Peneliti Senior: Undang-undang Larangan Cadar Austria akan Picu Hina Muslimah di Jalan

2 Oktober 2017
Peneliti Senior: Undang-undang Larangan Cadar Austria akan Picu Hina Muslimah di Jalan

AUSTRIA (Jurnalislam.com) – Farid Hafez, peneliti senior di Georgetown University’s Bridge Initiative, mengatakan bahwa gagasan tentang larangan cadar mencerminkan imajinasi Islamophobia tentang apa yang telah dianggap sebagai ‘masalah Muslim’ di beberapa negara di seluruh Eropa.

“Islamofobia menjadi masalah di Austria karena ini adalah masalah dan tantangan terhadap demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan beragama di banyak negara Eropa saat ini,” Hafez, yang juga seorang profesor di Universitas Salzburg, mengatakan kepada Al Jazeera, memperingatkan bahwa larangan tersebut bisa memiliki “konsekuensi serius”, Ahad (1/10/2017)

“Rakyat biasa di jalan [akan] merasa diizinkan untuk bertindak tidak hormat terhadap wanita Muslim, menghina mereka secara terbuka di jalan,” kata Hafez, menambahkan bahwa wanita muda Muslim yang penuh cita-cita akan merasa “terhambat”.

Siswa Muslimah Universitas California Jadi Target Serangan Pendukung Trump

Austria adalah negara Eropa terbaru yang menerapkan larangan tersebut.

Pada tahun 2011, Perancis dan Belgia memperkenalkan undang-undang tersebut. Di tahun 2015, Belanda menyetujui larangan sebagian terhadap jilbab, sementara Bulgaria menerapkan larangan penuh pada tahun 2016.

Larangan tersebut telah memicu perdebatan tentang multikulturalisme di seluruh benua.

Para pendukung mengatakan bahwa cadar mengancam keamanan dan menghalangi interaksi, sementara mereka yang menentang larangan mengatakan pelanggaran hak-hak agama dengan latar belakang Islamophobia.

“Saat ini, kami sangat khawatir dengan wacana politik melawan Islam, yang telah memasuki arus utama politik,” kata Baghajati dari Islamic Religious Authority, yang mengungkapkan kegelisahan atas bangkitnya Partai Kebebasan, yang, seperti kelompok serupa di seluruh Eropa, mengayunkan garis anti-imigrasi, anti-Islam untuk keuntungan politik.

Pekan lalu, partai alternatif Alternativeern Jerman (AfD) yang juga merupakan kelompok sayap kanan, memenangkan kursi di Bundestag Jerman, yang pertama sejak Perang Dunia II, dan memicu ketakutan akan gelombang serupa di Austria.

“Kami khawatir hal ini akan berdampak pada Austria, juga,” kata Baghajati. “Tuduhan terhadap Muslim, prasangka, dan semua jenis pemikiran negatif kini telah memasuki arus utama”.

“Rasanya menjadi seorang Muslim seolah-olah merupakan ancaman umum terhadap masyarakat.”