Berita Terkini

PKC Kirim Anak-anak Muslim Xinjiang ke Sekolah Darat untuk “Sinisisasi”

“Mengontrol pemuda Xinjiang berarti mengendalikan masa depan wilayah itu” tampaknya menjadi slogan di balik kampanye PKC untuk mendidik anak-anak Muslim di lingkungan Han.

XINJIANG (Jurnalislam.com) – Setiap tahun, Partai Komunis Cina (PKC) secara sistematis merekrut sejumlah besar siswa etnis minoritas dari Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang untuk belajar di bagian lain di Cina. Tidak hanya uang sekolah dan semua biaya ditanggung oleh pemerintah, tetapi staf yang ditugaskan secara khusus menemani mereka dalam perjalanan dari dan ke Xinjiang, selain itu membantu dan mengawasi mereka.

Tetapi apa yang ada di bawah perawatan yang tampaknya menguntungkan ini? Banyak siswa di sekolah tempat pemuda Xinjiang dikirim tampaknya memiliki pertanyaan serupa.

“Mengapa orang-orang dari Xinjiang datang untuk belajar di sini? Tidakkah mereka memiliki sekolah kejuruan di sana?” kata seorang mahasiswa etnis Han di sebuah sekolah kejuruan di provinsi Liaoning timur laut bertanya selama kelas.

Siswi dari Xinjiang sedang belajar di Sekolah Menengah LianYunGang di Provinsi Jiangsu. Selain dilarang memakai jilbab, pemerintah juga melarang mereka beribadah lainnya. Foto: BitterWinter

Seorang guru menjelaskan bahwa itu adalah langkah “brilian” para pemimpin negara. Ia menambahkan bahwa pemuda Xinjiang datang ke daerah lain untuk belajar tidak hanya membantu “menentukan keturunan” mereka tetapi juga “mencegah orang tua mereka dari menimbulkan masalah.”

“Anak-anak mereka bersama etnis Hans ada di sini, jadi mereka tidak akan berani melakukan kerusuhan,” kata guru itu puas.

Dalam 11 tahun ini, sekolah tersebut telah menerima siswa dari Xinjiang yang berumur 14 hingga 20 tahun. Sekolah itu saat ini menampung lebih dari 480 siswa yang semuanya ditanggung oleh pemerintah.

Tetapi tidak ada yang datang secara gratis, mereka menerima “perlakuan istimewa” sebagai imbalan atas kebebasan mereka. Sekolah menerapkan kontrol ketat seperti militer terhadap siswa dari Xinjiang. Mereka tidak bisa meninggalkan semau mereka, mereka juga dilarang melakukan segala bentuk ibadah. Tempat tinggal mereka terpisah dari siswa Han di sekolah.

Salah satu guru sekolah mengatakan kepada Bitter Winter bahwa siswa Xinjiang tinggal di asrama enam lantai yang dilengkapi dengan kamera pengintai.

“Enam hingga delapan siswa tinggal di setiap kamar. Ada 26 guru yang bertugas di malam hari, yang bertanggung jawab untuk mengawasi anak-anak ini,” kata guru itu.

Guru Han tidak mengerti bahasa asli yang digunakan oleh siswa Xinjiang, dan mereka perlu menghabiskan lebih banyak waktu, bahkan kadang-kadang mengorbankan liburan mereka, untuk mengawasi mereka. Karena kesulitan yang bertambah, guru bukannya tidak akan ditugaskan untuk pemuda Xinjiang, tetapi mereka tidak memiliki suara dalam masalah ini.

“Itu bukan pilihan. Ini adalah tugas politik yang ditugaskan negara kepada kami,” kata guru lain dari sekolah itu.

Para siswa Xinjiang di Sekolah Menengah Kou di Jiangsu ikut serta dalam upacara pengibaran bendera. Foto: BitterWinter

Hampir 500 siswa dari Xinjiang, termasuk Uyghur dan Kazakh, belajar di Sekolah Khusus Pertanian Fushun di Liaoning. Mereka juga diawasi dengan ketat: personel yang ditugaskan secara khusus menemani para siswa dari rumah dan kembali pada awal dan akhir setiap tahun ajaran. Mereka berada di bawah pengawasan ketat di kampus, penjaga keamanan mengawal mereka ke dan dari asrama.

