Responsive image

Partai FIS, Front Penyelamat di Bawah Todongan Senjata Militer

Partai FIS, Front Penyelamat di Bawah Todongan Senjata Militer

Oleh: Artawijaya
Penulis buku-buku Islami

“The World’s first democratically elected muslim fundamentalist government (Pemerintahan fundamentalis Muslim pertama di dunia yang terpilih secara demokratis),” demikian Majalah terkemuka The Economist menyebut kemenangan Partai FIS di Aljazair. Kemenangannya dianggap akan membangkitkan fundamentalisme Islam yang anti Barat.

Front Islamique du Salute begitu nama partai ini disebut dalam bahasa Prancis. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Islamic Salvation Front, dan dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Jabhah Al-Islamiyah li Al-Inqadz. Arti dari nama itu adalah Front Penyelamat Islam, dan di media massa sering disingkat dengan FIS.

Pada awalnya, FIS adalah gerakan dakwah, tarbiyah, dan kaderisasi yang dimotori oleh para ulama dan aktivis Islam yang risau dengan rezim yang sudah puluhan tahun berkuasa di Aljazair, namun menjalankan praktik kekuasaan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Karenanya, ketika rezim yang berkuasa mengeluarkan undang-undang tentang multipartai, yang memungkinkan berdirinya partai Islam, setelah sebelumnya hal itu tabu dan dibelenggu, maka berdirilah Partai FIS ini.

Cikal bakal FIS lahir dari hasil gabungan berbagai gerakan dakwah yang mempunyai kepedulian dan keprihatinan yang sama terhadap rezim yang berkuasa. Sama persis dengan latarbelakang berdirinya Partai Masjumi di Indonesia yang juga berasal dari berbagai latar organisasi massa Islam. Awalnya, mereka bernaung dalam sebuah wadah bernama Rabithah Ad-Dakwah Al-Islamiyah (Liga Dakwah Islam), dengan tokoh-tokoh sentral seperti Syaikh Ahmad Sahnun, Mahfuzh Nahnah, Abbas Madani, Abdullah Jabullah, Ali Belhadj, dan Muhammad Said.

Ada beberapa misi yang diemban oleh Liga Dakwah Islam ini, diantaranya adalah; Pertama, meluruskan akidah kaum muslimin. Kedua, gerakan dakwah untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak Islami. Ketiga, berupaya mempersatukan fikrah (persepsi pemikiran) dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.

Awalnya diusulkan nama dari hasil gabungan gerakan Islam itu dengan sebutan Al-Jabhah Al-Muwahhadah Al-Islamiyah (Front Unity of Islam/Front Pemersatu Islam), namun atas usulan Dr. Abbas Madani kemudian disepakati dan dipilih nama yang lebih mencerminkan ketegasan, yaitu Al-Jabhah Al-Islamiyah li Al-Inqadz (FIS).

Abbas Madani dan Ali Belhadj adalah dua tokoh yang paling menonjol dalam partai ini. Keduanya mencerminkan perpaduan dari latarbelakang sosok dan karakternya yang berbeda. Abbas Madani adalah doktor alumnus London yang menguasai bidang psikologi pendidikan. Ia kemudian diangkat menjadi profesor dalam bidang ilmu pendidikan di Universitas Aljazair. Pribadinya mencerminkan sosok ulama yang well educated, terdidik, yang tak hanya paham dan menguasai ajaran-ajaran Islam, namun mampu juga beradaptasi dengan ilmu-ilmu modern.

Selain itu, jiwa juangnya pada masa lalu yang ikut terlibat dalam Perang Kemerdekaan mencerminkan sosoknya pribadinya yang tangguh. Sedangkan Ali Belhadj dikenal sebagai ulama muda, imam masjid, dan orator ulung yang mampu menggugah semangat anak-anak muda untuk memperjuangkan Islam. Ali Belhadj banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh pergerakan seperti Hassan Al-Banna dan Sayyid Quthb. Perpaduan dua sosok inilah, Ali Belhadj dan Abbas Madani, yang kemudian mewarnai gerak laju FIS, meskipun di tengah jalan, pertentangan gagasan dan strategi antara keduanya seringkali terjadi. Abbas Madani cenderung moderat, sementara Ali Belhadj lebih puritan dan radikal.
Istilah “front” berarti garis depan. Mereka yang aktif dalam partai ini berusaha menjadi kelompok yang berada di garis terdepan untuk menyelamatkan kaum muslimin di Aljazair dari kubangan sistam-sistem dan peraturan yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Mereka berusaha menjadi “kelompok penyelamat” dengan memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negerinya. Dengan motto yang dikutip dari ayat Al-Qur’an, “Wa kuntum ‘ala safa khufratin minannari fa anqadzakum minha” (Dan kalian sebelumnya berada di tepian jurang neraka, lalu kalian diselamatkan darinya), FIS berjuang untuk menyelamatkan bangsa Aljazair sebagai negeri kaum muslimin, agar tidak jatuh tergelincir ke dalam jurang ideologi-ideologi yang tidak sejalan dengan Islam.

