PARIS (Jurnalislam.com) – Pertarungan Turki melawan teror merupakan prasyarat bagi keamanan negara-negara Eropa, kata presiden negara itu.
Recep Tayyip Erdogan menulis artikel untuk Le Figaro, sebuah harian Prancis, pada peringatan ke-100 tahun berakhirnya Perang Dunia I.
“Keberatan yang kami ajukan terhadap upaya-upaya baru yang serupa dengan perjanjian Sykes-Picot di wilayah kami dan upaya kami untuk memerangi organisasi teror, PKK dan FETO, mencerminkan rasa hormat kami terhadap tetangga kami dan merupakan prasyarat bagi keamanan negara-negara Eropa – dimana Turki adalah bagiannya,” tulis Erdogan.
Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 meletakkan dasar bagi perbatasan Timur Tengah baru setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman.
Pada peringatan 100 tahun berakhirnya Perang Dunia I, Erdogan mengatakan bahwa “tidak mungkin mengklaim bahwa konflik telah berakhir.”
“Ketegangan domestik, meningkatnya ancaman teror dan ketidakstabilan mendalam yang terlihat di tetangga-tetangga di selatan Turki, Irak dan Suriah, dalam beberapa tahun terakhir, bersama dengan pencabutan dan pemindahan sistematis yang telah kita saksikan di Palestina selama beberapa dekade, adalah salah satu indikator yang jelas dari situasi itu,” dia berkata.
Erdogan mengatakan beberapa “entitas politik bermasalah” muncul setelah perbatasan itu ditarik di atas meja oleh kekuatan-kekuatan besar dunia, setelah Perang Dunia I.
“Kegagalan entitas politik untuk membangun ikatan yang kuat dengan masyarakat yang mereka pimpin, menjadikan Timur Tengah dan wilayah Afrika Utara menderita dengan rezim otoriter, kudeta militer dan kekuasaan minoritas sepanjang abad kedua puluh,” Presiden Turki itu menambahkan.
Erdogan mengatakan bahwa pelajaran paling penting yang harus diambil dari Perang Dunia I adalah betapa sulitnya membangun perdamaian abadi.
Dia mengatakan Turki akan terus bekerja menuju tujuannya menjadi anggota penuh Uni Eropa, yang ia sebut “proyek perdamaian paling penting” dalam sejarah benua itu.
Turki pada saat yang sama akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas “dengan mendukung pemerintahan perwakilan, demokratis di Timur Tengah,” tambahnya.
PARIS (Jurnalislam.com) – Ibu kota Perancis pada hari Ahad (11/11/2018) menyelenggarakan upacara peringatan seratus tahun akhir Perang Dunia I.
Lebih dari 70 kepala negara dan pemerintah – termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden AS Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel – menghadiri upacara peringatan di Paris yang diselenggarakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Acara ini diadakan di dekat monumen Arc de Triomphe yang terletak di Champs-Elysees, lansir Anadolu Agency.
Gencatan senjata 11 November 1918, yang ditandatangani antara Sekutu dan Jerman, mengakhiri Perang Dunia I secara resmi. Oleh karena itu, hari Ahad kemarin bertepatan dengan peringatan ke-100.
Berbicara pada upacara itu, Macron mencatat 10 juta orang kehilangan nyawa dalam perang, sementara enam juta lainnya terluka.
“Selama perang empat tahun, Eropa seperti berusaha bunuh diri ketika itu,” katanya, seraya menambahkan bahwa negaranya adalah pejuang hukum dan kebebasan.
Mengekspresikan kekhawatiran atas munculnya lagi “setan tua”, Macron mengatakan: “Ideologi baru memanipulasi agama. Sejarah mengancam untuk melanjutkan perjalanannya yang tragis. ”
MOGADISHU (Jurnalislam.com) – Jumlah korban tewas akibat serangan hari Jumat (9/11/2018) di ibukota Somalia Mogadishu telah mencapai 53 orang, kata sumber polisi Somalia pada Ahad pagi (11/11/2018).
