Lancarkan Propaganda, Rusia Buat Sandiwara di Gedung Pelarangan Senjata Kimia

LONDON (Jurnalislam.com) – Duta Besar Inggris untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) menggambarkan sebuah upaya pengarahan (briefing) oleh Rusia dan Suriah sebagai “akting pengganti” untuk membantah hasil penyelidikan, mengatakan bahwa Inggris tidak akan hadir dengan sekutu-sekutunya dalam acara itu.

“OPCW bukan teater,” kata Duta Besar Peter Wilson dalam sebuah pernyataan Kamis (26/4/2018), lansir Anadolu Agency.

“Keputusan Rusia untuk menyalahgunakannya adalah upaya lain Rusia untuk merongrong pekerjaan OPCW, dan khususnya hasil kerja Fact Finding Mission yang menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah; direktur jenderal OPCW telah meminta Rusia dan Suriah untuk bekerja dengan Misi Pencarian Fakta, dan menunggu laporannya. Namun Rusia dan Suriah mengabaikan kekhawatiran OPCW,” kata Wilson.

Tim Penyelidik Serangan Senjata Kimia Tiba di Lokasi Kedua

Rusia dan Suriah menggelar briefing untuk menunjukkan dugaan serangan kimia di pinggiran Damaskus pada 7 April adalah “insiden buatan … dengan partisipasi komedian yang tidak menyadari tindakannya dan juga saksi-saksi lain dari ‘White Helmets’ yang terkenal.”

Pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad menyerang sasaran di distrik Douma di pinggiran kota Damaskus pada 7 April menggunakan gas beracun, yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil lokal.

Menyusul insiden tersebut, AS, Inggris dan Prancis bersama-sama meluncurkan serangan udara, menargetkan kekuatan senjata kimia rezim Assad sebagai pembalasan atas dugaan serangan kimia.

Serangan itu menargetkan pusat penelitian senjata kimia rezim Assad di dekat Damaskus, serta gudang senjata kimia dan pusat komando yang terkait dengan senjata kimia yang terletak di barat Homs.

Setelah Serangan Koalisi Amerika di Douma, Rusia akan Kirim Pertahanan Udara Canggih

Briefing oleh Rusia dan Suriah di gedung OPCW saat ini adalah akting. Direktur Jenderal menentang keputusan Rusia untuk memimpin briefing tersebut hari ini. Inggris tidak akan hadir, begitu juga sekutu kami,” kata Wilson.

Wilson mengatakan bahwa “menggambarkan korban senjata kimia sebagai ‘komedian’ itu adalah tindakan tercela.”

“Ini menunjukkan bahwa Rusia dan Suriah mengabaikan penderitaan rakyat Suriah, dan norma global yang menentang penggunaan senjata kimia,” tambahnya.

Mengenai “laporan luas tentang intimidasi saksi terhadap serangan Douma”, Wilson mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah penyebab keprihatinan nyata.

“Direktur Jenderal [OPCW] telah meminta negara-negara untuk memberikan informasi tentang serangan Douma ke Misi Pencarian Fakta OPCW. Rusia dan Suriah seharusnya melakukannya, daripada malah melancarkan kampanye propaganda yang menyesatkan informasi,” kata Wilson.

“Kami tidak akan berkompromi dengan negara-negara yang berusaha menurunkan struktur dan perjanjian yang membuat kami aman,” tambahnya.

Fadli Zon: Fondasi Terkuat Indonesia adalah Umat Islam, Tapi Rezim Tidak Mengerti Sejarah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon mengatakan, fondasi terkuat yang dimiliki bangsa Indonesia adalah umat Islam. Sebab, kata dia, kebangkitan nasionalisme di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam dan umat Islam.

“Peran dari tokoh-tokoh Islam dalam mendirikan Republik ini sangat sentral. Mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan hingga mosi integral Muhammad Natsir, dan seterusnya,” kata Fadli Zon dalam edisi perdana acara Indonesia Leader Forum (ILF) bertema ‘Sejarah Pergerakan Islam dan Masa Depan Bangsa’ pada Kamis (27/4/2018) malam.

