14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

LONDON (Jurnalislam.com) – Empat belas negara anggota UE telah mengusir puluhan diplomat Rusia dalam reaksi serempak pada hari Senin (26/3/2018), atas keracunan bekas mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di Inggris, lansir Anadolu Agency.

Sedikitnya 45 diplomat Rusia telah diusir di seluruh Eropa sejauh ini.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hingga hari ini sudah 14 negara anggota yang memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, yang berada di Varna Bulgaria untuk KTT Uni Eropa-Turki (EU-Turkey Summit).

“Dewan Eropa setuju dengan penilaian pemerintah Inggris bahwa Federasi Rusia sangat mungkin bertanggung jawab dan tidak ada penjelasan alternatif lainnya yang masuk akal. Kami memutuskan untuk memanggil Duta Besar UE untuk Rusia untuk konsultasi,” tambahnya.

Jerman adalah salah satu negara pertama yang membuat pengumuman itu saat Menteri Luar Negeri, Heiko Maas, mengatakan Berlin telah “mengusir empat diplomat Rusia.”

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis juga mengatakan mereka telah “memberitahu pihak berwenang Rusia tentang keputusan kami untuk mengusir empat personel Rusia dengan status diplomatik dari wilayah Perancis, dalam waktu satu pekan.”

Polandia mengatakan mereka juga mengusir empat warga Rusia setelah deretan keracunan mantan mata-mata.

Denmark, Belanda, Latvia, Spanyol dan Italia mengatakan mereka masing-masing telah mengusir dua diplomat.

Lithuania dan Republik Ceko membuat pengumuman serupa setelah mengusir tiga diplomat. Sementara itu, Estonia, Kroasia, Finlandia dan Rumania mengatakan mereka telah meminta satu diplomat untuk pergi. Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven kemudian mengatakan mereka juga akan mengusir seorang diplomat Rusia.

Ukraina, negara non-UE, bergabung dengan 14 negara lainnya dan mengusir 13 diplomat Rusia. Albania mengikuti dengan mengusir dua diplomat Rusia.

Tusk mengatakan bahwa “langkah-langkah tambahan, termasuk pengusiran lanjutan dalam kerangka kerja sama Uni Eropa ini akan dilanjutkan dalam beberapa hari dan pekan mendatang”.

Dukungan kuat dari negara-negara Uni Eropa, serta Ukraina, AS dan Kanada berdampak pada pertemuan Dewan Eropa yang diadakan di Brussels pekan ini.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

AS mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan empat staf diplomatik kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Kami sepakat tentang pentingnya mengirim pesan kuat Eropa sebagai tanggapan atas tindakan Rusia,” Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengatakan kepada anggota parlemen di House of Commons pada hari Senin.

“Tanggapan internasional yang luar biasa saat ini oleh sekutu kami dicatat dalam sejarah sebagai pengusiran kolektif terbesar terhadap perwira intelijen Rusia yang pernah ada dan akan membantu membela keamanan bersama kami,” kata Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, di Twitter.

“Rusia tidak dapat melanggar aturan internasional dengan impunitas,” tambahnya.

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Hari Senin (26/3/2018) AS membalas serangan kimia di Inggris yang dituduh dilakukan oleh Rusia dengan mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle, Anadolu Agency melaporkan.

Mereka yang diusir termasuk 48 karyawan kedutaan dan 12 orang yang bekerja dalam misi Rusia untuk PBB, seorang pejabat administrasi senior menegaskan kepada wartawan dengan syarat anonimitas.

Mereka semua dituduh oleh pejabat bekerja sebagai perwira intelijen Rusia rahasia di bawah perlindungan diplomatik yang mereka terima karena jabatan mereka, dan seorang pejabat lain juga menyebut bahwa jumlah perwira intelijen Rusia di AS “jumlahnya sangat banyak.”

60 orang tersebut memiliki waktu tujuh hari untuk meninggalkan AS.

Konsulat Seattle ditutup karena letaknya yang berdekatan dengan pangkalan kapal selam AS, pejabat lain juga berbicara kepada wartawan dengan syarat tidak disebutkan namanya.

“Tindakan hari ini membuat Amerika Serikat lebih aman dengan mengurangi kemampuan Rusia untuk memata-matai Amerika dan melakukan operasi rahasia yang mengancam keamanan nasional Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, dalam sebuah pernyataan.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

Aksi-aksi tersebut adalah sebagian dari serangan terkuat dari pemerintahan Donald Trump hingga saat ini terhadap Rusia setelah Moskow dituduh melakukan serangkaian kegiatan untuk melemahkan Barat, termasuk dugaan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.

Baru-baru ini, mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dirawat di rumah sakit pada 4 Maret setelah ditemukan tidak sadarkan diri di kota Salisbury, Inggris Selatan. Para pejabat Inggris telah menempatkan kesalahan kepada Rusia, tuduhan yang dengan tegas disangkal oleh Vladimir Putin.

London mengatakan serangan itu dilakukan menggunakan gas saraf Perang Dingin era Soviet yang disebut Novichok yang merupakan gas saraf terhebat ciptaan Soviet yang sangat mematikan.

Skripal diberikan perlindungan di Inggris setelah pertukaran mata-mata 2010 antara AS dan Rusia. Sebelum pertukaran, dia menjalani hukuman 13 tahun penjara karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.

14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

Pekan lalu, setelah KTT Uni Eropa di Brussels, Inggris, Jerman, dan Perancis menegaskan kembali bahwa Rusia bertanggung jawab atas gas saraf yang meracuni Skripal dan putrinya.

“Di luar perilaku destabilisasi Rusia di seluruh dunia, seperti partisipasi mereka dalam kekejaman di Suriah dan tindakan ilegal di Ukraina, mereka sekarang juga menggunakan senjata kimia terhadap salah satu sekutu terdekat kami,” duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Di sini, di New York, Rusia menggunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai tempat berlindung yang aman untuk kegiatan berbahaya mereka di dalam perbatasan kita sendiri. Saat ini, Amerika Serikat dan banyak teman-teman kami mengirimkan pesan yang jelas bahwa kita tidak akan diam saja menghadapi kesalahan Rusia,” tambahnya.

Pemerintah Kanada mengusir diplomat Rusia pada hari Senin demi melindungi “keamanan Kanada.”

Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, mengatakan bahwa empat staf diplomatik di kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau di konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Keempatnya telah diidentifikasi sebagai perwira intelijen atau individu yang telah menggunakan status diplomatik mereka untuk merusak keamanan Kanada atau ikut campur dalam demokrasi kami,” kata Freeland. “Langkah-langkah ini tidak ditujukan bagi seluruh warga Rusia, dimana Kanada memiliki hubungan yang panjang dan bermanfaat. Kanada tetap berkomitmen untuk berdialog dan bekerja sama dengan Rusia mengenai masalah-masalah yang kami hadapi bersama.”

Dia menambahkan bahwa pengusiran itu juga dilakukan untuk menunjukkan “solidaritas” dengan Inggris atas serangan gas saraf di Salisbury.

“Serangan gas saraf di Salisbury, di wilayah mitra dan sekutu Kanada, adalah tindakan keji, keji dan sembrono, dan berpotensi membahayakan kehidupan ratusan orang lainnya,” kata Freeland dalam sebuah pernyataan.

Permintaan Rusia untuk menambah tiga staf tambahan di Kanada ditolak, kata Freeland.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh AS dan Kanada adalah bagian dari upaya lebih luas dengan sekutu Eropa mereka yang mengusir puluhan diplomat Rusia sebagai reaksi serempak atas upaya meracuni Skripals.

Sedikitnya 43 diplomat Rusia telah diusir dari negara-negara anggota Uni Eropa.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hari ini 14 negara anggota telah memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, yang berada di Varna, Bulgaria untuk KTT Uni Eropa -Turki (EU-Turkey Summit).

Dan 13 diplomat Rusia diusir Di Ukraina, sebuah negara yang bukan bagian dari Uni Eropa, tetapi telah menjadi titik pertikaian antara Rusia dan Barat sejak Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea dan menopang pemberontak separatis di timur negara itu.

Hakim di Inggris Kutip Ayat al Quran untuk Nasehati Pengikut ISIS di Pengadilan

LONDON (Jurnalislam.com) – Seorang hakim Inggris menggunakan Ulama Islam dalam menghukum seorang remaja yang dihukum karena melakukan serangan bom terhadap kereta api di pusat kota London, lansir Aljazeera, Senin (26/3/2018).

Ahmed Hassan dijatuhi hukuman minimal 34 tahun penjara pada hari Jumat lalu atas serangan yang dilakukannya di stasiun Parsons Green pada September tahun lalu.

Alat peledak yang dia buat gagal meledak sepenuhnya dan tidak membunuh siapa pun kecuali menyebabkan sedikitnya 30 orang terluka.

Hargai Membom Mekkah 2.500 Point, Polisi Inggris Kejar Penyebar Selebaran Kebencian

Pada persidangan, Hakim Charles Haddon-Cave mengatakan simpatisan kelompok Islamic State (IS) berusia 18 tahun tersebut telah melakukan ‘hiraba’ (terorisme) dan menyebabkan ‘kerusakan’.

Ahmed Hassan

Kedua istilah ini digunakan dalam hukum Islam untuk menggambarkan tindakan pemberontakan dan sering digunakan oleh para da’i dalam konteks modern demi merujuk pada “ekstrimisme”.

