Antara Erdogan, Muslim Rohingya, dan Diplomasi Jihad Abu Bakar Ba’asyir

30 Agustus 2017
Antara Erdogan, Muslim Rohingya, dan Diplomasi Jihad Abu Bakar Ba’asyir

Oleh : Indra Martian P*

Dunia Islam kembali berduka. Sedikitnya 800 orang kaum muslimin Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar diluar hukum di wilayah Rakhine Myanmar (Jurnalislam.com , 28/8/2017).

Kekejaman tentara Myanmar membunuh kaum muslimin termasuk perempuan dan anak-anak bahkan mereka menyembelih bocah muslim Rohingya dan memaksa 5.000 hingga 10.000 orang kaum muslimin terusir dari rumah mereka. Pembantaian, Pembunuhan dan pengusiran kaum muslimin Rohingya juga pernah terjadi pada tahun 2012.

Darah Seorang Muslim Dalam Timbangan Syar’i

Apa yang pemerintah dan tentara Myanmar lakukan dengan membunuh kaum muslimin Rohingya bukan saja melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadi konsesus bersama umat manusia di dunia , namun terlebih dari itu dalam literatur Islam nyawa seorang muslim sangatlah mahal harganya sehingga tidak sepantasnya ditumpahkan dengan alasan yang tidak dibenarkan secara syar’i. Rasulullah Bersabda :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَال َ: قَالَ رَسُوْلُ الله :

(لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ : الثَّيِّبُ الـزَّانِيْ ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْـمُـفَارِقُ لِلْجـَمَاعَةِ).

 رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (HR al-Bukhâri dan Muslim)

Bahkan Rasulullah mengisyarakatkan bahwa darah seorang muslim sangat mahal harganya , lebih mahal dari hancurnya dunia .

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“ Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim” (Al Hadits).

Dapat kita simpulkan bahwa tragedi Rohingya dengan pembunuhan dan pembantaian kaum muslimin adalah sebuah pelanggaran yang sangat berat dilihat dari syariat dan seharusnya tidak boleh terjadi

Persaudaraan Kaum Muslimin

Kekejaman rezim Myanmar membantai kaum muslimin Rohingnya tentunya bukan hanya menjadi perhatian kita namun menjadi kepedihan kita bersama, penderitaan mereka adalah penderitaan kita bersama. Rasulullah SAW bersabda :

“الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (Shahih Muslim No.4684)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seperti satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

من لا يهتم بأمر المسلمين فليس مني

Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits).

Sehingga sudah menjadi tugas dan kewajiban kita semua untuk membantu saudara kita kaum muslimin di Rohingya dengan Jiwa, Harta dan juga doa berdasarkan kemampuan yang kita miliki.

Pelajaran dari Erdogan

Tragedi pembantaian kaum muslimin menyibak hati umat Islam diseluruh penjuru dunia. Bahkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras pembantaian warga Muslm di Myanmar Di lansir Anadolu Agency, Senin (29/8/2017).

Erdogan mengatakan bahwa dunia buta dan tuli terhadap kerusuhan di negara bagian Rakhine, Bahkan Erdogan memastikan bahwa kekerasan yang terjadi di Myanmar ini akan masuk dalam agenda kami di Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa pada tanggal 19 September.

Selanjutnya Erdogan sudah mengontak Myanmar dan akan memberikan bantuan langsung ke dalam dan berkoordinasi dengan Bangladesh untuk membuka akses bagi para pengungsi .

Apa yang dilakukan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah sesuatu   hal yang luar biasa dari seorang pemimpin muslim yang peduli terhadap muslim lainnya, ditengah krisis pemimpin muslim yang mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap nasib kaum muslimin dibelahan bumi lainnya. Apa yang dilakukannya dengan bersikap dan mengecam keras pemerintah dan tentara Myanmar dan membela muslim Rohingya, juga dilakukan ketika membela muslim Palestina  yang di jajah Israel. Sebuah pelajaran berharga untuk pemimpin muslim lainnya untuk bersikap tegas terhadap segala kedzoliman yang menimpa kaum muslimin.

‘Diplomasi Jihad’

Apa yang dilakukan oleh Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan , juga pernah dilakukan seorang ustadz di Indonesia Abu Bakar Ba’asyir. Tahun 2012 ketika tragedi pembantaian pertama kali terhadap Muslim Rohingya di Myanmar Abu Bakar Ba’asyir menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Myanmar Thein Sein .

Surat yang ditulis di Rutan Bareskrim Mabes Polri tetangga 3 Ramadhan 1433 H / 22 Juli 2012 berisi keprihatinan terhadap nasib muslim Rohingya dan seruan agar segera menghentikan tindakan brutal tersebut. Surat tersebut ditulis dengan tiga bahasa

Abu Bakar Ba’asyir memulai suratnya dengan menggambarkan kekejaman penduduk Myanmar yang membakar rumah kaum muslimin, melarang beribadah dan membantai mereka layaknya binatang.

“Ketahuilah sebagai sesama ummat Islam kami bersaudara , derita mereka adalah derita kami, tangis mereka adalah tangis kami dan darah mereka yang kalian tumpahkan adalah darah kami[1].

Selanjutnya Abu Bakar Ba’asyir menyampaikan :“ Ketahuilah ! Ummat Budha di negeri kami (Indonesia) bisa hidup rukun dan damai dengan kami yang mayoritas Muslim. Mereka tidak pernah sedikitpun kami dzalimi bahkan mereka bebas mengamalkan keyakinannya tidak kami ganggu “

“ Islam Mendidik kami agar berlaku adil dan baik meskipun kepada orang kafir (non muslim) yang tidak memerangi kami, sebagaimana ditegaskan oleh Allah (Tuhan) dalam firmannya :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.”[2]

Selanjutnya Abu Bakar Ba’asyir meminta kepada pemerintah Myanmar agar menyerukan kepada rakyatnya agar :

  1. Menghentikan kazaliman berupa pengusiran, pembantaian terhadap ummat Islam di Myanmar
  2. Berikan mereka kebebasan untuk memeluk Islam dan menjalankan ibadahnya
  3. Jangan ada lagi diskriminasi terhadap ummat Islam[3]

Selanjutnya Abu Bakar Ba’asyir mengancam Presiden Myanmar yang menurut penulis ini adalah Diplomasi Jihad“ seperti dalam tulisannya :

“ Jika seruan ini tidak kalian dengar, Demi Allah ! telah nyata hancurnya negeri-negeri congkak di tangan Mujahidin (dengan ijin Allah). Dengan ijin Allah pula kami bisa memperlakukan anda dan rakyat anda seperti negara sosialis komunis Rusia yang hancur berkeping-keping atau Amerika yang sebentar lagi akan binasa (Insya Allah) Kami tak ingin mendengar tangisan saudara-saudara muslim kami di buminya Allah negeri kalian dan negerinya ummat Islam yang tinggal di sini, Kami tidak ridho  setetes darah pun tertumpah dari kaum muslimin. Sungguh Rabb kami telah mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya ummat Islam di seluruh dunia bersikap terhadap kedzaliman yang kalian lakukan :“…….Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”[4].

“Diplomasi Jihad“ Abu Bakar Ba’asyir menyentak pemerintahan Myanmar , sehingga langsung direspon oleh pemerintahan Myanmar dengan mengirimkan surat balasan dari Duta Besar Republik Persatuan Myanmar yang ditanda tangani Pyi Soe tertanggal 8 Agustus 2012 yang berusaha memberikan penjelasan bahwa yang terjadi di Rakhine buka konflik agama antara Islam dan Budha namun konflik umum dan pemerintah Myanmar sedang berusaha meredakan konflik tersebut dengan bekerja sama dengan berbagai lembaga.

Respon yang cepat dari pemerintah Myanmar terhadap surat Diplomasi Jihad  Abu Bakar Ba’asyir setidaknya menandakan bahwa pemerintahan Myanmar khawatir seruan Abu Bakar Ba’asyir direspon oleh umat Islam di Indonesia kemudian mereka pergi ke Myanmar untuk ber-Jihad menolong saudaranya Muslim Rohingya di Myanmar yang sedang di dzolimi oleh pemerintah dan penduduk Myanmar waktu itu.

Surat Diplomasi Jihad Abu Bakar Ba’asyir terhadap pemerintah Myanmar juga membuka ruang, bahwa suatu ketika diplomasi jihad lebih dibutuhkan dibandingkan dengan diplomasi lisan,  Musuh Islam sangat ketakutan ketika umat Islam sudah menggemakan seruan Jihad. Dan seruan Diplomasi Jihad ini akan semakin dirasakan kekuatannya seandainya keluar dari pemimpin-pemimpin negara Muslim semisal Recep Thayip Erdogan maupun pemimpin muslim lainnya. Sehingga dampaknya tidak ada negara maupun penduduk muslim dibelahan bumi manapun yang kemudian tertindas, terbunuh, terusir dan terdzolimi jika ada kekuatan – kekuatan para pemimpin muslim yang berani memilih “ Diplomasi Jihad.” Wallahu a’lam.

[1]  Surat Abu Bakar Ba’asyir untuk Presiden Myanmar Thein Sein tertanggal 3 Ramadhan 1433 H / 22 Juli 2012

[2] Al Qur’an surat Al Mumtahanah ayat 8

[3] Baca lebih kumplitnya surat Abu Bakar Ba’asyir kepada Presiden Thein Sein terkait Tragedi Rohingya , http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/08/01/20073/inilah-surat-ustadz-baasyir-dengan-3-bahasa-untuk-presiden-myanmar/;

[4] Al Qur’an Surat At Taubah ayat 36

*Penulis adalah Dosen STAI PTDII dan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah PDM Kota Bekasi