YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan, kematian Akbar mesti diungkap karena muncul kejanggalan terkait penyebab kematian Akbar.

“Hari ini kita menyaksikan ibunya histeris dan berteriak-teriak, misalnya di kasus Akbar disiksa, disiksa oleh siapa? Di mana? Ini penting jangan sampai kemudian kita menimbulkan pertanyaan,” kata Isnur di Gedung Merah Putih KPK, beberapa waktu lalu.

Isnur menuturkan, ada banyak kejanggalan dalam kasus kematian Akbar, salah satunya mengenai penyebab kematian yang disebut polisi akibat jatuh dari dinding pagar.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

sumber: kompas.com

Baca juga:

Baca juga:

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

Komnas HAM Kawal Kasus Tewasnya Mahasiswa Kendari

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

Polisi Diingatkan Jangan Ngeyel Bantah Temuan Lembaga Lain Soal Pelanggaran HAM

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan ada kejanggalan dalam kasus kematian mahasiswa Akbar Alamsyah.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

Ia pun mengingatkan polisi untuk tidak melulu menyangkal temuan-temuan lembaga-lembaga lain.

Isnur juga menyampaikan, hasil investigasi itu pun perlu menjadi evaluasi bagi polisi dalam menangani aksi demonstrasi dan polisi tidak boleh segan menjatuhkan sanksi bagi anggotanya yang bersalah.

“Di kasus Kendari, kapolri mencopot kapolda dan kapolres. Pertanyaan penting, kenapa di Polda Metro tidak lakukan hal yang sama?” kata Isnur.

sumber: kompas.com

Mahasiswa Patani di Indonesia Gelar Seminar Pendidikan di UIN Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Himpunan Pelajar Patani di Indonesia (HIPPI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kali ke-8 dengan mengadakan seminar nasional 2019 yang bertema “Pendidikan Masa Kini, Meraih Kesuksesan di Era Globalisasi”.

Seminar ini di selenggarakan di Aula Teater Prof. Muhammad Yunus, Lantai 3, Gedung FTIK, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia, pada Sabtu 12 Oktober 2019.

Nurman Senichana, sebagai ketua pelaksanaan menyampaikan salam hormat kepada para nara sumber, moderatr, mahasiswa internasional, dan mahasiswa Indonesia yang ikut hadir bersama dalam seminar nasional kali ini.

Seminar kali ini dihadiri oleh tiga nara sumber, pertama Dr. Anan Nisoh M. Pd (Pendidikan Islam di Selatan Thailand), kedua Dr. Ahmad Suryadi M. Ag (Pendidikan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asien), dan ketiga Dr. Dadi Darmadi M.A (Sikap Mahasiswa Asing di Indonesia), dan moderator Neneng Nurjanah, M. HUM.

Waesulaiman Saha, sebagai ketua umum HIPPI periode 2019-2020 mengungkapkan, telah genap delapan tahun HIPPI berdiri tegak semenjak tahu 2011 hingga sekarang, dan tidak merasa lelah mengembangkan amanat dalam mendidik anak bangsa Melayu patani.

“HIPPI mepunyai ciri kebersamaan untuk mencapai tujuan yang sama, ini merupakan sifat persaudaraan diatas nama himpunan, karena himpunan selalu mngajak kita semua untuk mengembangkan ide-ide dan cita-cita” imbuh Waesulaiman Saha

Perkenalan, HIPPI adalah organisasi kemahasiswaan dan berorientasi kemasyarakatan bagi umat bangsa Melayu Patani, dan HIPPI merupakan wadah perkumpulan pelajar yang datang dari Patani (Thailand Selatan), yaitu dari provinsi Patani, Yala, Narathiwat dan sebahagian dari Songkhla.

HIPPI berusaha untuk menciptakan kader-kader mahasiswa Patani yang mampu untuk mengatasi dan menyelesaikan problema-problema yang dihadapi oleh masyarakat Patani secara umum.

Patani merupakan provinsi yang terletak di bahagian Thailand Selatan dari negara Thailand, mayoritas penduduknya 95% beragama Islam dan berbangsa Melayu.

Patani semenjak tahun 1150 M, yang terkenal dengan Negara Patani Darussalam, dan di masa itu banyak ulama-ulama dan para cendikiawan Islam yang dapat mengembangkan agama Islam.

