Berita Terkini

Ini Kata Generasi Milenial Tentang Muslim United #2

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United (MU) #2 yang dihadiri ribuan peserta ikut membawa kesan sendiri bagi kaum milenial.

Menurut Aprian, salah satu peserta asal Banjarnegara MU #2 merupakan kegiatan dakwah yang dikemas kekinian untuk boleh untuk kaum Milenial.

“Kalau menurut pribadi rame sih dan acara ini dikemas dengan lebih kekiniaan, nggak hanya kaum tertentu, orang tua bisa masuk, kaum muda bisa masuk, lebih semua orang bisa menerima acara ini,” katanya kepada jurniscom di Masjid Jogokariyan, Ahad (13/10/2019).

Selain itu, Aprian ikut menyayangkan terkait pemindahan lokasi kegiatan MU #2 ke Masjid Jogokariyan.

Ia juga membantah akan adanya kepentingan kelompok tertentu dalam kegiatan MU #2 yang sebelumnya dilaksanakan di Masjid Gedhe Kauman tersebut.

“Sangat disayangkan sekali kalau di masjid Kauman kan luas, aksesnya juga lebih mudah kalau kesini kan aksesnya agak sulit,” ujarnya.

“Kalau dilihat kan dari banyak kalangan, bukan kelompok tertentu, kalau bisa tetap jalan acaranya bisa lebih meriah lagi dan mengikuti jaman agar anak anak muda yang nggak suka datang bisa lebih suka,” imbuhnya.

Aprian yang merupakan mahasiswa UNS tersebut berharap MU bisa dilaksakan secara rutin setiap tahunnya, terlebih, katanya, panitia harus bisa mengikuti perkembangan jaman dan mengaet anak anak muda yang masih minim akan ilmu agama.

“Dan bisa menggaet anak anak muda seperti yang di kafe, dan lain lain, kan bisa nih ada acara asik nih, jadi acaranya nggak kaku banget,” ungkapnya.

“Anak anak muda kan sebenarnya senang, tapi mau datang gimana gitu, jadi mungkin dikemas lebih kekinian agar target anak muda ikut penasaran,” pungkasnya.

Baca juga:

Puluhan Mantan Preman Solo Sajikan 2500 Cup Kopi Taubat di Muslim United

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

Ditolak UGM, Ribuan Mahasiswa Baru UAD Siap Sambut UAS

Puluhan Mantan Preman Solo Sajikan 2500 Cup Kopi Taubat di Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Ada pemandangan menarik ketika kita berada di acara Muslim United (MU) #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta pada Sabtu-Ahad (12-13/2019).

Di salah satu stand diantara puluhan stand yang berjajar di area Masjid Jogokariyan, terlihat beberapa pria berpenampilan ala preman sibuk membuat kopi diatas sebuah meja dan menawarkan kopi gratis kepada peserta yang ingin mengikuti kegiatan MU #2.

“Kopinya mas gratis, kopinya mas, monggo monggo, ngopi dulu sambil dengerin kajian, mari silahkan,” kata salah satu pria berambut gondrong dengan mengunakan rompi warna hitam sembari membawa satu cup kopi panas bertuliskan ‘Kopi Taubat’ yang disodorkan kepada peserta yang lewat,

Mereka adalah sekelompok orang yang membentuk satu komunitas hijrah yang diberi nama Exspreso atau Exs Preman Solo.

Suyudi Nugroho, pendiri sekaligus ketua Exspreso menjelaskan perihal keikutsertaan Exspreso dalam kegiatan MU #2 tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa bang Yudi ini, ia bersama puluhan anggota Exspreso ikut mendukung kegiatan MU #2 yang dirasanya memberikan banyak manfaat positif bagi mereka yang ingin berhijrah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Ia juga merasa prihatin atas adanya kriminalisasi terhadap ulama dan aktifis Islam, umat Islam, katanya, seakan dibatasi dalam menyampaikan syiar dakwah Islam kepada masyarakat luas.

“Kalau kita suport ke MU, pertama prihatin dengan kriminalisasi ulama dimana mana, sampai acara sebenarnya sudah bagus di Masjid Kauman, terus akhirnya mau pindah ke UAD, dan akhirnya ke Jogokariyan, empati kita peduli dengan MU,” pungkasnya.