“Anda akan memiliki banyak waktu untuk mempelajari Al-Quran di penjara di tahun-tahun mendatang,” kata Hakim Haddon-Cave dalam pidato penutupnya di persidangan Hassan.

Dia menambahkan: “Al-Qur’an dan Islam melarang sesuatu yang ekstrim, termasuk ekstremisme dalam agama. Islam melarang melanggar hukum wilayah di mana seseorang yang tinggal (mukim) atau sebagai tamu. Islam melarang terorisme.

Peduli Ghouta Timur, Warga London Gelar Aksi Unjuk Rasa Desak Inggris Lawan Rezim Assad

“Al-Qur’an dan Sunnah menyatakan bahwa kejahatan melakukan teror untuk ‘menyebabkan kerusakan di muka bumi adalah salah satu kejahatan paling berat dalam Islam “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi (Qs 2:11)”… begitu juga dalam hukum Kerajaan Inggris.”

Hassan tiba di Inggris sebagai pengungsi dari Irak berusia 16 tahun tiga tahun lalu.

Pada saat itu, ia mengaku sebagai yatim piatu yang diculik oleh kelompok IS.

 

7 Rudal Balistik Syiah Yaman Targetkan Ibukota Arab Saudi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pasukan Saudi mencegat tujuh rudal pemberontak Syiah Yaman pada hari Ahad, termasuk yang jatuh di ibukota Riyadh, lansir Al Arabiya News Channel, Senin (26/3/2018).

“Tindakan agresif dan penyerangan oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran ini membuktikan bahwa rezim Iran terus mendukung kelompok bersenjata dengan kemampuan militer,” kata juru bicara Koalisi Arab, Turki al-Malki.

Koalisi Arab: Syiah Houthi Targetkan Arab Saudi dengan 95 Rudal Balistik

“Penembakan beberapa rudal balistik ke arah kota adalah perkembangan yang serius.”

Para saksi menegaskan ledakan keras dan kilatan terang di langit kepada Al Arabiya.

Diam-diam Arab Saudi Lakukan Ini dengan Pemberontak Syiah Houthi

Sebuah video yang dikirim ke Al Arabiya menunjukkan momen ketika rudal anti-pertahanan ditembakkan dari Saudi Patriot untuk mencegat rudal Houthi di atas ibu kota.

Sejak November, milisi Houthi yang diarahkan Iran telah menembakkan beberapa rudal ke Arab Saudi, yang semuanya dicegat oleh pasukan Saudi.

Lihat video disini: ara.tv/6yk6n

Ancam Zionis, Jubir al Qassam: Kami Siap Lawan Serangan Laut, Darat dan Udara Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com)Brigade Izzudin al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, telah memperingatkan Israel agar tidak melakukan tindakan agresi terhadap rakyat Palestina, mengatakan akan “segera” membalas setiap tindakan agresi tersebut.

“Perlawanan Palestina siap untuk menghadapi setiap agresi Zionis terhadap rakyat atau tanah kami,” kata juru bicara Qassam Abu Ubaida dalam pidato yang disampaikan setelah latihan militer dua hari yang dilakukan di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, lansir World Bulletin Senin (26/3/2018).

“Kami juga tidak akan ragu untuk membela orang-orang kami dan hak-hak mereka,” katanya.

Dia menambahkan: “Kami memperingatkan musuh [yaitu, zionis Yahudi] untuk tidak melakukan tindakan gegabah terhadap rakyat Palestina, yang akan membayar mahal.”

Brigade Izzuddin al Qassam Gelar Latihan Militer di Gaza

Abu Ubaida juga mengumumkan kesimpulan dari latihan militer ekstensif yang dimulai Ahad pagi (25/3/2018).

Dilakukan oleh Brigade Qassam, latihan dua hari itu dimaksudkan untuk menguji kesiapan tempur Brigade dan mempersiapkan serangan Israel secara serentak di Jalur Gaza, menurut Abu Ubaida.

“Latihan termasuk manuver yang ditujukan untuk melawan operasi pendaratan [Israel] dari udara, darat, dan laut,” katanya.

Ratusan mujahdin al Qassam telah dikerahkan di daerah kantong pantai yang terblokade.

Latihan militer tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum rencana aksi hari Jumat di mana para demonstran Gaza berencana untuk berkumpul secara massal di perbatasan timur sekitar 45 kilometer dengan Israel.

Senapan Sniper “Ghoul”, Senjata Produk Al Qassam yang Ditakuti Militer Israel

Acara “Great Return March” ini dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan pada Israel untuk mencabut blokade satu dasawarsa atas Gaza dan menegaskan kembali hak Palestina untuk kembali ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah.

