TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Sebuah bangunan pabrik karpet terbakar akibat percikan api petasan yang dimainkan anak kecil di Kampung Cibodas, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Senin (13/5/2019).
Dilansir Kompas.com Seluruh isi pabrik hangus terbakar karena saat kejadian sedang tidak ada pegawai dan api mudah menjalar ke seluruh bangunan tersebut.
“Saya sedang ke rumah sakit dan pabrik ditinggalkan saat kejadian. Kata tetangga tadi kebakaran terjadi sesudah ada anak kecil yang menyalakan petasan, dan apinya terpercik ke pabrik,” jelas Harun (50), pemilik pabrik saat dimintai keterangan di lokasi kejadian, Senin petang.
Ditambahkan Harun, dirinya diberitahu oleh tetangga bahwa pabrik terbakar sekitar pukul 11.30 WIB siang tadi. Saat tiba di lokasi, dirinya melihat api sudah menjalar hebat di bagian dalam dan atap bangunan.
Harun pun langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran, sembari berupaya memadamkan api bersama warga setempat.
“Rumah itu dipakai untuk pabrik dan gudang karpet, sekarang ya habis semua,” tambah Harun.
Akibat kebakaran tersebut, kata Harun, dirinya mengalami kerugian sebesar Rp 70 juta. Soalnya, stok karpet buat musim Lebaran tersebut baru selesai dikerjakan dan rencananya akan dipasarkan. Beruntung saat kejadian tak ada pegawai dan tak menyebabkan korban jiwa.
Sementara itu, Manajer Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Harisman menyatakan, api baru bisa dipadamkan di pabrik karpet itu sekitar pukul 14.00 WIB.
Pihaknya mengerahkan sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi kejadian. Api sempat membesar karena material di pabrik mudah terbakar dan kondisi angin yang tak menentu.
“Setelah tiba di lokasi, petugas melakukan pemadaman secara menyeluruh dilanjutkan dengan pendinginan,” ungkap Harisman.
Sesuai informasi di lokasi kejadian, kebakaran diduga akibat percikan petasan yang dimainkan anak-anak sebelumnya di sekitar lokasi kejadian. Percikan api petasan diduga menyulut karpet di gudang tersebut yang mudah terbakar.
“Diduga kebakaran terjadi akibat sambaran petasan,” pungkasnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melarang kepada seluruh pejabat negara, untuk tidak menggunakan fasilitas negara. Fasilitas itu termasuk mobil dinas yang dipakai untuk mudik.
“Kami ingatkan pada para pimpinan instansi lembaga agar secara tegas melakukan pelarangan penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi baik itu untuk kepentingan pribadi selama Ramadan dan Lebaran,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah dilansir Republika.co.id, Sabtu (11/5/2019).
Selain itu, KPK juga mengingatkan kepada seluruh pejabat negara agar tidak meminta tunjangan hari raya atau sumbangan-sumbangan kepada pihak swasta atau kepada pihak-pihak yang lain baik atas nama pribadi ataupun atas nama institusi.
Karena, kata dia, tahun-tahun sebelumnya KPK cukup sering mendapatkan informasi ada instansi-instansi tertentu di daerah yang mengatasnamakan instansinya meminta sumbangan kepada pihak pengusaha atau masyarakat yang ada di daerah tersebut.
“Kami imbau hal tersebut tidak dilakukan karena memang tidak dibenarkan secara hukum dan apalagi pemerintah juga sudah mengalokasikan tahun ini tunjangan hari raya atau gaji ke-13 atau kebijakan-kebijakan lain yang serupa,” ujarnya.
Kemudian kepada pihak swasta, KPK juga mengajak agar tidak mengalokasikan dan bahkan tidak memberikan pemberian gratifikasi atau hadiah atau dalam bentuk apapun dengan momen lebaran atau Ramadan ini pada pejabat-pejabat negara. Hal tersebut adalah gratifikasi dan dilarang oleh undang-undang.
“Jadi kami ingatkan dan surat edaran ini juga kami sampaikan ke seluruh pimpinan instansi dan kami harap hal ini jadi pemahaman bersama bagi masyarakat dan juga bagi seluruh pegawai negeri dan penyelenggara negara,” tegasnya lagi.
