Menhan AS: Turki adalah Negara Garis Depan NATO

8 Juni 2018
Menhan AS: Turki adalah Negara Garis Depan NATO

ANKARA (Jurnalislam.com) – Menteri pertahanan AS mengatakan Turki adalah negara garis depan NATO dan kepentingan sahnya perlu dipertimbangkan, mengacu pada pembicaraan antara kedua negara mengenai Manbij di utara Suriah baru-baru ini.

Berbicara kepada wartawan selama penerbangannya ke Brussels, James Mattis mengatakan telah terjadi pembicaraan antara sekretaris negara AS dan menteri luar negeri Turki di Washington D.C.

Roadmap Manbij diumumkan setelah pertemuan di Washington pada hari Senin antara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Kesepakatan itu berfokus pada penarikan kelompok teror YPG yang berafiliasi dengan PKK dari kota Suriah utara dan stabilitas di kawasan itu.

Begini Kata Sekjen NATO atas Operasi Militer Turki di Suriah

“Kami sedang bekerja, bagaimana kita sekali lagi menilai Turki, sebagai sekutu NATO – bagaimana kita memperhatikan kepentingan keamanan sah Turki dan meningkatkan keamanan mereka? Mereka adalah satu-satunya negara NATO yang menghadapi pemberontakan aktif di dalam wilayah perbatasannya,” kata Mattis, menurut sebuah transkrip yang disediakan oleh Departemen Pertahanan.

“Mereka adalah negara garis depan NATO- di garis depan bencana yang dijatuhkan rezim Bashar Assad terhadap rakyatnya di Suriah, dengan bantuan Iran, bantuan Rusia. Dan kita harus menemukan cara untuk membantu kepentingan sah Turki,” tegasnya.

Mattis mengatakan bahwa SDF adalah satu-satunya organisasi yang pada saat itu mampu menggagalkan dan mengalahkan IS dalam “pertempuran yang sangat, sangat sulit.”

Milisi Penguasa Kota Manbij Tolak Kehadiran Pasukan Turki

“Dan kita tidak akan begitu saja mengesampingkan organisasi itu, karena mereka sangat penting untuk menghentikan – untuk membersihkan sisa-sisa IS sekarang, yang masih belum tuntas. Sangat penting untuk menghancurkan mereka – melalui operasi yang sedang berjalan sekarang. Dan sangat penting untuk mencegah munculnya IS bagian ke-2.”

Mattis menambahkan itu adalah “ruang pertempuran paling rumit” yang pernah dilihatnya.

“Kami bekerja dengan Turki merencanakan bagaimana kami menangani masalah ini, dan kami akan terus bekerja ke depan,” katanya.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

“Tidak ada keraguan bahwa kami bekerja dengan Turki untuk memikirkan dan mengatasi kekhawatiran mereka – dan pada saat yang sama, membersihkan IS. Dan itu adalah pekerjaan yang sangat sulit, saya akan menjadi pihak pertama yang mengakui. Tapi kami melakukannya. Kami sedang mengerjakannya, dan kami melakukannya dengan Turki, bukan melawan Turki,” tambah Mattis.

Turki telah lama mengkritik AS karena mendukung kelompok teror YPG/PKK atas nama SDF, yang dianggap oleh Ankara sebagai cabang Suriah PKK.

PKK telah melancarkan operasi teror lebih dari 30 tahun terhadap negara Turki yang telah mengakibatkan sekitar 40.000 kematian.

Washington memandang SDF sebagai “mitra yang dapat diandalkan” dalam pertempurannya melawan IS dan terus menyediakan senjata dan peralatan meskipun ditentang kuat oleh Turki.