Begini kondisi Terakhir Politik di Idlib, Suriah

Begini kondisi Terakhir Politik di Idlib, Suriah

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Nasr Hariri, kepala oposisi Komisi Negosiasi Suriah (the Syrian Negotiation Commission-SNC), memuji upaya Turki untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata Sochi di provinsi barat laut Idlib.

Dalam pernyataan eksklusif kepada Anadolu Agency, Rabu (12/12/2018), Hariri mengatakan kesepakatan Sochi tetap bertahan berkat upaya Turki.

Setelah pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, kedua belah pihak sepakat untuk membentuk zona demiliterisasi – di mana tindakan agresi secara tegas dilarang – di provinsi Idlib Suriah.

Menurut ketentuan kesepakatan, kelompok-kelompok oposisi bersenjata dan faksi-faksi jihad di Idlib akan tetap berada di wilayah di mana mereka memang sudah menetap, sementara Rusia dan Turki akan melakukan patroli bersama di daerah itu dengan maksud mencegah kembalinya pertempuran.

Hariri percaya bahwa kesepakatan Sochi adalah alat penting untuk menekan rezim dan sekutu-sekutunya.

“Kesepakatan ini mencegah Rusia, rezim dan orang-orang Iran [milisi Syiah] menguasai tanah Suriah sepenuhnya dengan kekuatan militer dan bergerak menjauh dari solusi politik,” katanya.

“Dengan dukungan Turki, kesepakatan Sochi yang melindungi kehidupan warga sipil di Idlib tetap berdiri,” kata Hariri.

“Sambil memerangi organisasi teror  di wilayah itu, Turki juga mendukung solusi politik,” katanya.

Hariri mengatakan negosiasi yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik 8 tahun di Suriah sejauh ini belum membuahkan hasil.

“Kegagalan membentuk komite konstitusional adalah karena Rusia berusaha untuk menghilangkan peran PBB,” menurut pemimpin SNC.

“Rusia, rezim Assad dan sekutunya mencoba untuk merusak peran PBB untuk mencapai solusi politik,” katanya. “Menyetujui untuk terlibat dalam dialog adalah upaya mereka untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh rezim.”

Baca juga: 

Hariri mengatakan Rusia telah menolak daftar nominasi PBB, yang akan bekerja dengan perwakilan rezim dan oposisi untuk menyusun konstitusi baru di Suriah.

Ketua negosiator oposisi mengatakan oposisi Suriah berusaha untuk mencapai solusi politik untuk konflik Suriah di bawah payung PBB.

Mengacu pada pernyataan utusan AS James Jeffrey, di mana dia mengatakan sudah waktunya untuk “menarik tuas” pembicaraan Astana, Hariri mengatakan:

“Pertemuan Astana bukanlah alternatif untuk pembicaraan Jenewa, tidak ada yang mengatakan pertemuan ini merupakan alternatif untuk pembicaraan Jenewa.”

“[Krisis Suriah] tidak dapat diselesaikan tanpa kesepakatan antara Rusia dan AS,” katanya.

Hariri menegaskan kembali dukungannya untuk posisi Turki di kelompok teroris YPG/PYD /PKK.

“PYD adalah kelompok milisi bersenjata yang berusaha mencapai tujuannya melalui kekuatan brutal,” katanya.

“Mereka telah melakukan banyak pelanggaran hak, pembantaian, penyiksaan dan migrasi paksa warga sipil,” tambahnya.

Hariri mengatakan oposisi Suriah tidak akan menerima kehadiran kekuatan asing yang akan menimbulkan ancaman terhadap tetangga.

Suriah telah terkunci dalam perang global yang ganas sejak awal 2011 ketika rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad membantai aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terduga.

Bagikan

5 thoughts on “Begini kondisi Terakhir Politik di Idlib, Suriah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X