Sebelumnya KPK menerbitkan Surat Edaran tentang Imbauan Pencegahan Gratifikasi terkait Hari Raya Keagamaan. Surat Edaran (SE) KPK No. B/3956/GTF.00.02/01-13/05/2019 tanggal 8 Mei 2019.
“Pokoknya mengimbau agar Pegawai Negeri dan Penyelenggara Negara tidak menerima gratifikasi terkait hari raya Lebaran,” kata Febri.
JAKARTA (Jurnalislam.com) — Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dian Islamiati Fatwa, melaporkan dugaan kecurangan pada Pemilu 2019 ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jumat (10/5/2019).
Dian menilai, selama masa kampanye pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin patut diduga menyalahgunakan kekuasaan. Salah satunya terkait kebijakan Petahan menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS).
Dugaan pelanggaran lain, yakni terkait pengerahan aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai BUMN semasa kampanye.
“Undang-undangnya jelas mengatur, pejabat negara tidak boleh menjanjikan atau memberikan sesuatu,” ujar Dian dilansir Kompas.com, Jumat (10/5/2019).
Ia menyebut, paslon nomor urut 01 itu melakukan pelanggaran terkait politik uang, menaikkan gaji PNS, dan membagikan THR yang dipercepat.
Pasal yang dilanggar ialah Pasal 286 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pemilu (UU Pemilu) jo Pasal 1 Ayat 28 dan 29 Peraturan Bawaslu No 8 Tahun 2018 tentang Penyelesaian Pelanggaran Administratif Pemilihan Umum.
Selain itu, ia juga melaporkan dugaan tindak pidana umum Pasal 515, 523, dan 547 UU Pemilu terkait kematian Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam jumlah yang sangat besar.
Sebelumnya, pemerintah memastikan kenaikan gaji untuk PNS tahun ini ditambah dengan gaji ke-13 dan ke-14.
Rata-rata kenaikan gaji dan pensiun pokok ditetapkan sebesar 5 persen sesuai rancangan anggaran yang ada.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo sudah menandatangani peraturan pemerintah (PP) terkait kenaikan gaji PNS tersebut.
“Menyangkut pertama keputusan kenaikan 5 persen itu sendiri sesuai dengan UU APBN 2019,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin (11/3/2019).
MUSCAT (Jurnalislam.com) – Durasi berpuasa selama Ramadhan berbeda-beda di setiap negara. Rata-rata waktu berpuasa tahun ini sekitar 15 jam di beberapa negara Arab dan negara Muslim lainnya.
Dilansir Republika.co.id, di Oman, durasi berpuasa selama Ramadhan bervariasi tergantung wilayah tempat tinggal. Umat Muslim yang tinggal di bagian utara Oman berpuasa rata-rata 14 setengah jam setiap harinya.
Sementara penduduk di bagian selatan Kesultanan ini akan menjalani puasa dengan durasi sedikit lebih pendek. Namun, rata-rata jam berpuasa di Oman ialah 14 jam dan 31 menit.
Perbedaan waktu itu bisa dilihat dalam aplikasi mobile yang dikembangkan Kementerian Wakaf dan Agama Oman, yang disebut ‘al-taqweem al Omani’, yang berarti kalender Oman. Kalender ini menampilkan waktu salat masing-masing wilayah di negara ini.
Selama Ramadhan, umat Islam berpuasa dari mulai waktu shubuh hingga matahari terbenam saat waktu magrib. Semakin dekat ke khatulistiwa semakin sedikit jam berpuasa.
Menurut aplikasi tersebut, shalat Shubuh di Muscat tepat pada pukul 4.07 dan shalat Maghrib pada pukul 18.43. Ini berarti total puasa setiap hari bagi mereka yang tinggal di Muscat adalah 14 jam 36 menit.
Dhofar adalah gubernuran paling selatan di negara itu. Muslim di daerah perbatasan ini berpuasa 24 menit lebih sedikit dari Muslim yang tinggal di Muscat dan di bagian utara Oman.
