Berita Terkini

KNKS Ingin Interkoneksi Ekonomi Digital Syariah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) menginginkan interkoneksi ekonomi digital syariah bisa terjadi agar ekonomi syariah tidak tertinggal.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal KNKS Afdhal Aliasar menjelaskan, salah satu tonggak Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia adalah ekonomi digital syariah. Keuangan digital konvensional sudah berkembang, KNKS ingin itu juga terjadi pada ekomi syariah digital.

KNKS ingin membangun ekosistem digital syariah agar bisa saling terhubung. Baik tekfin, lembaga keuangan syariah, niaga daring, dan keuangan sosial.

“Kekuatan teknologi akan kita maksimalkan,” kata Afdhal dalam diskusi ekonomi digital syariah di IIE Fest, di Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/4/2019).

KNKS juga sudah bicara dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI untuk membuatkan portal fatwa. Sehingga KNKS juga bisa jadi tempat bertanya.

KNKS ingin semua gerak bersama. Bila saat ini Muslim di Indonesia ibarat hidup dalam dunia terbalik, ke depan KNKS berharap halal jadi sebuah tuntutan yang bisa dipenuhi.

Dalam laporan Islamic Digital Economy 2015 terbitan Thomson Reuters dan DinarStandard, nilai ekonomi digital global diprediksi mencapai 1,9 triliun dolar AS pada 2014. Dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) 15 persen hingga 2020, dinilainya diprediksi akan menjadi 4,3 triliun dolar AS.

Pada 2014, potensi ekonomi digital komunitas Muslim ada di urutan empat secara global dengan nilai 107,2 miliar dolar AS disusul Jepang 98 miliar dolar AS. Tiga posisi teratas diduduki AS 487,5 miliar dolar AS, Cina 419,6 miliar dolar AS, dan Inggris 129,4 miliar dolar AS.

CAGR potensi pemanfaatan ekonomi digital oleh Muslim global diprediksi mencapai 17 persen, sehingga pada 2020 nilainya akan mencapai 277 miliar dolar AS. Di sisi lain, komunitas Muslim mewakili hampir seperempat populasi dunia dan 5,8 persen ekonomi digital global pada 2014.

Ada lima negara OKI potensial ekonomi digital yakni Turki dengan potensi 8,6 miliar dolar AS, Mesir 6,5 miliar dolar AS, Malaysia 6,8 miliar dolar AS, Nigeria 0,9 miliar dolar AS dan Indonesia 5 miliar dolar AS.

Sumber: Republika

27 Warga Palestina Tiba di Pangkalan Gunung Everest

EVEREST (Jurnalislam.com) – Sekelompok warga Palestina berhasil mencapai pangkalan Gunung Everest di antara Nepal dan Tibet pada hari Rabu (24/4/2019).

Warga Palestina berjumlah 27 orang ini telah menempuh pendakian selama 6 hari dengan jarak ratusan kilometer.

Perjalanan yang diselenggarakan oleh komunitas Climb for Palestine ini bertujuan untuk menggalang dana untuk membantu rakyat Palestina. Mereka membuat acara-acara seperti pendakian, panjat tebing, dan hiking.

“Dua puluh tujuh dari kita telah berhasil mencapai pangkalan Gunung Everest pada ketinggian 5.400 mdpl. Kami mengangkat bendera Palestina dan slogan solidaritas dengan para tahanan dan Yerusalem sebagai hal paling sederhana yang bisa kami tawarkan untuk Palestina kami,” demikian dikatakan Climb for Palestine pada halaman facebooknya.

Mereka juga memposting foto-foto pendakian dan mengagumi pemandangan alam yang mereka saksikan.

Ini bukan kegiatan penggalangan dana pertama yang diselenggarakan Climb for Palestine. Awal tahun ini, beberapa kelompok telah ambil bagian dalam Maraton Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Sementara tahun lalu mereka mendaki Gunung Kilimanjaro di Tanzania dan mengibarkan bendera Palestina di puncak tertinggi di Afrika itu.

Prioritaskan Jemaah Lansia, Kuota Haji Tahun Ini Ditambah 10 Ribu 

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, akan menambah 10 ribu kuota haji tahun ini. Kuota tersebut diperuntukan untuk jemaah lansia yang didasarkan pada masa tunggu haji.

“Jemaah lansia harus menjadi prioritas penambahan kuota haji tahun ini. Saya minta Kanwil dan Kankemenag proaktif ‘menjemput bola’, khususnya memberitahu kepada jemaah haji lansia yang mayoritas berada di daerah pedalaman dan terpencil di Indonesia. Saat inilah kita memprioritaskan jemaah lansia,” kata Menag Lukman, dilansir dari laman resmi Kemenag, Jumat (26/4/2019).

Menurut Lukman, kuota penambahan tahun 2019 berdasarkan masa tunggu pada masing-masing provinsi. Dari rapat tersebut terungkap bila masa tunggu haji paling lama atau di atas 30 tahun yaitu Provinsi Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Penambahan 10 ribu kuota haji, lanjut Menag, terjadi di akhir persiapan. Ini berdampak pada konfigurasi pengkloteran yang harus dipersiapkan agar bisa optimal dan maksimal. Dampak lainnya terkait penempatan dengan sistem zonasi yang memerlukan kebijakan untuk menghasilkan pembagian distribusi di setiap provinsi secara merata berdasarkan masa tunggu.

Hasil rapat ini nantinya akan dibahas bersama DPR, BPKH dan kementerian/lembaga terkait untuk mensukseskan penambahan 10 ribu kuota pada musim haji tahun ini.

Kemenag Akan Pantau Hilal di 34 Provinsi, Ini Daftar Lokasinya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Agus Salim mengatakan, Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan pemantauan hilal awal Ramadhan 1440 Hijriyah di sejumlah titik yang tersebar di 34 provinsi. Pemantauan melibatkan sejumlah pihak terkait.

Agus menyebut Kemenag akan menurunkan sejumlah pemantau hilal Ramadan 1440H di seluruh provinsi di Indonesia.

Mereka berasal dari petugas Kanwil Kementerian Agama dan Kemenag Kabupaten/Kota yang bekerjasama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam serta instansi terkait setempat.

Dia mengatakan hasil rukyat hilal dan data hisab posisi hilal awal Ramadan 1440H akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat. Kemudian akan diambil keputusan penentuan awal Ramadan 1440H.

Baca juga: Kapan Awal Ramadan? Tunggu Sidang Isbat Kemenag 5 Mei Mendatang

“Pemantauan akan dilakukan di 34 provinsi,” kata dia dilansir Republika, Jumat (26/4/2019).

Berikut ini daftar lokasi pemantauan hilal awal Ramadhan 1440 H:

