Sepenggal Kisah Buya Hamka dan Moh Yamin

Sepenggal Kisah Buya Hamka dan Moh Yamin

Oleh: Muhammad Fajar Aditya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsera

JURNALISLAM.COM – Pasca pemilu serentak dilaksanakan pada 17 April lalu, suasana hangat hingga panas masih terasa, terutama pada jagat pilpres kali ini.

Meskipun Dahnil Anzar Simanjuntak, salah seorang oposisi menyebut politik harus tetap hangat, tetapi agaknya kondisi saat ini sudah mencapai batas antara hangat dan panas. Border line.

Dimulai dari ketidakpercayaan terhadap hasil hitung cepat, kesalahan input KPU di laman resmi, dan dugaan intervensi pemerintah membuat kedua kubu bersitegang.

Tak ayal, perseteruan itu bukan terjadi di level elite kedua belah pihak, melainkan sampai tahap relawan yang berjuang tanpa dibayar. Mereka cek-cok satu dengan lainnya.

Memang di dalam dunia politik keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, bahkan sejak awal-awal kemerdekaan. Seperti kisah Buya Hamka dengan Mr. Moh Yamin.

Debat Dasar Negara

Pada saat itu keduanya duduk bersama di masing-masing fraksi parlemen. Buya di Fraksi Partai Masyumi sedangkan Moh Yamin dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tepatnya pada tahun 1955 sampai 1957, perseturuan itu terjadi. Pada waktu sidang perumusan Dasar Negara Republik Indonesia, ada dua pilihan sebagai dasar negara, yaitu;

1. UUD’45, dengan Dasar Negara Pancasila
2. UUD’45, dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam

Untuk kedua pilihan tersebut, terbelah dua front yang sama kuat. Front pertama, kelompok Islam dengan Partai Masyumi sebagai pimpinannya, Front kedua, dipimpin PNI yang ingin negara berdasarkan Pancasila.

Dalam suatu persidangan, Buya Hamka menyampaikan pidato politiknya yang cukup keras.

Buya Hamka. Foto: Istimewa

“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!” kata Buya dalam pidatonya.

Mendengar pernyataan tersebut, para hadirin dalam sidang Paripurna Konstituante tersebut terkejut, termasuk Moh Yamin. Tokoh PNI ini tidak saja marah besar, tetapi berlanjut dengan kebencian yang sangat kepada Buya Hamka.

Walaupun kedua tokoh bersebrangan ini sama-sama berasal dari Sumatera Barat, Moh Yamin tidak dapat menahan kebenciannya, baik di saat mereka bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan, atau ketika sama-sama menghadiri sidang Konstituante (Irfan Hamka, 2013).

Pada suatu waktu, kerabat Buya Hamka, Buya Isa Ansyari datang ke rumahnya untuk makan siang bersama. Dalam obrolan tersebut, terselip pertanyaan tentang hubungan Hamka dengan Moh Yamin.

“Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka?” tanya Isa.

“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” jawab Hamka ringan.

Selanjutnya, Soekarno lalu mengeluarkan Dekrit, membubarkan Konstituante dan Parlemen, serta menetapkan UUD’45 dan Pancasila sebagai dasar negara.

Akhir yang Baik

Beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1962, Yamin jatuh sakit parah dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Suatu hari, Hamka menerima telepon dari Chaerul Saleh, salah seorang Menteri di Kabinet Soekarno waktu itu. Rupanya ia ingin bertemu.

Lalu ia datang menemui Hamka di rumah. Ia kemudian menceritakan perihal sakitnya Moh Yamin kepada Hamka.

“Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit parah. Sudah berhari-hari dirawat. Ada pesan dari pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau.” ungkapnya menyampaikan maksud kedatangan.

“Apa pesannya?” tanya Hamka.

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya.” jawab Chaerul Saleh.

Ia juga mengatakan, Yamin ingin dimakamkan di kampung halamannya di Sumatera Barat dengan ditemani oleh Hamka.

Sejenak Hamka terdiam.

“Kalau begitu, mari antar saya ke RSPAD menemui beliau!” ajak Hamka kemudian.

Tanpa berlama-lama, sore itu keduanya tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, terlihat Moh Yamin terbaring di tempat tidur dengan selang infus dan oksigen. Melihat kedatangan Hamka, tampak wajahnya berseri.

Moh Yamin

“Terima kasih Buya sudah Sudi untuk datang,” bisik Yamin dengan suara nyaris tidak terdengar oleh orang lain.

“Dampingi saya!” bisiknya lagi dengan kedua kelopak mata yang tergenang air.

Tangan Hamka masih digenggamnya. Mula-mula Hamka membisikkan surah Al-Fatihah. Kemudian kalimat La illaha illalah. Dengan lah pak Yamin mengikuti bacaan yang Hamka bisikan.

Kemudian Hamka mengulang kembali membaca kalimat tauhid tersebut sebanyak dua kali. Pada bacaan yang kedua sudah tidak terdengar lagi Yamin mengikuti Hamka. Hanya isyarat yang diberikannya berupa mengencangkan genggaman tangannya.

Kembali Hamka membisikkan kalimat tauhid, bahwa tiada Tuhan selain Allah, ke telinga Yamin. Kali ini sudah tidak ada respon sedikit pun dari Yamin. Hamka pun merasa genggaman Yamin mengendur dan tangannya terasa dingin lalu perlahan terlepas dari genggamannya.

Moh Yamin, tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci Hamka sudah tidak ada lagi. Sudah meninggal dunia. Keesokan harinya, Hamka memenuhi pesan terakhirnya untuk menemani jenazah Yamin untuk dimakamkan di Desa Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Demikian sepenggal kisah Buya Hamka dan Moh Yamin. Pesan yang mungkin dapat penulis sampaikan adalah jauhi rasa dendam dan rasa benci yang berkepanjangan.

Berdebat dan berbeda pandangan memang sudah menjadi hal yang biasa, meski begitu gesekan yang menimbulkan konflik bisa saja terjadi. Jika sudah demikian, jadilah seorang pemaaf. Jadilah Hamka.

Sumber: Ayah.., Irfan Hamka, 2013

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X