Pada 8 Juni lalu, polisi khusus pemerintah mengawasi 500 siswa yang naik kereta api dari Beijing untuk kembali ke Xinjiang untuk liburan musim panas mereka.

“Sinisisasi” untuk menjadi kader Partai Komunis

Sebuah sumber dari Tianjin, sebuah kota pesisir di Cina Utara yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat, mengungkapkan kepada Bitter Winter bahwa pada akhir Agustus lalu, sebuah sekolah menengah di kota itu menugaskan sembilan gurunya terbang ke Xinjiang untuk membawa kembali lebih dari 300 siswa. Hingga saat ini, setidaknya 11 sekolah di Tianjin telah menerima siswa dari Xinjiang yang diajari tentang budaya Han dan diharuskan berbicara bahasa Mandarin.

“Ketika anak-anak Xinjiang ini dikirim untuk belajar di pedalaman Cina, mereka berhubungan dengan siswa dan guru Han, dipengaruhi oleh budaya Han,” kata seorang guru Tianjin kepada Bitter Winter.

Siswa muslim Xinjiang juga diwajibkan untuk mengikuti pelatihan militer di Sekolah Menengah Kou. Foto: BitterWinter

“Interaksi mereka dengan guru dan teman sekelas mereka akan mempengaruhi pandangan mereka tentang kehidupan, nilai-nilai mereka, dan bagaimana mereka menilai sesuatu. Setelah mereka kembali ke Xinjiang untuk bekerja, para siswa ini yang telah belajar selama beberapa tahun di pedalaman Cina akan siap menerima kepemimpinan Partai Komunis dan mendukungnya,” paparnya.

Seorang guru lain mengungkapkan bahwa Kementerian Pendidikan berencana mengirim anak-anak yang lebih muda dari Xinjiang (usia 6 hingga 7) ke sekolah-sekolah di pedalaman Cina untuk belajar bahasa Mandarin dengan tujuan untuk disinisisasi, mengubah kebiasaan hingga pola makan mereka.

Secara singkat Sinifikasi, Sinofikasi, Sinoisasi, Sinisisasi, atau Hanisasi adalah suatu proses di mana masyarakat non-Tionghoa berada di bawah pengaruh budaya Tionghoa, khususnya budaya dan norma-norma kemasyarakatan Tionghia Han. Ruang lingkup pengaruh meliputi makanan, tulisan, industri, pendidikan, bahasa, hukum, gaya hidup, politik, filsafat, agama, sains dan teknologi, budaya, dan sistem nilai.

Sumber: BitterWinter.org

Baca juga:

Cina Paksa Para Imam Uighur Sebarkan Ideologi Komunis

Siswa Uighur Dipaksa Menandatangani Pernyataan Menolak Agama

Terungkap, Begini Kondisi Anak-anak Muslim Uighur di Kamp Konsentrasi Cina

Tiga Wanita Berhijab Diserang Seorang Pria di San Diego

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Pagi ini, Ahad (13/10/2019) Ustaz Abdul Somad mengisi tabligh akbar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.

Ribuan jamaah yang didominasi mahasiswa dan masyarakat umum nampak khusyu menyimak materi yang disampaikan UAS tentang ‘Birul Walidain’ atau berbakti kepada orang tua.

Namun di sela-sela paparannya, UAS mengungkapkan kekagumannya kepada sosok pendiri Muhammadiyah, itu KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang berani melawan arus pada saat itu untuk membersihkan masyarakat dari takhayul, bid’ah dan khurafat.

“Berceramah di UAD merupakan kebanggaan bagi saya, karena saya kagum pada sosok KH Ahmad Dahlan. Beliau punya keberanian untuk melawan arus, arus TBC; takhayul, bid’ah, dan churafat,” kata ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.

Kekagumannya juga didasari oleh sifat KH Ahmad Dahlan yang tidak membangun ketokohan diri akan tetapi membangun metode dakwah yang diterima dan bermanfaat hingga saat ini.

“Beliau tidak membangun ketokohan, tapi membangkitkan metodenya, membangun relanya, sehingga ketika keretanya sudah lapuk, akan tetap ada kereta api baru yang lewat di rel ini. Artinya, bangunlah rel maka akan ada lokomotif-lokomotif baru. Dan akhirnya hari ini saya ada di depan kereta-kereta baru itu,” tutur UAS.