Oleh sebab itu, lanjutnya, jika saat ini ada penguasa yang melihat Islam sebagai ancaman terhadap keutuhan NKRI maka dapat dipastikan penguasa tersebut tidak mengerti sejarah.

Fadli menambahkan, ketidakpahaman rezim akan sejarah umat Islam di Indonesia juga yang membuat penguasa salah dalam memposisikan umat Islam.

“Sehingga terjadilah kriminalisasi, penistaan agama, perppu ormas, dll. Padahal fondasi terkuat dari Republik ini adalah umat Islam, tapi rezim tidak mengerti,” tegasnya.

Hal itulah yang menurut dia menyebabkan mayoritas umat Islam hari ini seolah-olah menjadi tertuduh sebagai pihak yang anti NKRI.

“Jadi orang kalau tidak mengerti masa lalu dia tidak mengerti saat ini, kalau dia tidak mengerti hari ini dia tidak akan bisa merancang masa depan,” pungkasnya.

Transit di Jeddah, Keluarga DR Fadi Disambut Dubes Palestina

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Jenazah ilmuwan Palestina As-Syahid -kama nahsabuhu wa laa nuzakki ahadan- Imam Dr Fadi Al Batsh dan keluarganya dilaporkan telah selamat tiba di Bandara Jeddah pada pukul 04.41 pagi hari waktu Malaysia, Kamis (26/4/2018).

Mereka tengah transit selama 3 jam di Jeddah sebelum bertolak kembali ke Kairo, Mesir.

Menurut informasi yang dihimpun wartawan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), relawan MyCARE Farisul Islam yang turut dalam perjalanan mengatakan sepanjang perjalanan pihak keluarga dilayani dengan baik sepanjang penerbangan.

Cabbin crew layan kami sangat-sangat baik. Rasa nak menangis tengok kapten semua sambut siap cium kepala. Kapten sendiri yang bukakan cerita untuk hiburkan anak-anak,” ujar dia.

“Semoga mengubat kesedihan mereka,” harap Farisul Islam.

Setiba di Jeddah pihak kedutaan Palestina di Saudi menyambut kedatangan mereka. Duta Besar Palestina untuk Saudi Bassam Al Agha turun langsung menemui pihak keluarga.

Reporter: Fajar Shadiq | Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Kisah Haru Perjalanan Pulang Keluarga DR Fadi Al Batsh

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Relawan MyCARE, Farisul Islam, yang turut menemani pihak keluarga DR Fadi Al Batsh kembali ke kampung halamannya mengisahkan kisah haru sepanjang perjalanan. Menurutnya, kondisi anak-anak DR Fadi semasa di dalam penerbangan suasana amat menyedihkan.

“Sepanjang perjalanan tak boleh tidur, saya risau keselamatan anak-anak ni. Kena pantau selalu,” ujar Faris dalam riisnya kepada media ini, Kamis, (26/4/2017)

Ia menilai inisiatif organisasi kemanusiaan Malaysia MyCARE cukup tepat untuk mengutus perwakilan LSM menemani keluarga Dr Fadi. Pasalnya, suasana batin Enaas Al Batsh, isteri almarhum DR Fadi Al Batsh masih belum stabil hingga saat ini.

“Sedihnya ialah ketika salah seorang anak perempuannya bertanya ‘mana Baba?’ Muhammad, anak bungsunya langsung menangis, namun apabila saya gendong, terus dia tidur dekat bahu saya,” kata dia.

“Mungkin si ayah selalu tidurkan Muhammad,” lanjutnya.

Faris melanjutkan, Muhammad sepanjang perjalanan apabila bersama ibu dia akan merajuk, namun bila ada lelaki dewasa memegangnya dia akan diamkan diri dan menyandar kepala tanda nyaman dan mengantuk.

“Sepanjang perjalanan Muhammad tidur di atas dekapan saya dan juga seorang penumpang lelaki yang menaiki penerbangan yang sama

Menurut ibunya, sang anak bungsu, Muhammad tidak mengetahui ayahnya telah meninggal dunia.

