Wujudkan Persatuan Palestina, Hamas dan Fatah Sepakati Rekonsiliasi

MESIR (Jurnalislam.com) – Dua kekuatan politik Palestina, Hamas dan Fatah, menandatangani sebuah kesepakatan rekonsiliasi di ibukota Mesir, Kairo, pada hari Kamis (12/10/2017), sebagai bagian dari usaha untuk mengakhiri keretakan satu dekade, lansir Aljazeera.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah perwakilan Hamas dan Otoritas Palestina (Palestinian Authority-PA) pimpinan Fatah bertemu di Kairo pada hari Selasa untuk melaksanakan sebuah kesepakatan persatuan yang ditandatangani pada tahun 2011 namun tidak diberlakukan.

Pada sebuah konferensi pers, kepala delegasi PA Azzam al-Ahmad mengatakan kedua pihak sepakat bahwa perbatasan Rafah antara Mesir dan Gaza akan dioperasikan oleh pengawal Presiden PA Mahmoud Abbas pada 1 November.

“Langkah-langkah keamanan akan diterapkan dan diadopsi oleh Otoritas Palestina dimana para sipir presiden akan tersebar di seluruh perbatasan,” kata al-Ahmad.

Dia menambahkan bahwa di bawah instruksi Abbas, kedua kelompok tersebut tidak akan kembali ke wilayah Palestina yang dijajah Israel kecuali mereka memiliki “kesepakatan akhir yang akan mengesampingkan keretakan selamanya … untuk mewujudkan impian Palestina, mengakhiri penjajahan, dan untuk memiliki sebuah negara Palestina yang independen dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota “.

Saleh al-Arouri, wakil kepala kantor politik Hamas, mengucapkan terima kasih kepada Mesir atas “peran stabilnya”.

“Masalah Palestina adalah masalah Mesir,” katanya.

Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa pemilihan dewan legislatif, presiden dan dewan negara harus dilakukan dalam waktu satu tahun setelah penandatanganannya, meskipun rincian kesepakatan rekonsiliasi belum diumumkan.

Kesepakatan itu juga akan melihat Hamas dan Fatah membentuk pemerintahan sementara sebelum pemilihan.

Gerakan Hamas yang berbasis di Gaza memutuskan bulan lalu bahwa pihaknya akan membubarkan komite administratifnya yang mengelola Jalur Gaza. Hamas juga mengungkapkan kesediaannya untuk berdamai dengan PA, badan semi otonom yang memerintah Tepi Barat.

Selanjutnya, Perdana Menteri PA Rami Hamdallah mengunjungi Gaza dan mengumumkan bahwa pemerintah persatuan nasional akan mulai mengambil tanggung jawab administratifnya atas Jalur Gaza.

Hamas telah menjadi penguasa de facto di Jalur Gaza sejak 2007 setelah partai tersebut mengalahkan partai Fatah yang telah lama dominan di parlemen dalam pemilihan parlemen.

Hamas kemudian mendorong Fatah keluar dari Gaza dalam konflik Palestina, ketika Fatah menolak untuk mengakui hasil pemungutan suara tersebut.

Hamas Peringatkan Rencana ‘Busuk’ Perdamaian Israel

Israel menanggapi kemenangan pemilihan Hamas dengan memberlakukan pengepungan darat, laut dan udara, sampai saat ini.

Hamas dan Fatah masing-masing menguasai Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak itu, dan beberapa upaya rekonsiliasi gagal karena beberapa alasan.

Kesepakatan yang ditengahi Mesir, jika berhasil dilaksanakan, bisa memperbaiki situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza.

Dalam beberapa bulan terakhir, Hamas telah mendapat tekanan berat dengan tindakan PA baru-baru ini terhadap Gaza, yang bertujuan untuk menekan Hamas untuk menyerahkan kendali atas Jalur Gaza.

Tindakan penghukuman termasuk memotong gaji pegawai PA yang tinggal di Gaza dan mengurangi pasokan listrik ke Gaza, yang telah menderita kekurangan listrik akibat blokade zionis yahudi, Israel.

Aksi Kemanusian Selamatkan Rohingya: 900.000 Dosis Vaksin untuk Cegah Wabah Kolera

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Pemerintah Bangladesh, badan-badan PBB, dan sejumlah LSM telah meluncurkan kampanye vaksinasi besar-besaran di Cox’s Bazar Bangladesh untuk menyelamatkan ratusan ribu pengungsi Rohingya dari penyebaran wabah kolera.

Departemen Kesehatan Bangladesh, yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF dan LSM lainnya, membagikan vaksin oral kepada 88.000 orang Rohingya pada hari Selasa dalam sebuah kampanye berskala besar untuk memvaksinasi 650.000 orang dalam tiga setengah pekan ke depan.

Ini adalah kampanye vaksinasi oral terbesar kedua di dunia, setelah kejadian lain di Haiti tahun lalu. Kampanye ini akan melibatkan 900.000 dosis vaksin.

Kampanye Vaksinasi Kolera Terbesar di Dunia Digelar di Kamp Pengungsi Rohingya

Imunisasi tahap kedua, yang diharapkan dimulai November, bertujuan untuk mengimunisasi 250.000 anak-anak berusia antara satu dan lima tahun.

Meskipun tidak ada kasus kolera yang tercatat secara resmi, kampanye vaksinasi merupakan tindakan pencegahan untuk mencegah terjadinya penyebaran penuh.

Namun, sedikitnya WHO telah mendiagnosis 10.292 kasus diare, yang memiliki gejala terhadap kolera, sejauh ini.

“Saya tidak akan terkejut jika kita memiliki beberapa kasus kolera yang masuk di antara semua penyakit diare ini karena hal itu tidak dapat dihindari,” kata Dr Navaratnasamy Paranietharan, perwakilan WHO di Cox’s Bazar, kepada Al Jazeera, Rabu (11/10/2017).

“Dengan kampanye vaksinasi dan berdasarkan analisis kami, kami tidak mengharapkan wabah kolera besar di antara populasi ini. Ini tidak akan seperti Yaman atau tempat lainnya.”

LSM Turki Bangun 20.000 Tenda Dilengkapi Kamar Mandi untuk Pengungsi Rohingya

Paranietharan mengatakan WHO akan mendapatkan hasil laboratorium segera setelah pekan depan, yang kemungkinan akan mengkonfirmasi kehadiran kolera di kamp-kamp pengungsian.

Kondisi di kamp sangat memprihatinkan: basah, berlumpur dan penuh sesak. Di sana juga kekurangan air bersih dan sanitasi.

“Hanya ada sedikit toilet di sini,” kata Gura Banu, seorang pengungsi Rohingya di Cox Bazar. “Dalam kurun waktu tiga sampai lima hari, toilet itu menjadi penuh dan tidak dapat digunakan, sangat busuk, terlalu banyak orang di sini. Kita bisa hidup tanpa makan satu atau dua kali sehari, tapi kita tidak bisa hidup tanpa tidak bisa menggunakan toilet.”

Sebagian besar pengungsi hanya makan satu kali sehari dan diguyur hujan deras, diikuti oleh gelombang panas tanpa henti, semakin memperrumit kondisi mereka.

“Airnya terlalu jauh,” kata Muhamad Shaker, seorang Rohingya lainnya. “Itu yang menjadi masalah, dan orang-orang menderita, terlalu banyak orang di sini, dan karena itulah sangat kotor, semua orang mulai sakit.”

Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (the United Nations High Commissioner for Refugees-UNHCR) telah mendesak tindakan pencegahan untuk menghindari wabah tersebut.

“Air bersih dan air minum yang aman sangat penting dalam mengurangi dan mencegah penyakit semacam ini,” kata Yante Ismail, juru bicara UNHCR, kepada Al Jazeera.

Leonard Doyle, juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi, juga menggemakan peringatan tersebut.

“Mereka membutuhkan air, mereka butuh tempat berlindung, mereka butuh bantuan, tapi mereka pasti lebih melihat orang yang trauma,” kata Doyle kepada Al Jazeera.

“Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun mendatangi saya, dan dia meletakkan tangannya di atas tenggorokannya untuk menunjukkan bahwa ayahnya telah meninggal, terbunuh dan dibantai dan dia sendiri baru saja tiba di malam sebelumnya. Rasakan betapa mengerikan keseluruhan situasinya.”

Kolera membunuh 95.000 orang setiap tahun dan mempengaruhi 2.9 juta orang di seluruh dunia. Ini adalah infeksi diare akut yang disebabkan akibat menelan makanan atau air yang terkontaminasi yang menyebabkan gejala ringan termasuk dehidrasi dan diare.

Pemberontak Syiah Houthi Yaman Rebut Kamp Pasukan Garda Republik di Sanaa

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemberontak Syiah Houthi merebut sebuah kamp pasukan Garda Republik di selatan Sanaa yang setia mengawal Presiden Ali Abdullah Saleh, Al Arabiya melaporkan Rabu (11/10/2017).

Berbagai sumber Yaman mengkonfirmasi pada hari Selasa bahwa paasukan Syiah Houthi telah menguasai sepenuhnya kamp Dabwa, kamp Garda Republik terbesar kedua di Sanaa, dan mengangkat seorang pemimpin Houthi baru menggantikan mantan komandan Brigadir Jenderal Ali Mohamed al-Masoudi yang diculik sebulan lalu .

Situs-situs berita Yaman mengutip sumber-sumber di Garda Republik yang mengatakan bahwa pemberontak Syiah Houthi telah memberi puluhan petugas dan personil militer di kamp itu sebuah cuti terbuka sebulan yang lalu, sebelum mengangkat seorang pemimpin Houthi di kamp tersebut.

12 Milisi Syiah Houthi Tewas Dihantam Rudal Koalisi Arab di Sanaa

Sebenarnya, beberapa laporan mengklaim bahwa beberapa perwira telah mengatakan kepada Saleh tentang rencana Houthi untuk mengendalikan kamp tersebut, namun dia mengabaikan laporan Intel tersebut dan tidak melakukan tindakan atau memberi mereka perintah apapun, memaksa mereka untuk menyerah kepada Houthi dan kepemimpinan baru mereka di Camp Dabwa.

Kamp Dabwa di selatan Sana’a berada dalam jangkauan geografis Sanhan (tempat kelahiran Saleh), yang merupakan wilayah yang menampung Komando Pusat Garda Republik dan tiga brigade militer.

Saleh masih memiliki satu kamp tersisa di daerah tersebut, Rima Hameed, benteng terakhirnya dan sekelompok Garda Republik. Selain kamp Pasukan Khusus yang dipimpin oleh keponakannya dan bertanggung jawab atas keamanan pribadinya, Brigadir Jenderal Tariq Saleh

Milisi Syiah Houthi berusaha untuk menonaktifkan “kekuatan” militer dan politik Saleh dan mengintimidasi pendukungnya dengan penangkapan, menurut pengamat setempat.

Jepit IS di Raqqah, Jubir Koalisi AS: Kami Tidak Terima Negosiasi

SURIAH (Jurnalislam.com) – Koalisi pimpinan agresor AS yang memerangi kelompok Islamic State (IS) mengatakan pada hari Rabu (11/10/2017) bahwa mereka tidak akan menerima negosiasi penarikan pasukan yang memerangi ratusan pasukan IS yang bersembunyi di kota Raqqah, Suriah, yang pernah menjadi ibukota de facto kelompok IS.

Ucapan juru bicara koalisi tersebut, Kolonel Ryan Dillon, muncul saat sekutu koalisi sedang berupaya mengevakuasi sekitar 4.000 warga sipil yang tetap terjebak di kota tersebut.

Koalisi tersebut mengatakan bahwa pasukan IS menahan beberapa warga sipil sebagai perisai manusia, mencegah mereka melarikan diri saat pertarungan memasuki tahap akhir untuk merebut wilayah Raqqa tersisa yang masih di tangan milisi. Kota tersebut, yang berada di tepi Sungai Efrat, rusak parah akibat pertempuran, dan para aktivis melaporkan bahwa lebih dari 1.000 warga sipil telah terbunuh di sana sejak bulan Juni.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan 8.000 orang terjebak dalam Raqqa, dan telah meminta semua pihak yang terlibat konflik untuk mengambil semua tindakan demi melindungi warga sipil. PBB mengatakan September adalah bulan terburuk di tahun 2017 bagi warga sipil di Suriah.

AS Mulai Lancarkan Serangan Udara dan Artileri Sengit pada Benteng IS di Raqqa

Dillon mengatakan bahwa Majelis Sipil Raqqa, yang merupakan pejabat pemerintah Arab dan Kurdi setempat, memimpin diskusi untuk memastikan evakuasi warga sipil yang aman saat pertarungan merebut Raqqa memasuki tahap akhir. Namun, tidak jelas dengan siapa dewan tersebut berbicara di dalam Raqqa. Pasukan yang dipimpin Kurdi, Pasukan Demokrat Suriah, memimpin pertempuran yang didukung AS di lapangan.

“Kami melihat beberapa kemajuan melihat warga sipil bisa keluar dari Raqqa dengan aman. Tren ini telah berubah menjadi … sebuah upaya yang lebih luas oleh Dewan Sipil Raqqa untuk membantu penduduk sipil yang tersisa keluar dari sana,” kata Dillon kepada The Associated Press. Dia mengatakan sedikitnya 700 warga sipil telah dievakuasi dari kota tersebut sejak Senin.

Namun Dillon menambahkan bahwa diskusi tentang nasib milisi IS yang tersisa di kota telah berfokus pada “penyerahan tanpa syarat.”

Menegosiasikan penarikan pasukan “adalah sesuatu yang tidak akan pernah kita lakukan atau setujui sebagai koalisi,” Dillon menambahkan. Antara 300 dan 400 gerilyawan diyakini bersembunyi di sekitar 4 kilometer persegi (1,5 mil persegi) wilayah Raqqa, termasuk di stadion kota dan sebuah rumah sakit, katanya.

Kuasai 45 Persen Kota, Koalisi AS Terus Bombardir Raqqa, 29 Warga Sipil Tewas

Stadion ini diyakini digunakan oleh IS sebagai gudang senjata dan sebuah penjara sementara rumah sakit tersebut merupakan salah satu markas besar mereka.

Dillon mengatakan bahwa dalam tiga pekan terakhir, hingga 15 milisi IS, termasuk seorang pemimpin senior, telah menyerah di Raqqa, sebuah tren yang juga terlihat di Irak karena kekuatan kelompok IS itu menurun di kedua negara. Dillon mengatakan sedikitnya seorang tokoh terkemuka lainnya ditangkap di antara warga sipil, saat mencoba melarikan diri.

Pertarungan untuk Raqqa dimulai pada bulan Juni tapi setelah awal yang cepat, perlawanan keras dari IS memperlambat kemajuan pasukan yang dipimpin Kurdi.

Sementara itu, serangan udara di kota tersebut tampaknya telah menurun, sepertinya untuk memungkinkan evakuasi dan perundingan. Koalisi tersebut melaporkan lima serangan udara di dekat Raqqa pada hari Selasa.

Markas Komando Polisi Rezim Assad di Damaskus Dihantam 3 Serangan Bom

SURIAH (Jurnalislam.com) -Sedikitnya dua polisi tewas dan enam lainnya cedera berat setelah penyerang meledakkan diri di markas komando polisi di ibukota Suriah, Damaskus, menurut media rezim Suriah, Aljazeera melaporkan.

Pembom martir mencoba menyerbu gedung polisi utama dan bentrok dengan para penjaga sebelum meledakkan alat peledak mereka di luar pada hari Rabu (11/10/2017), lapor televisi pemerintah Suriah.

Sebuah laporan DPA yang mengutip kantor berita resmi Suriah mengatakan dua pembom meledakkan ikat pinggang mereka di luar kantor polisi di Jalan Khaled bin al-Walid, sementara pembom ketiga meledakkan dirinya di pintu masuk sebuah pasar di jalan yang sama.

Serangan hari Rabu adalah insiden kedua bulan ini setelah sekelompok orang bersenjata membidik sebuah kantor polisi di distrik Al-Midan, Damaskus, pada 2 Oktober.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) mengatakan September adalah bulan paling mematikan dalam konflik tahun ini, dengan sedikitnya 3.000 orang, termasuk 955 warga sipil, terbunuh.

“Lebih dari 70 persen warga sipil terbunuh akibat serangan rezim Assad dan serangan udara brutal Rusia, atau akibat serangan udara koalisi internasional” yang memerangi kelompok Islamic State (IS), menurut Rami Abdel Rahman, kepala SOHR.

Jumlah orang yang terbunuh pada bulan September lebih tinggi bukan hanya karena meningkatnya pertempuran dan “serangan udara intensif dari koalisi internasional dan Rusia terhadap benteng-benteng IS di utara dan timur Suriah, namun juga karena meningkatnya serangan udara Rusia dan rezim di daerah-daerah yang dikuasai oposisi,” Abdel Rahman mengatakan.

Didukung oleh serangan udara Rusia, pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad sedang berperang untuk merebut kembali daerah-daerah di provinsi timur Deir Az Zor yang dikendalikan oleh IS.

Sebuah koalisi internasional pimpinan AS telah memberikan dukungan udara kepada aliansi Kurdi-Arab, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang uga memerangi IS di bekas benteng utara mereka di kota Raqqa dan Deir Az Zor.

Inilah Laporan Terbaru PBB Tentang Serangan Brutal Buddhis Myanmar pada Muslim Rohingya

JENEWA (Jurnalislam.com) – Serangan Myanmar selama berbulan-bulan terhadap Muslim Rohingya telah menjadi operasi terpadu dan terorganisir dengan baik yang secara eksplisit dimaksudkan untuk mendorong mereka keluar dari negara tersebut ke Bangladesh dan menghalangi kembalinya mereka, sebuah laporan terbaru PBB mengatakan pada hari Rabu (11/10/2017), lansir Anadolu Agency.

“Serangan brutal terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine utara telah terorganisir dengan baik, terkoordinasi dan sistematis, dengan tujuan untuk tidak hanya mengusir penduduk keluar dari Myanmar namun juga mencegah mereka untuk kembali ke rumah mereka,” menurut sebuah laporan PBB baru berdasarkan 65 wawancara dengan individu dan kelompok yang dilakukan di Bangladesh.

“Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan terhadap penduduk Rohingya dilakukan oleh pasukan militer Myanmar yang sering dibantu dengan orang-orang Buddhis Rakhine bersenjata,” kata laporan tersebut.

“Dalam beberapa kasus, sebelum dan selama serangan, megafon digunakan untuk mengumumkan: ‘Anda tidak berhak di sini – pergilah ke Bangladesh. Jika Anda tidak pergi, kami akan membakar rumah Anda dan membunuh Anda’,” katanya.

Uni Arakan Rohingya: Pembunuhan Terhadap Muslim Rohingya Masih Berlanjut

Laporan ini juga menyoroti sebuah strategi untuk “menanamkan ketakutan dan trauma yang dalam dan meluas – fisik, emosional dan psikologis” di antara populasi Muslim Rohingya.

Laporan tersebut menyebut operasi yang diluncurkan oleh pasukan militer Budha Myanmar menyerang warga Muslim Rohingya sebagai operasi pembersihan.

Memperhatikan keprihatinan serius akan keamanan ratusan ribu orang Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine utara, PBB meminta pihak berwenang Myanmar untuk “segera mengizinkan petugas kemanusiaan dan hak asasi manusia bebas mengakses wilayah-wilayah yang dilanda bencana.”

Kepala Komisi Komisioner Tinggi Komisaris Hak Asasi Manusia (the Office of the High Commissioner for Human Rights-OHCHR) Thomas Hunecke mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Jenewa “Kami telah menerima informasi yang sangat kredibel bahwa ranjau darat ditanam setelah 25 Agustus di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh dan kemungkinan ranjau ini ditanam untuk mencegah populasi Rohingya agar tidak kembali.”

Anggota misi OHCHR Myanmar, Karin Friedrich, memperhatikan bahwa tidak hanya pembersihan etnis tapi juga tempat-tempat religius, dengan ada masjid yang terbakar dan Quran suci yang dirusak.

Kepala HAM PBB Zeid Ra’ad Al Hussein menggambarkan operasi pemerintah Myanmar di Rakhine utara sebagai “contoh buku teks pembersihan etnis.”

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer di Myanmar dimana militer dan massa Buddhis membunuhi pria, wanita dan anak-anak, menyiksa, menjarah rumah, dan membakar desa Rohingya.

Temuan Advokasi Rohingya: PBB di Myanmar Memiliki Peran dalam Pembersihan Etnis

Sejak 25 Agustus, ketika militer melancarkan tindakan keras terhadap warga Muslim Rohingya, 519.000 warga Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Ini adalah perpindahan populasi sipil Asia yang “terbesar dan tercepat” sejak tahun 1970an, kata PBB.

Turki berada di garis terdepan untuk memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya dan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah mengangkat isu tersebut di PBB.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, mutilasi, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ini Jawaban Arifin Ilham Tanggapi Penghujat Praktik Poligaminya

JURNALISLAM.COM – Subhanaallah sahabat shalehku. Sungguh Islam mengajarkan umatnya supaya pernikahan itu dipublikasikan. Rasulullah SAW bersabda, “A’linuu haadzan-nikaaha waj-‘aluuhu fi’l-masaajidi wadh-ribuu ‘alaihid-dufuufa” (Umumkanlah pernikahan, selenggarakanlah di masjid dan bunyikanlah tetabuhan).” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Rasulullah SAW bersabda, “Kumandangkanlah pernikahan dan rahasiakanlah peminangan.” (HR Ummu Salamah ra).

Sebaliknya, sembunyi-sembunyi bukan hanya jauh dari sunnah apalagi syiar, malah justru menimbulkan mudhorot besar dan banyak fitnahnya.

Padahal, dia berjalan dengan istrinya difitnah berzina. Jelas salah yang memfitnah tetapi juga salah yang tidak mengumumkan pernikahannya karena membuka peluang fitnah.

Dakwah terbaik bukan hanya memberi contoh tetapi menjadi contoh nyata. Rasulullah menggendong Sayyidah Aisyah saat menyaksikan perlombaan kuda, mengangkat Sayyidah Shofiyyah naik onta, dan banyak lagi kisah indah Rasulullah.

Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata tentang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam : “Beliau orang yang suka bercanda dengan istrinya” (HR Bukhari)

Jelas ini tontonan terindah bagi para sahabat yang menyaksikan ini. Tetapi, menjadi tuntunan dakwah dan uswah hasanah terindah, bersikap terbaik kepada keluarga dihadapan umat. Tontonan pun berubah menjadi tuntunan mulia.

Apalagi dakwah di era media sosial, benar-benar tantangan besar bukan lagi “katanya atau kisahnya saja, mana buktinya?!”

Karena itulah, dibutuhkan bukti contoh nyata bahwa syariat Allah itu memang sangat membahagiakan bagi hamba hamba yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya.

Jangan bermesraan bercumbu rayu dipublikasikan, jelas ini sangat memalukan, tetapi kebahagiaan, kebersamaan dan pendidikan yang menjadi contoh kebaikan hidup berumah tangga.

Khusus untuk poligami, hanya bagi yang mampu dengan syarat-syarat yang sangat berat. Terutama kesiapan istri pertama dan keluarga. Kalau tidak siap dan tidak mampu melakukannya, malah berakibat hancurnya bahtera rumah tangga. Untuk apa poligami kalau hanya berakhir dengan hancurnya rumah tangga? Maka, bersabarlah dan berbahagialah dengan cukup satu istri saja!

Any way, kalau hati itu bersih karena keindahan imannya, maka ia memandang apapun dengan bersih pula, penuh dengan kebaikan, kesantunan bahasa, dan kemuliaan bersikap. Tetapi sebaliknya, kalau hati itu kotor, maka ia memandang apapun denga buruk sangka, bahasa kedengkian, dan penuh hujatan kebencian.

Pepatah arab mengatakan, “Kalau hati sudah ridha disebut namanya saja sudah senyum senang, tetapi kalau hati sudah benci melihat gantungan bajunya saja sudah manyun ingin membuangnya”.

Allahumma ya Allah maafkanlah sahabat hamba yang memfitnah hamba. Maafkan sahabat hamba yang menghujat hamba, hamba yang difitnah dan dihujat ikhlas rela memaafkannya karena cinta sayang hamba pada mereka dan umat Nabi Muhammad SAW karena Engkau…aamiin.

Semoga Allah selalu berkahi persahabatan dan harakah dakwah kita… aamiin.

 

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

SURIAH (Jurnalislam) – Alasan yang dikemukakan ke publik oleh Turki adalah untuk mengusir faksi-faksi jihad yang terkait al-Qaeda di Suriah. Tapi ketika diselidiki lebih dalam, indikasi intervensi Turki di Idlib ini adalah upaya untuk membangun pengaruh di Suriah sebelum terlambat, kata para analis, Selasa (10/10/2017), lansir Middle east Eye.

Dorongan tersebut juga menandai penerimaan Ankara terhadap rezim Syiah Bashar al-Assad – hampir enam tahun setelah memintanya untuk mundur – dan sebuah konflik yang telah berubah menjadi pertarungan nyata politik.

Pada hari Sabtu (7/10/2017), setelah berbulan-bulan membangun militer Turki di sekitar Idlib dan mengatakan di media pemerintah bahwa sebuah intervensi akan terjadi, presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengumumkan dimulainya kampanye melawan koalisi faksi jihad Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Sejak 2014, pasukan oposisi telah menguasai provinsi Suriah utara yang sekarang dikendalikan penuh HTS, koalisi faksi jihad yang dipimpin oleh Jabhat Fath al Sham, nama baru Jabhah Nusrah, pada akhir Juli.

HTS Kini Mengendalikan Penuh Fasilitas Umum Provinsi Idlib

“Hari ini ada operasi serius di Idlib dan ini akan berlanjut, karena kita harus mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita di Idlib dan saudara-saudara kita yang tiba di Idlib,” kata Erdogan dalam pidato di televisi.

Turki, lanjutnya, tidak akan mengizinkan terbentuknya “koridor perang” di sepanjang perbatasannya dan operasi tersebut, yang dipimpin oleh pasukan oposisi Suriah yang didukung Turki, akan “memberi kami inisiatif baru mengenai masalah ini”.

Empat hari dalam misi tersebut, telah ada laporan tentang jihadis HTS yang melepaskan tembakan ke pasukan Turki di sebuah dinding di sepanjang perbatasan antara Turki dan Idlib, namun sedikit darah yang ditumpahkan.

Itu karena menurut analis pertempuran sengit tidak akan terjadi, setidaknya di awal, dengan adanya kesepakatan win-win: HTS akan mempertahankan kehadirannya di utara Suriah; sedangkan Turki, akan menghentikan orang-orang Kurdi Suriah yang berusaha mendirikan sebuah koridor ke Mediterania dengan mengisolasi daerah kantong Afrin milik mereka.

Amerika Serikat Ketakutan jika Hayat Tahrir al Sham Mendominasi Provinsi Idlib

“Sejauh ini, menurut sumber yang berbeda – yaitu warga Suriah yang berada di lapangan dan juga pengamat – mereka mengatakan bahwa ada semacam pemahaman antara HTS dan pasukan Turki tentang ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan berada di sana,” kata Haid Haid, seorang jurnalis dan pakar riset Chatham House.

“Turki ingin memaksakan kehadiran pasukannyanya di daerah itu sebelum orang lain melakukannya,” kata Haid. “Mereka bergerak sekarang untuk menciptakan zona penyangga yang akan berisi pejuang-pejuang HTS yang akan memungkinkan mereka beroperasi pada dasarnya di wilayah sekitar Afrin tanpa ada keberatan dari Rusia atau AS atau masyarakat internasional, yang mungkin merupakan hasil dari kesepakatan Astana baru-baru ini.”

Tapi masalahnya adalah apa yang terjadi setelah bab pertama ini selesai dan di sini Turki menemukan dirinya berada di tempat yang sulit.

Hayat Tahrir al-Sham
Mujahidin Hayat Tahrir al-Sham

Bisakah Turki meyakinkan HTS untuk membatasi aktivitasnya dan mengisolasi dirinya sendiri di dalam koridornya? Dan jika Turki mampu melakukan hal yang diragukan itu – apakah itu cukup untuk mencegah serangan udara pemerintah Rusia atau rezim Suriah terhadap kelompok jihadis – dan gelombang pengungsi yang akan datang bersama mereka?

Galip Dalay, seorang direktur peneliti di Sharq Forum dan rekan senior di Al Jazeera Center for Studies, mengatakan anggota HTS mempunyai kemampuan untuk bergabung dengan kelompok sipil setempat atau menyusup ke kelompok lain dalam perang, kemungkinan kecil untuk membelot.

“Bahkan dalam skenario ini, bahaya dan tingkat ancaman akan berkurang secara signifikan. Turki percaya bahwa mereka dapat melakukan hal ini tanpa mempertaruhkan sebuah konfrontasi besar,” katanya.

Tapi Aymenn al-Tamimi, seorang peneliti Forum Timur Tengah yang berbasis di AS, kurang yakin. Menurutnya pembelotan sangatlah tidak mungkin, dan jika kemudian terjadi pertempuran, bergantung pada FSA yang didukung Turki, seperti yang dilakukan Ankara selama operasi Euphrates Shield tahun lalu, tidak akan cukup.

“Jika Anda secara militer akan melakukan intervensi terhadap HTS, pastilah ada pasukan darat Turki yang berpartisipasi dalam hal itu, bukan hanya pasukan Euphrates Shield, yang ketika benar-benar terlibat dalam pertempuran militer – ketika mereka benar-benar harus menghadapi IS – mereka butuh waktu lama dan itu bukan pertarungan yang mudah melawan HTS,” katanya.

Ada juga dinamika lokal yang bisa menyulitkan pertempuran itu. Selama sepekan terakhir, HTS merilis sebuah pernyataan mengkritik oposisi moderat yang akan bekerja sama dengan Turki untuk melawan HTS, dengan menyoroti bahwa usaha mereka akan didukung oleh dukungan serangan udara Rusia musuh mereka sendiri.

Sepakati Zona Aman pada Rezim Assad, HTS Peringatkan Oposisi Moderat

“Sudah ada keyakinan bahwa pasukan FSA/Perisai Euphrates ini tidak populer. HTS telah memberikan informasi pada warga Idlib bahwa jika FSA/Perisai Euphrates menyerang itu akan didukung oleh serangan udara Rusia untuk melawan HTS, dan ini akan mencitrakan FSA/Perisai Euphrates lebih buruk dan gelomban warga sipil untuk bergabung dengan HTS akan lebih banyak.”

Seorang teman yang tinggal di daerah Druze di Idlib baru-baru ini mengatakan kepada Tamimi bahwa walaupun dia hidup bawah peraturan HTS, dengan Syariat Islam, dia masih akan memilih HTS untuk tetap menguasai wilayahnya daripada FSA.

“Dia mengatakan meskipun HTS mengatur kita, situasi keamanan jauh lebih baik,” kata Tamimi.

Warga Sipil di Idlib dukung HTS
Warga Sipil di Idlib dukung HTS

HTS masih mengendalikan – bahkan andaikan dalam kapasitas yang berkurang – ada yang mengatakan serangan akan terjadi.

“Jika banyak HTS yang mundur, kemungkinan Assad serta Rusia akan datang mengalahkan mereka dari selatan,” Josh Landis, direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas Oklahoma, mengatakan kepada Inside Story Al Jazeera pada hari Ahad.

“Itu akan menjadi negosiasi terakhir – apakah mereka akan berdiri sampai mati sebagai Negara Islam Suriah atau apakah mereka akan menyelesaikan kesepakatan dengan Turki untuk menyebrang ke Turki?”

Operasi baru tersebut juga terjadi kurang dari sebulan setelah putaran keenam perundingan Astana di mana Rusia, Turki dan Iran memutuskan untuk mendirikan zona de-eskalasi di Idlib, di antara beberapa lokasi lainnya.

Meskipun Turki telah bersiap selama berbulan-bulan untuk intervensi kedua yang harus diikuti pada Perisai Euphrates, sekarang mereka terlihat sangat mencolok untuk masuk sebelum pihak lain masuk, kata para analis.

“Turki melihat dirinya sebagai negara adidaya regional. Jika Iran memiliki saham di Suriah, mengapa Turki tidak?” kata Simon Waldman, seorang rekan penelitian tamu di King’s College London dan rekan Carter IPC di Pusat Kebijakan Istanbul (Istanbul Policy Centre-IPC). “Rusia memiliki latar belakang kekaisaran, tapi bagaimana dengan Turki? Turki juga.”

Rusia Ingin Kuasai Idlib dengan Zona De-eskalasi

Meskipun ada rumor selama beberapa bulan bahwa Turki akan menyerang Afrin, Ankara menahan diri karena, mengingat kehadiran Rusia di daerah tersebut, ini berarti pertempuran dengan Moskow.

Jadi Turki, katanya, harus menemukan cara lain untuk mengukir wilayah dengan pengaruh dan menjamin perannya dalam membentuk masa depan kawasan ini.

“Ini 100 tahun setelah Sykes-Picot, tapi sekarang bukan Inggris dan Prancis, melainkan Rusia, Iran dan Turki,” kata Waldman.

Salah satu perhatian utama Ankara adalah, dengan pertarungan melawan kelompok Islamic State (IS) yang berakhir, kini agresor AS dan Rusia akan menargetkan HTS, melakukan pemboman tanpa pandang bulu tepat di perbatasan Turki, membuat jutaan pengungsi melarikan diri.

HTS Bongkar Sel-sel al Bagdadi di Provinsi Idlib, 100 Pasukan IS Ditangkap

Syeikh Abdullah Al Muhaysini Ulama HTS

Tapi bersamaan dengan hal itu, kapan pun AS melakukan intervensi di Suriah, dia mengatakan, Kurdi telah memperluas wilayah mereka.

“Ketakutan itu, meski Idlib adalah provinsi yang cukup besar – kita berbicara tentang 2,5 juta orang – kita tidak dapat mencegah AS atau Rusia pergi dengan orang-orang Kurdi di jalan. Mereka mungkin akan membentuk sebuah pemerintahan,” kata Dalay. “Apakah orang-orang Kurdi akan sampai di Laut Tengah atau tidak? Ini adalah salah satu ketakutan terburuk bagi Turki.”

Mengisolasi Afrin tidak akan menjadi satu-satunya keuntungan bagi Turki: mempertahankan HTS sebagai sebuah kekuatan yang layak, kata Haid, dapat memberi Turki pengaruh yang dapat digunakan untuk menekan rezim Suriah, terutama jika, seperti yang diprediksi beberapa analis, perundingan Turki dengan Assad bisa segera terjadi.

Tapi Dalay mengatakan bahkan jika perundingan semacam itu terjadi, Turki pasti sudah mencapai tujuannya dengan intervensi ini, yang mencerminkan penerimaannya bahwa kontrol Kurdi Suriah hanya bisa dibatasi, tidak dihilangkan.

“Kami menghentikan kontaminasi wilayah SDF. Sekarang kita berada di Idlib. Ok, apa yang bisa Assad berikan untukmu?” kata dia.

Perundingan Rekonsiliasi di Mesir, Diplomatik: Ada Kemauan Hamas dan Fatah Bersatu

KAIRO (Jurnalislam.com) – Delegasi kelompok Palestina, Hamas dan Fatah, memulai perundingan rekonsiliasi di ibukota Mesir, Kairo, Selasa (10/10/2017), untuk memperbaiki keretakan selama satu dekade, World Bulletin melaporkan.

Sumber diplomatik mengatakan “ada kemauan untuk membuat perundingan berhasil”. Sumber tersebut berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Pihak berwenang Mesir belum mengungkap rincian dan agenda perundingan.

Kairo saat ini memimpin upaya untuk menyembuhkan perpecahan politik satu dekade yang panjang antara kelompok Hamas yang berbasis di Gaza dan gerakan Fatah yang berbasis di Tepi Barat.

Wujudkan Rekonsiliasi Palestina, Hamas dan Fatah Jadwalkan Pertemuan di Mesir Hari ini

Pekan lalu, Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah mengadakan pertemuan kabinet pertamanya di Gaza sejak pemerintah persatuan dibentuk pada tahun 2014, dalam sebuah langkah besar menuju rekonsiliasi Palestina.

Tepi Barat dan Jalur Gaza telah terbagi secara politis dan administratif sejak 2007, ketika Hamas merebut kendali Jalur Gaza dari Fatah setelah beberapa hari pertempuran jalanan.

Penguasaan Hamas terhadap Gaza pada tahun 2007 mengakhiri pemerintahan persatuan yang berumur pendek sebelumnya – setelah Hamas menguasai pemungutan suara legislatif Palestina 2006.

Jet Tempur Rusia Jungkir Balik di Pangkalan Udara Assad, Pilot dan Kru Tewas

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah jet militer Sukhoi jatuh saat mencoba lepas landas dari markas Rusia di Hmeimim, Suriah, pada hari Selasa (10/10/2017), membunuh pilot dan kru, lansir kantor berita Rusia mengutip seorang juru bicara militer.

“Pesawat Su-24 berguling dari landasan pacu dan hancur saat mempercepat lepas landas … Awak pesawat tidak sempat keluar dan tewas,” kata juru bicara tersebut, Al Arabiya melaporkan.

Dia tidak menjelaskan berapa banyak orang yang tewas, namun Su-24 biasanya memiliki dua awak.

“Menurut sebuah laporan dari tempat kejadian, alasannya kemungkinan adalah kegagalan teknis,” tambahnya.

Agresor Rusia telah melakukan serangan udara di Suriah untuk mendukung rezim Syiah Bashar al-Assad sejak 2015.

Rusia Telah Membunuh 5.233 Warga Sipil Suriah, Termasuk 1.417 Anak-anak dan 886 Wanita

Pada hari Selasa, kementerian pertahanan mengatakan pesawat Rusia saat ini melakukan 150 serangan per hari di Suriah timur.

Korban terbaru membuat korban tentara Rusia yang dilaporkan tewas di Suriah berjumlah 37.

Bulan lalu seorang jenderal Rusia tewas di dekat kota timur Deir Ezzor, di mana pasukan khusus Rusia berpartisipasi dalam serangan darat untuk mendukung rezim Assad.