Sejak 2007, Jalur Gaza telah menderita di bawah blokade Israel dan Mesir yang melumpuhkan yang telah menghancurkan perekonomian dan merampas komoditas pokok bagi sekitar 2 juta penduduknya.

Sudah 3 Tahun Konflik, Berikut Sejumlah Fakta Kunci Perang di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Selama tiga tahun, Yaman, negara terpuruk di dunia Arab, karena dilanda perang antara pemberontak Syiah Houthi dan pendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Sekte Syiah Houthi dan pemerintah Yaman telah berjuang mati-matian sejak 2004, tetapi sebagian besar pertempuran terbatas hanya di kubu Houthi, provinsi Saada di Yaman utara yang miskin.

Pada September 2014, Houthi menguasai ibukota Yaman, Sanaa, dan melanjutkan maju ke arah selatan menuju kota terbesar kedua negara itu, Aden. Menanggapi kemajuan Houthi, sebuah koalisi negara-negara Arab meluncurkan operasi militer pada tahun 2015 untuk mengalahkan Houthi dan memulihkan pemerintahan Yaman.

Berikut adalah beberapa fakta kunci tentang perang kompleks Yama, lansir Aljazeera, Ahad (25/3/2018):

Banyaknya korban jiwa.

  • Pada 26 Maret 2018, sedikitnya 10.000 warga Yaman tewas akibat pertempuran itu, dengan lebih dari 40.000 korban jiwa secara keseluruhan.
  • Sulit untuk mendapatkan informasi akurat tentang jumlah korban tewas, tetapi Save The Children memperkirakan sedikitnya 50.000 anak meninggal pada tahun 2017, rata-rata 130 anak setiap hari.
  • Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia memperkirakan bahwa serangan udara koalisi pimpinan Saudi menyebabkan hampir dua pertiga dari kematian warga sipil yang dilaporkan, sementara Houthis dituduh menyebabkan korban sipil massal karena pengepungan mereka terhadap Taiz, kota terbesar ketiga Yaman.

Jutaan penduduk Yaman telah mengungsi.

  • Kantor PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan (office for the coordination of humanitarian affairs-OCHA) memperkirakan bahwa lebih dari 3 juta warga Yaman telah meninggalkan rumah mereka ke tempat lain di negara itu, dan 280.000 telah mencari suaka di negara lain, termasuk Djibouti dan Somalia. Seperti dilaporkan oleh Al Jazeera, warga Yaman yang mengungsi secara internal (masih di Yaman) sering harus menghadapi kekurangan makanan dan tempat berlindung yang tidak memadai. Warga Yaman yang belum melarikan diri juga banyak yang menderita, terutama mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan.

Banyak negara asing terlibat dalam perang Yaman.

  • Pada 2015, Arab Saudi membentuk koalisi negara-negara Arab untuk mengalahkan pemeberontak Syiah Houthi di Yaman. Koalisi tersebut termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, Sudan dan Senegal. Beberapa dari negara-negara ini telah mengirim pasukan darat untuk bertempur di daratan Yaman, sementara yang lain hanya melakukan serangan udara.
  • Pemerintah Amerika Serikat secara teratur meluncurkan serangan udara menargetkan Al-Qaeda dan kelompok Islamic State (IS) di Yaman, dan baru-baru ini mengakui telah mengerahkan sejumlah kecil pasukan di lapangan. AS, bersama dengan kekuatan Barat lainnya seperti Inggris dan Perancis, juga memasok senjata dan intelijen bagi koalisi pimpinan Saudi.
  • Iran membantah telah mempersenjatai pemberontak Houthi, tetapi militer AS mengatakan telah menahan pengiriman senjata dari Iran ke Yaman Maret ini, menlaporkan itu adalah yang ketiga kalinya dalam dua bulan ini. Para pejabat Iran juga menyarankan agar mereka mengirim penasihat militer untuk mendukung Houthi.

Bentrokan di Yaman dipandang sebagai bagian dari “perang dingin” Arab Saudi dengan Iran.

  • Arab Saudi berbagi perbatasan yang panjang dan keropos dengan Yaman, dan Saudi takut melihat ekspansionisme Iran melalui dukungannya untuk kelompok bersenjata Syiah. Komentator di negara-negara Teluk Arab sering mengklaim bahwa Iran sekarang mengontrol empat ibukota Arab: Baghdad, Damaskus, Beirut dan Sanaa.
  • Di Suriah, oposisi yang didukung Saudi memerangi rezim Bashar al-Assad, yang didukung oleh Iran. Lebanon adalah arena konflik lain: Iran mensponsori Hizbullah, milisi Syiah dan gerakan politik, sementara Arab Saudi mendukung Sunni Future Movement.
  • Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran meningkat lebih jauh awal tahun ini, ketika Arab Saudi mengeksekusi pemimpin Syiah Nimr al-Nimr dan demonstran Iran menyerang kedutaan Saudi di Teheran.

