Berita Terkini

Arab Saudi Diterjang Banjir Bandang 35 Orang Tewas

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 35 orang tewas akibat banjir bandang di Arab Saudi dalam sebulan terakhir, menurut Otoritas Pertahanan Sipil (Civil Defense Authority) kerajaan pada hari Selasa (20/11/2018), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengatakan kota Mekah melaporkan jumlah korban jiwa tertinggi, di mana 11 orang tewas akibat cuaca buruk.

Baca juga: 18 Orang Tewas dan 915 Terjebak akibat Hujan Lebat dan Banjir di Arab Saudi

Sebanyak 4.038 orang telah dievakuasi karena banjir, tambahnya dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi SPA.

Menurut pernyataan itu, sekitar 2.517 orang telah diselamatkan, sementara 2.536 lainnya telah ditampung di tempat perlindungan.

Hingga Kini Turki Telah Bantu 1.3 Juta Muslim Rohingya

TURKI (Jurnalislam.com) – Yayasan Bantuan Kemanusiaan yang berbasis di Istanbul (IHH) sejauh ini telah menolong 1,3 juta Muslim Rohingya sejak krisis di negara bagian Rakhine Myanmar mulai berlangsung pada 25 Agustus 2017.

Menurut sebuah pernyataan oleh IHH, mereka telah menyediakan makanan, air, tempat tinggal, barang-barang perawatan pribadi dan pakaian serta fasilitas kesehatan dan rehabilitasi untuk keluarga Rohingya di Bangladesh, Myanmar, dan India sejak tahun 1996.

Lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak, dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke negara tetangga Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut pada bulan Agustus 2017, menurut Amnesty International.

Baca juga:

 

IHH membangun 7,432 unit rumah bambu yang dilengkapi dengan panel surya dan bermaksud untuk membangun 13.000 lagi, katanya.

Unit-unit perumahan yang mereka bangun dipajang sebagai model oleh Organisasi Migrasi Internasional PBB (the International Migration Organization-IMO) kepada organisasi non-pemerintah lainnya yang bekerja untuk bantuan kemanusiaan di daerah itu, tambahnya.

Tenda juga telah didistribusikan kepada 16.365 keluarga sementara tikar jerami telah diberikan kepada 12.540 keluarga yang tinggal di kamp-kamp baik di Myanmar dan Bangladesh, kata pernyataan itu.

Menlu Turki Bahas Kasus Khashoggi dengan Sekjen PBB di New York

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, bertemu di balik pintu tertutup hari Selasa (20/11/2018) untuk membahas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Keduanya bertemu setelah Cavusoglu berbicara di Forum Global Aliansi Peradaban ke-8 (the 8th Global Forum of the Alliance of Civilizations), yang diadakan di markas besar PBB di New York.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mencatat bahwa selain membahas pembunuhan Khashoggi, Cavusoglu dan Guterres juga berbicara tentang perang di Yaman dan Suriah, serta Siprus.

Dujarric menambahkan bahwa PBB belum menerima permintaan resmi untuk penyelidikan internasional ke dalam kasus Khashoggi.

Baca juga:

Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah awalnya Pemerintah Arab mengatakan dia telah meninggalkan konsulat dalam keadaan masih hidup, pemerintah Saudi akhirnya mengakui beberapa pekan kemudian bahwa dia terbunuh di sana.

Investigasi atas insiden itu menunjukkan regu pembunuh khusus datang ke konsulat, menyisir Hutan Belgrad Istanbul dan mencoba untuk menutupi bukti di gedung konsulat.

52 Anak-anak Palestina Dibunuh oleh Pasukan Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel telah menewaskan sedikitnya 52 anak-anak Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak 1 Januari, Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (Defense for Children International-Palestine-DCI-P) mengatakan pada hari Senin (19/11/2018).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada kesempatan Hari Anak Internasional (20 November), LSM cabang Palestina yang bermarkas di Jenewa tersebut mengatakan 48 dari kematian itu terjadi di Jalur Gaza yang diblokade sementara sisanya terjadi di Tepi Barat yang dijajah Israel.

LSM itu terus melaporkan militer zionis menggunakan kekerasan berlebihan – termasuk peluru tajam – terhadap anak-anak.

Baca juga:

Tahun ini, di antara anak-anak yang terbunuh sejauh ini oleh pasukan zionis, 18 ditembak di kepala, sementara 21 lainnya ditembak di dada, leher atau perut, menurut DCI-P.

LSM tersebut juga mencatat bahwa lebih dari 2.070 anak-anak Palestina telah terbunuh – baik oleh pasukan Israel, polisi atau para pemukim Yahudi – sejak tahun 2000.

Menurut Perkumpulan Tahanan Palestina (the Palestinian Prisoners Society), diperkirakan 350 anak di bawah umur Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel.

Wisata Ruhani Hijrah Fest

Oleh : Rizki Lesus, Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

“Sungguh sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang,”

Seorang artis kesohor, selebritas negeri ini tak kuasa menyembunyikan keharuannya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan apa yang dilihatnya. Di hadapan ribuan orang, ia menahan agar air matanya tak tumpah.

Dirinya tak pernah menyangka, helatan bertema ‘hijrah’ ini mampu menyedot antusiasme dari para muda-mudi yang membanjiri Ibu Kota. Ada rasa yang sulit diungkapkan, sesuatu yang menggedor-gedor jiwanya. Perasaan yang mungkin dulu sangat sulit ia ungkapkan.

“Saya bahagia,” lirihnya singkat. Diusapnya air mata, dilanjutkannya berjalan-jalan – ditemani panitia bertopi hitam dan berompi bertulisan Protocol. Apa gerangan yang membuat sang artis begitu bahagia?

Jawaban ini boleh jadi kita temukan ketika kita merasakan sendiri suasana Hijrah Fest 2018 selama tiga hari (9-11/11/2018). Ribuan orang ini datang entah dari mana, berbaris rapi, melewati pintu yang dipisahkan antara lelaki dan perempuan.

Dibukanya alas kaki kita -laiknya masuk ke masjid-, hingga diberi tas cool sebelum kita masuk hall Jakarta Convention Center (JCC). Di dalamnya, beragam stand tentang feysen, NGO (baik kemanusiaan, lembaga zakat, wakaf, dll), produk halal – seperti kulkas halal, deterjen halal dan tentunya makanan-, dan masih banyak lainnya.

Ketika azan menggantung di langit-langit, beringsut took mini tersebut harus setop aktivitas dulu. Pernah, saking penuhnya, lorong-lorong stand tersebut dipakai juga sebagai tempat shalat- disamping tempat utama shalat di Hall B, ruang besar di depan panggung utama.

Pemandangan janggal di dalam sebuah ruang pertemuan umum.  Pertanyaan tentu kita lontarkan, apa sebenarnya yang membuat muda mudi ini datang? Acara ini bukan helatan seperti bioskop, konser atau semacam acara hiburan.

“Saya merasa tenang di sini,” kata seorang mantan personel band yang duduk di ruang besar hall B, menanti kajian dari para ustaz dan dai seperti Ustaz Abdul Somad, Ustaz Bachtiar Nasir, Ustaz Yusuf Mansur, ustaz Adi Hidayat, dan masih banyak lainnya.

Apakah karena ustaz mereka datang? Tampaknya tidak juga – bahkan ada yang datang karena ingin bisa bersua komunitas hijrah lainnya-. Agaknya memang sedikit membingungkan, membayangkan generasi milenial mengantre, berebut tiket dengan harga dua kali lipat bioskop.

“Saya dapat info tiket sudah habis. Tapi Alhamdulillah, tadi ada dermawan yang mebagikan gratis,” kata seorang wanita berjilbab stylish. Generasi milenial muslim- yang berusia antara 18 -34 ini- datang berduyun-duyun, ada sesuatu yang membuat mereka rasakan.

Seperti mantan personel band tadi, ada harapan akan ketenangan di tempat ini, selain tentunya kegembiraan yang sulit digambarkan laiknya artis kita tadi yang kembali ingin meneguhkan komitmennya untuk hijrah dengan materi-materi dari para guru mereka.

Belum lagi, ia bersua dengan pelbagai komunitas hijrah. Berkomunitas digital hingga offline adalah salah satu ciri khas generasi milenial. Melalui komunitas ini, gaung acara ini begitu cepat tersebar di dunia digital.

Saya yakin, seandainya tiket itu lebih mahal, bagi orang-orang yang ingin menemukan sebuah value, ia pasti akan datang. Hijrah fest, seperti menjadi sebuah tempat wisata baru, wisata ruhani.

“Mereka mencari spiritual value. Menariknya konsumen muslim Indonesia, semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology savvy, justru mereka semakin religius,” kata Yuswohady dalam bukunya Marketing to Middle Class Moslem (2014).

Orang-orang yang disebut Yuswohady Gen @M ini, orang yang tech savvy, melek dengan dunia digital, terhubung dengan komunitas. Mereka mencari value,  nilai-nilai yang hanya bisa dirasakan secara personal.

Generasi milenial ini, kata Dr. Muhammad Faisal- yang telah meriset tentang pemuda di lembaganya Youth Lab- adalah generasi muslim Indonesia yang ingin berubah menjadi lebih baik, lebih saleh dan lebih dekat dengan agama. (lihat : Bukunya Generasi Phi : Memahami Milenial Pengubah Indonesia, 2018: hlm. 142 – 143).

Keterbukaan informasi, kajian-kajian daring yang dilakukan para ustaz – yang kebanyakan hadir di Hijrah Fest- mempertemukan mereka.”Mereka merasa bahwa menampilkan identitas keislamannya adalah penting dalam kehidupannya,” kata Yuswohady.

Maka, bukalah mata lebar-lebar menyaksikan generasi baru ini : muslim milenial Indonesia. Mereka yang bangga akan keislamannya dan ingin orang lain merasakan apa yang mereka rasakan. Gerakan ini akan terus tumbuh seiring bertumbuhnya kelas menengah muslim Indonesia.

Memang, dalam literatur lama dunia Islam, orang-orang muda yang berada di sekitar sang Nabi, tercatat orang-orang pertama yang memenuhi seruan sang Nabi untuk berislam.

Lihat saja remaja yang saat itu berusia 12 tahun bernama Zubari bin Awwam. Atau pemuda berusia 17 tahun yang bernama Saad Ibn Abi Waqash. Kita juga tahu orang-orang seperti Mush’ab Ibn Umair, Utsman Ibn Affan, hingga belakangan Umar Ibn Khattab.

Gerakan hijrah ini disambut luas oleh anak-anak muda, karena itulah fitrah. Ada sesuatu yang bergerak dalam hati ini, menyapa kita, mengetuk nurani, mengajak akal kita bertanya-tanya.

Berjuta pertanyaan muncul di benak anak-anak muda yang masih mencari identitas diri. Sampai suatu titik, ketika Allah berkehendak memberikan jalan-jalannya, kesempatan itu kembali ke diri kita.

Selalu ada jalan Tuhan untuk memanggil diri ini untuk kembali. Lihatlah bagaimana  Lihatlah bagaimana ketika Fir’aun berkata,”Saya adalah Tuhan kalian.” Di tengah kepongahannya, selalu ada jalan untuk Fir’aun kembali.

Diutuslah dua orang Nabi: Musa dan Harun untuk menyerukan kepadanya agar berhijrah! Fir’aun yang sudah mengaku Tuhan, Allah berikan jalan untuk berhijrah melalui utusannya. Namun Fir’aun menolak jalan tersebut.

Bagaimana dengan kita? Dengan ke Maha Pengasihnya, kita yang bergelimang dosa – walau tak sampai seperti Fir’aun yang mengaku- tentu pernah merasakan panggilan jiwa itu. Panggilan – fitrah- untuk kembali, panggilan untuk kembali berhenti sejenak dari riuhnya kehidupan sekitar kita.

“Sungguh sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang,” catat Tere Liye dalam novelnya yang berjudul Pulang.

Terkadang kita merasa bahwa diri ini begitu hina, kotor, namun itu tidak berarti pintu kebaikan telah terkunci rapat. Kita selalu ingat pesang sang Nabi,“Manusia adalah tempat berbuat salah dan khilaf”.

Manusiawi memang, dan inilah pesan kemanusiaan : tak ada insan yang lepas dari kesalahan karenanya kita disebut insan– makhluk yang nisyan (pelupa). Lihatlah ketika ribuan orang ini ini menangis, menangkupkan tangannya.

Pada suatu titik – kita – akan mudah meneteskan air mata, karena kesadaran dalam jiwa ini mampu menggugah sejumlah khilaf dalam diri ini. Dalam kondisi kesadaran seperti itu, hijrah menjadi sebuah jawaban.

Itulah kemurahan Allah bagi kita manusia yang tak pernah lolos dari khliaf. Ada pintu salah dan khilaf di dalam diri ini. Ada pula pintu taubat di sana. Pertanyaannya muncul. Akankah kita bergerak ke sana, atau kita hanya berdiam diri?

Pintu ini terbuka lebar bagi siapapun selama helaan nafas berjarak dengan takdir kematian. Hijrah adalah ikhtiar kita untuk kita melangkah, meniti jalan pulang yang pasti tiba.

Kita tentu ingat tentang kisah pembunuh 100 orang yang menempuh jalan untuk berhijrah untuk mendapat ampunanNya. Langkah kakinya menghantarkannya kepada surga Allah. Subhanallah!

Kini, bersiap-siaplah, untuk mendengar seruan dari nurani terdalam. Ketika panggilan itu datang, maka sambutlah! Perjalanan masih sangat panjang. Dalam kesabaran, ia akan menjadi semacam wisata ruhani yang akan membawa kita pada suatu titik yang hanya bisa dirasakan secara personal.

“Ya Tuhan kami, jangalanlah Engkau jadikan hati kami menyimpang kepada kesesatan, setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlaj kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (Karunia).”

Buya Gusrizal kepada PSI : “Sudahlah Tuan Muda, Kami Sudah Terlatih”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar kembali respon pernyataan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terkait penolakan terhadap perda syariat.

Gusrizal menegaskan, pernyataan Ketua PSI telah menyentuh bagian penting dari kehidupan umat Islam. Untuk itu, ia merasa perlu untuk membuat garis pemisah antara pemikiran PSI dan umat Islam.

“Saya bukan politisi, tapi tuan-tuan menyentuh bagian penting sendi kehidpan kami. Karena itu, saya buat garis pemisah antara pikiran tuan-tuan dengan umat terutama di Ranah Minang, karena bahasa bersayap yang tuan dan puan pakai sebagai pembelaan semakin menyingkap maksud dan pikiran,” tulis Buya Gusrizal dalam akun facebook miliknya, Selasa (20/11/2018).

Sebelumnya, Buya merespon pernyataan Ketua Umum PSI, Grace Natalie yang menolak perda-perda berbasis agama termasuk perda syariat dengan alasan berpotensi memicu konflik.

Pada Kamis (15/11/2018), dalam akun facebooknya, Buya Gusrizal mengajak umat Islam untuk tidak memilih partai yang menolak syariat Islam. Menurutnya, syariat Islam telah menjadi bagian dari perundang-undangan di Indonesia.

“Bila memang demikian posisi tuan-tuan dan puan-puan, saya tak akan bergeser dari sikap bahwa umat Islam terutama di Ranah Minang, HARAM mengamanahkan perwakilan mereka kepada partai dan calon-calon yang tidak setuju dengan nilai-nilai syari’ah karena syari’at Islam harus ada dalam aturan dan perundang-undangan di negeri ini. Perlu tuan-tuan dan puan-puan catat bahwa syari’at Islam telah menjadi bagian dari perundang-undangan di negeri ini!” tegasnya.

Menanggapi pernyataan itu, Juru Bicara PSI, Guntur Romli mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam hal itu. Akan tetapi ia menjelaskan, keputusan PSI itu sebagai upaya untuk memuliakan agama agat tetap pada tempatnya.

“PSI sangat memuliakan agama dan ingin agama tetap pada tempatnya dan PSI melihat agama ingin pada tempatnya, bukan dijadikan sebagai alat bagi politik,” kata Guntur sebagaimana dikutip tribunnews, Senin (19/11/2018)

Guntur menyatakan, syariat dan perda syariat itu dua hal yang berbeda. Syariat itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala sementara perda syariat itu buatan manusia.

“Jadi kita jangan menyamakan antara syariat dan perda syariat, jadi itu dua hal yang harus dibedakan,” ujar dia.

Buya Gusrizal kembali menanggapi. “Tidak membenci syari’at Islam tapi menempatkan agama dan syariat dalam porsinya masing-masing. Sudahlah tuan-tuan muda! Kami sudah lama terlatih membaca yang tersirat bahkan yang tersuruk di balik kalimat yang tuan-tuan susun,” tulis Buya dalam akun facebooknya, Selasa (20/11/2018).

Gusrizal menegaskan, dirinya siap mempertanggungjawabkan pernyataan tersebut di dunia dan akhirat. “Saya pertanggungjawabkan pernyataan saya dunia dan akhirat!!!” tegasnya.

PKS: PSI Tak Memahami Pancasila Secara Utuh

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sikap politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menolak perda-perda agama (perda syariah atau perda injil) dinilai Fraksi PKS DPR sebagai bentuk ketidakpahaman terhadap falsafah dan dasar negara Pancasila dan konstitusi UUD 1945.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini ketika dimintai komentar soal pernyataan Ketum PSI, Grace Natalie yang menimbulkan polemik. Untuk itu, Fraksi PKS menyarankan agar PSI memahami konstitusi dan Pancasila secara utuh.

“Sebagai sikap politik sah-sah saja, tapi sebagai sesama warga bangsa tentu kita perlu mengingatkan dan mengoreksi sikap tersebut. PSI tidak paham utuh Pancasila dan UUD 1945 yang menempatkan agama dalam posisi yang penting, yang menjiwai semangat kebangsaan, dan yang terpenting menjadi landasan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (19/11/2018).

Sikap politik PSI itu, kata Anggota Komisi I DPR ini, sebagai bentuk phobia agama yang bisa saja bertendensi memisahkan nilai-nilai agama dalam laku kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita perlu tanya dengan jelas kepada PSI apa yang mereka maksud dengan perda-perda agama yang mereka tolak. Umumnya perda-perda tersebut mengatur ketertiban hidup bermasyarakat, lebih dari itu bertujuan untuk menjaga moral dan akhlak masyarakat. Apa ini yang mereka tolak?,” tanya Jazuli.

“PSI harus membaca semangat Pancasila dan UUD 1945”, tantang Jazuli.

Ia menjelaskan, Pancasila dan UUD 1945 sangat jelas menjadikan nilai-nilai agama sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan secara eksplisit dalam pembukaan UUD 1945, sila pertama Pancasila, Pasal 29 yang menyatakan negara berdasar atas Ketuhanan YME dan jaminan kebebasan beragama, Pasal 28J bahwa pelaksanaan hak asasi tidak boleh bertentangan dengan nilai agama, hingga Pasal 31 tentang visi pendidikan nasional untuk menghasilkan SDM yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

“Oleh karena itu perda-perda bahkan undang-undang bukan saja menyerap nilai agama akan tetapi wajib mengambil nilai-nilai tersebut. Negara melalui perangkat aturannya wajib menjamin pelaksanaan nilai agama dilaksanakan secara konsekuen. Itulah mengapa lahir UU Peradilan Agama, UU Haji, UU Zakat, UU Perbankan Syariah, UU Jaminan Produk Halal dan kita terima melalui proses bernegara antara DPR dan Pemerintah. Apa ini ditolak juga oleh PSI?” tandasnya.

Untuk itu, Anggota DPR Dapil Banten ini berpesan agar PSI tidak mengambil posisi diametral atau bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945. Sebaliknya, mari kita sama-sama kokohkan semangat keberagamaan di republik ini agar Indonesia semakin diberkahi Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Fraksi PKS ini menilai PSI termasuk partai anak-anak muda, yang bisa jadi waktu di SMP dan SMA nya sudah tidak lagi belajar PMP jadi mungkin saja tidak bisa memahami dasar negara dan konstitusi secara utuh. Oleh karena itu, atas nama Fraksi PKS Jazuli meminta kepada Mendiknas agar memasukkan kembali pelajaran PMP mulai dari SD sampai SMA agar anak bangsa ini memahami dasar negara dan konstitusinya secara utuh.

DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Kematian Wartawan Dufi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil, mengecam pembunuhan seorang wartawan asal Jakarta, Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi. Menurutnya, pembunuhan itu sangat keji dan sadis, bahkan memperlakukannya seperti binatang.

“Saya mengecam dan mengutuk kematian yang dialami dufi yang mengenaskan itu,” terangnya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (19/11/2018).

Dia mengatakan, apapun alasannya, menghilangkan nyawa orang merupakan sebuah pelanggaran hukum.

Apalagi, jika dikemudian hari ditemukan bahwa pembunuhan tersebut berkaitan dengan profesi Dufi. Maka apa yang dilakukan oleh pelaku bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku khususnya UU Pers No. 40 tahun 1999.

“Jika pembunuhan itu direncanakan maka pelaku bisa dihukum mati,” ujarnya.

Dia berharap aparat kepolisian bersungguh-sungguh untuk mengungkap dan mengusut tuntas kasus Dufi.

“Saya berharap aparat kepolisian bertindak cepat menemukan pelakunya. Kita tidak ingin, pelaku sadis ini berkeliaran bebas terlalu lalu lama,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Jasad Dafi ditemukan warga di dalam drum plastik berwarna biru dekat kantor Polsek Klapanunggal Bogor, Jawa Barat, Minggu pagi (18/11/2018).

Pada jasad korban ditemukan sejumlah luka sabetan senjata tajam.

Kondisi mayat ditemukan sangat mengenaskan karena drum diisi air. Korban diduga kuat berasal dari luar bogor dan diduga merupakan korban pembunuhan lantaran warga sekitar tak ada yang mengenalinya.

Mengintip Serunya Trend Olahraga Berkuda dan Memanah Anak-anak di Serang

SERANG (Jurnalislam.com) – Olahraga sunnah berkuda dan memanah menjadi trend akhir-akhir ini. Meski masih tergolong olahraga mahal bagi sebagian masyarakat, namun antusiasme tetap begitu besar dengan olahraga seruan nabi ini.

Di Serang, Banten rupanya olahraga sunnah ini tidak hanya trend dikalangan dewasa, namun menjadi trend juga di kalangan anak-anak usia dini.

Hal ini tampak dari padatnya jadwal kunjungan edukasi dari sekolah-sekolah anak usia dini ke John Stable, salah satu Stable (tempat berkuda) di kota Serang. Seperti hari ini, Senin (19/11/18), John Stable yang terletak di Waringin Kurung, Serang, kedatangan sisw- siswi dari TK Khalifah untuk melakukan eduvisit (belajar) disana.

Keseruan eduvisit anak-anak di John Stable, Serang. Foto: Jumi/Jurnis

“Alhamdulillah sejak bulan Oktober, hampir tiap hari ada kunjungan edukasi ke tempat kami,” ungkap Jhony Irawan pemilik wahana edukasi berkuda John Stable dilokasi.

“Anak-anak TK disini didampingi pelatih, mereka mencoba olahraga berkuda dan memanah, selain itu juga mereka dikenalkan pakan kuda dan cara berinteraksi yang baik dengan kuda, seperti bagaimana kita menyayangi kuda, mereka semua antusias,” jelasnya.

Anak-anak belajar memanah

Meski awalnya beberapa anak ada yang takut menunggang kuda, kata dia, namun setelah berhasil membujuknya, mereka pun akhirnya merasa enjoy di atas kuda.

Selain memperkenalkan olahraga sunnah yang sedang trend, salah satu alasan sekolah-sekolah mengadakan eduvisit berkuda dan memanah adalah manfaat yang cukup banyak.

“Dengan berkuda, anak-anak berlatih ketenangan dan rasa percaya diri dan dengan memanah anak-anak belajar fokus dan konsentrasi,” papar Ayu, salah satu koordinator eduvisit TK Khalifah saat diwawancarai oleh Jurnalislam.com.

Begini Pembicaraan Taliban dengan AS di Qatar

QATAR (Jurnalislam.com) – Para pejabat Imarah Islam Afghanistan (Taliban) telah mengadakan pembicaraan tiga hari dengan perwakilan khusus Amerika Serikat untuk Afghanistan di Qatar, Zalmay Khalilzad, guna memperbarui proses perdamaian di negara yang dilanda perang itu, kata seorang pejabat kelompok pejuang bersenjata itu.

Pembicaraan, yang berakhir pada hari Ahad, dikonfirmasi oleh orang lain yang dekat dengan Taliban, yang berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk membahas negosiasi.

Taliban mengatakan proses dialognya dengan Washington bertujuan untuk mengamankan jadwal penarikan semua pasukan AS dan NATO dari Afghanistan untuk membuka jalan bagi dialog antar-Afghanistan.

Pekan lalu, lima anggota delegasi Taliban telah menghadiri pembicaraan di Moskow untuk pertama kalinya pada konferensi internasional demi membahas upaya perdamaian Afghanistan.

“Fase kedua (diskusi) harus diadakan di antara warga Afghanistan (sendiri) tentang bagaimana mewujudkan perdamaian dan membentuk pemerintahan di Afghanistan,” Sohail Shaheen, seorang juru bicara Taliban yang berbasis di Qatar, mengatakan kepada wartawan di Moskow pekan lalu.

Taliban melaporkan bahwa dalam pertemuan dengan Khalilzad, mereka juga menginginkan pembebasan tahanan dan penghapusan larangan perjalanan internasional pada pemimpin senior Taliban.

Dalam pernyataan panjang yang dikeluarkan awal bulan ini, Taliban menuntut pencabutan sanksi terhadap pemimpin kelompok, pembebasan tahanan dan pengakuan kantor mereka di Qatar.

Atas permintaan AS, sebuah kantor Taliban didirikan di Doha pada tahun 2013 untuk memfasilitasi perundingan damai tetapi ditutup tidak lama setelah karena mengibarkan bendera yang sama selama pemerintahan Taliban di Afghanistan di luar gedung.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai kemudian menghentikan upaya perdamaian, mengatakan kantor di Doha menampilkan diri sebagai kedutaan tidak resmi untuk pemerintah di pengasingan.

Baca juga: 

Bendera itu telah diturunkan dan kantor telah kosong tanpa pengumuman resmi tentang kemungkinan pembukaan kembali. Pembicaraan dengan Taliban terjadi di tempat lain di Doha.

Orang lain yang dekat dengan pembicaraan, yang juga berbicara dengan syarat anonimitas karena sensitivitas pembicaraan, mengatakan Khalilzad ingin mencapai penyelesaian dalam waktu enam bulan, skala waktu yang menurut Taliban terlalu pendek.

Khalilzad juga mengusulkan gencatan senjata, yang ditolak Taliban, kata orang itu, menambahkan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai pembebasan tahanan, membuka kantor kelompok atau mencabut larangan perjalanan bagi para pemimpinnya.

Dilaporkan bahwa Khairullah Khairkhwa, mantan gubernur Taliban untuk wilayah Herat, dan Mohammed Fazel, mantan kepala militer Taliban, menghadiri pembicaraan marathon itu.

Khairkhwa dan Fazel termasuk di antara lima anggota senior Taliban yang dibebaskan dari penjara AS di Teluk Guantanamo pada 2014 sebagai ganti tentara AS, Bowe Bergdahl, yang ditangkap oleh Taliban setelah meninggalkan markasnya di Afghanistan pada 2009.

Presiden AS Donald Trump mengecam keras pertukaran tahanan tahun 2014 tersebut dan dalam sebuah pidato Agustus lalu berjanji untuk mengirim pasukan tambahan dan melipatgandakan upaya untuk mengalahkan Taliban.

Namun strategi itu tidak banyak berpengaruh di lapangan, karena Taliban menjaga tempo serangan.

Administrasi Trump sekarang tampaknya fokus pada pencapaian penyelesaian politik dengan Taliban, dimulai dengan diadakannya pembicaraan langsung. Taliban telah lama menolak tuntutan AS untuk bernegosiasi dengan pemerintah yang didukung Barat di Kabul, yang mereka anggap sebagai rezim boneka.

Orang ketiga yang mengetahui diskusi itu mengatakan Taliban menekan penundaan pemilihan presiden tahun depan dan pembentukan pemerintah sementara di bawah kepemimpinan yang netral.

Abdul Sattar Sirat, seorang etnis Tajik dan ulama Islam, disarankan sebagai kandidat untuk memimpin pemerintahan sementara.

Sementara itu Pakistan telah membebaskan sejumlah tahanan tingkat tinggi Taliban, termasuk pendiri gerakan itu, Mullah Abdul Ghani Baradar. Pembebasan itu secara luas dilihat sebagai langkah yang diarahkan AS yang bertujuan mendorong Taliban berpartisipasi dalam pembicaraan.

Khalilzad telah mengunjungi wilayah itu dalam beberapa hari terakhir, dan dilaporkan bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada hari Ahad. Dia diharapkan untuk menekan Ghani agar memperbaiki tim negosiasinya sendiri, yang bisa menjadi sulit mengingat perpecahan yang mendalam di dalam pemerintahan.

The Wall Street Journal, mengutip seseorang yang akrab dengan pertemuan itu, mengatakan Khalilzad bertemu dengan para pejabat Taliban di Doha untuk kedua kalinya dalam empat bulan. Para pejabat AS tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar karena Departemen Luar Negeri telah menolak untuk mengomentari pembicaraan yang dilaporkan dengan Taliban.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengucapkan terima kasih kepada Qatar saat berbicara sebelum pertemuan di Washington pada hari Selasa dan mengatakan: “Kami mengakui Qatar sebagai teman lama dan mitra militer untuk perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah serta pendukung misi NATO di Afghanistan, dan di sini saya harus mencatat bahwa pengiriman material Qatar yang sangat sukses dari Hongaria untuk misi NATO di Afghanistan adalah bukti jangkauan global Anda.”