Berita Terkini

Waspada Bencana, SMP Muhammadiyah Kottabarat Gelar Pelatihan Tanggap Gempa dan Kebakaran

SOLO (Jurnalislam.com)- Ratusan siswa SMP Muhammadiyah Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan pelatihan dan simulasi kesiapsiagaan bencana alam pada Jumat (2/2/2018).

Kegiatan yang digagas oleh Palang Merah Remaja (PMR) Sekolah dan bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Surakarta tersebut, bertujuan untuk mengedukasi para siswa agar tidak panik saat ada bencana alam di sekitar mereka.

“Ya benar kegiatan ini diselengarakan oleh anak-anak PMR sekolah bekerja sama dengan PMI Kota Surakarta untuk memberikan edukasi kepada siswa agar tidak panik menghadapi gempa bumi dan kebakaran,” ungkap Aryanto kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, perwakilan PMI Surakarta Barly, menerangkan kepada para siswa cara menghadapi bencana gempa, selain tidak boleh panik, katanya, kita harus melindungi diri dan segera mencari jalan menuju tempat yang lebih aman.

“Jika ada gempa bumi maka kita tidak perlu panik, cara yang dilakukan pertama adalah tenang dan lindungi kepala dengan berlindung di bawah meja. Lalu jika gempa reda, maka jalan pelan-pelan dengan melindungi kepala, dan mencari jalur aman menuju ke tempat yang terbuka,” terangnya.

Lebih lanjut, pemateri lainnya yang juga dari PMI Surakarta Krisnantyo, menjelaskan tahapan-tahapan yang dilakukan, ketika menghadapi kebakaran.

“Api jangan disiram memakai air karena api akan menyebar. Sumber api dimatikan dan jangan ada celah oksigen. Ada 3 cara mematikan api yaitu memakai karung goni yang basah, Apar (alat pemadam kebakaran), dan mematikan api dari regulator,” ujarnya.

Setelah itu, para siswa melakukan simulasi menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran, mereka mempraktekan apa yang sudah dijelaskan dari 2 pemateri tersebut.

Sosok Ustaz Prawoto di Mata Sahabat

GARUT (Jurnalislam.com) – Ustadz Rahmat Prawoto telah berpulang. Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis) Kota Bandung itu wafat akibat penganiayaan yang dilakukan seorang preman bernama AM di kampungnya Kampung Blok Sawah, Cigondewah Kidul, Bandung pada Kamis (1/2/2018).

Ustadz Prawoto adalah sahabat dekat sejarawan Dr. Tiar Anwar Bachtiar sejak mereka satu asrama di Pondok Pesantren Persis 19 Garut pada tahun 1991. Kala itu Dr. Tiar kelas 1 Tsanawiyah sedangkan Ustadz Prawoto sudah duduk di bangku kelas 1 Aliyah.

“Saya masuk tahun 1991 kelas 1 tsanawiyah beliau itu kelas 1 Aliyah jadi beda dengan saya tiga tahun lah. Tapi satu asrama, satu kamar. Saya juga dilatih beladiri sama beliau,” kenang Dr. Tiar saat diwawancarai Jurnalislam.com di Garut pada Jumat (2/2/2018).

Dr. Tiar Anwar Bachtiar (sahabat Ustadz Prawoto)

Selama di pondok, Ustadz Prawoto memang dikenal sebagai seorang ahli beladiri. Tak heran jika pihak pesantren mengangkatnya sebagi pimpinan keamanan santri. Keahlian itu pula yang membuatnya dipercaya sebagai komandan Brigade Persis.

“Beliau memang sejak lama menjadi ahli beladiri di pesantren, setelah itu mengabdi di Persis menjadi Komandan Brigade Persis. Beliau inilah yang paling depan mengatur pengamanan, kalau ada kegiatan-kegiatan besar di organisasi,” kata pembina komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) ini.

“Kalau dulu waktu di pesantren belia ini suka jadi bagian keamanan, beliau ini yang menjaga ketertiban pesantren,” ujar Dr. Tiar.