 

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Oleh: Ainul Mizan* 

Jurnalislam.com – Miris ketika membaca berita mengenai pembatalan sepihak oleh rektorat terhadap kuliah umum Ustadz Abdul Shomad di masjid UGM, yang rencananya dilaksanakan hari Sabtu, 12 Oktober 2019 (www.tirto.id, 9 Oktober 2019).

Padahal Pihak takmir sendiri menyatakan bahwa mereka sudah mematuhi semua persyaratan yang diajukan oleh pihak kampus, di antaranya tidak ada publikasi dan acaranya tidak memakai konsep tabligh akbar (www.republika.co.id, Kamis 10/10/2019).

Alasan yang diajukan oleh pihak kampus dalam menolak kehadiran Ustadz Abdul Shomad di antaranya adalah bahwa kampus harus menjaga keselarasan kegiatan akademik dengan kegiatan non akademik.

Lantas pertanyaannya, bukankah kehadiran UAS dalam rangka untuk memberikan kuliah umum yang bersifat ilmiah? Apakah selama ini UAS dalam memberikan materi pengajian maupun tabligh akbarnya secara serampangan tanpa dasar ilmiah yang berasal dari dalil al – Qur’an dan Hadits Nabi SAW?

Memang akan paradoks, ketika kita melihat kampus justru mengijinkan kegiatan yang tidak ilmiah. Ambil contoh di UIN Jakarta, pada semester ganjil 2017 mengadakan pagelaran musik musisi papan atas Indonesia (www.kompasiana.com, 5 Februari 2018).

Dan sekarang ini pagelaran konser musik  di kampus bukan hal yang tabu dilakukan. Di samping pertimbangan sebagai hiburan dari penatnya kuliah, juga ada unsur komersial pemasukan bagi kampus penyelenggara. Biasanya dengan cara menyewakan fasilitas gedung besar yang dimilikinya. Lalu, apakah pagelaran musik itu dipandang lebih selaras dengan budaya intelektual kampus dibandingkan dengan kegiatan kuliah dan diskusi ilmiah?

Di samping itu, alasan dibatalkannya kuliah UAS di UGM karena ada tekanan dari luar, seperti yang disampaikan pihak takmir dalam siaran pers yang diterima kiblat.net pada Kamis 10/10/2019 (www.news.visimuslim.org, 10 Oktober 2019).

Siapakah pihak luar yang dimaksud? Siapapun itu tidak berhak untuk mengekang perkembangan dunia intelektual kampus. Kedewasaan intelektual kampus terwujud dengan adanya diskusi bukan dengan tekanan dan ancaman.

Bahkan kalau perlu alangkah baiknya jika para calon pejabat publik bisa mengadakan forum ilmiah di kampus sehingga akademisi kampus bisa menguji kelayakan mereka dan programnya bagi kesejahteraan rakyat.

Yang lebih parah pihak UGM dalam hal ini berubah seolah menjadi rejim politik. Seharusnya sebagai pimpinan kampus lebih menyadari akan posisinya. Mereka yang semestinya memberikan ruang ilmiah yang seluas – luasnya pada mahasiswa. Mahasiswa bisa menggali lebih dalam ajaran Islam yang dipeluknya. Bukan justru mengebiri dengan kepongahan dan sok adikuasa di dunia pendidikan.

Adapun materi kuliah yang diberikan UAS adalah mengenai hubungan antara Islam dengan IPTEK sebagai pondasi kemajuan umat. Terus adakah yang salah?. Tentunya yang harus dipahami bahwa Islam tidak memiliki masalah dengan perkembangan teknologi.

Hal ini berbeda dengan ajaran Nasrani. Di saat Gereja mengadopsi pandangan Geosentris dari Ptolomeus, maka tertutuplah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pandangan yang berbeda akan dipandang sebagai makar. Saat terjadi renaissance, perkembangan IPTEK mengalami kemajuan pesat.

Heliosentris menggantikan Geosentris. Keadaan demikian mereka capai dengan sekulerisasi IPTEK dengan agama (Nasrani).  Sedangkan Islam menganjurkan umatnya untuk mengembangkan          IPTEK. Sebagai contoh firman Allah SWT yang berbunyi:

يا معشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطار السماوات والارض فانفذوا لاتنفذون الا بسلطان

Wahai semua golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup untuk menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah. Kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan kekuatan (QS Ar Rahman ayat 33).