Baca juga: 

Ini Kata Generasi Milenial Tentang Muslim United #2

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Keluarga Sebut Jasad Akbar Tak Bisa Dikenali Karena Wajah Lebam

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)- Pernak pernik dan aksesoris berbau Muslim United (MU) menjadi salah satu buruan utama yang dibeli oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Dalam kegiatan MU #2, panitia menjual aksesoris mulai dari gantungan kunci, hingga kaos bertuliskan Muslim United.

Alhamdulillah tembus di angka 80 juta pada hari kedua, dan ini diluar ekspektasi kita, kita kan ada 3 titik dan Qodarullah kita bisa bangun dua titik dan diluar ini dugaan kami,” kata salah satu penanggungjawab merchandise Rangga kepada jurniscom ahad, (13/10/2019).

Menurutnya, Kaos dan Topi menjadi barang yang paling dicari oleh para peserta, harga yang dibandrol untuk mercahandise yang dijajakan oleh panitia itu dibandrol dari ribuan hingga ratusan ribu.

“Paling dicari kaos dan topi, yang habis Gantungan Kunci dan Pin, Topi bordir biasa 100 ribu yang bordir 125, kaos 100 lengan pendek, lengan panjang 125 ribu,” ungkapnya.

Ia pun ikut menyayangkan akan kepindahan kegiatan MU #2 ke Masjid Jogokariyan, menurutnya, tidak ada kepentingan politik tertentu dalam kegiatan MU #2 tersebut.

“Acara kita ini kan murni dan tidak ada yang menunggangi, harapan terus harus berjalan dan lebih berkembang lagi, kalau di berita ada pertentangan dan yang lainnya kita dilapangan malah enjoy aja,” paparnya.

“Dan banyak jamaah yang menangis, warga Kauman yang menyayangkan, dan asmofirnya disini luar biasa banget,” imbuh Rangga.

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United (MU) #2 ikut membawa berkah bagi sejumlah pedagang, hal itu diungkapkan Mulyadi salah satu pedagang jilbab dan aksesoris muslimah yang ikut berjualan dalam kegiatan MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Di hari kedua MU #2, ribuan umat Islam dari berbagai kota turut hadir di Masjid Jogokariyan, Menurut Mulyadi yang juga membuka toko di Yogyakarta itu, ia bisa mendapatkan omset 3 sampai 4 kali lipat daripada saat ia berjualan biasa.

“Kalau saya rata rata disini bisa 3 atau 4 kali di toko saya, di Kauman itu hari pertama kita dapat uang sekitar 5 juta dan kalau disini tadi karena pindah lokasi dapat 2 juta,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (13/10/2019).

Sementara jilbab dan kaos kaki menjadi barang favorit yang diborong oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan. Ia berharap event MU dapat dilaksanakan secara rutin.

“Saya berharap hastag #JogjaKotaKajian benar benar dilakukan, dan karena ketika ada event seperti ini bagus, dan memang bagus untuk penjualan,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ali pedagang Peci dari Jakarta, ia bisa memperoleh untung kurang lebih dua kali lipat dari hari biasa, ia juga ikut mendukung kegiatan MU yang dianggapnya bisa mempersatukan umat Islam di Indonesia.

“Harapan saya ini terus bisa dilaksanakan, karena ini memang bisa mempersatukan umat, dan untuk kami pedagang juga sangat baik ketika berjualan,” paparnya.

Baca juga:

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dua periode, Kiai Cholil Ridwan meminta umat Islam di Indonesia untuk meniru gerakan Buy Muslim First (BMF) yang terjadi di Malaysia untuk meruntuhkan kekuasaan ekonomi Cina.

“Itu namanya jihad ekonomi,” katanya saat memberikan sambutan di acara Dzikir & Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Ahad (13/10/2019).

Lelaki yang juga pembina Dewan Da’wah Indonesia (DDII) ini mengatakan kalau gerakan BMF ditiru di Indonesia, orang cina akan bangkrut.

“Kalau ummat Islam mau menang, puasa beli produk-produk Cina,” pungkasnya.

Dia menjelaskan perlunya persatuan dan merebut perpolitikan nasional, seperti strategi Mahatma Gandhi yang tidak mau bekerja sama dengan Inggris.

Mahatma sengaja memenuhi kebutuhan sendiri, menenun pakaian sendiri, menyebabkan Inggris bangkrut dan India bisa merdeka.

“Dari segi aspek ekonomi kita bisa menyimpan uang di bank syariah, bank lokal dan bank BUMN demi memajukan negeri ini,” tuturnya.

Siang tadi, persaudaraan alumni 212 menggelar zikir dan munajat akbar di Masjid Sunda Kelapa.

Tujuan dilaksanakannya untuk mendoakan ulama dan aktivis yang disebut dikriminalisasi oleh rezim.

Baca juga: 

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Keluarga Sebut Jasad Akbar Tak Bisa Dikenali Karena Wajah Lebam

JAKARTA (Jurnalislam.com) -Pihak keluarga sempat tak mengenali Akbar Alamsyah saat pertama kali menemui di RS Polri, Jakarta Timur. Peserta 25 September  2019 di Gedung DPR ini meninggal karena dugaan kerusakan saraf.

Kakak perempuan Akbar, Fitri Rahmayani (25) menyebut kondisi Akbar sebelum meninggal sangat memprihatinkan.

Ia mengatakan Akbar mengalami banyak luka di area kepala.

“Enggak bisa dikenali. Mama sih yang lihat (di RS Polri), aku lihat di RSPAD,” ujar Fitri kepada wartawan setelah pemakaman Akbar di TPU belakang Seskoal, Cipulir, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Sebelum ditangani di RS Polri, Akbar pertama kali mendapat perawatan di PS Pelni, Jakarta Barat. Di sana dia sempat menjalani operasi.

Fitri pun menggambarkan kondisi Akbar, anak kedua di keluarganya.

Terdapat pembengkakan besar di kepalanya membuat Akbar susah dikenali. Bahkan terdapat bekas jahitan di mulut yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya.

Keluarga mengatakan kondisi Akbar setelah ditemukan tidak kunjung pulih hingga akhirnya meninggal.

“Jadi kepalanya besar seperti pakai helm, kayak semacam tumor kepala. Gede lebam bibirnya sampai menutupi lubang hidung saking keluarnya, jontor,” kata Fitri.

“Dari (RS) Polri tanggal 30 sampai sekarang pun menurun turun terus enggak ada perkembangan,” tambahnya.

Ketika diajak bicara pun Akbar tidak bisa merespons dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara di RS Polri.

“Bibirnya kayak orang mau getar gitu, mata keadaan tutup. Tangannya sempet gerak cuma [itu] responsnya di RS Polri,” kata dia.

“Dokter tidak ada yang berani langsung ngomong penyebab luka wajah tersebut. Tidak ada yang bilang jatuh atau apa,” jelasnya.

Sumber: cnnindonesia.com

 

Baca juga:

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

Komnas HAM Kawal Kasus Tewasnya Mahasiswa Kendari

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan, kematian Akbar mesti diungkap karena muncul kejanggalan terkait penyebab kematian Akbar.

“Hari ini kita menyaksikan ibunya histeris dan berteriak-teriak, misalnya di kasus Akbar disiksa, disiksa oleh siapa? Di mana? Ini penting jangan sampai kemudian kita menimbulkan pertanyaan,” kata Isnur di Gedung Merah Putih KPK, beberapa waktu lalu.

Isnur menuturkan, ada banyak kejanggalan dalam kasus kematian Akbar, salah satunya mengenai penyebab kematian yang disebut polisi akibat jatuh dari dinding pagar.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

sumber: kompas.com

Baca juga:

Baca juga:

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

Komnas HAM Kawal Kasus Tewasnya Mahasiswa Kendari

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

Polisi Diingatkan Jangan Ngeyel Bantah Temuan Lembaga Lain Soal Pelanggaran HAM

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan ada kejanggalan dalam kasus kematian mahasiswa Akbar Alamsyah.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

Ia pun mengingatkan polisi untuk tidak melulu menyangkal temuan-temuan lembaga-lembaga lain.

Isnur juga menyampaikan, hasil investigasi itu pun perlu menjadi evaluasi bagi polisi dalam menangani aksi demonstrasi dan polisi tidak boleh segan menjatuhkan sanksi bagi anggotanya yang bersalah.

“Di kasus Kendari, kapolri mencopot kapolda dan kapolres. Pertanyaan penting, kenapa di Polda Metro tidak lakukan hal yang sama?” kata Isnur.

sumber: kompas.com

Mahasiswa Patani di Indonesia Gelar Seminar Pendidikan di UIN Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Himpunan Pelajar Patani di Indonesia (HIPPI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kali ke-8 dengan mengadakan seminar nasional 2019 yang bertema “Pendidikan Masa Kini, Meraih Kesuksesan di Era Globalisasi”.