Kapten Mohamed Hussein – seorang perwira senior polisi Somalia – mengatakan bahwa 53 orang tewas, dan sedikitnya 100 lainnya terluka dalam pemboman tiga mobil hari Jumat di Mogadishu.
Hussein mengatakan bahwa dua kendaraan bermuatan bom menargetkan Hotel Sahafi, yang sering dikunjungi pejabat pemerintah dan ledakan terjadi di tempat parkir hotel di dekat kantor polisi.
Ahmad Zakariya, seorang pekerja penyelamat, sebelumnya mengatakan jumlah korban tewas mencapai 23, termasuk sembilan pejuang Al-Shabaab.
Kelompok al-Shabaab yang berbasis di Somalia mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Menurut kantor berita resmi Somalia, enam dari penyerang dilimpuhkan oleh pasukan Somalia, sementara tiga pembom martir meledakkan diri.
Sahafi adalah hotel populer yang terletak di jalan KM4 yang sibuk dan sering dikunjungi oleh pejabat pemerintah Somalia.
Organisasi Kerjasama Islam-OKI (the Organization of Islamic Cooperation-OIC) mengecam keras serangan itu, menegaskan kembali sikap mereka terhadap “semua bentuk ekstremisme kekerasan”.
Sekretaris Jenderal OKI, Yousef Al-Othaimeen mengatakan bahwa OKI dalam “solidaritas dengan pemerintah Somalia dalam perang melawan terorisme.”
PALESTINA (Jurnalislam.com) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Ahad (11/11/2018) mengatakan konspirasi sedang diplot melawan Palestina.
“Palestina akan melalui masa-masa sulit,” kata Abbas setelah meletakkan karangan bunga di makam pemimpin ikonik Yasser Arafat di kota Tepi Barat Ramallah, lansir World Bulletin.
“Mereka tidak menginginkan negara atau entitas bagi rakyat kami,” kata Abbas. “Kami akan terus berjuang sampai kami memenangkan hak rakyat Palestina untuk memutuskan nasib mereka dan membangun negara merdeka mereka.”
Pada bulan Desember tahun lalu, Presiden AS Donald Trump memicu kecaman dunia setelah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Yerusalem tetap menjadi jantung dari konflik abadi Timur Tengah, dimana Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang dijajah oleh Israel sejak 1967 – pada akhirnya berfungsi sebagai ibukota negara Palestina merdeka.
Palestina mengorganisir beberapa kegiatan di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada hari Ahad untuk menandai ulang tahun ke 14 kematian Arafat.
Pada 11 November 2004, Arafat meninggal dunia di Prancis – dalam situasi yang sangat mencurigakan – pada usia 75 tahun. Sampai sekarang, para dokter tidak dapat menentukan penyebab pasti kematiannya.
IRAN (Jurnalislam.com) – Laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan bahwa Iran diduga mengeksekusi lebih dari 22 orang, menuduh mereka berada di balik serangan pada parade militer di kota Ahwaz, Iran selatan, Oktober lalu, lansir Al Arabiya, Ahad (11/11/2018).
Sumber-sumber mengatakan bahwa pihak berwenang Pengadilan Revolusi telah memberitahu beberapa keluarga dari mereka yang diduga dieksekusi pada hari Kamis.
Seorang kerabat korban mengatakan, Pengadilan Revolusi memanggil beberapa keluarga dari mereka yang dilaporkan dieksekusi dan menyerahkan surat kematian mereka, tanpa informasi apapun tentang jenazahnya, dan memperingatkan mereka untuk tidak mengadakan pemakaman atau berupaya melakukan penuntutan.
Setelah serangan terhadap parade militer, pihak berwenang Iran menangkap ratusan aktivis Ahwazi, termasuk aktivis masyarakat sipil yang bukan anggota kelompok pergerakan.
Aktivis hak asasi manusia mengatakan pihak berwenang Iran menggunakan serangan itu sebagai kesempatan untuk menyerang aktivis dan intelektual yang mendukung pada hak-hak nasional orang Arab di Iran selatan.
SURABAYA (Jurnalislam.com) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat menggelar acara Islamic Lawyer Forum (ILF) di POP Hotel Surabaya, Ahad (11/11/2018). Acara tersebut dihadiri oleh para pengacara muslim, ulama dan tokoh masyarakat.
