Pembantaian Warga Sipil di Ghouta Timur oleh Rezim Assad Terus Berlanjut

8 Januari 2018
Pembantaian Warga Sipil di Ghouta Timur oleh Rezim Assad Terus Berlanjut

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 17 warga sipil terbunuh dalam pemboman udara yang dilakukan oleh pasukan rezim Suriah di Ghouta Timur, menurut Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR).

Serangkaian serangan pada hari Sabtu (6/1/2018) tersebut menewaskan 12 orang di daerah Hammuriyeh, tiga di kota Arbin dan dua di Medyara, kata monitor yang berbasis di Inggris itu.

Menurut Pertahanan Sipil Suriah, empat anak kecil dan dua perempuan termasuk di antara mereka yang terbunuh dalam serangan di Hammuriyeh.

Korban tewas akibat serangan Sabtu diperkirakan akan meningkat, dengan sedikitnya 25 orang lainnya terluka, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis, kata SOHR.

Jet Tempur Rusia Kembali Bunuhi Warga Sipil di Ghouta Timur, 23 Tewas

Pertahanan Sipil Suriah melaporkan bahwa lebih dari 40 orang terluka dalam serangan di Hammuriyeh saja.

Serangan rezim Syiah Assad terhadap Ghouta Timur, yang terletak di pinggiran ibukota Suriah, Damaskus, sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan diyakini merupakan bagian dari strategi Assad untuk merebut kembali posisi yang dipegang kelompok oposisi.

Sedikitnya 23 warga sipil terbunuh oleh serangan udara rezim di daerah yang dikuasai oposisi di distrik tersebut pada 3 Januari. Jumlah korban di wilayah tersebut telah mencapai 96 – termasuk 40 perempuan dan anak-anak – sejak 29 Desember, menurut SOHR.

Al Jazeera, tidak bisa secara independen memverifikasi angka-angka tersebut.

Hamish de Bretton-Gordon, seorang penasihat koalisi badan amal medis yang beroperasi di Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera, Ahad (7/1/2018), dari kota Salisbury di Inggris bahwa lebih dari 120 anak-anak membutuhkan perawatan medis yang mendesak di wilayah tersebut.

“10 hari terakhir ini mengerikan dalam hal jumlah serangan, terutama selama masa Natal dan Tahun Baru,” katanya.

“Kami telah melihat lebih dari 10 rumah sakit diserang dan dikeluarkan dari komisi di provinsi Ghouta Timur dan Idlib, [dan] apa yang benar-benar kami butuhkan di Suriah adalah gencatan senjata sehingga anak-anak yang luka parah dapat dirawat.”

Rezim Syiah Assad Kembali Gunakan Gas Klorin di Ghouta Timur

Ghouta Timur adalah satu dari segelintir wilayah yang disebut zona de-eskalasi di Suriah, di mana aktivitas militer dilarang berdasarkan sebuah kesepakatan gencatan senjata yang disahkan tahun lalu oleh Turki, Rusia dan Iran.

Kawasan ini merupakan salah satu benteng oposisi di Suriah dan merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang. Pengepungan pemerintah Syiah Nushariyah Assad selama empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan, dengan kekurangan pangan dan obat-obatan.