Seminar ini di selenggarakan di Aula Teater Prof. Muhammad Yunus, Lantai 3, Gedung FTIK, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia, pada Sabtu 12 Oktober 2019.

Nurman Senichana, sebagai ketua pelaksanaan menyampaikan salam hormat kepada para nara sumber, moderatr, mahasiswa internasional, dan mahasiswa Indonesia yang ikut hadir bersama dalam seminar nasional kali ini.

Seminar kali ini dihadiri oleh tiga nara sumber, pertama Dr. Anan Nisoh M. Pd (Pendidikan Islam di Selatan Thailand), kedua Dr. Ahmad Suryadi M. Ag (Pendidikan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asien), dan ketiga Dr. Dadi Darmadi M.A (Sikap Mahasiswa Asing di Indonesia), dan moderator Neneng Nurjanah, M. HUM.

Waesulaiman Saha, sebagai ketua umum HIPPI periode 2019-2020 mengungkapkan, telah genap delapan tahun HIPPI berdiri tegak semenjak tahu 2011 hingga sekarang, dan tidak merasa lelah mengembangkan amanat dalam mendidik anak bangsa Melayu patani.

“HIPPI mepunyai ciri kebersamaan untuk mencapai tujuan yang sama, ini merupakan sifat persaudaraan diatas nama himpunan, karena himpunan selalu mngajak kita semua untuk mengembangkan ide-ide dan cita-cita” imbuh Waesulaiman Saha

Perkenalan, HIPPI adalah organisasi kemahasiswaan dan berorientasi kemasyarakatan bagi umat bangsa Melayu Patani, dan HIPPI merupakan wadah perkumpulan pelajar yang datang dari Patani (Thailand Selatan), yaitu dari provinsi Patani, Yala, Narathiwat dan sebahagian dari Songkhla.

HIPPI berusaha untuk menciptakan kader-kader mahasiswa Patani yang mampu untuk mengatasi dan menyelesaikan problema-problema yang dihadapi oleh masyarakat Patani secara umum.

Patani merupakan provinsi yang terletak di bahagian Thailand Selatan dari negara Thailand, mayoritas penduduknya 95% beragama Islam dan berbangsa Melayu.

Patani semenjak tahun 1150 M, yang terkenal dengan Negara Patani Darussalam, dan di masa itu banyak ulama-ulama dan para cendikiawan Islam yang dapat mengembangkan agama Islam.

 

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Oleh: Ainul Mizan* 

Jurnalislam.com – Miris ketika membaca berita mengenai pembatalan sepihak oleh rektorat terhadap kuliah umum Ustadz Abdul Shomad di masjid UGM, yang rencananya dilaksanakan hari Sabtu, 12 Oktober 2019 (www.tirto.id, 9 Oktober 2019).

Padahal Pihak takmir sendiri menyatakan bahwa mereka sudah mematuhi semua persyaratan yang diajukan oleh pihak kampus, di antaranya tidak ada publikasi dan acaranya tidak memakai konsep tabligh akbar (www.republika.co.id, Kamis 10/10/2019).

Alasan yang diajukan oleh pihak kampus dalam menolak kehadiran Ustadz Abdul Shomad di antaranya adalah bahwa kampus harus menjaga keselarasan kegiatan akademik dengan kegiatan non akademik.

Lantas pertanyaannya, bukankah kehadiran UAS dalam rangka untuk memberikan kuliah umum yang bersifat ilmiah? Apakah selama ini UAS dalam memberikan materi pengajian maupun tabligh akbarnya secara serampangan tanpa dasar ilmiah yang berasal dari dalil al – Qur’an dan Hadits Nabi SAW?

Memang akan paradoks, ketika kita melihat kampus justru mengijinkan kegiatan yang tidak ilmiah. Ambil contoh di UIN Jakarta, pada semester ganjil 2017 mengadakan pagelaran musik musisi papan atas Indonesia (www.kompasiana.com, 5 Februari 2018).

