Dalam 11 Hari Rezim Assad dan Rusia Bantai 126 Warga Sipil Ghouta Timur

9 Januari 2018
Dalam 11 Hari Rezim Assad dan Rusia Bantai 126 Warga Sipil Ghouta Timur

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 23 orang tewas dalam serangan udara rezim Syiah Assad dan agresor Rusia kemarin Senin (8/1/2018) di pinggiran ibukota negara itu, Damaskus.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa angka tersebut mencakup enam anak dan empat wanita yang tewas dalam serangan Senin di distrik Ghinka yang dikuasai oposisi.

Monitor tersebut, yang mengumpulkan informasinya dari jaringan sumber di Suriah, menambahkan sejak 29 Desember, total 126 orang tewas dalam serangan udara di wilayah yang terblokade tersebut, termasuk 29 anak dan 28 wanita.

Al Jazeera tidak dapat memverifikasi sendiri angka-angka tersebut secara independen.

Satu-satunya pusat medis di lingkungan perumahan Madira di Ghouta Timur “hancur total”, seorang koresponden Al Jazeera melaporkan. Dia mengatakan beberapa pekerja bantuan juga terluka dalam serangan tersebut.

Pengepungan Rezim Assad di Timur Ghouta Bunuh 527 Bayi

Bagi pemerintah rezim Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia, kedekatan Ghouta Timur ke ibukota menjadikannya sebagai target utama.

Wilayah tersebut berada di bawah kendali kelompok-kelompok anti-Assad yang setia pada Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), sebuah brigade bersenjata yang didukung AS dan Turki yang terdiri dari pembelot tentara Suriah dan warga sipil biasa.

Sejak 2013, rezim Nushairiyah telah mempertahankan pengepungan yang mencekik di wilayah tersebut dalam upaya melemahkan kelompok oposisi dan terus mencengkeramnya meskipun ada kesepakatan de-eskalasi.

Kesepakatan tersebut – yang dicapai tahun lalu oleh Turki, Rusia dan Iran – dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran di sana dan untuk memungkinkan pasokan kemanusiaan ke daerah kantong tersebut.

Kawasan tersebut merupakan salah satu benteng oposisi terakhir di negara ini dan merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang. Pengepungan empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang besar, dengan kekurangan makanan dan obat-obatan.

Ghouta Timur Diblokade Rezim Syiah Assad, 1.000 Anak Lebih Terancam Kematian

Hamish de Bretton-Gordon, seorang penasihat koalisi badan amal medis yang beroperasi di Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera dari kota Salisbury di Inggris bahwa lebih dari 120 anak-anak membutuhkan perawatan medis mendesak di Ghouta Timur, mencatat bahwa sepuluh hari terakhir “jumlah serangannya sangat mengerikan.”

Serangan pemerintah di distrik tersebut sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan diyakini merupakan bagian dari strategi pemerintah Suriah untuk merebut kembali wilayah yang dipegang oposisi.

Sebelumnya pada hari Senin, tentara rezim Suriah merebut kembali sebuah lokasi militer di pinggiran kota Damaskus dari pasukan oposisi, menurut Observatorium Suriah.

Pasukan rezim “membuka jalan” pada hari Ahad ke markas Kendaraan Militer di kota Harasta di Ghouta Timur, membebaskan sekitar 200 tentara rezim yang terperangkap di dalam kompleks tersebut, kata pemantau yang berbasis di Inggris.

PBB: 400.000 Warga Ghouta Timur akan Hadapi Malapetaka Mengerikan

Pasukan pemerintah telah dikepung oleh pejuang oposisi dari faksi Ahrar al-Sham dan Korps al-Rahman sejak serangan pada 31 Desember, di mana pasukan anti-assad memperluas kendali mereka atas lokasi tersebut.

Sekitar 160 pasukan rezim Suriah dan oposisi tewas dalam pertempuran di pangkalan tersebut sejak 31 Desember.

Pasukan oposisi menyerbu situs tersebut pada bulan November 2017 untuk mencegah serangan udara pemerintah di daerah kantong oposisi di Ghouta Timur.

Di tempat lain di Suriah, sedikitnya 43 orang, termasuk 27 warga sipil, tewas dalam serangan bom mobil pada hari Ahad di kota barat laut Idlib, menurut SOHR.

Sedikitnya 14 dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak dan tujuh adalah wanita, kata monitor tersebut.

Ledakan tersebut, yang sejauh ini belum ada klaim tanggung jawab, menyerang markas militer kelompok bersenjata Ajnad al-Kavkaz, SOHR melaporkan.

Ia menambahkan tidak jelas apakah serangan tersebut secara khusus menargetkan basis para pejuang Suriah.

Sementara provinsi Idlib yang dikuasai oleh faksi-faksi jihad Suriah telah mengalami peningkatan petempuran dalam beberapa pekan terakhir karena rezim Assad mengintensifkan upayanya untuk menguasai wilayah tersebut.