Kemudian UAS mengutip sebuah hadits yang berbunyi,  “Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala.” (HR. Ahmad)

“Bukan kita yang menikmati buahnya, tapi ada orang lain yang akan menikmatinya kelak. 28.000 ibadah mahasiswa UAD mengalir ke makam KH Ahmad Dahlan,”

Sebelum di Masjid UAD, UAS juga mengisi kajian di acara Muslim United #2 di Masjid Jogokariyan dan di Universitas Islam Indonesia (UII).

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Penceramah kondang, Ustaz Abdul Somad mengisi kajian di Aula Masjid Kampus Terpadu Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (12/10/2019). AS memberikan ceramah selama dua jam lebih dari pukul 13.00-15.000 WIB.

“Alhamdulillah acara kajian atau seminar bertajuk Islam dan Ilmu Pengetahuan berlangsung sukses. Sekitar 7000 orang hadir dalam acara tersebut. Sedangkan ketika ditayangkan secara streaming tayangan itu di saksikan sekiat 15.000 viewer. Luar biasa. Alhamdulillah,” kata Rektor UII, Fathul Wahid, Sabtu (12/10/2019).

Dalam paparanya, UAS menyampaikan materi tentang ikatan Islam dan ilmu pengetahuan.

“Siapa bilang saya ceramah saya tidak ilmah. Saya tidak bisa karena bukan pada tempatnya. Undang saya ke universitas maka saya akan bicara secara ilmiah,’’ kata UAS dengan gaya khasnya.

UAS menjelaskan, dalam Islam validitas keilmuan itu utama dan sangat penting. Dan ini sudah dipraktikan dalam seluruh masa perjalanan agama Islam.

“Ini misalnya dalam penyusunan hadits yang harus valid sampai ke nabi. Ini dipraktikan, misalnya dipraktikan oleh KH Hasyim Azhari yang setiap Ramadhan dahulu selalu memberikan kajian tentang hadis. Di sini semua jelas validasi dan rangkaian sanadnya,” paparnya.

Pada acara di UII tersebut, Somad mengaku dirinya belajar rendah hati. Bahkan, datang ke acara tersebut dilandasi untuk belajar bersama, bukan mengisi seminar.

“Di masa depan melalui integrasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan di UII akan lahir sosok penerus Al Khawarizmi, Ibnu Rush, Abnu Khaldun, para ahli hadis dan ulama. Nanti akan lahir orang alim dan arif,” tegasnya.

UAS mengatakan demokrasi tidak menghalangi kaum Muslim menjalankan syariah dan nilai ajaran Islam. Ini bisa implementasikan melalui berbagai undang-undang dan aturan hukum, seperti peraturan gubernur, peraturan bupati, peraturan desa dan lainnya. Contoh ini sudah dilakukan di Inggris di mana nilai syariah Islam dalam ekonomi bisa dijalankan di sana padahal negara itu bukan negara yang banyak mempunyai penduduk penganut Muslim

“Di sini umat Islam harus menjalankan seluruh nilai agamanya melalui jalur yang konstitusional. Ingat juga, kejayaan Islam akan datang kembali dengan kemajuan ilmu pengetahuan,” kata UAS yang kemudian menutup kajiannya dengan acara tanya jawab.

Sumber: Republika

Baca juga:

Ditolak UGM, Ribuan Mahasiswa Baru UAD Siap Sambut UAS

Sikap UGM Menolak UAS Dinilai Bertentangan dengan Nilai Pancasila

Ustaz Abdul Somad Ajak Kaum Muslimin Hadiri Muslim United #2

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

PBNU Minta Penyerangan Wiranto Tak Dikaitkan dengan Islam

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

BIMA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 20.165 warga Kota Bima mengikuti Pawai Rimpu yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Bima di Lapangan Serasuba, Kota Bima, Sabtu (12/10/2019).

Jumlah itupun berhasil memecahkan rekor sebagai pawai rimpu terbanyak dan mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kegiatan ini di luar ekspektasi. Kami menargetkan 15 ribu peserta, tapi yang hadir melebihi itu,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, Sunarti kepada wartawan, Sabtu (12/10/2019).