Kekuatan dalam ayat ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya bahwa umat Islam harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk bisa menjelajah luar angkasa dan menggali semua potensi kekayaan alam yang dikandung oleh bumi.

Di samping itu, Islam memberikan panduan agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa bermanfaat, tidak merusak dan tetap bisa menjaga kemuliaan manusia. Sebagai contoh dalam hal penggunaan HP.

Dengan memahami hukum Islam terkait pergaulan lawan jenis, maka penggunaan Hp akan terjaga dari perkataan dan perbuatan yang melanggar aturan agama seperti pacaran, kecabulan dan lainnya.

Dengan memahami hal demikian, diharapkan mahasiswa terbuka kerangka berpikirnya. Islam itu ajaran yang berkemajuan dan menghendaki kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Mahasiswa tidak akan menjadi sosok yang takut dengan agamanya sendiri.

Keberadaan kampus mestinya menjadi sarana memfilter berbagai macam wacana dan propaganda di luar kampus yakni di masyarakat, bangsa dan negara. Alasannya tentunya mahasiswa itu merupakan agen perubahan sosial, penyambung lidah masyarakat dan pemimpin masa depan.

Layaknya sebuah kampus bisa mewadahi diskusi mengenai persoalan – persoalan ekonomi, politik pemerintahan, dan lainnya. Walhasil gerak mahasiswa mempunyai arah dan dasar ilmiah dalam melakukan koreksi kepada kekuasaan.

Dan tentu saja bagi seorang mahasiswa muslim, Islamlah yang akan menjadi spirit dan tujuan dari perjuangannya. Terlebih melalui mereka nantinya yang akan bisa mendobrak dan mengikis Islamophobia dari dunia intelektual di kampus.

*Penulis tinggal di Malang.

PKC Kirim Anak-anak Muslim Xinjiang ke Sekolah Darat untuk “Sinisisasi”

“Mengontrol pemuda Xinjiang berarti mengendalikan masa depan wilayah itu” tampaknya menjadi slogan di balik kampanye PKC untuk mendidik anak-anak Muslim di lingkungan Han.

XINJIANG (Jurnalislam.com) – Setiap tahun, Partai Komunis Cina (PKC) secara sistematis merekrut sejumlah besar siswa etnis minoritas dari Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang untuk belajar di bagian lain di Cina. Tidak hanya uang sekolah dan semua biaya ditanggung oleh pemerintah, tetapi staf yang ditugaskan secara khusus menemani mereka dalam perjalanan dari dan ke Xinjiang, selain itu membantu dan mengawasi mereka.

Tetapi apa yang ada di bawah perawatan yang tampaknya menguntungkan ini? Banyak siswa di sekolah tempat pemuda Xinjiang dikirim tampaknya memiliki pertanyaan serupa.

“Mengapa orang-orang dari Xinjiang datang untuk belajar di sini? Tidakkah mereka memiliki sekolah kejuruan di sana?” kata seorang mahasiswa etnis Han di sebuah sekolah kejuruan di provinsi Liaoning timur laut bertanya selama kelas.

Siswi dari Xinjiang sedang belajar di Sekolah Menengah LianYunGang di Provinsi Jiangsu. Selain dilarang memakai jilbab, pemerintah juga melarang mereka beribadah lainnya. Foto: BitterWinter

Seorang guru menjelaskan bahwa itu adalah langkah “brilian” para pemimpin negara. Ia menambahkan bahwa pemuda Xinjiang datang ke daerah lain untuk belajar tidak hanya membantu “menentukan keturunan” mereka tetapi juga “mencegah orang tua mereka dari menimbulkan masalah.”

“Anak-anak mereka bersama etnis Hans ada di sini, jadi mereka tidak akan berani melakukan kerusuhan,” kata guru itu puas.

Dalam 11 tahun ini, sekolah tersebut telah menerima siswa dari Xinjiang yang berumur 14 hingga 20 tahun. Sekolah itu saat ini menampung lebih dari 480 siswa yang semuanya ditanggung oleh pemerintah.

Tetapi tidak ada yang datang secara gratis, mereka menerima “perlakuan istimewa” sebagai imbalan atas kebebasan mereka. Sekolah menerapkan kontrol ketat seperti militer terhadap siswa dari Xinjiang. Mereka tidak bisa meninggalkan semau mereka, mereka juga dilarang melakukan segala bentuk ibadah. Tempat tinggal mereka terpisah dari siswa Han di sekolah.

Salah satu guru sekolah mengatakan kepada Bitter Winter bahwa siswa Xinjiang tinggal di asrama enam lantai yang dilengkapi dengan kamera pengintai.

“Enam hingga delapan siswa tinggal di setiap kamar. Ada 26 guru yang bertugas di malam hari, yang bertanggung jawab untuk mengawasi anak-anak ini,” kata guru itu.

Guru Han tidak mengerti bahasa asli yang digunakan oleh siswa Xinjiang, dan mereka perlu menghabiskan lebih banyak waktu, bahkan kadang-kadang mengorbankan liburan mereka, untuk mengawasi mereka. Karena kesulitan yang bertambah, guru bukannya tidak akan ditugaskan untuk pemuda Xinjiang, tetapi mereka tidak memiliki suara dalam masalah ini.

“Itu bukan pilihan. Ini adalah tugas politik yang ditugaskan negara kepada kami,” kata guru lain dari sekolah itu.

Para siswa Xinjiang di Sekolah Menengah Kou di Jiangsu ikut serta dalam upacara pengibaran bendera. Foto: BitterWinter

Hampir 500 siswa dari Xinjiang, termasuk Uyghur dan Kazakh, belajar di Sekolah Khusus Pertanian Fushun di Liaoning. Mereka juga diawasi dengan ketat: personel yang ditugaskan secara khusus menemani para siswa dari rumah dan kembali pada awal dan akhir setiap tahun ajaran. Mereka berada di bawah pengawasan ketat di kampus, penjaga keamanan mengawal mereka ke dan dari asrama.

Pada 8 Juni lalu, polisi khusus pemerintah mengawasi 500 siswa yang naik kereta api dari Beijing untuk kembali ke Xinjiang untuk liburan musim panas mereka.

“Sinisisasi” untuk menjadi kader Partai Komunis

Sebuah sumber dari Tianjin, sebuah kota pesisir di Cina Utara yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat, mengungkapkan kepada Bitter Winter bahwa pada akhir Agustus lalu, sebuah sekolah menengah di kota itu menugaskan sembilan gurunya terbang ke Xinjiang untuk membawa kembali lebih dari 300 siswa. Hingga saat ini, setidaknya 11 sekolah di Tianjin telah menerima siswa dari Xinjiang yang diajari tentang budaya Han dan diharuskan berbicara bahasa Mandarin.

“Ketika anak-anak Xinjiang ini dikirim untuk belajar di pedalaman Cina, mereka berhubungan dengan siswa dan guru Han, dipengaruhi oleh budaya Han,” kata seorang guru Tianjin kepada Bitter Winter.

Siswa muslim Xinjiang juga diwajibkan untuk mengikuti pelatihan militer di Sekolah Menengah Kou. Foto: BitterWinter

“Interaksi mereka dengan guru dan teman sekelas mereka akan mempengaruhi pandangan mereka tentang kehidupan, nilai-nilai mereka, dan bagaimana mereka menilai sesuatu. Setelah mereka kembali ke Xinjiang untuk bekerja, para siswa ini yang telah belajar selama beberapa tahun di pedalaman Cina akan siap menerima kepemimpinan Partai Komunis dan mendukungnya,” paparnya.

Seorang guru lain mengungkapkan bahwa Kementerian Pendidikan berencana mengirim anak-anak yang lebih muda dari Xinjiang (usia 6 hingga 7) ke sekolah-sekolah di pedalaman Cina untuk belajar bahasa Mandarin dengan tujuan untuk disinisisasi, mengubah kebiasaan hingga pola makan mereka.

Secara singkat Sinifikasi, Sinofikasi, Sinoisasi, Sinisisasi, atau Hanisasi adalah suatu proses di mana masyarakat non-Tionghoa berada di bawah pengaruh budaya Tionghoa, khususnya budaya dan norma-norma kemasyarakatan Tionghia Han. Ruang lingkup pengaruh meliputi makanan, tulisan, industri, pendidikan, bahasa, hukum, gaya hidup, politik, filsafat, agama, sains dan teknologi, budaya, dan sistem nilai.