ILY edisi ketiga ini mengangkat tema “Bendera Tauhid Milik Umat, Stop Kriminalisasi Bendera Tauhid”. Kegiatan ini menghasilkan pernyataan hukum yang dirilis oleh LBH Pelita Umat. Berikut selengkapnya:
Berkenaan dengan hal itu, LBH PELITA UMAT menyatakan sekaligus menegaskan :
Bahwa, membuat, memiliki, membawa, mengibarkan, menyosialisasikan, atau melakukan serangkaian tindakan untuk mensyiarkan kalimat tauhid dalam bendera tauhid, adalah hak konstitusional setiap warga negara. Dengan dalih apapun, negara dengan seluruh alat kelengkapannya tidak memiliki hak untuk melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya menghalangi dan merampas hak konstitusi rakyatnya.
Bahwa bendera tauhid adalah simbol kemuliaan umat Islam kaum muslimin. Tidak boleh seorangpun yang menghinakan atau melecehkan bendera tauhid baik dengan cara merobek, membakar, menaruh di tempat yang tidak layak, atau tindakan klain yang melecehkan karena semua itu termasuk dan terkategori menistakan agama.
Bahwa konstitusi melalui Pasal 29 ayat (2) UUD l945 menyatakan :
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. ”
Bahwa ditegaskan pula dalam ketentuan Pasal 4 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”), yang menyatakan :
“Hak. untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surat adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun. ”
Bahwa membuat, memiliki, membawa, mengibarkan, menyosialisasikan, atau melakukan serangkaian tindakan untuk mensyiarkan kalimat tauhid dalam bendera tauhid, adalah bagian dari syiar dan dakwah Islam yang merupakan rangkaian ibadat dalam pandangan ajaran Islam. Karena itu, melarangnya berarti sama saja melarang umat Islam beribadat menurut agama Islam dan karenanya ini merupakan pelanggaran konstitusi.
Bahwa selain melanggar konstitusi, melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya menghalangi dan merampas hak konstitusi umat Islam mengibarkan bendera tauhid, melanggar Hak Asasi Manusia; sebagainya ditegaskan dalam Pasal 4 Undang-I Jndang No. 39 Tahun I999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”).
Bahwa dalam ketentuan UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 2009 TENTANG BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN, di dalamnya tidak ada satupun ketentuan pasal yang mengatur larangan pengibaran bendera tauhid dan tidak ada satupun klausul pidana yang menjadi sanksi bagi para pengibar bendera tauhid.
Bahwa oleh karenanya kami tegaskan siapapun individu, oknum Ormas, oknum Satpol PP, Oknum Penegak hukum yang melakukan tindakan represif di luar hukum baik dengan cara melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya tidak menginginkan bendera tauhid berkibar dan dikibarkan kaum muslimin, TELAH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN MELAKUKAN KEJAHATAN KONSTITUSI.
Bahwa oleh dan karenanya, negara beserta seluruh perangkat kekuasaan yang ada padanya wajib menjaga dan melindungi setiap warga negara yang ingin mengekspresikan hak konstitusionalnya dengan mengibarkan bendera tauhid; dan menjaminnya terbebas dari seluruh tudingan, fitnah, ancaman dan intimidasi.
Bahwa kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin agar tetap Istiqomah dalam dakwah, terus konsisten mendakwahkan dan mensyiarkan kalimat tauhid, serta tetap bersabar dalam ibadat dan ketaatan.
BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar Pernikahan Mubarokah 43 Pasang Santri di Gunung Tembak, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (11/11/2018).
Acara bertempat di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, dimulai sejak sekitar pukul 08.00 WITA hingga menjelang zuhur.
Pantauan di lokasi acara, suasana sakral dan kegembiraan meliputi prosesi pernikahan tersebut. Pernikahan yang juga tercatat secara resmi di lembaga negara ini dipandu tiga penghulu agama dari KUA setempat.
Ribuan tamu undangan menghadiri acara di ruang utama masjid yang sedang dalam pembangunan tersebut. Hadir pula antara lain Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi, Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, dai asal Sulawesi Selatan Ustadz Das’ad Latif, serta jajaran pimpinan dan pengurus Hidayatullah.
Sementara para pengantin putri ditempatkan terpisah di kampus putri berjarak sekitar 50 meter dari Masjid Ar-Riyadh.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Hamzah Akbar mengatakan, peserta nikah tersebut merupakan hasil seleksi dari banyaknya calon peserta yang berminat mengikuti pernikahan massal itu.
“Dari 70 pendaftar, terseleksi jadi 43 pasang,” sebutnya dalam sambutannya.
Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menyampaikan sambutan dalam pernikahan mubarokah 43 pasang santri di Hidayatullah Balikpapan. (Foto: Abdus Syakur/INA)
Para pengantin berasal dari berbagai daerah se-Indonesia. Mulai dari Papua, Aceh, Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan.
Sebelum menikah, mereka mengikuti pembekalan pra nikah selama sekitar 2 pekan di Gunung Tembak. Pembekalan yang diberikan mulai dari materi tentang pernikahan, keagamaan, terkait keorganisasian kebangsaan dan sebagainya termasuk kesehatan.
Menariknya, selama masa pembekalan mereka turut berpartisipasi dalam pembangunan kampus pesantren yang saat ini sedang bersiap menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) dai penghujung bulan ini. Mereka ikut bekerja bakti, bergotong royong sebagaimana warga pesantren lainnya.
Penetapan calon pasangan masing-masing santri itu pun dilakukan oleh panitia yang dibentuk khusus, yang selama ini memang sudah berpengalaman dalam pernikahan seperti itu.
“Proses nikah menjadi penguat baru mereka (pengantin),” ujar Hamzah.
Setelah menikah, para santri yang juga dai serta guru tersebut ditugaskan kembali ke daerah masing-masing.
“Harapan kita mereka kembali ke daerah dengan semangat baru, dengan gairah baru. Paling tidak ada teman berbagi,” ujarnya.
Wagub Kaltim mengapresiasi pernikahan mubarokah Hidayatullah. Ia pun mendoakan para pengantin agar mendapatkan keturunan yang shaleh/shalehah.
“Saya bangga dengan Hidayatullah,” akunya.
Wawali Kota Rahmad berpesan kepada para pengantin agar konsisten dalam mensyiarkan agama pasca status baru yang mereka.
“Syiarkan (Islam) di seluruh penjuru dunia,” demikian pesannya.
Ia berpesan kepada para dai, dalam dakwahnya agar mendengar aspirasi masyarakat. Jangan harap akan didengar masyarakat, kalau tidak mau mendengar masyarakat.
Tak lupa Wawali Rahmad turut menyampaikan doa atas terselenggaranya pernikahan itu. “Semoga mendapat Ridha Allah,” harapnya.
uasana aqad nikah pada pernikahan mubarokah 43 pasang santri di Hidayatullah Balikpapan. (Foto: Abdus Syakur/INA)
Tradisi Lama Hidayatullah
Pernikahan mubarokah merupakan tradisi sekaligus syiar dakwah yang sudah lama berjalan bagi ormas yang berusia 45 tahun ini, dulu biasa disebut “Pernikahan Massal”.
Tradisi dalam pernikahan ini para calon pengantin tidak saling mengenal terlebih dahulu sebelumnya. Bahkan bukan hal aneh jika seorang calon mertua tidak tahu siapa pastinya calon menantunya hingga satu atau dua hari sebelum pernikahan. Memang, penetapan calon pasangan masing-masing santri itu disampaikan panitia kepada masing-masing peserta biasanya pada H-1 sebelum aqad nikah.
Ahmad MS, misalnya. Dai yang bertugas di Sumatera Selatan ini belum tahu kepastian siapa jodoh untuk kedua putrinya -yang ikut pernikahan- hingga Jumat (09/11/2018) kemarin lusa.
“Belum tahu saya,” ujarnya saat bincang-bincang dengan wartawan INA News Agency.
Ia menyerahkan sepenuhnya calon menantunya kepada Allah lewat hasil musyawarah para panitia.
Wahyu, salah seorang peserta nikah itu, mengaku begitu bahagia mengikuti pernikahan ini. Pria asal Samarinda, Kaltim ini bahkan merasa “canggung”.
“Senang, tapi lebih banyak canggungnya,” ujarnya ditemui bakda zuhur sebelum penyerahan mahar kepada istrinya. Penyerahan mahar dilakukan secara terpisah di rumah masing-masing keluarga mempelai di Gunung Tembak.
Kenapa canggung?
Rupanya ia dijodohkan dengan putri dari salah seorang ustadz kondang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.
Terlebih lagi, ternyata istrinya adalah adik dari sahabatnya sendiri. Itu pun baru dia ketahui setelah diperlihatkan oleh panitia biodata sang putri sebelum pernikahan itu. Biodata itu biasanya berisi foto calon istri/calon suami sekaligus formulir kesediaan masing-masing peserta untuk menerima calon pasangannya, untuk kemudian ditandatangani.
Wahyu, guru di sebuah Sekolah Alam di Manggar, Balikpapan, ini pun bersedia menerima putri sang ustadz itu sebagai calon istrinya meskipun dengan perasaan terkejut dan canggung.
“Betul-betul enda nyangka aku,” ungkapnya dengan raut wajah dan nada bicara serius.
Ia mengaku jauh sebelum pernikahan sudah menyerahkan persoalan jodohnya kepada Allah lewat ijtihad musyawarah panitia.
BANDUNG (Jurnalislam.com) – Tidak bisa dipungkiri, selain terkenal dengan kreativitas anak mudanya, musik, pakaian dan mode, Kota Bandung juga terkenal dengan gangster dan klub motornya yang kerap membuat keributan di jalanan.
Tak jarang juga di antara gangster di Kota Kembang tersebut terjadi perkelahian higga menimbulkan korban. Permusuhan antar gangster seperti sudah mendarah daging yang benang kusutnya sulit diurai.
Sebut misalnya yag terjadi pada geng motor yang cukup terkenal dan besar di Kota Bandung: XTC, GBR, Brigez dan Moonraker. Entah bagaimana awalnya, keempat geng motor tersebut saling bermusuhan satu dengan yang lainnya.
Namun, saat ini semuanya telah berubah. Keempat pimpinan geng tersebut telah mendeklarasikan perdamaian, bahkan mereka dan banyak anggotanya telah melakukan transformasi hidup.
Transformasi hidup yang mereka lakukan bukanlah mengubah hobi sehingga meninggalkan dunia motor dan jalanan. Justru perubahan mereka terjadi dalam masalah cara pandang dan gaya hidup.
Ya, mereka telah berhijrah. Kehidupan mereka yang awalnya jauh dari nilai-nilai positif, kini justru lebih dekat Islam dan selalu melakuan berbagai aksi kebaikan.
Istilah “Dulu di jalanan, sekarang di pengajian, dulu tauran sekarang kajian, dulu malak sekarang infaq, dulu ekstasi sekarang prestasi, dulu narkoba sekarang bekarya, dulu di penjara sekarang di musholla, dulu perusak sekarang penggerak” pun menjadi ciri khas dari kisah hijrah mereka.
Cover buku Move On
Oleh karenanya, hal itulah yang membuat seorang penulis dan juga anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Hilman Indrawan tertarik menulis buku berjudul Move On yang mengangkat kisah-kisah hijrah anak-anak gangster Bandung.
Bukah hanya itu, dalam bukunya, juga Hilman menulis kisah hijrah mereka yang berlatar belakang musisi dan atlet. Setidaknya, ada 20 kisah dia abadikan di dalam buku tersebut.
“Digambarkan dari kisah ini, berkisah dulu dan sekarang, makanya ada kata Move On yang artinya mereka harus move on dari masa lalu,” ungkap Hilman kepada INA News Agency (INA)—kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu, Sabtu (10/11/2018).
Buku Move On ditulis, menurut Hilman, juga karena dia merasa resah atas sikap anak-anak sekolah yang menjadi anggota geng motor namun tidak mengikuti jejak para seniornya yang telah berhijrah.
Bahkan, kata Hilman, masih banyak dari kalangan remaja yang belum tahu bahwa para senior mereka di geng motor atau di dunia gangster telah berhijrah dan meninggalkan dunia gelap.
Oleh karenanya, kata Hilman, kerusuhan dan tawuran masih kerap dibuat di Bandung oleh para anggota geng motor yang para seniornya sendiri telah berhijrah, meskipun skalanya tidak sebegitu besar seperti dulu.
“Mereka gak tahu para seniornya telah berubah, bahwa group motor ini sudah membaik, maka saya ingin mempublikasikan kepada banyak orang, nih Brigez sudah berubah,” terang Hilman.
Hilman menuturkan bahwa fenomena dan gerakan hijrah di kalangan anak muda kota Bandung sangat penting dipublikasikan. Apalagi gerakan hirah di kota Bandung telah mengubah geng jalanan menjadi komunitas dakwah.
“Maka ketika saya ketemu dengan temen-temen geng motor yang sudah bertranformasi, mereka telah melakukan kebaikan, kebermanfaatan bagi masyarakat, maka saya tugasnya sebagai penulis, berjihad melalui tulisan. Saya hanya mempublikasikan kebaikan itu,” tutur Hilman.
Gerakan Hijrah juga, ungkap Hilman, telah membuat kondusif kota Bandung. Bandung yang sebelumnya menjadi kota tdak aman dan menakutkan, saat ini menjadi lebih kondusif.
“Ketika muncul gerakan hijrah, maka Bandung menjadi berubah drastis. Bandung yang dulunya ditakuti karena terkenal dengan geng motornya yang beringas, dengan pembegalan, tauran dan lain sebagainya,” ungkap Hilman. Di Pameran Buku Juara Braga Bandung pada Jumat (9/11/2018) itu juga telah diumumkan rencana peluncuran buku tersebut pada Desember 2018 mendatang.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka memperingati Global Day of InterAction, sejumlah organisasi dan aktivis pembebasan Palestina menggelar kampanye bertajuk #WorldWithoutWalls di sejumlah negara, Jumat (9/11/2018).
Hari yang bertepatan dengan runtuhnya Tembok Berlin, yang juga mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet pada Perang Dingin itu dijadikan simbol perlawanan komunitas internasional terhadap tembok Apartheid di Palestina.
Salah satu inisiator gerakan, Palestinian Cultural Organization Malaysia (PCOM) menjelaskan, tujuan digelarnya kampanye tersebut bermaksud untuk menyerukan pembebasan rakyat Palestina dari blokade Zionis. Khususnya di sejumlah wilayah terjajah seperti Tepi Barat dan Gaza.
“Tagar yang kami buat berupa #worldwithoutwalls menggambarkan nasib rakyat di Palestina dan di berbagai belahan dunia yang terkepung oleh kekuatan (penjajah) yang membatasi ruang gerak mereka,” ujar Ketua PCOM Muslim Imran kepada INA News Agency, Jumat (9/11/2018).
Instalasi tembok pemisah di Tepi Barat terjajah, Palestina, karya artis street art Banksy dipamerkan pada acara World Travel Market, di London, Rabu (6/11). Instalasi tersebut menghebohkan pengunjung karena untuk pertama kalinya Banksy memamerkan hasil karyanya pada pameran travel. FOTO: MEMO/Rebecca Stead
Muslim, aktivis asal Tepi Barat terjajah itu berharap Indonesia juga dapat turut serta dalam kampanye global #WorldWithoutWalls yang juga digelar di sejumlah negara.
Menurutnya, Indonesia memiliki suara yang cukup berpengaruh di tataran internasional, khususnya di Asia Tenggara. Terlebih, dengan sejarah perjuangan dalam mengusir penjajah, maka Indonesia seharusnya memiliki alasan kuat untuk turut serta menyuarakan pembebasan Palestina dari cengkeraman penjajah Zionis.
“Kami berharap Indonesia mendukung campaign ini dan juga ikut memperingati hari solidaritas internasional untuk Palestina bersama komunitas internasional,” ucap Muslim.
Dari benua Amerika di Meksiko, Argentina, dan AS, lalu ke Eropa di Berlin, London, Grenoble (Prancis), Brussels, beranjak ke Asia di Putrajaya, India dan Thailand, mereka menyuarakan diruntuhkannya tembok penghalang yang menyesakkan ruang gerak bangsa Palestina.
Seorang peserta memegang flyer berisi kampanye #WorldWihoutWalls, di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya, Malaysia, Jumat (9/11). FOTO: Dok. BDS Malaysia
Di pusat kota London, street artist yang dikenal dengan julukan Banksy secara mengejutkan menyertakan karyanya pada acara World Travel Market. Sontak instalasi tembok pemisah di Tepi Barat dengan listrasi dua bocah bersayap itu menghebohkan pengunjung.
Sementara di Argentina, personil grup Pink Floyd, Roger Waters, tampil pada festival yang digelar oleh BDS Argentina.
Aksi tidak selalu dilakukan dengan berdemonstrasi turun ke jalan. Tetapi bisa juga melalui literasi situasi dan ilmu yang benar mengenai negeri para Nabi tersebut.
Di Putrajaya, Malaysia, digelar pameran foto yang menampilkan dampak tembok Apartheid di Palestina. Di antaranya orang-orang yang terpisahkan dari sanak famili, serta anak-anak yang terhalangi pergi ke sekolah—karena bangunannya dibuldozer atau tak diizinkan melewati pos pemeriksaan. (INA)
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Habib Rizieq Shihab membantah pernyataan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, yang mengatakan bahwa Habib Rizieq dikeluarkan dari tahanan kepolisian Saudi dengan jaminan. Agus tidak menjelaskan lebih lanjut apa jaminan yang dimaksud.
“Jadi saya dilepas oleh kepolisian Saudi karena saya sebagai korban, jadi dilepas tanpa jaminan apapun. Jadi kalau ada yang mengatakan dengan jaminan ini jaminan itu, itu semua bohong, dan itu semua adalah berita palsu,” tegas Habib Rizieq dalam video yang diunggah di Youtube oleh FrontTV, channel resmi Front Pembela Islam (FPI) pada Jumat (9/11/2018) malam.
Ia pun membantah telah ditangkap oleh kepolisian Saudi. “Jadi tidak betul kalau ada berita saya ditangkap, saya ditahan, rumah saya disergap, kemudian digeledah, itu semua bohong,” katanya.
Habib Rizieq menyayangkan pernyataan KBRI yang terlalu berlebihan. Sebab, kata dia, banyak pernyataan KBRI yang disampaikan kepada media tidak sesuai dengan fakta.
“Saya ingin mengingatkan KBRI yang ada di Riyadh supaya tidak membuat pernyataan-pernyataan yang terlalu didramatisir, hati-hati. Karena apa-apa yang dijadikan pernyataan resmi yang keluar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,” tuturnya.
Rizieq juga mengingatkan untuk jangan lagi bercerita soal adanya pasukan khusus diplomatik. Dia meminta kejadian ini tidak didramatisir.
“Begitu juga saya ingatkan kepada mereka jangan lagi bercerita adanya pasukan khusus diplomatik, yang disiapkan dengan metode seperti ini, sistem seperti itu, jangan didramatisirlah. Kita bicara yang normal saja, yang wajar saja,” ujarnya.
Sebelumnya, Agus Maftuh mengatakan kepada media bahwa kepolisian Saudi telah menahan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab karena adanya aduan dari warga mengenai bendera yang terpasang di rumah imam besar FPI itu di Mekah. Bendera hitam berkalimat tauhid itu dianggap pelapor sebagai bendera yang mirip dengan bendera ISIS.
Habib Rizieq juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah yang telah mendampingi kekonsuleran.
“Saya berterimakasih atas bantuan yang diberikan oleh KJRI di Jeddah tapi saya minta KBRI yang ada di Riyadh jangan terlalu berlebihan di dalam memberikan keterangan pers. Jadi jangan melalukan pencitraan yang tidak perlu karena akan mengantarkan kepada fitnah yang akan merugikan sendiri,” pungkasnya.