Perang Yaman jauh lebih kompleks daripada konflik Arab-Iran, Sunni-Syiah.

  • Yaman diperintah selama satu milenium oleh imam-imam Zaydi Syiah sampai tahun 1962, dan kaum Houthis didirikan sebagai gerakan revivalis Zaydi Syiah. Namun, Houthi tidak menyerukan pemulihan imam di Yaman, dan keluhan agama belum menjadi faktor utama dalam perang. Sebaliknya, tuntutan Houthi terutama bersifat ekonomi dan politik.
  • Pada 2013, Konferensi Dialog Nasional Yaman diluncurkan yang ditugaskan untuk menulis konstitusi baru dan menciptakan sistem politik federal. Tapi Houthi menarik diri dari proses dengan meninggalkan pemerintahan transisi Yaman di tempat. Hal-hal yang lebih meradang adalah kenyataan bahwa dua perwakilan Houthi dibunuh selama proses konferensi.
  • Keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi bahan bakar pada Juli 2014 membuat marah masyarakat Yaman dan memicu protes jalanan besar-besaran oleh pendukung Houthi dan lainnya, yang menuntut pemerintah untuk mundur. Kaum Houthi mulai mengambil alih Sanaa pada bulan September, memaksa pemerintah untuk melarikan diri.
  • Kaum Houthi dibantu oleh mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, yang digulingkan oleh unjuk rasa pada tahun 2011, dan para pendukungnya.

Al-Qaeda dan IS.

  • Yaman telah lama menjadi rumah bagi al-Qaeda, dianggap sebagai salah satu cabang paling berbahaya dari organisasi itu. Namun kelompok bersenjata itu mampu memperluas jejaknya di Yaman di tengah kekacauan menyusul tersingkirnya Saleh pada tahun 2011, mengambil alih wilayah di Yaman selatan.
  • Sejak awal perang tahun lalu, al-Qaeda telah meluncurkan beberapa serangan terhadap pemberontak Houthi, yang dianggapnya sebagai musuh kaum muslim. Pada 2015, al-Qaeda mengambil alih Mukalla, ibukota provinsi dan kota terbesar kelima di Yaman. Namun, pada bulan April 2016, 2.000 tentara Yaman dan Uni Emirat didukung AS melancarkan serangan darat terhadap Mukalla dan mengusir Al-Qaeda dari kota.
  • IS mengumumkan pembentukan wilayah, atau negara, di Yaman pada bulan Desember 2014. Pada bulan Maret 2015, mereka mengklaim serangan pertamanya di Yaman: pemboman bunuh diri di dua masjid Sanaa yang digunakan oleh Muslim Zaydi Syiah, yang menewaskan lebih dari 140 orang.

Memberikan bantuan kepada warga sipil di Yaman sangat sulit.

  • Di Yaman, organisasi bantuan menghadapi kendala utama untuk membantu orang Yaman yang membutuhkan makanan, obat-obatan, dan hal-hal penting lainnya. Pengepungan Houthi terhadap beberapa wilayah kota Taiz telah mencegah masuknya pasokan medis yang sangat dibutuhkan.
  • Arab Saudi menekan kelompok-kelompok bantuan untuk meninggalkan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di Yaman, mengatakan bahwa pekerja bantuan menderita resiko tinggi. Pada Januari 2016, sebuah rumah sakit yang dioperasikan oleh Doctors Without Borders terkena roket, menewaskan empat orang. Sebuah pemboman yang dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi melukai sedikitnya enam orang di sebuah rumah sakit yang dikelola oleh Doctors Without Borders pada Oktober 2015.

    Ribuan Pasukan Yaman, UEA dan Amerika Serikat Bergabung Gempur Al Qaeda di Yaman

Al-Nafir: Upaya Al Qaeda dalam Menyatukan Kembali Faksi-faksi Jihad di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS Sahab, kelompok media untuk kepemimpinan senior Al Qaeda, merilis edisi terbaru buletin Al-Nafir kemarin (23 Maret). Dan sekali lagi al-Qaeda berusaha untuk menangani pertikaian antar-faksi di Suriah, The Long War Journal, Ahad (25/3/2018).

“Sengketa dan pertikaian antar faksi di Suriah Utara hanya akan mendukung rezim Bashar al Assad dan sekutu-sekutunya,” tulis editor Al-Nafir. Satu per satu perselisihan muncul bergantian, dengan “fatwa baru” yang berkontribusi pada perselisihan.