Reporter: Fajar Shadiq | Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Pembunuhan DR Fadi Al Baths Adalah Upaya Pelemahan Ilmuwan Palestina

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Kepala Palestinian Cultural Organization Malaysia (PCOM), Muslim Imran menegaskan, pembunuhan DR Fadi Al Baths merupakan upaya pelemahan terhadap status ulama dan ilmuwan Palestina.

Ditemui Jurnalis Islam Bersatu (JITU) seusai shalat jenazah di Surau Medan Idaman, Kuala Lumpur pada Rabu, (25/4/2018), Muslim menegaskan Dr Fadi merupakan sosok yang dikenal oleh publik, dia juga merupakan seorang warga Palestina yang terhormat, sangat berkontribusi besar bagi masyarakat Palestina.

“Dia penghafal Al Quran, dia memenangkan banyak penghargaan, dia juga pemenang Khazanah Award dia banyak menerbitkan belasan karya ilmiah dan proyek-proyek penelitian. Jadi, upaya pembunuhan terhadapnya merupakan usaha untuk melemahkan status ilmuwan dan ulama Palestina,” jelasnya kepada JITU.

Dia melanjutkan, musuh-musuh Palestina gagal bersaing dengan DR Fadi dan upaya pembunuhan ini adalah bentuk ketidaksukaan mereka terhadap saintis dari bangsa Arab.

“Upaya penghilangan nyawa ini sangat menyedihkan bagi kami, tapi inilah yang terjadi. Namun kami yakin pemerintah Malaysia akan menemukan pelakunya dan membawa keadilan,” sambungnya.

Polisi Malaysia Terima Hasil Otopsi Kematian Ilmuwan Palestina

Terkait pernyataan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman yang mengatakan bahwa DR Fadi adalah pembuat roket dan bukan orang suci, Muslim menegaskan hal itu adalah propaganda Israel.

“Saya pikir Avigdor Lieberman juga bukan orang suci. Dia adalah orang yang buruk dan seorang penjahat perang, dan kita berharap suatu saat ia bisa diseret ke mahkamah internasional,” tambahnya.

Ketua organisasi budaya Palestina ini menambahkan, jika komunitas internasional cukup serius, Lieberman seharusnya tidak boleh dibiarkan membuat pernyataan seperti itu. Sebab, Lieberman adalah orang yang sering memenjarakan orang seperti para penjahat perang pada umumnya.

“Komunitas internasional tidak akan menganggap pernyataan Lieberman. Dia mencoba menjatuhkan kredibiltas DR Fadi yang sangat dicintai dan dihormati oleh masyarakat di sini. Dia adalah seorang propagandis Israel,” tutup Muslim.

Reporter: Fajar Shadiq | Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Hamas Janji Terus Perjuangkan Palestina Baik di Dalam Maupun Luar Negeri

GAZA (Jurnalislam.com) – Pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh telah berjanji untuk melancarkan protes terhadap penjajahan Israel selama puluhan tahun di Tepi Barat dan di luar negeri.

Sejak 30 Maret, warga Palestina telah melakukan aksi protes di sepanjang perbatasan Jalur Gaza menuntut kembalinya para pengungsi ke kota-kota dan desa-desa mereka di Palestina (The Great March of Return) yang bersejarah dimana mereka diusir oleh pasukan Yahudi pada tahun 1948 untuk membuat jalan bagi negara baru Israel.

Unjuk rasa itu merupakan bagian dari protes enam pekan yang akan mencapai puncaknya pada 15 Mei. Hari itu akan menandai ulang tahun ke-70 pendirian Israel – sebuah acara yang oleh orang Palestina disebut sebagai “Nakba” atau “Malapetaka.”

“Aksi demo akan pindah ke Tepi Barat dan akan bergabung dengan warga kami di luar negeri,” kata Haniyeh pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Agama di Jalur Gaza pada hari Rabu (25/4/2018), lansir Anadolu Agency.

Otoritas Tolak Rencana Pembentukan Negara Palestina Tanpa Yerusalem

Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh

Dia mengatakan warga Palestina “akan bangkit melawan penjajahan Israel dalam perlawanan rakyat yang dimulai dari Gaza”.

