Liga Arab Kembali Serukan pada Dunia untuk Bela Yerusalem

8 Januari 2018
Liga Arab Kembali Serukan pada Dunia untuk Bela Yerusalem

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Para menteri luar negeri Arab menyerukan pengakuan internasional atas sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, yang bertujuan untuk membatalkan keputusan kontroversial AS mengenai status kota suci tersebut.

Ayman Safadi, menteri luar negeri Yordania, menjadi tuan rumah sebuah komite pejabat dari Mesir, Maroko, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Palestina di Amman pada hari Sabtu (6/1/2018) untuk membahas tanggapan Liga Arab terhadap keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bulan lalu.

Komite tersebut – yang dibentuk pada pertemuan darurat Liga Arab di Kairo pada 9 Desember, hanya beberapa hari setelah pernyataan Trump – berharap dapat membalikkan keputusan dan “untuk menegaskan bahwa pernyataan Trump tersebut tidak memiliki efek hukum,” Safadi mengatakan kepada wartawan di KTT tersebut.

Paus Fransiskus Dukung Erdogan dan Puji Resolusi PBB atas Yerusalem

“Kami [Liga Arab] akan menghadapi keputusan tersebut dengan meminta sebuah resolusi [PBB], sebuah keputusan internasional, untuk mengakui sebuah negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya sesuai perbatasan tahun 1967,” katanya.

“Kami memiliki permintaan khusus, yang terpenting adalah pengakuan atas negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya sesuai dengan perbatasan 4 Juni 1967.”

Berdasarkan diskusi tersebut, para menteri akan membuat rekomendasi lebih lanjut untuk pertemuan penuh Liga Arab, yang akan diadakan pada akhir bulan ini, Safadi menambahkan.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Ramallah, mengatakan KTT tersebut mengungkapkan bahwa para pemimpin Arab merasa harus menerapkan lebih banyak tekanan pada masyarakat internasional mengenai masalah negara Palestina masa depan.

“Mereka menyerukan sebuah pertemuan darurat dalam beberapa pekan ke depan untuk membahas masalah ini dan untuk mencoba menyelesaikannya dengan lebih mendesak untuk memastikan bahwa, sekali lagi, ini sangat penting dalam agenda – tidak hanya untuk pemerintah Arab , tapi juga untuk masyarakat internasional,” katanya.

Israel Tawarkan $ 50 Juta Bagi Negara yang Dukung Pengakuan Trump atas Yerusalem

KTT tersebut diadakan saat sebuah laporan yang diterbitkan oleh New York Times pada hari Sabtu menegaskan bahwa saat pemerintah Mesir secara terbuka mengecam langkah Trump di Yerusalem, seorang perwira intelijen negara meminta pembawa acara TV berpengaruh di negara tersebut untuk meyakinkan pemirsa mereka untuk menerimanya.

Laporan tersebut didasarkan pada rekaman audio yang diperoleh Times, di mana Ashraf al-Kholi, petugas intelijen, dapat didengar memberi tahu pembawa acara bahwa Mesir, seperti “saudara laki-laki Arab lainnya, mencela masalah ini,” namun “setelah itu ia mengatakan, bahwa hal ini akan menjadi kenyataan.”

Laporan tersebut telah menimbulkan pertanyaan tentang tingkat konsensus di antara negara-negara Arab mengenai masalah Yerusalem, yang menggarisbawahi betapa rumitnya isu Yerusalem di wilayah ini, kata Jamjoom.

“Anda menyaksikan kecaman publik oleh negara-negara Arab mengenai keputusan Trump, namun di sisi lain, terutama di kalangan warga biasa, mereka mengatakan bahwa para pemimpin Arab tidak cukup berbuat untuk berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudara Palestina mereka pada saat mereka benar-benar membutuhkannya,” kata koresponden kami.

Keputusan Trump atas Yerusalem telah menimbulkan kecaman yang meluas dari banyak pemimpin di Timur Tengah, dan juga dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations General Assembly-UNGA).

Pada tanggal 21 Desember, 128 anggota UNGA memilih resolusi yang menolak keputusan Trump. Sembilan negara – termasuk Amerika Serikat – menolak resolusi tersebut, dan 35 abstain.

Status Yerusalem, rumah bagi tempat suci umat Islam, Yahudi dan Kristen, adalah salah satu isu utama dalam konflik Israel-Palestina. Setelah menduduki bagian timur kota dalam Perang 1967, Israel mencaplok wilayah tersebut dan memproklamirkannya sebagai “ibukota abadi dan tak terbagi.”

Warga Palestina, bagaimanapun, Yerusalem Timur adalah ibu kota negara mereka.