Di mata Dr. Tiar, Ustadz Prawoto adalah sosok yang baik dan selalu menjaga muru’ah (perangai yang baik). Bekal pengalaman hidup sejak di pondok hingga di organisasi membuatnya yakin dengan penilaian tersebut.

“Saya melihatnya sejak lama memang beliau ini orang baik, kalau dari keseharian dia merokok pun tidak. Sampai keluar, beliau ini orang yang selalu menjaga muruahnya, yang menjaga dirinya,” jelas mantan Ketua Umum PP Pemuda Persis ini.

Kini Sang Komandan telah kembali ke haribaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sosoknya akan selalu menjadi panutan terlebih bagi rekan-rekannya di Persatuan Islam.

“Kita sangat kehilangan sosok beliau. Beliau ini sosok yang sangat baik, dan kita mengenalnya orang yang sangat peduli kepada organisasi, orang yang tegas dan disiplin,” tutup Dr. Tiar.

Pejabat Tinggi Inggris Didesak Dukung Pelarangan Jilbab di Sekolah

LONDON (Jurnalislam.com) – Pejabat tinggi pendidikan Inggris pada hari Kamis (2/2/2018) didesak untuk berbicara mendukung seorang Kepala Sekolah yang memberlakukan larangan terhadap penutup kepala, atau jilbab, menurut laporan media setempat.

Dalam sebuah pidato hari ini, Amanda Spielman, inspektur kepala untuk Kantor Standar Pendidikan (the Office for Standards in Education-OFSTED), diharapkan dapat secara terbuka mendukung Neena Lall, kepala sekolah di sebuah sekolah negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang memberlakukan larangan tersebut bulan lalu, memicu kegemparan dari orang tua dan tokoh masyarakat di London timur. World Bulletin melaporkan.

Berbicara di sebuah konferensi Gereja Inggris, Spielman diharapkan akan mengatakan bahwa pemimpin sekolah harus memiliki hak untuk menetapkan kebijakan seragam sekolah sesuai keinginan mereka, untuk “mempromosikan kohesi,” dan juga untuk memperingatkan bahaya orang-orang yang bertindak atas nama agama untuk “menodai” pendidikan.

Austria Resmi Larang Jilbab Bercadar Tanggal 1 Oktober

“Dengan dalih keyakinan agama, mereka menggunakan institusi pendidikan, legal dan ilegal, untuk mempersempit cakrawala orang muda, untuk mengisolasi dan memisahkan, dan dalam kasus terburuk untuk mengindoktrinasi pikiran yang mudah dipengaruhi dengan ideologi ekstremis,” dia diperkirakan akan mengklaim.

Mengenai ucapan ulang Spielman tersebut, seorang juru bicara Dewan Muslim Inggris mengatakan: “Seiring dengan kabar bahwa Spielman terus mengeluarkan pernyataan publik yang tidak proporsional tentang Muslim dan menunjukkan kaitannya dengan ekstremisme, kami berharap dia berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan yang tidak dapat dibenarkan lagi.

“Kurangnya keterlibatan yang tepat tidak diragukan lagi akan memperkuat persepsi negatif di antara banyak orangtua Muslim tentang intervensi OFSTED.”

Politisi Anti-Muslim Australia Lakukan aksi Kenakan Burqa untuk Larangan Jilbab

Larangan di sekolah negeri mayoritas Muslim terhadap gadis-gadis Muslim muda yang mengenakan jilbab tersebut telah dibatalkan awal bulan ini setelah pengunduran diri gubernur.

November lalu, Spielman mendapat kecaman setelah mengatakan bahwa petugas OFSTED akan menanyai gadis-gadis muda di sekolah dasar yang memakai jilbab. Lebih dari 1.000 akademisi, guru dan pemimpin agama mengecam keputusan OFSTED dan menyebutnya “brengsek, diskriminatif dan rasis secara institusional.”

