu dari segelintir wilayah yang disebut zona de-eskalasi di Suriah, di mana aktivitas militer dilarang berdasarkan sebuah kesepakatan gencatan senjata yang disahkan tahun lalu oleh Turki, Rusia dan Iran.

Kawasan ini merupakan salah satu benteng oposisi di Suriah dan merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang. Pengepungan pemerintah Syiah Nushariyah Assad selama empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan, dengan kekurangan pangan dan obat-obatan.

Kategori : Internasional

Tags : Ghouta Timur Konflik Suriah

Uni Eropa Tolak Undang-undang Hukuman Mati Israel untuk Warga Palestina

05 Jan 2018 09:55:03
Uni Eropa Tolak Undang-undang Hukuman Mati Israel untuk Warga Palestina

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Posisi Uni Eropa dalam hukuman mati bersifat universal dan blok tersebut bekerja secara aktif untuk menekannya di mana-mana dalam segala situasi, juru bicara Uni Eropa mengatakan pada hari Kamis (4/1/2018).

Ucapan Carlos Martin Ruiz de Gordejuela muncul sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh koresponden Anadolu Agency di Brussels pada sebuah konferensi pers di ibukota Belgia tersebut.

“Uni Eropa menentang hukuman mati pada warga Palestina dalam segala situasi dan kasus tanpa pengecualian,” kata Gordejuela.

Uni Eropa Tolak Ajakan PM Israel untuk Akui Yerusalem sebagai Ibukotanya

Knesset (parlemen Israel) pada hari Rabu menyetujui pembacaan awal sebuah undang-undang kontroversial yang akan memungkinkan pihak berwenang Israel menjatuhkan hukuman mati kepada warga Palestina yang terlibat dalam “operasi melawan target Israel.”

Diusulkan oleh partai Yisrael Beiteinu yang paling kanan, sidang pembacaan pertama RUU tersebut disetujui oleh hasil pemungutan suara 52 melawan 49. Namun usulan itu harus disetujui melalui sidang bacaan kedua dan ketiga sebelum menjadi undang-undang.

Kategori : Internasional

Tags : palestina Uni Eropa yerusalem

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

5 Feb 2026 12:27:54
Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

5 Feb 2026 12:20:43
Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

5 Feb 2026 12:19:07
Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

31 Jan 2026 17:06:51

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED