Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengumumkan pembukaan serangan musim semi 2018 pada hari Rabu (25/4/2018), bernama “operasi Jihad Al Khandaq” seperti nama pertempuran di Madinah pada tahun 627 Masehi di mana pasukan Nabi Muhammad Saw secara signifikan dengan sedikit pasukan dan dikepung oleh pasukan kafir Quraisy dan Yahudi namun memperoleh kemenangan.

Pasukan AS di Afghanistan adalah target utama operasi, sementara pemerintah boneka dan pasukan militer Afghanistan bentukan AS adalah target sekunder, menurut pernyataan Taliban, lansir Long War Journal, Rabu.

Dua serangan musim semi sebelumnya diberi nama sama dengan dua amir pertama Taliban: Mullah Omar, pendiri Taliban dan pemimpin pertama, dan penggantinya, Mullah Mansour, yaitu Operation Omari dan Operation Mansouri. Mullah Omar meninggal dunia di rumah sakit Pakistan pada 2013, sementara Mullah Mansour syahid dalam serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan pada 2016.

“Perencanaan dan strategi operasi Jihad Al Khandaq diatur oleh para ahli dan kader ahli dari Komisi Militer Imarah Islam yang didasarkan pada taktik gerilya, ofensif, infiltrasi dan berbagai taktik baru dan rumit lainnya dalam melawan strategi perang musuh yang baru,”kata Taliban dalam pernyataannya.

Faksi Jihad Uighur Gelar Operasi Militer Bersama Taliban

Sirajuddin Haqqani memimpin Komisi Militer Taliban, dan Mullah Mohammad Yaqoub – putra Mullah Omar – bertugas sebagai pemimpin senior sebelum diangkat bersama dengan Sirajuddin sebagai salah satu dari dua deputi Mullah Haibatullah Akhundzada. Sirajuddin dianggap sebagai ahli taktik dan ahli strategi yang terampil, dan telah membimbing mujahidin Taliban untuk merebut kendali atau secara aktif memperjuangkan sedikitnya 58 persen dari 407 distrik di Afghanistan, merupakan pencapaian wilayah terbesar yang berhasil dikuasai atau dipengaruhi sejak perang dimulai pada tahun 2001, menurut data yang dikumpulkan oleh the Long War Journal FDD.

Operasi Al Khandaq Jihadi “terutama berfokus menghancurkan, membunuh, dan menangkap para pasukan penjajah Amerika dan pendukung mereka.”

“Target utamanya adalah penjajah Amerika dan agen intelijen mereka,” lanjut pernyataan Taliban. “Pendukung internal mereka akan ditangani sebagai target sekunder sementara plot jahat dari para pengacau yang ada saat ini dan di masa depan akan dihancurkan sejak awal.”

Taliban menegaskan bahwa mereka akan berhati-hati untuk mencegah jatuhnya korban sipil dan memperingatkan warga Afghanistan untuk tetap “berada pada jarak yang cukup aman dari semua pangkalan dan konvoi musuh sehingga mereka tidak akan dirugikan selama operasi ini.”

Serangan Udara AS pada Taliban Meningkat, 4.360 Pemboman, Namun…

Pengumuman tahunan Taliban tentang serangan musim seminya dipandang sebagai tema serangan, operasi militer dan politik Taliban sering kali dekat dengan tujuan yang diumumkan. Pada 2017, Taliban mengatakan bahwa Operasi Mansouri akan fokus pada pasukan asing serta pasukan keamanan Afghanistan. Selain itu, Taliban juga mengatakan akan fokus pada pemerintahan di “area yang telah dibersihkan dari musuh.” Selama serangan 2017, Taliban terus meningkatkan ukuran wilayah kekuasannya, dan menekankan tata kelola di area yang mereka kendalikan.

Pada tahun 2016, Taliban berjanji bahwa Operasi Omari akan “menggunakan serangan skala besar terhadap posisi musuh di seluruh negeri” dan meluncurkan “serangan mencari-syahid dan taktis terhadap benteng musuh.” Hasilnya, Taliban berhasil menekan enam ibukota provinsi, menyerbu beberapa kabupaten yang dikuasai musuh, dan meluncurkan serangan yang sukses di pangkalan militer utama selama serangan tahun 2016.

Serangan Taliban tahun 2018 mungkin akan menjadi yang paling penting dalam perang. Administrasi Trump telah mengerahkan beberapa ribu pasukan tambahan ke Afghanistan untuk menghentikan kemenangan Taliban baru-baru ini terus meningkat pesat. Pejabat AS dan NATO percaya bahwa tekanan militer dapat memaksa Taliban ke meja perundingan. Namun, Strategi ini gagal di bawah pemerintahan Obama, yang menurunkan lebih dari 120.000 tentara Amerika di negara itu.

Setelah Serangan Koalisi Amerika di Douma, Rusia akan Kirim Pertahanan Udara Canggih

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Tentara Rusia telah mengisyaratkan bahwa mereka akan memasok sistem pertahanan udara yang canggih bagi rezim Suriah.

Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi mengatakan pada hari Rabu (25/4/2018) bahwa, “Moskow akan segera memasok sistem pertahanan rudal baru bagi Damaskus,” lansir Aljazeera.

Pernyataan itu tidak menyebutkan sistem apa yang akan diberikan kepada pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu utama Rusia.

Pada hari Senin, harian Rusia Kommersant melaporkan bahwa Moskow hampir mengirim sistem pertahanan rudal S-300, tetapi Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov membantah laporan itu, mengatakan negaranya belum memutuskan apakah akan mengirim sistem atau tidak.

Menhan AS: Amerika akan Lanjutkan Operasi Militer Jika Assad

“Kami harus menunggu untuk melihat keputusan spesifik apa yang akan diambil pimpinan Rusia dan perwakilan Suriah,” kata Lavrov seperti dikutip oleh kantor berita Rusia, TASS.

“Mungkin tidak ada rahasia tentang ini, dan itu semua bisa diumumkan [jika keputusan diambil].”

Avigdor Lieberman, menteri pertahanan Israel, mengatakan pada hari Selasa bahwa Tel Aviv akan menyerang sistem pertahanan anti-pesawat S-300 jika sistem itu digunakan untuk melawan Israel.

“Satu hal yang harus dijelaskan adalah jika seseorang menyerang pesawat kami, kami akan menghancurkan mereka … Yang penting bagi kami adalah bahwa sistem pertahanan senjata yang ditransfer Rusia ke Suriah tidak digunakan untuk melawan kami,” kata Lieberman kepada situs Israel Ynet.

“Jika system itu digunakan untuk melawan kami, kami akan bertindak melawan mereka.”

Rudal Canggih Rusia Bisu Saat Serangan Koalisi AS ke Lokasi Senjata Kimia Assad, Kenapa?

Namun, duta besar Rusia untuk Israel, Alexander Shein, berusaha mengecilkan pentingnya transaksi potensial, menekankan bahwa Israel bukanlah target sistem pertahanan tersebut.

“Saya tidak bisa membayangkan skenario seperti itu,” kata Shein menanggapi ancaman Lieberman.

“Kami saling berkoordinasi dan memperbarui koordinasi tentang Suriah … Sejauh ini, tidak ada insiden di antara kami, atau bahkan petunjuk tentang insiden, dan saya harap tidak akan ada.”

Pejabat tinggi Rusia mengatakan bahwa dalam serangan udara Barat terhadap Suriah awal bulan ini, Moskow mungkin akan mempertimbangkan kembali janji yang diberikan satu dekade lalu untuk tidak memberikan sistem S-300 kepada Suriah.

Serangan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis adalah pembalasan terhadap serangan senjata kimia yang diduga terjadi pada 7 April di kota Douma, dekat Damaskus, yang menewaskan puluhan warga sipil yang kebanyakan wanita dan anak-anak, menurut penyelamat dan petugas medis.

Sudah 2 Wartawan Palestina Gugur saat Meliput “Great March of Return”

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ahmad Abu Hussein, seorang wartawan Palestina yang ditembak oleh pasukan penjajah Israel saat meliput unjuk rasa massal di sepanjang perbatasan Gaza awal bulan ini, telah meninggal dunia karena luka-lukanya, menurut pejabat Palestina.

Pria berusia 24 tahun tersebut, yang ditembak di perut selama protes di dekat Jebaliya pada 13 April, adalah wartawan Palestina kedua yang telah dibunuh oleh tentara Israel sejak gelombang demonstrasi yang dikenal sebagai “Great March of Return” dimulai pada 30 Maret, lansir Aljazeera.

Para pejabat kesehatan di Gaza mengatakan, Hussein meninggal pada hari Rabu di rumah sakit Tel Hashomer Israel, dekat Tel Aviv.

Jenazahnya tiba di hari itu juga di rumah sakit Al-Andalusi di Jalur Gaza, menurut Ashraf al-Qudra, juru bicara kementerian kesehatan.

Hussein awalnya dirawat di Gaza, sebelum dipindahkan ke rumah sakit di Ramallah pada 15 April dan kemudian ke Tel Hashomer empat hari kemudian.

Menurut saksi mata, Hussein, seorang fotografer untuk stasiun radio Voice of the People yang berbasis di Gaza, mengenakan rompi pelindung bertanda “PRESS” pada saat dia ditembak.

Tahrir Saeed 18 Tahun, Syuhada Ke-41 Palestina dalam Aksi Anti Israel

“Rompi yang jelas menunjukkan bahwa ia adalah anggota pers harus diberi perlindungan ekstra – bukan menjadikan mereka sasaran,” kata Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara bagi Komite untuk Melindungi Wartawan (Middle East and North Africa programme coordinator for the Committee to Protect Journalists).

“Kematian Ahmed Abu Hussein menggarisbawahi perlunya otoritas Israel untuk segera meneliti kebijakannya terhadap wartawan yang sedang meliput aksi protes dan mengambil tindakan langsung yang efektif.”

Yaser Murtaja, seorang fotografer agensi Ain Media yang bermarkas di Gaza, meninggal pada 7 April akibat luka yang dideritanya saat ditembak oleh pasukan Israel pada hari sebelumnya.

Murtaja, 30 tahun, ditembak di perut meskipun juga mengenakan jaket antipeluru biru yang ditandai dengan kata “PRESS” saat meliput aksi protes di Khuza’a di selatan Jalur Gaza.

Biadab, Aksi Unjuk Rasa Warga Palestina Direspon dengan Tembakan Artileri Israel

The Great March of Return” adalah aksi puluhan ribu warga Palestina bergerak ke daerah perbatasan untuk menuntut hak kembali bagi para pengungsi Palestina yang diusir dari rumah mereka di wilayah yang diambil alih oleh Israel selama perang 1948, yang dikenal orang Arab sebagai Nakba.

Sekitar 70 persen dari dua juta penduduk Gaza dipaksa meninggalkan rumah mereka dan sekarang tinggal di wilayah berukuran hanya sekitar 360 km persegi.

Sedikitnya 40 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 5.000 orang terluka sejak demonstrasi dimulai, menurut para pejabat Palestina.

Israel menuai kritik tajam dari Internasional atas perintah-perintah tembakan pasukan zionis di sepanjang perbatasan.

Tim Penyelidik Serangan Senjata Kimia Tiba di Lokasi Kedua

SURIAH (Jurnalislam.com) – Inspektur pengawas senjata kimia global telah mencapai lokasi kedua di kota Suriah Douma, di mana dugaan serangan gas terjadi pada awal April.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu (25/4/2018), Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) mengatakan misi pencarian fakta telah mengumpulkan sampel dari lokasi, yang tidak diidentifikasi, lansir Aljazeera.

OPWC mengatakan bahwa sampel-sampel dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan dari situs itu akan dibawa ke Den Haag di Belanda untuk pengujian dan analisis.

“Mereka akan dipilah dan dikirim untuk dianalisis oleh laboratorium yang ditunjuk OPCW.”

Pernyataan itu mengatakan inspektur akan melanjutkan misi pencarian fakta mereka berdasarkan wawancara dengan orang-orang yang relevan dan analisis sampel. Tim tidak mengatakan berapa lama pemeriksaan akan berlangsung.

Perwakilan dari OPCW tiba di Suriah pada pekan kedua bulan April tetapi baru diizinkan untuk mengunjungi Douma mulai Sabtu, 21 April lalu.

Keterlambatan inspeksi menimbulkan pertanyaan tentang apakah masih akan ada cukup bukti yang tersisa untuk dikumpulkan para peneliti.

Amerika Serikat dan Prancis menuduh Rusia memblokir akses ke lokasi yang menurut penyelamat dan petugas medis adalah lokasi dimana puluhan orang tewas pada 7 April.

Begini Tanggapan Analis Terkait Terhambatnya Penyelidikan Serangan Senjata Kimia

Rezim Syiah Suriah dan Moskow mengatakan bahwa dugaan serangan kimia, yang mendorong serangkaian serangan udara oleh sekutu Barat sebagai tindakan balas dendam, adalah serangan buatan (palsu).

Mereka juga berpendapat bahwa serangan udara yang dipimpin AS hanya menunda pengiriman inspektur ke Douma.

Awalnya, tim OPCW yang dikerahkan ke Douma tidak dapat memasuki situs karena masalah keamanan.

Para pejabat Departemen Keselamatan dan Keamanan PBB (the UN Department of Safety and Security-UNDSS) harus menarik diri dari lokasi pertama karena kehadiran orang banyak di sana menimbulkan kekhawatiran akan keamanan.

Di situs kedua, mereka ditembaki dengan senjata ringan, dan alat peledak diledakkan di dekatnya

Kota Douma berada di bawah kontrol oposisi dan menghadapi serangan udara dan darat rezim Suriah ketika serangan yang dicurigai terjadi.

Gambar-gambar yang muncul dari Douma pada waktu itu menunjukkan mayat-mayat yang tidak bernyawa bergelimpangan di ruangan-ruangan yang penuh sesak, beberapa dengan busa di sekitar hidung dan mulut mereka.

Kelompok oposisi menyerahkan kota beberapa hari setelah serangan itu. Ribuan orang – oposisi dan warga sipil – pergi dengan bus ke Suriah utara, percaya bahwa mereka tidak dapat berdamai dengan rezim Suriah setelah rezim mengambil alih kota.

Perang Suriah telah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun.

7 Tewas dalam Baku Tembak antara Pejuang Kashmir dengan Pasukan India

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Tujuh orang tewas dalam pertempuran senjata sehari penuh di Tral, selatan Jammu dan Kashmir, pada hari Selasa (24/0/2018), klaim tentara India, World Bulletin melaporkan.

“Operasi dimulai sangat awal. Salah satu tentara kami dan seorang polisi tewas. Hingga laporan terakhir, sejumlah militan tewas. Pertempuran senjata telah berakhir tetapi tentara kami masih melakukan pencarian luas di daerah itu,” kata juru bicara Pertahanan Kol. Rajesh Kalia.

Pertempuran senjata terjadi di daerah Laam, di hutan Tral, dimana badan-badan intelijen India menerima petunjuk tentang keberadaan mujahidin Kashmir.

1 Tentara India Tewas dan 2 Kritis dalam Bentrokan dengan Pejuang Kashmir

Kashmir, adalah wilayah Himalaya mayoritas Muslim, dikendalikan oleh India dan Pakistan dalam beberapa bagian namun diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.

Kedua negara telah bertempur dalam tiga perang sejak mereka dipartisi pada 1947, dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

Pasukan India dan Pakistan kadang kala juga terlibat pertempuran di gletser Siachen di Kashmir utara, sejak tahun 1984 hingga kini, walaupun gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003.

Ribuan Warga Kashmir Turun ke Jalan Hadapi Tentara India

Pejuang Muslim Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan penjajahan India untuk memperjuangkan kemerdekaan, atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah itu sejak tahun 1989.

Erdogan: Operasi Militer Turki berlanjut Hingga Irak Utara dan Suriah Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan perang Turki melawan terorisme akan berlanjut di Turki timur serta gunung Qandil di Irak utara dan Suriah utara.

Di hadapan parlemen Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di ibukota Ankara pada hari Selasa (24/4/2018), Erdogan menyoroti tekad Turki dalam perjuangannya melawan kelompok teror PKK.

“Kami tidak akan keluar dari [pegunungan tenggara] Cudi, Gabar, Bestler-Dereler, Tendurek, dan Qandil,” kata Erdogan, lansir Anadolu Agency.

“Kami akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk ketenangan negara kami. Kami juga akan melakukan apa yang diperlukan di bagian utara Suriah.”

Liga Arab Serukan Ankara Hentikan Operasi Militer di Suriah, Begini Kata Turki

Serangan udara pada target PKK di Irak utara telah dilakukan secara teratur sejak Juli 2015, ketika PKK melanjutkan operasi bersenjata mereka. Kelompok teror PKK memiliki basis utama di Wilayah Mt. Qandil, dekat perbatasan Iran.

PKK terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Uni Eropa. Dalam operasi terornya melawan Turki, yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade, lebih dari 40.000 orang telah tewas, termasuk wanita dan anak-anak.

Erdogan juga mengatakan bahwa 4.272 teroris PKK/PYD telah dinetralkan di wilayah Afrin Suriah, 258 di Turki, 353 di Irak utara sejak dimulainya Operasi Olive Branch pada 20 Januari.

Turki Segera Lancarkan Operasi Militer ke Manbij Jika

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok teroris YPG dari Afrin di Suriah barat laut di tengah meningkatnya ancaman dari kawasan itu.

Pada 18 Maret, pasukan yang didukung Turki yaitu FSA membebaskan pusat kota Afrin, yang telah menjadi tempat persembunyian utama bagi YPG sejak 2012.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah Timur Tengah serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Erdogan juga membela keadaan darurat Turki yang diperpanjang pada hari Rabu untuk ketujuh kalinya.

“Dalam proses ini, lingkungan menemukan ketenangan. Mereka menuntut keadaan darurat dicabut di lingkungan yang tenang seperti itu,” katanya.

“Kenapa? Karena permainan mereka akan dikalahkan; karena alasan ini, kami tidak akan membiarkan mereka membatalkan perintah (keadaan darurat).”

Turki Perpanjang Keadaan Darurat untuk Ketujuh Kalinya

Turki mengumumkan keadaan darurat untuk pertama kalinya pada 20 Juli 2016, menyusul kudeta Fetullah Terrorist Organization (FETO) yang dikalahkan.

FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen mengatur kudeta yang akhirnya kalah pada 15 Juli 2016, yang menewaskan 250 orang dan hampir 2.200 orang lainnya juga terluka.

Ankara menuduh FETO berada di belakang operasi jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.

85 Negara Hadiri Konferensi Masa Depan Suriah di Brussels

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Konferensi internasional Suriah dua hari, yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa, dimulai hari Selasa (24/4/2018) di ibukota Belgia, Brussels.

Perwakilan dari 85 negara dan organisasi non-pemerintah menghadiri Konferensi Brussels kedua tentang “Mendukung Masa Depan Suriah dan kawasan.”

Perundingan Astana: Oposisi Suriah Tolak Seruan Rusia untuk Kongres di Laut Hitam

Wakil Perdana Menteri Turki Recep Akdag juga akan menyampaikan pidato tentang upaya bantuan Turki di Suriah pada hari kedua, yang akan fokus pada dukungan kemanusiaan dan proses perdamaian politik yang dipimpin PBB di Jenewa, lansir Anadolu Agency.

Perwakilan dari Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD) Perdana Menteri Turki, Turkiye Diyanet Foundation dan Bulan Sabit Merah Turki (Kizilay) juga menghadiri konferensi dua hari.

Konferensi tahun lalu menjanjikan sekitar sembilan miliar euro (hampir $ 11 miliar).

Langgar Perjanjian Astana, Jet Tempur Rusia Bombardir Zona de Eskalasi di Idlib

Suriah telah dikunci dalam perang global yang ganas sejak 2011 ketika rezim Syiah Bashar al-Assad membantai para pelaku unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dalam konflik itu, menurut PBB.

 

Otoritas Tolak Rencana Pembentukan Negara Palestina Tanpa Yerusalem

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Otoritas Palestina (the Palestinian Authority-PA) pada hari Selasa (24/4/2018) mengulangi penolakan rencana pembentukan negara Palestina tanpa Yerusalem sebagai ibukotanya.

“Setiap upaya untuk mempromosikan ide-ide yang mencurigakan dari pihak manapun, dan di bawah slogan-slogan yang tidak jelas dan posisi tanpa akhir, kami anggap tidak memiliki nilai atau kegunaan,” juru bicara PA Nabil Abu Rudeina mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi Wafa.

“Kami mengatakan kepada mereka yang mencoba untuk menghindari prakarsa perdamaian Arab dan resolusi legitimasi internasional dengan mengajukan proposal atau slogan yang tidak jelas bahwa upaya Anda akan ditakdirkan gagal,” katanya.

“Tidak ada warga Palestina atau Arab yang akan menerima itu,” kata juru bicara itu.

“Tidak akan ada solusi,” kata Abu Rudeina, “tanpa pembentukan negara Palestina merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya sesuai perbatasan 1967 dan dengan solusi yang adil untuk masalah pengungsi.”

Konferensi Kota yang Diberkati: Yerusalem dapat Diselesaikan oleh Persatuan Umat Islam di Dunia

Namun juru bicara itu tidak mengungkapkan alasan untuk mengeluarkan pernyataan itu.

Namun sebuah sumber resmi di Otoritas Palestina mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa beberapa negara telah menyarankan kepada PA untuk menerima ide-ide Amerika demi menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

“Ide-ide tidak memasukkan Yerusalem Timur sebagai ibukota masa depan,” kata sumber itu dengan syarat anonimitas karena dia tidak memiliki izin untuk berbicara dengan media.

Begini Diskusi Raja Yordania dengan Wapres AS saat Bahas Yerusalem

Sumber itu mengakui bahwa wilayah Palestina “akan sangat kecil untuk menjadi sebuah negara.”

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dimana Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya akan berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina.

Kota suci ini telah menarik perhatian dunia pada bulan Desember ketika Presiden AS Donald Trump secara nyeleneh mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memicu protes dunia dan protes di wilayah Palestina.

Polisi Malaysia Terima Hasil Otopsi Kematian Ilmuwan Palestina

MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Polisi Malaysia pada hari Selasa (24/4/2018) menerima laporan otopsi dari Departemen Kesehatan tentang kematian seorang ilmuwan Palestina, yang dibunuh di ibukota Kuala Lumpur pekan lalu.

“Setelah menyelesaikan otopsi, kami menyerahkan temuan kami kepada polisi dan terserah kepada polisi apakah akan mengeluarkan rincian tentang laporan itu,” Menteri Kesehatan Subramaniam Sathasivam mengatakan dalam pernyataan yang dikutip oleh surat kabar lokal New Straits Times.

Menteri memilih untuk tidak mengungkapkan rincian laporan, mengutip bahwa kasus itu masih menunggu penyelidikan.

“Kami tidak akan merilis pernyataan apa pun (tentang itu),” katanya.

Pada hari Sabtu, dosen Palestina yang memiliki kaitan dengan Hamas, Fadi Mohammed al-Batsh, ditembak mati di dekat rumahnya di ibukota Malaysia oleh dua pria bersenjata, yang melarikan diri dari tempat kejadian tanpa cedera.

Begini Cara Mossad Menghabisi Ilmuwan-ilmuwan Islam

Keluarga al-Batsh mengatakan agen mata-mata Israel Mossad membunuh dosen itu, namun Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman membantah terlibat dalam pembunuhan itu.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, sebelumnya mengatakan: “pemerintah selalu memantau agen asing, tetapi kadang-kadang sulit ketika mereka menggunakan paspor yang memiliki hubungan diplomatik dengan Malaysia.”

Dia mengatakan Kementerian Dalam Negeri melihat agen-agen asing termasuk yang berasal dari “sebuah negara di Timur Tengah” menggunakan paspor negara-negara tersebut untuk melakukan “misi tertentu.”

Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Polisi Malaysia Rilis Sketsa Wajah Pembunuh Ilmuan Palestina

Pada hari Senin, polisi Malaysia menerbitkan dua sketsa para tersangka di balik pembunuhan sang dosen.

Polisi mengatakan para tersangka bisa berasal dari Timur Tengah atau Eropa dan berbadan tegap.

Israel secara luas diyakini telah membunuh banyak ilmuan, tokoh, aktivis perlawanan Palestina di masa lalu, banyak dari mereka dibunuh di luar negeri.

Pada tahun 1997, para agen Mossad mencoba – dan gagal – membunuh kepala politik Hamas Khaled Meshaal di Yordania dengan menyemprotkan racun ke telinganya.

Mossad juga diyakini berada di balik pembunuhan tahun 2010 atas komandan Hamas Mahmud al-Mabhuh di sebuah hotel Dubai.

Israel tidak pernah mengkonfirmasi atau membantah keterlibatannya dalam pembunuhan Mabhuh.

Pemerintah Sebut Perpres TKA Dapat Tingkatkan Ekonomi Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri berdalih Perpres 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing dapat meningkatkan perekonomian Indonesia.

“Ini salah satu upaya pemerintah untuk menggenjot perekonomian, menarik minat investasi, membutuhkan kemudahan di bidang perizinan di segala bidang. Salah satunya adalah bidang tenaga kerja,” katanya dalam diskusi Forum Merdeka Barat bertema ‘Perpres 20/2018: Kepastian Izin TKA dan Perbaikan Iklim Investasi di Indonesia’ di Aula Kominfo, Jakpus, Senin (23/4/2018).

Selain itu menurutnya, kekhawatiran akan banjir TKA, khususnya TKA China, adalah tidak beralasan. Perpres nomor 20 justru untuk menguatkan TKI.

“Dengan kemudahan perizinan TKA, dimaksudkan untuk meningkatkan investasi yang ujungnya adalah meningkatkan lapangan kerja bagi TKI,” pungkasnya.

Kenapa harus disederhanakan? Agar investasi meningkat dan lapangan kerja meningkat. Agar daya saing kita sebagai bangsa juga meningkat, karena kita masih kalah dengan negara-negara tetangga di ASEAN,” katanya.

Menaker Hanif Dhakiri pun membantah adanya banjir TKA selama ini. Meski tidak memungkiri, mayoritas TKA berasal dari China, namun jumlahnya tidaklah mencapai jutaan orang sebagaimana yang tersebar di media sosial.

Dia menjelaskan? jumlah tenaga kerja asing (TKA) hingga saat ini meningkat di bandingkan akhir 2016. Selain, pekerja berasal dari China, TKA itu banyak berasal dari Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura.

Reporter: Gio