Austria Tutup 7 Masjid dan Usir 40 Imam, Erdogan: Ini Akan Bawa Dunia ke Perang Salib

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu (9/6/2018) mengkritik Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz atas keputusan pemerintahnya untuk menutup tujuh masjid dan mengusir 40 imam.

“Saya khawatir langkah-langkah yang diambil oleh perdana menteri Austria tersebut akan membawa dunia lebih dekat ke perang salib-sabit (crusader-crescent war),” kata Erdogan saat jamuan berbuka puasa yang diselenggarakan di Istanbul, lansir Anadolu Agency.

Erdogan mengatakan Turki juga akan menanggapi keputusan Austria mengusir para imam.

Selama konferensi pers dengan Wakil Kanselir Heinz-Christian Strache dan Menteri Urusan Uni Eropa Gernot Blumel, Kurz mengatakan langkah itu dilakukan sebagai bagian dari tindakan keras terhadap dakwah “politik Islam” di masjid.

Dianggap Radikal, Austria Tutup Tujuh Masjid dan Usir 40 Imam

Kurz mengatakan bahwa penyelidikan pada beberapa masjid dan asosiasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Urusan Agama telah disimpulkan dan bahwa kegiatan tujuh masjid dilarang – salah satunya dari Asosiasi Budaya Turki-Islam (the Turkish-Islamic Cultural Associations-ATIB).

Kanselir Austria menambahkan bahwa para imam tersebut dideportasi dengan alasan didanai asing.

Pada tahun 2015 ketika Kurz adalah menteri Austria untuk Eropa, integrasi dan urusan luar negeri ia mendukung “hukum Islam” Austria (Islamgesetz) – undang-undang yang, antara lain, melarang pendanaan luar negeri bagi masjid dan imam di Austria. Undang-undang kontroversial, yang akhirnya disahkan melalui parlemen, dimaksudkan untuk mengembangkan Islam “dengan karakter Eropa,” menurut Kurz.

“Kami bertindak tegas dan aktif terhadap perkembangan yang tidak diinginkan dan pembentukan #parallels society – dan akan terus melakukannya jika ada pelanggaran,” tulis Kurz di akun Twitter-nya.

Dianggap Radikal, Austria Tutup Tujuh Masjid dan Usir 40 Imam

AUSTRIA (Jurnalislam.com) – Austria akan menutup tujuh masjid dan mengusir 40 imam, Kanselir Sebastian Kurz mengumumkan pada hari Jumat (08/06/2018).

Selama konferensi pers dengan Wakil Kanselir Heinz-Christian Strache dan Menteri Urusan Uni Eropa Gernot Blumel, Kurz mengatakan langkah itu dilakukan sebagai bagian dari tindakan keras terhadap pendidikan “politik Islam” di dalam masjid, World Bulletin melaporkan.

Muhammadiyah: Jangan Vonis Masjid Radikal atau Tidak

Kurz mengatakan bahwa penyelidikan pada beberapa masjid dan asosiasi yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan dan Dalam Negeri telah disimpulkan dan bahwa kegiatan tujuh masjid tersebut dinyatakan dilarang karena dianggap radikal – salah satunya dari Asosiasi Budaya Turki-Islam (the Turkish-Islamic Cultural Associations-ATIB).

Kanselir Austria menambahkan bahwa para imam akan dideportasi dengan alasan didanai asing.

Peneliti Senior: Undang-undang Larangan Cadar Austria akan Picu Hina Muslimah di Jalan

NATO Sambut Pengumuman Gencatan Senjata dengan Taliban

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – NATO dan Uni Eropa pada hari Kamis (7/6/2018) menyambut pengumuman gencatan senjata oleh pemerintah Afghanistan dengan Taliban.

“Saya menyambut pengumuman gencatan senjata yang dibuat oleh Presiden [Ashraf] Ghani dan Pemerintah Kesatuan Nasional. Ini adalah langkah maju yang positif di jalan menuju perdamaian,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada konferensi pers di Brussels menjelang pertemuan Menteri Pertahanan NATO, lansir Anadolu Agency.

“Pengumuman gencatan senjata menunjukkan keseriusan Presiden Ghani dan pemerintah Afghanistan dalam upaya menemukan solusi damai dan negosiasi untuk konflik di Afghanistan,” kata Stoltenberg, menyerukan kepada Taliban untuk bergabung dengan gencatan senjata.

Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

“Taliban tidak akan menang di medan perang. Satu-satunya cara bagi mereka untuk mencapai solusi adalah dengan duduk di meja perundingan,” katanya.

“Saya menyerukan kepada Taliban untuk bergabung dengan gencatan senjata dan untuk meletakkan senjata mereka dan untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif untuk menemukan solusi damai yang dinegosiasikan.”

Kemenangan Taliban Meningkat, NATO Kirim 3.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan

Dalam sebuah pernyataan, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini juga menyatakan dukungan untuk gencatan senjata yang dipimpin Afghanistan dan mengatakan Taliban juga harus menerimanya.

Pemerintah Afghanistan pada hari Kamis mengumumkan gencatan senjata sepihak dengan Taliban mulai dari tanggal 27 Ramadhan (12 Juni) hingga hari kelima Idul Fitri, hari raya suci umat Islam yang akan jatuh pekan depan.

Presiden Afghanistan Umumkan Gencatan Senjata pada Taliban Tapi Tidak untuk IS

Dalam sebuah pengumuman yang disiarkan televisi, Ghani mengatakan Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afghanistan (the Afghan National Defense and Security Forces-ANDSF) hanya akan menghentikan manuver ofensif terhadap Taliban namun akan terus menargetkan Daesh dan organisasi teroris bersenjata lainnya yang didukung asing dan afiliasi mereka.

Taliban belum menanggapi pengumuman gencatan senjata ini.

Jet Tempur Rusia Bunuh 44 Warga Idlib Saat Berbuka Puasa di Dekat Masjid

SURIAH (Jurnalislam.com) – Serangan udara diyakini telah dilakukan oleh Rusia di sebuah desa di provinsi Idlib yang dikuasai oposisi yang menewaskan sedikitnya 44 orang semalam. Itu adalah jumlah korban tewas tertinggi dalam satu serangan di wilayah itu tahun ini, sebuah kelompok pemantau mengatakan pada hari Jumat (8/6/2018).

“Pesawat tempur, yang kemungkinan milik Rusia, menargetkan desa Zardana di pedesaan Idlib utara semalam dan menimbulkan korban tewas tertinggi dalam satu serangan di kawasan itu termasuk 11 wanita dan enam anak-anak,” kata Rami Abdulrahman, direktur kelompok itu.

Namun kementerian pertahanan Rusia berkelit bahwa mereka tidak melakukan serangan udara mematikan, menurut kantor berita Rusia.

Sasaran Serangan Udara Rusia Kini Beralih ke Idlib, 14 Warga Tewas

Lebih dari 60 orang juga terluka dalam serangan yang terjadi di desa Zardana, kata badan pengawas yang berbasis di Inggris itu menambahkan bahwa serangan terjadi saat kaum Muslim berbuka puasa setelah matahari terbenam.

Korban tewas diperkirakan akan meningkat karena beberapa orang yang terluka dalam serangan berada dalam kondisi kritis, kata Abdulrahman.

Kelompok penyelamat White Helmets mengatakan serangan udara telah menargetkan pasar dekat masjid di Zardana, menurut kantor berita Reuters.

Turki dan PBB Kirim 26 Truk Bantuan Kemanusian ke Benteng Mujahidin di Idlib

Petugas penyelamat masih mencari orang yang selamat di bawah reruntuhan.

Serangan udara seperti itu relatif tidak umum dalam beberapa bulan terakhir di provinsi yang dikuasai oposisi, yang merupakan bagian dari zona de-eskalasi yang disepakati tahun lalu oleh Rusia, Turki dan Iran.

Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu pejuang dan warga sipil telah berlindung di Idlib setelah mengungsi dari wilayah lain negara itu di bawah kesepakatan evakuasi dengan rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad.

Syiah Houthi Yaman Blokade Kantor dan Lembaga Perjalanan Haji-Umrah

YAMAN (Jurnalislam.com) – Milisi Houthi menutup sejumlah kantor dan lembaga perjalanan Haji dan Umrah di Sanaa dan wilayah lain, dan telah mulai melacak para pemilik agensi.

Para manajer dari salah satu agensi di Sanaa mengatakan bahwa operasi Syiah Houthi melawan mereka ini besar, menambahkan bahwa operasi itu bertepatan dengan kementerian Awqaf yang mengeluarkan daftar badan Haji dan Umrah yang telah disetujui secara resmi sehingga jamaah dapat mulai mengatur perjalanan, lansir Alarabiya, Jumat (8/6/2019).

Koalisi Arab Serang Markas Besar Houthi, Pemimpin dan Puluhan Milisi Syiah Tewas

Pemberontak Houthi ini memaksa agen-agen untuk membayar biaya untuk setiap peziarah sebagai “biaya operasional” untuk kementerian Wakaf dari pemerintah tidak sah, yang mengendalikan Sanaa.

Seorang manajer dari salah satu agen, yang tidak mengungkapkan namanya untuk tujuan keamanan, mengatakan bahwa beberapa tidak setuju dengan syarat pembayaran ini sehingga Houthi menutup 18 agen di Sanaa saja.

Houthi juga melarang sejumlah Muslim di Yaman pergi ke tempat suci tahun lalu dengan menyita paspor dan memblokir perjalanan mereka.

Tiga Warga Palestina Gugur Dalam Aksi Jumat di Perbatasan Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Tiga warga Palestina, termasuk remaja berusia 15 tahun, tewas oleh tembakan pasukan penjajah Israel di perbatasan Gaza pada hari Jumat (8/6/2018), ketika ribuan warga sekali lagi ikut ambil bagian dalam protes anti-Israel.

Kementerian kesehatan Palestina sebelumnya mengumumkan empat orang telah tewas tetapi dengan cepat mengklarifikasi bahwa jantungnya berdetak kembali.

Laporan sebelumnya mengatakan pasukan zionis menembakkan gas air mata dan peluru hidup ke arah warga Palestina yang ikut ambil bagian dalam protes pekanan di perbatasan Jalur Gaza dengan Israel pada hari Jumat, melukai sedikitnya 386 orang, kata medis, lansir Alarabiya.

Militer zionis mengatakan mereka akan mengambil tindakan untuk membubarkan sekitar 10.000 warga Palestina serta mencegah penerobosan pagar perbatasan yang dibentengi. Beberapa pendemo melemparkan batu ke arah pasukan dan membakar ban.

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

Pasukan penjajah Israel telah menewaskan 120 warga Palestina dalam protes di sepanjang perbatasan sejak diluncurkannya aksi pada 30 Maret guna menuntut hak untuk kembali ke tanah leluhur yang hilang di tangan Israel dalam perang penciptaan Israel 1948, kata pejabat rumah sakit.

Israel mengklaim korban tewas termasuk orang-orang bersenjata yang menggunakan warga sipil sebagai tameng untuk melancarkan serangan senjata dan granat atau upaya infiltrasi. Penyelenggara mengaitkan protes hari Jumat dengan acara tahunan “Jerusalem Day”.

“Tidak ada negara bernama Israel yang dapat memiliki ibukota yang disebut Yerusalem,” kata jurubicara Hamas Fawzi Barhoum, menambahkan bahwa protes, yang juga menuntut diakhirinya blokade Israel dan Mesir yang terus berlanjut menggilas di Gaza.

Emmanuel Nahshon, juru bicara Kementerian Luar Negeri zionis, di Twitter menggambarkan pengunjuk rasa Gaza sebagai “orang-orang bodoh yang penuh kebencian” dan “Hamas Jugend.” Jugend adalah “pemuda” dalam bahasa Jerman. Hitler-Jugend adalah barisan paramiliter pemuda yang dibentuk oleh Hitler.

Liga Arab: Pasukan Israel Sengaja Membunuh Perawat Razan Al-Najar

Tidak ada korban di pihak Israel akibat konfrontasi lebih dari dua bulan di sepanjang perbatasan Gaza. Namun Israel mengatakan telah kehilangan banyak lahan pertanian dan hutan di sisi perbatasannya akibat api yang disulut oleh layang-layang rakyat Palestina yang bermuatan batu bara atau bahan bakar.

Di antara mereka yang terluka pada hari Jumat adalah fotografer Agence France Press dan seorang pria berusia 23 tahun yang kritis setelah tabung gas air mata zionis menembus wajahnya, kata para pejabat medis.

“Kami tidak meminta bulan,” kata Amer Abu Khalaf, seorang mahasiswa administrasi bisnis berusia 20 tahun yang ambil bagian dalam protes itu, mengatakan bahwa aksi mereka bertujuan untuk “mematahkan pengepungan dan membuat dunia mengakui hak kami untuk kembali.”

Demi Palestina, Tim Sepak Bola Argentina Batalkan Pertandingan Persahabatan dengan Israel

Israel telah lama menolak untuk menerima pengungsi Palestina yang berasal dari perang 1948 atau jutaan keturunan mereka, mengatakan bahwa itu hanya akan menjadikan demografi bunuh diri dan bahwa mereka harus tinggal di negara Palestina di masa depan. Pembicaraan kenegaraan telah dibekukan sejak 2014.

Jumlah korban tewas dari tindakan brutal pasukan Israel terhadap protes rakyat Gaza meningkatkan kecaman internasional, meskipun Amerika Serikat membela Israel dengan menyalahkan Hamas.

Menhan AS: Turki adalah Negara Garis Depan NATO

ANKARA (Jurnalislam.com) – Menteri pertahanan AS mengatakan Turki adalah negara garis depan NATO dan kepentingan sahnya perlu dipertimbangkan, mengacu pada pembicaraan antara kedua negara mengenai Manbij di utara Suriah baru-baru ini.

Berbicara kepada wartawan selama penerbangannya ke Brussels, James Mattis mengatakan telah terjadi pembicaraan antara sekretaris negara AS dan menteri luar negeri Turki di Washington D.C.

Roadmap Manbij diumumkan setelah pertemuan di Washington pada hari Senin antara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Kesepakatan itu berfokus pada penarikan kelompok teror YPG yang berafiliasi dengan PKK dari kota Suriah utara dan stabilitas di kawasan itu.

Begini Kata Sekjen NATO atas Operasi Militer Turki di Suriah

“Kami sedang bekerja, bagaimana kita sekali lagi menilai Turki, sebagai sekutu NATO – bagaimana kita memperhatikan kepentingan keamanan sah Turki dan meningkatkan keamanan mereka? Mereka adalah satu-satunya negara NATO yang menghadapi pemberontakan aktif di dalam wilayah perbatasannya,” kata Mattis, menurut sebuah transkrip yang disediakan oleh Departemen Pertahanan.

“Mereka adalah negara garis depan NATO- di garis depan bencana yang dijatuhkan rezim Bashar Assad terhadap rakyatnya di Suriah, dengan bantuan Iran, bantuan Rusia. Dan kita harus menemukan cara untuk membantu kepentingan sah Turki,” tegasnya.

Mattis mengatakan bahwa SDF adalah satu-satunya organisasi yang pada saat itu mampu menggagalkan dan mengalahkan IS dalam “pertempuran yang sangat, sangat sulit.”

Milisi Penguasa Kota Manbij Tolak Kehadiran Pasukan Turki

“Dan kita tidak akan begitu saja mengesampingkan organisasi itu, karena mereka sangat penting untuk menghentikan – untuk membersihkan sisa-sisa IS sekarang, yang masih belum tuntas. Sangat penting untuk menghancurkan mereka – melalui operasi yang sedang berjalan sekarang. Dan sangat penting untuk mencegah munculnya IS bagian ke-2.”

Mattis menambahkan itu adalah “ruang pertempuran paling rumit” yang pernah dilihatnya.

“Kami bekerja dengan Turki merencanakan bagaimana kami menangani masalah ini, dan kami akan terus bekerja ke depan,” katanya.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

“Tidak ada keraguan bahwa kami bekerja dengan Turki untuk memikirkan dan mengatasi kekhawatiran mereka – dan pada saat yang sama, membersihkan IS. Dan itu adalah pekerjaan yang sangat sulit, saya akan menjadi pihak pertama yang mengakui. Tapi kami melakukannya. Kami sedang mengerjakannya, dan kami melakukannya dengan Turki, bukan melawan Turki,” tambah Mattis.

Turki telah lama mengkritik AS karena mendukung kelompok teror YPG/PKK atas nama SDF, yang dianggap oleh Ankara sebagai cabang Suriah PKK.

PKK telah melancarkan operasi teror lebih dari 30 tahun terhadap negara Turki yang telah mengakibatkan sekitar 40.000 kematian.

Washington memandang SDF sebagai “mitra yang dapat diandalkan” dalam pertempurannya melawan IS dan terus menyediakan senjata dan peralatan meskipun ditentang kuat oleh Turki.

Donald Trump akan Undang Kim Jong-un ke AS Jika Pekan Depan…

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Kamis (7/6/2018) bahwa dia “pasti” akan mengundang pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ke AS jika pertemuan pekan depan di Singapura berjalan dengan baik, tetapi menambahkan dia “benar-benar siap untuk berbalik” jika kemajuan tidak tercapai.

Di hadapan wartawan di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Trump mengatakan dia berpikir undangan itu “akan diterima dengan baik” oleh Kim, tetapi bersikeras bahwa Korea Utara harus melakukan denuklirisasi jika ingin menerima bantuan semacam bebas dari sanksi internasional, lansir Anadolu Agency.

Sekretaris Negara Mike Pompeo kemudian mengatakan bahwa Kim, yang telah ditemuinya dua kali di tengah kesibukan aktivitas diplomatik dalam persiapan untuk KTT, telah mengindikasikan kepadanya bahwa dia “siap untuk melakukan denuklirisasi.”

Trump lebih lanjut mengatakan dia ingin menormalkan hubungan dengan musuh Washington selama beberapa dasawarsa tersebut jika kedua belah pihak dapat menengahi perjanjian bersejarah denuklirisasi Semenanjung Korea.

Manuver Jet AS pada Latihan Perang dengan Korsel, Korut: Ini Ambang Perang Nuklir

“Menormalkan hubungan adalah sesuatu yang saya pikir bisa dilakukan, saya harapan bisa dilakukan, setelah semuanya selesai. Kami tentu berharap bisa melakukan itu,” kata Trump di Rose Garden.

Abe menekankan pentingnya Tokyo membebaskan warga Jepang yang disandera di Korea Utara, mengatakan dalam pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Jepang bahwa presiden Amerika “sepenuhnya memahami” pentingnya pembebasan mereka.

Lebih dari selusin warga Jepang ditahan di Utara.

Trump dijadwalkan bertemu dengan Kim pada hari Selasa di hotel mewah Capella Hotel di Pulau Sentosa, Singapura. Jika berlanjut, ini akan menjadi pertemuan pertama antara presiden AS dan pemimpin Korea Utara.

Trump sebelumnya membatalkan pertemuan setelah komentar panas dari pejabat senior Korea Utara dan AS, tetapi pada Jumat lalu setelah pertemuan selama sekitar dua jam dengan kedua komandan Kim di Gedung Putih, Trump mengatakan pertemuan itu akan kembali dilanjutkan.

Krisis Korut-AS, Sekjen PBB: Ini Ancaman Bahaya Perang Nuklir

Selain denuklirisasi, Trump mengatakan AS dan Korea Utara akan membahas akhir resmi Perang Korea yang telah berlangsung puluhan tahun, dan mengatakan kesepakatan seperti itu dapat ditetapkan selama pekan depan.

“Itu mungkin bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah setelahnya,“ katanya.

Pengacara Trump, Rudy Giuliani, melemparkan salah satu kunci terbesar untuk KTT yang direncanakan pada Rabu tersebut ketika dia mengatakan Kim “kembali berlutut dan memohon” agar AS menghidupkan kembali KTT setelah Trump membatalkannya sementara.

Korut dan Korsel Sepakat Penghapusan Senjata Nuklir, Begini Komentar Trump

Tapi Pompeo menekankan bahwa Giuliani, yang bukan bagian dari administrasi Trump, “tidak berbicara mewakili administrasi dalam hal negosiasi ini, dan serangkaian masalah ini.”

“Kami bergerak maju, kami fokus pada hal-hal penting,” kata Pompeo kepada wartawan di Gedung Putih, menekankan fakta bahwa Kim dan Trump “datang ke meja perundingan menunjukkan bahwa kedua pihak sangat serius.”

WHD Semangati Wanita Kristen di Dunia Kenakan Hijab dan Puasa Selama Ramadhan

LONDON (Jurnalislam.com) – Banyak wanita Kristen di dunia telah mulai mengenakan hijab sebagai bagian dari Tantangan Hijab Ramadhan (the Ramadan Hijab Challenge) untuk menunjukkan solidaritas dengan wanita Muslim selama bulan suci Islam.

Inisiatif yang dibuat oleh organisasi World Hijab Day ini mendorong perempuan non-Muslim untuk mengenakan jilbab dan berpuasa selama Ramadhan.

“Acara ini adalah bagi mereka yang ingin meraskan pengalaman mengenakan hijab selama lebih dari satu hari untuk lebih memahami apa yang wanita Muslim lakukan setiap hari,” Nazma Khan, pendiri WHD, mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (6/6/2018).

Wanita Muslim pada Hari Buruh di Eropa: ‘Jilbabku Bukan Urusanmu’

Salah satu peserta, Ellie Lloyd – seorang wanita Kristen yang tinggal di Qatar dengan putrinya, mengatakan: “Saya adalah seorang wanita Kristen yang mengambil Tantangan Hijab Ramadhan 30 hari” dan alasan saya berpartisipasi dalam tantangan adalah “untuk membantu meningkatkan kesadaran dan merasakan langsung bagaimana rasanya memakai jilbab.”

“Tujuannya adalah untuk membantu memerangi Islamophobia di seluruh dunia dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menerima dan lebih damai untuk hidup,” tambahnya.

Organisasi World Hijab Day didirikan pada Februari 2013 oleh Nazma Khan dengan tujuan menyebarkan kesadaran dan pemahaman tentang Hijab dan wanita Muslim.

Seorang Muslimah Pembuat Film ‘Amerika Berjilbab’ Memecah Stereotip Kelompok Islamophobia

World Hijab Day diadakan setiap tahun pada 1 Februari. Tantangan Hijab Ramadhan adalah inisiatif baru yang bertujuan untuk mengenali tantangan yang dihadapi wanita Muslim di bulan suci.

“Bagi banyak orang, jilbab adalah simbol penindasan dan segregasi. Dengan membuka jalur baru untuk memahami, Nazma berharap untuk melawan beberapa kontroversi seputar mengapa wanita Muslim memilih untuk mengenakan jilbab,” kata pernyataan di situs web mereka.

Presiden Afghanistan Umumkan Gencatan Senjata pada Taliban Tapi Tidak untuk IS

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada hari Kamis (7/6/2018) mengumumkan gencatan senjata sementara dengan Imarah Islam Afghanistan (Taliban) hingga 20 Juni, meskipun tidak segera jelas apakah kelompok bersenjata tersebut telah setuju.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Ghani mengatakan bahwa pertempuran melawan kelompok bersenjata lainnya seperti Islamic State (IS) akan terus berlanjut, Aljazeera melaporkan.

Presiden Afghanistan itu mengatakan kepada pasukan militer untuk menghentikan operasi melawan kelompok bersenjata Taliban hingga 20 Juni, bertepatan dengan berakhirnya bulan puasa Ramadhan.

Presiden men-tweet dari akun resmi, bahwa gencatan senjata akan berlangsung “dari tanggal 27 Ramadhan sampai hari kelima Idul Fitri (12-19 Juni).”

Serangan dari Segala Arah Taliban Bungkam Pasukan Bentukan AS-NATO di Kota Farah

“Gencatan senjata ini adalah kesempatan bagi Taliban untuk mengintrospeksi bahwa operasi militer mereka tidak memenangkan hati dan pikiran mereka tetapi malah jauh lebih mengasingkan,” katanya dalam sebuah Tweet.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani

“Dengan pengumuman gencatan senjata, kami melambangkan kekuatan pemerintah Afghanistan dan kehendak rakyat untuk resolusi damai dalam konflik Afghanistan.”

Langkah mengejutkan itu terjadi beberapa hari setelah pertemuan para pemimpin agama Afghanistan terkemuka di ibukota, Kabul, yang mengeluarkan fatwa menentang pemboman dan serangan martir. Fatwa adalah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh seorang ahli dalam hukum Islam.

Pertemuan agama itu diserang oleh seorang pembom martir dan menewaskan sedikitnya tujuh orang.

Turki Dukung Afghanistan untuk Perundingan Tanpa Syarat dengan Taliban

Pada bulan Februari Ghani menawarkan pengakuan terhadap Taliban sebagai kelompok politik yang sah dalam usulan proses politik yang katanya dapat berlanjut ke perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari 16 tahun.

Ghani mengusulkan gencatan senjata dan pembebasan tahanan di antara berbagai opsi termasuk pemilihan baru yang melibatkan kelompok bersenjata, dan peninjauan konstitusional dalam perjanjian dengan Taliban untuk mengakhiri konflik yang tahun lalu saja telah membunuh atau melukai lebih dari 10.000 warga sipil Afghanistan.

Taliban telah berperang di Kabul sejak mereka digulingkan dari kekuasaan pada 2001 oleh pasukan multinasional pimpinan AS. Taliban menetapkan penarikan pasukan asing dari Afghanistan sebagai prasyarat untuk pembicaraan damai.