“Penumpahan darah Muslim itu keji,” penulis Al-Nafir memperingatkan, “terutama karena musuh mengelilingi kita dari semua sisi dan menunggu untuk menyergap mujahidin setiap saat.” Oleh karena itu, Al Qaeda menyerukan “untuk menghentikan pertikaian dan menerapkan Syariah dan berpegang teguh pada tali agama Allah.” Penulis Al-Nafir juga menyarankan kepada “semua saudara (ikhwan) yang tidak berpartisipasi dalam pertempuran itu untuk sabar pada posisinya.”

Al Qaeda beberapa kali berupaya meninjau sengketa antara berbagai faksi di Suriah selama setahun terakhir.

Al Qaeda Rilis Pesan Audio Hamzah Bin Ladin Terbaru

Pada Juli 2016, Jabhah al-Nusrah, cabang resmi al-Qaeda, diganti namanya menjadi Jabhat Fath al-Sham (JFS). Beberapa bulan kemudian, pada Januari 2017, JFS bergabung dengan beberapa kelompok lain untuk membentuk Hay’at Tahrir al Sham (HTS). Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan jajaran para jihadis, menciptakan satu entitas politik dan militer yang mampu bertahan dari perang yang buruk dan multi-sisi yang telah mengoyak masyarakat Suriah selama bertahun-tahun. Namun, bukannya menyatukan berbagai kelompok, para jihadis dan Islamis di Suriah utara masih terus berselisih. Beberapa orang menuduh pemimpin HTS Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani dan orang-orangnya berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan di provinsi Idlib sebagai bagian dari wilayah kekuasaan pribadi mereka sendiri.

Beberapa pertikaian mengadu domba HTS melawan sekutunya sejak lama. Pada bulan Februari, Gerakan Nur al-Din al-Zanki dan Ahrar al-Sham membentuk usaha bersama yang dikenal dengan Jabhat Tahrir al-Suriya (JTS), atau Front Pembebasan Suriah. Formasi baru itu berulang kali bentrok dengan HTS.

Baru-baru ini, Front Pembebasan Suriah mengeluarkan pernyataan pada 22 Maret yang menuduh HTS meluncurkan serangan di daerah-daerah pedesaan Aleppo barat menggunakan senjata berat dan komponen persenjataan lainnya. Sayangnya, kelompok itu menyebut HTS sebagai “geng Julani” – menekankan bahwa Jaulani dan anak buahnya adalah agresor.

Cabang Al Qaeda di Afrika Tingkatkan Serangan pada Pasukan Asing

Zanki termasuk pendiri HTS pada Januari 2017. Dan sebagian anggota Ahrar al-Sham, termasuk mantan pemimpinnya, Abu Jaber (juga dikenal sebagai Hashem al Sheikh), awalnya bergabung dengan HTS juga. Abu Jaber bahkan bertindak sebagai orang pertama HTS. Namun, tidak semua anggota Ahrar bergabung dengan perjuangan Jaulani dan HTS telah disusun kembali. Sekarang ini Zanki dan Ahrar bertempur di bawah bendera Front Pembebasan Suriah. Keduanya menyerukan HTS untuk membentuk “ruang operasi” umum untuk memerangi rezim Assad. Tetap saja, ketidaksetujuan mereka tetap tidak terpecahkan.

HTS terus menerus menghadapi kontroversi jihad sejak pendiriannya. Pada 1 Oktober 2017, HTS mengumumkan bahwa Abu Jaber telah digantikan oleh Jaulani sebagai pemimpinnya, memastikan bahwa Syeikh al Jaulani tetap menjadi figur yang paling kuat di dalam tandzim.

Beberapa pekan sebelumnya, pada September 2017, Syeikh Abdullah al-Muhaysini mengumumkan pengunduran dirinya dari HTS. Syeikh Muhaysini, seorang ulama Saudi dan tokoh ideologi yang ditunjuk AS, mengeluh tentang pertikaian antara HTS dan Ahrar. Dia juga mengutip rekaman audio bocor yang menunjukkan bahwa beberapa di antara jajaran HTS memilikinya.

Begini Seruan Al Qaeda Global Terkait Isu Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Mundurnya Syeikh Muhaysini menceritakan alasan lain. Dia telah dipromosikan secara internasional baik dalam literatur Al Qaeda maupun Imarah Islam Afghanistan (Taliban). Long War Journal FDD menilai bahwa Syeikh Muhaysini bukanlah aktor yang benar-benar “independen”, sebagaimana klaimnya, tetapi malah berfungsi sebagai ulama senior yang terkait al Qaeda. Oleh karena itu, keputusan Syeikh Muhaysini untuk meninggalkan HTS berarti bahwa perjuangan Syeikh al Jaulani kehilangan pialang kekuasaan yang terhubung dengan baik dalam lingkaran jihadis.