  1. Aceh: Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang, Lhokseumawe Bukit Poly Kompleks Perta Aron, Aceh Jaya Gunung Cring Cran, Pantai Suak Geudeubang Kab Aceh Barat, Aceh Selatan Pantai Lhok Keutapang, Simeulue, Pantai Desa Nancala, Teupah Barat, Tugu “KM 0” Indonesia, Kota Sabang, dan Pantai Ujong Manggeng Kec Manggeng, ABDYA
  2. Sumatra Utara: Lantai IX Kantor Gubernur Sumut dan Observatorium OIF UMSU
  3. Sumatra Barat: Gedung Kebudayaan lantai 4 Dinas Kebudayaan
  4. Riau: Pantai Prapat Tunggal Kec Bengkalis
  5. Kepulauan Riau: Bukit Cermin
  6. Jambi: Hotel Odua Weston
  7. Sumatra Selatan: Hotel Aryaduta
  8. Bangka Belitung: Pantai Penagan; Pantai Tanjung Pandam; dan Pantai Tanjung Kalian Muntok
  9. Bengkulu: Dak Mess Pemda Prov. Bengkulu
  10. Lampung: POB Bukit Gelumpai Pantai Canti Kalianda Lampung Selatan; Pantai Labuhan Jukung, Pekon Kampung Jawa Kab Pesisir Barat
  11. DKI Jakarta: Gedung Kanwil Kemenag  DKI Jakarta lt 71, Masjid Al-Musyari’in Basmol Jakarta Barat, Pulau Karya Kep Seribu, dan DKM Masjid KH Hasyim Asyari
  12. Jawa Barat: POB Cibeas Pelabuhan Ratu, Bosscha Lembang Bandung, Kab Bandung Barat, Gunung Babakan Kota Banjar, Pantai Santolo Pamengpeuk Kab Garut, Pantai Cipatujah Kab Tasikmalaya, Pantai Gebang Kab Cirebon, SMA Astha Hannas Binong Kab Subang, dan Pantai Pondok Bali Kab Subang
  13. Banten: Dishubla Mercusuar Anyer KM 0 Serang
  14. Jawa Tengah: Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah Semarang, Masjid Gribangun Banyumas, Pantai Jatimalang Purworejo, Assalam Observatory Sukoharjo, Pantai Kartini Jepara, STAIN Pekalongan, Pantai Ujungnegoro Kandeman Batang, Pantai Padalen Kebumen, Pantai Karangjahe Rembang, Pantai Alam Indah Kota Tegal, Pantai Tanjungsari Pemalang, Universitas Muria Kudus (UMK), Wisata Mangrove Pantai Kaliwlingi Brebes, Pelabuhan Kendal
  15. DI Yogyakarta : POB Syekh Bela Belu, Bantul Parang Tritis Yogyakarta
  16. Jawa Timur : Pantai Sunan Drajat /Tanjung Kodok Paciran Lamongan, Bukit Banyu Urip Kec Senori Kab Tuban, Lapan, Jl Watukosek Gempol Kab Pasuruan, Gunung Sekekep Wagir Kidul Kec Pulung Kab Ponorogo, Helipad AURI Ngliyep Kab Malang, Pantai Serang  Kab Blitar, Pantai Srau Pacitan, Bukit Wonotirto Blitar, Pantai Nyamplong Kobong Jember, Gunung Sadeng Jember, Pantai Pacinan Situbondo, Pantai Pancur Alas Purwo Banyuwangi, Pantai Ambat Tlanakan Pamekasan, Bukit Condrodipo Gresik, Pantai Gebang Bangkalan, Bukit Wonocolo Bojonegoro, Pulau Gili Kab Probolinggo, Pantai Sapo Ds Sergang Kec Batuputih Kab Sumenep, Pantai Kalisangka Kangean Sumenep, Pantai Bawean Kab Gresik Satuan Radar (Satrad) 222 Ploso di Kaboh Kab Jombang, Bukit Gumuk Klasi Indah Banyuwangi Pantai Taneros Sumenep
  17. Kalimantan Barat: Pantai Indah Kakap, Kec Sungai Kakap, Kab Kubu Raya
  18. Kalimantan Tengah: Hotel Aquarius Jl Imam Bonjol Palangkaraya
  19. Kalimantan Timur: Menara Asma’ul Husna Masjid Baitul Muttaqin Islamic Center Samarinda
  20. Kalimantan Selatan: Atas Bank Kalsel Banjarmasin, Jembatan Rumpiang Marabah, Pantai Pagatan Tanah Bambu: Atas Hotel Dafam Syari’ah Banjarbaru, Gunung Kayangan Pelaihari
  21. Kalimantan Utara: Tanjung Selor Gunung KNIP
  22. Bali: Hotel Patra Jasa Pantai Kuta, Badung Bali, Munduk Asem, Rening, Negara, Jembrana
  23. NTB: Taman Rekreasi Loang Baloq, Pantai Desa Kiwu Kec Kilo Kab Dompu, dan Bukit Poto Batu Kec Taliwang Kab Sumbawa Barat
  24. NTT: Halaman Masjid Nurul Hidayah
  25. Sulawesi Selatan: Pantai Sumpang Binangae Kab Barru
  26. Sulawesi Barat: Tanjung Mercusuar Sumare Kec Simboro Kab Mamuju
  27. Sulawesi Tenggara: Pantai Wolulu Kec Watubangga Kab Kolaka, dan Pantai Buhari Kec Tanggetada Kab Kolaka
  28. Sulawesi Utara: Area Parkir Apartemen Mtc Kota Manado
  29. Gorontalo: Desa Bulango Raya Kec Tomilito Kab Gorontalo Utara
  30. Sulawesi Tengah: Menara Hilal BMKG Ds Marana Kec Sindue Kab  Donggala
  31. Maluku: Desa Wakasihu Kec Leihitu Barat Kab Maluku Tengah, Pantai Latuhalat Kec Nusaniwe Kota Ambon, dan Pantai Desa Larike Kec Leihitu Barat Kab Maluku Tengah
  32. Maluku Utara: POB Maluku Utara Pantai Desa Ropu Tengah Balu dan POB BMKG Afe Taduma
  33. Papua: Pantai Lampu Satu Marauke
  34. Papua Barat: Menara Masjid Agung Fak-Fak dan Tanjung Saoka, Kota Sorong 

Ratusan Petugas Meninggal, DSKS Sebut Pemilu 2019 Bencana Nasional

SOLO (Jurnalislam.com) – Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono mengaku prihatin atas meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan aparat kepolisian akibat kelelahan saat bertugas mengawal Pemilu 2019. Ia mengatakan, pemilu yang seharusnya menjadi hajatan pesta demokrasi telah menjadi bencana nasional.

Pernyataan itu disampaikan dalam aksi unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surakarta pada hari Jumat (26/4/2019) siang.

“Pemilu 2019 sebagai salah satu sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk memilih wakil-wakil rakyat, presiden dan wakil presiden merupakan sebuah hajatan demokrasi dan hak asasi manusia, telah menjadi medan kesedihan dan duka bagi bangsa Indonesia, seakan sebuah bencana dan malapetaka nasional,” katanya.

DSKS mendesak pemerintah untuk menyelidiki penyebab pasti kematian ratusan petugas tersebut. Jika diakibatkan karena kelalaian KPU, kata Endro, maka harus diambil langkah hukum.

“Jika diperlukan membentuk komite independen untuk menyelidikinya sebagai antisipasi dan mengambil langkah-langkah hukum atas kelaiaian penyelenggara pemilu (KPU) jika terbukti,” tegasnya.

Berikut lima poin tuntutan DSKS kepada pemerintah dan penyelenggara pemilu yang disampaikan dalam unjuk rasa tersebut:

1. Kepada Pemerintah tidak boleh meremehkan dan masa bodoh dengan ribuan korban korban yang berjatuhan harus diselidiki, sebab musababnya bukan sekedar alasan sumir karena kelelahan. Jika diperlukan membentuk komite independen untuk menyelidikinya sebagai antisipasi dan mengambil langkah-langkah hukum atas kelaiaian penyelenggara pemilu (KPU) jika terbukti.

2. DSKS Ikut berbela sungkawa atas jatuhnya ratusan korban meninggal dunia dan ribuan yang sakit dari petugas KPPS serta meninggalnya belasan anggota kepolisian di seluruh Indonesia:

3. Meminta KPU Memberi sanksi dan memproses hukum kepada anggota KPU yang melakukan pelanggaran UU Pemilu _

4. Meminta KPU agar tidak punya kepentingan apapun terhadap entn data KPU kecuali kepentingan kedaulatan bangsa dan negara dengan mengedepankan pemllu p.11 ur dan adil

5. Berharap KPU segera mengoreksi dan memperbaiki kesalahan data terhadap aduan masyarakat
3. Meminta KPU Memberi sanksi dan memproses hukum kepada anggota KPU yang melakukan pelanggaran UU Pemilu

4. Meminta KPU agar tidak punya kepentingan apapun terhadap entri data KPU kecuali kepentingan kedaulatan bangsa dan negara dengan mengedepankan pemilu jujur dan adil

5. Berharap KPU segera mengoreksi dan memperbaiki kesalahan data terhadap aduan masyarakat

Dewan Syariah Kota Surakarta Berunjuk Rasa Depan Kantor KPU

SOLO (Jurnalislam.com) – Puluhan massa umat Islam dari Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Surakarta siang ini, Jumat (26/4/2019). Mereka menuntut KPU untuk tidak melakukan kecurangan dalam penghitungan suara pemilu 2019 ini.

Dalam aksi itu, sejumlah orator menyampaikan orasinya dari atas truk dimodifikasi menjadi panggung orasi.

Koordinator aksi, Endro Sudarsono mengatakan, aksi itu sebagai bentuk keprihatinan munculnya berbagai permasalahan dalam pemilu 2019, diantaranya DPT ganda, pencurian kotak suara hingga belum dibagikannya ratusan ribu surat undangan C-6.

“Pada hari H malah ada beberapa orang yang mencoblos beberapa kartu. Kemudian ada pencurian kotak sura, pencurian dokumen C-1 dan pembakaran C-1,” kata Endro kepada awak media.

Endro yang juga Humas DSKS itu menyoroti kasus banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan aparat keamanan yang meninggal akibat kelelahan.

“Seolah-olah pesta demokrasi ini menjadi bencana nasional karena baru tahun ini ada korban meninggal dunia,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pihaknya tidak menginginkan KPU menjadi komisi yang diragukan oleh rakyat. Oleh sebab itu, ia berharap KPU segera mengoreksi dan memperbaiki kesalahan data terhadap aduan masyarakat.

Makmurkan Ramadhan, DDII Kirim 200 Da’i ke Pedalaman Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) kembali mengirim da’i dan da’iyahnya ke daerah pedalaman Indonesia.

Ketua Umum DDII, KH Mohammad Siddik mengatakan, lembaganya menempatkan 200 da’i dan da’iyah untuk mendampingi masyarakat di daerah pinggiran dalam memakmurkan Ramadhan tahun ini.

‘’Melalui Program Kafilah Da’wah (Kafda), kami menempatkan 200-an dai ke pedalaman Nusantara hingga ke luar negeri. Para da’i tersebut berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir dan Akademi Dakwah Indonesia (ADI),’’ ujar KH Siddik di Masjid Al-Furqon, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (26/4/2019).

Sementara itu, Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Ustaz Dwi Budiman berharap para kader bisa mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari program Kafilah Dakwah, sehingga dapat dipraktekan ketika mengabdi di pedalaman selama dua tahun lamanya.

“Meski latihan, tetapi itulah kegiatan dakwah sesungguhnya. Karena itu, kami menyiapkan mahasiswa dengan mengikuti pelatihan selama enam semester, mulai dari mengelola pelatihan membaca quran, thibun nabawi sampai program memandikan jenazah,” katanya.

Lebih lanjut, Ustaz Dwi mengamanatkan kepada para dai untuk menjaga niat dan keikhlasan dalam berdakwah serta dapat menahan dari setiap tantangan dan godaan yang mampu menjerumuskan ke dalam nilai-nilai yang menyimpang dari dakwah. 

“Mereka mengenal antum bukan hanya sebagai dai saja, tapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Dewan Da’wah. Maka, manfaatkan kafilah dakwah dengan baik sehingga bisa mempraktennya di waktu yang akan datang,” tuturnya.

Dalam program ini, DDII bekerja sama dengan Badan Dakwah Islam Baituzzakah Pertamina (BDI BAZMA).

Pendiri FIS Aljazair, Dr Abassi Madani Wafat di Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Pendiri partai oposisi Aljazair, Dr. Abassi Madani yang mendorong pembentukan negara Islam meninggal pada Rabu (24/4/2019) di Qatar, tempat dia tinggal dalam pengasingan.

“Abassi Madani meninggal pada usia 88 tahun di rumah sakit Doha setelah menderita sakit yang lama,” kata rekannya sesama pendiri, Ali Belhadj, yang mendapat kabar tersebut dari kerabat Madani.

Madani, yang telah tinggal di Qatar sejak 2003, mendirikan Front Keselamatan Islam (FIS) bersama Belhadj pada 1989. Ia menyerukan perjuangan bersenjata pada 1992 setelah militer Aljazair membatalkan pemilihan legislatif multi-partai pertama negara itu yang dimenangkan FIS.

Menurut laporan, konflik yang berkelanjutan telah memakan korban hingga 200.000 orang tewas. “Madani ingin dimakamkan di Aljazair, tetapi saya tidak tahu apakah itu mungkin,” kata Belhadj menambahkan.

Baca juga: Partai FIS, Front Penyelamat di Bawah Todongan Senjata Militer

Mantan kepala sayap bersenjata FIS Madani Mezrag juga mengonfirmasi kematian Madani. Kepada AFP, dia mengatakan telah diberi tahu oleh kerabat keluarga.

Madani dianggap memiliki peran sentral dalam konflik yang panjang di negara itu antara pasukan keamanan melawan kelompok-kelompok bersenjata Islam.

Dia dipenjara pada 1991, hingga akhirnya menyerukan diakhirinya kekerasan pada 1999, di mana kelompoknya meletakkan senjata. Madani dibebaskan pada tahun 2003 setelah menjalani hukuman 12 tahun, namun dilarang dari kegiatan politik apa pun.

Madani meninggalkan Aljazair dengan alasan kesehatan setelah kembali menyerukan perjuangan bersenjata dan pindah dari Malaysia ke Arab Saudi lalu ke Qatar.

Di pengasingan, dia mengecam invasi AS ke Irak dan menyerukan warga Aljazair untuk memboikot pemilu pada tahun 2012. Kematiannya menyusul pergolakan politik di tanah airnya setelah presiden lama Abdelaziz Bouteflika digulingkan oleh protes massa.

Partai FIS, Front Penyelamat di Bawah Todongan Senjata Militer

Oleh: Artawijaya
Penulis buku-buku Islami

“The World’s first democratically elected muslim fundamentalist government (Pemerintahan fundamentalis Muslim pertama di dunia yang terpilih secara demokratis),” demikian Majalah terkemuka The Economist menyebut kemenangan Partai FIS di Aljazair. Kemenangannya dianggap akan membangkitkan fundamentalisme Islam yang anti Barat.

Front Islamique du Salute begitu nama partai ini disebut dalam bahasa Prancis. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Islamic Salvation Front, dan dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Jabhah Al-Islamiyah li Al-Inqadz. Arti dari nama itu adalah Front Penyelamat Islam, dan di media massa sering disingkat dengan FIS.

Pada awalnya, FIS adalah gerakan dakwah, tarbiyah, dan kaderisasi yang dimotori oleh para ulama dan aktivis Islam yang risau dengan rezim yang sudah puluhan tahun berkuasa di Aljazair, namun menjalankan praktik kekuasaan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Karenanya, ketika rezim yang berkuasa mengeluarkan undang-undang tentang multipartai, yang memungkinkan berdirinya partai Islam, setelah sebelumnya hal itu tabu dan dibelenggu, maka berdirilah Partai FIS ini.

Cikal bakal FIS lahir dari hasil gabungan berbagai gerakan dakwah yang mempunyai kepedulian dan keprihatinan yang sama terhadap rezim yang berkuasa. Sama persis dengan latarbelakang berdirinya Partai Masjumi di Indonesia yang juga berasal dari berbagai latar organisasi massa Islam. Awalnya, mereka bernaung dalam sebuah wadah bernama Rabithah Ad-Dakwah Al-Islamiyah (Liga Dakwah Islam), dengan tokoh-tokoh sentral seperti Syaikh Ahmad Sahnun, Mahfuzh Nahnah, Abbas Madani, Abdullah Jabullah, Ali Belhadj, dan Muhammad Said.

Ada beberapa misi yang diemban oleh Liga Dakwah Islam ini, diantaranya adalah; Pertama, meluruskan akidah kaum muslimin. Kedua, gerakan dakwah untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak Islami. Ketiga, berupaya mempersatukan fikrah (persepsi pemikiran) dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.

Awalnya diusulkan nama dari hasil gabungan gerakan Islam itu dengan sebutan Al-Jabhah Al-Muwahhadah Al-Islamiyah (Front Unity of Islam/Front Pemersatu Islam), namun atas usulan Dr. Abbas Madani kemudian disepakati dan dipilih nama yang lebih mencerminkan ketegasan, yaitu Al-Jabhah Al-Islamiyah li Al-Inqadz (FIS).

Abbas Madani dan Ali Belhadj adalah dua tokoh yang paling menonjol dalam partai ini. Keduanya mencerminkan perpaduan dari latarbelakang sosok dan karakternya yang berbeda. Abbas Madani adalah doktor alumnus London yang menguasai bidang psikologi pendidikan. Ia kemudian diangkat menjadi profesor dalam bidang ilmu pendidikan di Universitas Aljazair. Pribadinya mencerminkan sosok ulama yang well educated, terdidik, yang tak hanya paham dan menguasai ajaran-ajaran Islam, namun mampu juga beradaptasi dengan ilmu-ilmu modern.

Selain itu, jiwa juangnya pada masa lalu yang ikut terlibat dalam Perang Kemerdekaan mencerminkan sosoknya pribadinya yang tangguh. Sedangkan Ali Belhadj dikenal sebagai ulama muda, imam masjid, dan orator ulung yang mampu menggugah semangat anak-anak muda untuk memperjuangkan Islam. Ali Belhadj banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh pergerakan seperti Hassan Al-Banna dan Sayyid Quthb. Perpaduan dua sosok inilah, Ali Belhadj dan Abbas Madani, yang kemudian mewarnai gerak laju FIS, meskipun di tengah jalan, pertentangan gagasan dan strategi antara keduanya seringkali terjadi. Abbas Madani cenderung moderat, sementara Ali Belhadj lebih puritan dan radikal.
Istilah “front” berarti garis depan. Mereka yang aktif dalam partai ini berusaha menjadi kelompok yang berada di garis terdepan untuk menyelamatkan kaum muslimin di Aljazair dari kubangan sistam-sistem dan peraturan yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Mereka berusaha menjadi “kelompok penyelamat” dengan memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negerinya. Dengan motto yang dikutip dari ayat Al-Qur’an, “Wa kuntum ‘ala safa khufratin minannari fa anqadzakum minha” (Dan kalian sebelumnya berada di tepian jurang neraka, lalu kalian diselamatkan darinya), FIS berjuang untuk menyelamatkan bangsa Aljazair sebagai negeri kaum muslimin, agar tidak jatuh tergelincir ke dalam jurang ideologi-ideologi yang tidak sejalan dengan Islam.

FIS didirikan di Aljazair pada 18 Februari 1989

Kehadirannya membuka kebuntuan politik yang tersumbat oleh kekuasaan yang terlalu lama dari sebuah rezim. Dengan jargon “Al-Islam huwa Al-Munqidz/Islam Adalah Penyelamat”, FIS menawarkan gagasan baru tentang masa depan Aljazair. FIS juga berhasil merebut hati rakyat yang memang sudah muak dengan elit-elit politik lama yang sosialis dan tidak mementingkan nasib rakyat. Sosialisme yang mereka gembar-gemborkan hanya pemanis di bibir saja, politik gincu khas rezim yang sudah terlalu lama berkuasa. FIS mengeritik keras rezim yang berkuasa dengan menyatakan, “Aljazair adalah negara sosialis, dimana kesejahteraan hanya ada di koran-koran, bukan kenyataan di masyarakat. Pejabat-pejabat naik mobil mewah, semantara rakyat berkubang dalam kemiskinan..”

Ajakan untuk kembali kepada Islam yang dikampanyekan Partai FIS seolah menjadi oase di tengah padang pasir yang tandus. Rakyat yang sudah muak dengan tingkah laku elit kekuasaan yang korup dan tidak peduli pada nasib rakyat, seolah menemukan tambatan hati baru untuk melabuhkan pilihan politiknya. Apalagi FIS secara tegas mengusung identitas Islam, dan berusaha berada di front terdepan dalam menolong rakyat dari kubangan sosialisme, sekularisme, dan hedonisme orang-orang yang berkuasa. Dengan motor penggerak para aktivis, kader-kader Partai FIS bergerak turun ke bawah dan meyakinkan masyarakat akan masa depan yang cerah.

Sejak Aljazair merdeka pada tahun 1962, peralihan kekuasaan tak berjalan seiring dengan kesejahteraan rakyat. Ibaratnya, setelah lepas dari penjajahan asing, rakyat terjerat dalam belitan penguasa yang tiran. Rakyat yang tak puas kemudian melakukan aksi demonstrasi, hingga akhirnya Presiden Chadli Bendjedid melakukan perubahan konstitusi di Aljazair dengan membuat regulasi yang membolehkan berdirinya partai-partai. Kebijakan ini kemudian disambut oleh para aktivis dakwah yang sudah lebih dulu melakukan kaderisasi dan tarbiyah untuk mendirikan Partai FIS.

Setelah kran kebebasan itu terbuka, para aktivis dakwah yang kemudian membentuk Partai melakukan pendekatan secara intens kepada rakyat. Kader-kader yang menjadi mesin penggerak partai bergerak secara massif. Pada kurun waktu 1989-1991, para aktivis FIS melakukan intens melakukan pendekatan, berdakwah, dan menawarkan sebuah harapan baru untuk masa depan rakyat Aljazair. Mereka mengajak rakyat untuk kembali kepada Islam, hidup di bawah naungan Islam, dan bersama-sama membangun kesejahteraan lewat-lewat sistem-sistem Islam yang ditawarkan. Para dai menyampaikan gagasan-gagasan untuk masa depan yang baru lewat mimbar-mimbar dakwah, pengajian, dan sebagainya.

Berdakwah lewat jalur politik, itulah cara yang dilakukan oleh FIS untuk merebut kekuasaan. Kran kebebasan yang terbuka lebar, dijadikan peluang untuk bisa mengubah keadaaan dan kondisi masyarakat lewat sistem kekuasaan. Pertimbangan maslahat yang lebih besar, tak lantas membuat FIS yang bercita-cita menyelamatkan rakyat Aljazair dari sistem sekular melakukan perlawanan bersenjata.

Ratusan Petugas KPPS Meninggal, Ombudsman RI Sebut Pemilu 2019 Terindikasi Maladministrasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menanggapi banyaknya petugas Kelompok Penyelengara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal alibat kelelahan, Anggota Ombudsman RI, Alvin Lie menilai ada indikasi maladministrasi pada proses pemungutan suara di Pemilu 2019. 

“Terindikasi maladministrasi pemungutan suara dalam Pemilu 2019. Petugas kelelahan sehingga lebih dari 200 petugas meninggal dunia karena kelelahan, kurang istirahat,” kata Alvin lewat keterangan tertulis, Jumat (26/4/2019).

Alvin juga menilai jumlah petugas KPPS tidak memadai. Sehingga, tidak ada pengaturan shift atau jeda bagi para petugas untuk beristirahat.

“Petugas masuk TPS sejak jam pukul 07.00 WIB, bekerja non-stop lebih 17 jam,” katanya.

“Di TPS tidak disediakan tempat istirahat yang memadai, dukungan layanan kesehatan, kesempatan istirahat yang memadai,” imbuhnya.

Data terbaru Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Kamis (25/4/2019) mencatat sebanyak 225 petugas KPPS di beberapa daerah di Indonesia meninggal dunia dan 1.470 lainnya sakit. Data tersebut meningkat dari sebelumnya 144 orang dinyatakan meninggal dunia.

“Wafat 225 orang, sakit 1.470 orang, total 1.695 orang,” ujar Komisioner KPU Viryan Aziz, Kamis (25/4/2019) kemarin.