FIS didirikan di Aljazair pada 18 Februari 1989

Kehadirannya membuka kebuntuan politik yang tersumbat oleh kekuasaan yang terlalu lama dari sebuah rezim. Dengan jargon “Al-Islam huwa Al-Munqidz/Islam Adalah Penyelamat”, FIS menawarkan gagasan baru tentang masa depan Aljazair. FIS juga berhasil merebut hati rakyat yang memang sudah muak dengan elit-elit politik lama yang sosialis dan tidak mementingkan nasib rakyat. Sosialisme yang mereka gembar-gemborkan hanya pemanis di bibir saja, politik gincu khas rezim yang sudah terlalu lama berkuasa. FIS mengeritik keras rezim yang berkuasa dengan menyatakan, “Aljazair adalah negara sosialis, dimana kesejahteraan hanya ada di koran-koran, bukan kenyataan di masyarakat. Pejabat-pejabat naik mobil mewah, semantara rakyat berkubang dalam kemiskinan..”

Ajakan untuk kembali kepada Islam yang dikampanyekan Partai FIS seolah menjadi oase di tengah padang pasir yang tandus. Rakyat yang sudah muak dengan tingkah laku elit kekuasaan yang korup dan tidak peduli pada nasib rakyat, seolah menemukan tambatan hati baru untuk melabuhkan pilihan politiknya. Apalagi FIS secara tegas mengusung identitas Islam, dan berusaha berada di front terdepan dalam menolong rakyat dari kubangan sosialisme, sekularisme, dan hedonisme orang-orang yang berkuasa. Dengan motor penggerak para aktivis, kader-kader Partai FIS bergerak turun ke bawah dan meyakinkan masyarakat akan masa depan yang cerah.

Sejak Aljazair merdeka pada tahun 1962, peralihan kekuasaan tak berjalan seiring dengan kesejahteraan rakyat. Ibaratnya, setelah lepas dari penjajahan asing, rakyat terjerat dalam belitan penguasa yang tiran. Rakyat yang tak puas kemudian melakukan aksi demonstrasi, hingga akhirnya Presiden Chadli Bendjedid melakukan perubahan konstitusi di Aljazair dengan membuat regulasi yang membolehkan berdirinya partai-partai. Kebijakan ini kemudian disambut oleh para aktivis dakwah yang sudah lebih dulu melakukan kaderisasi dan tarbiyah untuk mendirikan Partai FIS.

Setelah kran kebebasan itu terbuka, para aktivis dakwah yang kemudian membentuk Partai melakukan pendekatan secara intens kepada rakyat. Kader-kader yang menjadi mesin penggerak partai bergerak secara massif. Pada kurun waktu 1989-1991, para aktivis FIS melakukan intens melakukan pendekatan, berdakwah, dan menawarkan sebuah harapan baru untuk masa depan rakyat Aljazair. Mereka mengajak rakyat untuk kembali kepada Islam, hidup di bawah naungan Islam, dan bersama-sama membangun kesejahteraan lewat-lewat sistem-sistem Islam yang ditawarkan. Para dai menyampaikan gagasan-gagasan untuk masa depan yang baru lewat mimbar-mimbar dakwah, pengajian, dan sebagainya.

Berdakwah lewat jalur politik, itulah cara yang dilakukan oleh FIS untuk merebut kekuasaan. Kran kebebasan yang terbuka lebar, dijadikan peluang untuk bisa mengubah keadaaan dan kondisi masyarakat lewat sistem kekuasaan. Pertimbangan maslahat yang lebih besar, tak lantas membuat FIS yang bercita-cita menyelamatkan rakyat Aljazair dari sistem sekular melakukan perlawanan bersenjata.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X