Erdogan: 800 Pasukan PYD Tewas di Afrin, Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Kamis (1/2/2018) mengatakan total 800 teroris PYD telah terbunuh di wilayah Afrin, barat laut Suriah sebagai bagian dari Operasi Olive Branch yang sedang berlangsung di Turki.

“Tentu saja, jumlah ini akan meningkat menjelang malam,” kata Erdogan, saat berbicara di pertemuan Turkish Youth Foundation di Presidential Complex.

Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operation Olive Branch bersama dengan Free Syria Army (FSA) untuk membersihkan milisi PYD/PKK dan IS dari Afrin, Suriah barat laut.

50 Lebih Roket PYD Hantam Turki, 5 Tewas dan 73 Terluka

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan wilayah Turki serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah, katanya.

Pihak militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “perhatian dan kepekaan” yang besar terus dilakukan untuk menghindar melukai warga sipil.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012, ketika rezim Bashar al-Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut ke kelompok teror dengan cuma-cuma.

Korban Tewas Muslim Rohingya, Dikuburkan Massal di 5 Tempat oleh Tentara Myanmar

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Penduduk desa Rohingya di Myanmar yang dibantai pada waktu lalu dimakamkan di 5 kuburan massal, menurut sebuah penyelidikan eksklusif oleh kantor berita Associated Press, Kamis (1/2/2018).

Laporan penemuan kantor berita tersebut pada hari Kamis termasuk kesaksian saksi dari dua lusin korban selamat dan kerabat korban, serta rekaman ponsel setelah serangan tersebut.

Diperkirakan sedikitknya 400 warga Muslim Rohingya yang teraniaya dibunuh oleh tentara Burma.

Dalam satu kisah pembantaian, sekelompok pria sedang memilih tim untuk pertandingan sepak bola lokal yang disebut ‘chinlone’ di desa Gu Dar Pyin, kemudian tentara mulai menembaki mereka.

Seorang korban bernama Noor Kadir kemudian menemukan enam temannya dikubur di dua kuburan massal terpisah. Dia mengatakan bahwa mayat korban hanya dapat dikenali melalui warna celana pendek mereka.

Inilah Alasan Bangladesh Tunda Pemulangan Ratusan Ribu Pengungsi Muslim Rohingya

Pembunuhan massal tersebut diyakini terjadi pada 27 Agustus dan korban selamat mengatakan kepada Associated Press bahwa tentara Budha Myanmar telah mencoba untuk menutupi bukti kekejaman tersebut.

Video yang didapat oleh agensi tersebut mengindikasikan usaha menggunakan asam untuk mengeluarkan mayat.

Sisa-sisa mayat yang berada di dalam kuburan dangkal naik ke permukaan setelah hujan deras dan korban selamat dapat memfilmkan bukti.

Phil Robertson dari Human Rights mengatakan bahwa laporan tersebut “meningkatkan reaksi dunia internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dari pemerintaah Myanmar” dan menggarisbawahi perlunya embargo senjata yang dipimpin oleh PBB atas negara tersebut.

“Laporan AP bahwa (tentara) membawa masuk wadah berisi asam ke daerah Gu Dyar Pin untuk mengubah bentuk tubuh dan membuat identifikasi lebih sulit sangat memberatkan karena menunjukkan tingkat pra-perencanaan dari kekejaman ini,” kata Robertson.

“Ini saatnya bagi dunia internasional untuk serius mengidentifikasi dan menjatuhkan sanksi terhadap komandan militer dan tentara Burma yang bertanggung jawab atas kejahatan kemanusian berat ini.”

Utusan khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, Yanghee Lee mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa pembunuhan dan pembuangan mayat tersebut mengidentifikasi “ciri genosida”.

Bongkar Rahasia Pembantaian Muslim Rohingya, Wartawan Reuters Ini Hadapi Pengadilan Myanmar

Ketika ditanya tentang kekerasan terhadap minoritas Rohingya di tangan militer Burma, Lee menanggapi bahwa “Anda dapat melihatnya sebagai sebuah pola”.

