Me-Dan Forum Distributes the Sixth Wave Assistance for Rohingya Refugees in Sittwe

JAKARTA (Jurnalislam.com) – The concern of the Indonesian peopl for their Rohingya Muslim brothers continues to flow. As of September 21 to 30, 2017, 6 waves of aid have been channeled through the Me-DAN Forum Indonesia team for Rohingya Muslims in Myanmar Sittwe.

Funds collected from donations of Indonesian Muslims are distributed in the form of food for 250 families. Help was distributed on Saturday (30/9/2017).In this the distribution of the sixth wave, Secretary General Forum Me-DAN, Sunaryo admitted experiencing obstacles such as weather and security factors.

“For the channeling this time took a little longer than usual, due to security conditions and weather that does not allow for the distribution of aid,” said Sunaryo to Journalistlam.com, Monday (02/09/2017).

Sunaryo calls on the entire Humanitarian Institute to continue to distribute assistance to Rohingya refugees residing in an isolated, non-regenerated refugee camp.

“We invite all NGOs and Humanitarian agencies from anywhere to also try to penetrate the boundaries of isolation and non-register camps because the humanitarian conditions are very alarming experienced by ethnic Rohingya there,” he concluded.

Translator: Taznim

Danrem NTB: Komunis di Indonesia Itu Ada!

MATARAM (Jurnalislam.com) – Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 162/Wira Bhakti Kolonel Inf Farid Makruf menegaskan, pergerakan komunis di Indonesia, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) itu ada dan nyata.

“Jadi, kalau berdasarkan data intelijen kami mengatakan gerakan itu ada,” kata Kolonel Inf Farid Makruf di Mataram, Senin (2/10/2017) dilansir gelora.co.

Untuk wilayah NTB, lanjutnya, keberadaan pergerakan yang berlambang palu arit itu sudah masuk catatan pihak TNI. Bahkan, kata dia dalam dua tahun terakhir, tercatat ada belasan kasus yang menandakan keberadaannya.

Baca juga: Tokoh Surakarta : Hanya Pro Komunis yang Takut Diputarnya Film G30 S PKI

“Untuk tahun 2016, ada sebelas kasus yang muncul, begitu masuk tahun 2017 hingga September, kami temukan ada delapan kasus,” ujarnya.

Namun, Farid dalam wilayah NTB masih berbentuk aplikasi berupa selebaran, stiker, bendera, atau pun menggunakan sarana baju kaos yang bergambar palu arit.

“Artinya apa, gerakan itu ada. Tapi mereka sampai sekarang tidak ada yang berani terang-terangan,” tegasnya.

Meski kondisi di daerah demikian, ucap Farid, namun secara nasional pergerakannya sudah bisa dikatakan nyata.

“Ada seminar, ada buku yang ditulis oleh seseorang, ada ‘talk show’ yang dengan bangganya mengatakan saya ini anaknya PKI,” papar Farid.

Baca juga: Perppu Menyasar Ormas Islam, DSKS : Harusnya Komunis dan Separatis

Oleh sebab itu, untuk menangkalnya, TNI memperkuat benteng keamanan negara, salah satunya dengan memutar film pengkhianatan G30S/PKI di tengah masyarakat, sejalan dengan perintah Panglima TNI, Jenderal Gatot.

“Inilah salah satu bentuk kewaspadaan kami agar komunis gaya baru yang sekarang mulai hadir di tengah-tengah kita, yang tujuannya untuk menggantikan Pancasila sebagai ideologi negara, tidak semakin berkembang,” pungkasnya.

Sumber: Gelora.co

Galang Dana, Masjid Mujahidin Surabaya Hadirkan Relawan Kemanusiaan untuk Rohingya

SURABAYA (Jurnalislam.com)—Masjid Muhahidin Perak Surabaya bekerjasama Insan Al Furqan dan Forum Me-Dan menggelar Tabligh Akbar Peduli menghadirkan Ustaz Utsman bin Sef dan Ustaz Sunaryo (Relawan dari Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan – Forum Me-Dan) pada hari Ahad (1/1/2017).

Acara ini dihadiri ratusan jamaah. Setelah mendengar viedeo dan cerita dari relawan Forum Me-Dan yang langsung ke Myanmar, jamaah bergegas mengumpulkan dana kemanusiaan untuk Rohingya hingga terkumpul berupa 6 cincin emas dan uang tunai Rp 23.920.000.

