Selasa, 8 Ramadhan 1447 / 24 Februari 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Penulis: Deddy Purwanto

Pentagon akan Persenjatai Puluhan Ribu Pasukan Baru di Suriah, Ini Perinciannya

18 Apr 2018 07:24:29
Pentagon akan Persenjatai Puluhan Ribu Pasukan Baru di Suriah, Ini Perinciannya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Pentagon berusaha mempersenjatai 65.000 anggota “sebagai pasukan binaan AS” di Suriah, termasuk kelompok bersenjata PYD, sesuai dengan proposal anggaran tahun fiskal 2019-nya.

Dalam proposal yang diajukan ke Kongres AS untuk disetujui pada bulan Februari, Pentagon meminta $ 300 juta untuk mempersenjatai dan melengkapi mitranya di Suriah dalam perang Suriah.

$ 250 juta lainnya juga diminta untuk membangun “keamanan perbatasan” di Suriah.

Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

Laporan lengkap 2019 Overseas Contingency Operations (OCO) meminta Counter-IS Train and Equip Fund (CTEF) – yang diperoleh oleh Anadolu Agency pada hari Senin (16/4/2018) menunjukkan kesediaan pemerintah AS untuk mempersenjatai dan melengkapi 30.000 pasukan dalam melakukan misi tempur yang sedang berlangsung di Lembah Sungai Eufrat Tengah, dan 35.000 “Pasukan Keamanan Internal” di daerah-daerah yang dibebaskan di seluruh negeri.

“Untuk mencapai tujuan militer AS, generasi kekuatan mitra di Suriah akan terdiri dari kekuatan lokal yang demografis representatif, tepat diperiksa, dilatih, dan dilengkapi untuk memastikan lingkungan yang aman dan mampu bertempur,” katanya dalam proposal anggaran.

Menurut proposal itu, Pentagon berencana untuk mengalokasikan $ 162.6 juta dari $ 300 juta untuk senjata, peralatan, dan kendaraan, $ 8 juta untuk dukungan kehidupan dasar yang menyediakan kebutuhan dasar kemanusiaan, $ 28 juta untuk biaya transportasi dan persiapan, dan $ 101,5 juta untuk dukungan operasional.

Pentagon Bantah Pernyataan Trump Tarik Pasukan Amerika dari Suriah

Di antara senjata yang sedang direncanakan untuk dikirim termasuk 25.000 senapan otomatis AK-47, 1.500 senapan mesin ringan, 500 senapan mesin berat, 400 peluncur roket RPG-7, 95 senapan sniper, 20 mortir 60mm, dan 60 mortir 120mm.

Bersama dengan total biaya $ 47 juta, Pentagon juga meminta tambahan $ 24 juta untuk amunisi senjata-senjata ini.

AS telah mendukung PYD, yang merupakan cabang Suriah dari organisasi teror PKK yang telah melancarkan operasi teror lebih dari 30 tahun terhadap negara Turki yang telah mengakibatkan puluhan ribu kematian.

Dukungan Amerika untuk kelompok teror tersebut telah lama mengusik Ankara karena Washington memandang SDF yang dipimpin PYD sebagai “mitra terpercaya” dalam pertempurannya dan terus memberikan senjata dan peralatan walaupun ditentang kuat oleh Turki.

Kategori : Internasional

Tags : AS Konflik Suriah PYD

Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

18 Apr 2018 07:12:22
Saudi Ajak Amerika Terjunkan Pasukan Darat ke Suriah untuk Koalisi Lebih Luas

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi sedang mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang pengiriman pasukan darat ke Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional yang lebih luas, kata menteri luar negeri kerajaan itu.

Dalam komentarnya pada hari Selasa (17/4/2018), Adel al-Jubeir mengatakan tawaran penyebaran pasukan itu “bukanlah hal baru,” menambahkan bahwa Riyadh sebelumnya telah mengusulkan gagasan itu kepada mantan Presiden AS Barack Obama.

“Kami sedang berdiskusi dengan AS, dan telah melakukan pembicaraan tentang pengiriman pasukan ke Suriah sejak awal krisis Suriah,” kata al-Jubeir kepada wartawan di Riyadh selama konferensi pers bersama Antonio Guterres, kepala PBB.

“Kami [sebelumnya] membuat proposal kepada pemerintahan Obama bahwa jika AS mengirim pasukan … maka Arab Saudi akan mempertimbangkan bersama dengan negara lain mengirimkan pasukan sebagai bagian dari kontingen ini.”

Suruh AS Kembali ke Suriah, Trump ke Salman: Saudi Harus Bayar dulu Biaya Militer AS ke Suriah

Kerajaan mengumumkan kesiapannya untuk menurunkan pasukan darat pada tahun 2016 untuk melawan kelompok Islamic State (IS) di Suriah.

Walaupun angkatan udara Saudi ikut serta dalam serangan udara untuk mengalahkan IS sejak awal tahun 2014, kerajaan Teluk tersebut berhenti menurunkan pasukan darat mereka sepenuhnya.

Berita itu muncul sehari setelah Wall Street Journal melaporkan Presiden AS Donald Trump sedang berupaya merakit kekuatan Arab yang akan mencakup Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menggantikan kehadiran militer AS di Suriah.

Pasukan, yang diharapkan oleh Penasihat Keamanan Nasional Trump yang baru, John Bolton, juga mencakup Mesir, akan bertanggung jawab untuk menstabilkan bagian timur laut Suriah, menurut laporan itu.

Patty Culhane dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC, mencatat bahwa pertahanan AS “akan sangat berhati-hati” menghadapi rencana Saudi.

“Ada kekhawatiran besar di antara kepemimpinan di dalam militer [AS] tentang kemampuan pasukan Saudi – lihat saja perang di Yaman dimana AS telah membantu mereka bertarung dengan intelijen dan pengisian bahan bakar,” kata Culhane.

“Terjadi bencana kemanusiaan, sejumlah sekolah dan rumah sakit diserang, menimbulkan keprihatinan besar di kalangan aktivis hak asasi manusia.”

Pentagon Anggarkan Dana $ 850 Juta Untuk Milisi PYD Tahun 2019 (info grafik)

Pertanyaan kunci lainnya adalah apa yang akan terjadi pada pasukan AS di Suriah dan apakah mereka diharapkan untuk tetap sebagai bagian dari misi yang diperluas, tambah Culhane.

“Belum sepenuhnya jelas bahwa Trump akan baik-baik saja dengan itu,” tambahnya.

AS memiliki sekitar 2.000 tentara yang ditempatkan di dalam wilayah Suriah, menurut Pentagon.

Kategori : Internasional

Tags : arab saudi AS Konflik Suriah

Tim Penyelidik Senjata Kimia Internasional Tiba di Douma

18 Apr 2018 07:03:41
Tim Penyelidik Senjata Kimia Internasional Tiba di Douma

DOUMA (Jurnalislam.com) – Inspektur senjata kimia telah memasuki kota Suriah Douma untuk menyelidiki dugaan serangan gas beracun, menurut kantor berita SANA yang dikelola rezim.

Delegasi dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) memasuki kota Douma yang terletak dekat ibu kota, Damaskus, bersama dengan menteri kesehatan Suriah pada hari Selasa (17/4/2018), sumber yang dekat dengan rezim mengatakan kepada kantor berita Jerman, DPA.

“Apa yang kami pahami adalah mereka akan memeriksa dan menyelidiki lokasi serangan senjata kimia itu,” kata Zeina Khodr dari Al Jazeera, melaporkan dari Beirut di negara tetangga Libanon.

“Mereka akan mengambil sampel dan berbicara dengan saksi, dokter dan orang-orang yang ada di sana,” tambahnya.

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

Serangan gas beracun yang dilaporkan pada Douma pada 7 April direspon dengan serangan rudal bersama oleh Amerika Serikat, Perancis dan Inggris terhadap instalasi militer Suriah.

Serangan koalisi hari Sabtu itu diluncurkan sebelum tim pencari fakta dari OPCW dapat memasuki Douma dan memulai kerja lapangannya.

Sebelumnya pada hari Selasa, misi tersebut telah dipertanyakan.

Selama pertemuan darurat pada hari Senin di markas OPCW di Den Haag, para diplomat Barat menuduh pemerintah Suriah dan sekutu Rusianya memblokir tim, yang tiba di Damaskus, Sabtu.

Rusia membantah klaim tersebut, mengatakan wilayah Douma masih perlu dibersihkan dan mengatakan inspektur pengawas akan masuk pada hari Rabu.

Namun, Prancis dan AS tampaknya mempertanyakan tujuan dari misi semacam itu, memperingatkan bahwa bukti yang memberatkan kemungkinan telah dihapus.

“Sangat mungkin bukti dan elemen-elemen penting hilang dari lokasi, yang sepenuhnya dikendalikan oleh tentara Rusia dan Suriah,” kata kementerian luar negeri Prancis.

Ken Ward, Duta Besar AS untuk OPCW, mengklaim pada hari Senin bahwa Rusia telah mengunjungi situs itu dan “mungkin telah merusaknya.”

Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

Pasukan Suriah dan Rusia menguasai Douma pada hari Sabtu ketika kelompok oposisi anti Assad mundur dari kota, beberapa jam setelah berakhirnya serangan negara-negara Barat.

Reporter Al Jazeera Khodr mengatakan bahkan jika OPCW menemukan bahwa serangan senjata kimia terjadi, tidak akan ada serangan hukuman baru.

“Pada akhirnya, kami tidak mengharapkan adanya pembalasan karena AS dan sekutunya sudah melakukan serangan balasan,” katanya.

“Mereka tidak menunggu temuan OPCW, dan mereka menegaskan bahwa mereka akan menyerang lagi jika serangan senjata kimia lainnya terjadi.”

Kategori : Internasional

Tags : douma Konflik Suriah senjata kimia

Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

17 Apr 2018 08:55:23
Begini Kata PM Inggris atas Intervensi Militernya di Suriah

LONDON (Jurnalislam.com) – Intervensi militer Inggris ke Suriah jelas adalah “demi kepentingan nasional kami untuk mencegah penggunaan lebih lanjut senjata kimia di Suriah,” Perdana Menteri Theresa May mengatakan pada hari Senin (16/4/2018), Anadolu Agency melaporkan.

May mengatakan, Inggris “yakin dalam penilaian kami sendiri bahwa rezim Suriah sangat mungkin bertanggung jawab atas serangan ini dan bahwa pola perilaku yang terus menerus berarti bahwa sangat mungkin untuk terus menggunakan senjata kimia.”

Pernyataannya muncul ketika dia memberi penjelasan kepada anggota parlemen di House of Commons tentang serangan udara akhir pekan yang dilakukan bersama dengan AS dan Prancis, yang menargetkan fasilitas senjata kimia rezim Assad.

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

Perdana Menteri Theresa May

“Karena kami tidak dapat mengizinkan penggunaan senjata kimia berubah menjadi hal yang normal – baik di dalam Suriah, di jalan-jalan AS atau di tempat lain,” kata May.

“Bayangan penderitaan ini benar-benar menghantui.

“Keluarga yang tidak bersalah – mencari perlindungan di bunker bawah tanah – ditemukan mati dengan busa di mulut mereka, luka bakar di mata mereka dan tubuh mereka dikelilingi oleh bau seperti klorin.

“Anak-anak terengah-engah karena zat kimia mencekik paru-paru mereka.

“Fakta bahwa kekejaman seperti itu dapat terjadi di dunia kita saat ini adalah noda hitam pada kemanusiaan kita.”

Dapat digarisbawahi bahwa “sejumlah besar informasi – termasuk intelijen – mengindikasikan rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan terbaru ini.”

Dia berkata: “Akun sumber terbuka menyatakan bahwa bom barel digunakan untuk mengirim bahan kimia. Bom Barel biasanya dikirimkan dengan helikopter. Berbagai laporan sumber terbuka dan intelijen menunjukkan bahwa helikopter reaktor beroperasi di atas Douma pada malam 7 April, sesaat sebelum laporan serangan kimia muncul di media sosial. Dan pejabat militer Suriah mengoordinasi apa yang tampaknya menjadi penggunaan senjata klorin.”

“Tidak ada kelompok lain yang bisa melakukan serangan ini,” tambahnya.

Perdana menteri juga menunjukkan bahwa laporan tentang serangan senjata kimia terbaru di Douma “konsisten dengan serangan rezim sebelumnya. Ini termasuk serangan pada 21 Agustus 2013 di mana lebih dari 800 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam serangan kimia yang juga terjadi di Ghouta.”

“Berdasarkan pola perilaku terus-menerus oleh rezim dan analisis kumulatif insiden khusus, kami menilai sangat mungkin bahwa rezim Suriah terus menggunakan senjata kimia sedikitnya empat kali sejak serangan di Khan Sheikhoun. Dan kami menilai bahwa mereka akan terus melakukannya,” katanya.

Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

May mengatakan pemerintah harus bertindak segera dan berhak bertindak tanpa berkonsultasi dengan parlemen.

“Kita tidak bisa kembali ke dunia di mana penggunaan senjata kimia dianggap normal,” tambahnya.

Sementara itu, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn, mengkritik May karena tidak mencari persetujuan parlemen sebelum bergabung dengan serangan udara terhadap rezim Assad.

“Pernyataan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa perdana menteri bertanggung jawab kepada parlemen ini, bukan untuk keinginan presiden AS,” kata Corbyn.

“Kami jelas membutuhkan Undang-undang Kekuatan Perang di negara ini untuk mengubah konvensi yang kini rusak menjadi kewajiban hukum,” katanya, menambahkan: “Tindakan itu secara hukum dipertanyakan.”

Kategori : Internasional

Tags : douma inggris Konflik Suriah senjata kimia

OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

17 Apr 2018 08:25:21
OPCW: Kami Punya Catatan Mengerikan Rezim Suriah atas Rakyatnya

LONDON (Jurnalislam.com) – Lebih dari 390 laporan penggunaan senjata kimia di Suriah telah dicatat oleh Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) sejak 2014, kata utusan Inggris untuk OPCW, Senin (16/4/2018).

“Rezim Suriah memiliki sejarah mengerikan atas penggunaan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” kata Peter Wilson, menambahkan bahwa penggunaan senjata kimia “telah menjadi senjata perang yang terlalu biasa dalam perang di Suriah,” lansir Anadolu Agency.

Pernyataan itu muncul selama Rapat Dewan Eksekutif OPCW setelah serangan udara gabungan pada akhir pekan oleh AS, Inggris, dan Perancis terhadap fasilitas senjata kimia rezim Assad di Suriah.

Pengawas Senjata Kimia Dunia Terjunkan Tim Pencari Fakta ke Douma

Serangan dilakukan menyusul rezim Assad yang diduga melakukan serangan kimia di Douma, Suriah yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.

Wilson mengatakan bahwa Inggris telah mendapat kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kekejaman itu.

“Sejumlah besar informasi, termasuk intelijen, menunjukkan rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan terbaru ini,” katanya.

“Akun sumber terbuka menuduh bom barel digunakan untuk mengirim bahan kimia, dan helikopter rezim terlihat di atas Douma pada malam 7 April,” tambahnya.

Wilson mengatakan “intelijen yang dapat diandalkan menunjukkan bahwa pejabat militer Suriah mengoordinasi apa yang tampaknya menjadi penggunaan klorin di Douma pada 7 April.”

“Tidak ada kelompok lain yang bisa melakukan serangan ini.”

Dia menggarisbawahi bahwa dunia telah melihat “gambar mengerikan laki-laki, perempuan dan anak-anak tergeletak mati dengan busa di mulut mereka” dan “tangan pertama akun LSM dan pekerja bantuan menemui luka bakar rinci di mata, mati lemas dan perubahan warna kulit, dengan bau seperti klorin yang mengelilingi korban.”

Gedung Putih: Amerika Semakin Yakin Rezim Suriah Gunakan Senjata Kimia

“Organisasi Kesehatan Dunia (The World Health Organization-WHO) telah melaporkan bahwa 500 pasien, yang dilihat oleh mitranya di Suriah, memiliki gejala yang konsisten dengan paparan senjata kimia,” tambahnya.

Menunjuk ke beberapa bukti yang diketahui oleh dewan OPCW, Wilson mengatakan: “OPCW telah mencatat lebih dari 390 laporan penggunaan senjata kimia di Suriah sejak misi pencarian fakta didirikan pada 2014.”

Dia mengatakan: “Mekanisme Investigasi Bersama OPCW-PBB telah menemukan Suriah bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia termasuk klorin dan sarin pada empat kesempatan antara 2014-2017.

“Suriah belum memberikan laporan lengkap tentang program senjata kimianya kepada OPCW. Direktur Jenderal melaporkan bulan lalu bahwa Suriah tidak memberikan bukti yang kredibel untuk menjelaskan 22 masalah serius. Ini termasuk jumlah senjata kimia yang dimiliki Suriah, jenis senjata, dan amunisi yang digunakan untuk pengiriman.

“Berdasarkan pola perilaku yang gigih, dan analisis kumulatif insiden khusus, kami menilai bahwa rezim Suriah sangat mungkin masih menggunakan senjata kimia sejak serangan terhadap Khan Sheikhoun setahun yang lalu,” Wilson menambahkan.

Utusan Inggris itu juga menunjukkan bahwa “Rusia telah memveto enam resolusi terkait senjata kimia sejak awal 2017, termasuk veto pekan lalu atas rancangan resolusi yang akan membentuk penyelidikan independen terhadap serangan terhadap Douma.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Wilson juga mengecam klaim Rusia bahwa serangan terhadap Douma direkayasa atau dipalsukan dan bahkan bahwa Inggris berada di balik serangan itu. “Itu menggelikan,” katanya.

