Begini Tanggapan Analis Terkait Terhambatnya Penyelidikan Serangan Senjata Kimia

DOUMA (Jurnalislam.com) – Tugas mengumpulkan bukti dari tempat yang diduga terkena serangan kimia di Douma, Suriah, ternyata lebih sulit dengan bertambahnya hari, para ahli senjata mengatakan kepada Middle East Eye, Jumat (20/4/2019) karena para inspektur tetap terjebak di Damaskus setelah beberapa hari tertunda oleh kekacauan di pihak Suriah dan sekutu Rusia-nya.

Namun, masih ada “bukti berharga” untuk dikumpulkan ketika mereka masuk – sebagian besar dari jasad korban yang meninggal, jika mereka dapat ditemukan.

Sedikitnya 70 orang tewas di Douma pada 7 April setelah dugaan dua serangan senjata kimia, menurut the Syrian Network for Human Rights.

Dihadang Serangan Bersenjata, Ternyata Tim Penyelidik Senjata Kimia Belum Tiba di Douma

Sepekan kemudian, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) tiba di Damaskus, hanya beberapa jam setelah serangan udara pimpinan AS terhadap Suriah sebagai pembalasan atas serangan yang dilaporkan dilakukan kepada rezim Suriah.

Ahli kimia militer Rusia dan beberapa wartawan Barat telah diberi akses, namun hingga Jumat (20/4/2018) sore, para inspektur OPCW masih menunggu untuk memasuki wilayah yang dikuasai Rusia dan rezim Suriah setelah tim keamanan mereka diserang awal pekan ini.

Sementara Perancis mengatakan bahwa bukti-bukti sangat mungkin telah hilang dan AS menuduh Rusia dan Suriah merusak bukti.

Tetapi walaupun ada penundaan dan upaya untuk “membersihkan” area tersebut, para ahli senjata kimia mengatakan kepada Middle East Eye bahwa masih ada bukti yang dapat dikumpulkan, meskipun bukti-bukti ini “semakin berkurang dan semakin tidak mungkin ditemukan dengan semakin lamanya hari berlalu,” kata Hamish de Bretton-Gordon, seorang ahli senjata kimia Inggris yang telah menyelidiki serangan sebelumnya di Suriah.

Harapan utamanya adalah menemukan mayat atau orang yang selamat dan menguji darah, rambut, dan urine mereka untuk mencari jejak bahan kimia dan, bahkan kemudian, kemungkinan sampel-sampel ini hanya akan menunjukkan bukti sarin, zat kimia saraf yang kuat.

“Anda tidak dapat membuktikan klorin pada titik ini, bahkan jika Anda menggali mayat,” Dan Kaszeta, ahli senjata kimia di Strongpoint Security, mengatakan pada MEE hari Jumat.

Chlorine, yang disimpulkan oleh Bellingcat “kemungkinan besar” digunakan dalam salah satu serangan, akan sulit ditemukan setelah serangan karena klorin adalah gas, kata Kaszeta.

“Gas tertiup oleh angin,” katanya. “Jika kamu mengambil banyak air kolam renang dan melemparkannya ke tanah dan hingga menunggu tiga hari, itu akan terlihat persis sama.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Sarin adalah cairan, dan jika sarin memang digunakan, jejaknya mungkin dapat ditemukan karena meresap. Setelah serangan Ghouta Timur pada 2013 yang menewaskan hingga 1.400 orang, bekas-bekas sarin ditemukan di cat dan segel jendela karet, katanya.

Tapi Kaszeta mengatakan dua pekan kemudian, setelah “seseorang dapat dengan mudah membersihkan lokasi dengan mencucinya hingga bersih,” maka tempat yang paling mungkin untuk menemukan bukti sarin adalah di sampel darah.

“Ini tidak berarti beberapa sudut dan celah di suatu tempat tidak memiliki bukti, atau seseorang mengenakan sepasang sarung tangan karet dan menemui beberapa bagian dari sesuatu dan memasukkannya ke dalam kantong ziplock,” katanya. “Tapi saya skeptis.”

Dan Smith, direktur Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (the Stockholm International Peace Research Institute), setuju dengan Kaszeta bahwa bukti biologis adalah kuncinya.

“Yang paling penting adalah jika mereka dapat menemukan mayat,” kata Smith.

“Korban serangan, baik hidup atau mati, jika mereka dapat ditemukan dan sampel dapat diambil dari mereka, akan memberikan bukti yang kuat.”

Namun, katanya, jika tidak dapat menemukan mayat atau orang yang selamat juga bisa memberikan bukti negatif lainnya.

“Anda seharusnya dapat mengambil sampel dari keduanya, dan jika Anda tidak bisa menemukannya untuk beberapa alasan, itu adalah sesuatu yang perlu dipikirkan,” katanya.

Banyak warga yang mengalami serangan dugaan senjata kimia tersebut sekarang mungkin berada di Idlib setelah evakuasi pejuang Jaish al-Islam dan keluarga mereka dari kota, yang telah dikuasai oleh kelompok militan itu sejak akhir 2013.

“Ada harapan bahwa mereka akan diwawancarai dan kita akan memiliki sampel yang diambil dari mereka,” kata De Bretton-Gordon, menambahkan bahwa “banyak sekali” bukti telah diambil, termasuk sampel yang berhasil tiba di laboratorium di Prancis, Inggris dan AS.

Rudal Canggih Rusia Bisu Saat Serangan Koalisi AS ke Lokasi Senjata Kimia Assad, Kenapa?

Sementara itu, dia mengatakan beberapa dokter Suriah mengatakan kepadanya bahwa banyak dokter yang merawat pasien setelah serangan itu dibawa ke Damaskus.

“Banyak yang belum kembali,” katanya. “Banyak dokter yang diberitahu untuk tidak berbicara dengan OPCW tentang penyakit yang menyebabkan kematian.”

“Awalnya, Suriah dan Rusia mengatakan tidak ada yang terjadi. Kemudian mereka mengatakan itu terjadi, tapi itu adalah serangan buatan. Sekarang mereka mencoba untuk mencegah penyelidikan,” tambahnya.

“Akhirnya, saya yakin OPCW akan masuk ketika Suriah dan Rusia yakin mereka tidak akan dapat menemukan apa pun.”

Bagikan