“Dari ibu-ibu banyak yang menangis” Kata Diah salah satu peserta Tabligh Akbar. Salah satu penyelenggara, Ketua Insan Al Furqan ustaz Abdul Aziz turut menyampaikan pesan kepada umat Islam khususnya di Indonesia, bahwa sebuah kewajiban kepedulian umat Islam Indonesia untuk membantu saudara muslim Rohingya dengan segala daya dan upaya sesuai kapasitas masing-masing.

“Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan lembaga sosial maupun kemanusiaan supaya bersatu padu untuk menyelesaikan urusan saudara kita Rohingya. Bahkan bila perlu mendukung lembaga yang sudah berhasil menembus ke lokasi, sehingga tepat sasaran. Bukan hanya di perbatasan. Karena yang masih banyak yang belum tersentuh oleh bantuan,” pungkasnya.

Kelompok yang Terkait Ikhwanul Muslim Mesir Lakukan Serangan Bom di Kedutaan Myanmar

MESIR (Jurnalislam.com) – Kelompok pejuang Mesir, Hasm, yang terkait Ikhawanul Muslimin mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kedutaan Myanmar di Kairo sehari sebelumnya, mencatat bahwa ini adalah tanggapan terhadap perlakuan Myanmar terhadap Muslim Rohingya, Long War Journal melaporkan, Senin (2/10/2017).

“Pemboman ini menjadi peringatan bagi kedutaan Myanmar sang pembunuh, yang telah membantai wanita dan anak-anak Muslim di wilayah Rakhine [di Myanmar], dan pernyataan solidaritas terhadap anak-anak dari populasi Muslim yang lemah ini,” kata pernyataan tersebut.

Militer Myanmar telah membuat lebih dari 500.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus. Negara Rakhine, di Myanmar Barat, telah menjadi lokasi pembataian dan bentrokan baru-baru ini antara militer Budha Myanmar dan pejuang Muslim Rohingya.

Hasm, akronim untuk Harakat Sawa’id Masr, adalah Gerakan Senjata Mesir. Kelompok tersebut secara resmi mengumumkan dirinya melalui Facebook pada bulan Juli tahun lalu ketika mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Mayor Polisi Mesir Mahmud Abdel Hamid. Kelompok tersebut menyatakan: “Kami bersumpah di hadapan Allah dan warga Mesir untuk tidak menjatuhkan senjata kami sampai orang-orang kami terbebas dari penindasan mesin militer dan milisi-milisinya yang berbahaya.”

Inilah Hasil Keputusan Pengadilan Internasional pada Pemerintah Myanmar

Bulan berikutnya, Hasm mengaku bertanggung jawab setelah dua militan melepaskan tembakan ke mantan Grand Mufti Ali Gomaa, namun gagal membunuhnya. Serangan lainnya menyusul, termasuk serangan bom di dekat sebuah klub polisi, pembunuhan seorang jaksa penuntut, pembunuhan seorang polisi, dan pemboman mobil seorang hakim.

Pada bulan Desember, kelompok tersebut meledakkan sebuah bom di dekat sebuah pos pemeriksaan polisi di Giza, dekat piramida. Serangan tersebut menewaskan enam polisi dan melukai tiga lainnya.

Serangan yang diklaim oleh Hasm berlanjut selama musim panas. Pemerintah di Kairo telah berusaha untuk menahan serangan dari kelompok ini, serta serangan dari kelompok kurang produktif lain yang dikenal sebagai Liwa al-Thawra, juga memerangi pertarungan lain melawan IS (Islamic State) di Semenanjung Sinai.

Meskipun pemerintah Mesir melaporkan adanya hubungan antara Hasm dengan Ikhwanul Muslimin, namun hubungan tersebut masih harus diperdebatkan. Analis belum menetapkan hubungan pasti, bahkan jika diduga kuat.

SNHR: 912 Warga Sipil Suriah Tewas oleh Serangan Rusia dan Rezim Assad

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 912 warga sipil tewas di Suriah bulan lalu, menurut laporan baru oleh sebuah LSM yang berbasis di London yang mengabdikan diri untuk melacak pelanggaran hak asasi manusia di Suriah yang dilanda perang.

Dalam laporan bulanan yang dikeluarkan pada hari Senin (2/10/2017), Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Network for Human Rights-SNHR) mendokumentasikan kematian warga sipil di seluruh Suriah selama bulan September, Anadolu Agency melaporkan.

Menurut SNHR, pasukan rezim bertanggung jawab atas sebagian besar kematian warga bulan lalu, diikuti oleh pasukan Rusia.

Laporan tersebut menemukan bahwa total 912 warga sipil, termasuk 144 perempuan dan 200 anak-anak, terbunuh di tangan para pihak dalam konflik tersebut selama periode yang bersangkutan.

Seruan Syeikh Muhaysini Terkait Serangan Brutal Rezim Assad dan Rusia di Idlib

September terjadi peningkatan jumlah korban sipil yang terbunuh oleh aliansi Suriah-Rusia setelah aliansi tersebut melakukan serangan berat di Idlib pada 19 September, menurut laporan itu.

“Pasukan rezim Suriah berada di atas semua pihak lain dalam hal membunuh warga sipil pada bulan September, diikuti oleh pasukan Rusia,” laporan tersebut membacakan.

“Di sisi lain, jumlah korban koalisi internasional yang tewas turun menjadi kurang dari setengah jumlah pada Agustus lalu,” tambahnya.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 8.115 warga sipil telah terbunuh sejak awal 2017 sampai Oktober di tangan para pihak dalam konflik tersebut.

Suriah telah dikurung dalam perang global yang kejam sejak awal tahun 2011, ketika rezim Nushairiyah Bashar al-Assad membantai aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Ratusan ribu warga sipil terbunuh dalam konflik tersebut terutama oleh serangan udara rezim Syiah Assad di wilayah yang dikuasai faksi-faksi jihad dan oposisi, sementara jutaan lainnya mengungsi.

Temuan Advokasi Rohingya: PBB di Myanmar Memiliki Peran dalam Pembersihan Etnis

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebuah kelompok advokasi Rohingya mendesak penyelidikan independen atas tuduhan bahwa koordinator residen PBB di Myanmar memiliki peran dalam “pembersihan etnis” yang dilakukan terhadap komunitas Muslim Rohingya.

“PBB harus menyelidiki insiden tersebut secara independen,” ketua Dewan Rohingya Eropa, Hla Kyaw mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Senin (2/10/2017).

Kantor berita utama Inggris BBC menerbitkan sebuah berita Kamis lalu yang berjudul “Muslim Rohingya takut PBB mengecewakan mereka” yang merinci tuduhan terhadap pejabat Kanada, Renata Lok-Dessallien.

BBC mengutip “sumber-sumber di dalam PBB dan komunitas bantuan baik di Myanmar maupun di luar” yang mengatakan bahwa Lok-Dessallien mencoba untuk menghentikan aktivis hak asasi manusia yang bepergian ke daerah Rohingya, berusaha untuk menghentikan advokasi publik mengenai masalah ini, dan mengisolasi staf yang mencoba untuk memperingatkan bahwa pembersihan etnis mungkin sedang dalam terjadi.

Pembersihan Muslim Rohingya Terus Berlanjut (Info Grafik)

Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan terbuka mengenai situasi Rohingya pada hari yang sama, yang merupakan pertemuan pertama dalam delapan tahun terakhir. Dalam pertemuan tersebut, utusan AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa kekerasan terhadap warga Rohingya tampaknya merupakan pembersihan etnis.

“Kami tidak boleh takut untuk menyebut tindakan pihak berwenang Birma seperti apa adanya: operasi yang brutal dan berkelanjutan untuk membersihkan negara dari minoritas etnis,” kata Haley kepada Dewan Keamanan.

Kyaw mengatakan Dewan Rohingya Eropa “sepenuhnya setuju dengan apa yang muncul di media tentang kegagalan PBB untuk menghentikan genosida Rohingya di Myanmar.”

“PBB turut terlibat atau secara sadar mengabaikan kejahatan Myanmar terhadap kemanusiaan atau pembantaian pelan-pelan terhadap Rohingya,” di negara bagian Rakhine bagian barat, katanya.

Kyaw mengklaim bahwa “PBB tidak melakukan sesuatu yang efektif untuk menghentikan kematian bahkan satu nyawa warga Rohingya pun,” karena penghancuran Rohingya yang hampir 40 tahun di Myanmar terjadi di bawah pengawasan PBB.”

PBB hanya melakukan satu hal; “mendokumentasikan tentang genosida secara sistematis, dan mendesak serta mengutuk genosida Rohingya oleh Myanmar,” menurut Kyaw.

Dia mengatakan bahwa insiden di Myanmar “bisa jadi untuk mengejar kepentingan pribadi [dari perwakilan PBB] atau kepentingan kekuatan besar lainnya dengan mengorbankan lebih dari satu juta nyawa Rohingya.”

“Ini bukan tentang takut pada pejabat Myanmar, tapi mereka tidak ingin mengecewakan pejabat Myanmar dengan bersikap vokal menentang kekerasan Myanmar terhadap Rohingya, saya berasumsi.”

Kyaw menambahkan pasukan keamanan Myanmar “terus membakar rumah dan menciptakan kebohongan.”

“Mereka menarik komunitas Hindu melawan Rohingya dengan menggali kuburan massal Hindu, kemungkinan dibunuh oleh militer Myanmar untuk melempar kesalahan pada pejuang Muslim Rohingya.

India Hadang Pengungsi Muslim Myanmar dengan Kekuatan Militer

PBB seperti biasanya sibuk mengeluarkan pernyataan dan mengecam Myanmar, tidak melakukan hal yang efektif untuk menghentikan Myanmar melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida terhadap Rohingya.”

Unit penelitian pengungsi yang berbasis di Bangladesh juga mengecam insiden tersebut, menyebutnya sebagai tindakan keterlibatan yang terang-terangan terhadap otoritas Burma.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya menjadi agen netral,” kata Chowdhury Rafiqul Abrar, koordinator Unit Penelitian Gerakan Pengungsi dan Migrasi (the Refugee and Migrating Movements Research Unit-RMMRU) dari Universitas Dhaka.

“Isu yang dilaporkan bahwa Lok-Dessallien tidak mengizinkan rekan-rekannya untuk menyoroti masalah ini atau melaporkan masalah yang terjadi di wilayah Rakhine adalah pelanggaran tugas yang seharusnya mereka lakukan,” katanya kepada Anadolu Agency.

Antara Erdogan, Muslim Rohingya, dan Diplomasi Jihad Abu Bakar Ba’asyir

RMMRU “sangat mengutuk” tindakan ini, katanya, menambahkan “kegiatan ini, dalam beberapa cara, mempersiapkan dasar bagi tentara Burma untuk melakukan apa yang mereka lakukan sekarang.”

Jika PBB telah “menyoroti” masalah ini pada saat itu, masyarakat internasional akan “lebih waspada” terhadap masalah ini, menurut Abrar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa membantah tuduhan tersebut dan menyatakan “kepercayaan penuh” pada koordinator penduduk dan stafnya.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat tidak setuju dengan tuduhan terhadap Koordinator Residen PBB di Myanmar, Renata Lok-Dessallien.

Sekretaris Jenderal memiliki kepercayaan penuh pada Koordinator Residen dan Timnya,” kata sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat oleh Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres.

Lok-Dessallien adalah “advokat hak asasi manusia, pencegahan konflik, dan bantuan kemanusiaan dan pembangunan yang tak kenal lelah” di Negara Bagian Rakhine tempat warga Rohingya tinggal, menurut pernyataan tersebut.

Lebih dari 500.000 warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus, menurut PBB.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi baru di mana pasukan militer Budha Myanmar dan gerombolan Buddha membantai pria, wanita dan anak-anak, menyiksa, memperkosa, menjarah rumah dan membakar desa Muslim Rohingya.

Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan sadis tersebut.

Bangladesh: Myanmar Bersedia Terima Kembali 500.000 Pengungsi Muslim Rohingya

DHAKA (Jurnalislam.com) – Myanmar telah mengusulkan untuk mengambil kembali ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari tindakan militer brutal Budha Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali mengatakan kepada wartawan bahwa Myanmar bersedia membawa lebih dari 500.000 orang dari kelompok minoritas yang teraniaya tersebut setelah melakukan pembicaraan pada hari Senin (2/10/2017) dengan seorang perwakilan senior Myanmar, lansir Anadolu Agency.

“Perundingan tersebut diadakan dalam suasana bersahabat, dan Myanmar telah membuat sebuah proposal untuk mengambil kembali pengungsi Rohingya,” kata Ali setelah bertemu dengan pejabat Myanmar Kyaw Tint Swe di ibukota Dhaka.

“Apa yang Bangladesh selalu katakan adalah bahwa kita ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai dan kedua negara telah menyetujuinya.”

Ali mengatakan kedua negara sepakat untuk membentuk kelompok kerja gabungan untuk mulai melakukan pemulangan besar-besaran tersebut. Delegasi Myanmar tidak berbicara dengan media.

Bangladesh Desak PBB dan Dunia untuk Kembalikan Pengungsi Rohingya ke Myanmar

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut eksodus sebanyak 507.000 warga Rohingya sejak 25 Agustus tersebut sebagai keadaan darurat pengungsi yang berkembang paling cepat di dunia dan mengatakan Myanmar yang mayoritas beragama Buddha terlibat dalam pembersihan etnis terhadap sebagian besar minoritas Muslim Rohingya.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina telah menyerukan diakhirinya kekerasan dan pembentukan zona aman di Myanmar untuk memungkinkan pengungsi kembali.

Dia juga meminta sebuah misi pencarian fakta PBB untuk pergi ke Myanmar dan meminta pemerintah untuk menerapkan rekomendasi mengenai pemecahan masalah di Rakhine yang disusun oleh sebuah tim yang dipimpin oleh mantan sekretaris jenderal PBB Kofi Annan.

Warga Rohingya di Eropa: Aung San Suu Kyi Mendukung Pembunuhan Massal

Krisis atas kekejaman pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya adalah masalah terbesar yang harus dihadapi pemimpin Aung San Suu Kyi sejak membentuk pemerintah tahun lalu setelah memenangkan pemilihan penting pada akhir 2015.

Aung San Suu Kyi, dalam sebuah pidato di negara tersebut bulan lalu, mengatakan bahwa Myanmar siap untuk memulai proses verifikasi berdasarkan sebuah kesepakatan tahun 1993 dengan Bangladesh dan “pengungsi dari negara ini akan diterima tanpa masalah”.

Aung San Suu Kyi Pidato pada Dunia, Muslim Rohingya: Suu Kyi Pengkhianat!

Sudah ada sekitar 300.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh sebelum eksodus yang paling baru.

Aung San Suu Kyi tidak memiliki kekuasaan atas kebijakan keamanan di bawah konstitusi yang dirancang militer dan masyarakat di Myanmar – di mana nasionalisme Buddhis telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir – hingga sebagian besar mendukung serangan keji tersebut.

Aswaja Center Jember Held Symposium for Reflection on PKI Victims’ Clerical Struggle

JEMBER (Jurnalislam.com) – To educate the public in relation o the betrayal of the Indonesian Communist Party (PKI) in NKRI, Aswaja Center PCNU Jember held a National Symposium and Reflections on PKI Victims’ Clerical Struggle at the Law Faculty of Jember University, Saturday (30/9/2017).

“Victims of PKI violence are also a lot of scholars and students, as experienced by the family of KH Lutfi Ahmad, Pesantren Madinatul Ulum Jenggawah Pesantren,” said Vice Chairman PCNU Jember, KH Misbahus Salam.

In the event, KH Lutfi Ahmad delivered a testimony of the PKI’s atrocities against his father KH Ahmad Saif and his uncle KH Ali Hasan who was tortured to death in 1965.

“Starting from the plan of President Soekarno who will hold reconciliation with the involvement of the PKI, raises the pros and cons among scholars,” said KH Lutfi Ahmad.

He continued, his uncle KH Ali Hasan as one of the diplomats who trusted President Soekarno often visited and asked for opinions so that made the options of the cleric to be presented to President Soekarno.

“But during his journey in Juanda Surabaya was intercepted and tortured by the PKI people, even my uncle was shot. My father was tortured and detained, while the documents he took were taken, “he said.

Some speakers who attended the symposium include the Chairman of the MUI Jember Prof. Halim Subahar, Lecturer at the Faculty of Law Adam Muhsi and the Commander of Kodim 0824 Lieutenant Colonel Inf Rudianto.

The symposium produced seven recommendations for the government read by the Director of Aswaja Center PCNU Jember, KH Abdul Haris, M.Ag.

1. History must be submitted in its entirety and do not obscure historical facts so as to potentially make the perpetrator as a victim and do not also make the victim as the perpetrator.
2. The government is obliged to fulfill the citizens’ rights and is obliged to educate the young generation and to convey the historical facts in their entirety.
3. In fact not just a few of the scholars and students who became victims of the PKI killings in the period 1940s-1965 which among them is RKH. Ali Hasan Tempurejo, the charismatic cleric of southern Jember, but all parties should no longer hold grudges and even have to forgive each other because in principle there is no derived sin.
4. The government did not need to make an apology to the PKI because it would actually hurt the victims of the PKI.
5. Cultural reconciliation has occurred, so no need to be formalized which potentially tapered the difference.
6. All elements of the nation must be responsible for building the nation of Indonesia and must maintain the integrity of the Indonesian nation by rejecting all forms of movements that threaten the integrity of the Indonesian nation.
7. The Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) is the final state for the ideology of the Pancasila with the Almighty God, so that all forms of conflicting ideology must be rejected.

Translator: Taznim

58 Orang Tewas dan 500 Terluka di Las Vegas, Erdogan: Itu Serangan Teroris

TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memimpin pernyataan pejabat Turki di Twitter untuk mengecam serangan teroris dan menyatakan solidaritas dengan AS, Anadolu Agency melaporkan, Senin (2/10/2017).

“Saya mengutuk dengan kadar yang paling kuat yang mungkin terjadi saat serangan teror di Las Vegas, NV,” tulis Erdogan. “Saya sangat berharap bahwa serangan semacam itu tidak akan terjadi di masa depan. Atas nama warga Turki, saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang tercinta dari para korban dan semua rakyat Amerika.”

Perdana Menteri Binali Yildirim juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap pemulihan yang cepat terhadap yang terluka.

“Sebagai perdana menteri Turki – teman dan sekutu Amerika Serikat – saya mengkonfirmasi solidaritas kami dengan pemerintah dan rakyat Amerika Serikat dalam menghadapi serangan keji ini,” kata Yildirim dalam sebuah pernyataan tertulis.

Ujug-ujug IS Mengklaim Bertanggung Jawab atas Serangan di Las Vegas

Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag mengatakan, “Kami ingin pemulihan yang cepat terhadap yang terluka. Kami sangat mengutuk serangan mengerikan dan kejam ini. Kami berbagi kesedihan warga AS.”

Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menulis bahwa Turki “berbagi kesedihan dengan pemerintah AS dan rakyat Amerika.”

Kementerian Luar Negeri Turki menambahkan bahwa mereka “mengikuti perkembangan dan penyelidikan jika ada warga Turki termasuk di antara 58 korban tewas atau 500 yang cedera dengan Konsulat Jenderal kita di Los Angeles.”

Ujug-ujug IS Mengklaim Bertanggung Jawab atas Serangan di Las Vegas

LAS VEGAS (Jurnalislam.com) – Tanpa memberikan bukti apapun, kelompok Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab atas serangan di Las Vegas melalui Kantor Berita Amaq, dengan mengatakan bahwa penyerang tersebut adalah seorang yang baru masuk Islam, Anadolu Agency melaporkan, Senin (2/10/2017).

Namun FBI mengatakan bahwa pihaknya tidak memiliki indikasi bahwa serangan tersebut terkait dengan kelompok teroris internasional.

Ngeri, Bunuh 58 Orang dalam 4 Menit di Acara Konser, Sheriff Las Vegas: Itu Bukan Serangan Teroris

Sedikitnya dua petugas kepolisian off-duty diyakini termasuk di antara mereka yang dibunuh, menurut laporan media.

Penembak menembak sebanyak 600 putaran dalam enam atau tujuh semburan dengan senjata otomatis selama hampir empat setengah menit, kata polisi, menurut laporan media.

Video menunjukkan ribuan penonton konser melarikan diri dari tempat tersebut, menyebabkan kekacauan akibat berdesak-desakan, menurut saksi mata.

Sheriff Clark County, Joseph Lambardo, mengatakan tersangka berusia 64 tahun itu adalah penduduk Mesquite, Nevada, dan tidak dianggap sebagai serangan terorisme, namun menyebut penembakan itu sebagai serangan “serigala tunggal (lone wolf)”.

Lombardo mengatakan kepada wartawan bahwa penembak itu ditemukan tewas di kamarnya di lantai 32 hotel tempat dia melancarkan serangan tersebut.