Aksi Kemanusian Selamatkan Rohingya: 900.000 Dosis Vaksin untuk Cegah Wabah Kolera

12 Oktober 2017
Aksi Kemanusian Selamatkan Rohingya: 900.000 Dosis Vaksin untuk Cegah Wabah Kolera

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Pemerintah Bangladesh, badan-badan PBB, dan sejumlah LSM telah meluncurkan kampanye vaksinasi besar-besaran di Cox’s Bazar Bangladesh untuk menyelamatkan ratusan ribu pengungsi Rohingya dari penyebaran wabah kolera.

Departemen Kesehatan Bangladesh, yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF dan LSM lainnya, membagikan vaksin oral kepada 88.000 orang Rohingya pada hari Selasa dalam sebuah kampanye berskala besar untuk memvaksinasi 650.000 orang dalam tiga setengah pekan ke depan.

Ini adalah kampanye vaksinasi oral terbesar kedua di dunia, setelah kejadian lain di Haiti tahun lalu. Kampanye ini akan melibatkan 900.000 dosis vaksin.

Kampanye Vaksinasi Kolera Terbesar di Dunia Digelar di Kamp Pengungsi Rohingya

Imunisasi tahap kedua, yang diharapkan dimulai November, bertujuan untuk mengimunisasi 250.000 anak-anak berusia antara satu dan lima tahun.

Meskipun tidak ada kasus kolera yang tercatat secara resmi, kampanye vaksinasi merupakan tindakan pencegahan untuk mencegah terjadinya penyebaran penuh.

Namun, sedikitnya WHO telah mendiagnosis 10.292 kasus diare, yang memiliki gejala terhadap kolera, sejauh ini.

“Saya tidak akan terkejut jika kita memiliki beberapa kasus kolera yang masuk di antara semua penyakit diare ini karena hal itu tidak dapat dihindari,” kata Dr Navaratnasamy Paranietharan, perwakilan WHO di Cox’s Bazar, kepada Al Jazeera, Rabu (11/10/2017).

“Dengan kampanye vaksinasi dan berdasarkan analisis kami, kami tidak mengharapkan wabah kolera besar di antara populasi ini. Ini tidak akan seperti Yaman atau tempat lainnya.”

LSM Turki Bangun 20.000 Tenda Dilengkapi Kamar Mandi untuk Pengungsi Rohingya

Paranietharan mengatakan WHO akan mendapatkan hasil laboratorium segera setelah pekan depan, yang kemungkinan akan mengkonfirmasi kehadiran kolera di kamp-kamp pengungsian.

Kondisi di kamp sangat memprihatinkan: basah, berlumpur dan penuh sesak. Di sana juga kekurangan air bersih dan sanitasi.

“Hanya ada sedikit toilet di sini,” kata Gura Banu, seorang pengungsi Rohingya di Cox Bazar. “Dalam kurun waktu tiga sampai lima hari, toilet itu menjadi penuh dan tidak dapat digunakan, sangat busuk, terlalu banyak orang di sini. Kita bisa hidup tanpa makan satu atau dua kali sehari, tapi kita tidak bisa hidup tanpa tidak bisa menggunakan toilet.”

Sebagian besar pengungsi hanya makan satu kali sehari dan diguyur hujan deras, diikuti oleh gelombang panas tanpa henti, semakin memperrumit kondisi mereka.

“Airnya terlalu jauh,” kata Muhamad Shaker, seorang Rohingya lainnya. “Itu yang menjadi masalah, dan orang-orang menderita, terlalu banyak orang di sini, dan karena itulah sangat kotor, semua orang mulai sakit.”

Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (the United Nations High Commissioner for Refugees-UNHCR) telah mendesak tindakan pencegahan untuk menghindari wabah tersebut.

“Air bersih dan air minum yang aman sangat penting dalam mengurangi dan mencegah penyakit semacam ini,” kata Yante Ismail, juru bicara UNHCR, kepada Al Jazeera.

Leonard Doyle, juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi, juga menggemakan peringatan tersebut.

“Mereka membutuhkan air, mereka butuh tempat berlindung, mereka butuh bantuan, tapi mereka pasti lebih melihat orang yang trauma,” kata Doyle kepada Al Jazeera.

“Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun mendatangi saya, dan dia meletakkan tangannya di atas tenggorokannya untuk menunjukkan bahwa ayahnya telah meninggal, terbunuh dan dibantai dan dia sendiri baru saja tiba di malam sebelumnya. Rasakan betapa mengerikan keseluruhan situasinya.”

Kolera membunuh 95.000 orang setiap tahun dan mempengaruhi 2.9 juta orang di seluruh dunia. Ini adalah infeksi diare akut yang disebabkan akibat menelan makanan atau air yang terkontaminasi yang menyebabkan gejala ringan termasuk dehidrasi dan diare.