Pawai dimulai dari Lapangan Serasuba pada pukul 08.00 Wita dan berakhir di Pantai Lawata. Pawai itu menempuh jarak sejauh 5 kilometer yang diiringi ratusan kaum laki-laku yang menunggang kuda.

Untuk menghitung jumlah tersebut, tim dari MURI ditempatkan di 3 lokasi. Pertama di Lapangan Serasuba, dan mulai menghitung dari 10 baris pertama dan 10 baris terakhir. Tim penghitung juga berada di pertengahan jalur pawai dan di lokasi finish di Pantai Lawata.

Rimpu adalah sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima. Budaya “rimpu” telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima menerima Islam yang dibawa oleh orang-orang Sumatera melalui hubungan antara kerajaan Bima dengan Goa.

Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam).

Sementara itu, antusiasme tinggi ditunjukkan warga Bima untuk mengikuti pawai ini. Salah seorang peserta remaja menuturkan kesan pertamanya saat mengenakan busana muslimah asli Indonesia ini.

“Menurut saya acara ini sangat bermanfaat untuk melestarikan budaya budaya Bima, selain itu acara ini juga bagus untuk mengenalkan budaya Bima kepada orang orang asing yang datang ke Bima, dan juga anak anak muda jaman sekarang yang tidak tahu dan juga tidak mengerti bagaimana cara memakai maupun budaya bima dapat lebih mengetahuinya,” kata salah seorang peserta remaja, Awanis Zakira.

Sementara itu, salah seorang panitia, Fahmi Fahrurahman berharap dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat Bima dapat melestarikan budaya rimpu yang merupakan peninggalan Islam di Bima.

“Harapan saya dengan adanya kegiatan ini adalah, agar masyarakat dapat mengenal dan tetap melestarikan kebudayaan rimpu ini dan dimana rimpu ini sangat mirip sekali dengan budaya cadar, mungkin di harapkan agar para generasi muda untuk tetap melestarikanya,” ungkapnya.

Reporter: Pramudia Bagus

Baca juga:

Resmikan Pusat Dakwah, Ormas Hidayatullah Harap Kehadirannya Bermanfaat Bagi Umat dan Bangsa

Wapres Jusuf Kalla Resmikan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim

Tiga Wanita Berhijab Diserang Seorang Pria di San Diego

Generasi Milenial Lebih Suka Kerja di Bidang Digital

Ada Pihak yang Dinilai Ngebet Tunggangi Kriminalitas terhadap Wiranto ke Isu Terorisme

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United 2019 yang semula digelar di Masjid Gedhe Kauman dipindah ke Masjid Jogoriyan, Yogyakarta. Informasi ini diumumkan panitia melalui pengeras suara di Masjid Gedhe Kauman.

“Kami dari panitia MU mau mengumumkan sesuatu mohon diperhatikan, bahwasanya pada hari ini kami mewakili dari Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, Takmir Masjid Kauman dan panitia MU #2 memutuskan untuk memindahkan lokasi MU #2 ke Masjid Jogokariyan,” kata salah satu perwakilan panitia melalui pengeras suara Masjid Gedhe Kauman sabtu, (12/10/2019) siang.

Kegiatan MU #2 akan tetap berjalan hingga hari terakhir sebagaimana yang dijadwalkan, yaitu hari Ahad (13/10/2019). Rangkaian acara MU #2 di Masjid Jogokariyan akan dimulai pada pukul 15.00 WIB.

“Acara tetap akan berlangsung dan akan dimulai pukul 15.00 Wib,” ujarnya

Panitia juga menyediakan transportasi bagi peserta yang akan menuju lokasi baru di Masjid Jogokariyan.

“Dan monggo yang mau mengikuti silahkan dan kami sediakan transportasi bagi yang tidak membawa kendaraan,” tuturnya.

Panitia menegaskan, keputusan pemindahan lokasi kegiatan Panitia MU #2 diambil tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

“Keputusan ini diambil secara bersama-sama dan tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi ataupun yang lainnya dan demi kebikan bersama,” tegasnya.

Pengumuman pemindahan lokasi itu juga disampaikan melalui akun media sosial Muslim United.

“Dengan mengharap ridho Allah dan berdasarkan keputusan bersaa antara FUI DIY, Takmir Masjid Gedhe Kauman dan Official Crew Muslim United #2, maka Muslim United #2 mulai sore ini tanggal 12/10/2019 jam 15.00 WIB akan berlangsung di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Statement, isu, berita, dan lain-lain yang tidak berasal dari Official Muslim United #2 bukan tanggung jawab kami,” bunyi pernyataan tersebut.

Reporter: Hasan Shogir, Yogyakarta

 

Baca juga:

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

MUI Heran Apa yang UGM Takutkan dari Sosok UAS

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Lembaga Kemanusiaan Aman Palestin (AP) ikut meramaikan kegiatan Muslim United 2019 yang berlangsung selama 3 hari di Masjid Kauman, Yogyakarta, Jum’at – Ahad (11-13/10/2019).

AP membuka stand kopi di halaman Masjid Kauman yang diberinama ‘A Cup for Solidarity’ yakni ngopi sepuasnya, donasi seikhlasnya.

“Program tersebut dilatarbelakangi karena saat ini semakin banyak masyarakat yang menjadi penggemar kopi di Indonesia,” kata Humas AP Jateng-DIY Muharomi.

“Apalagi tanggal 1 Oktober kemarin merupakan hari kopi internasional, jadi pas, kalau program ini dilaksanakan di bulan Oktober,” imbuhnya.

Muharomi menjelaskan bahwa donasi infaq yang terkumpul dalam program tersebut akan disalurkan untuk membantu masyarakat korban konflik di wilayah Syam, khususnya Palestina.

“Karena AP merupakan lembaga kemanusiaan Indonesia pertama yang mempunyai perwakilan di Palestina,” ungkapnya.

Program A Cup For Solidarity, kata Muharomi, tidak hanya dikhususkan untuk membantu korban konflik di Bumi Syam saja, juga diperuntukkan untuk program pembangunan Masjid Ajlin di Palestina.

“Program pembangunan masjid yang digawangi AP, yang seluruh dananya diperoleh dari masyarakat Indonesia,” terangnya.

“Alhamdulillah, program “A Cup for Solidarity” banyak diminati oleh peserta MU, semoga dana yang diperolehpun juga banyak,” lanjutnya.

Dia juga berharap gerakan ini juga diikuti oleh yang lainnya, karena kondisi masyarakat dan negeri di Bumi Syam saat ini sedang menangis

Baca juga:

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

Resmikan Pusat Dakwah, Ormas Hidayatullah Harap Kehadirannya Bermanfaat Bagi Umat dan Bangsa

Wapres Jusuf Kalla Resmikan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Muhammad Amer Azzikra, putra kedua almarhum KH. Arifin Ilham menjadi salah satu pemateri di hari pertama acara Muslim United 2019 di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Jumat (11/10/2019).

Dalam paparannya, Amer mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang mendapat rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang yang berhijrah.

“Orang yang berhijrah, orang yang bertaubat, yang berusaha menjadi lebih baik lagi maka dia mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala,” tuturnya di hadapan ribuan jamaah yang didominasi oleh kaum millenial.

“Karena anak muda yang terbaik bukan hanya anak muda yang mendunia, tapi juga anak muda yang mengakhirat,” sambungnya.

Amer yang baru berusia 18 tahun ini juga sekilas menceritakan kenangannya bersama sang Ayah. Ia mengatakan, KH Arifin Ilham selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.

“Sejak kecil saya kalau tidak salat, Subuh terutama, saya dikurung di kamar mandi sampai 20 menit, saya disuruh merenungi saat saya meninggal, saya kenang itu, sampai kemudian saya lihat sendiri saat Abi dikubur,” kenangnya.

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Hari pertama acara Muslim United 2019, Jumat (11/10/2019) di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dihadiri oleh ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah.

“Acara MU telah berjalan dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah,” kata Ketua Presidium Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Yogyakarta, Syukri Fadholi saat dihubungi Jurnalislam.com, Jumat (11/10/2019).

Meskipun tidak mendapat izin dari pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, FUI selaku penyelenggara acara menjamin bahwa tidak ada konten yang bersifat anti pemerintah atau radikalisme di dalamnya.

“Kami berikan jaminan bahwa dalam rangkaian Kegiatan MU tidak ada yang bersifat anti pemerintah dan Islam Radikal,” tegasnya.