Dan sekarang ini pagelaran konser musik  di kampus bukan hal yang tabu dilakukan. Di samping pertimbangan sebagai hiburan dari penatnya kuliah, juga ada unsur komersial pemasukan bagi kampus penyelenggara. Biasanya dengan cara menyewakan fasilitas gedung besar yang dimilikinya. Lalu, apakah pagelaran musik itu dipandang lebih selaras dengan budaya intelektual kampus dibandingkan dengan kegiatan kuliah dan diskusi ilmiah?

Di samping itu, alasan dibatalkannya kuliah UAS di UGM karena ada tekanan dari luar, seperti yang disampaikan pihak takmir dalam siaran pers yang diterima kiblat.net pada Kamis 10/10/2019 (www.news.visimuslim.org, 10 Oktober 2019).

Siapakah pihak luar yang dimaksud? Siapapun itu tidak berhak untuk mengekang perkembangan dunia intelektual kampus. Kedewasaan intelektual kampus terwujud dengan adanya diskusi bukan dengan tekanan dan ancaman.

Bahkan kalau perlu alangkah baiknya jika para calon pejabat publik bisa mengadakan forum ilmiah di kampus sehingga akademisi kampus bisa menguji kelayakan mereka dan programnya bagi kesejahteraan rakyat.

Yang lebih parah pihak UGM dalam hal ini berubah seolah menjadi rejim politik. Seharusnya sebagai pimpinan kampus lebih menyadari akan posisinya. Mereka yang semestinya memberikan ruang ilmiah yang seluas – luasnya pada mahasiswa. Mahasiswa bisa menggali lebih dalam ajaran Islam yang dipeluknya. Bukan justru mengebiri dengan kepongahan dan sok adikuasa di dunia pendidikan.

Adapun materi kuliah yang diberikan UAS adalah mengenai hubungan antara Islam dengan IPTEK sebagai pondasi kemajuan umat. Terus adakah yang salah?. Tentunya yang harus dipahami bahwa Islam tidak memiliki masalah dengan perkembangan teknologi.

Hal ini berbeda dengan ajaran Nasrani. Di saat Gereja mengadopsi pandangan Geosentris dari Ptolomeus, maka tertutuplah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pandangan yang berbeda akan dipandang sebagai makar. Saat terjadi renaissance, perkembangan IPTEK mengalami kemajuan pesat.

Heliosentris menggantikan Geosentris. Keadaan demikian mereka capai dengan sekulerisasi IPTEK dengan agama (Nasrani).  Sedangkan Islam menganjurkan umatnya untuk mengembangkan          IPTEK. Sebagai contoh firman Allah SWT yang berbunyi:

يا معشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطار السماوات والارض فانفذوا لاتنفذون الا بسلطان

Wahai semua golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup untuk menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah. Kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan kekuatan (QS Ar Rahman ayat 33).

Kekuatan dalam ayat ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya bahwa umat Islam harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk bisa menjelajah luar angkasa dan menggali semua potensi kekayaan alam yang dikandung oleh bumi.

Di samping itu, Islam memberikan panduan agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa bermanfaat, tidak merusak dan tetap bisa menjaga kemuliaan manusia. Sebagai contoh dalam hal penggunaan HP.

Dengan memahami hukum Islam terkait pergaulan lawan jenis, maka penggunaan Hp akan terjaga dari perkataan dan perbuatan yang melanggar aturan agama seperti pacaran, kecabulan dan lainnya.

Dengan memahami hal demikian, diharapkan mahasiswa terbuka kerangka berpikirnya. Islam itu ajaran yang berkemajuan dan menghendaki kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Mahasiswa tidak akan menjadi sosok yang takut dengan agamanya sendiri.

Keberadaan kampus mestinya menjadi sarana memfilter berbagai macam wacana dan propaganda di luar kampus yakni di masyarakat, bangsa dan negara. Alasannya tentunya mahasiswa itu merupakan agen perubahan sosial, penyambung lidah masyarakat dan pemimpin masa depan.

Layaknya sebuah kampus bisa mewadahi diskusi mengenai persoalan – persoalan ekonomi, politik pemerintahan, dan lainnya. Walhasil gerak mahasiswa mempunyai arah dan dasar ilmiah dalam melakukan koreksi kepada kekuasaan.

Dan tentu saja bagi seorang mahasiswa muslim, Islamlah yang akan menjadi spirit dan tujuan dari perjuangannya. Terlebih melalui mereka nantinya yang akan bisa mendobrak dan mengikis Islamophobia dari dunia intelektual di kampus.

*Penulis tinggal di Malang.