Awal bulan ini, Syeikh Muhaysini mengumumkan bahwa dia telah membentuk faksi lain yang akan menjauhkan diri dari pertikaian antar oposisi. Ada kemungkinan bahwa ini inisiatif Al Qaeda ketika penulis Al-Nafir memuji “saudara-saudara yang tidak ikut serta” dalam konflik.

Menambah masalah HTS, tokoh-tokoh al Qaeda lainnya yang terkenal juga menolak upaya Jaulani. Beberapa unit jihadis membentuk satu lagi organisasi militer, “Guardians of the Religion“, pada awal Maret. Syeikh Abu Hammam al-Shami, seorang veteran al Qaeda, dilaporkan memimpin faksi itu. Syeikh Abu Hammam, mantan komandan militer dan pelatih di Jabhah al Nusrah, menolak gerakan Jaulani sejak pertengahan 2016.

Al Qaeda Kecam Arab Saudi atas Kesepakatan dengan Donald Trump

Ideolog Al Qaeda lainnya, seperti Dr. Sami al-Uraydi dan Iyad Nazmi Salih Khalil (juga dikenal sebagai Iyad al Tubasi dan Abu Julaybib), juga menasihati Jaulani. Baik al-Uraydi dan Khalil dipenjara sebentar oleh HTS tahun lalu, menambah perbedaan pendapat. Ini mengarah pada inisiatif rekonsiliasi yang melibatkan veteran jihadis, yang menegosiasikan kebebasan pasangan.

Edisi terbaru Al-Nafir tersebut bukanlah yang pertama kalinya membahas Al-Qaeda yang berjuang untuk mengatasi perselisihan di Suriah. Edisi buletin berita dan pernyataan al-Qaeda sebelumnya juga telah mencoba untuk memadamkan konflik. Syeikh Ayman al Zawahiri juga telah membahas banyak masalah yang dihadapi mujahidin Suriah terkait jihad di sana, termasuk krisis kepemimpinan yang sedang berlangsung, beberapa kali selama setahun terakhir. Tapi seperti yang dijelaskan Al-Nafir edisi terbaru, perselisihan ini belum selesai.

Menuju Benteng Mujahidin di Idlib, Begini Perkembangan Terakhir Evakuasi di Ghouta

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Ribuan penduduk Ghouta Timur sedang dievakuasi dari daerah kantong yang dikepung pada hari Ahad (25/3/2018), media rezim Nushairiyah Suriah melaporkan, setelah kelompok besar penduduk sudah meninggalkan kota-kota di pinggiran Damaskus selama beberapa hari terakhir.

Kantor berita rezim Assad, SANA, melaporkan bahwa bus yang mengangkut sekitar 500 warga dan pejuang sedang meninggalkan koridor Irbin, dengan ratusan lainnya diperkirakan akan berangkat pada hari Ahad.

Dua dari tiga kelompok oposisi yang telah menguasai daerah kantong sejak 2013 telah mundur, dengan ribuan pejuang dan kerabat mereka berangkat ke daerah yang dikuasai oposisi di Idlib, sebuah provinsi di utara negara itu.

Ribuan Pejuang Akhirnya Tinggalkan Ghouta Timur

Pada hari Sabtu, para pejuang oposisi dan keluarga mereka dievakuasi sebagai bagian dari kesepakatan evakuasi yang dicapai antara tentara Rusia dan dua kelompok oposisi utama di daerah itu.

Lebih dari 900 warga Ghouta Timur mulai berangkat menuju provinsi Idlib pada Sabtu malam, seorang aktivis di dalam kota mengatakan kepada Al Jazeera.

Warga juga telah meninggalkan Harasta, yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok oposisi Ahrar al-Sham, dalam 17 bus. Warga juga telah meninggalkan Irbin, yang bersama dengan Zamalka dan Jobar dikendalikan oleh kelompok oposisi Faylaq ar-Rahman.

Menurut SANA, 25 bus telah dikirim ke pinggiran Irbin untuk mengangkut penduduk dari kota-kota dan daerah sekitarnya menuju wilayah yang dikuasai oposisi di utara negara itu.

Laith al-Abdullah, seorang aktivis di Harasta, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ini akan menjadi evakuasi kedua dan “terakhir” – sesuai kesepakatan yang dicapai dengan Rusia. “Tidak mungkin akan ada evakuasi ketiga … tetapi kami akan menunggu dan melihat,” katanya.

Juru bicara Failaq al-Rahman, Wael Olwan, mengkritik PBB karena tidak menawarkan perlindungan atau jaminan bagi warga yang ingin tetap berada di Ghouta Timur.

“Orang pertama yang pergi dari daerah di Ghouta adalah warga yang terluka, dan yang terakhir pergi adalah para pejuang,” kata Olwan kepada Al Jazeera.

Pada tanggal 18 Februari, pasukan rezim Syiah Suriah, yang didukung oleh jet tempur Rusia, memperketat pengepungan mereka di Ghouta Timur dengan serangan militer brutal yang menewaskan 1.500 dan melukai lebih dari 5.000 warga termasuk anak-anak dan wanita.

Hampir 400.000 orang tinggal di daerah kantong itu sebelum serangan terakhir dimulai.

Setelah Ahrar al Sham Lalu Faylaq ar Rahman, Kini Jaishul Islam akan Tinggalkan Ghouta Timur

Pekan lalu, media rezim melaporkan sekitar 4.000 orang meninggalkan Harasta di pinggiran Damaskus, termasuk lebih dari 1.000 pejuang oposisi Ahrar al-Sham, setelah kelompok oposisi mencapai kesepakatan evakuasi pada hari Rabu.

Sementara itu, pejuang Jaish al-Islam di Douma, kota terbesar yang dikuasai oposisi yang tersisa di Ghouta Timur, belum dapat mencapai kesepakatan dengan tentara Rusia – sekutu utama pasukan rezim Syiah Suriah – dengan sekitar 150.000 warga masih terperangkap di dalam.

Orang-orang yang tersisa di Douma menghadapi akses terbatas terhadap makanan dan obat-obatan, aktivis mengatakan kepada Al Jazeera.

Mereka yang dijadwalkan untuk dierangkatkan ke Idlib kemungkinan akan menghadapi tantangan baru di sana, karena serangan udara militer rezim Suriah dan agresor Rusia di Idlib telah meningkat dalam sepekan terakhir, menewaskan puluhan orang.

HTS Kini Mengendalikan Penuh Fasilitas Umum Provinsi Idlib

Brigade Izzuddin al Qassam Gelar Latihan Militer di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap bersenjata kelompok Palestina Hamas, pada hari Ahad (25/3/2018) meluncurkan latihan militer di Jalur Gaza, lansir World Bulletin.

Ratusan anggota Qassam bersenjata telah dikerahkan di seluruh wilayah Palestina, menurut seorang koresponden di Gaza.

Tidak ada rincian lebih lanjut tentang latihan.

Pendiri Brigade Izzudin al Qassam Terpilih sebagai Pemimpin Baru Hamas

“Latihan telah direncanakan sebelumnya,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, tanpa memberikan rincian apapun.

Pelatihan militer itu dilakukan satu hari setelah pesawat tempur zionis Yahudi menyerang posisi Hamas di Jalur Gaza selatan, tanpa menimbulkan korban.

Seorang Mujahidin Palestina Gugur Setelah Bertempur 7 Jam dengan Pasukan Zionis

Erdogan: Kami Tidak akan Berhenti Sampai Kami Selamatkan Saudara-saudara Kami di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki akan segera bersama orang-orang yang membutukan dukungannya di sepanjang perbatasan Suriah, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Sabtu (24/3/2018).

Berbicara pada kongres provinsi partai yang berkuasa, partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Provinsi Samsun di Laut Hitam, Erdogan mengatakan: “Kami tidak akan berhenti sampai kami menyelamatkan saudara-saudara kami di Suriah dan benar-benar menghilangkan jebakan yang telah ditetapkan untuk negara kami,” lansir Anadolu Agency.

Erdogan: Operasi Militer Turki Berlanjut ke Manbij

Dia juga menolak klaim bahwa Turki menyerang Suriah melalui operasi Afrin.

“Tidak ada yang bisa mengatakan ‘tentara Turki dan Turki melakukan invasi ke Suriah’.”

Erdogan bersumpah untuk melindungi rakyat Afrin, mengatakan warga sipil mulai kembali ke Afrin.

Kemudian di provinsi Ordu, Erdogan mengatakan 3.740 teroris telah “dinetralkan” sejak dimulainya Operation Olive Branch.

Armada Perang Turki Rebut Kota Afrin dari Pasukan Dukungan AS, PYD

Wilayah Afrin Suriah telah diambil alih dengan kendali “lengkap”, militer Turki mengatakan pada hari Sabtu. Dalam sebuah pernyataan, tentara mengatakan upaya sedang dilakukan untuk membantu warga sipil kembali ke rumah dengan aman.

Pasukan Turki juga telah melanjutkan upaya untuk mencari dan menghancurkan bahan peledak buatan tangan dan ranjau yang ditanam oleh para teroris di Afrin.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok teroris YPG dari Afrin di Suriah barat laut di tengah meningkatnya ancaman dari kawasan itu.

Inilah Perbandingan Kerusakan Kota Akibat Operasi Militer oleh Turki, Rusia, AS dan Suriah

Operasi tersebut dilaksanakan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak membela diri di bawah piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Militer juga mengatakan hanya target militer yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” untuk tidak merugikan warga sipil.