Syukri menjelaskan, selain diisi dengan kajian-kajian Islam, acara bertema “Sedulur Sak Lawase” ini juga diramaikan dengan kegiatan ekonomi yang diikuti oleh 120 UKM. Atas pertimbangan itu, pihaknya berharap acara bisa dilanjutkan sampai selesai.

“Jadi saya berharap kepada Keraton dan Kepolisian agar bisa memahami dan tetap berjalan sampai selesai,” katanya.

 

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kendati acara terhambat perizinan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, acara Muslim United 2019 yang digelar di Masjid Gedhe Kauman akan tetap digelar hingga selesai pada hari Ahad 13 Oktober 2019 seperti yang diagendakan.

Kegiatan yang diinisiasi Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) ini mengangkat tema ‘Sedulur Saklawase’ dengan menghadirkan sejumlah ustaz dan dai ternama untuk menyampaikan tausyiahnya.

Ketua Panitia Muslim United 2019, Nanang Syaifurozi menyampaikan, acara Muslim United murni syiar agama Islam dan tidak berbenturan dengan kepentingan manapun.

“Saya yakin ini murni syiar agama dan tidak berbenturan dengan kepentingan apapun, jadi tidak ada alasan untuk menghalanginya. Apalagi tempatnya di masjid dan ini memang pengajian,” ujar Nanang Syaifurozi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/10/2019).

Nanang menegaskan, kegiatan Muslim United 2019 tidak didasari dari kepentingan kelompok manapun dan murni hanya untuk mempersatukan kembali umat muslim di Indonesia, melalui kajian-kajian agama yang mengangkat tema tentang ‘Persatuan’.

“Perihal tuduhan yang macam-macam, kami ingin membuktikan kalau itu tidak benar. Jadi kajian, walau rame orang, tapi tertib, bersih, tidak ada provokator, tidak ada intimidasi, tidak ada ujaran kebencian,” katanya.

Dia menambahkan, kegiatan ini diadakan di Masjid Gedhe Kauman, di mana merupakan simbol Kerajaan Mataram di Yogyakarta yang memiliki nilai sejarah persatuan umat Islam. Sehingga Yogyakarta tentunya memiliki kontribusi cukup besar terhadap persatuan umat Muslim.

“Tetap datang, nggak usah takut, kita niatkan karena Allah. Dengan niat baik, dengan adab yang baik. Bismillah, insya Allah akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT,” katanya.

Resmikan Pusat Dakwah, Ormas Hidayatullah Harap Kehadirannya Bermanfaat Bagi Umat dan Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah pada Jumat (11/10/2019) melangsungkan hajatan berupa peresmian Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Jalan Cipinang Cempedak I/14, Polonia, Jakarta Timur.

Dalam hajatan yang dihadiri Wakil Presiden HM Jusuf Kalla dan ratusan kader Hidayatullah dari berbagai wilayah se Indonesia ini, Ketua Umum DPP Hidayatullah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan mendukung proses pembangunan pusat dakwah dan masjid tersebut.

“Kami atas nama Keluarga Besar Hidayatullah mengucapkan terima kasih kepada pihak yang mendoakan,  membantu, dan mendukung, kelancaran pembangunan gedung ini,” tuturnya dalam sambutannya.

“Tempat ini sebagai pusat dakwah mudah-mudahan bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh umat Islam baik nasional maupun internasional,” imbuhnya.

Lebih jauh, Nashirul Haq menjelaskan posisi Hidayatullah di dalam pembangunan umat, rakyat, bangsa, dan negara.

“Hidayatullah hadir untuk menjadi mitra pemerintah, bersinergi dengan seluruh komponen umat untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat,” jelasnya menegaskan.

Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah terdiri dari basement dan empat lantai. Lantai pertama adalah Masjid Baitul Karim. Lantai kedua berupa aula. Lantai ketiga kantor Pusat Dakwah Hidayatullah. Dan, lantai empat merupakan pusat kegiatan media dan konten.

Wapres JK menandatangani prasasti peresmian gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim itu disaksikan antara lain oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo beserta jajaran pimpinan dan pengurus pusat Hidayatullah.

Turut hadir sejumlah tokoh seperti Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Prof Din Syamsuddin.*