Sementara berpuasa di wilayah Raykhyut di kegubernuran Dhofar dimulai pukul 4.41 dan berakhir pada 18.53. Kepala Observatorium Astronomi Al Hoqain, Yusif al-Salmi, berbicara mengenai berbagai jam puasa di Kesultanan Oman.
“Di Oman, waktu matahari terbit, matahari terbenam, dan panjang hari bervariasi sesuai dengan lokasi geografis yang berbeda dan jarak wilayah dari garis khatulistiwa bumi,” kata al-Salmi, dilansir dari Times of Oman, Kamis (9/5).
Di luar Oman, durasi jam puasa terpendek di negara-negara Arab adalah di Somalia. Pada hari pertama Ramadhan, Muslim Somalia berpuasa rata-rata 13 jam dan 24 menit. Di Yaman, rata-rata Muslim berpuasa selama 14 jam dan 7 menit.
Di Uni Emirat Arab (UEA), masyarakat Muslim di sana berpuasa selama 14 jam 33 menit pada hari pertama Ramadhan. Sedangkan di Arab Saudi, rata-rata durasi berpuasa ialah 14 jam dan 40 menit.
Sementara itu, Aljazair dan Tunisia dianggap sebagai salah satu negara yang berpuasa paling lama dibandingkan negara-negara Arab lainnya. Di sana, durasi berpuasa ialah selama 15 jam dan 31 menit.
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”. (Muttafaq alaih)
Makna َانًا وَاحْتِسَابًا (karena iman dan karena ingin mendapat pahala) merupakan bentuk niat puasa.
Sobat jurnis, niat merupakan perkara utama bagi seseorang, sebab itu harus serius memperhatikannya. Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah ditanya apa yang diniatkan seseorang ketika hendak shalat?
Pertanyaan sederhana ini hampir-hampir tidak pernah diajukan seorangpun hari ini. Tidak peduli lagi, apa niatnya saat hendak takbir. Padahal niat itu banyak, bukan hanya satu saja.
Padahal di sana ada niat-niat yang agung. Imam Ats-Tsaury rahimahullah menjelaskannya saat menjawab pertanyaan orang tersebut. Ats-Tsaury adalah seseorang imam panutan umat Islam.
Ats-Tsaury menjawab: “Niatkan untuk munajat pada Rabbnya!”
Sobat jurnis, ini merupakan niat lain ketika akan salat selain niat ibadah, yaitu niat bermunajat kepada Allah. Munajat dari kata najwa artinya bisikan atau berbicara pelan untuk merahasiakan pembicaraan agar tidak didengar orang lain.
Maknanya, dia salat dengan niat bermunajat pada Allah, berbisik pada Allah, berbicara dengan lembut dengan Allah dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Allah padanya.
Sobat jurnis, setidaknya ada beberapa niat yang perlu kita perbarui atau update pada puasa kali ini yaitu:
Niat pertama: sobat jurnis niatkan puasa untuk menjalankan ketataan kepada Allah azza wa jalla, melaksanakan perintahnya. Niat ini bentuk niat paling agung karena mengandung makna ubudiyah (peribadatan) dan praktek tunduk pada perintah.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Diwajibkan atas kamu berpuasa.” (Al-Baqarah: 183)
Niat kedua: Niat memperoleh pahala yang dijanjikan oleh Allah azza wa jalla, dibatalkan dosa masa lalu dan memanen pahala unlimited (tidak terbatas). Dengan niat ini kita berharap bisa masuk surganya melalui pintu Ar-Rayan.
Nama Ar-Rayan majas hiperbola dari Ar-Ray (situasi yang baik penuh kenikmatan). Siapapun yang sampai pada pintu Ar-Rayan akan merasakan situasi dan lingkungan yang sangat nyaman penuh kenikmatan sebagai balasan dari ketaatan pada Allah. Taat menjauhi jimak, makan, minum, menahan lisan serta larangan lainnya.
Mari kita bersama perbarui niat agar ibadah puasa kali ini mencapai derajat maksimal. Ingat! Waktu terus berlalu begitu cepat bak angin yang bertiup dari laut ke darat pun sebaliknya.
“Ia tinggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi Aku”
JURNALISLAM.COM – Sobat jurnis, tidak terasa hari demi hari telah kita lewati pasca bulan Ramadhan tahun lalu. Ada yang bertahan di dalam komitmen berbuat baik hingga bertemu dengan bulan suci, ada juga yang memudar seiring lewatnya pekan makan kupat bersama.
Menurut perhitungan kalendar, dua pekan lagi kita akan menemui bulan yang akan memperlipatgandakan setiap amalan. Yes, bulan Ramadhan.
Perlu kita syukuri bersama untuk takdir hidup yang Allah berikan hingga dapat diberikan kesempatan untuk bertemu bulan suci. Tidak sedikit dari teman, kerabat, bahkan keluarga yang mendahului untuk menemui sang pencipta.
Well, sebagaimana kita ketahui bersama, untuk mendapatkan pahala maksimal saat berpuasa, hendaknya kita untuk meninggalkan syahwat atau hasrat diri untuk melakukan sesuatu yang dilarang.
Mulai dari makanan, minuman, hingga hubungan seksual suami dan istri yang merupakan syahwat-syahwat keinginan diri yang paling besar.
Menahan syahwat dalam berpuasa
Sobat jurnis, ternyata pendekatan diri dengan meninggalkan syahwat-syahwat kesenangan tersebut dalam puasa mengandung beberapa manfaat sebagai berikut.
1. Menundukkan nafsu; sebab kekenyangan, kesegaran, dan kepuasan berhubungan seksual membuat diri cenderung angkuh, arogan, dan lalai.
2. Mengosongkan hati untuk aktivitas pikir dan dzikir; sebab pelampiasan keinginan-keinginan nafsu syahwat akan membuat hari keras dan buta, sehingga lebih lanjut akan menghalanginya untuk bertafakur dan berdzikir kepada Tuhannya, serta membuatnya lalai.
Sementara perut kosong akan menyinari hati, melembutkannya, menghilangkan kekerasannya, dan mengosongkannya untuk berkosentrasi sepenuhnya dalam zikir dan pikir.
3. Membuat orang kaya bisa mengetahui betapa berharganya nikmat yang diberikan Allah kepadanya dan dapat berempati dengan orang-orang fakir yang tidak dikaruniai kelebihan makanan, minuman, maupun pasangan.
Sebab dengan menahan diri dari hal tersebut pada waktu tertentu dan merasakan kesukaran karena hal tersebut, ia akan selalu teringat pada orang yang merasakan kesulitan tersebut sepanjang waktu.
Sehingga, ia pun termotivasi untuk mensyukuri segala nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya secara berlimpah, mengasihi saudaranya yang membutuhkan, dan berempati kepadanya dengan segala sesuatu yang memungkinkan.
4. Puasa menyempitkan pembuluh darah yang merupakan alur lalu lintas setan dalam tubuh manusia, sehingga ruang gerak setan semakin menyempit. Dengan puasa, godaan setan menjadi tenang, dan letupan syahwat serta amarah akan melemah.
Oleh karena itu, Nabi menyebut puasa sebagai tali pengekang (wija) mengingat ia mampu mengekangnya dari syahwat seksual.
Sobat jurnis, perlu diingat, pendekatan diri kepada Allah dengan meninggalkan syahwat-syahwat yang diperbolehkan di luar waktu puasa ini tidak bisa terwujud sempurna, kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya yah.
Sumber: Seri Mengungkap Keutamaan Bulan-bulan Islam: Ramadhan Meraih Rahmat & Ampunan, Ibnu Rajab Al-Hanbali
Oleh: Muhammad Fajar Aditya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsera
JURNALISLAM.COM – Pasca pemilu serentak dilaksanakan pada 17 April lalu, suasana hangat hingga panas masih terasa, terutama pada jagat pilpres kali ini.
Meskipun Dahnil Anzar Simanjuntak, salah seorang oposisi menyebut politik harus tetap hangat, tetapi agaknya kondisi saat ini sudah mencapai batas antara hangat dan panas. Border line.
Dimulai dari ketidakpercayaan terhadap hasil hitung cepat, kesalahan input KPU di laman resmi, dan dugaan intervensi pemerintah membuat kedua kubu bersitegang.
Tak ayal, perseteruan itu bukan terjadi di level elite kedua belah pihak, melainkan sampai tahap relawan yang berjuang tanpa dibayar. Mereka cek-cok satu dengan lainnya.
Memang di dalam dunia politik keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, bahkan sejak awal-awal kemerdekaan. Seperti kisah Buya Hamka dengan Mr. Moh Yamin.
Debat Dasar Negara
Pada saat itu keduanya duduk bersama di masing-masing fraksi parlemen. Buya di Fraksi Partai Masyumi sedangkan Moh Yamin dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Tepatnya pada tahun 1955 sampai 1957, perseturuan itu terjadi. Pada waktu sidang perumusan Dasar Negara Republik Indonesia, ada dua pilihan sebagai dasar negara, yaitu;
1. UUD’45, dengan Dasar Negara Pancasila
2. UUD’45, dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam
Untuk kedua pilihan tersebut, terbelah dua front yang sama kuat. Front pertama, kelompok Islam dengan Partai Masyumi sebagai pimpinannya, Front kedua, dipimpin PNI yang ingin negara berdasarkan Pancasila.
Dalam suatu persidangan, Buya Hamka menyampaikan pidato politiknya yang cukup keras.
Buya Hamka. Foto: Istimewa
“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!” kata Buya dalam pidatonya.
Mendengar pernyataan tersebut, para hadirin dalam sidang Paripurna Konstituante tersebut terkejut, termasuk Moh Yamin. Tokoh PNI ini tidak saja marah besar, tetapi berlanjut dengan kebencian yang sangat kepada Buya Hamka.
Walaupun kedua tokoh bersebrangan ini sama-sama berasal dari Sumatera Barat, Moh Yamin tidak dapat menahan kebenciannya, baik di saat mereka bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan, atau ketika sama-sama menghadiri sidang Konstituante (Irfan Hamka, 2013).
Pada suatu waktu, kerabat Buya Hamka, Buya Isa Ansyari datang ke rumahnya untuk makan siang bersama. Dalam obrolan tersebut, terselip pertanyaan tentang hubungan Hamka dengan Moh Yamin.
“Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka?” tanya Isa.
“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” jawab Hamka ringan.
Selanjutnya, Soekarno lalu mengeluarkan Dekrit, membubarkan Konstituante dan Parlemen, serta menetapkan UUD’45 dan Pancasila sebagai dasar negara.
Akhir yang Baik
Beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1962, Yamin jatuh sakit parah dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Suatu hari, Hamka menerima telepon dari Chaerul Saleh, salah seorang Menteri di Kabinet Soekarno waktu itu. Rupanya ia ingin bertemu.
Lalu ia datang menemui Hamka di rumah. Ia kemudian menceritakan perihal sakitnya Moh Yamin kepada Hamka.
“Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit parah. Sudah berhari-hari dirawat. Ada pesan dari pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau.” ungkapnya menyampaikan maksud kedatangan.
“Apa pesannya?” tanya Hamka.
“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya.” jawab Chaerul Saleh.
Ia juga mengatakan, Yamin ingin dimakamkan di kampung halamannya di Sumatera Barat dengan ditemani oleh Hamka.
Sejenak Hamka terdiam.
“Kalau begitu, mari antar saya ke RSPAD menemui beliau!” ajak Hamka kemudian.
Tanpa berlama-lama, sore itu keduanya tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, terlihat Moh Yamin terbaring di tempat tidur dengan selang infus dan oksigen. Melihat kedatangan Hamka, tampak wajahnya berseri.
Moh Yamin
“Terima kasih Buya sudah Sudi untuk datang,” bisik Yamin dengan suara nyaris tidak terdengar oleh orang lain.
“Dampingi saya!” bisiknya lagi dengan kedua kelopak mata yang tergenang air.
Tangan Hamka masih digenggamnya. Mula-mula Hamka membisikkan surah Al-Fatihah. Kemudian kalimat La illaha illalah. Dengan lah pak Yamin mengikuti bacaan yang Hamka bisikan.
Kemudian Hamka mengulang kembali membaca kalimat tauhid tersebut sebanyak dua kali. Pada bacaan yang kedua sudah tidak terdengar lagi Yamin mengikuti Hamka. Hanya isyarat yang diberikannya berupa mengencangkan genggaman tangannya.
Kembali Hamka membisikkan kalimat tauhid, bahwa tiada Tuhan selain Allah, ke telinga Yamin. Kali ini sudah tidak ada respon sedikit pun dari Yamin. Hamka pun merasa genggaman Yamin mengendur dan tangannya terasa dingin lalu perlahan terlepas dari genggamannya.
Moh Yamin, tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci Hamka sudah tidak ada lagi. Sudah meninggal dunia. Keesokan harinya, Hamka memenuhi pesan terakhirnya untuk menemani jenazah Yamin untuk dimakamkan di Desa Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Demikian sepenggal kisah Buya Hamka dan Moh Yamin. Pesan yang mungkin dapat penulis sampaikan adalah jauhi rasa dendam dan rasa benci yang berkepanjangan.
Berdebat dan berbeda pandangan memang sudah menjadi hal yang biasa, meski begitu gesekan yang menimbulkan konflik bisa saja terjadi. Jika sudah demikian, jadilah seorang pemaaf. Jadilah Hamka.
Oleh: Muhammad Fajar Aditya, Jurnalis Jurnalislam.com
“Manusia akan selalu merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang tetap (konsisten) daripada hal-hal yang tidak tetap (inkonsisten)”
JURNALISLAM.COM – Tidak terasa, hari demi hari telah berlalu. Masyarakat ada yang maju, mundur, dan ragu dengan pilihannya seiring 17 April yang semakin dekat.
Sejumlah lembaga survei mencoba untuk mengukur seberapa jauh pencapaian masing-masing pasangan calon (Paslon), dalam bingkai elektabilitas.
Salah satu survei yang dianggap mencengangkan sejumlah tokoh, pengamat politik, hingga masyarakat umum adalah Litbang Kompas. Berbeda dengan yang lain, ia menyebut elektabilitas petahana turun di bawah 50%.
Dalam survei Litbang Kompas pada 22 Februari-5 Maret 2019, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 49,2 persen. Di sisi lain, Prabowo-Sandi memperoleh 37,4 persen.
Adapun, 13,4 persen responden menyatakan rahasia. Survei ini memiliki margin of error +/- 2,2 persen. Pertanyaannya, kok bisa?
Mari kita bahas dengan seksama dan tempo sesingkat-singkatnya seperti perkataan pengamat politik Rocky Gerung.
Swing Voter
Swing voter adalah istilah untuk merujuk pada kelompok pemilih yang pada pemilu sebelumnya mendukung partai atau Paslon A, tetapi pada pemilu mendatang dapat berubah mendukung partai dan Paslon B.
Swing voters
Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie M Massardi mengatakan swing voters dalam survei politik merupakan masyarakat atau pemilih rasional yang berjumlah 30 hingga 40 persen di setiap pemilu.
Mereka biasanya tidak nyaman dengan tingkah laku para politisi peserta pemilu dan gagasan yang dinilai tidak masuk akal.
Dikutip CNN Indonesia, dari data yang dimiliki PSV, angka swing voters mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dimulai dari 7,3 persen pada Pemilu 1999, 15,9 persen pada Pemilu 2004, 21,8 persen pada Pilpres putaran I tahun 2005, dan 23,4 persen pada Pilpres putaran II tahun 2005.
Sedangkan pada Pileg 2009 terdapat 29,3 persen golput, sebanyak 28,3 persen pada Pilpres 2009, 24,8 persen pada Pileg 2014, dan 29,1 persen pada Pilpres 2014.
Jadi, hingga 17 April 2019 nanti masih terbuka kemungkinan Paslon 02 untuk menyusul 01 pun sebaliknya, 01 menancapkan gas dengan selisih jauh diatas 20%, tergantung konsistensi yang diberikan oleh masing-masing paslon.
Cognitive Dissonance Theory
Berbicara tentang konsistensi, ada sebuah teori yang cukup menarik untuk kita sandingkan dengan perubahan sikap para pemilih (voter) terhadap para peserta pemilu. Cognitive dissonance Theory atau teori disonansi kognitif namanya.
Konsistensi merupakan prinsip penting dan teratur yang ada dalam proses kognitif (pikiran), dan perubahan sikap terjadi sebagai adanya informasi yang mengganggu (disonansi) keteraturan ini.
Secara ringkas, teori ini berbicara tentang inkonsistensi atau disonansi yang dapat merubah sikap, persepsi, pengetahuan, dan elemen tingkah laku.
Disonansi kognitif
Jika Anda percaya bahwa Paslon 01 tidak bagus untuk perubahan bangsa Indonesia, maka memilihnya merupakan tindakan yang inkonsisten. Namun hubungan konsonan dan disonansi antara satu orang dengan orang lain adalah tidak sama.
Orang lain mungkin berpendapat Paslon 01 baik dan berpotensi untuk menjabat kembali menjadi presiden, meskipun ia tahu bahwa Paslon 01 tidak bagus untuk perubahan bangsa Indonesia.
Dalam hal ini, terdapat dua ide penting yang menjadi dasar teori disonansi kognitif ini, yaitu: Pertama, keadaan disonansi menghasilkan ketegangan atau stres yang memberikan tekanan untuk berubah.
Kedua, jika kondisi disonansi ini muncul, maka orang akan berupaya untuk tidak menguranginya namun akan berupaya untuk menghindarinya.
Situasi yang dapat mendorong munculnya disonansi salah satunya adalah saat membuat keputusan.
Tingkat disonansi atau penyesalan yang dialami seseorang yang terkait dengan pengambilan keputusan ini bergantung pada empat keadaan ini:
Pertama, bobot keputusan yang diambil. Keputusan untuk tidak memilih ketua RT bukanlah suatu keputusan yang penting (bobot rendah) dan hanya akan menghasilkan disonansi tingkat rendah.
Sedangkan keputusan memilih presiden (bobot tinggi) dapat menimbulkan tingkat disonansi yang tinggi.
Kedua, tingkat daya tarik dari alternatif yang dipilih. Semakin tidak menarik alternatif yang Anda pilih maka akan semakin besar tingkat disonansi yang Anda alami.
Anda mungkin akan merasakan tingkat disonansi yang tinggi ketika harus memilih Paslon yang kurang bermutu dibandingkan dengan Paslon yang baik dan bermutu tinggi.
Ketiga, semakin besar daya tarik dari alternatif yang tidak terpilih maka semakin tinggi disonansi yang dirasakan. Jika Anda menginginkan perubahan dengan memilih Paslon 02 namun Anda ternyata memilih 01, maka Anda akan mengalami disonansi.
Keempat, semakin besar tingkat kemiripan atau tingkat tumpang-tindih (overlap) di antara alternatif maka semakin rendah tingkat disonansinya.
Jika Anda memilih satu caleg yang visi dan misinya hampir sama dengan yang lain, maka keputusan untuk memilih caleg itu tidak akan menimbulkan disonansi yang signifikan.
Namun, jika Anda harus memilih caleg yang berlawanan bahkan mempunyai varian yang lebih baik, maka Anda akan mengalami disonansi yang cukup signifikan.
Janji Petahana dan Disonansi Pemilih
Menurut pandangan penulis, kinerja petahana selama 4,5 tahun lebih menjabat menjadi pimpinan negeri, banyak janji-janji politik yang masih terbengkalai.
Presiden RI, Joko Widodo
Di dalam rekam jejak digital, ada puluhan janji petahana yang tidak terlaksana. Mencetak 10 juta lapangan kerja, menumbuhkan ekonomi 8%, swasembada pangan, stop impor, tidak bagi-bagi Kursi Menteri ke Partai Pendukungnya, dan masih banyak lagi membuat disonansi yang tinggi untuk para pemilih.
Merupakan suatu hal yang wajar jika para pemilih petahana pada saat 2014 lalu melakukan ayunan (swing) kepada paslon yang lain.
Terlebih, jika Paslon 02 dapat memberikan visi dan misi yang konkrit kepada para calon pemilih. Belum lagi ada undecided voter atau pemilih yang masih rahasia. Bisa jadi belasan persen itu akan beralih kepada paslon yang lain, bukan petahana.
Ditambah kondisi para pemilih yang sudah cerdas dan tidak lagi mau dibeli (vote buying) suaranya. Mengutip perkataan wakil ketua DPR RI dan salah satu tokoh politik muda, Fahri Hamzah.
“Wis wayahe (telah tiba waktunya), cukuplah sampai disini. Kita ucapkan terimakasih kepada petahana, kita ucapkan selamat tinggal.”
CILEGON (Jurnalislam.com) – Forum DKM Krakatau Steel menggelar ‘Kajian Dhuha’ di Masjid Al Muthowwir Kompleks Al Azhar Krakatau Steel, Cilegon, Sabtu (6/4/2019).
Kajian dengan tema “Ekonomi Islam Solusi Kesejahteraan Rakyat” menghadirkan pemateri Muhaimin Iqbal, praktisi ekonomi Islam dan pemilik gerai dinar.com.
Pihak panitia Supriyanto mengatakan, tema besar ekonomi Islam ini diselenggarakan agar umat dapat membangun perekonomian dengan lebih baik.
“Agar menjadi inspirasi untuk umat dan membangun perekonomian Islam yang kuat,” katanya seusai acara.
Sementara itu Muhaimin Iqbal menjelaskan, Ekonomi Islam merupakan ekonomi yang berdasarkan dari Alquran dan sunnah Nabi.
“Jadi tidak ada yang lebih baik daripada ekonomi Islam,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semua prinsip dan dasar ekonomi Islam sudah ada di dalam Alquran dan Sunnah. Tinggal kita, kata dia, menggali dan menerapkannya.
Peserta kajian memadati acara
“Peluang untuk membangkitkan ekonomi Islam tergantung seberapa besar usaha umat Islam itu sendiri dan jadikanlah Masjid sebagai pusat kebangkitan ekonomi umat,” pesan dia.
Acara yang digelar pada waktu dhuha ini mendapatkan respon d yang baik dari peserta. Akbar (30 tahun) asal Cilegon salah satunya. Menurutnya, pemaparan pemateri dapat menginspirasi kebangkitan ekonomi umat.
“Acaranya sangat bagus, sangat memginspirasi sekali. Terutama pak Muhaimin Iqbal dalam menjelaskan kondisi di lapangan sangat detail,” ujarnya.
CILEGON (Jurnalislam.com) – Menghafal ayat-ayat suci Alquran memang telah menjadi tren sejak dulu. Berbagai teknik dan metode muncul untuk mempermudah proses penghafalan tersebut, ritme otak salah satunya.
Di Masjid Arrohmah, Grogol, Cilegon metode yang telah dipatenkan sejak 2010 ini dilaunching (dibuka). Masyarakat setempat berbondong-bondong untuk datang.
“Antusias masyarakat terhadap acara ini tinggi sekali, terbukti masjid penuh dengan peserta,” kata perwakilan panitia, Jamhari di sela-sela kegiatan yang digelar pada Rabu (3/4/2019) ini.
Ia mengatakan, acara seminar dan launching ini bertujuan untuk memperkuat rasa cinta umat, khususnya warga Cilegon kepada Islam.
Abu Askari, founder (penemu) Tahfidz (menghafal) Metode Ritme Otak menyebut, sampai saat ini metode ini sudah ada di 30 cabang di seluruh Indonesia.
“Alhamdulillah sampai tahun ini sudah angkatan ke 10 untuk Santri yang menggunakan metode ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Budi (30 tahun) peserta dari Merak mengaku senang dengan acara ini. Ia menyebut, dirinya dan para peserta lain dapat termotivasi untuk menghafalkan Alquran.
“Acara ini sangat bagus sekali, memotifasi orang untuk menghafal Alquran,” jelasnya.
Diketahui, acara launching metode Ritme Otak ini hanya memaparkan materi dan bagaimana metode tersebut. Peserta yang ingin mengetahui lebih lanjut harus mendaftar kepada pihak metode Ritme Otak ini dan diberikan praktik dan pelatihan khusus.