Namun, utusan hak asasi PBB tersebut mengatakan bahwa dia tidak dapat membuat sebuah pernyataan mengenai “genosida” sampai pengadilan internasional dapat mempertimbangkan bukti tersebut.

Myanmar sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas satu kuburan massal yang berisi 10 jenazah di desa Inn Din.

Pembunuhan tersebut terjadi pada bulan September namun pihak berwenang hanya mengakui mereka setelah ditemukannya kuburan massal tersebut pada bulan Desember, mengklaim bahwa mereka yang meninggal tersebut adalah “teroris”.

Amnesty International menggambarkan penemuan Desember sebagai “puncak gunung es”.

Pengungsi Rohingya: Kami Tidak Berharap untuk Kembali

Sejak Agustus 2017, lebih dari 655.000 warga Rohingya telah meninggalkan Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, melarikan diri dari apa yang disebut PBB sebagai “genosida”.

Militer Myanmar berkelit bahwa mereka memerangi “teroris” namun korban selamat yang menyeberang ke Bangladesh membawa serta bukti laporan pembunuhan massal, mutilasi, pemerkosaan, dan pembakaran rumah.

Bangladesh dan Myanmar telah menyetujui kesepakatan untuk mengirim pengungsi Rohingya kembali ke rumah mereka. Sebagai bagian dari kesepakatan repatriasi, warga Rohingya akan ditempatkan di pusat penampungan, yang oleh aktivis Rohingya disebut “kamp konsentrasi”.

Rohingya yang kebanyakan Muslim secara luas dianggap sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia. Mereka ditolak kewarganegaraannya oleh pemerintah Burma, yang mengklaim bahwa mereka bukan penduduk asli Myanmar.

Rezim Syiah Suriah Kembali Serang Warga Ghouta Timur dengan Gas Beracun

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Rezim Nushairiyah Assad pada hari Kamis (1/2/2018) menyerang daerah pemukiman Damaskus dengan gas klorin, menurut Helm Putih (White Helmets), sebuah badan pertahanan sipil pro-oposisi Suriah.

Sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak, terluka dalam serangan tersebut, yang menargetkan kota Duma yang dikuasai oposisi di distrik Ghouta Timur, kata pejabat White Helmets, lansir Anadolu Agency.

Bulan lalu, rezim Syiah Assad menargetkan bagian perumahan Duma dengan gas klorin, yang menyebabkan banyak korban sipil.

Rezim Syiah Assad Kembali Gunakan Gas Klorin di Ghouta Timur

Dalam sebuah laporan tahunan yang baru dirilis, White Helmets mengatakan bahwa sebanyak 1.337 warga sipil telah terbunuh di Ghouta Timur tahun lalu akibat serangan pasukan rezim Syiah Assad yang berlanjut terus menerus.

Rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, Ghouta Timur, di pinggiran kota Damaskus, tetap berada di bawah pengepungan rezim yang memblokade selama lima tahun terakhir.

Dua Faksi Revolusi Suriah Amankan Akses Jurnalis Internasional untuk Liput Korban Gas Klorin

Selama delapan bulan terakhir, rezim Syiah Assad telah meningkatkan pengepungannya terhadap Ghouta Timur, mencegah pengiriman makanan atau obat ke distrik tersebut dan menyebabkan ratusan pasien kehilangan perawatan medis.

Ghouta Timur secara khusus berada dalam jaringan zona de-eskalasi – didukung oleh Turki, Rusia dan Iran – di mana seharusnya tindakan agresi dilarang secara eksplisit.

Penabrak Jamaah Shalat di Inggris Divonis Bersalah, Jaksa: Ini Tindakan Terorisme

LONDON (Jurnalislam.com) – Seorang pria Inggris dinyatakan bersalah pada hari Kamis (1/2/2018) karena pembunuhan dan percobaan pembunuhan setelah dengan sengaja menabrak kumpulan kaum Muslim di luar sebuah masjid di London.

Para juri menyatakan Darren Osborne, 48 tahun, dari Wales, bersalah karena membunuh Makram Ali yang berusia 51 tahun dan mencoba membunuh orang lain di daerah Taman Finsbury di utara London pada tanggal 19 Juni 2017, lansir Aljazeera.

Begini Kronologi Penabrakan Brutal pada Jamaah Shalat Terawih di London

Osborne mengemudikan kendaraan yang disewa tersebut melaju cepat ke arah sekelompok Muslim yang berkumpul di sekitar Ali, seorang ayah dari enam orang yang ditabrak terkapar di dekat rumahnya setelah mengerjakan shalat terawih Ramadhan.

Osborne dinyatakan bersalah oleh Woolwich Crown Court, dengan polisi dan jaksa mengatakan bahwa ini adalah tindakan “terorisme”.

Itu adalah insiden keamanan keempat di Inggris dalam waktu tiga bulan.

Baru Selesai Shalat, Jamaah Masjid di Perancis Diberondong Tembakan

Darren Osborne
Darren Osborne

Osborne, yang sebelumnya tidak pernah mengekspresikan pandangan kanan jauh, dilaporkan mengembangkan sebuah obsesi terhadap umat Islam setelah menonton program BBC, Three Girls, sebuah drama yang disiarkan Mei lalu tentang kejadian di Rochdale, Inggris utara, di mana gadis kulit putih dilecehkan oleh sekelompok pria terutama warga Pakistan-Inggris.

Kebencian ini kemudian ditambah oleh penelitian online terhadap tokoh dan kelompok sayap kanan ekstrim, kata polisi.

Dewan Muslim Inggris (the Muslim Council of Britain-MCB) menyambut baik keputusan tersebut dalam sebuah pernyataan, dengan mengatakan bahwa sudah waktunya untuk menganggap serius Islamophobia di Inggris.

Ancaman Islamophobia Inggris: Akan Ada Darah Tertumpah, dengan Gas, Dipenggal, atau Diledakkan

Harun Khan, sekretaris jenderal MCB, mengatakan: “Adegan yang kita saksikan musim panas lalu adalah manifestasi Islamophobia yang paling kejam di negara kita. Kita tidak bisa berpuas diri dan menganggap ini sebagai sebuah insiden.

“Kami mendengar selama persidangan bagaimana Osborne dimotivasi oleh kelompok anti-Muslim dan kelompok Islamophobia yang tidak hanya lazim di kalangan kanan-jauh, tapi juga dapat diterima di arus utama kami. Kasus ini mengatakan bahwa kita semua harus berhati-hati saat tergoda untuk menstigmatisasi sekelompok orang, terlepas dari warna kulit, agama atau komunitas,” kata Khan.

Al Mumtaz Kutuk Aksi Teror dan Penganiayaan Terhadap Ulama

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Aliansi Aktifis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Al Mumtaz) mengutuk keras aksi teror dan penganiayaan terhadap ulama yakni KH. Umar Basri dan Ustadz R Prawoto. Bahkan, Penganiayaan berujung meninggal dunia menimpa Ustadz Prawoto yang merupakan Komandan Brigade Persis Kota Bandung.

Dalam pernyataan sikapnya, Al Mumtaz menyampaikan Do’a Takziyah atas meninggalnya Ustadz Prawoto. Selain itu, Al Mumtaz juga mengutuk aksi teror, penganiayaan dan pembunuhan terhadap ulama dan aktifis organisasi islam yang baru baru ini terjadi di Jawa Barat.

“Bertekad melakukan pembelaan terhadap ulama, aktifis, dan kaum muslimin dari berbagai gangguan yang menimpanya, “ kata Ketua Al Mumtaz Hilmi Afwan Hilmawan, Jumat (2/2/2018).

Selain itu, Al Mumtaz juga menuntut pihak kepolisian untuk segera mengusut dan mengungkap secara tuntas motif dibalik aksi terror, penganiayaan dan pembunuhan terhadap ulama dan aktifis islam yang terjadi.

Al Mumtaz menyeru kepada aktifis Islam penggiat dakwah dan amal ma’ruf nahyi munkar serta elemen muslim untuk meningkatkan kewaspadaan, penjagaan diri dalam menjalankan aktifitasnya, melindungi para ulama dan tokoh Islam.

“Menyeru kepada seluruh elemen ormas, jamaah dan lembaga Islam untuk senantiasa mengokohkan persatuan, menjalin kerjasama dan koordinasi mengikuti arahan para ulama dan mengatasi upaya provokasi terror yang terjadi,“ kata Hilmi.

Sebelumnya, dua kasus penyerangan terhadap tokoh umat Islam terjadi di Bandung dalam kurun waktu sepekan ini. KH Umar Basri diserang setelah shalat subuh pada Sabtu (27/1/2018) dan yang terbaru penyerangan kepada Ustadz Prawoto.

Polisi: Pembunuh Ustadz Prawoto Diduga Depresi

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aparat kepolisian Polrestabes Bandung berhasil menangkap pelaku pembunuhan Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis), Ustadz H. R Prawoto (40) bernama Asep Maptuh (45) warga Blok sawah RT 001/003 Kel. Cigondewah Kidul Kec. Bandung kulon, Bandung.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Drs. Hendro Pandowo mengatakan, pelaku akan menjalani tes kejiwaan untuk mengetahui motif sesungguhnya dari pelaku. Pihaknya juga akan mengajak PP Persis untuk memantau langsung perkembangan kasus tersebut.

“Kalau saya lihat rumahnya, kemudian saya tanya warga, ada depresi, tapi untuk kepastiannya kami akan mengajak pengurus Persis untuk melakukan pemeriksaan langsung, perkembangannya akan saya sampaikan dan sama-sama akan melihat nanti. Termasuk apakah akan dilakukan untuk pemeriksaan kejiwaan,” papar Hendro usai pemakaman Almarhum Ustadz Prawoto di Bandung, Kamis (1/2/2018).

Hendro menjelaskan, pihak keluarga telah menyerahkan kasus tersebut sepenuhnya kepada pihak kepolisian termasuk perlu tidaknya dilakukan autopsi.

“Saat ini sudah dimakamkan, tentunya saat ini proses itu (autopsi) belum kita perlukan dan keluarga sudah menyatakan bahwa penyidikan diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian,” ujar Hendro.

Jenazah Ustadz H. R Prawoto dimakamkan di pemakaman keluarga, Desa Burujul, Kecamatan Margaasih, Bandung, Kami (1/2/2018) malam sekira pukul 21.00 WIB. Prosesi pemakaman Ustadz Prawoto diikuti oleh ribuan pelayat dari pejabat hingga elemen-elemen umat Islam.

Almarhum meninggalkan dua orang anak dan satu istri. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin.

Ustadz Prawoto meninggal dunia di Rumah Sakit Santosa, Kopo Bandung pada pukul 16.00 WIB akibat penganiayaan oleh AM. Ustadz Prawoto mengalami luka di sekujur tubuhnya.

“Pelaku memukuli korban beberapa kali yang mengakibatkan korban mengalami luka patah tangan kiri dan luka terbuka pada kepala,” papar Hendro.

Kontributor: Toni Susandi

[FOTO] Ribuan Orang Hadiri Shalat Jenazah hingga Pemakaman Ustaz Prawoto

BANDUNG (Jurnalislam.c0m) – Ribuan orang menghadiri shalat jenazah dan mengiringi pemakaman aktivis Persis ustaz H Prawoto yang dianiaya hingga meninggal dunia, Kamis (1/2/2018).

Pantauan Jurnalislam.com di lokasi, Masjid Al Muhajirin kawasan Cigondewah Bandung, sekitar kediaman almarhum penuh sesak oleh jamaah mulai dari elemen persis, brigade persis, dan elemen umat Islam lainnya. berikut foto-foto yang diperoleh kontributor Jurnalislam.com, Toni Susandi di lokasi.