Inilah Alasan Bangladesh Tunda Pemulangan Ratusan Ribu Pengungsi Muslim Rohingya

Inilah Alasan Bangladesh Tunda Pemulangan Ratusan Ribu Pengungsi Muslim Rohingya

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Pemulangan ratusan ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar tidak bisa dimulai sesuai rencana, kata Bangladesh Senin (22/1/2018), dengan pihak berwenang mengakui bahwa “banyak persiapan” yang masih diperlukan.

Namun Komisioner Pengungsi dan Repatriasi Pengungsi Bangladesh Mohammad Abul Kalam pada hari Senin mengumumkan bahwa masih banyak lagi pekerjaan yang harus dilakukan.

“Kami belum membuat persiapan yang diperlukan untuk mengirim para pengungsi kembali dalam waktu dekat. Masih banyak persiapan yang harus dilakukan,” kata Kalam, lansir World Bulletin.

Kondisi Kamp Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh Semakin Memburuk

Sejak Agustus tahun lalu sekitar 655.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari perbatasan ke Bangladesh setelah sebuah operasi militer Myanmar pada Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine yang dikatakan PBB bahwa sebagai “pembersihan etnis abad ini.”

Mereka menempati kamp-kamp yang kurang memadai dan penuh sesak, membawa serta cerita-cerita yang sangat mengerikan tentang pemerkosaan massal, pembunuhan, mutilasi, pembakaran dan penyiksaan brutal di tangan tentara Budha Myanmar dan gerombolan warga Buddha.

Setelah sebuah protes global di dunia, yang mencakup kritik keras terhadap pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi, Yangon dan Dhaka pada awal bulan ini sepakat bahwa pengungsi akan dikembalikan, dalam sebuah proses yang mereka katakan akan memakan waktu sekitar dua tahun.

Kelompok hak asasi manusia dan PBB mengatakan pemulangan apapun harus bersifat sukarela, dengan laporan bahwa banyak pemukiman Rohingya telah dibakar habis.

Pengungsi Rohingya: Kami Tidak Berharap untuk Kembali

Bangladesh telah berusaha meyakinkan masyarakat internasional bahwa hanya mereka yang ingin kembali ke tanah air mereka di negara bagian Rakhine yang akan dikirim ke Myanmar, dan prosesnya akan melibatkan badan pengungsi PBB.

Namun pada hari Senin, kepala pengungsi Kalam mengatakan bahwa pusat transit masih harus dibangun, dan pekerjaan tetap harus dilakukan dengan “proses ketat” untuk menyetujui daftar orang-orang yang berhak – dan bersedia – untuk kembali ke Myanmar.

“Tanpa menyelesaikan ini, kita tidak bisa mengirim orang-orang ini kembali tiba-tiba. Pekerjaan ini sedang berlangsung,” katanya.

Inilah Hasil Penyidikan Kekerasan Seksual atas Muslimah Rohingya oleh Pasukan Myanmar

Dia tidak memberikan tanggal yang telah direvisi untuk memulai operasi tersebut, namun mengatakan bahwa dua lokasi di dekat perbatasan telah diidentifikasi untuk lokasi transit yang mungkin terjadi.

Kesepakatan repatriasi mencakup sekitar 750.000 pengungsi yang telah melarikan diri sejak Oktober 2016, namun tidak termasuk 200.000 orang Rohingya yang tinggal di Bangladesh sebelumnya, didorong oleh putaran kekerasan komunal dan operasi militer Myanmar sebelumnya.

Bagikan
Close X