“Dewan ini mendengar klaim palsu serupa dari Rusia dan dari Suriah tahun lalu. Mereka mempertanyakan kredibilitas bukti serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun. ”

“Aktivitas Rusia telah membuat tindakan lanjutan yang disponsori oleh PBB tidak dapat ditunda,” katanya.

Wilson menekankan bahwa “penggunaan senjata kimia Suriah, yang telah memperparah penderitaan manusia di Suriah, adalah kejahatan serius yang menjadi perhatian internasional.”

“Ini adalah pelanggaran larangan hukum internasional tentang penggunaan senjata kimia dan merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.

Wilson mengatakan menyerang fasilitas senjata kimia rezim Suriah “akan secara signifikan menurunkan kemampuan rezim Suriah untuk meneliti, mengembangkan dan menyebarkan senjata kimia.”

Dia menambahkan: “Kurangnya pertanggungjawaban atas serangan sarin di Khan Sheikhoun hanya meyakinkan rezim Suriah bahwa komunitas internasional tidak serius dalam komitmennya untuk menegakkan norma terhadap penggunaan senjata kimia, dan meminta pertanggungjawaban para pelaku.”

“Ini memalukan.”

“Kegagalan bertindak untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku hanya akan mempertaruhkan lebih banyak penggunaan senjata kimia, di Suriah dan sekitarnya,” kata Wilson.

Kategori : Internasional

Tags : Konflik Suriah senjata kimia

Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin

17 Apr 2018 08:02:57
Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin

IDLIB (Jurnalislam.com) – Warga dari distrik Ghouta Timur Suriah, yang masih dikepung oleh rezim Syiah Assad dan sekutu-sekutunya, terus melarikan diri ke bagian Suriah utara yang dikuasai faksi-faksi jhad dan oposisi moderat dengan harapan menemukan keamanan.

Sejak proses evakuasi dimulai, lebih dari 56.000 orang telah meninggalkan pinggiran Damaskus yang terkepung.

Pengungsi awalnya dikirim ke kamp-kamp di Idlib, di pedesaan barat Aleppo, dan di distrik Al-Bab, yang terletak di dalam area bekas operasi Operation Euphrates Shield Turki.

Karena arus pengungsi baru-baru ini, kapasitas kamp-kamp ini sekarang penuh.

Berbicara kepada Anadolu Agency di kamp Abrar Idlib, Abu Mohamed mengatakan rezim Assad telah mengizinkan warga Ghouta Timur untuk meninggalkan distrik dengan syarat mereka meninggalkan semua barang-barang pribadi mereka di tempatnya.

Konvoi Ke-22 dari Ghouta Timur Tiba di Al-Bab

“Kami tidak memiliki bantal atau selimut; kami tidak punya apa-apa,” keluhnya, menambahkan bahwa LSM bantuan belum mencapai banyak kamp sementara.

Warga Ghouta Timur lainnya, Abu Ahmed, mengatakan dia dan teman-temannya – meskipun menghadapi situasi kemanusiaan yang sulit – merasa jauh lebih aman di Idlib.

“Harga di sini tidak buruk, walaupun kami tidak punya uang. Dibandingkan disana tidak ada kehidupan di Ghouta Timur; disini kami memiliki roti jelai untuk dimakan,” katanya.

Abu Rashid, seorang penduduk distrik lain, mengatakan bahwa dia dan keluarganya mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

“Kami tidak meminta banyak, hanya lingkungan yang layak huni. Kami membutuhkan listrik,” katanya kepada Anadolu Agency.

Turki Dirikan Tempat Penampungan Pengungsi Ghouta Timur di Idlib

Mohamed Tikko, yang mengawasi salah satu kamp sementara di Idlib, mengatakan penduduk Ghouta Timur diberi prioritas dalam hal akomodasi, dengan banyak yang ditempatkan di masjid, rumah dan sekolah setempat.

“Sumber daya sangat terbatas,” katanya. “Beberapa LSM menawarkan untuk membayar sewa keluarga pengungsi selama dua bulan.”

“Tetapi orang-orang ini telah meninggalkan semua barang-barang mereka di belakang – status keuangan mereka sangat buruk,” tambahnya. “Apa yang akan mereka lakukan setelah dua bulan?”

Kategori : Internasional

Tags : douma Ghouta Timur Idlib Konflik Suriah

Rusia Tidak akan Tunda Reaksi dari Aksi Amerika

17 Apr 2018 07:43:38
Rusia Tidak akan Tunda Reaksi dari Aksi Amerika

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan Moskow tidak akan menunda tanggapannya terhadap sanksi baru AS, menurut kantor berita negara Rusia, RIA.

Komentar Ryabkov pada hari Senin (16/4/2018) muncul sebagai tanggapan terhadap pernyataan yang dibuat oleh Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, yang mengatakan pada hari Ahad bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi ekonomi baru pada Rusia karena dukungan mereka terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Ryabkov mengatakan bahwa majelis rendah parlemen Rusia sedang mempertimbangkan undang-undang yang akan memberi Kremlin kekuatan untuk membatasi impor AS, RIA melaporkan, lansir Aljazeera.

Wakil menteri luar negeri juga mengatakan politisi Rusia membahas “penyalahgunaan” AS terhadap status dolar sebagai mata uang internasional, RIA mengutip pernyataan Ryabkov.

Pasukan rezim Nushairiyah Suriah dilaporkan menggunakan senjata kimia pada Douma yang dikuasai oposisi pada 7 April – sebuah laporan yang dibantah Assad.

AS, Prancis dan Inggris menanggapi serangan yang dicurigai tersebut dengan meluncurkan rudal pada hari Sabtu yang menurut mereka menargetkan fasilitas produksi senjata kimia Suriah. Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam serangan yang dipimpin AS sebagai “tindakan agresi” yang hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan di Suriah.

Inilah 3 Tujuan Pokok Pasukan Amerika di Suriah Sebelum Pulang ke AS

Haley mengatakan kepada media AS bahwa sanksi atas Rusia bisa terjadi secepatnya hari Senin.

“Anda akan melihat bahwa sanksi bagi Rusia akan turun,” kata Haley.

AS telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas aneksasi Crimea dan perannya dalam konflik Ukraina, serta dugaan ikut campur dalam pemilihan presiden 2016.

Administrasi Presiden AS Donald Trump terperosok dalam kontroversi seputar penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap dugaan campur tangan Rusia dan kemungkinan kolusi antara kampanye Trump dan Kremlin.

Pada hari Jumat, keluar pernyataan di pengadilan bahwa pengacara lama Trump Michael Cohen telah berada di bawah investigasi kriminal selama berbulan-bulan.

Mantan Direktur FBI James Comey, yang dipecat oleh Trump, juga membandingkan pemimpin AS itu dengan seorang bos mafia dan mengatakan dia “tidak layak secara moral” menjadi presiden hingga memicu kontroversi.

Kategori : Internasional

Tags : AS Rusia senjata kimia

Analis Senior: Aneh, KTT Liga Arab Kemarin Tidak Bahas Serangan Koalisi AS di Suriah

16 Apr 2018 10:06:56
Analis Senior: Aneh, KTT Liga Arab Kemarin Tidak Bahas Serangan Koalisi AS di Suriah

DOHA (Jurnalislam.com) – Para pemimpin di KTT Liga Arab tidak membahas serangan yang dipimpin AS yang terjadi sebagai akibat dari penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad di Suriah.

KTT berlangsung di Arab Saudi pada hari Ahad (15/4/2018), sehari setelah serangan terkoordinasi oleh AS, Inggris dan Prancis pada tiga lokasi yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia di Suriah.

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara mengatakan “aneh” jika serangan baru-baru ini di Suriah oleh Koalisi AS tidak ada dalam agenda KTT Liga Arab.

“Itu sangat aneh,” katanya. “Itu yang kita sebut sebagai pertemuan tanpa tujuan.”

Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

Menurut seorang juru bicara KTT, para pemimpin itu akan membahas konflik Suriah tetapi tidak membahas serangan yang menargetkan situs-situs dekat Damaskus serta di provinsi Homs.

Para pemimpin menyerukan penyelidikan internasional dan mengutuk penggunaan senjata kimia di Suriah, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kepada wartawan setelah KTT.

Inilah 3 Tujuan Pokok Pasukan Amerika di Suriah Sebelum Pulang ke AS

Arab Saudi, Bahrain dan Qatar sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan mendukung tindakan tersebut, sementara Mesir, Irak dan Libanon menyatakan keprihatinan mereka.

Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang membantah menggunakan atau memiliki senjata kimia, tidak hadir pada pertemuan itu setelah Suriah dikeluarkan dari keangotaan Liga Arab pada tahun 2011.

Kategori : Internasional

Tags : Konflik Suriah liga arab

Inilah 3 Tujuan Pokok Pasukan Amerika di Suriah Sebelum Pulang ke AS

16 Apr 2018 09:48:11
Inilah 3 Tujuan Pokok Pasukan Amerika di Suriah Sebelum Pulang ke AS

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS tidak akan menarik pasukannya keluar dari Suriah sampai tujuan Washington tercapai, kata Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB.

Menurut Haley, tiga tujuan besar bagi AS adalah memastikan senjata kimia tidak digunakan dengan cara apa pun yang menimbulkan risiko bagi kepentingan AS; kelompok Islamic State (IS) dibersihkan; dan memastikan Iran tidak melanjutkan gerakan militer di Suriah.

“[Tujuan kami adalah] untuk melihat pasukan Amerika pulang, tetapi kami tidak akan pergi sampai kami tahu kami telah mencapai tiga hal itu,” kata Haley di Fox News, Ahad (15/4/2018), Aljazeera melaporkan.

Nikki Haley

Dalam sebuah wawancara terpisah, Haley mengatakan bahwa AS sedang menyiapkan sanksi baru terhadap Rusia atas dukungannya yang berkelanjutan kepada Presiden Suriah Bashar-al Assad.

Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

Sanksi akan diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pada hari Senin, kata Haley di CBS.

“Mereka akan pergi langsung ke seluruh lokasi yang berurusan dengan peralatan yang berkaitan dengan Assad dan penggunaan senjata kimia,” katanya.

Haley juga mengesampingkan perundingan satu-satu antara Presiden Assad dan AS mengenai krisis Suriah.

Dia mengatakan Suriah sejauh ini menolak untuk mengambil bagian dalam negosiasi multilateral sebagai bagian dari proses politik yang difasilitasi oleh PBB, menambahkan bahwa Suriah tidak “layak” untuk pembicaraan langsung dengan Washington.

Juga pada hari Ahad, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dia telah meyakinkan Trump untuk mempertahankan pasukan di Suriah.

“Kami meyakinkannya bahwa perlu untuk tetap di sana. Kami memiliki legitimasi internasional untuk bertindak dalam kerangka ini,” kata Macron dalam wawancara yang disiarkan oleh BFM TV, radio RMC dan berita online Mediapart.

“Kami memiliki tiga anggota Dewan Keamanan [PBB] yang telah melakukan intervensi.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Hubungan antara Moskow dan Washington tegang setelah AS, Inggris dan Prancis melakukan gelombang serangan terhadap bangunan yang diduga merupakan fasilitas kimia rezim Assad pada Sabtu pagi.

Rusia telah menjadi pendukung utama rezim Syiah Assad sejak perang Suriah dimulai lebih dari tujuh tahun lalu.

Serangan itu terjadi sepekan setelah dugaan serangan kimia mematikan di daerah pinggiran Damaskus yang dikuasai oposisi di Douma.

The White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil lokal, melaporkan rezim Syiah Assad melakukan serangan gas beracun, dan telah membunuh 85 warga sipil, termasuk anak-anak, dan melukai ratusan lainnya.

AS dan sekutunya mengatakan mereka memiliki bukti bahwa serangan itu dilakukan oleh pasukan rezim Assad.

Sebagai tanggapan, Rusia berjanji untuk membalas apa yang ia gambarkan sebagai serangan gas kimia “palsu.”

Kategori : Internasional

Tags : AS douma Konflik Suriah senjata kimia

Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

14 Apr 2018 11:13:01
Amerika, Inggris dan Perancis Lancarkan Serangan Udara ke Suriah Hari Ini

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS, Inggris dan Perancis telah meluncurkan serangan udara “pada target yang terkait dengan kekuatan senjata kimia” di Suriah, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada hari ini, Sabtu (14/4/2018) pagi, Aljazeera melaporkan.

Serangan itu terjadi setelah laporan serangan senjata kimia di bekas markas oposisi Douma akhir pekan lalu.

SOHR: Jumlah Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara AS adalah 1.953 Orang

Berikut adalah semua komentar terkini tentang serangan:

Pemimpin NATO: Saya mendukung tindakan AS dan sekutu

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan dia mendukung tindakan yang diambil oleh AS, Inggris dan Perancis terhadap Suriah. “Saya mendukung tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis terhadap fasilitas dan kemampuan senjata kimia rezim Suriah. Ini akan mengurangi kemampuan rezim untuk menyerang lagi rakyat Suriah dengan senjata kimia,” kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan di Sabtu.

Pemimpin oposisi Suriah: Semua serangan terhadap warga sipil harus dihentikan

Pemimpin oposisi Suriah Nasra al-Hariri menyerukan untuk mengakhiri semua serangan terhadap warga sipil di Suriah. “Mungkin rezim tidak akan menggunakan senjata kimia lagi, tetapi mereka tidak akan ragu untuk menggunakan senjata yang diizinkan oleh masyarakat internasional, seperti bom barel dan bom curah,” kata Hariri dalam tweet pada Sabtu pagi.

Rusia: Suriah diserang saat memiliki ‘kesempatan untuk masa depan yang damai’

Kementerian luar negeri Rusia mengatakan Suriah diserang pada saat negara itu memiliki “kesempatan untuk masa depan yang damai,” kantor berita Rusia RIA melaporkan. Maria Zakharova, juru bicara kementerian, menulis di Facebook: “Mereka yang berada di balik semua ini mengklaim kepemimpinan moral di dunia dan menyatakan mereka luar biasa. Anda harus benar-benar luar biasa untuk merampas ibukota Suriah pada saat ia mendapat kesempatan untuk menetapkan masa depan yang damai.” Kementerian luar negeri juga mengatakan bahwa media Barat memiliki beberapa tanggung jawab atas serangan terhadap Suriah, berdasarkan laporannya, menurut RIA.

‘Tiga target dihantam’

Joseph Dunford, jenderal tertinggi Washington, mengatakan serangan yang tepat berhasil mencapai tiga sasaran – pusat penelitian ilmiah dekat Damaskus, fasilitas penyimpanan dan pos komando yang juga terletak dekat ibukota dan fasilitas penyimpanan senjata kimia di dekat Homs.

Jenderal Tertinggi AS: AS tidak memberi tahu target serangan kepada Rusia

Jenderal senior Washington, Joesph Dunford, mengatakan pasukan Rusia di Suriah telah diperingatkan melalui saluran “dekonflik” yang sudah ada bahwa pesawat-pesawat barat akan berada di wilayah udara Suriah, tetapi Washington tidak mengungkapkan lokasi target atau waktu serangan.

Ketua staf gabungan AS: gelombang pertama serangan berakhir

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford mengumumkan gelombang serangan pertama telah berakhir.

Media pemerintah Suriah mengatakan serangan yang dipimpin AS menghantam depot-depot tentara

Media pemerintah Suriah menyebut serangan oleh AS, Prancis dan Inggris melakukan “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”, menambahkan bahwa serangan itu menargetkan depot-depot tentara di daerah Homs.

Rusia memperingatkan ‘tindakan seperti itu tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi’

Duta besar Rusia untuk AS mengatakan dalam sebuah pernyataan tentang serangan bahwa Rusia memperingatkan “tindakan seperti itu tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi”.

Mattis: ‘Sekarang, ini adalah tembakan satu kali (one-time shot)‘

“Saat ini, ini adalah tembakan satu kali (one-time shot), dan saya percaya serangan itu telah mengirim pesan yang sangat kuat,” kata Menteri Pertahanan AS James Mattis.

TV negara Suriah: pertahanan udara Suriah merespons serangan

Televisi pemerintah Suriah melaporkan bahwa pertahanan udara Suriah menanggapi serangan oleh AS, Inggris dan Perancis

Ledakan terdengar di Damaskus

Ketika Trump mengumumkan serangan, ledakan terdengar dari Damaskus, kantor berita Reuters melaporkan.

Emmanuel Macron menegaskan keterlibatan Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengkonfirmasi keterlibatan Prancis dalam serangan itu.

Theresa May: Serangan dimaksudkan untuk ‘menghalangi penggunaan senjata kimia’

Perdana Menteri Inggris Theresa May membenarkan keterlibatan Inggris dalam serangan, dengan mengatakan: “Kami lebih suka jalur alternatif. Tetapi pada kesempatan ini tidak ada.” Dia mengatakan serangan itu bukan tentang “perubahan rezim” atau “campur tangan dalam perang saudara,” tetapi “menghalangi penggunaan senjata kimia” oleh pemerintah Suriah.

Trump: ‘Saya memerintahkan serangan presisi’

“Saya memerintahkan angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk meluncurkan serangan presisi pada target yang terkait dengan kemampuan senjata kimia milik diktator Suriah Bashar al-Assad,” kata Trump dari Gedung Putih pada Jumat malam. Tujuan dari serangan ini adalah untuk “menetapkan penghindaran yang kuat terhadap produksi, penyebaran dan penggunaan senjata kimia,” kata Presiden AS itu.

128.000 Warga Douma Terperangkap Pasukan Rezim Syiah Assad

Kategori : Internasional

Tags : douma Konflik Suriah senjata kimia

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

5 Feb 2026 12:27:54
Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

5 Feb 2026 12:20:43
Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

5 Feb 2026 12:19:07
Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

31 Jan 2026 17:06:51

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED