Berita Terkini

Turki Tunda Operasi Militer Anti Teror Dukungan AS di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ankara akan menunda operasi anti-terorisme di timur Sungai Efrat, Suriah, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Jumat (21/12/2018).

“Percakapan telepon yang kami lakukan dengan [Presiden AS Donald] Trump, serta kontak unit diplomatik dan keamanan kami, dan pernyataan yang dibuat oleh pihak Amerika membuat kami menunda sebentar [untuk operasi di sebelah timur Sungai Efrat ]

“Tentu saja ini bukan proses menunggu yang tanpa akhir,” kata Erdogan pada upacara penghargaan di Istanbul.

Pernyataan Erdogan muncul setelah Trump pada hari Rabu memerintahkan pasukan AS untuk menarik diri dari Suriah, mengatakan IS telah dikalahkan.

Presiden menegaskan bahwa Turki “tidak memiliki mata” pada wilayah Suriah, menambahkan: “Tapi, posisi kita melawan serangan teroris (YPG) yang menargetkan kita dari Suriah sudah jelas.”

Baca juga:

Sebuah misi di timur Sungai Eufrat, yang telah direncanakan oleh kepemimpinan Turki selama berbulan-bulan, akan mengikuti dua operasi Turki lintas batas yang berhasil ke Suriah sejak 2016, yaitu Operasi Euphrates Shield dan Olive Branch. Kedua operasi itu dimaksudkan untuk membasmi kehadiran YPG / PKK dan Teroris IS  di dekat perbatasan Turki.

“Keamanan regional sangat penting bagi kami. Langkah-langkah yang kami ambil di kawasan itu bersama dengan Rusia dan Iran bertujuan untuk memastikan keamanan regional,” kata Erdogan.

Presiden mengatakan bahwa Turki berkewajiban untuk mengambil alih peran penjaga perdamaian di Suriah.

Erdogan juga menegaskan bahwa Turki akan melanjutkan tindakannya dalam beberapa bulan mendatang untuk menghapus elemen PKK / PYD dan IS dari Suriah.

Dalam lebih dari 30 tahun operasi terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki – telah bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak. YPG adalah PKK cabang Suriah.

Terhadap keberatan Turki, AS telah bekerja  sama dengan PKK / YPG, dan menyebut mereka “sekutu” dalam pertempuran di Suriah, tetapi mengabaikan status teroris mereka.

3 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Jumat di Perbatasan dan 40 Lainnya Terluka

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tiga warga Palestina terbunuh pada hari Jumat (21/12/2018) – dan hampir 40 orang terluka – saat ikut serta dalam aksi protes yang sedang berlangsung di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Mohamed Mouin al-Jahjouh, seorang demonstran berusia 16 tahun, terbunuh setelah dipukul lehernya oleh tembakan tentara penjajah Israel, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

40 pengunjuk rasa Palestina lainnya – termasuk empat petugas medis dan dua wartawan – mengalami luka-luka, kata kementerian itu.

Kemudian di hari itu juga, dua orang yang terluka, Abdulaziz Abu Sharia, 28, dan seorang warga yang cacat Maher Yasin, 40, meninggal akibat terluka parah, kata kementerian itu.

Selama 39 pekan berturut-turut, warga Palestina berkumpul di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel setiap hari Jumat untuk ikut serta dalam demonstrasi yang sedang berlangsung melawan penjajahan Israel yang telah berjalan selama beberapa dekade.

Aksi Gaza hari Jumat ini diadakan dengan slogan, “Menghormati para pejuang perlawanan (Honoring heroes of the resistance)”.

Baca juga: 

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Nasional Gaza untuk Membongkar Pengepungan (National Authority for Breaking the Siege) mendesak anggota masyarakat untuk ambil bagian dalam demonstrasi hari Jumat.

“Demonstrasi ini mendapat kekuatan dari para pahlawan perlawanan dan dari pengorbanan mereka,” bunyi pernyataan itu.

Pernyataan tersebut juga mendesak rakyat Palestina untuk “meningkatkan segala bentuk perlawanan terhadap penjajahan Israel”.

Para pengunjuk rasa menuntut hak untuk kembali ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah, sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade Israel selama 12-tahun atas Jalur Gaza, yang memusnahkan ekonomi daerah kantong pantai dan merampas banyak komoditas pokok bagi sekitar dua juta penduduknya.

Sejak aksi unjuk rasa pertama kali dimulai pada 30 Maret, lebih dari 240 warga Palestina telah gugur – dan ribuan lainnya terluka – oleh pasukan zionis Yahudi yang dikerahkan di dekat zona penyangga, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Sepenggal Cerita Emak-emak dalam Aksi Bela Uighur Banten

SERANG (Jurnalislam.com) – Aksi bela muslim Uighur, Xinjiang, Cina telah dilakukan di sejumlah titik di Indonesia, mulai dari Jakarta, tepatnya di Kedubes Cina, Kuningan, Jakarta Selatan hingga belahan bumi timur, Nusa Tenggara Barat.

Kendati demikian, ada sepenggal cerita menarik dari salah satu peserta aksi. Ya, kumpulan ibu atau yang kini biasa disebut emak-emak.

Di Serang, Banten tepatnya sekitar lima puluh emak-emak yang tergabung dalam Persatuan Islam Istri atau disngkat Persistri daerah Padarincang, Banten turut meramaikan aksi bela Uighur Banten yang baru saja kemarin, Jumat (21/12/2018) digelar.

Emak-emak ‘militan’ terhadap sesama gender yang menderita di Uighur dalam berbagai bentuk penderitaan dan penyiksaan ini, turun ke jalan untuk menyuarakan pembelaan dan kepedulian.

“Ibu kasian lihat saudara muslim disana, salat gak boleh, perempuannya diperkosa, kejam itu, gimana kalau itu terjadi sama anak ibu,” papar emak Njum Jumaenah, disela-sela aksi.

Emak-emak rela dan mantap mengikuti rangkaian aksi. Melakukan jalan kaki atau longmarch sekitar lima kilometer dari Masjid Agung At-Tsauroh Serang menuju Alun-alun Barat kota Serang bukanlah sesuatu yang mudah.

Namun begitu, ia bersama ratusan anggota Persis Padarincang tetap mantap menyuarakan kebenaran dan keadilan yang sebenarnya telah diatur dan diamanatkan dalam dasar negara.

Aksi Bela Uighur Dompu, NTB: Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa!

DOMPU (Jurnalislam.com) – Ratusan umat Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Kabupaten Dompu, NTB menggelar aksi bela muslim Uighur di DPRD Dompu, Jumat (21/12/2018).

“Kemerdekaan adalah Hak segala bangsa, sebagaimana di amanatkan oleh konstitusi kita. Kami menolak dengan tegas segala bentuk kezaliman yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan,” kata juru bicara FUI Dompu, Muhammad Taqiyuddin disela-sela aksi.

Selain itu, ia juga membacakan sejumlah pernyataan sikap FUI.

1. Menolak dengan tegas pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam bentuk apapun.

2. Kami mendesak pemerintahan Cina untuk menghentikan kejahatan kemanusian terhadap muslim Uighur.

3. Kami mendesak pemerintah Republik Indonesia dan negara-negara muslim lainnya untuk melakukan langkah diplomatik dalam rangka perdamaian dan penegakan Hak Asasi Manusia terhadap nasib muslim Uighur.

4 . Mengimbau kepada umat Islam untuk memberikan dukungan moral dan dana untuk membantu saudara muslim Uighur.

Diketahui, aksi massa solidaritas tersebut dimulai seusai salat Jumat dari masjid Baiturrahman Dompu menuju kantor DPRD Dompu. Setelah membacakan pernyataan sikap, massa langsung membubarkan diri dengan tertib.

Reporter: Agus Ringgo

Pernyataan dan Harapan Lima Ribu Warga di Aksi Bela Uighur Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Lebih dari lima ribu warga Soloraya hadir dalam aksi bela Uighur yang digelar pada Bundaran Gladak Solo, Jumat (21/12/2018).

Sebelum kelokasi, ribuan massa melakukan longmarch dengan bendera tauhid dari Kottabarat menuju bundaran Gladak Solo.

Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Ustaz Muinidillah Basri dalam orasinya membacakan sikap umat Islam Soloraya.

1. Memberikan fakta bahwa pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur telah dikecam dunia internasional.

2. Menggalang solidaritas dunia internasional, baik negara maupun lembaga HAM, LSM kemanusiaan untuk membantu Muslim Uighur,

Selain membacakan dua sikap, Muin juga berharap pemerintah bersikap tegas atas pembantaian muslim Uighur.

1. Segera bersikap tegas atas kezaliman terhadap Muslim Uighur oleh pemerintah Cina, melalui jalur diplomatik dan hubungan bilateral selama ini, agar pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur segera diakhiri.

2. Sangat diperlukan, Indonesia sebagai negara yang berdaulat, bisa melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan pemerintah Cina.

3. Ikut proaktif menyuarakan kebebasan beragama Muslim Uighur dan mengecam tindakan pelanggaran HAM Pemerintah Cina di forum PBB.

“Demikian Aspirasi warga Soloraya untuk bisa dijadikan pertimbangan dan tindak lanjut,” tutup ustaz Muin.

PA 212 dalam Aksi Bela Uighur Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Selepas Jumatan, ratusan massa yang mengklaim dirinya dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Cina, Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka mengecam pelanggaran HAM terhadap Umat Islam Uighur di Xinjiang.

PA 212 membawa sepanduk kecaman terhadap Pemerintah Cina, bendera berkalimat tauhid, dan pamflet-pamflet yang menyuarakan kepedulian terhadap Umat Islam Uighur.

“Kami mengecam keras bahwa perbuatan yang dilakukan rezim Komunis Cina merupakan pelanggaran nyata atas Hak Asasi Manusia dan Hukum Internasional,” ujar Ketua Umum Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Martak di lokasi, Jumat (21/12/2018).

Yusuf menjelaskan, aksi bela Uighur ini dilakukan guna meminta penjelasan otoritas Cina atas apa yang sebenarnya terjadi di Xinjiang.

“Kami menegaskan adanya kebebasan beragama bagi setiap manusia. Maka muslim Uighur yang merupakan mayoritas penduduk Xinjiang harus diberikan kebebasan menjalankan agamanya,” kata dia.

Demonstrasi tersebut juga dihadiri oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI) Sobri Lubis, Neno Warisman, Novelis Pipit Senja dan sejumlah lembaga kemanusiaan. Aksi teatrikal juga disuguhkan dalam rentetan acara demo.

Rumah Zakat berikan dukungan kemanusiaan untuk Muslim Uighur

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Krisis kemanusiaan terjadi kepada Etnis Muslim Uighur di Xinjiang, China. PBB mendapatkan laporan bahwa sebanyak satu juta warga Muslim Uighur ditahan untuk dimasukan ke dalam kamp-kamp tersebut dan dipaksa belajar bahasa Mandarin dan diajak untuk meninggalkan keyakinan mereka.

Merespon perlakuan terhadap Muslim Uighur ini, Rumah Zakat sebagai NGO yang juga concern terhadap kemanusiaan berupaya untuk melakukan langkah-langkah untuk membantu Muslim Uighur.

“Saat ini langkah yang paling kongkrit adalah dengan membangun solidaritas kemanusiaan bersama Aliansi lembaga kemanusiaan dan NGO international,” ujar Murni Alit Baginda, Chief of Program Officer Rumah Zakat, Jumat (21/12/2018).

Murni menambahkan bahwa peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi ini. Kemenlu diharapkan bisa melakukan upaya diplomasi berdasarkan prinsip politik bebas aktif untuk menciptakan perdamaian dunia dan menegakkan hak asasi manusia.

“Rumah Zakat bersama Indonesia Humaterian Aid (IHA) rencananya akan bertemu Kementerian Luar Negeri pada hari Rabu depan, 26 Desember 2018,” jelas Murni.

Selain menginisiasi upaya-upaya diplomasi, Rumah Zakat juga membuka dukungan kemanusiaan dan material untuk perdamaian dan terciptanya hak-hak kebebasan bersama bagi Muslim Uighur di Xinjiang maupun pengungsi yang tersebar di luar Tiongkok.

“Kami akan mendistribusikan bantuan bagi pengungsi Uighur di Turki, Cina dan Uzbekistan. Saat ini, tim kemanusiaan Rumah Zakat sedang mengurus visa keberangkatan ke sana, mohon doanya,” ungkap Murni.

Rumah Zakat pun melakukan aksi simpatik dan doa bersama untuk Muslim Uighur yang diselenggarakan serentak di 8 kota pada hari Jumat (21/12).

“Aksi Simpatik ini bentuk dukungan ril yang dapat kami lakukan saat ini sembari terus melakukan langkah-langkah kongkrit lainnya. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membantu menyuarakan hak-hak warga Muslim Uighur kepada dunia dengan cara-cara yang mungkin dilakukan,” pungkas Murni.

Reporter: Kiki Firmansyah

Aksi Bela Uighur Banten: “Sakit Mereka Juga Sakit Kita”

SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Serang, Banten menggelar aksi Bela Uighur di Alun-alun Barat kota Serang, Jumat (21/12/18). Aksi ini dimulai dari Masjid Agung Serang longmarch menuju Alun-alun Barat Serang.

“Kita disini Muslim, di Uighur yang sedang tertindas pun mereka muslim, sakit mereka adalah sakit kita, darah mereka yang terkucur adalah darah kita juga, karena itu kita berkumpul disini,” ujar KH Hafidzin, salah seorang orator aksi.

Sementara itu, orator lain menyebut pemerintah harus bersikap tegas dalam membela perdamaian dunia, khususnya umat Uighur di Xinjiang, China.

“Jika pemerintah tidak mengambil sikap terhadap pemerintah China, kita akan mengepung kedubes China” ungkap salah satu orator aksi Ikatan Santri Salafi.

Hingga berita ini diturunkan, aksi masih tetap berlangsung.

Solidaritas Bela Uighur, Warga Bandung Gelar Longmarch ke Gedung Sate

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Ribuan warga Bandung melakukan longmarch dari Pusdai ke Gedung Sate suarakan solidaritas bela Uighur, Jumat (21/12/2018).

Massa yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Muslim (GSM) mengecam kekerasan Cina terhadap etnis Uighur.

Pantauan Jurnalislam.com, ribuan massa membawa berbagai media yang menyuarakan pembelaannya terhadap Uighur.

Massa juga tampak membawa bendera Tauhid, Merah Putih dan Turkistan Timur selama longmarch.

Titik kumpul acara terletak di Masjid Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawab Barat.

Ribuan peserta Aksi berjalan dari titik kumpul menuju tempat Aksi, peserta terdiri dari beberapa elemen ormas di kota Bandung, serta mahasiswa dan masyarakat umum.

Masyarakat terlihat antusias mengikuti aksi solidaritas hari ini sebagai kepedulian umat muslim di bandung kepada muslim uyghur di Xinjiang yang di tindas oleh rezim komunis Cina.

Negara Muslim Terbesar di Dunia, Indonesia Diharap Bersuara soal Uighur

SOLO (jurnalislam.com)- Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnaen mengaku sangat kecewa atas sikap diam pemerintahan terkait krisis kemanusiaan di Xinjiang.

Sebelumnya, wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut pemerintahan Indonesia tidak bisa mencampuri permasalahan muslim Uyghur karena menganggap hal itu masalah domestik Cina.

“Sangat mengecewakan kita, harusnya Presiden bicara, jangan hanya sekedar menteri agama bertanya, mengecam dong,” katanya kepada Jurnalislam.com di masjid At Taqwa, Solo, jum’at, (21/12/2018).

Menurutnya, saat ini sebagai negara dengan muslim terbesar, Indonesia sudah kalah dengan negara negara yang bahkan penduduk muslimnya minoritas, seharusnya, katanya, Indonesia menjadi garda terdepan dalam membela muslim Uyghur.

“Masak kalah dengan Jerman, masak kalah dengan Australia, masak kalah dengan Amerika, mereka mengecam kok,” ujarnya

“Kok kita negara Islam terbesar didunia malah tenang-tenang saja, kecam dong minimal,” tandas KH Zulkarnaen.

Sebagaimana diketahui, Pemerintahan Cina melakukan penindasan terhadap muslim Uyghur di Xinjiang, Turkistan Timur, diantaranya adalah memaksa muslim Uyghur untuk makan daging Babi, minum alkohol di kamp re-edukasi, menyita mushaf Al Quran, hingga memaksa muslim Uyghur meninggalkan agamanya dan menyanyikan lagu-lagu Komunis.