Sumber: BitterWinter.org

Baca juga:

Cina Paksa Para Imam Uighur Sebarkan Ideologi Komunis

Siswa Uighur Dipaksa Menandatangani Pernyataan Menolak Agama

Terungkap, Begini Kondisi Anak-anak Muslim Uighur di Kamp Konsentrasi Cina

Tiga Wanita Berhijab Diserang Seorang Pria di San Diego

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Pagi ini, Ahad (13/10/2019) Ustaz Abdul Somad mengisi tabligh akbar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.

Ribuan jamaah yang didominasi mahasiswa dan masyarakat umum nampak khusyu menyimak materi yang disampaikan UAS tentang ‘Birul Walidain’ atau berbakti kepada orang tua.

Namun di sela-sela paparannya, UAS mengungkapkan kekagumannya kepada sosok pendiri Muhammadiyah, itu KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang berani melawan arus pada saat itu untuk membersihkan masyarakat dari takhayul, bid’ah dan khurafat.

“Berceramah di UAD merupakan kebanggaan bagi saya, karena saya kagum pada sosok KH Ahmad Dahlan. Beliau punya keberanian untuk melawan arus, arus TBC; takhayul, bid’ah, dan churafat,” kata ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.

Kekagumannya juga didasari oleh sifat KH Ahmad Dahlan yang tidak membangun ketokohan diri akan tetapi membangun metode dakwah yang diterima dan bermanfaat hingga saat ini.

“Beliau tidak membangun ketokohan, tapi membangkitkan metodenya, membangun relanya, sehingga ketika keretanya sudah lapuk, akan tetap ada kereta api baru yang lewat di rel ini. Artinya, bangunlah rel maka akan ada lokomotif-lokomotif baru. Dan akhirnya hari ini saya ada di depan kereta-kereta baru itu,” tutur UAS.

Kemudian UAS mengutip sebuah hadits yang berbunyi,  “Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala.” (HR. Ahmad)

“Bukan kita yang menikmati buahnya, tapi ada orang lain yang akan menikmatinya kelak. 28.000 ibadah mahasiswa UAD mengalir ke makam KH Ahmad Dahlan,”

Sebelum di Masjid UAD, UAS juga mengisi kajian di acara Muslim United #2 di Masjid Jogokariyan dan di Universitas Islam Indonesia (UII).

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Penceramah kondang, Ustaz Abdul Somad mengisi kajian di Aula Masjid Kampus Terpadu Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (12/10/2019). AS memberikan ceramah selama dua jam lebih dari pukul 13.00-15.000 WIB.

“Alhamdulillah acara kajian atau seminar bertajuk Islam dan Ilmu Pengetahuan berlangsung sukses. Sekitar 7000 orang hadir dalam acara tersebut. Sedangkan ketika ditayangkan secara streaming tayangan itu di saksikan sekiat 15.000 viewer. Luar biasa. Alhamdulillah,” kata Rektor UII, Fathul Wahid, Sabtu (12/10/2019).

Dalam paparanya, UAS menyampaikan materi tentang ikatan Islam dan ilmu pengetahuan.

“Siapa bilang saya ceramah saya tidak ilmah. Saya tidak bisa karena bukan pada tempatnya. Undang saya ke universitas maka saya akan bicara secara ilmiah,’’ kata UAS dengan gaya khasnya.

UAS menjelaskan, dalam Islam validitas keilmuan itu utama dan sangat penting. Dan ini sudah dipraktikan dalam seluruh masa perjalanan agama Islam.

“Ini misalnya dalam penyusunan hadits yang harus valid sampai ke nabi. Ini dipraktikan, misalnya dipraktikan oleh KH Hasyim Azhari yang setiap Ramadhan dahulu selalu memberikan kajian tentang hadis. Di sini semua jelas validasi dan rangkaian sanadnya,” paparnya.

Pada acara di UII tersebut, Somad mengaku dirinya belajar rendah hati. Bahkan, datang ke acara tersebut dilandasi untuk belajar bersama, bukan mengisi seminar.

“Di masa depan melalui integrasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan di UII akan lahir sosok penerus Al Khawarizmi, Ibnu Rush, Abnu Khaldun, para ahli hadis dan ulama. Nanti akan lahir orang alim dan arif,” tegasnya.

UAS mengatakan demokrasi tidak menghalangi kaum Muslim menjalankan syariah dan nilai ajaran Islam. Ini bisa implementasikan melalui berbagai undang-undang dan aturan hukum, seperti peraturan gubernur, peraturan bupati, peraturan desa dan lainnya. Contoh ini sudah dilakukan di Inggris di mana nilai syariah Islam dalam ekonomi bisa dijalankan di sana padahal negara itu bukan negara yang banyak mempunyai penduduk penganut Muslim

“Di sini umat Islam harus menjalankan seluruh nilai agamanya melalui jalur yang konstitusional. Ingat juga, kejayaan Islam akan datang kembali dengan kemajuan ilmu pengetahuan,” kata UAS yang kemudian menutup kajiannya dengan acara tanya jawab.

Sumber: Republika

Baca juga:

Ditolak UGM, Ribuan Mahasiswa Baru UAD Siap Sambut UAS

Sikap UGM Menolak UAS Dinilai Bertentangan dengan Nilai Pancasila

Ustaz Abdul Somad Ajak Kaum Muslimin Hadiri Muslim United #2

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

PBNU Minta Penyerangan Wiranto Tak Dikaitkan dengan Islam

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

BIMA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 20.165 warga Kota Bima mengikuti Pawai Rimpu yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Bima di Lapangan Serasuba, Kota Bima, Sabtu (12/10/2019).

Jumlah itupun berhasil memecahkan rekor sebagai pawai rimpu terbanyak dan mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kegiatan ini di luar ekspektasi. Kami menargetkan 15 ribu peserta, tapi yang hadir melebihi itu,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, Sunarti kepada wartawan, Sabtu (12/10/2019).

Pawai dimulai dari Lapangan Serasuba pada pukul 08.00 Wita dan berakhir di Pantai Lawata. Pawai itu menempuh jarak sejauh 5 kilometer yang diiringi ratusan kaum laki-laku yang menunggang kuda.

Untuk menghitung jumlah tersebut, tim dari MURI ditempatkan di 3 lokasi. Pertama di Lapangan Serasuba, dan mulai menghitung dari 10 baris pertama dan 10 baris terakhir. Tim penghitung juga berada di pertengahan jalur pawai dan di lokasi finish di Pantai Lawata.

Rimpu adalah sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima. Budaya “rimpu” telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima menerima Islam yang dibawa oleh orang-orang Sumatera melalui hubungan antara kerajaan Bima dengan Goa.

Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam).

Sementara itu, antusiasme tinggi ditunjukkan warga Bima untuk mengikuti pawai ini. Salah seorang peserta remaja menuturkan kesan pertamanya saat mengenakan busana muslimah asli Indonesia ini.

“Menurut saya acara ini sangat bermanfaat untuk melestarikan budaya budaya Bima, selain itu acara ini juga bagus untuk mengenalkan budaya Bima kepada orang orang asing yang datang ke Bima, dan juga anak anak muda jaman sekarang yang tidak tahu dan juga tidak mengerti bagaimana cara memakai maupun budaya bima dapat lebih mengetahuinya,” kata salah seorang peserta remaja, Awanis Zakira.

Sementara itu, salah seorang panitia, Fahmi Fahrurahman berharap dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat Bima dapat melestarikan budaya rimpu yang merupakan peninggalan Islam di Bima.

“Harapan saya dengan adanya kegiatan ini adalah, agar masyarakat dapat mengenal dan tetap melestarikan kebudayaan rimpu ini dan dimana rimpu ini sangat mirip sekali dengan budaya cadar, mungkin di harapkan agar para generasi muda untuk tetap melestarikanya,” ungkapnya.

Reporter: Pramudia Bagus

Baca juga:

Resmikan Pusat Dakwah, Ormas Hidayatullah Harap Kehadirannya Bermanfaat Bagi Umat dan Bangsa

Wapres Jusuf Kalla Resmikan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim

Tiga Wanita Berhijab Diserang Seorang Pria di San Diego

Generasi Milenial Lebih Suka Kerja di Bidang Digital

Ada Pihak yang Dinilai Ngebet Tunggangi Kriminalitas terhadap Wiranto ke Isu Terorisme

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United 2019 yang semula digelar di Masjid Gedhe Kauman dipindah ke Masjid Jogoriyan, Yogyakarta. Informasi ini diumumkan panitia melalui pengeras suara di Masjid Gedhe Kauman.

“Kami dari panitia MU mau mengumumkan sesuatu mohon diperhatikan, bahwasanya pada hari ini kami mewakili dari Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, Takmir Masjid Kauman dan panitia MU #2 memutuskan untuk memindahkan lokasi MU #2 ke Masjid Jogokariyan,” kata salah satu perwakilan panitia melalui pengeras suara Masjid Gedhe Kauman sabtu, (12/10/2019) siang.

Kegiatan MU #2 akan tetap berjalan hingga hari terakhir sebagaimana yang dijadwalkan, yaitu hari Ahad (13/10/2019). Rangkaian acara MU #2 di Masjid Jogokariyan akan dimulai pada pukul 15.00 WIB.

“Acara tetap akan berlangsung dan akan dimulai pukul 15.00 Wib,” ujarnya

Panitia juga menyediakan transportasi bagi peserta yang akan menuju lokasi baru di Masjid Jogokariyan.

“Dan monggo yang mau mengikuti silahkan dan kami sediakan transportasi bagi yang tidak membawa kendaraan,” tuturnya.

Panitia menegaskan, keputusan pemindahan lokasi kegiatan Panitia MU #2 diambil tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

“Keputusan ini diambil secara bersama-sama dan tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi ataupun yang lainnya dan demi kebikan bersama,” tegasnya.

Pengumuman pemindahan lokasi itu juga disampaikan melalui akun media sosial Muslim United.

“Dengan mengharap ridho Allah dan berdasarkan keputusan bersaa antara FUI DIY, Takmir Masjid Gedhe Kauman dan Official Crew Muslim United #2, maka Muslim United #2 mulai sore ini tanggal 12/10/2019 jam 15.00 WIB akan berlangsung di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Statement, isu, berita, dan lain-lain yang tidak berasal dari Official Muslim United #2 bukan tanggung jawab kami,” bunyi pernyataan tersebut.

Reporter: Hasan Shogir, Yogyakarta

 

Baca juga:

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

MUI Heran Apa yang UGM Takutkan dari Sosok UAS

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Lembaga Kemanusiaan Aman Palestin (AP) ikut meramaikan kegiatan Muslim United 2019 yang berlangsung selama 3 hari di Masjid Kauman, Yogyakarta, Jum’at – Ahad (11-13/10/2019).

AP membuka stand kopi di halaman Masjid Kauman yang diberinama ‘A Cup for Solidarity’ yakni ngopi sepuasnya, donasi seikhlasnya.

“Program tersebut dilatarbelakangi karena saat ini semakin banyak masyarakat yang menjadi penggemar kopi di Indonesia,” kata Humas AP Jateng-DIY Muharomi.

“Apalagi tanggal 1 Oktober kemarin merupakan hari kopi internasional, jadi pas, kalau program ini dilaksanakan di bulan Oktober,” imbuhnya.

Muharomi menjelaskan bahwa donasi infaq yang terkumpul dalam program tersebut akan disalurkan untuk membantu masyarakat korban konflik di wilayah Syam, khususnya Palestina.

“Karena AP merupakan lembaga kemanusiaan Indonesia pertama yang mempunyai perwakilan di Palestina,” ungkapnya.

Program A Cup For Solidarity, kata Muharomi, tidak hanya dikhususkan untuk membantu korban konflik di Bumi Syam saja, juga diperuntukkan untuk program pembangunan Masjid Ajlin di Palestina.

“Program pembangunan masjid yang digawangi AP, yang seluruh dananya diperoleh dari masyarakat Indonesia,” terangnya.

“Alhamdulillah, program “A Cup for Solidarity” banyak diminati oleh peserta MU, semoga dana yang diperolehpun juga banyak,” lanjutnya.

Dia juga berharap gerakan ini juga diikuti oleh yang lainnya, karena kondisi masyarakat dan negeri di Bumi Syam saat ini sedang menangis

Baca juga:

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

Resmikan Pusat Dakwah, Ormas Hidayatullah Harap Kehadirannya Bermanfaat Bagi Umat dan Bangsa

Wapres Jusuf Kalla Resmikan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim