Seorang Muslimah Pembuat Film ‘Amerika Berjilbab’ Memecah Stereotip Kelompok Islamophobia

26 Februari 2017
Seorang Muslimah Pembuat Film ‘Amerika Berjilbab’ Memecah Stereotip Kelompok Islamophobia

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Dia adalah Iman Zawahry, seorang Muslimah pembuat film Amerika berjilbab. Iman tidak hanya seorang pembuat film vokal, dia juga seorang profesor perguruan tinggi, instruktur zumba, full-time mom, istri, dan anak, yang mencoba untuk memecah semua stereotip yang dikatakan kelompok xenophobia/Islamophobia tentang dia.

Sambil mengoreksi makalahnya untuk kelas Islam, Media dan Budaya dan menjalankan proyek beasiswa pertama untuk Film Amerika-Muslim, Iman juga sedang mengarahkan sebuah film berdasarkan drama yang diakui kritikus, Dirty Paki Lingerie, bersama penulis dan aktor Aizzah Fatima. Zawahry menyatakan bahwa, supaya sempurna, dia menginginkan Tom Hanks untuk memproduksi filmnya.

Film Iman Tough Crowd memenangkan Student Emmy Award dan menjadi finalis untuk the NBC Comedy Short Cuts. Filmnya yang lain, Undercover memenangkan penghargaan bergengsi Princess Grace Award.

Zawahry baru-baru ini berbicara di Washington Post, membahas the American-Muslim Storyteller Grant (ASG). Iman berbicara tentang xenophobia di Amerika dan Hollywood, dari sudut pandangnya salama menjadi pembuat film Muslim di Amerika Serikat.

Muslim mencarinya untuk belajar lebih banyak tentang dia, Dana Beasiswa Islam (the Islamic Scholarship Fund-ISF), dan beasiswa bagi pembuat film Muslim-Amerika (ASG).

Iman adalah salah satu pendiri dan Direktur Utama Beasiswa Film Nasional ISF (the ISF National Film Grant -NFG). Dia telah mengumpulkan uang untuk beasiswa ini selama bertahun-tahun. Dia menyatakan dalam wawancara kami bahwa, “Sangat sulit mengumpulkan uang untuk beasiswa ini dan saya tidak tahu mengapa.”

Michael Mogensen, seorang pembuat film tentang Yahudi, terkejut setelah Presiden Trump menandatangani Executive Order yang melarang umat Islam dari tujuh negara. Setelah “Muslim Ban” ini ia mencari cara untuk mendukung komunitas Muslim di AS. Itulah saat ketika Michael mengulurkan tangan untuk Dana Beasiswa Islam, dan Beasiswa pembuat Film Muslim Amerika (the American-Muslim Storyteller GrantASG) lahir. Beasiswa ini masih merupakan bagian dari ISF, dan Iman adalah jurinya. ASG masih sangat baru.

“ASG secara khusus bertujuan untuk memfasilitasi dan mendukung Muslim memasuki dunia film, Muslim yang berniat untuk membuat cerita artistik, menarik, dan positif tentang Islam.”

Sebagai Muslim, kita tumbuh dalam masyarakat di mana satu-satunya cara untuk dianggap berhasil adalah dengan menjadi seorang dokter, pengacara, dan lain lain. Iman adalah salah satu orang yang membuka jalan bagi orang lain di generasi kita untuk dianggap serius sebagai pembuat film atau artis.

Jadi mengapa kita, sebagai Muslim-Muslimah, tidak mendukung lebih banyak orang seperti dia? Orang-orang seperti Iman membuat jalan bagi orang lain untuk melihat Muslim sebagai manusia paling beradab, bukan sebagai barbar atau teroris. Iman menyatakan bahwa dia ingin “memanusiakan Muslim.” Beasiswa ASG dan NFG memberikan orang kesempatan untuk mengubah narasi yang sangat menghina – sebagaimana Muslim sering ditampilkan dalam industri media dan film.

Kita selalu marah dengan bagaimana Muslim digambarkan di media dan di Hollywood sebagai ekstremis. Kini kita memiliki pilihan untuk mendukung seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah cara seluruh dunia melihat kita .. ISF memberi langsung tempat bagi kita untuk melakukan ini; yang harus dilakukan semua orang adalah memberi donasi.

Lebih mudah baginya untuk menerima dukungan dari komunitas Muslim juga non-muslim. Mari kita mencoba dan mengubahnya, kata Iman.