The Great March of Return akan menjadi gerakan rakyat Palestina terhadap penjajahan,” katanya, mengacu pada demonstrasi anti-pendudukan zionis Yahudi.

Haniyeh mengatakan protes anti-penjajahan, yang sekarang memasuki pekan kelima, telah mencapai tujuan, terutama dengan kembalinya lagi para pejuangan Palestina ke garis depan.

Sedikitnya 41 penduduk Palestina telah tewas dan ratusan lainnya terluka oleh tembakan Israel sejak protes dimulai bulan lalu.

Sudah 2 Wartawan Palestina Gugur saat Meliput “Great March of Return”

Para pengamat yakin bahwa unjuk rasa bertujuan untuk mematahkan pengepungan Israel selama satu dekade di Jalur Gaza, serta untuk menggagalkan “Kesepakatan Abad Ini” yang diusulkan AS – yang seolah-olah ditujukan untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Rencana perdamaian dilaporkan menyerukan pengakuan Arab di seluruh dunia atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengakui aneksasi Israel atas blok permukiman yahudi illegal terbesar di Tepi Barat. Sebagai imbalannya, Israel diharapkan akan mundur bertahap dari sebagian besar wilayah Palestina yang kini berada di bawah kekuatan penjajah.

Sejauh ini, kepemimpinan Palestina telah menyuarakan penolakannya terhadap ketentuan inisiatif dari AS.

Desember lalu, Presiden AS Donald Trump Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memicu kecaman dunia dan protes di seluruh wilayah Palestina.

Target Utama AS dan NATO, Taliban Umumkan Operasi Musim Semi Baru

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengumumkan pembukaan serangan musim semi 2018 pada hari Rabu (25/4/2018), bernama “operasi Jihad Al Khandaq” seperti nama pertempuran di Madinah pada tahun 627 Masehi di mana pasukan Nabi Muhammad Saw secara signifikan dengan sedikit pasukan dan dikepung oleh pasukan kafir Quraisy dan Yahudi namun memperoleh kemenangan.

Pasukan AS di Afghanistan adalah target utama operasi, sementara pemerintah boneka dan pasukan militer Afghanistan bentukan AS adalah target sekunder, menurut pernyataan Taliban, lansir Long War Journal, Rabu.

Dua serangan musim semi sebelumnya diberi nama sama dengan dua amir pertama Taliban: Mullah Omar, pendiri Taliban dan pemimpin pertama, dan penggantinya, Mullah Mansour, yaitu Operation Omari dan Operation Mansouri. Mullah Omar meninggal dunia di rumah sakit Pakistan pada 2013, sementara Mullah Mansour syahid dalam serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan pada 2016.

“Perencanaan dan strategi operasi Jihad Al Khandaq diatur oleh para ahli dan kader ahli dari Komisi Militer Imarah Islam yang didasarkan pada taktik gerilya, ofensif, infiltrasi dan berbagai taktik baru dan rumit lainnya dalam melawan strategi perang musuh yang baru,”kata Taliban dalam pernyataannya.

Faksi Jihad Uighur Gelar Operasi Militer Bersama Taliban

Sirajuddin Haqqani memimpin Komisi Militer Taliban, dan Mullah Mohammad Yaqoub – putra Mullah Omar – bertugas sebagai pemimpin senior sebelum diangkat bersama dengan Sirajuddin sebagai salah satu dari dua deputi Mullah Haibatullah Akhundzada. Sirajuddin dianggap sebagai ahli taktik dan ahli strategi yang terampil, dan telah membimbing mujahidin Taliban untuk merebut kendali atau secara aktif memperjuangkan sedikitnya 58 persen dari 407 distrik di Afghanistan, merupakan pencapaian wilayah terbesar yang berhasil dikuasai atau dipengaruhi sejak perang dimulai pada tahun 2001, menurut data yang dikumpulkan oleh the Long War Journal FDD.

Operasi Al Khandaq Jihadi “terutama berfokus menghancurkan, membunuh, dan menangkap para pasukan penjajah Amerika dan pendukung mereka.”

“Target utamanya adalah penjajah Amerika dan agen intelijen mereka,” lanjut pernyataan Taliban. “Pendukung internal mereka akan ditangani sebagai target sekunder sementara plot jahat dari para pengacau yang ada saat ini dan di masa depan akan dihancurkan sejak awal.”

Taliban menegaskan bahwa mereka akan berhati-hati untuk mencegah jatuhnya korban sipil dan memperingatkan warga Afghanistan untuk tetap “berada pada jarak yang cukup aman dari semua pangkalan dan konvoi musuh sehingga mereka tidak akan dirugikan selama operasi ini.”

Serangan Udara AS pada Taliban Meningkat, 4.360 Pemboman, Namun…

Pengumuman tahunan Taliban tentang serangan musim seminya dipandang sebagai tema serangan, operasi militer dan politik Taliban sering kali dekat dengan tujuan yang diumumkan. Pada 2017, Taliban mengatakan bahwa Operasi Mansouri akan fokus pada pasukan asing serta pasukan keamanan Afghanistan. Selain itu, Taliban juga mengatakan akan fokus pada pemerintahan di “area yang telah dibersihkan dari musuh.” Selama serangan 2017, Taliban terus meningkatkan ukuran wilayah kekuasannya, dan menekankan tata kelola di area yang mereka kendalikan.

Pada tahun 2016, Taliban berjanji bahwa Operasi Omari akan “menggunakan serangan skala besar terhadap posisi musuh di seluruh negeri” dan meluncurkan “serangan mencari-syahid dan taktis terhadap benteng musuh.” Hasilnya, Taliban berhasil menekan enam ibukota provinsi, menyerbu beberapa kabupaten yang dikuasai musuh, dan meluncurkan serangan yang sukses di pangkalan militer utama selama serangan tahun 2016.

Serangan Taliban tahun 2018 mungkin akan menjadi yang paling penting dalam perang. Administrasi Trump telah mengerahkan beberapa ribu pasukan tambahan ke Afghanistan untuk menghentikan kemenangan Taliban baru-baru ini terus meningkat pesat. Pejabat AS dan NATO percaya bahwa tekanan militer dapat memaksa Taliban ke meja perundingan. Namun, Strategi ini gagal di bawah pemerintahan Obama, yang menurunkan lebih dari 120.000 tentara Amerika di negara itu.

Setelah Serangan Koalisi Amerika di Douma, Rusia akan Kirim Pertahanan Udara Canggih

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Tentara Rusia telah mengisyaratkan bahwa mereka akan memasok sistem pertahanan udara yang canggih bagi rezim Suriah.

Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi mengatakan pada hari Rabu (25/4/2018) bahwa, “Moskow akan segera memasok sistem pertahanan rudal baru bagi Damaskus,” lansir Aljazeera.

Pernyataan itu tidak menyebutkan sistem apa yang akan diberikan kepada pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu utama Rusia.

Pada hari Senin, harian Rusia Kommersant melaporkan bahwa Moskow hampir mengirim sistem pertahanan rudal S-300, tetapi Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov membantah laporan itu, mengatakan negaranya belum memutuskan apakah akan mengirim sistem atau tidak.

Menhan AS: Amerika akan Lanjutkan Operasi Militer Jika Assad

“Kami harus menunggu untuk melihat keputusan spesifik apa yang akan diambil pimpinan Rusia dan perwakilan Suriah,” kata Lavrov seperti dikutip oleh kantor berita Rusia, TASS.

“Mungkin tidak ada rahasia tentang ini, dan itu semua bisa diumumkan [jika keputusan diambil].”

Avigdor Lieberman, menteri pertahanan Israel, mengatakan pada hari Selasa bahwa Tel Aviv akan menyerang sistem pertahanan anti-pesawat S-300 jika sistem itu digunakan untuk melawan Israel.

“Satu hal yang harus dijelaskan adalah jika seseorang menyerang pesawat kami, kami akan menghancurkan mereka … Yang penting bagi kami adalah bahwa sistem pertahanan senjata yang ditransfer Rusia ke Suriah tidak digunakan untuk melawan kami,” kata Lieberman kepada situs Israel Ynet.

“Jika system itu digunakan untuk melawan kami, kami akan bertindak melawan mereka.”

Rudal Canggih Rusia Bisu Saat Serangan Koalisi AS ke Lokasi Senjata Kimia Assad, Kenapa?

Namun, duta besar Rusia untuk Israel, Alexander Shein, berusaha mengecilkan pentingnya transaksi potensial, menekankan bahwa Israel bukanlah target sistem pertahanan tersebut.

“Saya tidak bisa membayangkan skenario seperti itu,” kata Shein menanggapi ancaman Lieberman.

“Kami saling berkoordinasi dan memperbarui koordinasi tentang Suriah … Sejauh ini, tidak ada insiden di antara kami, atau bahkan petunjuk tentang insiden, dan saya harap tidak akan ada.”

Pejabat tinggi Rusia mengatakan bahwa dalam serangan udara Barat terhadap Suriah awal bulan ini, Moskow mungkin akan mempertimbangkan kembali janji yang diberikan satu dekade lalu untuk tidak memberikan sistem S-300 kepada Suriah.

Serangan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis adalah pembalasan terhadap serangan senjata kimia yang diduga terjadi pada 7 April di kota Douma, dekat Damaskus, yang menewaskan puluhan warga sipil yang kebanyakan wanita dan anak-anak, menurut penyelamat dan petugas medis.

Sudah 2 Wartawan Palestina Gugur saat Meliput “Great March of Return”

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ahmad Abu Hussein, seorang wartawan Palestina yang ditembak oleh pasukan penjajah Israel saat meliput unjuk rasa massal di sepanjang perbatasan Gaza awal bulan ini, telah meninggal dunia karena luka-lukanya, menurut pejabat Palestina.

Pria berusia 24 tahun tersebut, yang ditembak di perut selama protes di dekat Jebaliya pada 13 April, adalah wartawan Palestina kedua yang telah dibunuh oleh tentara Israel sejak gelombang demonstrasi yang dikenal sebagai “Great March of Return” dimulai pada 30 Maret, lansir Aljazeera.

Para pejabat kesehatan di Gaza mengatakan, Hussein meninggal pada hari Rabu di rumah sakit Tel Hashomer Israel, dekat Tel Aviv.

Jenazahnya tiba di hari itu juga di rumah sakit Al-Andalusi di Jalur Gaza, menurut Ashraf al-Qudra, juru bicara kementerian kesehatan.

Hussein awalnya dirawat di Gaza, sebelum dipindahkan ke rumah sakit di Ramallah pada 15 April dan kemudian ke Tel Hashomer empat hari kemudian.

Menurut saksi mata, Hussein, seorang fotografer untuk stasiun radio Voice of the People yang berbasis di Gaza, mengenakan rompi pelindung bertanda “PRESS” pada saat dia ditembak.

Tahrir Saeed 18 Tahun, Syuhada Ke-41 Palestina dalam Aksi Anti Israel

“Rompi yang jelas menunjukkan bahwa ia adalah anggota pers harus diberi perlindungan ekstra – bukan menjadikan mereka sasaran,” kata Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara bagi Komite untuk Melindungi Wartawan (Middle East and North Africa programme coordinator for the Committee to Protect Journalists).

“Kematian Ahmed Abu Hussein menggarisbawahi perlunya otoritas Israel untuk segera meneliti kebijakannya terhadap wartawan yang sedang meliput aksi protes dan mengambil tindakan langsung yang efektif.”

Yaser Murtaja, seorang fotografer agensi Ain Media yang bermarkas di Gaza, meninggal pada 7 April akibat luka yang dideritanya saat ditembak oleh pasukan Israel pada hari sebelumnya.

Murtaja, 30 tahun, ditembak di perut meskipun juga mengenakan jaket antipeluru biru yang ditandai dengan kata “PRESS” saat meliput aksi protes di Khuza’a di selatan Jalur Gaza.

Biadab, Aksi Unjuk Rasa Warga Palestina Direspon dengan Tembakan Artileri Israel

The Great March of Return” adalah aksi puluhan ribu warga Palestina bergerak ke daerah perbatasan untuk menuntut hak kembali bagi para pengungsi Palestina yang diusir dari rumah mereka di wilayah yang diambil alih oleh Israel selama perang 1948, yang dikenal orang Arab sebagai Nakba.

Sekitar 70 persen dari dua juta penduduk Gaza dipaksa meninggalkan rumah mereka dan sekarang tinggal di wilayah berukuran hanya sekitar 360 km persegi.

Sedikitnya 40 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 5.000 orang terluka sejak demonstrasi dimulai, menurut para pejabat Palestina.

Israel menuai kritik tajam dari Internasional atas perintah-perintah tembakan pasukan zionis di sepanjang perbatasan.

Tim Penyelidik Serangan Senjata Kimia Tiba di Lokasi Kedua

SURIAH (Jurnalislam.com) – Inspektur pengawas senjata kimia global telah mencapai lokasi kedua di kota Suriah Douma, di mana dugaan serangan gas terjadi pada awal April.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu (25/4/2018), Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) mengatakan misi pencarian fakta telah mengumpulkan sampel dari lokasi, yang tidak diidentifikasi, lansir Aljazeera.

OPWC mengatakan bahwa sampel-sampel dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan dari situs itu akan dibawa ke Den Haag di Belanda untuk pengujian dan analisis.

“Mereka akan dipilah dan dikirim untuk dianalisis oleh laboratorium yang ditunjuk OPCW.”

Pernyataan itu mengatakan inspektur akan melanjutkan misi pencarian fakta mereka berdasarkan wawancara dengan orang-orang yang relevan dan analisis sampel. Tim tidak mengatakan berapa lama pemeriksaan akan berlangsung.

Perwakilan dari OPCW tiba di Suriah pada pekan kedua bulan April tetapi baru diizinkan untuk mengunjungi Douma mulai Sabtu, 21 April lalu.

Keterlambatan inspeksi menimbulkan pertanyaan tentang apakah masih akan ada cukup bukti yang tersisa untuk dikumpulkan para peneliti.

Amerika Serikat dan Prancis menuduh Rusia memblokir akses ke lokasi yang menurut penyelamat dan petugas medis adalah lokasi dimana puluhan orang tewas pada 7 April.

Begini Tanggapan Analis Terkait Terhambatnya Penyelidikan Serangan Senjata Kimia

Rezim Syiah Suriah dan Moskow mengatakan bahwa dugaan serangan kimia, yang mendorong serangkaian serangan udara oleh sekutu Barat sebagai tindakan balas dendam, adalah serangan buatan (palsu).

Mereka juga berpendapat bahwa serangan udara yang dipimpin AS hanya menunda pengiriman inspektur ke Douma.

Awalnya, tim OPCW yang dikerahkan ke Douma tidak dapat memasuki situs karena masalah keamanan.

Para pejabat Departemen Keselamatan dan Keamanan PBB (the UN Department of Safety and Security-UNDSS) harus menarik diri dari lokasi pertama karena kehadiran orang banyak di sana menimbulkan kekhawatiran akan keamanan.

Di situs kedua, mereka ditembaki dengan senjata ringan, dan alat peledak diledakkan di dekatnya

Kota Douma berada di bawah kontrol oposisi dan menghadapi serangan udara dan darat rezim Suriah ketika serangan yang dicurigai terjadi.

Gambar-gambar yang muncul dari Douma pada waktu itu menunjukkan mayat-mayat yang tidak bernyawa bergelimpangan di ruangan-ruangan yang penuh sesak, beberapa dengan busa di sekitar hidung dan mulut mereka.

Kelompok oposisi menyerahkan kota beberapa hari setelah serangan itu. Ribuan orang – oposisi dan warga sipil – pergi dengan bus ke Suriah utara, percaya bahwa mereka tidak dapat berdamai dengan rezim Suriah setelah rezim mengambil alih kota.

Perang Suriah telah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun.