Al-Nafir: Upaya Al Qaeda dalam Menyatukan Kembali Faksi-faksi Jihad di Suriah

26 Maret 2018
Al-Nafir: Upaya Al Qaeda dalam Menyatukan Kembali Faksi-faksi Jihad di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS Sahab, kelompok media untuk kepemimpinan senior Al Qaeda, merilis edisi terbaru buletin Al-Nafir kemarin (23 Maret). Dan sekali lagi al-Qaeda berusaha untuk menangani pertikaian antar-faksi di Suriah, The Long War Journal, Ahad (25/3/2018).

“Sengketa dan pertikaian antar faksi di Suriah Utara hanya akan mendukung rezim Bashar al Assad dan sekutu-sekutunya,” tulis editor Al-Nafir. Satu per satu perselisihan muncul bergantian, dengan “fatwa baru” yang berkontribusi pada perselisihan.

“Penumpahan darah Muslim itu keji,” penulis Al-Nafir memperingatkan, “terutama karena musuh mengelilingi kita dari semua sisi dan menunggu untuk menyergap mujahidin setiap saat.” Oleh karena itu, Al Qaeda menyerukan “untuk menghentikan pertikaian dan menerapkan Syariah dan berpegang teguh pada tali agama Allah.” Penulis Al-Nafir juga menyarankan kepada “semua saudara (ikhwan) yang tidak berpartisipasi dalam pertempuran itu untuk sabar pada posisinya.”

Al Qaeda beberapa kali berupaya meninjau sengketa antara berbagai faksi di Suriah selama setahun terakhir.

Al Qaeda Rilis Pesan Audio Hamzah Bin Ladin Terbaru

Pada Juli 2016, Jabhah al-Nusrah, cabang resmi al-Qaeda, diganti namanya menjadi Jabhat Fath al-Sham (JFS). Beberapa bulan kemudian, pada Januari 2017, JFS bergabung dengan beberapa kelompok lain untuk membentuk Hay’at Tahrir al Sham (HTS). Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan jajaran para jihadis, menciptakan satu entitas politik dan militer yang mampu bertahan dari perang yang buruk dan multi-sisi yang telah mengoyak masyarakat Suriah selama bertahun-tahun. Namun, bukannya menyatukan berbagai kelompok, para jihadis dan Islamis di Suriah utara masih terus berselisih. Beberapa orang menuduh pemimpin HTS Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani dan orang-orangnya berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan di provinsi Idlib sebagai bagian dari wilayah kekuasaan pribadi mereka sendiri.

Beberapa pertikaian mengadu domba HTS melawan sekutunya sejak lama. Pada bulan Februari, Gerakan Nur al-Din al-Zanki dan Ahrar al-Sham membentuk usaha bersama yang dikenal dengan Jabhat Tahrir al-Suriya (JTS), atau Front Pembebasan Suriah. Formasi baru itu berulang kali bentrok dengan HTS.

Baru-baru ini, Front Pembebasan Suriah mengeluarkan pernyataan pada 22 Maret yang menuduh HTS meluncurkan serangan di daerah-daerah pedesaan Aleppo barat menggunakan senjata berat dan komponen persenjataan lainnya. Sayangnya, kelompok itu menyebut HTS sebagai “geng Julani” – menekankan bahwa Jaulani dan anak buahnya adalah agresor.

Cabang Al Qaeda di Afrika Tingkatkan Serangan pada Pasukan Asing

Zanki termasuk pendiri HTS pada Januari 2017. Dan sebagian anggota Ahrar al-Sham, termasuk mantan pemimpinnya, Abu Jaber (juga dikenal sebagai Hashem al Sheikh), awalnya bergabung dengan HTS juga. Abu Jaber bahkan bertindak sebagai orang pertama HTS. Namun, tidak semua anggota Ahrar bergabung dengan perjuangan Jaulani dan HTS telah disusun kembali. Sekarang ini Zanki dan Ahrar bertempur di bawah bendera Front Pembebasan Suriah. Keduanya menyerukan HTS untuk membentuk “ruang operasi” umum untuk memerangi rezim Assad. Tetap saja, ketidaksetujuan mereka tetap tidak terpecahkan.

HTS terus menerus menghadapi kontroversi jihad sejak pendiriannya. Pada 1 Oktober 2017, HTS mengumumkan bahwa Abu Jaber telah digantikan oleh Jaulani sebagai pemimpinnya, memastikan bahwa Syeikh al Jaulani tetap menjadi figur yang paling kuat di dalam tandzim.

Beberapa pekan sebelumnya, pada September 2017, Syeikh Abdullah al-Muhaysini mengumumkan pengunduran dirinya dari HTS. Syeikh Muhaysini, seorang ulama Saudi dan tokoh ideologi yang ditunjuk AS, mengeluh tentang pertikaian antara HTS dan Ahrar. Dia juga mengutip rekaman audio bocor yang menunjukkan bahwa beberapa di antara jajaran HTS memilikinya.

Begini Seruan Al Qaeda Global Terkait Isu Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Mundurnya Syeikh Muhaysini menceritakan alasan lain. Dia telah dipromosikan secara internasional baik dalam literatur Al Qaeda maupun Imarah Islam Afghanistan (Taliban). Long War Journal FDD menilai bahwa Syeikh Muhaysini bukanlah aktor yang benar-benar “independen”, sebagaimana klaimnya, tetapi malah berfungsi sebagai ulama senior yang terkait al Qaeda. Oleh karena itu, keputusan Syeikh Muhaysini untuk meninggalkan HTS berarti bahwa perjuangan Syeikh al Jaulani kehilangan pialang kekuasaan yang terhubung dengan baik dalam lingkaran jihadis.

Awal bulan ini, Syeikh Muhaysini mengumumkan bahwa dia telah membentuk faksi lain yang akan menjauhkan diri dari pertikaian antar oposisi. Ada kemungkinan bahwa ini inisiatif Al Qaeda ketika penulis Al-Nafir memuji “saudara-saudara yang tidak ikut serta” dalam konflik.

Menambah masalah HTS, tokoh-tokoh al Qaeda lainnya yang terkenal juga menolak upaya Jaulani. Beberapa unit jihadis membentuk satu lagi organisasi militer, “Guardians of the Religion“, pada awal Maret. Syeikh Abu Hammam al-Shami, seorang veteran al Qaeda, dilaporkan memimpin faksi itu. Syeikh Abu Hammam, mantan komandan militer dan pelatih di Jabhah al Nusrah, menolak gerakan Jaulani sejak pertengahan 2016.

Al Qaeda Kecam Arab Saudi atas Kesepakatan dengan Donald Trump

Ideolog Al Qaeda lainnya, seperti Dr. Sami al-Uraydi dan Iyad Nazmi Salih Khalil (juga dikenal sebagai Iyad al Tubasi dan Abu Julaybib), juga menasihati Jaulani. Baik al-Uraydi dan Khalil dipenjara sebentar oleh HTS tahun lalu, menambah perbedaan pendapat. Ini mengarah pada inisiatif rekonsiliasi yang melibatkan veteran jihadis, yang menegosiasikan kebebasan pasangan.

Edisi terbaru Al-Nafir tersebut bukanlah yang pertama kalinya membahas Al-Qaeda yang berjuang untuk mengatasi perselisihan di Suriah. Edisi buletin berita dan pernyataan al-Qaeda sebelumnya juga telah mencoba untuk memadamkan konflik. Syeikh Ayman al Zawahiri juga telah membahas banyak masalah yang dihadapi mujahidin Suriah terkait jihad di sana, termasuk krisis kepemimpinan yang sedang berlangsung, beberapa kali selama setahun terakhir. Tapi seperti yang dijelaskan Al-Nafir edisi terbaru, perselisihan ini belum selesai.